(Catatan singkat pertemuan Teater Garasi dengan (warga) Sumbawa)

Kami berkunjung ke Sumbawa mulai tanggal 1 sampai 8 Maret 2018. Selama satu minggu kami bertemu dengan seniman, aktivis sosial, komunitas seni, dan warga. Sumbawa adalah salah satu wilayah yang secara adminstratif masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tahun ini merupakan kedatangan Teater garasi/Garasi Performance Institute yang pertama ke wilayah yang dulunya sistem pemerintahan dipegang oleh kesultanan Sumbawa sebelum Sultan Kaharuddin III menyatakan bergabung dengan NKRI selepas Indonesia merdeka.

Perjalanan ini merupakan bagian dari program Performing Deferences yang diinisiasi oleh Teater Garasi. Kami berbincang dan belajar tentang konteks, isu, dan praktik kesenian yang pernah dan tengah berlangsung di Sumbawa. Kami dibantu oleh Andari, seorang pegiat film yang juga pendiri Sumbawa Cinema Society, sebagai guide lokal yang mempertemukan kami dengan banyak orang.

Melalui perbincangan dengan Andari dan Reny, juga dua orang teman dari Sumbawa Visual Arts bernama Moel dan Hallen pada hari pertama (dan berlanjut pada hari-hari sesudahnya), kami memeroleh gambaran tentang situasi Sumbawa saat ini. Menurut Andari, hal pertama yang menarik dilihat adalah isu lingkungan dan hubungannya dengan konflik pertambangan, kesenjangan sosial, dan akses terhadap lapangan pekerjaan. Kedua isu tentang etnis. Andari melihat isu tersebut sebagai problem atas keragaman atau toleransi di Sumbawa. Sebagai respon atas pembacaanya, dia membuat satu event berjudul Harmoni di Tana Samawa (2017) yang melibatkan banyak seniman dan warga lintas etnis.

Di ranah kesenian dan yang sering disebut oleh banyak orang adalah fenomena festival. Setiap kecamatan di Sumbawa memiliki festival, terhitung ada 24 festival seturut dengan jumlah kecamatan yang ada di kabupaten tersebut. Sementara festival yang digarap oleh pemerintah kabupaten bernama Festival Moyo. Sebagaimana umumnya fenomena festival di tempat-tempat lain di luar Sumbawa, festival di sana juga diproyeksikan untuk kepentingan industri parawisata. Di satu sisi festival tersebut menjadi semacam ruang dan infrastruktur non-fisik bagi pegiat seni terutama seni tradisi seperti tari dan musik untuk pentas. Namun di sisi yang lain, festival tersebut tidak dibarengi dengan penataan program dan desain festival yang baik. Sehingga setiap tahun terus berulang dengan bentuk yang nyaris sama. ada beberapa seniman yang membikin karya tidak terpaku pada agenda regular tersebut, terutama seniman-seniman yang bekerja dengan medium seni film dan seni rupa. Mereka punya caranya sendiri dalam merespon isu

Kami juga sempat bertemu dengan Pak Jayadi, seorang kepala sekolah SMK 3 yang pada tahun 80-an juga aktif sebagai seniman teater. Berkat beliau kami mendapat informasi tentang trajektori praktik teater modern di Sumbawa melalui naskah-naskah yang beliau mainkan mulai dari naskah karya Arifin C. Noer hingga Anton Chekov.

Pada kesempatan itu pula kami berkunjung ke institusi pendidikan seperti SMP 1 Sumbawa, Institut Teknologi Sumbawa, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa, bertemu dengan Dewan Kesenian Sumbawa, komunitas Dompas Bulaeng, Drug Stone, Sanggar Mutiara di Pulau Bungin, serta berbincang dengan teman-teman aktivis social seperti Solidaritas Perempuan Sumbawa, Serikat Buruh Migran Indonesia, dan Koin Foundation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *