Arsita Iswardhani

 

Perjalanan Teater Garasi kali ini juga bertepatan dengan upacara penahbisan seorang calon Romo, Innosensius Inno Koten, yang telah mengundang kami untuk hadir di upacara besarnya. Kami dan Inno bertemu di workshop penciptaan yang kami selenggarakan di Larantuka pada bulan Mei lalu. Inno adalah salah satu peserta workshop, (waktu itu masih) seorang frater yang aktif di Teater Tanya Ritapiret, dan juga adalah seorang pendamping kelompok teater di seminari Hokeng. Sedikitnya sudah ada sembilan naskah pertunjukan yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” sebagai hadiah di penahbisannya.

Saya belum pernah menghadiri upacara penahbisan seseorang menjadi Romo sebelumnya. Juga karena tak ada orang dekat yang akan mengalaminya, jadi tak pernah terpikir juga menghadiri acara serupa. Tapi kali ini undangan datang dari seorang kawan baru dari timur. Ia beberapa kali mengingatkan dan meminta saya dan teman-teman Garasi untuk hadir di upacara penahbisannya ini. Di perjalanan saya sebelumnya ke kampung Romo Inno di Wulu Blolong- Solor Timur bersama Mbak Lusi, Qomar, dan Mas Risky di bulan Februari juga mendapatkan sedikit cerita bahwa di bulan September (2017) akan ada upacara adat besar dalam rangka penahbisan (Romo) Inno Koten. Waktu itu, saya belum terlalu mengenalnya, hanya sekilas bertemu ketika rombongan Teater Garasi bertemu dengan teman-teman teater seminari di Maumere.

 

 

***

Upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo diselenggarakan di depan gereja WuluBlolong, kampung halaman Inno, pada tanggal 27 September 2017 pagi. Namun, rangkaian acara berlangsung di tiga desa, berturut-turut selama 4 hari, dimulai dari upacara penyambutan kedatangan Inno di Solor Timur, persinggahan ke rumah adat nenek moyang di Lewohedo, penelusuran jalur nenek moyangnya melalui desa LewoKebo hingga kemudian menetap di Desa WuluBlolong, dan kemudian upacara penahbisan Inno menjadi Romo di desa WuluBlolong.

 

Di siang kami menyeberang menuju Solor Timur pada tanggal 24 September 2017, sebelum kapal kami menepi, tiga kapal kecil telah disiapkan untuk penjemputan Inno, sebagai calon Romo. Di bibir pelabuhan, tampak telah berdiri sebuah gapura penyambutan bertuliskan Lewohedo Laka Neo / Tana Kaha Laka Lado / Soron Lodo Tapin Bali. Saya menanyakan artinya di kemudian hari pada Inno, dan ia menjawab, sesungguhnya tulisan itu seperti sebuah mantra yang kurang lebih artinya adalah “tanah yang melepasmu pergi, dan ia yang memanggilmu kembali”. Makna tulisan itu seperti pas benar untuk penyambutan Inno, seperti bagaimana ia dibesarkan di seminari Ritapiret dan seminari Hokeng dalam masa pembentukannya menjadi Frater dan kemudian Diakon, pada kampung halamannyalah kemudian ia menempatkan diri untuk ditahbiskan menjadi Romo.

 

Tak hanya tulisan mantra di gapura yang bersiap menyambut Inno (dan rombongan, termasuk kami di dalamnya), tapi serangkaian upacara dan tarian telah dipersiapkan. Bapak kepala desan menyambut Inno dengan pidato panjang berbahasa daerah, tentu saja saya tak memahaminya, tapi saya seperti dapat merasakan kedalaman pesan yang sedang beliau sampaikan. Pidato ini tampak seperti sebuah mantra lagu yang diucapkan, yang didengarkan dengan khidmat. Pidato kepala desa diiringi dengan rangkaian sirih pinang dan moke yang dituangkan sedikit ke tanah, sebelum diteguk oleh Inno. Seluruh rangkaian ini membuka tapak perjalanan rangkaian upacara hingga penahbisan Inno oleh Uskup nantinya, dan ia lakukan sembari menggunakan seragam gereja berwarna putih berkalung syal tenun dari upacara, didampingi oleh salah satu Romo gereja di sampingnya . Bagi saya, ini adalah sebuah keunikan tersendiri, kombinasi seragam gereja dan upacara adat – sirih pinang – moke.

Selepas dari gapura, maka seluruh masyarakat mengiringi Inno untuk ke gereja untuk misa dan kemudian ke rumah adat Lewohedo. Desa Lewohedo, adalah desa asal muasal nenek moyang Inno sebelum akhirnya melakukan perjalanan dan tinggal di desa WuluBlolong. Rangkaian upacara adat menuju penahbisan ini mensyaratkan Inno untuk menelusuri ulang perjalanan nenek moyangnya. Maka demikianlah, seluruh upacara dimulai dari desa ini. Para penari — perempuan dan laki-laki, mengenakan pakaian adat, selendang dan tombak perisai— menari dengan langkah mundur yang ritmis, diiringi Diakon Inno dan rombongan yang berjalan ke depan, berhadapan.

Upacara penerimaan di rumah adat Lewohedo hampir-hampir tak berbeda dengan rangkaian acara di gapura. Inno disambut oleh Bapak Tua (yang katanya masih saudara baginya) dengan pidato singkat berbahasa daerah. Dalam waktu senggang, saya menanyakan kedua pidato tersebut (kepala desa dan Bapak Tua), dan menurut Inno, tak ada yang naratif dalam pidato itu. Hampir semuanya adalah seperti mantra. Mantra yang menjelaskan dan memberikan pesan untuk Inno. Tak semua bisa benar-benar mengartikan mantra simbolis itu, kecuali orang-orang yang telah secara khusus memang bertugas untuk mempelajari mantra dan menggunakan atau menyebarluaskannya dengan cara-cara tertentu. Mantra, adalah cara orang-orang adat menyampaikan pesan, baik dalam pidato yang khidmat, ataupun bahkan dalam gerak dan lagu, seperti yang saya alami di malam harinya.

Setelah acara makan bersama secara adat selesai, saya sempat menonton sekelompok kecil mama-mama dan bapak-bapak bergandengan tangan membuat lingkaran berlapis, melangkahkan kaki dengan pola gerak tertentu, sembari bernyanyi. “Mereka sedang main Tandak”, kata salah satu saudara Inno. Tandak biasanya selalu ada di malam-malam ada upacara atau acara di mana penduduk biasanya melakuan mete (begadang). Tandak bisa dilakukan semalam suntuk hingga pagi menjelang. Di Lewohedo, tandak disebut hema. Nantinya, di malam sebelum penahbisan pun, penduduk Wulublolong juga melakukan tandak, dengan cara yang kurang lebih sama, tapi berbeda di langkah kaki dan tentu saja lirik  yang dinyanyikan. Penduduk wulublolong menyebutnya Sole. Tak semua bernyanyi terus-menerus di dalam tandak, ada beberapa orang tertentu yang bergantian menyanyikan lagu-lagu seperti sedang bercerita. Salah satu atau dua diantara para bapak mengenakan gelang kerincing di kakinya. Di Lewohedo, saya mencoba bergabung ‘bermain’. Tak lama, saya dapat mengikuti gerakan kaki dan tangan yang dilakukan para mama dan bapak ini. Tapi saya tetap tak bisa paham apa yang dinyanyikan. Sedangkan di Wulublolong, saya hanya menonton para mama dan bapak dan beberapa pemuda bermain sole. Pola kaki tandak di Wulublolong agak lebih rumit daripada di Lewohedo. Dari Opu Yakob dan Inno, saya mendapatkan cerita lebih jauh tentang Tandak. Lagi-lagi, saya menemukan kata mantra dalam penjelasan mereka. Lirik yang dinyanyikan dalam tandak adalah mantra mengenai cerita-cerita keadaan desa, mitos, dan lainnya. Biasanya kisah ini diceritakan secara turun temurun, pada orang-orang tertentu yang memang bertugas ‘menjaga’ mantra. Tapi orang-orang ini juga kadang-kadang bisa menceritakan kisah-kisah atau situasi terbaru yang ada di desa.

Rangkaian adat berlanjut di keesokan harinya, di mana Inno harus menelusuri ‘jalur’ nenek moyang. Nenek dari nenek (entah keturunan keberapa) dikisahkan mampir ke desa Lewokebo sebelum akhirnya menetap di Wulublolong dan menikah, dan menjadi suku Koten. Upacara pelepasan dari rumah adat Lewohedo sama persis dengan upacara penerimaannnya kemarin, diiringi penari, rombongan menuju Desa Lewo Kebo. Yang menarik, di desa ini, kami disambut dengan penari-penari cilik (laki-laki), mengenakan sarung, kaos tanpa lengan warna putih, dan juga membawa golok dan perisai berukuran kecil. Tarian dari mereka juga mengiringi perjalanan berikutnya (berjalan kaki) hingga Wulu Blolong.

Di WuluBlolong, spanduk bertulliskan Lewo Wulu Lama Rebon, Tana Rebon Lama Dike “Selamat Datang Rombongan Penahbisan Imam Baru”, telah terpasang. Juga tampak bapak tua dari empat rumah adat di WuluBlolong di bagian paling depan. Urut-urutan penyambutan di ‘gapura’ ini hampir sama dengan penyambutan di LewoHedo sebelumnya. Pembedanya adalah tarian adat penyambutan dan pengiring perjalanan dan jumlah rumah adat yang didatangi. Tarian adat pengiring dari Desa WuluBlolong berbeda tempo langkah dengan di LewoHedo, cenderung lebih pelan. Dan jumlah lebih banyak dan lebih beragam, kalau tidak salah, jumlah tarian sesuai jumlah suku yang berdiam di Desa WuluBlolong. Para penari biasanya berganti kelompok di perempatan jalan atau di jalan bercabang. Tarian laki-lakinya mengenakan parang dan perisai kayu. Tarian perempuannya mengenakan selendang. Tapi dari seluruh tarian yang menyambut Inno di Wulu Blolong, ada satu tarian yang begitu khidmat dan paling berbeda. NamaUla, nama tarian ini. Para mama berjajar berdiri di samping kiri dan kanan jalan, dan para bapa menari berdiri dua-dua di tengah, lengkap dengan kerincing di salah satu kaki bapa. Dalam tarian ini, dinyanyikan sebuah lagu yang isi liriknya adalah kisah hidup Inno sejak lahir hingga kini. Saya tentu tak mengerti lirik kata per kata, tapi suasana petang itu terasa sungguh syahdu bagi saya.

Rumah adat pertama yang didatangi yaitu rumah adat LewoRebon, yang asal usulnya, ini adalah rumah adat pertama yang didatangi oleh keluarga Inno dahulu. Di sana upacara penyambutan oleh bapak tua dengan cerita-cerita mengenai mendiang ayah Diakon Inno, berhasil membuat tangis haru pecah di dalam rumah adat. Selanjutnya, ritual sirih pinang dan tentu saja moke. (PS, saya mendapatkan moke terenak sepanjang yang saya coba di seluruh perjalanan saya ke Flores Timur, padahal katanya itu moke kelas tiga, bukan kelas pertama. Hahaha.) Selanjutnya, hampir menjelang petang, perjalanan dilanjutkan ke rumah adat Koten, di mana suku Koten ini adalah suku keluarga Inno saat ini. Kurang lebih dengan urutan sama, upacara hari itu diakhiri dengan moke dituang dalam gelas masing-masing orang di dalam rumah adat. Dalam seluruh rangkaian ini, Inno menjalaninya dengan mengenakan seragam gereja.

Hari ketiga, persiapan dilakukan oleh penduduk desa Wulublolong. Seluruh persiapan mereka lakukan dengan gotong-royong. Ini juga yang kami lihat di desa Lewohedo. Memasak, mengangkat hewan yang akan disembelih, menyiapkan tempat upacara, dan segala bentuk persiapan yang dibutuhkan untuk upacara penahbisan. Ini tak hanya mereka lakukan di hari ini, tapi telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Sebelum memasak, mereka juga menyelenggarakan upacara penyembelihan hewan yang nantinya akan dihidangkan. Juga ada semacam gladi resik untuk upacara puncak besok paginya. Di hari upacara, ada satu rumah yang dijadikan dapur umum, di mana ibu-ibu memasak makanan untuk hidangan makan siang perayaan penahbisan. Beberapa dari mereka mengenakan jilbab, tak urung ikut terlibat membantu. Ketika kami bertanya, mereka mendapat bagian untuk memasak makanan non-babi. Kami sungguh kagum, melihat bagaimana seluruh desa terlibat dalam upacara ini.

Tanggal 27 September 2017, jam 9 pagi, upacara penahbisan Inno dilaksanakan. Rangkaian acara puncak ini dimulai dari penjemputan Inno di rumah adat Koten, diiringi dengan tarian, kemudian berjalan menuju lapangan untuk berkumpul dengan para tamu undangan dan para romo, sebelum menuju lokasi upacara di depan gereja. Hingga kemudian tiba waktunya, iringan gong dan penari mengawali barisan para romo dan diakon menuju halaman depan gereja, untuk memulai upacara penahbisan. Kursi telah penuh oleh para penduduk desa WuluBlolong, Lewokebo, Lewohedo, dan juga tetangga desa lainnya, yang ingin menyaksikan dan mengikuti upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo. Upacara penahbisan dipimpin oleh Bapak Uskup Larantuka. Seluruh urutan upacara keagamaan diberlangsungkan dengan khusyuk, diiringi oleh paduan suara gereja yang khidmat, hingga akhirnya, resmilah Diakon Inno menjadi Romo Inno.

Acara siang itu masih belum usai, sembari dihidangkan makan siang, dimulailah pesta perayaan penahbisan Romo Inno. Selain sambutan-sambutan: dari Bapak Wakil Bupati, Bapak Uskup; Romo Inno mengundang Mas Yudi dan Opu Silvester, rekan kami dari Larantuka, untuk memberi sambutan sekaligus mengesahkan peluncuran buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” milik Inno, yang dibagikan gratis, sebagai hadiah penahbisan. Berbagai macam pertunjukan dipentaskan di atas panggung dalam perayaan siang itu, termasuk di antaranya pentas teater dari Sanggar Sina Riang milik Mama Vero, salah satu mitra Teater Garasi di Adonara Timur, Flores. Mama Vero dan teman-teman Sanggar Sina Riang mementaskan karyanya berjudul “Ema Nene Koten”, bercerita tentang kisah hidup Romo Inno, dan impian dari seorang nenek yang kemudian terjawab, dilengkapi dengan doa dari seorang Ibu.

Seluruh penduduk telah menunaikan perjalanan upacara adat hingga upacara penahbisan Romo Inno. Mereka tampak gembira, terutama keluarga dari Romo Inno. Empat hari kami bersama mereka, mereka menyambut kami dengan hangat, membuat kami merasa dekat dan seperti memiliki keluarga lainnya. Kami harus pulang keesokan paginya, tak sempat mengikuti misa perdana Romo Inno (maaf Romo…). Tapi pertemuan kami dengan Solor Timur: Lewohedo, Lewokebo, Wulublolong, dan desa lainnya (kami sempat juga berkunjung ke benteng Lohayong) telah membuka sesuatu yang baru di benak kami masing-masing. Bagi saya sendiri, baru kali ini, saya melihat balutan adat dan ritual agama yang kental berpadu satu sama lain. Adat seperti tak menghalangi di tanah Flores ini, tapi ia yang justru menghantarkan perjalanan (dulunya) frater Inno pada salah satu puncak pengabdiannya kepada Tuhan sebagai Romo. Kedekatan adat pada kehidupan mereka, yang telah saya rasakan sejak moke yang disuguhkan pada saya ketika menyeberang dari kota Larantuka ke Solor Timur melalui pelabuhan kecil dekat desa Lewohedo; hingga ke acara puncak upacara penahbisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *