Oleh Eka Putra Nggalu

Di Cuba de Libre

Sampah-sampah adalah pengetahuan

Seperti pengetahuan-pengetahuan

Adalah tumpukan sampah

(Jogja, 2017)

 

Saya menyambut dengan gembira tawaran dari teater Garasi kepada saya untuk melakukan residensi artis di Yogyakarta selama kurang lebih enam minggu, mulai dari tanggal 9 Juli-24 Agustus 2017. Saya gembira karena residensi ini menjadi kesempatan pertama saya jalan-jalan ke luar NTT, sesuatu yang saya rindukan sejak lama dan belum pernah kesampaian karena terhalang oleh banyak faktor. Selain kerinduan, jalan-jalan ke luar NTT juga saya pandang sebagai kebutuhan. Ini dalam kapasitas saya sebagai anak muda yang perlu banyak pengalaman, posisi saya dalam konstelasi masyarakat di Maumere (kota asal saya) sebagai kelas menengah-katolik (mayoritas), berpendidikan baik, yang juga butuh referensi lain sebagai pembanding (saya mahasiswa STFK Ledalero, satu dari sedikit sekolah tinggi bermutu di NTT), dan sebagai seorang seniman yang sedang merintis sebuah komunitas yang sedang bergulat dengan berbagai kemungkinan pengembangan dan kebutuhan untuk secara mandiri menyokong keberlangsungan hidupnya.

Dalam mengikuti residensi ini, saya tidak secara khusus menempatkan teater atau seni pertunjukan sebagai fokus yang akan saya dalami. Dengan sadar, saya mengarahkan diri saya untuk melihat dan mengalami sebanyak-banyaknya aktivitas dan peristiwa dalam kehidupan saya di Jogja. Saya ‘bermain-main’ dengan jarak dalam menempatkan diri saya ketika saya berhadapan dengan berbagai program yang ditawarkan teater Garasi pun dengan aktivitas kesenian, diskusi-ilmiah, dan kehidupan sosial yang saya jumpai dan alami dalam hari-hari saya di Jogja. Konsekuensi dari pilihan saya ini adalah saya mungkin mendapat deskripsi yang luas tentang lanskap Jogja sebagai kota dengan akivitas kesenian yang tinggi, kota pelajar dengan tradisi intelektual yang baik, kota tempat banyak komunitas dibangun sebagai ruang advokasi isu-isu sosial, ekspresi kesenian dan aspirasi politis, hingga produksi pengetahuan. Tentunya, seluruh hal ini saya alami dalam berbagai macam bentuk pengejawantahannya. Di sisi lain, saya mungkin saja melewatkan banyak hal detail dalam satu aktivitas yang saya amati dan alami. Meskipun demikian, saya selalu dan sedapat mungkin melihat pantulan seluruh kekurangan dan kelebihan pengalaman saya di Jogja bagi aktivitas saya sebagai seniman dan pegiat di komunitas KAHE, sebuah komunitas seni-budaya di Maumere tempat saya bergiat. Refleksi pengalaman saya terutama saya arahkan pada kebutuhan komunitas KAHE untuk dapat mengelola dirinya secara mandiri. Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya di Jogja dan refleksi saya atas pengalaman-pengalaman saya bagi komunitas yang sedang saya dan teman-teman kembangkan.

Temuan-Temuan Saya di Jogja

Sejak awal harus saya akui bahwa pengalaman saya selama residensi di Jogja tidak dapat saya deskripsikan satu per satu dalam satu tulisan saja. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan beberapa pengalaman yang melekat dalam ingatan, kesan, dan imajinasi saya. Beberapa pengalaman yang ada dalam tulisan ini juga coba saya refleksikan secara lebih khusus dalam tulisan yang terpisah. Sudah barang tentu, semua itu saya refleksikan dalam kaitannya dengan kegelisahan dan kebutuhan saya dan teman-teman di komunitas.

Di Jogja, hal pertama yang sangat berkesan bagi saya adalah soal makanannya. Saya datang dan langsung diajak untuk makan bakmi Jawa di salah satu warung lesehan. Saya menikmati rasa bakmi Jawa dengan perasaan agak aneh. Lidah saya yang sudah akrab dengan ikan laut dan garam harus beradaptasi dengan cita rasa masakan Jawa yang umumnya manis. Perbedaan cita rasa masakan Maumere dan Jogja inilah yang pertama kali membuat saya sadar dan bersiap-siap untuk menjumpai lebih banyak perbedaan.

Di Jogja, saya merasakan ada perbedaan lain dalam hal cara berinteraksi maupun dalam membangun relasi sosial. Orang Jogja umumnya ramah-ramah, sangat halus dalam menyapa, dan murah senyum. Saya langsung menemukan perbedaan ketika saya berkomunikasi dengan dialek Maumere dan volume suara yang menggelegar. Saya juga sering ditegur, ketika wajah saya terlihat agak mengkerut dan seperti ingin marah. Sesuatu yang menurut saya normal ketika saya sedang mencoba fokus memikirkan suatu hal. Saya menyadari bahwa disposisi diri saya harus lebih diadaptasikan dengan lingkungan Jogja.

Perbedaan kebudayaan juga saya alami ketika berhadapan dengan teman-teman performer studio maupun teman-teman lain yang juga terlibat dalam residensi artis. Pertemuan dengan teman-teman dari Jawa, Madura, Belanda, dan Australia menuntut saya untuk lebih terbuka. Komunikasi kami, satu sama lain harus benar-benar dicermati secara baik. Di beberapa percakapan saya menemukan adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi karena kami tidak berangkat dari cara pandang atau pemahaman yang sama terhadap satu isu atau hal yang sedang diperbincangkan. Selain kebudayaan, kami juga berangkat dari status sosial, agama, dan latar belakang pendidikan yang berbeda yang mendesak banyak penyesuaian dalam berkomunikasi. Temuan saya dari situasi ini sangat banyak. Saya menemukan keterbatasan-keterbatasan personal saya dalam berkomunikasi, misalnya egois, cenderung menguasai pembicaraan, sulit mendengarkan, dan kurang terbuka. Saya merasakan hal ini tidak sebagai sebuah kecenderungan sadar, atau yang sifatnya karakteristik, tetapi lebih sebagai efek dari perbedaan-perbedaan yang tidak terjembatani secara baik dalam berkomunikasi. Saya menemukan miniatur Indonesia dalam kelompok kecil ini. Dialektika perbedaan-perbedaan sangat terasa karena intensitas interaksi kami yang cukup tinggi. Kendala yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan ini begitu terasa ketika kami melakukan penciptaan bersama. Seringkali komunikasi kami ‘tak sampai’ karena perbedaan-perbedaan tadi. Ketika kembali membayangkan hal ini, saya mengingat kata-kata Mas Ugo Prasad, ‘penciptaan kesenian dapat berlangsung ketika kau membiarkan pertemuan, tubuh, percakapan, gerak, perasaan, lebih pintar dari dirimu’.

Di Jogja, saya juga berkeliling mengunjungi galeri-galeri seni rupa. Pada satu kesempatan, saya berkunjung ke sebuah studio yang sedang menyelenggarakan pameran dari seorang perupa Jepang. Betapa saya terkejut ketika mendapati bahwa yang ada di dalam galeri tersebut adalah jejeran batu-batu. Beberapa kali saya coba berjalan mengelilingi galeri yang dipenuhi oleh pajangan batu-batu. Saya sungguh tidak mampu menikmati pameran itu sebagai karya seni. Saya membaca panduan program dan menemukan penjelasan bahwa pameran tersebut mencoba menghadirkan konsep sekaligus sensasi tentang sebuah benda yang sedang berada dalam situasi ‘jeda’. Batu-batu itu diambil dari lokasi-lokasi para pekerja tambang, bangunan, dan berbagai proyek industri material. Batu-batu yang ada di pameran itu berada dalam situasi di antara wujud asli dan wujud hasil produksi, dialektika antara materia dan forma, potensi dan actus. Batu-batu itu memuat narasi sejarah batu, potensi batu, bentuk yang ideal dari batu yang sedang dikerjakan, narasi para pekerja, dan posisi semua hal ini dalam konstelasi industri serta wacana kemanusiaan yang lebih luas.

Meskipun saya memahmi bahwa konsep pameran ini begitu detail dan bagus, saya masih terganggu dengan medium serta wujud estetis yang dipilih untuk menyampaikan ide itu. Bukankah ketika batu-batu ini ditempatkan dalam ruang kesenian (galeri), karya-karya ini juga dituntut untuk hadir sebagai sesuatu yang indah, yang menampilkan efek sensibilitas tertentu atau momen keterkejutan bagi para pengamatnya? Ataukah cara saya memandang dan menikmati kesenian masih terbatas, masih melulu melalui sensasi indrawi? Apakah salah jika saya tidak dapat menikmati karya ini sebagai suatu karya seni? Ataukah justru karya ini berhasil ketika dia benar-benar meninggalkan teror melalui pertanyaan yang terus tinggal di kepala saya bahkan setelah sebulan saya meninggalkan tempat pameran?

‘Pameran batu’ ini adalah satu dari beberapa model kesenian yang bagi saya baru dan yang saya jumpai serta alami di Jogja. Saya menonton konser Balungan, melihat festival gamelan, beberapa kali mengunjungi beberapa stan di Festival Kesenian Yogyakarta. Temuan saya adalah betapa kerja-kerja kesenian yang saya jumpai di Jogja umumnya tidak hanya mengandalkan atau menampilkan keterampilan teknis dan ekspresi estetis, tetapi melibatkan desain konsep yang membutuhkan sekaligus memproduksi pengetahuan yang sangat besar. Hal inilah yang menurut saya sangat jarang dijumpai dalam kesenian-kesenian di Maumere bahkan NTT. Jika di NTT yang masih diperbincangkan adalah soal penguasaan teknis, soal bagus-jelek, yang saya temukan di Jogja, sebagian besarnya adalah soal konsep, ide, dan statement yang ingin diserukan oleh sebuah karya. Saya benar-benar menemukan bahwa dialektika dan diskursus antara bentuk dan isi dalam karya seni benar-benar tampak.

Jalan-jalan saya ke galeri-galeri seni rupa membuat saya terlibat dalam beberapa diskusi kesenian dan kebudayaan. Saya mengikuti diskusi di Pendhapa Art Space, saya mengikuti diskusi di Cemeti Art House, saya juga mengikuti diskusi dengan Komunitas Taring Padi. Yang menarik, saya menemukan beberapa ‘muka yang sama’ yang selalu hadir dalam kegiatan-kegaitan seperti ini. Peserta diskusi pun tidak banyak. Dua puluh adalah angka yang mungkin menjadi standar bagi jumlah peserta sebuah diskusi. Pemandangan ini sesungguhnya tidak berbeda jauh dari yang terjadi di NTT atau Maumere. Yang berbeda adalah kualitas diskusinya. Saya hampir tidak pernah menemukan diskusi yang tidak serius atau tidak bermutu di Jogja. Saya juga berbesar hati, ternyata saya mampu terlibat dan minimal paham topik dan isu yang sedang diperbincangkan. Melihat hal ini, di satu sisi saya merasa tidak layak merasa diri sebagai inferior sekaligus memacu saya untuk semakin menumbuhkan tradisi dan iklim diskusi, minimal dalam komunitas yang sadang kami kembangkan.

Khusus dalam irisannya dengan seni pertunjukan, residensi saya kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Saya menonton pertunjukan Gejolak Makam Keramat karya Teater Tamara, Sahabat Terbaik yang disutradarai Joned Suryatmoko, dan beberapa peetunjukan lainnya. Menonton pertunjukan-pertujukan ini, saya menemukan bahwa konsep dan pemahaman saya tentang teater selama ini benar-benar dijungkirbalikan dan diobrak-abrik. Jika di Maumere konsep dan model teater yang saya serap sebagai referensi maupun saya kreasikan selalu berupa teater prosenium dan petunjukan tradisi, maka di Jogja saya mendapati beberapa macam model pertunjukan yang aneh, mulai dari arena, site specific teater, teater dengan penonton yang terlibat, teater dengan ekstensi tubuh ‘orang-orangan’ dan banyak macam lainnya. Temuan-temuan ini tentu memperkaya pemahaman dan referensi saya mengenai model teater. Dalam beberapa kesempatan saya merasa terkagum-kagum dengan pertunjukan-pertunjukan yang saya jumpai. Dalam kesempatan lain, saya merasa sebagai orang yang berasal dari daerah, saya seperti tidak punya hak untuk merasa inferior. Saya merasa banyak hal yang bisa saya dan teman-teman lakukan.

Pemahaman saya tentang teater juga digugat sekaligus direstorasi sepanjang hari-hari saya mengikuti serangkaian workshop, training, penciptaan, dan obrolan-obrolan ringan di teater Garasi. Sejak awal kedatangan saya di teater Garasi, saya mengalami atmosfir diskusi yang cukup ilmiah dan serius. Saya menikmati atmosfir ini sebagai sebuah prakondisi sekaligus kondisi yang baik untuk belajar apa saja. Saya mencermati semua diskusi di sela-sela ngopi atau ngebir, yang kelihatan sangat santai dan remeh-temeh tetapi selalu berisi dan berkualitas. Saya bertanya macam-macam tentang teater, sastra, sejarah, sosial budaya, hingga sepakbola dan pertanyaan saya dijawab dengan berbagai macam hal. Atmosfir ini untuk saya langka di Indonesia (apalagi Maumere), bahkan dalam sebuah institusi pendidikan setingkat universitas.

Satu hal menarik yang juga saya dapatkan adalah ketika saya mengunjungi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Di Festival ini saya membayangkan adanya interaksi dan dialektika antara para seniman dalam posisi personalnya maupun dalam medan keseniannya, pemerintah sebagai yang menjalankan medan kekuasaan, dan juga masayarakat penikmat seni. Saya membayangkan ada kompetisi, gesekan-gesekan yang besar sekaligus juga kerjasama yang saling membangun dan menguntungkan. Saya kagum dengan kunjungan di FKY yang tidak pernah sepi dan pengelolaan event yang untuk saya baru dan bermutu. Saya berangan-angan akan ada satu seperti Festival Kesenian Yogyakarta di Maumere.

Pemahaman saya tentang teater teruatama ‘diganggu’ saat saya mengalami serangkaian workshop dalam program Performer Studio, sebuah program yang diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute untuk belajar keaktoran bagi seniman muda. Untuk saya, workshop dekonstruksi oleh Mas Yudi Ahmad Tajudin adalah salah satu workshop yang memiliki efek besar bagi cara pandang saya terhadap seni pertunjukan dan kesenian pada umumnya. Dalam workshop ini, saya menemukan bahwa teater tidak sebatas sebuah ekspresi estetis belaka, tidak juga bernuansa mistis seperti yang sering melekat dalam pemahaman banyak orang. Seni pertunjukan adalah satu kompleksitas yang bisa berdiri sekaligus sebagai sebuah laku hidup, disiplin pengetahuan, dan profesi (meskipun Mas Yudi selalu berulang-ulang menekankan bahwa hampir tidak ada kelompok teater yang benar-benar profesional di Indonesia). Dalam workshop-workshop lainnya, saya tentu mendapat pengetahuan tentang tubuh, tentang pelisanan, dan pentingnya analisis sosial sebagai landasan pijak sebuah penciptaan kesenian.

Pengalaman lain tentang teater saya peroleh dalam praktik penciptaan bersama menggunakan metode Teater Garasi. Dalam penciptaan ini saya mengalami suatu situasi yang benar-benar baru. Saya harus menciptakan teater dengan suatu metode yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Saya menciptakan teater secara bersama-sama dengan teman-teman dari latar belakang budaya, bahasa, tingkat pendidikan, preferensi dan referensi estetis yang berbeda-beda yang menutut keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi. Implikasi dari proses bersama ini sungguh saya alami. Saya mengenal batasan-batasan sekaligus potensi diri saya dalam berkomunikasi ketika saya berada dalam lingkungan yang plural, saya menemukan bahwa metode penciptaan bersama menuntut adanya relasi komunikasi yang setara, partisipasi aktif dan kontribusi nyata setiap orang yang terlibat dalam penciptaan bersama, dan keseriusan dalam menyikapi setiap langkahnya. Pertunjukan berjudul Bagaimana Menghilang Sepenuhnya yang akhrinya kami hasilkan adalah cerminan dari masing-masing potensi, karakter, preferensi dan referensi estetis para penciptanya.

Selain pemahaman tentang teater, yang utama saya cermati dalam pengalaman saya di Jogja adalah model-model pengelolaan komunitas. Saya bercerita dengan pegelola Cemeti Art House, saya mengikuti sharing dengan teman-teman komunitas Kecil Bergerak dan komunitas Taring Padi, saya berkunjung ke Kalanari Theatre Movement dan bersama teman dari Flores, saya berkunjung ke kelompok musik kampung Maumere yang berkarya di Jogja dan beberapa organisasi mahasiswa. Dari pertemuan-pertemuan ini saya menemukan ada banyak pola dan model pengelolan komunitas, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat kompleks.

Masih dalam kaitannya dengan pengelolaan komunitas, saya beruntung mendapat kesempatan ngobrol tiga jam dengan Mas Yudi. Mas Yudi bercerita tentang pertumbuhan Teater Garasi dari awal sebagai sebuah komunitas kampus hingga sekarang menjadi sebuah komunitas dan juga institusi yang mandiri dan profesional. Saya mendengar peralihan-peralihan yang dialami Teater Garasi dalam merumuskan identitas diri mereka yang berjalan seiring dengan pola-pola penyesuaian pengelolaan komunitas. Saya mendengarkan dengan saksama problem-problem internal yang dialami Garasi, mulai dari proses yang dialami seniman-senimman Teater Garasi dalam menjawab pertanyaan eksistensial tentang keberlangsungan komunitas, sampai dengan cara Teater Garasi secara terus-menerus merefleksikan identitas diri mereka, dan menyikapi problem-probelem tentang perbedaan visi di antara para anggota. Dalam pantulannya dengan KAHE, saya memperoleh banyak sekali masukan dan juga pengetahuan dalam hal pengelolaan komunitas.

Hal terakhir yang menarik yang juga saya jumpai dalam pengalaman saya di Jogja saya refleksikan dalam kaitannya dengan saya sebagai ‘orang timur yang katolik’. Saya menyadari bahwa dalam banyak hal dan oleh karena banyak faktor, persepsi dan pengetahuan orang Jogja tentang orang-orang dari kawasan Timur (Flores, Ambon, Timor, Maluku, Papua) sungguh beragam. Tidak semua orang Jogja memiliki pengetahuan yang memadai tentang Maumere, kota asal saya. Masih banyak orang Jogja yang membayangkan Maumere sebagai sebuah kota yang masih sangat primitif. Ada yang bertanya soal harga bahan bakar minyak, ada yang bertanya tentang situasi kota yang dalam pandangan mereka masih dipenuhi dengan hewan-ewan yang berkeliaran. Ada yang berpendapat bahwa orang-orang dari Flores umumnya pintar-pintar sekaligus ‘tukang pukul’.

Dalam situasi lain, saya menyadari diri sebagai kaum minoritas ketika saya hadir dan terlibat dalam sebuah diskusi di Cemeti. Ada banyak perasaan yang muncul ketika iman yang saya hidupi ‘diganggu’ dengan lelucon-lelucon maupun dengan pernyataan-pernyataan dalam diskusi yang sebenarnya saya bisa terlibat lebih jauh di dalamnya tetapi tidak terjadi karena ada banyak pertimbangan lain salah satunya karena saya minoritas. Namun, saya juga mengalami bahwa pemberitaan tentang radikalisme dan fundamentalisme agama di media-media terkesan membual dan hiperbolis. Di Jogja, saya masih merasa aman sebagai orang Katolik. Saya merasa toleransi antar umat beragama di Jogja bukan suatu hal yang asing.

Saya juga menemukan bahwa struktur kekuasaan yang terlalu lama sentralistis, wacana-wacana jawasentris atau jakartasentris yang lebih dominan, bipolarisasi pusat-daerah, pembangunan yang tidak merata, perbedaan kebudayaan yang tidak selalu dijembatani dengan komunikasi yang baik, menghasilkan stereotipe-stereotipe tertentu terhadap orang timur, yang juga turut menentukan cara orang timur memandang dirinya dan selanjutnya menempatkan dirinya dalam konstelasi masyarakat yang lebih luas dari daerah asalnya (di Jawa misalnya). Saya menyadari bahwa pada awal perjumpaan saya dengan berbagai hal dan aktivitas di Jogja, perasaan-perasaan inferior sering muncul. Entah kenapa, saya juga jarang sekali menemukan ada ‘orang timur’ yang hadir di beberapa pameran seni rupa, pertunjukan, diskusi ilmiah dan kegiatan-kegiatan kesenian yang mungkin cukup serius. Padahal, saya mengalami bahwa banyak hal di Jogja, misalnya produksi kesenian sangat bisa dibuat di daerah saya, dalam arti sumberdaya manusia dan infrastruktur di Maumere sudah sangat memungkinkan hal itu terjadi. Saya mengalami saya bisa terlibat dalam diskusi-diskusi kesenian mapun sosial politik. Saya merasa bahwa banyak saudara-saudara saya dari timur sebenarnya punya kapasitas untuk terlibat dalam medan-medan kesenian maupun produksi pengetahuan di Indonesia. Mungkin hubungan hal-hal di atas terkesan sangat kabur tetapi bagi saya tetap saling mempengaruhi.

Pengalaman di Jogja dalam Refleksinya dengan Komunitas KAHE

Tentu saja semua hal yang saya alami di Jogja saya bagikan dengan teman-teman di Komunitas. Kami punya tradisi untuk selalu membagikan temuan-temuan kami dalam perjalanan atau kegiatan apapun yang kami ikuti, secara personal maupu secara komunitas. Meski semua hal saya ceritakan, secara lebih dominan saya melihat berbagai pengalam saya di Jogja lebih dalam kaiatannya dengan kerangka institusional development. Saya merefleksikan pengalaman perkembangan Teater Garasi dari karakternya sebagai komunitas menuju institusi dalam relevansinya dengan konteks serta kebutuhan KAHE untuk bisa sustain sebagai suatu komunitas yang mandiri dan profesional.

KAHE sebagai sebuah komunitas baru bergiat selama kurang lebih dua tahun. Sebelumnya sebagian besar anggota KAHE sudah menjalin pergaulan dan persahabatan. Ada yang sejak SMP dan ada yang sejak di Seminari menengah SMA. KAHE boleh dibilang tumbuh setelah pergaulan dan persahabatan ini berlangsung dengan baik. Alasan keberadaan KAHE sendiri tidak sejak awal jelas. Setelah saya refleksikan lebih mendalam, saya menemukan bahwa KAHE sebenarnya berdiri atas dasar hasrat dan kebutuhan bersama akan adanya sebuah ruang diskusi, kreasi, dan apresiasi sastra di Maumere. Berangkat dari sastra, KAHE berkembang menjadi sebuah komunitas yang amat akomodatif sifatnya. Banyak anggota dari berbagai latar belakang kesenian mulai bergabung. KAHE berkarya dan menciptakan lingkungan serta suasana belajar yang kondusif bagi orang-orang yang bergabung di dalamnya. Gairah berkesenianlah yang pertama-tama membangun dan menggerakan KAHE. Dalam perjalanan waktu, KAHE yang rata-rata digerakan oleh para mahasiswa yang akan lulus dalam satu hingga dua tahun ke depan dan anak-anak muda yang sudah mulai membangun rumah tangga, berhadapan dengan beragam pertanyaan di antaranya, apakah komunitas ini ingin terus dilanjutkan? Jika berlanjut apakah komunitas ini akan memiliki kontribusi yang signifikan bagi kehidupan ekonomi masing-masing anggota? Apakah komunitas ini kemudian hanya jadi tempat singgah, tempat pelampiasan ide yang tidak bisa dituangkan di tempat kerja yang utama?

Sharing dan pengamatan saya tentang Teater Garasi, meski tidak sempurna, coba saya refleksikan dan ambil relevansinya dengan KAHE. Saya dan teman-teman merasa perlu memperkuat komunitas secara internal dan Garasi dalam taraf tertentu memberikan perspektif serta menjadi satu referensi yang baik perihal perkembangan serta pertumbuhan sebuah komunitas. Saya merasa perlu membagikan situasi yang dialami Garasi, situasi-situasi peralihan-peralihan yang mereka lalui dalam sejarah, bagaimana mereka berdialektika dengan situasi zaman serta pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan idealis tentang keberlanjutan komunitas, hingga pengelolaan institusi dalam bentuknya yang paling mutakhir.

Pada dasarnya, saya dan teman-teman berencana untuk tetap bertahan dan melanjutkan komunitas yang sudah kami rintis bersama. Dalam diskusi saya dengan teman-teman yang juga sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengembangan serta pengelolaan komunitas, kami merasa perlu untuk merumuskan visi bersama. Kami pun merasa ada kebutuhan untuk membuat pemetaan tentang modal-modal yang ada dalam komunitas terutama sumber daya manusia, modal kultural, dan modal sosial, peluang serta kesempatan yang mungkin kami peroleh, potensi-potensi yang bisa dikonversi menjadi sesuatu, serta hambatan dan kendala-kendala yang memberatkan proses realisasi perumusan visi serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan kami. Kami merasa perlu untuk memperkuat kerja-kerja kebudayaan yang kami lakukan. Pertanyaan Joko Pinurbo kepada salah satu anggota KAHE yang mengikuti MASTERA baru-baru ini: ‘apa isu Maumere atau NTT yang coba kau hadirkan dalam puisi-puisimu?’ pada akhirnya juga menjadi pertanyaan besar bagi KAHE secara komunitas. Pertanyaan ini serta-merta membuat kami sadar, sebagai sebuah komunitas, kami merasa perlu untuk melihat dan menempatkan diri secara lebih tepat, cermat, dan proporsional dalam konstelasi dan dialektika dengan masyarakat beserta segala struktur dan kompleksitasnya. Kami merasa perlu memberikan konrtibusi bagi pembangunan manusia-manusia di NTT secara umum maupun Maumere khususnya, melalui medium kesenian. KAHE sebagai komunitas kesenian dan kebudayaan harus mulai berpikir untuk memiliki statement politis, menjadi cerminan sekaligus media untuk menyuarakan kegelisahan dan keprihatinan sosial.

Dalam bentuk yang lebih konkret, saya dan teman-teman dalam komunitas berencana mematangkan konsep kegiatan dan karya-karya yang sudah dan sedang kami buat selama ini, seperti jurnal sastra, diskusi mingguan, siaran radio, dan Festival Teater Maumerelogia. Kami berencana memetakan pula sejauh mana hal-hal yang sudah kami buat memberi efek bagi orang-orang di sekitar kami, yang terlibat maupun yang mengamati kerja kami. Sejak awal hal-hal ini kami lakukan sebagai sebuah upaya memberi makan eksistensi dan juga demi menjaga identitas KAHE sebagai sebuah komunitas kesenian dan kebudayaan yang di dalamnya terdapat pula usaha memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai. Kami percaya, penguatan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan di atas tentu juga berpengaruh pada penguatan komunitas.

Kami juga berencana untuk menyegarkan kembali pengetahuan mengenai metode penciptaan bersama Teater Garasi yang kami dapat dalam workshop ‘Bertolak dari Yang Ada, Bicara kepada Dunia’, maupun dalam pengalaman residensi saya di Jogja. Bayangan tentang produk penyegaran metode penciptaan bersama ini adalah antologi bersama dan sebuah pertunjukan teater. Antologi bersama ini akan berupa tulisan dan kemungkinan pengembangannya. Antologi bersama ini akan diselesaikan pada November 2017. Sedangkan pertunjukan teater direncanakan sebagai bagian dari Maumerelogia III tahun 2018.

Sekedar Penutup

Di Jogja, saya beberapakali nongkrong di Prawirotaman. Café-café sepanjang daerah ini sesekali menyajikan live music reggae yang sebagian besar dimainkan oleh orang-orang dari Flores. Sebagian besar dari para musisi reggae ini adalah mantan mahasiswa di beberapa kampus di Jogja. Banyak anak-anak muda dari wilayah lain di Indonesia Timur juga mencari hiburan di sekitar Prawirotaman. Pace-mace, nong-nona, tata-ari dengan sangat mudah dapat ditemukan di daerah ini. Saya beberapa kali ke sini dengan alasan untuk melihat aktivitasnya, sesekali juga karena memang sudah begitu rindu menikmati minuman beralkohol dan bercakap-cakap dengan sesama orang Maumere atau Flores umumnya.

Di sebuah café, di daerah Prawirotaman, saya juga pernah begitu marah dan kecewa. Saya marah dan kecewa ketika melihat perkelahian segerombolan orang Papua. Dari perkelahian ini, satu orang akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan kepala berdarah-darah terkena hantaman botol.  Beberapa hari setelah kejadian, saya melihat beberapa preman Jogja menunjukan muka tidak senang kepada orang-orang yang berkulit hitam. Saya menyimpan beberapa tatapan berisi tuduhan kepada saya, di kepala saya.

Dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Maumere, saya berjumpa dengan seorang musisi Maumere yang akan mengadakan konser di kota kelahirannya itu. Kami sempat bertemu di Jogja sebelumnya, tetapi baru bisa bercakap-cakap dalam perjalanan pulang ke Maumere. Saat di ruang pengambilan bagasi di bandar udara Waioti-Maumere, dengan nada kelakar dan sedikit mabuk ia berujar ‘ko belajar banyak-banyak di Jogja, tapi jang lupa pulang e’. Saya tertawa mendengar kata-katanya. Saya mengajak dia untuk mampir ke radio tempat saya sering nongkrong tetapi dia bilang mamanya sudah menunggu di rumah, ingin mendengar cerita-ceritanya. Sebelum kami berpisah saya mengucapkan selamat untuk konsernya nanti dan dia menggerakan kedua jari telunjuknya seperti isyarat seorang pelatih sepak bola bahwa akan ada pergantian pemain.

Saya ke Jogja dengan kepala penuh tanda tanya dan kembali tiba di Maumere dalam keadaan yang peris sama.

 

Eka Putra Nggalu, Pegiat di Komunitas KAHE-Maumere

Peserta Residensi Seniman Teater Garasi-2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *