Pada 1 Maret 2018, Gunawan Maryanto, Arsita Iswardhani, Akbar Yumni dan Aum Tresnaningtyas memulai perjalanan ke Singkawang untuk membangun kontak dengan para pegiat dan pelaku seni di Singkawang. Kedatangan mereka berbarengan dengan perayaan Cap Go Meh yang belakangan (sejak tahun 2010-an) menjadi pusat perhatian masyarakat baik dalam skala lokal maupun nasional.

Di Singkawang, mereka bertemu dengan para seniman pegiat film (Niken, sineas muda di mana film dokumenternya pernah memenangkan Eagle Award), fotografi  (Frino dan komunitas My Singkawang), penggiat seni pertunjukan-Sniper Singkawang (Hellen, Deri, Anningmu, Prima, Boncu, Mpok Yanti bersama sanggar TEBS (Teater Biak Singkawang) dan Yoyok Komik). Prima adalah juga seorang penyair yang  sedang menggagas forum penulis Singkawang, sementara Anningmu, selebgram Singkawang yang konsisten membuat video dubbing dengan bahasa lokal. Yoyok Komik, sebelum tertarik menjadi aktor, merintis karir sebagai komikus sejak 2002 dengan mengangkat cerita-cerita rakyat.

Fenomena munculnya komunitas orang-orang muda juga terjadi di Singkawang. Film dan fotografi menjadi medium yang banyak diminati anak muda Singkawang. Anak-anak muda ini biasanya memanfaatkan warung/kedai kopi sebagai tempat berkumpul. Salah satunya adalah Kedai Sesama yang menjadi tempat berkumpul anak muda yang tertarik dengan dunia menggambar dan tergabung dalam komunitas bernama Muge (Musim Menggambar), yang diinisiasi oleh Reza, salah seorang lulusan Seni Rupa ISI Yogyakarta. Rata-rata mereka adalah anak muda atau penggiat yang dulunya kuliah di luar kota/pulau, lalu setelah lulus kembali  dengan cita-cita membangun kesenian di kota Singkawang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *