Dendi Madiya

Ketika saya berada di udara, sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Lombok Praya, saya melihat daratan dan perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mungil. Komposisi geografisnya terdiri atas persawahan, ladang, padang rumput, tanah, jalan raya, kelokan aliran sungai, laut dan perbukitan. Area perkotaan berikut pemukiman terkonsentrasi di satu-dua titik dengan pergerakan laju kendaraan bermotor di dalamnya. Warna yang diperlihatkan kepulauan ini adalah hijau, cokelat, juga biru. Binatang berkaki empat berserakan: sapi dan kuda yang sedang bersantap siang.

Saya ingin tahu, bagaimana orang NTB berbicara. Dialek seperti apa yang mereka bunyikan dalam percakapan sehari-hari? Bagi saya, hal itu semacam pintu masuk pertama untuk berinteraksi dengan medan penelitian. Saya memasuki smoking room Bandara Lombok Praya. Petugas bandara yang memakai rompi hijau banyak merokok di situ. Tetapi tak banyak percakapan yang terjadi. Mereka asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, bebunyian game dari smartphone masing-masing terdengar. Satu-satunya tema perbincangan yang sempat saya kuping adalah perseteruan sepakbola Liga Eropa.

Bersama tiga orang rekan, Lusia Neti Cahyani, Shohifur Ridho’i dan Venti Wijayanti, saya berkesempatan mengunjungi Sumbawa dalam rangka menjalankan program Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang bertajuk Performing Differences. Sebuah program yang bertujuan untuk mempelajari isu-isu perbedaan, keragaman dan toleransi, terutama di wilayah timur Indonesia.

Saya tidak banyak mengunjungi kota-kota atau daerah-daerah di Indonesia. Tapi cukup sering saya mendengar atau membaca curahan hati seniman-seniman muda yang berkarya di berbagai tempat di Indonesia. Sepertinya memang ada beberapa persoalan yang sama yang menggelayuti lingkungan berkesenian kita. Saya mendengarnya kembali di Sumbawa ini melalui sejumlah pegiat seni dan sosial di Sumbawa.

Persoalan-persoalan itu diantaranya adalah kesulitan mendapatkan ruang untuk menyelenggarakan kegiatan kesenian bersama publik; regenerasi yang tidak berlangsung pada beberapa sektor bidang kesenian; ketergantungan seniman kepada festival yang diselenggarakan oleh pemerintah; dukungan pemerintah yang belum komprehensif terhadap luasnya lanskap kesenian; pandangan seniman-seniman senior yang masih minor terhadap pembaruan-pembaruan yang diupayakan oleh seniman-seniman penerusnya; masih banyak seniman muda yang tidak berani berkarya keluar dari apa yang disebut sebagai ‘pakem’ yang digariskan oleh seniman pendahulu; mandeknya kreatifitas seniman; seniman masih alergi terhadap diskusi-diskusi; seniman belum mampu menuliskan konsep kekaryaannya; miskinnya isu yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat yang diangkat seniman ke dalam karyanya; kurangnya pengajar atau pelatih kesenian untuk sekolah-sekolah; isu kesenian sebagai pariwisata.

Masalah-masalah itu saya rasakan seperti tersebar dimana-mana di Indonesia ini, tidak hanya di Sumbawa. Memang terkesan sok tahu. Tapi begitulah yang saya rasakan. Seperti ada penyebab yang sama, pengkondisian yang sama, oleh pelaku yang sama, sejak lama, tak kunjung memperoleh jalan keluar.

Sering pula kita mendengar ucapan tokoh masyarakat, pejabat di suatu daerah, seorang seniman yang mengatakan bahwa di wilayahnya terdapat warga dari beragam etnis. Begitu pula Sumbawa. “Sumbawa ini miniatur Indonesia.” Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘miniatur Indonesia’ itu. Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘kampung etnis A,’ ‘kampung etnis B,’ ‘kampung etnis C,’ dan seterusnya.  Warga terbuka untuk kehadiran saudara-saudara dari etnis lain. “Tidak ada pertikaian etnis di Sumbawa,” kata Yuli Andari dari Sumbawa Cinema Society (SCS).

Mereka menemani kami dengan kisah-kisah serta perjalanan ke berbagai tempat di Sumbawa. Selain Andari, dari SCS ada Anton Susilo dan Reny Suci. Tidak ketinggalan, Hallen Muchlis dan Moel dari Sumbawa Visual Art (SVA). Musisi rock, Ferdiansyah dan Muhammad Akbar, yang pernah menyelenggarakan event Rock in Samawa. Juga Lulu yang bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa.

Dari mereka, terendus semangat untuk melakukan perubahan-perubahan, baik kondisi social maupun kesenian Sumbawa. Setidaknya ada spirit untuk tidak tinggal diam, spirit membaca masyarakat, spirit menempuh jalur alternatif untuk keluar dari problema, meskipun ‘kisah-kisah sedih’ memang sudah terlanjur berada di pundak. Kisah-kisah memprihatinkan tentang problema sosial, budaya, kesenian Sumbawa, mengucur dari mereka.

Anton pernah mengangkat kisah (yang tak kunjung habis) mengenai buruh migran Sumbawa ke dalam karya film: problema buruh migran yang berada dalam lingkaran penderitaan, penganiayaan, kematian, juga kegilaan, di samping kesuksesan yang sering diperlihatkan melalui cara berpakaian buruh migran yang berubah mewah sebagai tanda pertama ketika mereka pulang. Lebih dalam mengenai regulasi dan hal teknis lainnya mengenai buruh migran dipaparkan oleh rekan-rekan dari SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa yang juga sempat kami temui. Dari mereka, kami mendengar kisah betapa kompleksnya persoalan yang melingkupi dunia buruh migran. Belum lagi harus berhadapan dengan aparat Negara dari berbagai tingkat untuk mengurus satu kasus yang berlarut-larut sebagaimana diceritakan kawankawan dari Solidaritas Perempuan Sumbawa.

Dengan mengajak banyak pihak diantaranya ikatan-ikatan keluarga beragam etnis yang ada di Sumbawa, Andari menggagas dan mewujudkan program Harmoni di Tanah Samawa (HTS) pada Mei 2017. Andari yang dikenal juga sebagai sutradara film, memasukkan lintas disiplin seni ke dalam acara ini. Selain pemutaran film, ada pertunjukan teater, tari, pawai dan seni instalasi.

Kegiatan yang seperti hendak menghembuskan nafas kerukunan dan perdamaian antar lintas warga di Sumbawa ini, mengambil tempat di Istana Bala Puti (kini disebut Wisma Daerah). Istana ini dibangun tahun 1932-1934 oleh Sultan Sumbawa ke-17, yaitu Sultan Muhammad Kaharuddin III. Sayang beribu sayang, enam bulan kemudian setelah pelaksanaan HTS, istana ini mengalami kebakaran. Kami sempat menyaksikan reruntuhannya. Ada semacam ironi yang saya rasakan ketika berada di situ. Seperti ada lembaran-lembaran sejarah yang tercerabut hilang.

Sebuah kompetisi mural baru saja diselenggarakan oleh SVA yang mengambil tajuk Warna- Warni Kota Kita pada Januari lalu. Kompetisi yang menuntut peserta untuk mendeskripsikan Sumbawa lewat mural ini, mengambil lokasi di Stadion Pragas. “Untuk seni rupa, Sumbawa belum kelihatan,” demikian Hallen membuka pengamatannya. Event yang mereka gelar itu merupakan usaha percobaan untuk mendeteksi kekuatan seni rupa Sumbawa. Sebenarnya mereka masih meraba-raba dalam pelaksanaannya. Di luar dugaan, tingkat antusiasme peserta cukup tinggi dengan jumlah tim mural yang ikut serta sebanyak 50 tim. Ternyata para peserta dari kalangan muda ini menunggu untuk adanya sebuah event dimana selama ini mereka vakum.

Ferdi dan Akbar adalah musisi-musisi muda beraliran rock yang berkiprah di Sumbawa dengan mengangkat isu-isu toleransi. Selain itu, keduanya merupakan pecinta kopi. Pada sebuah kesempatan obrolan, Ferdi mengidamkan banyak kebun kopi di Sumbawa ketimbang kebun jagung. Banyak sudah hutan diubah menjadi kebun jagung dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Sumbawa, cerita Ferdi. “Sudah seperti Jakarta saja, banjir setiap tahun.” Kopi memang untuk orang-orang yang visioner dan penyabar, lanjut Ferdi. “Kalau orang Sumbawa banyak menanam kopi, hatinya pasti damai dan tentram,” begitu imajinasi Ferdi. Akbar sendiri sudah dua kali menggelar event yang mempertemukan para petani kopi dengan konsumen serta diisi pula dengan workshop-workshop pengolahan kopi.

Obrolan-obrolan yang hangat pun berlangsung dengan para pengurus Dewan Kesenian Sumbawa dan beberapa seniman senior dari bidang teater dan seni rupa. Dari sini muncul cerita legenda Tanjung Menangis yang telah dipentaskan berulang kali dalam festival yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu Festival Moyo. Ada kegelisahan-kegelisahan, mengapa hanya legenda ini yang sering dipentaskan, disamping harapan adanya penulisan ulang dengan memasukkan visi-visi baru. Tapi, siapa pula yang akan menuliskannya? Sementara, pada sisi lain, ada sosok seorang aktor senior seperti Pak Jayadi yang kini disibukkan dengan kegiatannya sebagai kepala sekolah sebuah SMK. Pak Jayadi telah beberapa kali mementaskan naskah-naskah dari Arifin C. Noer, Anton Chekov dan Putu Wijaya.

Pada suatu kesempatan, kami memasuki area persawahan di Desa Poto, Moyohilir. Kami mengikuti seorang petani sekaligus seniman yang bernama Papin (Kakek) Prebore. Tubuhnya masih tampak kekar tetapi juga membungkuk. Kakek ini adalah seorang peniup suling dari batang padi atau disebut juga ‘serunai.’ Papin menyibak-nyibak batang padi di sawah dengan konsentrasi penuh. Kami yang bertanya-tanya tentang apa yang dicarinya, tidak digubrisnya.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, Papin meniup-niup batang padi itu. Kami mendengar lantunan nada dari nafas panjangnya. Bagi saya, Papin seperti bagian lain dari peta kesenian di Sumbawa. Jauh dari keriuhan permasalahan, di rumahnya di antara ladang, dia asyik menghayati kesenian dengan ditemani sang isteri.

Ah, kambing kertas. Tentu, yang juga tak dapat dilupakan adalah kunjungan ke Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Di sini, karena tidak ada padang rumput, kambingkambing

jadi pemakan apa saja yang bisa mereka makan, termasuk kertas. Kambing-kambing berkeliaran diantara padatnya rumah penduduk. Inilah wilayah yang disebut ‘daerah terduga kumuh.’ Kesenian yang berasal dari sini adalah joget Bungin. Dewi Astuti dan Ibu Nilam masih bergiat mempraktekkannya, mengajarkannya ke anak-anak dengan iringan musik dari tape dan handphone. Sudah tidak banyak yang mampu menjadi pemusik untuk joget Bungin.

Kontras terasa ketika kami beranjak ke restoran apung dimana angin dan laut seperti mampu menghilangkan kepenatan. Dan kami pulang kembali ke penginapan dengan berdebar karena harus mengarungi perjalanan malam tanpa cahaya lampu mobil.

Kami diantar ke beberapa tempat oleh seorang supir (yang kemudian menjadi kawan) bernama Obi. Lelaki muda belum genap berusia 30 tahun ini merupakan anggota SVA. Di dalam mobilnya, sambil mengantar kita, Obi memutar lagu-lagu dari radio maupun flasdisk. Kita tetap bisa mendengar lagu-lagu Slank, juga Gugun and the Blues Shelter di Sumbawa. Sempat kita nikmati pecel lele dan pecel ayam sebagaimana di kota-kota di Pulau Jawa. Spanduk kain kedai pecel ini masih bernuansa sama dengan kedai pecel di Pulau Jawa: ada gambar lele, gambar ayam, tahu-tempe serta warna-warni yang ngejreng. Tak lupa, Indomart dan Alfamart. Salah satu lokasi mereka di Jalan Hasanudin terlihat dua waralaba ini berdiri berseberangan dan berhadaphadapan langsung

Bersama mereka semua, telinga saya seperti dilatih untuk sabar mendengar. Terbersit dalam hati, belum seberapa berat masalah yang saya hadapi. Pekerjaan ‘mendengar’ bukan perkara mudah. Perlu kemampuan untuk menunda apa yang ingin saya katakan, apa yang saya pikir adalah solusi, karena jangan-jangan apa yang saya ketahui dan pahami belum sebegitu mendalam dari apa yang digulati orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *