Ketika Orang Lewolema Membicarakan Diri Mereka

Oleh Elvan De Porres

 

Terik siang begitu menyengat, Jumat (5/10/2018), di tanah Lamaholot Flores Timur. Tapi, itu tak mengendorkan semangat ratusan orang tua, kawula muda dan anak-anak yang berkumpul di kecamatan Lewolema, sebelah utara kota Larantuka.

Hari itu mereka merayakan seni dan budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou”. Namanya Festival Nubun Tawa. Berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Parade pembukaan Festival Nubun Tawa diiringi nyanyian dan tarian khas Lamaholot. Sekaligus menghantar siapa saja masuk lebih khusyuk ke rangkaian acara itu. Busana-busana adat dikenakan hampir seluruh warga. Mereka tumpah ruah di jalanan, berarak dari gerbang masuk di desa Bantala menuju lapangan Lewotala.

Salah satu tarian adalah Hedung. Tari ini berasal dari Adonara dan dulunya dibawakan sebagai ritual sebelum dan sesudah perang. Untuk konteks sekarang Hedung menyimbolkan kemenangan atawa kegembiraan. Boleh jadi masyarakat Lewolema sendiri yakin, penyelenggaraan tersebut merupakan pesta mereka. Pesta rakyat sendiri.

Di lapangan Lewotala, Nubun Tawa resmi dibuka. Beberapa atraksi kebudayaan disuguhkan masyarakat. Penuh kesungguhan dan tak sekadar membikin senang siapa pun yang hadir pada kesempatan itu.

Misalnya, ritus menyalakan api yang dilakukan tokoh adat Lewotala lewat rapalan doa atau mantra terlebih dahulu. Bila salah-salah, api takkan mungkin menyala. Sebab, ini merupakan mitologi penting dalam masyarakat berkenaan dengan pembakaran kayu di kebun adat. Tapi, api akhirnya menyala dan tersebarkan ke tujuh buah obor di sekitarnya. Tujuh obor, lambang tujuh desa di Lewolema.

Adapun pertunjukan Le’on Tenada berupa panahan tradisional yang khas dimiliki masyarakat Lamotou, desa Painapang. Le’on Tanada baru bisa dilaksanakan setelah upacara pembangunan rumah adat Kokok Pada Bale. Menariknya, dalam proses Kokok Pada Bale sendiri masih terdapat ritus-ritus penting lainnya yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Memang agak lama, namun begitulah urutan adatnya, kata beberapa warga yang menyaksikan dari luar lapangan.

Ketika hari beranjak sore, para pengunjung festival diajak warga untuk treking ke bukit Eta Kenere. Dari atas bukit, momen sunset dapat terekam jelas. Namun, menyaksikan sunset hanyalah satu bagian dari peristiwa harmonisasi manusia bersama alam. Usai matahari benar-benar tenggelam, bukit Eta Kenere menjadi panggung teater dan tari. Beberapa seniman tampil, seperti Iwan Dadijono, Darlene Litay, Veronika Ratu Makin bersama Sanggar Sina Riang, dan Opa Kun.

Esok harinya, Sabtu (5/10/201), kegiatan bergeser ke desa lain. Dibuka dengan diskusi budaya Lamaholot di Riangkotek. Musisi Ivan Nestorman dan Pastor Simon Suban Tukan, SVD didapuk sebagai pembicara.

Bagi Ivan, kesenian harus bertolak dari apa yang ada dalam masyarakat. Kesenian tak butuh sesuatu yang mewah. Warisan dari nenek moyang merupakan hal yang sangat berharga. Sementara dalam kapasitasnya sebagai rohaniwan, Pastor Simon menegaskan, gereja tidak boleh melihat keanekaragaman budaya dalam masyarakat sebagai hal yang asing dan harus dihindari. Gereja mesti kontekstual dengan mengaitkan pesan-pesan keimanan dan nilai-nilai kultural yang berlaku dalam diri umat/masyarakat.

Desa Riangkotek  juga santer terkenal dengan cerita Raja Basa Tupa. Pada masa silam, dia merupakan pemimpin di wilayah tersebut yang gencar melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Sabtu siang, anak-anak Riangkotek membahasakan kembali perjuangan Basa Tupa ke dalam teater. Pementasan berlangsung tepat pada salah satu titik peperangan.

Kisah Basa Tupa berakhir trenyuh. Meskipun awalnya mampu mengalahkan musuh, raja yang sakti itu mesti terkena racun dan dibawa entah ke mana. Masyarakat penonton larut dalam suasana. Beberapa bahkan mengeluarkan titik-titik air mata. Mereka tentu tahu baik kisah historis tersebut.

Sore harinya para pelajar berarak-arakan dalam karnaval budaya menuju pantai Kawaliwu. Di pinggir pantai, saat matahari benar-benar tenggelam, seniman tamu Ruth Marlina mementaskan sebuah monolog. Monolog ini mengangkat isu-isu sosial yang sejatinya juga dialami masyarakat Flores Timur dan NTT pada umumnya, seperti penjualan manusia dan diskriminasi terhadap perempuan.

Pada hari terakhir, acara festival berpindah lagi ke desa-desa lainnya, seperti Balukhering dan Ile Padung. Pagi hari, para wisatawan bersama masyarakat berkunjung ke perkebunan mente di desa Balukhering. Desa ini merupakan salah satu pusat mente terbesar di Flores Timur.

Sementara desa Ile Padung memiliki tradisi penyulingan arak yang senantiasa dihidupi dan menghidupi masyarakatnya hingga sekarang. Sumber utama perekonomian mereka berasal dari penjualan minuman tradisional tersebut. Dari arak, mereka bahkan menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana ataupun pejabat publik. Sebuah hal umum yang telah banyak diketahui oleh masyarakat Flores Timur.

Penutupan acara sendiri berlangsung di tepi pantai Leworahang. Hampir semua komunitas seni di kabupaten Flores Timur diundang untuk tampil. Ada yang datang jauh-jauh dari pulau Solor dan Adonara.

Panggung utama benar-benar menjadi milik masyarakat. Tradisi-tradisi yang hampir punah kembali diangkat dan disajikan kepada penonton, seperti pembuatan tenun berbahan kapas dan permainan musik suling tradisional.

Festival Nubun Tawa pun ditutup dengan Dolo-dolo dan tarian massal tradisional Sole Oha. Memang selain tarian dan nyanyian yang mendominasi hampir setiap mata acara, festival ini juga menyuguhkan aspek kemasyarakatan lain yang tak kalah pentingnya. Ada semacam keterlibatan sosio-kultural yang ditunjukkan, seperti pameran tato dan kerajinan-kerajinan tradisional. Juga aktivitas perekonomian yang digerakkan masyarakat sekitar melalui barang dagangan mereka.

Para seniman tamu yang tampil juga tak mentah-mentah membawakan karyanya. Selalu ada koloborasi dengan seniman juga masyarakat setempat. Misalnya, penari Iwan Dadijono (Jawa Tengah) yang mengkreasikan gerakan tubuhnya dengan bacaan mazmur dari Pastor Inno Koten dan tiupan seruling pemuda Frengky dari Boruk Kedang. Ataupun Darlene Litay (Sorong) yang spontan melibatkan beberapa bocah Lewolema untuk merespons olah tubuhnya. Seniman asal Jepang Yasuhiro Morinaga malah memadukan irama musik elektroniknya dengan empat seniman lokal sekaligus; penyanyi Petronela Tokan dan Eda Tukan serta penabuh gendang Diaz bersaudara.

Selama tiga hari, orang-orang Lewolema terlibat dan dilibatkan secara langsung dalam festival ini. Boleh jadi mereka sedang melihat kembali jati dirinya dalam varian atraksi kesenian dan kebudayaan. Namun, hal semacam ini menjadi tantangan tersendiri juga bagi seluruh komponen masyarakat, terutama generasi mudanya. Musababnya, makna Nubun Tawa sendiri adalah tumbuhnya semangat muda.

 

Ekora NTT, 14-20 Oktober 2018

 

 

 

 

 

Vibrasi Kolektif-Kultural Festival Nubun Tawa

Oleh Taufik Darwis

Secara resmi rangkaian festival telah berakhir. Sebagian masyarat telah pulang ke desa masing-masing yang saling berjauhan. Tapi kemudian di tengah-tengah lapangan di pinggir pantai Lewolahang, tercipta lingkaran dari orang-orang yang saling mengaitkan lengan. Di antaranya, juga terlihat bupati dan beberapa tamu undangan yang lain. Mereka bersama-sama bergerak ke kanan dan ke kiri. Terdengar juga beberapa orang seperti tengah berbalas nyanyian atau syair dan bunyi gemerincing dari beberapa kaki yang dibalut gelang kerincing. Peristiwa ini  diinisiasi oleh  masyarakat Adonara yang sebelumnya menampilkan Tari Liang Namang di atas panggung acara sebagai penutup festival.

Pai Taan Tou! (“Pai” artinya mari, “Taan” artinya berbuat atau bertindak, “Tou” artinya satu ). “Mari berbuat bersama!” atau “bekerja sama satu tujuan”! Ungkapan yang selalu diserukan di setiap awal dan akhir rangkaian mata acara dalam tiga hari (5-7 Oktober 2019) Festival Seni dan Budaya Nubun Tawa di Kampung Lewolema, Flores Timur, seperti segera hadir di dalam peristiwa Sole Oha yang tengah berlangsung itu. Di dalam lingkaran: eratan lengan, lingkaran dinamis yang dapat berlapis dan dibuka ketika orang-orang makin bertambah ingin terlibat baik ‘orang dalam’ atau pun ‘orang luar’, langkah kaki yang teratur, gelak tawa, senyum kecil yang tiba saja muncul, nyanyian dan syair yang saling berbalas dan kesungguhan setiap orang terlibat dalam tempo gerakan hingga akhir repertoar. Sementara di luar lingkaran, beberapa orang membagikan tuak nira dan moke (minuman tradisional Lamaholot), sekelompok perempuan berjaga agar peristiwa Sole tidak kekurangan makanan dan minuman,  dan orang-orang duduk mengelilingi Sole, menunggu momen yang tepat untuk terlibat atau hanya berbincang dan merasakan vibrasi dari energi kesuluruhan peristiwa Sole Oha.

Tidak salah jika membayangkan keseluruhan peristiwa yang terjadi di Festival Nubun Tawa adalah bentuk lain yang lebih besar dari keseluruhan energi seperti yang dihasilkan oleh Sole Oha. Keragaman seni dan budaya antar desa, kampung, pulau, posisi, agama/kepercayaan ada dalam lingkaran “Pai Taan Tou!” Festival Nubun Tawa. Festival ini merupakan program kerjasama pemerintah daerah Flores Timur dengan program AntarRagam (Perfoming Differences) Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang sejak setahun lalu bersama-sama bekerja menggali potensi Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Sebenarnya festival ini telah berlangsung empat tahun dan menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur dalam format yang berbeda, yakni lomba seni antarkecamatan. Festival ini kemudian dirancang kembali menjadi sebuah peristiwa budaya berbasis situs atau lokasi di sekitar kecamatan Lewolema dengan agenda seni dan budaya yang beragam sesuai apa yang dimiliki dan masih dilakukan di setiap desa. Jadi tidak hanya peristiwa seni dan budaya yang ada di Lewolema saja, tapi juga desa dan seniman atau komunitas kesenian pun hadir memperkaya kergaman rangkaian acara festival.  Selain itu, festival ini juga mengundang empat seniman dari luar Flores Timur dengan ranah seni yang berbeda, yaitu Ruth Marini (aktor teater dan film dari Lampung/Jakarta), Darlene Litaay (koreografer/performer dari Papua), Iwan Dadijono (koreografer dari Yogyakarta) dan Yasuhiro Moronaga (sound artist dari Jepang) yang di antaranya berkolaborasi dengan seniman dan masyarakat setempat.

Sepertinya tidak sulit untuk mengubah format lomba menjadi perayaan dan kegembiraan bersama. Sebab pada praktiknya, kualitas kebersamaan itu terjadi dan integral di dalam keseharian orang Lamaholot. Jadi ini bukan lagi merawat kultur persaingan – siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam kultur kompetisi.  Tapi soal bagaimana melahirkan kembali dan merawat kultur bersama melalui festival seni dan budaya berbasis masyarakat.  Melihat dan mengalami peristiwa bersama di dalam festival bukan berarti hanya melihat setiap mata acara yang diagendakan. Tapi juga bagaimana efek peristiwa yang diakibatkan festival. Salah satu efek lain festival adalah meningkatkan identitas dan perasaan komunitas, mempromosikan partisipasi dan penciptaan kembali budaya lokal. Efek ini menyiratkan penguatan kebanggaan budaya dan kesadaran budaya. Bahwa nilai-nilai itu penting karena secara intrinsik terhubung dengan konsep identitas orang dengan sekelompok orang, sehingga mendorong pembangunan rasa komunitas dan berpotensi menciptakan persatuan. Efek lain dari festival ini adalah mendorong peristiwa ekonomi, aktivasi infrastuktur antar desa (perbaikan dan pembuatan jalan) dan aktivasi ruang potensial (menyiapkan lokasi acara), dan aktivitas sosio-kultural lain yang membuat hilir mudik orang-orang menuju lokasi acara.

Festival Nubun Tawa ini direncanakan berpindah lokasi (kecamatan) setiap tahunnya. Kecamatan Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival ini karena dinilai mempunyai hubungan kasuistik kenapa Festival ini bersama “Nubun Tawa”.  “Nubun Tawa” yang berarti “Kelahiran Kembali” mempunyai tekanan pada pernyataan kultural terhadap riwayat politik kebudayaan masyarakat Lamaholot. Misalnya misi pemberadaban kolonialisme serta politik sentralisme kebudayaan Orde Baru  terutama sejak tahun 70’an menyebabkan peminggiran-peminggiran kebudayaan masyarakat adat,  yang juga sekaligus berarti peminggiran kemanusian, manusia Lamaholot. Istilah ‘musyrik’, ‘kafir’ serta ‘primitif’ atau ‘tidak beradab’ melekat pada setiap masyarakat yang masih memegang teguh adatnya, kepercayaan sosio-kulturalnya. Atas dasar itu juga negara dengan pandangan ortodoknya sebagai yang “memberadabkan” dan “meluruskan” membuat kebijakan yang mempegaruhi sistem adat yang telah berangsung lama, sebagai kosmos masyarakat adat. Seturut Rm. Peter Simon Suban Tukan dalam Diskusi Kebudayan Lamaholot di Desa Riangkotek (6/10/18), Gereja punya andil ikut mengubur kebudayaan Lamaholot pada pada tahun 1970’an.

Memudarnya kekuasaan negara yang sentralistik pasca Orde Baru dan lahirnya otokritik di dalam tubuh Gereja meluaskan dan membantu kembali masyarakat adat untuk mencari tata-aturan yang bisa memberikan keadilan, ketertiban dan kedamaian bagi kehidupan sendiri. Adat menjadi salah satu tempat berpulang masyarakat untuk mengorganisir dirinya. Festival seni dan budaya adalah salah satu cara yang memungkinkan masyarakat/komunitas kembali mengekspresikan identitas dari pandangan kehidupannya. Meskipun bersifat sementara tapi festival menawarkan cara merasakan kesenangan bersama, mengeksplorasi dan mengamankan keberadaan, kepemilikan, dan makna.

Di sisi lain, tantangan setiap festival seni atau budaya yang bekerja dengan pemerintah adalah bagaimana setiap keputusan di dalam ruang festival tidak terpusat alias tidak didikte oleh pemerintah, apalagi kali ini mengatasnamakan “berbasis masyarakat”. Pertanyaan kemudian yang kerap muncul adalah “apakah masyarakatnya siap”? Hal ini kemudian menjadi alasan ampuh bagi pemerintah untuk menyerahkan ke swasta ditambah pemerintah sendiri tidak mampu.  Modus ini rentan sekali untuk  melahirkan lingkungan yang koruptif. Hingga sebenarnya yang paling prinsip dari alasan penyelenggaraan festival hanyalah kepentingan kompetisi menaikan citra kota/provinsi pemerintah daerah dengan pemerintahan daerah lainya dan tentu saja untuk lingkungan politiknya sendiri. Semuanya dikomodifikasi, termasuk masyarakat serta lingkungannya dan seni-kebudayaan yang hidup di setiap lokasi dibuat atau berbau sensasi. Melalui problem ini kita bisa memeriksa juga atau memikirkan ulang soal setiap peristiwa di Festival Nubun Tawa terjadi. Termasuk bagaimana efek festival terjadi, misalnya pembangun jalan, membuka lahan yang tadinya bukan lokasi utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, apakah itu untuk masyarakat atau turisme yang dibayangkan?

Apakah festival berbasis masyarakat anti turisme? Tentu tidak, sejauh turisme yang diperjualbelikan adalah hospitabilitas, yaitu pengalaman turisme yang diterima sebagai tamu oleh tuan rumah yang baik, pengalaman akan kualitas ‘rumah’ di tempat lain, kerasan, yang mungkin tidak pernah dialami dalam pengalaman apapun. Sebuah seni-kebudayaan atau dalam konteks ini sebuah festival bisa membangun hospitabilitas sejauh semua itu dijalankan oleh masyarakatnya, tidak dibuat-buat (superfisial) dan menjadi kehidupan sehari-hari. Misalnya: beli makanan yang di jual itu seperti makan dirumah orang dan yang dijual adalah bagian dari masyarakatnya. Menerima tamu menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Yang perlu garis bawahi dari hal ini adalah untuk menghindarkan euforia ekonomi turistik yang membongkar ini itu atas nama turis. Tapi jika memang pemerintah mempunyai kesungguhan untuk menjadikan festival ini berbasis masyarakat, saya kira studi kasus untuk belajarnya tidak perlu jauh-jauh dulu. Cukup melihat dan terlibat di dalam setiap peristiwa kultural yang ada di masyarakatnya, dan peristiwa Sole Oha dengan kompleksitasnya dapat menjadi ruang belajar yang baik.

Menurut perencanaan, yang akan menjadi tuan rumah festival tahun depan adalah Kecamatan Adonara. Festival Nubun Tawa akan menghadapi tantangan yang berbeda di tahun 2019, ajang pemilihan presiden, tahun yang penuh persaingan dan kompetisi. Semoga saja di tahun di mana banyak hal semakin mengeras dan bergesekan tersebut energi dan vibrasi Sole Oha makin berlipat ganda. Menjangkau, mengundang dan menjadi imajinasi geografis bagi siapa pun yang memiliki kepingan pengalaman kolektif untuk dibawa dan menghubungkan dengan kepingan lain di Festival Nubun Tawa.

Pai Taan Tou!

 

Oktober, 2018

 

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Oleh Silvester Petara Hurit

Hari Jumat tanggal 28 Agustus tahun 1970 adalah hari yang teramat pahit bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur NTT. Rumah adat (korke) yang menjadi pusat kegiatan ritual, sosial dan budaya dibongkar dan dibakar.

Rumah yang mempersatukan masyarakat 5 kampung (Lewotala, Lamatou, Belogili, Kawaliwu dan Leworahang) sekaligus menjadi tempat dimana hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan mereka direncanakan, dimusyawarahkan serta diputuskan dibakar di hadapan mayoritas masyarakat yang mensakralkannya.

Para tetua tak berdaya menyaksikan  anak-anaknya sendiri yang bertindak sebagai aparat keamanan desa (hansip) membongkar  dan membakarnya. Bagaimana mereka  bisa melakukan tindakan membakar rumah adat  yang menjadi jangkar  kehidupan nenek-moyang mereka sejak berabad-abad lampau?  Entah drama macam apa dan siapa aktor-aktor yang ada di balik itu, bagi tetua kampung yang lugu, tak fasih berbahasa Indonesia apalagi tidak bersekolah, tak banyak yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk protes atau gugatan.

Apa yang diajarkan kepada anak-cucunya di sekolah sehingga menyebut tetua kampungnya: setan, kafir dan pemuja berhala? Bangunan yang  dipercaya sebagai tempat suci kini dijauhi, dianggap sebagai rumah berhala, pusat tradisi dan praktek kekafiran. Tetua adat dituduh mendirikan agama baru.  Disiksa berjalan kaki  sejauh 17 KM untuk  membersihkan rumput di halaman kantor camat  selama sebulan tanpa disediakan makan dan minum.

Ritus dan sejumlah tradisi seperti:  menenun, membuat tato etnik,  meratakan gigi,  melubangkan daun telinga dilarang. Pohon-pohon besar  di situs-situs penting yang berkaitan dengan keyakinan lokal ditebang. Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol serta segala ekspresi budaya seperti:  nyanyian etnik, sastra lisan, musik dan tarian adat  perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat.

Tetua adat sebagai pelaku  dan penjaga tradisi dibikin keder dengan sekian tuduhan (fitnah) yang tak mereka pahami. Mereka tidak tahu siapa yang ada dibalik semua itu. Yang terjadi kemudian adalah masyarakat terbelah antara yang menjalankan tradisi adat dan yang melepaskan diri darinya dengan menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.  Ada yang bingung dan atau menjalankan kedua-duanya. Yang menjalankan kedua-duanya, oleh pemeluk teguh agama formal,  dicemooh sebagai plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan tersebut berlangsung sepanjang puluhan tahun  walau tidak mencuat sampai perseteruan fisik.

Momen pemulihan

Tanggal 5-7 Oktober 2018 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat adat Lewolema. Hari dimana mereka boleh merayakan kembali seni, ritus dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa. Atraksi panahan massal (leon tenada) sebagai bagian dari ritus membangun rumah adat, tinju tradisional (sadok nonga) yang dilaksanakan sebagai ekspresi sukacita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku/marga (lodo ana) dengan tari dan nyanyian sepanjang malam digelar kembali di Lewolema.

Masyarakat tumpah ruah di jalan. Menari tanpa alas kaki di siang terik. Berpanas-panasan mengikuti sekian pegelaran. Memikul sejumlah perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan sejumlah pertunjukan di malam hari. Festival menjadi ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat.

Perasaan lepas (tanpa beban intimidasi) menyembulkan energi kegembiraan/sukacita. Energi tersebut bertaut (:bersinergi). Saling menguatkan. Membangkitkan kembali gairah kreativitas masyarakat serta memberi ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya. Kegembiraan dan keleluasaan menjadi angin segar yang memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri dari trauma sejarah kultural masa lalunya.

Relevansi festival

Festival sebagai perayaan dan ritus sosial memperlihatkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan masyarakat mengorganisir dirinya. Absennya peristiwa budaya yang bersifat kolektif/massal selama ini menghilangkan juga kemampuan bekerjasama dan menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Yang muncul selama beberapa dekade terakhir adalah kebingungan, rasa rendah diri, kecurigaan, rasa benar sendiri dan superioritas diri yang sempit akibat kehadiran yang satu tidak mengakui yang lain dalam ruang egaliter kebudayaan. Klaim kebenaran satu pihak tidak mengakui kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Festival Nubun Tawa, dalam bahasa Lamaholot bermakna “lahirnya tunas/generasi baru”, menjadi perayaan atau pesta masyarakat dimana ruang egaliter kebudayaan diciptakan kembali. Masyarakat adat Lewolema yang hampir setengah abad tidak diakui ruang ekspresi kulturalnya dan dilemahkan nilai serta sendi-sendi dasar yang merawat bangunan hidup kolektifnya, melalui festival, menemukan kembali kekuatan kebersamaan melalui peristiwa-peristiwa kolektif kesenian yang mempersatukan.

Kesenian mempersatukan dan mengobarkan kegembiraan. Jalan untuk merawat kembali kesehatan jiwa dan daya hidup masyarakat. Bahwa mereka bukan kafir, setan dan pemuja berhala. Pun bukan masyarakat gunung yang bodoh dan  primitif. Mereka adalah masyarakat tradisional yang religius. Yang merawat hidup dengan ritus, mantra, doa, nyanyian dan tarian. Yang memeterai dirinya dengan tato etnik dan motif-motif tenun serta pelbagai asesoris  yang merupakan pertunjuk (wahyu)  dari dunia transenden.

Festival membuat mereka menemukan kembali kenyataan dirinya sebagai pemberani (ata breket), prajurit dan satria perang yang handal di masa lalu.  Atraksi panahan massal (leon tenada) dari desa Lamatou misalnya, memperlihatkan kehebatan memanah yang selama ini tidak diapresiasi sebagai ketrampilan kultural masyarakat.

Festival Nubun Tawa yang lahir atas inisiatif Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute serta sejumlah komunitas seni di Larantuka  menemukan   tempat dan relevansinya di dalam kehidupan masyarakat. Festival bukan terutama pukauan dan kekaguman pada kerja-kerja  artistik pentas-pentas kesenian melainkan lebih pada mempertautkan masyarakat dalam satu spirit perayaan dimana melaluinya mereka menghimpun kembali tenaga kembangkitan, menemukan jati diri kultural dan berkarya membangun masa depannya.

 

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

 

Catatan:

(1) Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh situs tatkala.co (http://www.tatkala.co/2019/01/28/memulihkan-trauma-kultural-catatan-dari-flores-timur/)

(2) Foto yang menyertai tulisan ini merupakan dokumentasi Disparbudkab Flores Timur.

Kabar Dari Jauh: Membincangkan Buruh Migran di Sumbawa

Kabar Dari Jauh merupakan acara yang secara khusus merespon isu ‘buruh migran’. Isu ini dipilih karena Sumbawa adalah daerah penyumbang buruh migran terbesar ketiga se-Nusa Tenggara Barat. Beberapa kasus yang memantik isu ini dimunculkan dan hendak dibicarakan secara serius adalah: human trafficking, pelanggaran HAM, kekerasan fisik, pelecehan seksual, perlindungan hukum yang lemah, dan pemberangkatan secara non-prosedural yang kerap dialami oleh pekerja buruh migran.

Acara ini digagas oleh Sumbawa Collective (perkumpulan antar komunitas di Sumbawa). Sumbawa Collective akan berkolaborasi dengan warga Desa Pelat yang tergabung dalam Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Komunitas Seni Nagaru (pemuda Pelat) dan Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo. Desa Pelat dipilih sebagai kolaborator dan lokasi presentasi karya sebab desa tersebut merupakan salah satu kantong buruh migran di Kabupaten Sumbawa.

Kabar Dari Jauh diharapkan dapat memunculkan percakapan kritis, refleksi bersama dan bagaimana warga melakukan negosiasi serta menghadapi soal-soal terkait buruh migran.

___

Acara ini adalah bagian dari #SeriPentasAntarRagam, inisiatif baru Teater Garasi dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.
___

Jadwal Lengkap Acara

Hari & tanggal: Sabtu,17 November 2018
Tempat: Lapangan Bola Desa Pelat

– Workshop Seni Rupa: “Surat Untuk Ibu”
Difasilitasi oleh: Sumbawa Visual Art dan Komunitas Seni Nagaru
Waktu: 15.30 – 18.00 WITA

– Pemutaran & Diskusi Film pendek: “Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang”
Sutradara: Anton Susilo
Waktu: 20.00 – 21.30 WITA

– Pertunjukan teater: “Rungan Do”
Sutradara: Reny Suci
Pemain: Deni Kurniawan, Mulya Putri Amanatullah, Nella Salsabila & Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo
Waktu: 21.30 – 22.30 WITA

___

Panitia Pelaksana: Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo, Komunitas Seni Nagaru, Sumbawa Cinema Society, Sumbawa Visual Art, Solidaritas Perempuan Sumbawa, Serikat Buruh Migran Indonesia, dan Sumbawa Indie Movement.

BELALLE’: Ruang Alternatif yang Mengakomodasi Partisipasi Warga dan Isu Lokal

Pada bulan November 2018, #SeriPentasAntarRagam kembali digelar. Kali ini Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengunjungi Kota Singkawang dan bekerja sama dengan Teater Tebs dan Rumaksi (Ruang Muda Kreatif Singkawang) menyelenggarakan BELALLE’.

BELALLE’ adalah sebuah acara seni yang digagas oleh Komunitas Rumaksi dan Teater Tebs, berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute (TG/GPI) melalui workshop yang diadakan di Singkawang pada awal 2018 dan residensi di Yogyakarta pada bulan Agustus-September 2018.

Workshop yang diberi tajuk “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” diikuti oleh seniman-seniman muda dari kota Singkawang dan Pontianak. Di dalam workshop, TG/GPI membagikan metodologi penciptaan bersama yang selama ini dipraktekkan dalam menciptakan karya (seni), berangkat dari isu yang terjadi dalam masyarakat dan modal yang dimiliki.

Workshop ini memicu usaha-usaha mengaktivasi kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dari potensi para seniman, komunitas, bahkan ruang kota yang ada di Singkawang untuk secara kolektif menciptakan sebuah ruang alternatif yang mengakomodasi partisipasi warga dan isu lokal.

BELALLE’ sendiri adalah bahasa Melayu Singkawang yang artinya gotong royong, menanam dan panen bersama, mengolah dan menikmati hasil bersama.

Berikut jadwal acara:

#SeriPentasAntarRagam
BELALLE’
7 November 2018
Gedung PIP (Pusat Informasi Pariwisata)
Jl. Merdeka, Singkawang. .

Pukul 19.30
Pertunjukan Teater
“Dua Wajah” oleh Teater Tebs
Sutradara: Mpok Yanti

Pukul 20.30
Launching Program “NOGO’ PLUS PLUS:
Pemutaran Film “Nenek Bangun”(Ahmad Syafari, 2015)
 

Nubun Tawa: Memetakan Potensi Seni Budaya Flores Timur

Oleh Venti Wijayanti

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru—penyegaran dan pengembangan—dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni budaya antar kecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas yakni dengan menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat. Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Nubun Tawa Festival adalah bagian dari program AntarRagam (Performing Differences). Bekerjasama dengan pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur selama ini. Festival Nubun Tawa diselenggarakan di Kecamatan Lewolema, dirancang bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah Flores Timur, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di tujuh desa di Kecamatan Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

Rangkaian acara dibuka dengan upacara penyambutan di gerbang masuk Desa Bantala, dan dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, serta jajaran pejabat daerah Flores Timur, staf Kecamatan Lewolema, Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur. Dilanjutkan rangkaian pentas seni tradisi dan pertunjukan budaya Lewolema, di Lapangan Desa Bantala, membuka festival Nubun Tawa, festival seni budaya berbasis masyarakat Flores Timur. Sore hari, rombongan pengunjung dan warga masyarakat Lewolema, Flores Timur bergerak pindah ke bukit Eta Kenere, menggelar serangkaian pentas dari Darlene Litaay (Papua), Iwan Dadijono (Yogya), Kung Opa (Larantuka) dan Veronika Ratumakin (Adonara – Flores Timur), dan kemudian diakhiri dengan tari pergaulan Sole, Dolo-dolo, Lili dari warga desa Bantala. Acara di bukit berlangsung mulai matahari tenggelam hingga menyambut matahari terbit, dengan konsep camping cerita bersama keluarga.

Pada hari kedua beberapa agenda festival dilangsungkan: Pameran Tattoo Tradisional Budaya Lewolema yang berlangsung selama tiga hari festival, Teater Basa Tupa di Desa Riangkotek, Diskusi Budaya Lamaholot (Lewolema) yang diisi oleh Pater Simon Suban Tukan SVD dan Ivan Nestorman, berserta moderator Kowa Kleden di Desa Riangkotek, dilanjutkan Karnaval Budaya yang dimulai dari Lapangan Riangkotek dan berakhir di Pantai Kawaliwu, Musik akustik oleh Trada Band dan monolog oleh Ruth Marini setelah matahari tenggelam di Pinggir Pantai Kawaliwu. Penyelenggaraan upacara tradisi Lodo Ana di Rumah Suku Liwun, di Kawaliwu berlangsung sampai matahari terbit.

Pada puncak acara Festival di hari ketiga dilaksanakan di Desa Leworahang, yaitu misa Inkulturasi pada pagi sampai siang hari, pameran tattoo tradisional Budaya Lewolema, rangkaian pertunjukan seni dan budaya Flores Timur di Ile Padung antara lain; pertunjukan musik Fanfare, tarian Brasi, Belo Baja, pertunjukan mudik suling tradisional Solor Barat, atraksi tenun tradisional, fashion show busana tradisi Lewolema dan busana modern, pertunjukan musik seniman tamu Yasuhiro Morinaga yang berkolaborasi dengan Magdalena Eda Tukan dan Petronela Tokan, dan ditutup dengan tarian masal tradisional Sole Oha.

 

Membincangkan Madura: Tentang Tanah yang Ia Pijak

Oleh Renee Sari Wulan

I

Udara terasa sejuk berangin ketika aku menapak keluar mobil di pelataran vihara sore itu. Bergegas aku mengedarkan pandangan mencari tempat diskusi karena waktu sudah menunjukkan pukul 16 lewat. Aku terlambat satu jam dari jadwal diskusi yang kulihat di poster acara. Mobil yang mengantarku berhenti di sisi pendopo yang menjadi tempat perhelatan wayang kulit. Di barat pendopo kulihat ada bangunan kecil bertuliskan “Kantin”. Suara hati mendorongku bergerak ke sana, apalagi kulihat mas Cindil (Gunawan Maryanto), seorang teman dari Teater Garasi, melambai padaku dari kejauhan. Aku bergegas menghampirinya, kami bersalaman, bertukar sapa sejenak, lalu kudengar seruan di sisi kananku menyapaku, dia adalah Sita, aktor Teater Garasi juga. Kami berpelukan. Ini adalah perjumpaanku selanjutnya dengan mereka berdua setelah kami bertemu awal September yang lalu di acara Asian Dramaturg Network, yang berlokasi di Yogyakarta. Mas Cindil dan Sita mengarahkanku memasuki kantin yang rupanya menjadi tempat diskusi. Segera aku masuk dan mencari kursi kosong. Aku mendapatkan kursi di deretan belakang dan mulai menyimak diskusi. Pemantik diskusi yang tengah berbicara saat itu adalah Kyai M. Faizi dari Sumenep. Reflek aku menengok ke sisi kananku, kujumpai sederetan buku dipajang untuk dijual. Sambil telingaku berusaha terus menangkap pembicaraan kiai Faizi, mataku jelalatan ke deretan buku-buku itu. Di deretan paling dekat denganku kujumpai 3 buku kiai Faizi, dua buku tentang catatan perjalanan buah pengalaman di bis dan terminal-terminal yang ia kunjungi, satu buku tentang tafsir puisi. Segera kubeli dua buku catatan perjalanan tersebut, ditambah sebuah buku catatan keseharian karya Novie Chamelia. Kembali kusimak diskusi.

II

Dari hal-hal yang beliau utarakan dalam diskusi maupun dari buku karangan beliau yang sempat sekilas kubaca, aku langsung gandrung dengan kiai Faizi. Kiai yang mengasuh pondok pesantren Annuqayah tersebut menjelaskan dengan lugas persoalan tanah di Madura berikut penyikapan orang Madura sendiri atas tanah sebagai budaya maupun  aset ekonomi-politik. Ia menyatakan bahwa berbicara tentang  tanah adalah berbicara tentang perspektif. Perspektif kosmologi akan melihat tanah sebagai lokus, pertemuan hidup dan mati. Tanah memiliki karakter ekologi, manusia memiliki kekuatan untuk menafsir sebagai subjek.

Bagi orang Madura narasi tanah dibicarakan dalam tiga hal besar: tanah waris (tana sangkol), tradisi/ritual turun tanah atau berpijak pada tanah bagi bayi memasuki usia tujuh bulan (toron tana), dan ruwatan tanah/bumi memohon keselamatan-kesejahteraan hidup  dan keberhasilan panen sekaligus rasa syukur atas keberkahan berupa tanah yang subur (rokat tana atau rokat bume).

Pada perjalanan selanjutnya, terutama diperkuat dengan hadirnya jembatan Suramadu, yang awalnya dimaksudkan untuk mengangkat perekonomian di Madura, alhasil yang banyak terjadi adalah justru semakin banyaknya kelas menengah di Madura yang membelanjakan hartanya di luar Madura, dan hadirnya korporasi dengan ketamakan yang semakin kencang lajunya, melahap bumi Madura dengan segala isinya. Dampak lain dari jembatan Suramadu adalah semakin membanjirnya pendatang, namun perputaran uang masih lebih banyak terjadi di luar Madura.

Sebelum  jembatan Suramadu, pada masa Orba muncul kasus waduk Nipah, di mana masyarakat Madura berhadapan dengan negara dan korporasi sekaligus. Pembicara kedua, kiai Dardiri Zubairi (Sumenep), menyatakan bahwa ke depan masyarakat akan lebih banyak berhadapan dengan korporasi. Apalagi jenis bebatuan di Madura serupa dengan Kendeng. Maka ancaman serius bagi Madura jika pembongkaran batu yang dilakukan secara besar-besaran dibiarkan bebas terjadi tanpa ada pengaturan resmi dari pemerintah daerah, tahun 2030 Madura akan kering kerontang kehabisan air dan tanah.

Karenanya mitos perlu dirawat untuk untuk menjadi filter yang berkaitan dengan isu ekologi. Dalam buku Teologi Tanah disebutkan bahwa agama bisa dijadikan basis perlawanan untuk mempertahankan ruang dan tanah. Kapitalisme membutuhkan ruang, yang menyebabkan tanah masyarakat semakin minim.

Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh kiai Faizi: “bukit kapur itu sepertimu, yang diamanahkan untuk dirawat.”

Keluar dari ruang diskusi, aku merasa mendapat kabar gembira bahwa Madura pun bergeliat, bukan ruang hampa yang tak bergeming dengan kompleksitas dan dinamika manusia hari ini. Madura memiliki “orang-orang asyik” yang siap memperjuangkan tanah-bumi pijakannya, dengan gelora yang tinggi.

Lalu bagaimanakah tafsir tanah dan kompleksitas itu di ruang seni pertunjukan?

III

Sambil menunggu waktu pertunjukan, aku menyempatkan berkeliling mengitari kompleks vihara. Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) Pamekasan dibangun sekitar awal abad 20, merupakan satu dari tiga kelenteng di Madura. Patung-patung di sana merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dengan patung Budha dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di dataran Cina. Kompleks vihara ini memiliki keunikan karena memberi ruang juga bagi tempat peribadatan umat lain, yaitu pura dan musholla. Waktu di sana aku hanya melihat musholla saja yang terletak di samping kanan vihara. Keterbukaan semacam ini sungguh menyejukkan, tak heran jika mereka pun terbuka dengan penyelenggaraan Remo Teater Madura di dalam areal kompleks vihara tersebut. Semangat ini bertaut dengan semangat seniman dan pelaku seni budaya Madura yang bergerak mengawal, membaca, dan mengkritisi berbagai perkembangan di ruang sosial Madura, dengan segala kompleksitas dan dinamikanya dari waktu ke waktu.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, panitia mengarahkan kami menuju tanah lapang di luar area kompleks vihara, untuk melihat pertunjukan pertama. Ini adalah pertunjukan teater karya Wail Irsyad bertajuk Tabak. Ia mengambil gagasan dari tanaman tembakau yang akrab dengannya waktu ia kecil. Wail telah lama meninggalkan Madura, ia hijrah ke Bandung. Karena itu ia dipilih panitia Remo Teater  Madura untuk mementaskan karya hasil pembacaannya atas Madura kini sebagai warga diaspora Madura.

Aku bergegas menuju tanah lapang di luar pintu gerbang vihara. Diiringi gelap, nyaris tak ada cahaya di jalan, hanya lampu yang disiapkan beberapa untuk kebutuhan pementasan. Kulihat orang telah berkerumun mengelilingi suatu tempat agak ke tengah lapangan. Tanah yang kuinjak adalah tanah-tanah berbongkah, bukan dataran yang rata, sehingga aku harus berhati-hati melangkah  sekaligus bergegas agar masih mendapatkan posisi menonton yang nyaman. Objek yang dilihat penonton adalah seorang laki-laki yang tengah berproses dengan tubuhnya. Ia bergerak, menggeliat, membungkuk, kadang berjalan lalu tersungkur. Ia berjalan menghampiri bilah semacam anyaman bambu dengan ukuran hampir sama dengan tubuhnya. Ia angkat lalu ia seret bilah itu. Bergerak menuju vihara. Di belakangnya empat laki-laki menyorotkan cahaya ke arahnya, dan turut bergerak mengikutinya. Mereka berjalan memasuki kompleks vihara, berhenti di halaman samping pendopo. Empat laki-laki bergerak menghampiri laki-laki yang membawa bilah anyaman bambu. Mereka menarik laki-laki itu, mengangkat, lalu menghempaskannya lagi di atas bilahan kayu. Saling tarik dalam ketegangan. Lalu mereka membiarkan laki-laki itu berjalan sendiri memasuki ruang pameran. Di dalam ruangan, laki-laki tadi menghampiri gundukan tanah dengan tanaman tembakau di atasnya. Ia duduk bersila seperti bersemedi, lalu bergerak diiringi vokal seorang laki-laki di sisi kanannya. Kadang ia letakkan tanah dan tanaman itu di atas kepalanya sambil terus bergerak. Empat pemuda yang mengikutinya berdiri berjajar diagonal di depannya, sambil mengeluarkan suara. Formasi berubah, dengan suara tetap berbunyi. Kemudian lampu padam. Penonton berpindah ke ruang pertunjukan di samping ruang pameran.

Pertunjukan kedua bertajuk Tera’Ta’Adhamar, produksi Kikana Arts Production Sampang. Didukung oleh empat penari laki-laki dan dua penari perempuan. Mereka berkostum putih dan sesekali ada ungkapan monolog. Karya ini ingin berbagi gagasan tentang ‘keinginan’.

Pertunjukan ketiga adalah pertunjukan penutup. Karya terbaru Hari Ghulur sekembali ia mengikuti program American Dance Festival (ADF). Didukung enam penari (empat perempuan, dua laki-laki) memakai kostum hitam dengan potongan model berbeda. Sesuai dengan judulnya; White Stone (Batu Putih), Hari ingin berungkap tentang watak manusia Madura yang seperti batu putih, keras namun mudah dibentuk. Batu putih atau atu kapur sendiri merupakan hasil sumber daya alam di Madura, biasa digunakan masyarakat untuk mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

IV

Pada karya Wail saya mendapat pesan bahwa tanah yang kita pijak tak selamanya stabil. Ketidakstabilan yang membuat kita berputar, bersiasat, menelusuri. Demikian pula manusianya. Tak ada jaminan bahwa keduanya akan stabil selamanya. Di situlah pertarungan terjadi, karena manusia lebih menginginkan kestabilan. Sayangnya, kembali pada konteks tanah dan korporasi, kestabilan itu (baca: harmoni, keseimbangan) sering didapat dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, misalnya dengan mengikuti keinginan pemodal yang merugikan masyarakat. Ketika Wail meletakkan tanah dan tembakau di kepalanya, saya menangkap pesan bahwa di sisi lain, manusia rela menggantikan tanah, agar tembakau tetap tumbuh.

Hal ini bersambung dengan karya kedua yang bicara tentang harapan/keinginan. Akhir dari karya ini adalah ketika seorang laki-laki berdiri membawa cahaya. Agak berbeda dengan apa yang ingin disampaikan kreator, bahwa yang menjadi cahaya manusia dalam meraih keinginannya adalah ketulusan hati, bagi saya cahaya itu secara kuat melambangkan keinginan. Keinginanlah yang membuat manusia bergerak (hidup). Hal ini dinyatakan dengan gamblang dalam ungkapan menjelang akhir pertunjukan: “keinginanmu laksana cahaya, yang berpendar seperti kunang-kunang”. Tanah pun memiliki keinginan.

Dalam forum kreator yang dilakukan seusai pertunjukan, Rahman sebagai kreator mengungkapkan bahwa ia telah lama meninggalkan panggung kontemporer, lebih banyak melakukan pentas-pentas tari tradisi berdasaran pesanan. Namun, melihat karyanya malam itu, bagi saya istimewa karena di sana saya menjumpai tubuh-tubuh yang bergerak natural dan kuat. Hal ini terjadi pada penari laki-laki. Saya tidak melihat kegamangan mereka dalam bergerak, pilihan kosa-geraknya pun bagus. Mereka menginterpretasikan itu dengan tubuhnya, dan berhasil untuk tidak berjarak (antara tubuh yang bergerak dengan kosa-gerak yang memotivasinya). Tubuh mereka hadir sebagai proses pencarian yang benar-benar mereka lakukan.  Jika dianalogikan dengan kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: motivasi gerak adalah tongkat kayu; yang terjadi adalah bisa dua kemungkinan. Pertama tubuh yang bergerak agar bisa menjadi tongkat kayu (tubuh sedang menuju wujud tongkat kayu, namun belum sampai). Kedua, tubuh yang telah menjadi tongkat kayu dengan tafsir masing-masing (tubuh sudah sampai/menemukan wujud tongkat kayu itu sesuai penafsirannya). Kemungkinan pertama terjadi pada penari perempuan, kemungkinan kedua terjadi pada penari laki-laki.

Selain tubuh yang belum sampai, hal lain yang terjadi pada penari perempuan adalah masih terbebani karakter kosa-gerak tradisi.

Berikutnya adalah pertunjukan White Stone. Dalam catatan koreografinya, Hari Ghulur menyatakan bahwa karya ini hasil kerja studio yang ia jadikan laboratorium tari sekembali ia dari American Dance Festival dua bulan lalu. Kerja laboratorium ini mengujicobakan olah gerak dengan ‘emosi’ dan ‘impresi’. Selain itu ia menjadikan pencak silat Pamur, salah satu gaya pencak silat Madura dari Pamekasan, yang ia pelajari waktu SD, sebagai basis gerak dalam karya ini yang ia kombinasikan dengan teknik ‘Gaga’: sebuah teknik yang mendorong tubuh melakukan pencapaian maksimal atas gerak, dengan cara menghidupkan engine (energi, daya kekuatan/power, rasa/feel) tubuh. Menurut Hari, pencak silat merupakan basis pengendalian diri dan perlindungan bagi masyarakat Madura, karena pada umumnya mereka memiliki kultur merantau (ongga’). Spirit yang ia ambil di karya ini adalah menghindar, menyerang, dan bertahan.

White Stone atau batu putih dalam karya ini adalah tanda orang Madura dalam perspektif Hari, yang keras namun mudah dibentuk. Baginya, masyarakat Madura memiliki watak pekerja keras dan terbuka. Hal ini dipengaruhi oleh kultur kerja di persawahan yang gersang dan cara hidup kolektif.

Enam penari berkostum hitam dengan karakter masing-masing memperlihatkan ragam gerak silat yang berbaur dengan olah gerak lain, dihadirkan dengan intensitas yang kuat dan dipadu dengan tempo yang cepat. Gerakan ini mendominasi hampir seluruh koreografi. Dalam karya ini silat hadir dalam konteksnya sendiri sebagai bentuk ‘pertahanan dan serangan (perlindungan)’, maupun dalam konteks tari/gerak sebagai ekspresi di ruang koreografi kontemporer. Silat melebur dalam ekspresi tari dengan penggalan-penggalan atau potongan-potongan ragam geraknya yang menyatu dengan gerak lain yang mewujud sebagai ekspresi baru. Bentuk serangan dan kebertahanan diri hadir dalam ‘ruang yang lain’, mengarah pada ekspresi atau ungkapan tertentu yang berbeda dengan konteks silat di luar bingkai karya koreografi kontemporer. Di tangan Hari, kehadiran ragam gerak silat mulus berkelindan dengan elemen-elemen yang lain. Paduan itu tampil cantik. Hari berhasil melakukan transformasi tubuh pada penarinya.

Apabila Hari mengangkat batu putih sebagai bahan dasar koreografinya, saya melihat ini sebagai pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan ‘keras’ sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Madura. Terik matahari, batu putih, tanah merah, garam, kulit legam adalah lanskap hidup orang Madura. Sebagai bukan orang Madura, saya merasakan itu sebagai ketidaknyamanan, dan ketidaknyamanan itu saya rasakan pula di panggung Hari. Kini, ketika sebagian besar masyarakat/rakyat negeri ini harus berhadapan dengan kuasa modal dan keserakahan, bagaimana peninggalan leluhur seperti silat, mampu ‘berbicara’ atau berperan?

Dalam White Stone saya melihat silat terpenggal dalam ketakberdayaan. Silat sebagai bagian dari “tubuh Madura” turut terkoyak. Pertanyaannya, apakah perlu dilahirkan ‘silat’ baru?

V

Seluruh perhelatan ini merupakan bagian dari Remo Teater Madura, sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik yang tinggal di Madura maupun di luar Madura (diaspora). Festival ini adalah kerjasama antara sejumlah seniman Madura, Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dan Vihara Avalokitesvara, Pamekasa. Forum ini bertujuan membangun infrastruktur pengetahuan kesenian dengan menggali potensi lokal sebagai basis penciptaan seni, sekaligus membangun jaringan antar komunitas dan warga dalam rangka mewujudkan kerja-kerja kolektif dan organik.

Kami Takut Lapar (Remo Teater Madura)

Oleh Ambrosius Harto

 

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Di bawah temaram pendar lampu, sambil memegang gedek, dua pemuda yang cuma bercelana pendek itu menuding dan berteriak secara berbarengan. ”Yang kami takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang berambut ikal. ”Yang aku takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang bercaping.

Berkali-kali kalimat itu dilantangkan seakan mantra yang hendak menusuk dan mencuci otak penonton pertunjukan SAPAmengkang oleh UjiCoba Teater Sampang, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Di awal, kedua pelakon itu bersimpuh saling berhadapan di atas gedek bergetas dan berdebu. Lempung dan bubuk tanah itu mereka balurkan pada tubuh. Setelah itu, keduanya berkidung meski nadanya terdengar lirih dan menyayat. Seusai tembang, mereka mengambil alu dan menumbuk gedek itu dengan aksen sehingga tercipta lagu.

Saat tubrukan masih berdendang, sutradara Syamsul Arifin datang ke panggung dan berbicara tentang narasi pementasan. Rakyat ”Pulau Garam”, julukan Madura, berkeyakinan teguh bahwa tanah harus dipertahankan. Salah satunya tana sangkol atau tanah warisan yang mempertautkan kehidupan generasi sekarang dengan leluhur dan penerus.

Seperti apa tanggung jawab masyarakat Madura atas lahan yang dipercayakan, diwariskan, diberikan, didapat dari leluhur? Apakah dijaga, dirawat, dikembangkan atau dibagi, diwakafkan, dijual, diobral, ditelantarkan? Apa negosiasi, strategi, dan tradisi yang akan ditempuh? Bagaimana masa depan Madura terutama manusianya?

Mungkin saat ini atau mendatang, Madura seperti kedua pelakon itu di panggung. Ada yang sendiri menampi beras sampai jatuh dan terkulai tak sadarkan diri. Bisa juga yang satu memegang bilik, sedangkan lainnya terus menggedor. Atau keduanya memegang alu sambil berusaha menaikkan caping di ujung lesung, tetapi kemudian berebut menjatuhkannya atau menegakkannya. Saat tudung itu jatuh dan hanya satu pemegang lesung, yang lain tertunduk. Kalah.

Barangkali juga tergambar dalam adegan saat mereka berebut menguasai gedek sampai salah satu tersungkur. Yang menang bolak-balik menarik bilik seolah menunjukkan keberhakan untuk membudidayakan tanah. Yang jatuh terbangun dan sadar telah kehilangan yang berharga dan mencoba merebut kembali, tetapi terus terjungkal dan tak berdaya di hadapan kuasa.

”Sangkal”

SAPAmengkang merupakan pementasan kedua pada hari pertama Remo Teater Madura di lingkungan wihara di Dusun Candi, Desa Pogalan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, itu. Remo ini bukan nama tari khas Jawa Timur, melainkan tradisi arisan dan atau pertemuan antarwarga antarseniman untuk interaksi sosial budaya. Rangkaian acara berlangsung sampai dengan Minggu (30/9) lewat tengah malam.

Drama berjudul Sangkal oleh Lorong Art Pamekasan menjadi pementasan pertama Remo Teater Madura yang merupakan festival seni pertunjukan dan forum pertemuan antarseniman Madura. Sangkal mungkin hendak menceritakan kutukan akibat pelanggaran tradisi sehingga seorang perempuan terutama selalu gagal mendapat lelaki untuk dinikahi.

Gadis itu berdiri dan berteriak di mimbar tinggi. Di bawahnya empat lelaki bertelanjang dada komat-kamit dan seolah berebut ingin menggapai sang perempuan. Kemudian, rombongan datang dan menaruh hantaran lamaran. Si dara turun dan digandeng oleh seorang lelaki mendekati hantaran. Ia mengamati, mengambil sebagian persembahan itu, tetapi kemudian membuang semuanya dari meja. ”Aku tidak sudi,” katanya berteriak lantang lalu kembali ke balkon.

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Seusai pementasan, sutradara Eros Van Yasa menerangkan bahwa di Madura masih kuat adanya keyakinan terhadap pelanggaran tradisi. Sangkal akan membuat perempuan menjadi jomblo abadi alias sampai mati, misalnya, karena menolak lamaran pertama. Menampik permohonan, misalnya, beberapa saat kemudian membuatnya dilangkahi sang adik yang menikah terlebih dahulu.

 

Secara umum Remo Teater Madura hendak menarasikan tanah yang merupakan ikatan primordial rakyat dan sebagai sumber daya untuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Untuk itu, festival alternatif ini mengambil tema ”Berpijak pada Tanah”. Hajatan seni ini diwujudkan dalam lokakarya, pameran seni rupa, pertunjukan, dan forum kreator.

Pada hari Jumat ada lokakarya manajemen komunitas, klenengan Panti Budaya Komunitas Seni Wihara Avalokitesvara, pembukaan pameran seni rupa (foto, lukis, instalasi), pertunjukan teater, dan forum kreator. Pada Sabtu kembali diadakan lokakarya dan pementasan Wirasa oleh Sanggar Genta Pamekasan, Masdurius oleh Suvi Wahyudianto (Yogyakarta), dan Alake Lajaran oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.

Pada Minggu diadakan diskusi ”Berpihak pada Tanah” bersama Dardiri Zubairi dan M Faizi dari Sumenep, lalu kembali diadakan pementasan Tabak oleh M Wail Irsyad Bandung, Tera’ Ta’ Adhamar oleh Kikana Arts Production Sampang, dan White Stone oleh Sawung Dance Studio Surabaya, lalu ditutup dengan pergelaran wayang kulit Wahyu Katentreman oleh Ki Gilang Pandu Permana, dalang remaja asal Ngawi.

Tanah menjadi tema besar dan napas kegiatan festival. Manusia Madura menganggap penting tanah dalam kehidupan. Mereka punya narasi berbeda tentang tanah. Ada tana sangkol atau mekanisme warisan, toron tana (pijak tanah) untuk bayi tujuh bulan guna menandai secara simbolis dimulainya perjalanan hidup di dunia, juga rokat tana atau rokat bume (ruwat tanah atau ruwat bumi) di awal musim sebagai permohonan keselamatan dan keberkahan kepada bumi sehingga tanaman dan ternak tidak diserang hama, penyakit, dan hasil panen memuaskan.

Dalam konteks primordial itu, rakyat Madura diingatkan kembali tentang cara mereka memaknai tanah. Mereka diminta untuk menyeimbangkan jagad kene (jagat kecil) yang tampak dan jagad raja (jagat besar) yang astral demi keharmonisan kehidupan. Apa lagi yang dicari manusia selain hidup aman, damai, sejahtera, bahagia, tenteram jiwa raga?

Di sisi lain, tantangan baru dalam pertanahan muncul terutama setelah Madura dan Jawa disambung dengan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Struktur dengan bentang 5 kilometer di atas Selat Madura itu turut menghantar arus ekonomi, industri, akulturasi budaya, hingga paradigma baru penguasaan lahan, alih fungsi tanah, kapitalisasi, dan privatisasi. Tanah juga menjadi mandala perebutan atau konflik kepentingan dan kekuasaan.

 

Catatan

Sumber tulisan: KOMPAS, 30 September 2018

Foto oleh Joko Sucipto

Berpijak Pada Tanah, Berdiri Pada Gagasan

Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Nubun Tawa Festival Seni Dan Budaya Flores Timur 2018 “PAI TAAN TOU! “

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru, penyegaran dan pengembangan, dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diberadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni-budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Di tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni-budaya antarkecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas lagi yakni menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat.

Tahun ini Festival Seni-Budaya Flores Timur diadakan di Kecamatan Lewolema dengan nama Nubun Tawa. Nubun Tawa: Festival Seni-Budaya Flores Timur lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman yang ada di bumi Lamaholot Flores Timur. Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival karena merupakan salah satu pusat kebudayaan Lamaholot di masa lalu dan terutama karena represivitas, pelarangan dan pemberangusan kebudayaan di tahun 1970-an yang mengakibatkan masyarakat kehilangan kepercayaan dalam membangun dan merawat daya hidup serta identitas kolektif-kulturalnya.

Nubun Tawa yang bermakna: “lahir/tumbuhnya generasi muda” adalah spirit sekaligus dukungan terhadap generasi muda agar percaya diri serta memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan kebudayaan yang dibiarkan mati selama hampir setengah abad. Festival ini diharapkan menjadi gerakan bersama memajukan diri dan masyarakat. Membangun daya hidup, spirit bekerja dan berkarya. Meluaskan dan memperhebat pergaulan lintas-budaya dalam ketergantungan produktif untuk saling menjaga dan merawat kualitas hidup di tengah banalitas ekspresi, kekerasan dan konsumtivisme.

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” akan berlangsung pada tanggal 5 – 7 Oktober 2018 di Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Menampilkan beragam ekspresi seni-budaya masyarakat Flores Timur, kekayaan alam Lewolema, pertunjukan dari komunitas-komunitas seni di Flores Timur, juga pertunjukan tamu dari seniman-seniman dari luar NTT seperti: Iwan Dadijono, Darlene Litaay (seniman dan koreografer Papua), Ruth Marini (seniman teater nasional) dan Yasuhiro Morinaga (komposer Jepang). Tersedia juga beberapa paket wisata seni-budaya yang dirancang khusus untuk menikmati rangkaian acara festival. (Detil agenda acara dan paket wisata terlampir).

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut silakan berkunjung akun media sosial Nubun Tawa

Kontak: +62 856-3422-430 (Venti Wijayanti)

Berikut jadwal lengkap Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018