Kristina Beatrix Nong Goa “Qikan”

Sejak pertama kali Teater Garasi menginfokan akan membuat workshop di Flores tepatnya di kota Larantuka, saya sadar ini akan menjadi sebuah pengalaman belajar yang berharga secara pribadi maupun secara komunitas; untuk itu tak boleh disia-siakan. Beberapa teman juga mengakui hal yang sama, meskipun banyak juga yang lantas menyatakan kekecewaan mereka karena tak bisa mengikuti kegiatan ini karena kesibukan pekerjaan, selain karena memang peserta dibatasi. Dan ternyata benar, saya dan teman-teman Kahe yang mengikuti kegiatan ini merasa sangat beruntung. Banyak hal baru yang kami pelajari terutama soal metode-metode penciptaan, bagaimana menggagas tema, bagaimana menerjemahkan ide ke dalam gerak, theater of image (yang secara pribadi cukup berkesan untuk saya), parameter-parameter gerak dan banyak hal lain lagi yang berkaitan dengan proses penciptaan. Sehabis mengikuti workshop bertemakan ‘Bertolak Dari Yang Ada, Bicara Kepada Dunia’ ini kami—sebagai yang mewakili komunias Kahe—sudah membuat komitmen bersama untuk membuat sebuah karya bersama dan sejumlah project kecil-kecilan bertolak dari hal-hal yang sudah dipelajari dari workshop kali ini.

Akan tetapi, dalam tulisan singkat nan ringan ini saya tidak hendak membahas hal-hal teknis berkaitan dengan workshop atau juga mengenai detail karya dan project yang akan kami buat. Toh, di hari terakhr workshop, Mas Yudi dan kawan-kawan Garasi sendiri sudah mendengar secara langsung ungkapan hati, kesan dan rasa terima kasih berlimpah dari para peserta karena telah mengikuti workshop yang diselenggarakan. Saya hanya ingin membahas sedikit mengenai dampak langsung yang kami rasakan setelah workshop ini dibuat. Teman-teman Kahe yang lain mungkin punya kesan dan pengalaman yang berbeda yang tidak bisa saya tulis. Beberapa hal bisa saya ungkapkan di sini.

Pertama, sejujurnya, Teater Garasi/ Garasi Performance Institute yang diwakili oleh Mas Yudi, Mas Rizky, Mas Qomar, Mbak Sita, Mbak Lusi (meski tidak sempat hadir saat workshop) dan Siom (saya lupa nama aslinya, maaf) telah menyuntikkan energi baru bagi kami untuk terus berkarya. Di tengah segala keterbatasan akses informasi, pengetahuan, dan apresiasi, kadangkala ada rasa jenuh dan ‘tak berdaya’ yang secara pribadi dan secara komunitas kami rasakan. Garasi telah ‘membangunkan’ kami dari tidur dan serentak menyadarkan kami kalau kami sebenarnya punya potensi yang luar biasa. Kekayaan alam, budaya dan tradisi yang kami miliki justru menjadi alat kejut yang ampuh untuk sejenak membuka mata kami. Atau mungkinkah kami telah terlalu lama hidup dalam comfort zone? Entahlah, saya sendiri tidak yakin untuk itu. Tetapi, energi itu telah kami tularkan juga kepada teman-teman sekomunitas yang tidak mengikuti kegiatan ini. Seperti yang sudah saya singgung di atas, mereka merasa kecewa tidak bisa mengikuti workshop ini. Namun, saya yakin ada semacam semangat baru juga yang mereka rasakan seperti apa yang kami rasakan juga sebab semua kegiatan workshop selalu kami laporkan di group WA komunitas. Bahkan dengan mendengar cerita-cerita kami, mereka sangat terpesona dan tertarik (kalau tidak mau dibilang iri hati). Barangkali, bagi teman-teman Garasi sendiri ini merupakan hal yang biasa atau terlampau hiperbolis, tetapi memang begitulah kenyataannya. Sesuatu yang biasa dan sederhana bisa jadi merupakan hal besar dan luar biasa bagi orang lain. Dan itu sedang kami rasakan. Saya ingat bagaimana Mas Yudi memberikan materi dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Suasana workshop yang diciptakan; yang santai dan fleksibel, membuat kami berani mengungkapkan ide dan hal apa saja yang ingin kami tanyakan. Di dalam praktek pun kami tidak pernah dinilai dari aspek benar dan salah; Mas Yudi dan teman-teman Garasi tidak pernah men-judge bahwa gerakan yang ini salah dan yang benar harus seperti ini atau ide yang ini tidak benar, misalnya. Apa yang ada pada kami itulah yang diberdayakan. Saya mengerti bahwa inilah yang disebut; bertolak dari yang ada bicara kepada dunia.

Kedua, yang berkesan dari sebuah perjalanan adalah pengalaman perjumpaan; perjumpaan wajah, perjumpaan tubuh. Ini tentu merupakan pengalaman kedua kalinya teman-teman Garasi datang ke Flores (kecuali Siom yang katanya sudah beberapa kali ke NTT) setelah pada bulan Maret (kalau tidak salah) datang untuk kali pertama. Sebelumnya kami hanya mengetahui Teater Garasi dari youtube, Kompas, Tempo dan media-media nasional lainnya. Sebagaimana yang seringkali diucapkan Ka Sil Hurit, Teater Garasi adalah sebuah kelompok Teater terdepan di negeri ini. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, tetapi dari pengalaman perjumpaan, kami telah menganggap teman-teman Garasi (meskipun berbeda generasi) menjadi bagian dari kami; sahabat, keluarga, teman diskusi, dan ‘teman minum’ yang baik. Kami sangat menghormati dan menghargai Garasi, bahkan untuk semua yang telah mereka buat dan untuk dua puluhan tahun berkarya, hormat dan apresiasi setinggi-tingginya patut siapa saja berikan. Namun, ada hal yang lebih dari itu; yakni bagaimana Garasi juga turut meleburkan diri ke dalam hidup kami, pola pikir kami, tradisi dan budaya kami sambil banyak kali menyumbangkan sudut pandang lain yang sangat berguna bagi kami.
Yang menarik juga adalah ketika malam menjelang dan kita duduk melantai bersama dan ada beberapa botol yang berdiri. Sebotol moke tetaplah berisi moke bagi orang yang hanya ingin mabuk-mabukan, tetapi kemudian moke kelihatan lebih bermartabat ketika spontanitas diri setiap orang berujung pada sebuah persahabatan lintas generasi, lintas pulau, lintas agama, lintas suku. Ada produksi pengetahuan di sana, ada suara yang didengarkan, ada nada-nada yang dihayati dan ada saling menghormati. Sehingga ketika itu, Mas Yudi mulai jadi pendiam, Mas Qomar mulai membuat dahi kami berkerut dengan obrolan filsafat dan teologinya, mas Rizky menunjukkan musikalitasnya, Siom dengan moment of the truth-nya, dan Mbak Sita yang cepat ngantuk. Di situasi-situasi seperti inilah, Garasi menjadi sungguh-sungguh orang Flores. Kami pun menjadi tak canggung, meski kami sadar kami sedang berhadapan dengan sekelompok orang hebat. Bayangkan, saking hebatnya ketika mengetahui Mas Yudi dan Mas Qomar sampai hari ini belum kelar-kelar menuntaskan skripsi, Epang juga mau ikut-ikutan tidak mau menyelesaikan skripsinya dengan alasan kuat; yang penting berkarya dan berkesenian; teladannya ya sudah pasti Mas berdua itu. Saya yakin Mas Yudi tidak mau bertanggungjawab untuk kasus ini. Apalagi Mas Qomar.

Terima kasih banyak teman-teman Garasi. Kalian telah berhasil menjadi bagian dari kami dan membagi banyak hal kepada kami. Ada banyak kekurangan dan keburukan yang ada pada kami. Untuk semua itu, kami haturkan beribu maaf. Semoga alam, budaya dan senyum orang-orang Flores bisa menjadi inspirasi dalam berkarya.
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Epan gawan. Amapu Benjer!!!

Salam dan doa,

Qikan dan teman-teman Kahe Maumere of Flores

 

Comments (1)

  1. Yeaaaaayyy….epan gawan GARASI..ini kece 😀
    Terima kasih untuk kesempatan saling berbagi yg luar biasa ini…
    GARASI Horrroooo…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *