Oleh Venti Wijayanti

Pada tanggal 11 – 15 April 2018 Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop bersama dengan teman-teman komunitas di Sumbawa. Workshop bertempat di Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih.

Workshop hari pertama dibuka oleh H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa sekaligus Kepala Pengurus Istana Dalam Loka. Istana Dalam Loka merupakan tempat yang difungsikan sebagai museum dan pusat kegiatan kesenian di Sumbawa. Peserta workshop yang hadir datang dari berbagai disiplin seni dan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, guru, seniman, dan aktivis buruh migran. Beberapa komunitas yang ambil bagian adalah Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain. Lintas disiplin yang berbeda dan jenjang umur yang beragam membuat workshop menjadi wadah untuk mempertemukan mereka dalam satu percakapan. Jarang terjadi kesempatan berupa kegiatan yang dapat mempertemukan para seniman Sumbawa dari beragam disiplin dan jenjang usia ke dalam satu forum. Workshop Penciptaan Bersama ini adalah salah satu kesempatan itu.

Peserta yang hadir sejumlah 15 orang, dan yang bertahan sampai hari terakhir workshop hanya berjumlah 6 orang. Peserta tersebut adalah Syamsuddin dari SBMI, Mulya Putri Amanatullah, Hadiatul Hasana dari SP, Kardiana dari SP, Dewi Astuti dari Sanggar Tari Mutiara Bungin, dan Reny Suci dari SCS. Praktik workshop penciptaan karya bersama berlangsung sebagai proses mengenali isu lingkungan, sosial, politik, dan perputaran ekonomi di Sumbawa. Proses pengenalan ini berlangsung dari identifikasi benda-benda yang disiapkan oleh peserta workshop, yang sebelumnya memang sudah ditugaskan untuk membawa benda atau tulisan artikel yang menarik tentang lingkungan tempat tinggalnya. Benda yang dibawa beragam dan cukup menarik, antara lain jagung, seragam bekas SMA, foto tari tradisi di Bungin, foto buruh migran, foto anak muda pelaku kriminal, lukisan ikan, boneka, artikel peristiwa kriminal. Narasi cerita yang terangkai dari benda yang dikumpulkan memberikan sedikit gambaran tentang Sumbawa dan karakteristik subjek yang membawa benda tersebut. Keberadaan subjek memberikan kerangka pada sebuah peristiwa memunculkan keluasan pandangan terhadap hal-hal yang terkait pada benda yang dipilihnya.

Isu yang dikemukakan pada sesi diskusi kelompok kecil yang dibagi menjadi dua adalah ‘lingkungan’ dan ‘perempuan buruh migran’ (PBM). Isu lingkungan terkait dengan beberapa kunci yang ditemukan dari proses penceritaan narasi dari artefak yang dibawah peserta workshop. Kata kunci lainnya adalah petani, kedaulatan pangan, pariwisata, tradisi, dan pelestarian. Pada isu lingkungan kaitannya dengan pariwisata dan penanaman bibit jagung hibrida yang mulai masuk pada tahun 2012. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya penanaman jagung pada pembukaan lahan baru di perbukitan yang tersebar di Sumbawa adalah banjir bandang yang diduga efek dari penggundulan hutan di perbukitan. Selain itu juga berdampak pada petani umbi-umbian yang mulai terancam dengan penanaman jagung yang juga menggunakan pupuk kimia untuk mengejar peningkatan hasil panen. Isu lingkungan pada pariwisata diungkapkan bahwa pada umumnya pemerintah membuat kebijakan yang hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi tanpa memikirkan efek dari pelonjakan wisatawan bagi lingkungan. Sumbawa sendiri yang sebenarnya belum mampu menerima wisatawan secara infrastuktur, tetapi pemerintah mulai mengejar peningkatan tersebut dengan cara melakukan praktik ‘disharmonis’ dengan alam.

Isu kedua adalah perempuan buruh migran (PBM). Kata kunci lainnya yang dikemukakan pada tahapan gerbongisasi kuil kata adalah human trafficking, kekerasan (seksual), perlindungan hukum bagi buruh migran. Isu ini menjadi menarik dibicarakan pada waktu sesi diskusi karena terdapat anggota SP dan SBMI yang secara langsung berkerja dengan isu tersebut. Sehingga isu PBM menjadi lebih detail dijabarkan dari alasan yang melatar belakangi banyaknya PBM di Sumbawa sampai beberapa kasus yang terjadi dan kesuksesan buruh migran di Negara-negara seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dll. Banyaknya buruh migran di Sumbawa berkaitan dengan adanya ekosistem yang terdapat di Sumbawa, seperti agen, calo, sponsor, buruh migran sukses. Isu PBM merupakan isu yang kompleks dan sangat dekat dengan masyarakat Sumbawa, karena biasanya PBM merupakan keluarga dekat, saudara kandung, tetangga, dan pelaku agen ilegal juga ada di sekitarnya, biasanya keluarganya sendiri, ataupun di struktur pemerintahan. Isu ini seperti benang kusut yang belum ditangani dengan baik dari segi pencegahan, padahal banyak kasus yang belum terselesaikan. Faktor yang melatarbelakangi untuk menjadi PBM adalah ekonomi atau dorongan keluarga dekat, seperti orang tua.

Proses tahapan workshop selanjutnya adalah gali sumber dengan mencoba praktik riset dan wawancara di pasar tradisional yang ada di pusat kota Sumbawa, yaitu Pasar Seketeng. Semua peserta diberi kesempatan berkeliling di pasar selama dua jam dan diberi tugas untuk mengambil foto, wawancara narasumber, membawa benda yang menarik dan mencatat hasil pengamatan. Pengamatan yang dilakukan di pasar oleh para peserta dilakukan dengan harapan bahwa data yang dicari bisa dijadikan sebagai inspirasi, dan hal yang paling menarik adalah bisa mengetahui bahwa proses ini penting dilakukan dalam metodologi penciptaan karya. Proses kerja gali sumber yang dilakukan bersamaan oleh masing-masing peserta di lokasi yang sama tetap akan mendapatkan informasi yang berbeda sehingga semakin beragam info yang dikumpulkan. Data dari informasi pengamatan saling mengecek satu sama lain sehingga membuka percakapan dan diskusi lebih lanjut.

Hari selanjutnya masuk pada proses improvisasi dari data-data yang didapatkan oleh masing-masing peserta. Pada umumya peserta workshop tetap memilih teater pada bentuk improvisasinya, maskipun latar belakang disiplin dan praktik mereka adalah film, tari, aktvis. Tahapan ini dilakukan peserta dengan mengolah potensi tubuhnya yang difasilitatori oleh Qomar dan Dendi. Pada tahapan ini para peserta mencoba membuka kemungkinan beberapa gerakan dari pengamatan lapangan maupun imajinasi mereka untuk membuat gerakan dengan adaptasi pengolahan tubuhnya. Selanjutnya gerakan dicoba untuk dipraktikkan berulan-ulang dan disusun menjadi komposisi pada masing-masing kelompok. Ada dua kelompok yang menyusunnya menjadi komposisi dari isu buruh migran sebagai narasinya. Komposisi yang muncul adalah gerakan tubuh teater dan tari, serta terdapat dialog yang dimunculkan  dan juga narasi bacaan dari potongan artikel yang ditemukan. Sebagai bentuk praktik penciptaan para peserta workshop di Sumbawa sudah memahami alur dan bentuk praktik sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya yang bisa disusun atau diulang lagi proses pengamatan dan gali sumbernya. Kemudian dipraktikkan, direkam/diingat dan dikaji ulang pada bentuk penciptaannya.  Kemudian pada hari terakhir adalah presentasi.

Proses tahapan workshop ini diharapkan dapat dipraktikan menjadi metodologi penciptaan karya bersama, dan jelas sangat terbuka untuk dimodifikasi sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial yang melatari isu dan penciptaannya maupun konteks produksinya. Workshop selama lima hari di dua tempat berbeda memberikan pengalaman penciptaan, kerjasama kelompok, dan khususnya pemahaman akan waktu yang terlihat pada dinamika kelompok selama workshop. Muncul potensi-potensi para peserta yang beragam dari latar yang juga beragam. Selain itu terdapat pertemuan antara seniman senior dan seniman muda yang dikesehariannya sering tidak bisa bertemu dan berdiskusi karena perbedaan pandangan. Dan juga pada awalnya, mitra penyelenggara workshop bersama Dewan Kesenian Sumbawa tetapi pada prosesnya terselenggaranya juga mendapat dukungan besar dari komunitas Sumbawa Cinema Society, terutama dukungan dari Bapak Hasanuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dan juga seorang maestro tari di Sumbawa, salah satunya memberikan rekomendasi dan surat ijin untuk Dewi Astuti, peserta workshop dari Pulau Bungin yang berprofesi sebagai penari dan guru untuk mengikuti workshop secara penuh.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *