Oleh Akbar Yumni

 

Pluralitas adalah niscaya. Sekecil apapun sebuah komunitas, meniscayakan sebuah pluralitas di dalamnya. Narasi ini berangkat dari premis keniscayaan akan sebuah pluralitas, termasuk dalam entitas sekecil apapun mengandaikan pluralitas di dalamnya.  Keniscayaan pluralitas tersebut menyebabkan bahwa sebuah komunitas tidak lagi berkutat pada orisinalitas dari sebuah identitas atau tradisi yang berlangsung, karena telah tergerus secara terus menerus dengan pergaulan antara masa lalu dan kekiniannya. Dampak pluralitas ini juga mengandaikan dalam cara memandang masa lalu, di mana perihal ‘asal-usul’ bisa digadaikan dan menjadi sebuah narasi yang selalu bergerak dan terbuka sesuai dengan kebersituasian dari penuturan yang berlangsung.

***

Pembacaan terhadap Kota Singkawang dalam waktu yang singkat, misalnya, sebagaimana para turis yang biasa datang ke Kota Singkawang pada rutinitas ritual tradisi Cap Go Meh, bisa diandaikan melalui pengalaman seseorang yang berharap melihat sebuah fenomena yang ‘menarik’ atau ‘keanehan’ di sebuah masyarakat yang dianggap ‘terpencil’, atau sebuah lanskap yang penuh dengan kode-kode visual dan identitas yang ‘asing’ atau terliyankan. ‘Peliyanan’ itu sendiri bisa jadi adalah sesuatu yang terkadang melekat pada mental  orang yang berasal dari luar dalam memandang sebuah entitas yang lain, sebagaimana para pelancong datang mencari makanan yang khas, atau tempat-tempat dan artefak-artefak yang khas di suatu tempat, kontruksi ini berlanjut dalam cara memandang masyarakatnya yang menjadi identik dengan lanskap menu makanan dan artefak hingga yang sering luput adalah masyarakat juga para individu-individu yang khas dan beragam.

Keniscayaan pluralitas sebagaimana berlangsung di Singkawang, adalah wilayah plural yang muncul sebagai sebuah persilangan dari banyak kultur dan sejarah ekonomi politik yang melingkupinya, juga tidak bisa luput dari sisa-sisa anasir sejarah konflik yang berlangsung pada masa-masa sentralisasi politik baik pada masa kolonial maupun pasa masa pemerintahan Indonesia di masa lalu. Secara umum, Kota Singkawang terbentuk oleh mayoritas komunitas Tionghoa, baik sebagai sebuah wilayah pesisir yang secara geografis cukup strategis sebagai wilayah.

Singkawang mendapatkan penghargaan sebagai 10 kota toleransi se Indonesia pada 2015 dan 2017. Andaian-andaian Singkawang yang mendapatkan penghargaan toleransi sebenarnya memiliki indikator yang berbeda jika memaknai kultur masyarakat sebagai sebuah perilaku dan tindakan keseharian—Sebuah lembaga non-government, Setara Institut, yang memberikan penghargaan dengan menempatkan Singkawang sebagai 10 kota yang memiliki indeks toleransi tertinggi di Indonesia berdasarkan indikator kebijakan pemerintah yang berpihak dan mengakomodir  toleransi.  Pluralitas  berdasarkan struktural ini sebenarnya masih bisa dilihat lagi berdasarkan keseharian para warganya, dalam melakukan pola perilaku kesehariannya, karena pluralisme sebenarnya berangkat dari para individu dalam memandang perbedaan di dalam kesehariannya.

Singkawang yang sebagian besar terdiri dari tiga identitas, Dayak, Melayu dan Tionghoa. Dari beberapa komunitas seni yang terdiri dari anak muda yang ditemui misalnya, beberapa diantaranya seakan membentuk semacam pola tersendiri, di mana nyaris tidak ada individu Tionghoa yang secara keseharian bergaul dengan individu dari identitas lainnya. Meski kemudian ada satu atau dua individu yang bergabung di sebuah sanggar, namun hal tersebut bukan dalam praktek komunitas dalam pengertian pergaulan atau membangun sebuah kelompok bersama atau organik, tetapi lebih pada praktik mekanisme fungsional, seperti kursus tari atau seni lainnya. Pola-pola sosial keseharian ini sebenarnya menjadi sangat tipikal di beberapa wilayah lainnya. Keseharian perbauran antara identitas Dayak, Melayu, dan Tionghoa sebenarnya bisa kita lihat dalam keseharian ekonomi seperti di rumah makan, pekerja dan lain sebagainya.

Suasana kota Singkawang, sebagaimana halnya di Pontianak, di mana di sepanjang jalan banyak warung atau kedai kopi, para anak muda biasa berada di sana dengan akses wifi secara gratis. Selain terdapat beberapa sanggar tari, dan pelaku filem secara individu, dari laman Youtube memperlihatkan bahwa ada inisiatif para pembuat filem di Singkawang secara individu membuat filem yang berbasis bahasa lokal setempat. Kultur produksi independen ini seperti yang juga ada di Medan, di mana para pembuat filem lokal membuat produksi sendiri dengan reproduksi atau menggunakan laman youtube. Penanda yang paling khas dari fenomena produksi filem lokal ini adalah penggunaan bahasa daerah sebagai sebuah usaha mendekatkan produksi filem dengan para warganya sendiri, atau mencari basis penonton yang dekat dengan lingkungan.  Namun secara sinematografis, bahasa visual yang digunakan oleh para pelaku pembuat filem di Singkawang ini masih menggunakan anasir-anasir bahasa filemis yang dominan, karena mungkin tujuannya adalah mencari sebanyak mungkin penonton.  Fenomena produksi filem di Singkawang, membawa kata kunci-kata kunci identitas kedaerahan adalah pada bahasa lokal, meski kemudian anasir identitas sebuah masyarakat Singkawang belum terlihat pada gambaran karya seninya dan juga belum menggambarkan keseharian mereka yang khas.

***

Tradisi Cap Go Meh menjadi sebuah tujuan utama bagi para pelancong di Singkawang. Tahun 2018, menjadi sebuah perayaan besar Cap Go Meh, yang ditandai dengan kedatangan para pejabat negara dari pusat (kabarnya para menteri agama dan olah raga hadir pada perhelatan tersebut), dan keberadaan lampion yang kabarnya memecahkan rekor MURI dan 9 Naga yang dihadirkan pada perhelatan tahunan tersebut. Dalam spasial ini, Cap Go Meh juga dihadiri oleh banyak kalangan di luar masyarkat Tionghoa, bahkan beberapa masyarakat beridentitas di luar Tionghoa, juga terlibat sebagai pelaku Cap Go Meh, seperti sebagai tukang panggul kursi yang diduduki oleh para Tatung. Menurut beberapa keterangan, pengangkat kursi Tatung atau artefak-artefak Cap Go Meh lainnya ini di bayar sekitar 10-50 ribu, dan kebanyakan para pengangkat  yang memang cukup berat ini, diisi oleh para warga diluar identitas Tionghoa yang ada di Singkawang.

Ada sembilan Naga dalam perayaan Cap Go Meh kali ini di Singkawang. Dari desain Naga tersebut nampak sebuah keseragaman Naga, yang berbeda hanyalah warna dan ukuran, namun secara umum terlihat bahwa Naga tersebut dibikin oleh satu pihak. Dari beberapa keterangan yang ada, Naga bagi perayaan Cap Go Meh tersebut dibiayai oleh sebuah yayasan  yang berasal dari sebuah perkumpulan para penguasaha di Singkawang. Ada semacam hubungan mutual antara sebuah tradisi dan relasi modal ekonomi yang melingkupinya.  Cap Go Meh sendiri adalah tradisi Tionghoa yang khas Indonesia, di mana di Negara Tiongkok sendiri perayaan macam Cap Go Meh tidak ada. Meski beberapa elemen dari  Cap Go Meh adalah sebuah tradisi yang berasal dari Tiongkok, namun akulturasi pada Cap Go Meh bisa kita lihat pada Tatung yang merupakan praktik saman yang dipengaruhi oleh masyarakat Dayak, seperti keberadaan Tatung dan daya mistisnya. Dalam spasial ini akulturasi Cap Go Meh  telah mengendap sekian lama dan bahkan saking subtilnya, Cap Go Meh menjadi sebuah  tradisi Tionghoa an sich tanpa proses pengendapan akulturasi didalamnya.

Beberapa kultur dan tradisi Tionghoa di Singkawang sebenarnya sudah hampir pudar. Seperti beberapa pengrajin Barongsai yang juga hampir tidak hidup lagi. Demikian pula dengan wayang Potehi yang biasa nya juga dimainkan di perayaan Imlek, di mana tahun ini tidak dimainkan lagi karena dalang dari wayang tersebut sudah berumur tua dan sakit. Dari keterangan sang istri, sang Dalang sudah tidak bisa bermain, dan sebenarnya mereka mau melatih bermain wayang Potehi secara gratis, namun tidak ada generasi muda yang mau belajar wayang Potehi. Nasib wayang Potehi ini juga ditambah dengan musibah di mana rumah mereka terbakar, sehingga harus pindah—dari beberapa keterangan kecelakan kebakaran tersebut juga dilatari oleh relasi horisontal yang tidak harmonis di antara komunitas mereka sendiri. Beberapa kultur masyarakat Tionghoa di Singkawang lainnya adalah adanya kursus bahasa Mandarin dan menulis aksara Mandirin.

 

Foto oleh Arum Tresnaningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *