Arsita Iswardhani

Perjalanan Flores ini merupakan perjalan pertama dari seluruh rangkaian perjalanan ke depan yang akan mungkin dilakukan lagi oleh kami, Teater Garasi.

Kami singgah di dua daerah, yaitu di Maumere (Sikka) dan Flores Timur.

Di Maumere, kami ditemani partner lokal, Komunitas KAHE, sejak mendarat di bandara Frans Seda Maumere. Hari pertama di Maumere kami menemui Romo Tule Philipus dan Frater Hendrik dari Seminari Ledalero. Dari beliau ini, kami mendapatkan informasi tentang situasi keberagaman sosial dan budaya di Flores. Romo Tule adalah pakar Islamologi, dan Frater Hendrik sendiri juga tokoh yang sangat aktif dalam usaha-usaha menjaga situasi damai dan kerja bersama lintas agama. Salah satu yang sedang dipersiapkan saat kami bertemu dengan beliau, dan kemudian kami juga mengikuti acaranya di hari terakhir kami di Maumere, yaitu Aksi Bela Bumi. Setelah dari Seminari Ledalero, kami bertemu dengan anggota kelompok KAHE; Eka Putranggalu, Elvan, Rico Wawo, Haris Meoligo, Kikan, Rizal, Dimas, dan Tika. Mereka kelompok anak muda yang sangat aktif menggerakkan kesenian di Maumere. Malamnya, kami diajak ke Seminari Ritapiret untuk bertemu dengan kelompok-kelompok teater dari Seminari: Teater Tanya dan Teater Aletheia. Sesi ini terasa cukup formal tapi tetap santai, karena mereka ternyata menyiapkan satu forum besar. Dari pertemuan ini, kami sedikit banyak tahu bagaimana situasi perkembangan teater di Maumere.

Salah satu daerah yang saya kunjungi di Maumere adalah Desa Wuring. Desa ini terletak di pinggir laut. Bahkan ada sebagian rumah dari penduduk desa ini adalah rumah apung, dengan struktur bambu dan kayu. Juga ada masjing apung di ujung desa. Desa ini adalah salah satu desa muslim di Maumere. Rata-rata penduduk kampung Wuring berasal dari Bajo atau Bugis, dengan mata pencaharian para lelakinya hampir semuanya adalah nelayan. Di desa ini, saya bertemu dengan salah satu warga “atas”, Bapak Thomas Tega, yang berjualan alpukat dan hasil bumi di pelabuhan Wuring, bahkan sejak pelabuhan tersebut belum ada. Selain itu, saya bertemu juga dengan Ibu Rina dan Imam Masjid Tengah, yaitu Alidin Baco/Tabo.

Di hari terakhir di Maumere, sebelum ke Larantuka, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya dan rombongan mampir untuk melihat Aksi Bela Bumi yang diiniasis oleh Prater Hendrik. Aksi ini adalah aksi menanam pohon di mata air Wairkajo, yang diikuti oleh berbagai komunitas lintas agama. Di sana, kami bertemu langsung dengan kelompok-kelompok perwakilan dari gereja, kesusteran, kelompok masjid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere, dan masyarakat desa sekitar. Saya sendiri sempat bercakap-cakap dengan salah dua peserta yang terlibat. Salah satu dari mereka bernenek moyang dari Bajo dan beragama Islam. Sejak lahir, ia tinggal berdampingan dekat dengan gereja. Dan merasa tidak pernah merasa ada gejolak konflik apapun. Mereka tinggal bersama dengan damai.

Bergerak ke Flores Timur, kami tiba di Larantuka, bertemu dengan partner lokal kami di sana, “Opu” Silvester. Opu ini juga yang sebenarnya menghubungkan kami dengan teman-teman komunitas Kahe di Maumere. Beliau ini adalah penghubung yang sangat apik.

Di Flores Timur ini, pertama-tama kami pergi ke Adonara Timur. Di sana kami bertemu seorang penulis muda dan juga seorang pengajar, anggota dari Agupena juga, Pion Ratulolly. Tulisan-tulisan Pion telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pion banyak bercerita tentang sejarah dan kebudayaan desa Lamahala, satu desa muslim di Adonara Timur. Dari Pion juga, kami mendengar banyak cerita konflik tanah dan perang adat yang terjadi. Setelah bersama Pion hingga sore, kami bergerak menuju Desa Bele, masih di Adonara Timur. Di sini kami bertemu dengan kelompok Teater Nara, di bawah asuhan Opu Silvester. Anggota Teater Nara ini sangat beragam, dari mulai guru, ibu rumah tangga, hingga perempuan muda yang baru saja lulus dari kuliah di ibukota. Teater Nara sedang proses latihan mempersiapkan pentas mereka di Festival Cirebon pada bulan April.

Sepulangnya dari Adonara Timur, saya, Mbak Lusi, Qomar dan Opu berkunjung ke desa Birawan kampung Lewotobi. Kepala Desa Birawan masih sangat muda, dan beliau berhasil membuat Desa Birawan menjadi Desa Terbaik pada tahun 2015. Bersama kepala desa, ada satu tim yang selalu bekerja bersamanya, yaitu Sekretaris Desa, Manajer BUMDes, dan Kepala Dusun. Mereka sedang bekerja bersama dengan satu LSM untuk mengusahakan konservasi terumbu karang.

Di hari kelima perjalanan, kami menuju Solor, tepatnya di desa WuluBlolong. Kami berencana untuk menghadiri upacara adat Kebare Reka Wuung. Yaitu upacara adat buka puasa bagi para gadis. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan hasil bumi yang ditanam di musim hujan. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana adat berusaha menjaga kesinambungan kehidupan di desa tersebut. Di sini kami bertemu dan dijamu oleh keluarga Bapak Yakob. Dari kunjungan ini, saya mendapatkan cerita mengenai satu konflik yang masih terus berlangsung hingga saat ini, yaitu konflik antara Desa Lohayon dan Desa WuluBlolong ini. Sebelum kembali ke Larantuka, kami sempat menemui kepala dusun 4, dusun di mana terjadinya pembakaran rumah saat terjadinya konflik Lohayon. Kami bertemu juga dengan Bapak Yakobus Ola, ipar dari kepal dusun, dan anak dari Kepala Dusun 4.

Hari terakhir di Larantuka, saya dan Mbak Lusi sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan Bapak Bernad Tukan, seorang guru yang juga aktif dalam menggerakkan dan mencatat mengenai kebudayaan di Flores Timur. Setelah itu kami bertemu dengan rombongan lainnya di SMA Darius, bertemu dengan siswa-siswa yang aktif di teater. Teater SMA Darius sangat dikenal di Larantuka, mereka sering menjuarai perlombaan teater yang diselenggarakan di sana setiap tahunnya.

Malam terakhir di Larantuka, kami habiskan di Taman Kota Larantuka, bersama para tokoh muda penggiat kesenian dan kebudayaan di Larantuka; Kanis Soge, Frano Tukan, Maxi dari Agupena, Iwan, Felix (Pos Kupang), dan Bento. Kami membicarakan bagaimana kesenian bergerak di Larantuka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka sendiri di sana.

Dari seluruh perjalanan ini, saya sendiri punya satu catatan refleksi yang cukup dalam. Pertama, semangat belajar dan mencari referensi dari teman-teman komunitas di sana, sebut saja Komunitas Kahe, misalnya. Yang kedua, saya sangat terinspirasi bagaimana aspirasi anak muda untuk membuat satu gerakan tentang kesenian di Flores.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *