Bahasa Ibu dan Tubuh Negara Dalam Teater Modern

Oleh Kiki Sulistyo

Bahasa jadi masalah bagi teater modern Indonesia. Bahasa Indonesia yang lahir dari wacana nasionalisme beroperasi sebagai bahasa politik dan kerap tak bisa diserap oleh tubuh pelakon yang tumbuh dengan bahasa ibu. Ketika terucapkan oleh pelakon, Bahasa Indonesia seperti benda mati yang tak punya kaitan genetik maupun kultur dengan tubuh pengucapnya. Pada situasi semacam itu, pesan yang terkandung dalam bahasa seperti tak memiliki sumber dan ketika diresepsi oleh penonton sebagai komunikan, pesan itu pun kehilangan bobot pengalaman dan emosinya. Alih-alih sebagai peristiwa, pertunjukan teater hadir sebagai tontonan semata ketika sistem transmisi dari pertunjukan ke penonton membawa beban pesan yang tak bersumber dari keduanya. Padahal, karena pertunjukan dan penonton berada dalam ruang dan waktu yang sama, teater sejatinya adalah peristiwa.

Pertunjukan “Aidah Sumbawa” yang berlangsung pada 28 Juni 2019, di Lapangan Sering Atas, Unter Iwes, Sumbawa, tampaknya menyadari persoalan itu. Teater Garasi/Garasi Performance Institute menginisiasi pertunjukan itu sebagai bagian dari Seri Pentas Antar Ragam dan dipresentasikan sebagai penutup Festival Pesona Olat Ojong II. Sutradara Dendi Madiya membiarkan para pelakonnya, yang semuanya adalah mahasiswa/pelajar setempat, mengembangkan sendiri materi dari hasil riset atas persoalan-persoalan di sekitar mereka.

Peran bahasa menjadi krusial dalam upaya mengartikulasikan kembali persoalan- persoalan tersebut. Semula, Dendi, yang aktivitas keseniannya berlangsung di Jakarta, hendak menulis naskah dalam Bahasa Indonesia. Tetapi menimbang para mahasiswa/pelajar setempat tidak tumbuh dalam tradisi (proses) teater, Bahasa Indonesia kemungkinan besar menjadi kendala yang solusinya tidak bisa cepat. Untuk itu, ia kemudian memilih “hanya” membangun motif dan merancang struktur adegan. Sementara teks (dialog atau polilog) dikembangkan sendiri oleh para pelakon dengan menggunakan nyaris seratus persen Bahasa Sumbawa.

Sebagai basis cerita, “Aidah Sumbawa” menyerap tiga persoalan utama masyarakat Sumbawa. Persoalan-persoalan itu yakni kerusakan lingkungan, buruh migran, dan dekadensi moral generasi muda. Ketiga persoalan tersebut muncul silih-berganti di panggung dengan irisan dari kehadiran sastra-lisan Sakeco dan kampanye lingkungan hidup. Dalam durasi dua jam, terlihat bagaimana bahasa ibu bisa dengan mudah beroperasi sehingga, sebagai komunikator, para pelakon lebih ringan melibatkan tubuhnya sebagai bagian dari perangkat komunikasi. Penonton tidak melihat acting, melainkan artikulasi sosial yang dibingkai oleh dramaturgi pertunjukan.

Tiga persoalan yang menjadi basis cerita, dalam dunia faktual Sumbawa sudah nyaris menjadi laten dan bila dibicarakan dalam karya seni bisa jatuh menjadi klise. Tetapi soalnya adalah ketiganya belum bisa diselesaikan, sehingga tetap hadir sebagai persoalan. Melalui “Aidah Sumbawa” ada terbaca bahwa ketiga persoalan itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri, bahwa kerusakan lingkungan berhubungan dengan akses ekonomi dan akses ekonomi berhubungan pula dengan perubahan perilaku.

Penggunaan Bahasa Sumbawa mengartikulasikan persoalan-persoalan sosial itu dengan lebih tegas, dan sisipan-sisipan Bahasa Indonesia di tengah-tengah bahasa ibu para pelakon itu seperti jargon-jargon hampa dari negara. Melalui tatapan atas penggunaaan bahasa itu, “Aidah Sumbawa” hadir sebagai peristiwa yang ironis.

Keironisan itu bahkan bisa dipindai dari syair yang dinyanyikan oleh pemain Sakeco. Di bagian awal syair, digambarkan nasib masyarakat yang harus mencari nafkah sampai ke luar negeri menjadi pekerja migran. Tetapi di bagian berikutnya syair bergeser ke kampanye pajak, lengkap dengan diksi dan jargon-jargon dalam Bahasa Indonesia, seperti “pembangunan” dan “orang bijak taat pajak”. Syair Sakeco jadi terasa satir, suatu sindiran atas minimnya peran negara dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

Dalam proses penciptaan “Aidah Sumbawa”, Teater Garasi/Garasi Performance Institute melibatkan sejumlah komunitas setempat, seperti Sumbawa Visual Art, Komunitas Nagaru, Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dan Komunitas Bileng Bineng. Set artistik berupa gerbang, awan, dan rangkaian replika rumah adalah hasil olahan dari sampah plastik, kardus bekas, dan ecobrick. Sebagian adalah hasil lokakarya yang dibuat anak-anak SD. Dengan begitu transmisi pesan dari pertunjukan ke penonton dipancarkan tidak cuma melalui teks tapi juga dari set artistik. Metode penciptaan bersama memberi ruang egaliter bagi semua yang terlibat, serupa musyawarah untuk membaca persoalan dan secara bersama-sama mencari solusinya. Bahasa sebagai perangkat komunikasi dalam proses tersebut tentu punya peran besar untuk membangun kedekatan emosi tanpa terjebak dalam perangkap primordial.

Teater modern lahir di kota, suatu wilayah baru yang membutuhkan bahasa yang bisa menghubungkan siapa saja yang datang dari mana saja. Semangat kelahirannya pun berjalan seiring perkembangan intelektual. Ketika teater modern menyebar ke pelbagai wilayah di luar kota, ada semacam resistensi-genetis dari masyarakat, sebab teater sebagai pertunjukan tumbuh di nusantara sebagai (bagian dari) peristiwa; bentuk- bentuk performatif yang tidak terlepas dari kegiatan keseharian atau musiman. Teater modern, melalui naskah tertulis, kemudian memanggul Bahasa Indonesia ke atas panggung. Ketika tubuh-tubuh pelakon yang tidak tumbuh dengan Bahasa Indonesia mencoba melakoninya, tubuh-tubuh itu berubah menjadi kaku, formal, tanpa emosi.

Mirip tubuh negara yang cenderung menghasilkan diksi, narasi, dan jargon-jargon hampa.***

 

Kiki Sulistyo, penyair dan peminat seni pertunjukan.

Catatan: Tulisan ini pernah tayang di harian Jawa Pos, Minggu, 6 Juli 2019

 

Festival Pesona Olat Ojong II: Memantik Kesadaran Kolektif

Oleh Kiki Sulistyo Penulis dan Peminat Seni Pertunjukan

Pada 24-28 Juni 2019 berlangsung Festival Pesona Olat Ojong II di beberapa desa di Kecamatan Unter Iwes, Kabupaten Sumbawa. Aneka kegiatan diadakan, dari pemutaran film, lokakarya pengolahan sampah dan barang bekas, diskusi, pameran, sampai pertunjukan seni. Pada penutupan festival, ditampilkan pertunjukan bertajuk “Aidah Sumbawa” di Lapangan Sering Atas, Desa Kerato,  yang difasilitasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta) sebagai bagian dari seri pentas antar ragam dan disutradari oleh Dendi Madiya, pendiri kelompok seni Artery Performa (Jakarta) dan anggota Majelis Dramaturgi, suatu forum belajar dramaturgi performance dan penggarapan project performance yang juga diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

Melalui tahapan riset, “Aidah Sumbawa” mencoba menyerap sejumlah persoalan sosial setempat sebagai topik. Ada tiga hal yang kemudian terpindai; kerusakan lingkungan, buruh migran, dan kenakalan remaja.

Kerusakan lingkungan sudah menjadi isu global, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Deforestasi, penebangan dan pembalakan hutan -baik untuk industri besar maupun untuk kawasan ladang, menyebabkan menyusutnya kawasan hutan perawan. Lansiran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB (2018) menyebutkan dari total 896 ribu hektare hutan di Provinsi NTB yang berada dalam kondisi kritis, sekitar 35-40 persennya berada di Pulau Sumbawa. Tidak mengherankan jika setiap tahun bencana banjir selalu datang dengan penyebaran yang makin luas. Sementara pembangunan gedung untuk berbagai keperluan di sekitar permukiman juga turut mengikis kawasan hijau penyerap air. Masalah lingkungan yang lain juga terjadi di sekitar permukiman, yakni melimpahnya sampah rumah tangga, terutama yang berbahan plastik.. Ini bisa terjadi lantaran berubahnya pola hidup. Belanja di pasar modern (mini market), di mana semua barang yang dijual memakai kemasan plastik, sudah menjadi kebiasaan baru. Di mini market hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia, sehingga residu dari kemasan yang tak terpakai selalu terbuang setiap hari.

Persoalan buruh migran juga tak kurang gawatnya. Sumbawa adalah penyumbang buruh migran terbesar ketiga di Nusa Tenggara Barat. Banyak kasus-kasus pelecehan dan kekerasan menimpa mereka. Bahkan sering terjadi semenjak awal; modus-modus human traficking memanfaatkan janji pekerjaan sebagai buruh migran dengan gaji besar sebagai jalan untuk menjerat korban yang  kebanyakan adalah kaum perempuan.

Sementara itu, generasi muda -yang populasinya berkembang- seperti kehilangan pijakan, panutan, atau panduan untuk mengaktualisasi diri, sehingga banyak di antaranya menghabiskan energi untuk hal-hal yang tak bermanfaat. Teknologi informasi menjadi jalan utama untuk mencari rujukan. Dengan kemudahan akses informasi, apa-apa yang diasup oleh generasi muda menjadi susah dibendung. “Kenakalan remaja” (suatu istilah yang sebenarnya sudah lampau) masih tetap harus disebut-sebut untuk mengidentifikasi persoalan itu. Meskipun di era sekarang ini, istilah “kenakalan” terdengar terlalu ringan, sebab tindakan anak-anak muda ini jauh lebih ekstrim. Dalam pengalaman riset untuk proyek “Aidah Sumbawa” terungkap misalnya cara menggapai sensasi mabuk (fly) dengan membakar dan mengisap fitting lampu sudah mulai jadi trend.

Ketiga persoalan tersebut diartikulasikan kembali dalam “Aidah Sumbawa” yang dapat dibaca sebagai upaya mencegah persoalan-persoalan tersebut menjadi kian laten hingga tak lagi disadari. Ada hal pokok yang tampaknya berusaha dipantik melalui pertunjukan ini, yakni kesadaran. Sebagai individu maupun anggota masyarakat, kita sepertinya memang mengalami krisis kesadaran, terutama kesadaran kolektif. Persoalan-persoalan berlangsung di sekitar, dan kita sibuk dengan hal-hal lain yang sering tak ada hubungannya dengan kita.

“Aidah Sumbawa” yang dimainkan oleh mahasiswa dan pelajar setempat, memasukkan seni tradisional Sakeco, memanfaatkan hasil olah kreasi berbahan sampah dan barang bekas sebagai set artistik, dan 95% menggunakan Bahasa Sumbawa dalam dialog dan polilognya. Penggunaan Bahasa Sumbawa mendekatkan pertunjukan bukan hanya pada pelaku-pelakunya tetapi juga pada masyarakat yang menyaksikan, sehingga apa yang ingin disampaikan dapat diserap dengan lebih mudah. Dari pertunjukan ini juga dapat dibaca bahwa ketiga persoalan yang diangkat sebagai topik tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya saling terhubung membentuk mata rantai.

Kerusakan lingkungan artinya kerusakan sumber daya alam. Bila sumber daya alam rusak, sumber daya manusia akan terkena imbasnya, baik secara kultur maupun ekonomi. Apalagi jika kerusakan lingkungan disebabkan oleh industri besar yang efek ekonominya tidak bisa dijangkau oleh masyarakat setempat. Pada gilirannya, masyarakat yang tidak bisa menjangkau akan mencari sumber penghidupan lain, misalnya menjadi buruh migran, yang menurut mereka lebih menjanjikan. Kepergian mereka, yang bisa berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan kekosongan pada fungsi yang mereka emban seandainya mereka tidak pergi, yakni sebagai rujukan sekaligus penjaga moral  bagi anak-anak atau remaja di bawahnya. Tak mengherankan, tanpa rujukan dan penjaga moral,  anak-anak dan para remaja melarikan diri ke apa-apa yang dapat mereka asup dengan mudah melalui internet.

Kesadaran lain yang berusaha dipantik melalui “Aidah Sumbawa” ini adalah kesadaran akan fungsi seni. Melalui metode “penciptaan bersama”, Dendi Madiya, sebagai sutradara, tidak menjadi pengatur tunggal.  Dia memulai dengan workshop singkat, memantik gagasan, memberi motif, lantas menata struktur adegan. Selebihnya, misalnya isi dialog dan polilog, dibuat sendiri oleh pemain-pemainnya.

Suatu karya seni cenderung dianggap sebagai objek semata; objek tatapan, tontonan, atau dengaran. Padahal, disamping kekuatan estetiknya, esensi seni terletak pada proses penciptaannya. Sistem yang beroperasi dalam proses penciptaan karya seni melibatkan kemampuan berpikir, keluasan imajinasi, serta kreatifitas untuk mewujudkan. Bila tiga hal ini diterapkan dalam menghadapi persoalan yang berlangsung di sekitar kita, akan lebih mudah menemukan akar persoalan sekaligus merancang dan mewujudkan solusinya.

Bagi generasi muda di Sumbawa, pertunjukan “Aidah Sumbawa” mestinya dapat dijadikan momentum untuk menggerakkan potensi dan energi di lapangan kesenian – mengingat banyaknya ruang dan sumber daya manusia yang ada- sebagai suatu cara membaca dan mengartikulasikan kembali persoalan sosial yang terjadi di sekitar, sekaligus sebagai kanal untuk aktualisasi diri. Melihat keterlibatan sejumlah komunitas, seperti Sumbawa Visual Art, Komunitas Nagaru, dan Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dalam proses “Aidah Sumbawa”, saya kira bayangan dan pengharapan itu tidaklah muluk-muluk.***

 

Kiki Sulistyo, Penulis dan Peminat Seni Pertunjukan

“Aidah, Sumbawa!” di Festival Pesona Olat Ojong II

Pertunjukan “Aidah, Sumbawa!” merupakan sketsa dari sejumlah isu sosial yang terjadi di Sumbawa. Seorang pekerja migran perempuan mengalami depresi setibanya kembali di kampung halaman setelah bertahun-tahun tidak diketahui kabarnya. Sementara sejumlah generasi muda Sumbawa terlibat aksi mabuk-mabukan hingga tawuran. Di sisi lain, menanggapi isu lingkungan hidup, beberapa desa telah menggalakkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah dan ekowisata. Ada semangat optimisme untuk menengok kembali dan mengolah bumi kelahiran.

Pertunjukan yang dikemas jenaka namun dramatis ini juga diisi oleh ragam tarian dan musik tradisional Sumbawa. Pertunjukan ini melibatkan beberapa komunitas kesenian di Sumbawa, disutradarai oleh Dendi Madiya. Melalui pertunjukan ini diharapkan akan muncul percakapan kritis, refleksi bersama tentang isu yang diangkat sebagai konten pertunjukan yaitu buruh migran, lingkungan, dan generasi muda.

Dendi Madiya merupakan sutradara dan membentuk kelompok kesenian yang bernama Artery Performa di Jakarta. Beberapa pertunjukan teater disutradarainya bersama Artery Performa, yaitu Segenggam Tanah Di Mulutku, Struktur Rumah Tangga Kami, Tidak Ada Kekosongan, Abracadabra Postpartum dan Gunungan Bantar Gebang. Dendi menjadi salah satu sutradara pada Asian Performing Arts Forum (APAF)-Workshop for International Collaboration, November 2018 di Jepang. Hingga kini, Dendi merupakan salah satu anggota Majelis Dramaturgi, suatu forum diskusi yang melibatkan beberapa seniman-seniman pertunjukan di Indonesia yang dinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

“Aidah, Sumbawa!” akan dipentaskan pada hari Jumat, 28 Juni 2019 pada pukul 20.00 WITA bertempat di Lapangan Sering Atas, Desa Kerato. Pertunjukan ini menjadi puncak acara penutupan Festival Pesona Olat Ojong II di Kecamatan Unter Iwes, Sumbawa. Tata artistik yang digunakan dalam pertunjukan ini merupakan karya siswa-siswi sekolah dasar dari desa Krato, Nijang, Sering,  Uma Beringin, dan Pelat – hasil dari workshop pengolahan sampah plastik dan kardus yang difasilitasi oleh Sumbawa Visual Art yang berlangsung pada tanggal 17 – 21 Juni 2019. Karya para peserta workshop tersebut kemudian dirancang oleh Sumbawa Visual Art dan Komunitas Nagaru menjadi setting panggung pertunjukan.

Selain pertunjukan “Aidah, Sumbawa!”, rangkaian acara penutupan Festival Pesona Olat Ojong II akan menampilan pameran hasil workshop pengolahan sampah dan barang bekas, serta live mural oleh Sumbawa Visual Art.

Festival Pesona Olat Ojong II Kecamatan Unter Iwes dilaksanakan pada 24 – 28 Juni 2019 di Desa Jorok, Desa Pelat, Desa Kerato, Desa Uma Beringin, Desa Nijang, dan Desa Sering. Ragam kegiatan festival antara lain berupa workshop, pemutaran film, diskusi tentang  wajah generasi muda Sumbawa saat ini, pameran, live mural, dan pertunjukan.

Festival Pesona Olat Ojong II kali ini terselenggara atas kerja sama Pemerintah Kecamatan Unter Iwes dan Teater Garasi/Garasi Performance Institute bersama Sekolah Dasar se-Kecamatan Unter Iwes, Karang Taruna dan komunitas orang muda di Sumbawa yaitu Komunitas Nagaru, Sumbawa Visual Art, Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dan Komunitas Bileng Bineng.

Acara ini merupakan bagian dari #SeriPentasAntarRagam Teater Garasi/Garasi Performance Institute. #SeriPentasAntarRagam adalah bagian dari program AntarRagam, sebuah inisiatif baru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang ingin menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses unlearning dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

TUKAR GETAR / EXCHANGING VIBRATION & NOGO++

#SeriPentasAntarRagam – WYST

TUKAR GETAR / EXCHANGING VIBRATION

Bersama:
Yennu Ariendra (Yogyakarta)
Nursalim Yadi Anugerah (Pontianak)
J “Mo’ong” Santoso Pribadi (Yogyakarta)

  • 22-27 Maret 2019: Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia
  • 22-24 Maret: Studio Jalanan – ruang publik terbuka
  • 25-26 Maret: Lokakarya dalam Studio – Singkawang Cultural Centre
  • 27 Maret: Pertunjukan Hasil Lokakarya – Singkawang Cultural Centre

TUKAR GETAR/EXCHANGING VIBRATION adalah laboratorium lokakarya bunyi yang mempertemukan seniman dan non-seniman dengan berbagai latar belakang untuk melakukan eksperimentasi atas bunyi, saling bertukar dan mengembangkan sesuatu secara bersama-sama berangkat dari apa yang ada (lingkungan, keadaan, potensi, dan kemungkinan-kemungkinan). Proyek ini adalah inisiasi bersama antara tiga seniman yang banyak bekerja dengan bebunyian dan musik, yaitu: Yennu Ariendra (seniman digital musik, suara, visual, pertunjukan – Yogyakarta), Nursalim Yadi Anugerah (Komposer, multiinstrumentalist – Pontianak), J “Mo’ong” Santoso Pribadi (Komposer, Instrument Builder – Yogyakarta) yang ingin bertemu, berdialog, dan saling bertukar proses kesenian, untuk menemukan inspirasi-inspirasi baru dalam proses berkaryanya.

TUKAR GETAR/EXCHANGING VIBRATION adalah pengembangan dari platform program WYST yang diinisiasi oleh Yennu Ariendra di Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Yogyakarta dan bagian rangkaian #SeriPentasAntarRagam dari program AntarRagam yang diiniasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute sejak tahun 2017 lalu.

TUKAR GETAR/EXCHANGING VIBRATION terselenggara atas kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute bersama dengan BalaanTumaan Ansamble dan beberapa komunitas di Singkawang: MySingkawang, Musim Menggambar, Kote Singkawang, dan Rumaksi, dan didukung oleh Rendang Balap catering dan Singkawang Cultural Center.

——

Sementara itu, pada saat yang sama, agenda #SeriPentasAntarRagam lainnya di Singkawang juga berlangsung. Mempersembahkan pemutaran dan diskusi film.

NOGO++
Memperingati Hari Film Nasional.

Pemutaran Film dan Diskusi Karya Usmar Ismail

  • ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN (1962)
  • DARAH DAN DOA (1950)

Pembicara: Akbar Yumni

Tanggal: 24 dan 30 Maret 2019
Tempat: Singkawang Cultural Center
Pukul: 15.00 – 17.30 WIB

——

WYST (What is your story today) adalah sebuah pertemuan, sebuah laboratorium yang mengolah beragam sumber bunyi atau apapun yang berhubungan dengan bunyi (baik dalam konteks personal maupun sosial). Pengolahan sumber bunyi melibatkan berbagai aktifitas untuk bersiasat demi mencapai hasil-hasil yang diinginkan, yang juga dan berhubungan dengan apa-apa yang terjadi hari ini. Siasat adalah sebuah alat untuk berbagi dan belajar bersama, dan menjadi fokus utama di dalam workshop WYST.

Nogo++ adalah program #SeriPentasAntarRagam menonton film dan diskusi yang diinisiasi oleh mitra kreatif #AntarRagam yang diluncurkan pada November 2018 lalu. Kerjasama antara Rumaksi singkawang dan Teater Garasi/Garasi Performance Institute. #SeriPentasAntarRagam merupakan bagian dari program AntarRagam, inisiatif terbaru Teater Garasi yang berlangsung sejak awal tahun 2017.

AntarRagam adalah inisiatif baru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang ingin menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses unlearning dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Ketika Orang Lewolema Membicarakan Diri Mereka

Oleh Elvan De Porres

 

Terik siang begitu menyengat, Jumat (5/10/2018), di tanah Lamaholot Flores Timur. Tapi, itu tak mengendorkan semangat ratusan orang tua, kawula muda dan anak-anak yang berkumpul di kecamatan Lewolema, sebelah utara kota Larantuka.

Hari itu mereka merayakan seni dan budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou”. Namanya Festival Nubun Tawa. Berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Parade pembukaan Festival Nubun Tawa diiringi nyanyian dan tarian khas Lamaholot. Sekaligus menghantar siapa saja masuk lebih khusyuk ke rangkaian acara itu. Busana-busana adat dikenakan hampir seluruh warga. Mereka tumpah ruah di jalanan, berarak dari gerbang masuk di desa Bantala menuju lapangan Lewotala.

Salah satu tarian adalah Hedung. Tari ini berasal dari Adonara dan dulunya dibawakan sebagai ritual sebelum dan sesudah perang. Untuk konteks sekarang Hedung menyimbolkan kemenangan atawa kegembiraan. Boleh jadi masyarakat Lewolema sendiri yakin, penyelenggaraan tersebut merupakan pesta mereka. Pesta rakyat sendiri.

Di lapangan Lewotala, Nubun Tawa resmi dibuka. Beberapa atraksi kebudayaan disuguhkan masyarakat. Penuh kesungguhan dan tak sekadar membikin senang siapa pun yang hadir pada kesempatan itu.

Misalnya, ritus menyalakan api yang dilakukan tokoh adat Lewotala lewat rapalan doa atau mantra terlebih dahulu. Bila salah-salah, api takkan mungkin menyala. Sebab, ini merupakan mitologi penting dalam masyarakat berkenaan dengan pembakaran kayu di kebun adat. Tapi, api akhirnya menyala dan tersebarkan ke tujuh buah obor di sekitarnya. Tujuh obor, lambang tujuh desa di Lewolema.

Adapun pertunjukan Le’on Tenada berupa panahan tradisional yang khas dimiliki masyarakat Lamotou, desa Painapang. Le’on Tanada baru bisa dilaksanakan setelah upacara pembangunan rumah adat Kokok Pada Bale. Menariknya, dalam proses Kokok Pada Bale sendiri masih terdapat ritus-ritus penting lainnya yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Memang agak lama, namun begitulah urutan adatnya, kata beberapa warga yang menyaksikan dari luar lapangan.

Ketika hari beranjak sore, para pengunjung festival diajak warga untuk treking ke bukit Eta Kenere. Dari atas bukit, momen sunset dapat terekam jelas. Namun, menyaksikan sunset hanyalah satu bagian dari peristiwa harmonisasi manusia bersama alam. Usai matahari benar-benar tenggelam, bukit Eta Kenere menjadi panggung teater dan tari. Beberapa seniman tampil, seperti Iwan Dadijono, Darlene Litay, Veronika Ratu Makin bersama Sanggar Sina Riang, dan Opa Kun.

Esok harinya, Sabtu (5/10/201), kegiatan bergeser ke desa lain. Dibuka dengan diskusi budaya Lamaholot di Riangkotek. Musisi Ivan Nestorman dan Pastor Simon Suban Tukan, SVD didapuk sebagai pembicara.

Bagi Ivan, kesenian harus bertolak dari apa yang ada dalam masyarakat. Kesenian tak butuh sesuatu yang mewah. Warisan dari nenek moyang merupakan hal yang sangat berharga. Sementara dalam kapasitasnya sebagai rohaniwan, Pastor Simon menegaskan, gereja tidak boleh melihat keanekaragaman budaya dalam masyarakat sebagai hal yang asing dan harus dihindari. Gereja mesti kontekstual dengan mengaitkan pesan-pesan keimanan dan nilai-nilai kultural yang berlaku dalam diri umat/masyarakat.

Desa Riangkotek  juga santer terkenal dengan cerita Raja Basa Tupa. Pada masa silam, dia merupakan pemimpin di wilayah tersebut yang gencar melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Sabtu siang, anak-anak Riangkotek membahasakan kembali perjuangan Basa Tupa ke dalam teater. Pementasan berlangsung tepat pada salah satu titik peperangan.

Kisah Basa Tupa berakhir trenyuh. Meskipun awalnya mampu mengalahkan musuh, raja yang sakti itu mesti terkena racun dan dibawa entah ke mana. Masyarakat penonton larut dalam suasana. Beberapa bahkan mengeluarkan titik-titik air mata. Mereka tentu tahu baik kisah historis tersebut.

Sore harinya para pelajar berarak-arakan dalam karnaval budaya menuju pantai Kawaliwu. Di pinggir pantai, saat matahari benar-benar tenggelam, seniman tamu Ruth Marlina mementaskan sebuah monolog. Monolog ini mengangkat isu-isu sosial yang sejatinya juga dialami masyarakat Flores Timur dan NTT pada umumnya, seperti penjualan manusia dan diskriminasi terhadap perempuan.

Pada hari terakhir, acara festival berpindah lagi ke desa-desa lainnya, seperti Balukhering dan Ile Padung. Pagi hari, para wisatawan bersama masyarakat berkunjung ke perkebunan mente di desa Balukhering. Desa ini merupakan salah satu pusat mente terbesar di Flores Timur.

Sementara desa Ile Padung memiliki tradisi penyulingan arak yang senantiasa dihidupi dan menghidupi masyarakatnya hingga sekarang. Sumber utama perekonomian mereka berasal dari penjualan minuman tradisional tersebut. Dari arak, mereka bahkan menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana ataupun pejabat publik. Sebuah hal umum yang telah banyak diketahui oleh masyarakat Flores Timur.

Penutupan acara sendiri berlangsung di tepi pantai Leworahang. Hampir semua komunitas seni di kabupaten Flores Timur diundang untuk tampil. Ada yang datang jauh-jauh dari pulau Solor dan Adonara.

Panggung utama benar-benar menjadi milik masyarakat. Tradisi-tradisi yang hampir punah kembali diangkat dan disajikan kepada penonton, seperti pembuatan tenun berbahan kapas dan permainan musik suling tradisional.

Festival Nubun Tawa pun ditutup dengan Dolo-dolo dan tarian massal tradisional Sole Oha. Memang selain tarian dan nyanyian yang mendominasi hampir setiap mata acara, festival ini juga menyuguhkan aspek kemasyarakatan lain yang tak kalah pentingnya. Ada semacam keterlibatan sosio-kultural yang ditunjukkan, seperti pameran tato dan kerajinan-kerajinan tradisional. Juga aktivitas perekonomian yang digerakkan masyarakat sekitar melalui barang dagangan mereka.

Para seniman tamu yang tampil juga tak mentah-mentah membawakan karyanya. Selalu ada koloborasi dengan seniman juga masyarakat setempat. Misalnya, penari Iwan Dadijono (Jawa Tengah) yang mengkreasikan gerakan tubuhnya dengan bacaan mazmur dari Pastor Inno Koten dan tiupan seruling pemuda Frengky dari Boruk Kedang. Ataupun Darlene Litay (Sorong) yang spontan melibatkan beberapa bocah Lewolema untuk merespons olah tubuhnya. Seniman asal Jepang Yasuhiro Morinaga malah memadukan irama musik elektroniknya dengan empat seniman lokal sekaligus; penyanyi Petronela Tokan dan Eda Tukan serta penabuh gendang Diaz bersaudara.

Selama tiga hari, orang-orang Lewolema terlibat dan dilibatkan secara langsung dalam festival ini. Boleh jadi mereka sedang melihat kembali jati dirinya dalam varian atraksi kesenian dan kebudayaan. Namun, hal semacam ini menjadi tantangan tersendiri juga bagi seluruh komponen masyarakat, terutama generasi mudanya. Musababnya, makna Nubun Tawa sendiri adalah tumbuhnya semangat muda.

 

Ekora NTT, 14-20 Oktober 2018

 

 

 

 

 

Vibrasi Kolektif-Kultural Festival Nubun Tawa

Oleh Taufik Darwis

Secara resmi rangkaian festival telah berakhir. Sebagian masyarat telah pulang ke desa masing-masing yang saling berjauhan. Tapi kemudian di tengah-tengah lapangan di pinggir pantai Lewolahang, tercipta lingkaran dari orang-orang yang saling mengaitkan lengan. Di antaranya, juga terlihat bupati dan beberapa tamu undangan yang lain. Mereka bersama-sama bergerak ke kanan dan ke kiri. Terdengar juga beberapa orang seperti tengah berbalas nyanyian atau syair dan bunyi gemerincing dari beberapa kaki yang dibalut gelang kerincing. Peristiwa ini  diinisiasi oleh  masyarakat Adonara yang sebelumnya menampilkan Tari Liang Namang di atas panggung acara sebagai penutup festival.

Pai Taan Tou! (“Pai” artinya mari, “Taan” artinya berbuat atau bertindak, “Tou” artinya satu ). “Mari berbuat bersama!” atau “bekerja sama satu tujuan”! Ungkapan yang selalu diserukan di setiap awal dan akhir rangkaian mata acara dalam tiga hari (5-7 Oktober 2019) Festival Seni dan Budaya Nubun Tawa di Kampung Lewolema, Flores Timur, seperti segera hadir di dalam peristiwa Sole Oha yang tengah berlangsung itu. Di dalam lingkaran: eratan lengan, lingkaran dinamis yang dapat berlapis dan dibuka ketika orang-orang makin bertambah ingin terlibat baik ‘orang dalam’ atau pun ‘orang luar’, langkah kaki yang teratur, gelak tawa, senyum kecil yang tiba saja muncul, nyanyian dan syair yang saling berbalas dan kesungguhan setiap orang terlibat dalam tempo gerakan hingga akhir repertoar. Sementara di luar lingkaran, beberapa orang membagikan tuak nira dan moke (minuman tradisional Lamaholot), sekelompok perempuan berjaga agar peristiwa Sole tidak kekurangan makanan dan minuman,  dan orang-orang duduk mengelilingi Sole, menunggu momen yang tepat untuk terlibat atau hanya berbincang dan merasakan vibrasi dari energi kesuluruhan peristiwa Sole Oha.

Tidak salah jika membayangkan keseluruhan peristiwa yang terjadi di Festival Nubun Tawa adalah bentuk lain yang lebih besar dari keseluruhan energi seperti yang dihasilkan oleh Sole Oha. Keragaman seni dan budaya antar desa, kampung, pulau, posisi, agama/kepercayaan ada dalam lingkaran “Pai Taan Tou!” Festival Nubun Tawa. Festival ini merupakan program kerjasama pemerintah daerah Flores Timur dengan program AntarRagam (Perfoming Differences) Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang sejak setahun lalu bersama-sama bekerja menggali potensi Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Sebenarnya festival ini telah berlangsung empat tahun dan menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur dalam format yang berbeda, yakni lomba seni antarkecamatan. Festival ini kemudian dirancang kembali menjadi sebuah peristiwa budaya berbasis situs atau lokasi di sekitar kecamatan Lewolema dengan agenda seni dan budaya yang beragam sesuai apa yang dimiliki dan masih dilakukan di setiap desa. Jadi tidak hanya peristiwa seni dan budaya yang ada di Lewolema saja, tapi juga desa dan seniman atau komunitas kesenian pun hadir memperkaya kergaman rangkaian acara festival.  Selain itu, festival ini juga mengundang empat seniman dari luar Flores Timur dengan ranah seni yang berbeda, yaitu Ruth Marini (aktor teater dan film dari Lampung/Jakarta), Darlene Litaay (koreografer/performer dari Papua), Iwan Dadijono (koreografer dari Yogyakarta) dan Yasuhiro Moronaga (sound artist dari Jepang) yang di antaranya berkolaborasi dengan seniman dan masyarakat setempat.

Sepertinya tidak sulit untuk mengubah format lomba menjadi perayaan dan kegembiraan bersama. Sebab pada praktiknya, kualitas kebersamaan itu terjadi dan integral di dalam keseharian orang Lamaholot. Jadi ini bukan lagi merawat kultur persaingan – siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam kultur kompetisi.  Tapi soal bagaimana melahirkan kembali dan merawat kultur bersama melalui festival seni dan budaya berbasis masyarakat.  Melihat dan mengalami peristiwa bersama di dalam festival bukan berarti hanya melihat setiap mata acara yang diagendakan. Tapi juga bagaimana efek peristiwa yang diakibatkan festival. Salah satu efek lain festival adalah meningkatkan identitas dan perasaan komunitas, mempromosikan partisipasi dan penciptaan kembali budaya lokal. Efek ini menyiratkan penguatan kebanggaan budaya dan kesadaran budaya. Bahwa nilai-nilai itu penting karena secara intrinsik terhubung dengan konsep identitas orang dengan sekelompok orang, sehingga mendorong pembangunan rasa komunitas dan berpotensi menciptakan persatuan. Efek lain dari festival ini adalah mendorong peristiwa ekonomi, aktivasi infrastuktur antar desa (perbaikan dan pembuatan jalan) dan aktivasi ruang potensial (menyiapkan lokasi acara), dan aktivitas sosio-kultural lain yang membuat hilir mudik orang-orang menuju lokasi acara.

Festival Nubun Tawa ini direncanakan berpindah lokasi (kecamatan) setiap tahunnya. Kecamatan Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival ini karena dinilai mempunyai hubungan kasuistik kenapa Festival ini bersama “Nubun Tawa”.  “Nubun Tawa” yang berarti “Kelahiran Kembali” mempunyai tekanan pada pernyataan kultural terhadap riwayat politik kebudayaan masyarakat Lamaholot. Misalnya misi pemberadaban kolonialisme serta politik sentralisme kebudayaan Orde Baru  terutama sejak tahun 70’an menyebabkan peminggiran-peminggiran kebudayaan masyarakat adat,  yang juga sekaligus berarti peminggiran kemanusian, manusia Lamaholot. Istilah ‘musyrik’, ‘kafir’ serta ‘primitif’ atau ‘tidak beradab’ melekat pada setiap masyarakat yang masih memegang teguh adatnya, kepercayaan sosio-kulturalnya. Atas dasar itu juga negara dengan pandangan ortodoknya sebagai yang “memberadabkan” dan “meluruskan” membuat kebijakan yang mempegaruhi sistem adat yang telah berangsung lama, sebagai kosmos masyarakat adat. Seturut Rm. Peter Simon Suban Tukan dalam Diskusi Kebudayan Lamaholot di Desa Riangkotek (6/10/18), Gereja punya andil ikut mengubur kebudayaan Lamaholot pada pada tahun 1970’an.

Memudarnya kekuasaan negara yang sentralistik pasca Orde Baru dan lahirnya otokritik di dalam tubuh Gereja meluaskan dan membantu kembali masyarakat adat untuk mencari tata-aturan yang bisa memberikan keadilan, ketertiban dan kedamaian bagi kehidupan sendiri. Adat menjadi salah satu tempat berpulang masyarakat untuk mengorganisir dirinya. Festival seni dan budaya adalah salah satu cara yang memungkinkan masyarakat/komunitas kembali mengekspresikan identitas dari pandangan kehidupannya. Meskipun bersifat sementara tapi festival menawarkan cara merasakan kesenangan bersama, mengeksplorasi dan mengamankan keberadaan, kepemilikan, dan makna.

Di sisi lain, tantangan setiap festival seni atau budaya yang bekerja dengan pemerintah adalah bagaimana setiap keputusan di dalam ruang festival tidak terpusat alias tidak didikte oleh pemerintah, apalagi kali ini mengatasnamakan “berbasis masyarakat”. Pertanyaan kemudian yang kerap muncul adalah “apakah masyarakatnya siap”? Hal ini kemudian menjadi alasan ampuh bagi pemerintah untuk menyerahkan ke swasta ditambah pemerintah sendiri tidak mampu.  Modus ini rentan sekali untuk  melahirkan lingkungan yang koruptif. Hingga sebenarnya yang paling prinsip dari alasan penyelenggaraan festival hanyalah kepentingan kompetisi menaikan citra kota/provinsi pemerintah daerah dengan pemerintahan daerah lainya dan tentu saja untuk lingkungan politiknya sendiri. Semuanya dikomodifikasi, termasuk masyarakat serta lingkungannya dan seni-kebudayaan yang hidup di setiap lokasi dibuat atau berbau sensasi. Melalui problem ini kita bisa memeriksa juga atau memikirkan ulang soal setiap peristiwa di Festival Nubun Tawa terjadi. Termasuk bagaimana efek festival terjadi, misalnya pembangun jalan, membuka lahan yang tadinya bukan lokasi utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, apakah itu untuk masyarakat atau turisme yang dibayangkan?

Apakah festival berbasis masyarakat anti turisme? Tentu tidak, sejauh turisme yang diperjualbelikan adalah hospitabilitas, yaitu pengalaman turisme yang diterima sebagai tamu oleh tuan rumah yang baik, pengalaman akan kualitas ‘rumah’ di tempat lain, kerasan, yang mungkin tidak pernah dialami dalam pengalaman apapun. Sebuah seni-kebudayaan atau dalam konteks ini sebuah festival bisa membangun hospitabilitas sejauh semua itu dijalankan oleh masyarakatnya, tidak dibuat-buat (superfisial) dan menjadi kehidupan sehari-hari. Misalnya: beli makanan yang di jual itu seperti makan dirumah orang dan yang dijual adalah bagian dari masyarakatnya. Menerima tamu menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Yang perlu garis bawahi dari hal ini adalah untuk menghindarkan euforia ekonomi turistik yang membongkar ini itu atas nama turis. Tapi jika memang pemerintah mempunyai kesungguhan untuk menjadikan festival ini berbasis masyarakat, saya kira studi kasus untuk belajarnya tidak perlu jauh-jauh dulu. Cukup melihat dan terlibat di dalam setiap peristiwa kultural yang ada di masyarakatnya, dan peristiwa Sole Oha dengan kompleksitasnya dapat menjadi ruang belajar yang baik.

Menurut perencanaan, yang akan menjadi tuan rumah festival tahun depan adalah Kecamatan Adonara. Festival Nubun Tawa akan menghadapi tantangan yang berbeda di tahun 2019, ajang pemilihan presiden, tahun yang penuh persaingan dan kompetisi. Semoga saja di tahun di mana banyak hal semakin mengeras dan bergesekan tersebut energi dan vibrasi Sole Oha makin berlipat ganda. Menjangkau, mengundang dan menjadi imajinasi geografis bagi siapa pun yang memiliki kepingan pengalaman kolektif untuk dibawa dan menghubungkan dengan kepingan lain di Festival Nubun Tawa.

Pai Taan Tou!

 

Oktober, 2018

 

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Oleh Silvester Petara Hurit

Hari Jumat tanggal 28 Agustus tahun 1970 adalah hari yang teramat pahit bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur NTT. Rumah adat (korke) yang menjadi pusat kegiatan ritual, sosial dan budaya dibongkar dan dibakar.

Rumah yang mempersatukan masyarakat 5 kampung (Lewotala, Lamatou, Belogili, Kawaliwu dan Leworahang) sekaligus menjadi tempat dimana hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan mereka direncanakan, dimusyawarahkan serta diputuskan dibakar di hadapan mayoritas masyarakat yang mensakralkannya.

Para tetua tak berdaya menyaksikan  anak-anaknya sendiri yang bertindak sebagai aparat keamanan desa (hansip) membongkar  dan membakarnya. Bagaimana mereka  bisa melakukan tindakan membakar rumah adat  yang menjadi jangkar  kehidupan nenek-moyang mereka sejak berabad-abad lampau?  Entah drama macam apa dan siapa aktor-aktor yang ada di balik itu, bagi tetua kampung yang lugu, tak fasih berbahasa Indonesia apalagi tidak bersekolah, tak banyak yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk protes atau gugatan.

Apa yang diajarkan kepada anak-cucunya di sekolah sehingga menyebut tetua kampungnya: setan, kafir dan pemuja berhala? Bangunan yang  dipercaya sebagai tempat suci kini dijauhi, dianggap sebagai rumah berhala, pusat tradisi dan praktek kekafiran. Tetua adat dituduh mendirikan agama baru.  Disiksa berjalan kaki  sejauh 17 KM untuk  membersihkan rumput di halaman kantor camat  selama sebulan tanpa disediakan makan dan minum.

Ritus dan sejumlah tradisi seperti:  menenun, membuat tato etnik,  meratakan gigi,  melubangkan daun telinga dilarang. Pohon-pohon besar  di situs-situs penting yang berkaitan dengan keyakinan lokal ditebang. Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol serta segala ekspresi budaya seperti:  nyanyian etnik, sastra lisan, musik dan tarian adat  perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat.

Tetua adat sebagai pelaku  dan penjaga tradisi dibikin keder dengan sekian tuduhan (fitnah) yang tak mereka pahami. Mereka tidak tahu siapa yang ada dibalik semua itu. Yang terjadi kemudian adalah masyarakat terbelah antara yang menjalankan tradisi adat dan yang melepaskan diri darinya dengan menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.  Ada yang bingung dan atau menjalankan kedua-duanya. Yang menjalankan kedua-duanya, oleh pemeluk teguh agama formal,  dicemooh sebagai plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan tersebut berlangsung sepanjang puluhan tahun  walau tidak mencuat sampai perseteruan fisik.

Momen pemulihan

Tanggal 5-7 Oktober 2018 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat adat Lewolema. Hari dimana mereka boleh merayakan kembali seni, ritus dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa. Atraksi panahan massal (leon tenada) sebagai bagian dari ritus membangun rumah adat, tinju tradisional (sadok nonga) yang dilaksanakan sebagai ekspresi sukacita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku/marga (lodo ana) dengan tari dan nyanyian sepanjang malam digelar kembali di Lewolema.

Masyarakat tumpah ruah di jalan. Menari tanpa alas kaki di siang terik. Berpanas-panasan mengikuti sekian pegelaran. Memikul sejumlah perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan sejumlah pertunjukan di malam hari. Festival menjadi ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat.

Perasaan lepas (tanpa beban intimidasi) menyembulkan energi kegembiraan/sukacita. Energi tersebut bertaut (:bersinergi). Saling menguatkan. Membangkitkan kembali gairah kreativitas masyarakat serta memberi ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya. Kegembiraan dan keleluasaan menjadi angin segar yang memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri dari trauma sejarah kultural masa lalunya.

Relevansi festival

Festival sebagai perayaan dan ritus sosial memperlihatkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan masyarakat mengorganisir dirinya. Absennya peristiwa budaya yang bersifat kolektif/massal selama ini menghilangkan juga kemampuan bekerjasama dan menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Yang muncul selama beberapa dekade terakhir adalah kebingungan, rasa rendah diri, kecurigaan, rasa benar sendiri dan superioritas diri yang sempit akibat kehadiran yang satu tidak mengakui yang lain dalam ruang egaliter kebudayaan. Klaim kebenaran satu pihak tidak mengakui kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Festival Nubun Tawa, dalam bahasa Lamaholot bermakna “lahirnya tunas/generasi baru”, menjadi perayaan atau pesta masyarakat dimana ruang egaliter kebudayaan diciptakan kembali. Masyarakat adat Lewolema yang hampir setengah abad tidak diakui ruang ekspresi kulturalnya dan dilemahkan nilai serta sendi-sendi dasar yang merawat bangunan hidup kolektifnya, melalui festival, menemukan kembali kekuatan kebersamaan melalui peristiwa-peristiwa kolektif kesenian yang mempersatukan.

Kesenian mempersatukan dan mengobarkan kegembiraan. Jalan untuk merawat kembali kesehatan jiwa dan daya hidup masyarakat. Bahwa mereka bukan kafir, setan dan pemuja berhala. Pun bukan masyarakat gunung yang bodoh dan  primitif. Mereka adalah masyarakat tradisional yang religius. Yang merawat hidup dengan ritus, mantra, doa, nyanyian dan tarian. Yang memeterai dirinya dengan tato etnik dan motif-motif tenun serta pelbagai asesoris  yang merupakan pertunjuk (wahyu)  dari dunia transenden.

Festival membuat mereka menemukan kembali kenyataan dirinya sebagai pemberani (ata breket), prajurit dan satria perang yang handal di masa lalu.  Atraksi panahan massal (leon tenada) dari desa Lamatou misalnya, memperlihatkan kehebatan memanah yang selama ini tidak diapresiasi sebagai ketrampilan kultural masyarakat.

Festival Nubun Tawa yang lahir atas inisiatif Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute serta sejumlah komunitas seni di Larantuka  menemukan   tempat dan relevansinya di dalam kehidupan masyarakat. Festival bukan terutama pukauan dan kekaguman pada kerja-kerja  artistik pentas-pentas kesenian melainkan lebih pada mempertautkan masyarakat dalam satu spirit perayaan dimana melaluinya mereka menghimpun kembali tenaga kembangkitan, menemukan jati diri kultural dan berkarya membangun masa depannya.

 

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

 

Catatan:

(1) Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh situs tatkala.co (http://www.tatkala.co/2019/01/28/memulihkan-trauma-kultural-catatan-dari-flores-timur/)

(2) Foto yang menyertai tulisan ini merupakan dokumentasi Disparbudkab Flores Timur.

Kabar Dari Jauh: Membincangkan Buruh Migran di Sumbawa

Kabar Dari Jauh merupakan acara yang secara khusus merespon isu ‘buruh migran’. Isu ini dipilih karena Sumbawa adalah daerah penyumbang buruh migran terbesar ketiga se-Nusa Tenggara Barat. Beberapa kasus yang memantik isu ini dimunculkan dan hendak dibicarakan secara serius adalah: human trafficking, pelanggaran HAM, kekerasan fisik, pelecehan seksual, perlindungan hukum yang lemah, dan pemberangkatan secara non-prosedural yang kerap dialami oleh pekerja buruh migran.

Acara ini digagas oleh Sumbawa Collective (perkumpulan antar komunitas di Sumbawa). Sumbawa Collective akan berkolaborasi dengan warga Desa Pelat yang tergabung dalam Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Komunitas Seni Nagaru (pemuda Pelat) dan Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo. Desa Pelat dipilih sebagai kolaborator dan lokasi presentasi karya sebab desa tersebut merupakan salah satu kantong buruh migran di Kabupaten Sumbawa.

Kabar Dari Jauh diharapkan dapat memunculkan percakapan kritis, refleksi bersama dan bagaimana warga melakukan negosiasi serta menghadapi soal-soal terkait buruh migran.

___

Acara ini adalah bagian dari #SeriPentasAntarRagam, inisiatif baru Teater Garasi dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.
___

Jadwal Lengkap Acara

Hari & tanggal: Sabtu,17 November 2018
Tempat: Lapangan Bola Desa Pelat

– Workshop Seni Rupa: “Surat Untuk Ibu”
Difasilitasi oleh: Sumbawa Visual Art dan Komunitas Seni Nagaru
Waktu: 15.30 – 18.00 WITA

– Pemutaran & Diskusi Film pendek: “Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang”
Sutradara: Anton Susilo
Waktu: 20.00 – 21.30 WITA

– Pertunjukan teater: “Rungan Do”
Sutradara: Reny Suci
Pemain: Deni Kurniawan, Mulya Putri Amanatullah, Nella Salsabila & Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo
Waktu: 21.30 – 22.30 WITA

___

Panitia Pelaksana: Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo, Komunitas Seni Nagaru, Sumbawa Cinema Society, Sumbawa Visual Art, Solidaritas Perempuan Sumbawa, Serikat Buruh Migran Indonesia, dan Sumbawa Indie Movement.

BELALLE’: Ruang Alternatif yang Mengakomodasi Partisipasi Warga dan Isu Lokal

Pada bulan November 2018, #SeriPentasAntarRagam kembali digelar. Kali ini Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengunjungi Kota Singkawang dan bekerja sama dengan Teater Tebs dan Rumaksi (Ruang Muda Kreatif Singkawang) menyelenggarakan BELALLE’.

BELALLE’ adalah sebuah acara seni yang digagas oleh Komunitas Rumaksi dan Teater Tebs, berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute (TG/GPI) melalui workshop yang diadakan di Singkawang pada awal 2018 dan residensi di Yogyakarta pada bulan Agustus-September 2018.

Workshop yang diberi tajuk “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” diikuti oleh seniman-seniman muda dari kota Singkawang dan Pontianak. Di dalam workshop, TG/GPI membagikan metodologi penciptaan bersama yang selama ini dipraktekkan dalam menciptakan karya (seni), berangkat dari isu yang terjadi dalam masyarakat dan modal yang dimiliki.

Workshop ini memicu usaha-usaha mengaktivasi kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dari potensi para seniman, komunitas, bahkan ruang kota yang ada di Singkawang untuk secara kolektif menciptakan sebuah ruang alternatif yang mengakomodasi partisipasi warga dan isu lokal.

BELALLE’ sendiri adalah bahasa Melayu Singkawang yang artinya gotong royong, menanam dan panen bersama, mengolah dan menikmati hasil bersama.

Berikut jadwal acara:

#SeriPentasAntarRagam
BELALLE’
7 November 2018
Gedung PIP (Pusat Informasi Pariwisata)
Jl. Merdeka, Singkawang. .

Pukul 19.30
Pertunjukan Teater
“Dua Wajah” oleh Teater Tebs
Sutradara: Mpok Yanti

Pukul 20.30
Launching Program “NOGO’ PLUS PLUS:
Pemutaran Film “Nenek Bangun”(Ahmad Syafari, 2015)
 

Nubun Tawa: Memetakan Potensi Seni Budaya Flores Timur

Oleh Venti Wijayanti

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru—penyegaran dan pengembangan—dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni budaya antar kecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas yakni dengan menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat. Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Nubun Tawa Festival adalah bagian dari program AntarRagam (Performing Differences). Bekerjasama dengan pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur selama ini. Festival Nubun Tawa diselenggarakan di Kecamatan Lewolema, dirancang bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah Flores Timur, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di tujuh desa di Kecamatan Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

Rangkaian acara dibuka dengan upacara penyambutan di gerbang masuk Desa Bantala, dan dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, serta jajaran pejabat daerah Flores Timur, staf Kecamatan Lewolema, Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur. Dilanjutkan rangkaian pentas seni tradisi dan pertunjukan budaya Lewolema, di Lapangan Desa Bantala, membuka festival Nubun Tawa, festival seni budaya berbasis masyarakat Flores Timur. Sore hari, rombongan pengunjung dan warga masyarakat Lewolema, Flores Timur bergerak pindah ke bukit Eta Kenere, menggelar serangkaian pentas dari Darlene Litaay (Papua), Iwan Dadijono (Yogya), Kung Opa (Larantuka) dan Veronika Ratumakin (Adonara – Flores Timur), dan kemudian diakhiri dengan tari pergaulan Sole, Dolo-dolo, Lili dari warga desa Bantala. Acara di bukit berlangsung mulai matahari tenggelam hingga menyambut matahari terbit, dengan konsep camping cerita bersama keluarga.

Pada hari kedua beberapa agenda festival dilangsungkan: Pameran Tattoo Tradisional Budaya Lewolema yang berlangsung selama tiga hari festival, Teater Basa Tupa di Desa Riangkotek, Diskusi Budaya Lamaholot (Lewolema) yang diisi oleh Pater Simon Suban Tukan SVD dan Ivan Nestorman, berserta moderator Kowa Kleden di Desa Riangkotek, dilanjutkan Karnaval Budaya yang dimulai dari Lapangan Riangkotek dan berakhir di Pantai Kawaliwu, Musik akustik oleh Trada Band dan monolog oleh Ruth Marini setelah matahari tenggelam di Pinggir Pantai Kawaliwu. Penyelenggaraan upacara tradisi Lodo Ana di Rumah Suku Liwun, di Kawaliwu berlangsung sampai matahari terbit.

Pada puncak acara Festival di hari ketiga dilaksanakan di Desa Leworahang, yaitu misa Inkulturasi pada pagi sampai siang hari, pameran tattoo tradisional Budaya Lewolema, rangkaian pertunjukan seni dan budaya Flores Timur di Ile Padung antara lain; pertunjukan musik Fanfare, tarian Brasi, Belo Baja, pertunjukan mudik suling tradisional Solor Barat, atraksi tenun tradisional, fashion show busana tradisi Lewolema dan busana modern, pertunjukan musik seniman tamu Yasuhiro Morinaga yang berkolaborasi dengan Magdalena Eda Tukan dan Petronela Tokan, dan ditutup dengan tarian masal tradisional Sole Oha.