Oleh Taufik Darwis

Tiga tahun terakhir selepas memutuskan untuk lebih banyak berfikir, berbuat sesuatu, tinggal lebih lama di Bandung sebagai tempat kediaman sekaligus tempat menghadapi persoalan sehari-hari, saya seperti perlu lebih banyak lagi jalan-jalan. Dalam artian, melihat dan belajar pada wahana realitas lain yang sama mencoba merumuskan usaha serupa atau minimal semangatnya. Bandung, telah lama saya simpulkan dengan perasaan sedikit marah sekaligus tergoda, adalah tidak lain dari sebuah kota dengan kultur ekonomi yang berada di atas kehendak lainnya. Bandung mempunyai arena simbolik yang meminggirkan upaya-upaya seni pertunjukan dengan etos ekonomi absurdnya (3-6 bulan latihan, tak bisa berjualan tiket pertunjukan) untuk berbuat sesuatu dalam pergaulan dan pembangunan kota yang bergerak melalui mistifikasi kreatif dan indeks kebahagian.

Selama tiga tahun terakhir itu saya merasa keriput, merasa sok heroik, sendirian di tengah pertukaran simbolik untuk sekedar mencari teman yang meskipun tidak punya misi-visi yang sama tapi punya kegelisahan yang sama: sudah tidak kerasan dengan kediaman kita sendiri. Bagaimana bertempat tinggal dan membangun kediaman ketika kita selalu sulit untuk membaca dan merumuskan “yang sosial” bagi kita sendiri, ketika kita tidak sulit untuk mengidentifikasi kelemahan dan potensi yang membentang dari kebergantungan, kesejarahan, dan batas-batas kita sendiri? Apakah ini kegelisahan yang dibuat-buat? Sepertinya saya harus membiarkannya keluar dari keran kalau memang airnya sudah siap untuk mengalir sambil jalan-jalan sana-sini dengan kesempatan yang dipunya.

Ini adalah kesempatan melakukan perjalanan paling jauh saya ke luar Bandung. Teater Garasi mengajak saya jalan-jalan sekalian melihat presentasi program AntarRagam di Adonara dan Maumere, Flores selama enam hari. Saya berangkat tangal 3 Desember dari Jakarta bersama Yudi Ahmad Tajudin. Untuk sampai tiba di Flores Timur, kami harus transit dua kali di Surabaya dan Kupang. Dalam  perjalanan, sesekali Yudi bercerita tentang program yang saya akan lihat ini. AntarRagam merupakan program yang sudah dikerjakan selama hampir setahun (2017), dengan Penciptan Bersama (Collective Creation) sebagai basis kerjanya. Penciptaan Bersama adalah pendekatan yang kerap dipakai Teater Garasi yang mempunyai karakter multidisiplin. Teater Garasi memposisikan Penciptaan Bersama dalam AntarRagam sebagai metodologi, bukan metode. Dalam artian, Penciptaan Bersama menjadi semacam prinsip dalam mengidentifikasi modal sampai persoalan pada setiap produksi yang akan diciptakan dan diposisikan oleh setiap orang atau komunitas.

Ketika ditanya kenapa memilih keluar Pulau Jawa, Yudi menjelaskan, bahwa, kita perlu mencoba melihat kenyatan dari perspektif yang berbeda, kenyataan Indonesia yang dilihat dari luar Jawa. Indonesia bukan dan tidak melulu Jawa. Program AntarRagam ini dikerjakan dalam tiga tahap, yaitu workshop penciptaan bersama di Flores dan Madura; residensi di studio Teater Garasi selama enam minggu; presentasi dan pendampingan penciptaan di tempat atau arena produksi masing-masing. Jadi, saya datang ketika program AntarRagam menuju tahap akhirnya, yaitu presentasi dan pendampingan dari Tim Teater Garasi yang sudah berada di Flores sebelumnya.

Saya tiba di Larantuka, Flores Timur ketika pagi. Kami harus melewati selat selama satu jam lebih untuk sampai ke Adonara. Di sana malam hari akan dipentaskan untuk kedua kalinya pertunjukan Warisan karya Veronika Ratumakin dari Sanggar Sinariang. Veronika atau Mama Vero adalah salah satu seniman yang mengikuti rangkaian program AntarRagam. Tapi sebelum ke Adonara kami harus tetap di Larantuka, Yudi merencakan adanya pembicaraan dengan Bupati Antonius Gege Hajon yang juga melibatkan teman lama saya di Bandung yang kini telah menjadi sutradara teater sekaligus staff Pemerintah Flores Timur, Silvester Petara Hurit. Sore, kami memakai perahu berukuran sedang melintas ke Adonara, tepatnya ke Desa Waiburak, Adonara Timur, Flores Timur. Saya yang punya masalah dan trauma keseimbangan yang membuat saya tidak bisa menikmati perjalanan. Hanya ada atap pendek, bau solar dan bau box stereofoam ikan yang bergoyang-goyang di benak saya. Tapi akhirnya, kami sampai ketika hari hampir menjelang gelap malam.

Membuka dan membagi warisan dalam upaya memahami diri sendiri

Sanggar Sina Riang memakai strategi bercerita untuk mencoba membawa penonton mengidentifikasi kenyataan tanah Adonara hari ini. Mama Vero yang menjadi tokoh Ibu menceritakan pada anaknya secara diakronis bagaimana Tanah Adonara lahir dan bagaimana kenyataan-kenyataan kemudian lahir menjadi kenyataan hari ini, seperti halnya konflik yang terjadi karena klaim atas tanah, menjadi tema atau isu di pertunjukan Warisan. Pertunjukan Warisan yang saya tonton adalah pertunjukan kedua. Berbeda dengan pertunjukan pertama yang dipentaskan di hari kemarin di tempat dan acara yang berbeda, pertunjukan kedua ini dipentaskan di lapangan volley di antara masjid dan jalan raya, sebagai bagian dari peresmian sanggar-sanggar seni di Adonara. Sebagai peresmian yang mengundang pemerintah setempat (wakil bupati Flores Timur), jalannya acara menjadi terganggu dengan menunggu pemerintah mendengarkan terlalu banyak sambutan. Tapi saya harus mengerti akan situasi seperti ini.

Sebelum pertunjukan Warisan, ada 2 pertunjukan dari 2 sanggar lain yang malam itu juga dikukuhkan sebagai sanggar desa, yakni Sanggar Tari Hedung dan Sanggar Kemoti dengan judul pertunjukan Mimpi. Sanggar Kemoti dalam kesempatan itu membawakan sebuah pertunjukan teater yang juga mencoba membaca kualitas kehidupan di Adonara, tapi dengan strategi melihat Adonara di masa depan, yaitu cita-cita anak-anak. Pertunjukan ini selain mencoba mengidentifikasi juga sekaligus membayangkan bagaimana kualitas yang ideal dari keadilan, keamanan, kepemimpinan di Adonara lewat narasi dan tindakan anak-anak. Pertunjukan ini seperti bayangan saya ketika membayangkan bagaimana teater rakyat bermain di tengah rakyatnya, selain menngunakan garis-garis bloking yang sejajar, bertutur, juga seperti selalu ada aspek moralitas bagaimana menjadi masyarakat di tengah-tengah keinginan untuk mengkritik dan memain-mainkan.

Berbeda dengan pertunjukan Sanggar Kemoti, Warisan terlihat memiliki banyak bentuk-bentuk pengadeganan di dalam struktur pertunjukannya. Ini juga bisa terkait dengan konteks narasi yang menjadi alur pertunjukannya. Mama Vero menggunakan narasi diakronis yang cukup panjang untuk menunjukan satu-persatu dari dasar bagaimana bangunan konflik di Adonara kerap terjadi. Bahwa konflik atas nama tanah itu tidak terberi, tapi dikontruksi melalui sistem kekerabatan, wacana dan proses bawah sadar seperti pengalaman di masa kecil dan secara performatif (perang), hingga ke titik normalisasi. Tapi justru strategi ini dipakai Mama Vero untuk melacak secara geneologis dan mencoba memberi refleksi kepada penonton, yaitu bagaimana menghadapi alur konflik yang terjadi, sebab menurut ceritanya sebagian besar warga Adonara adalah warga pendatang.

Alur besar sejarah Adonara yang juga menjadi alur pertunjukan, yang pertama-tama diperistiwakan melalui pengadean seorang ibu yang bercerita pada anak yang digendong di pelukannya, terdistribusi melalui penggambaran adegan yang muncul dari luar panggung oleh banyak aktor. Setiap pola pergerakan dan bloking menyiratkan suatu masa dan kualitas peristiwa tertentu. Seperti kedatangan pertama para manusia pertama (leluhur), kedamaian, perang (Tari Hedung), datangnya agama Islam, datangnya para misionaris Portugis dan Belanda, hingga resolusi dari alur sejarah yang coba dimaknai ulang melalui sebuah formasi lingkaran dengan iringan nyanyian adat yang saya tidak tahu artinya. Pertunjukan ditutup dengan proses mengundang Tim Teater Garasi dan pejabat setempat maju kedepan berpegangan tangan, menari Tari Dolo-Dolo. Di depan dan akhirnya di tengah-tengah saya sedang terjadi upaya bagaimana sebuah pertunjukan mencoba menciptakan kembali komunalitas dan individualitas sebagai bagian dari proses memahami peran masing-masing dalam membangun kediaman di tempat tinggalnya.

Menggunakan titik krisis untuk merancang masa depan    

Komunitas Kahe memilih merancang suatu acara berdurasi seminggu sebagai proyek penciptaan bersama. Meskipun mereka mengadakan pameran yang sama sekali tidak berubah setiap harinya selain teknik pemasangan/display yang terus diperbaiki. Menurut Yudi, awalnya Komunitas Kahe merencanakan proyek penulisan bersama yang berangkat dari Tsunami Maumere 1992, tapi berkembang menjadi penciptaan acara/event. Komunitas Kahe menamai acaranya M 7,8 SR,  merujuk pada skala getaran yang menyebabkan Tsunami 1992 terjadi di Maumere. Tsunami ini disebutkan termasuk 10 Tsunami paling besar dan mematikan di dunia sehingga membentuk kebiasan orang tua untuk menceritakan peristiwa tsunami pada anaknya setiap tanggal 12 Desember. Tahun 2017 adalah tahun ke-25 tsunami ini berlalu.

Dede Aton (Komunitas Kahe) mengakui Tsunami 1992 tidak disadari atau bahkan tidak dialami oleh sebagian besar di generasinya. Kerena memang sebagian besar belum lahir ketika peristiwa tsunami terjadi, atau karena masih anak-anak (1-3 tahun). Tapi menurutnya justru karena alasan itu Komunitas Kahe perlu lebih mencari tahu dan mencoba memaknai cerita-cerita yang sering mereka dengar dari sisi apa saja. Acara M 7,8 SR adalah salah satu cara untuk mengupayakan proses pemakanaan tersebut, sebagai salah satu cara untuk hidup dan bertahan di Maumere, kota yang diapit dengan jarak dua laut yang sama-sama bisa ditempuh dengan waktu satu jam saja (utara dan selatan).

Saya tiba di Maumere dengan melintas lagi ke Larantuka bersama untuk menempuh perjalanan panjang yang berkelok-kelok. Kedatangan bertepatan dengan pembukaan acara yang digelar selama seminggu (5-11 Desember 2017). Semua acara ini dilaksanakan di Dapur Sunda Flores atau Radio Sonia FM. Tapi saya hanya bisa mengikuti tiga dari tujuh hari pelaksanaan. Tapi setidaknya dari tiga hari itu saya merasa dapat membaca inisiatif teman-teman Komunitas Kahe, atau dengan menggunakan istilah yang selalu dilontarkan Dede Aton, membaca apa yang ‘menggerakan’ mereka merancang acara ini. Meskipun urusan acara seperti kesiapan teknis, ritme kerja dalam ketegangan tidak terlalu diperhatikan lebih detail. Karena bagi saya, itu akan menjadi biasa dengan pertumbuhan tingkat kebutuhan Komunitas Kahe dalam mempertahankan visi yang diartikulasikan melalui kegiatan-kegiatannya.

Setiap rangkaian acara seperti diskusi, pameran (lukisan, instalasi, puisi, cerpen, dan  arsip), monolog dan film yang dirancang Komunitas Kahe seperti mengupayakan agar tema atau isu acara ini tersebar ke berbagai lini kepentingan, disiplin, dan peminatnya.  Rangkaian acara yang bertepatan dengan ulang tahun Radio Sonia FM ini dibuka dengan diskusi bertema Tsunami: Memori, Perubahan, dan Ancaman dan pembukaan pameran bersama. Judul tersebut sebenarnya sudah menjadi pintu awal bagaimana Komunitas Kahe mencoba merumuskan wacana yang akan dibawanya ke depan, kalau memang benar, bahwa acara ini dijadikan sebagai semacam riset juga untuk merancang apa yang akan dilakukan di tahun depan. Dari diskusi yang lumayan panjang ini karena selain mengundang Dede Aton dan Yudi Ahmad Tajudin berbicara, juga melibatkan dua penyaksi yang mempunyai pengalaman spesifik dalam menghadapi tsunami dan dampak yang ditimbulkannya. Yang satu adalah mantan pemerintah dan yang satu lagi adalah seorang romo/dosen. Wacana Tsunami di masa lalu begerak menjadi sebuah metafor bagaimana melihat kondisi Maumere saat ini, seperti pembangunan yang berbasis kepentingan ekonomi yang  mengubah hubungan sosial dan hubungan ekologis manusia dengan lingkungannya.

Wacana ini juga bergerak di tengah-tengah pameran Komunitas Kahe. Ketika pameran dibuka, dengan strategi display yang seperti diupayakan tetap informatif, saya bisa melihat bagaimana Komunitas Kahe mencoba tetap mempertahankan dalam menggunakan Tsunami 1992 sebagai wacana untuk mencari titik krisis yang terjadi saat ini dan apa yang akan dikerjakan di depan. Seperti arsip foto (repro) dampak tsunami dan berita di koran lokal, juga lukisan-lukisan yang merepresentasikan bagaimana keadaan Maumere hari ini yang dibawa oleh modernitas, globalisasi yang mereka tempatkan sebagai “gempa dan tsunami” zaman ini. Titik krisis ini tampaknya akan menjadi wacana kemudian dan tetap akan terus dieksplorasi dari serangkaian suara yang terlibat pada momen-momen di Maumere: apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi? Maumere dan Tsunami menjadi ruang bersama, mengiterupsi pembangunan yang berdasarkan asas ekonomi semata dengan melibatkan bagian yang dianggap bukan bagian dari sejarah kemanusian Maumere. Seperti sosok Baba Akong yang kami temui di hutan mangrove yang beliau tanam paska peristiwa tsunami 1992 dan dirawat hingga kini.  Atau Bapa Alo M. (Warga Kampung Wuring/kampung terapung) yang bertarung dengan reklamasi pantai yang dibagun pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *