Oleh Hadiatul Hasana

Hal yang segera saya ingat ketika berbicara mengenai seni adalah saat saya menyimak penyair Dewi Nova bercerita melalui puisinya. Dia menyentuh pendengarnya untuk merasakan isi dan makna dari setiap bait puisinya. Salah satu kalimat puisi yang selalu saya ingat berbunyi “Aku kau matikan, tapi tidak nyaliku dan keteguhanku”. Puisi tersebut mengekspresikan situasi perempuan buruh dalam memperjuangkan keadilan yang tiada henti mereka suarakan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

***

Selama riset yang kami lakukan, banyak hal yang menjadi pelajaran dan pengalaman dalam menciptakan karya. Mulai dari awal pertemuan ketika kami mulai berkumpul untuk membicarakan ide-ide dari masing-masing kepala. Pada awal diskusi bersama kawan Reny dan mas Syam kami merasa kebingungan saat merencanakan proses penciptaan bersama mengenai isu sosial di Sumbawa. Membuat karya seni adalah hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kami membahas terkait dua isu di Sumbawa, yaitu isu lingkungan dan Perempuan Buruh Migran (PBM) di Sumbawa. Fokus yang dibahas adalah tentang kaitannya isu lingkungan dengan problem pangan khususnya pembukaan lahan baru untuk penanaman jagung dan pertambangan. Kami membahas bagaimana kondisi lingkungan saat ini, apa penyebabnya, apa dampaknya, mengapa itu terjadi, sejak kapan dan daerah mana saja yang menjadi sasaran proyek tersebut? Sementara pada isu buruh migran kami membahas terkait bagaimana kondisi mereka saat menjadi buruh migran, permasalahan apa yang dihadapi, apa penyebab dan dampaknya, siapa aktor yang terlibat, bagaimana proses advokasi bagi buruh migran yang sedang menghadapi kasus? Kami membahas dua isu tersebut serta bayangan selanjutnya untuk penciptaan bersama. Bagaimana menentukan pertanyaan dan melakukan proses gali sumber? Beberapa dari pertanyaan itu belum mendapatkan titik terang dan menggantung.

Dua isu tadi muncul ketika Workshop Penciptaan Bersama di Istana Dalam Loka yang diinisiasi oleh Teater Garasi dari Yogyakarta. Dua isu itu jadi pijakan pertama untuk berangkat ke proyek yang lebih panjang: membuat karya berdasarkan data terkait isu sosial di Sumbawa.

***

Ini adalah awal perjalanan yang cukup menarik dalam merumuskan pertanyaan yang kemudian menjadi pintu masuk dalam melihat dan mengkritisi setiap isu di Sumbawa. Kami menghabiskan waktu selama tiga hari pada tahap merumuskan pertanyaan, sebab setiap orang memiliki ketertarikan isu yang berbeda. Namun isu yang berbeda-beda tersebut  membuat kami merasa bahwa betapa di Sumbawa banyak sekali soal. Kaitannya dengan proses penciptaan, ada empat isu yang muncul, antara lain adalah (1) isu sosial di pulau Bungin terkait dengan pola pemukiman yang padat dan reklamasi yang terus berlangsung hingga sekarang, (2) isu generasi muda Sumbawa terkait kasus kriminalitas, (3) isu lingkungan terkait pembukaan lahan baru untuk proyek penaman jagung dan pertambangan, (4) isu buruh migran terkait kekerasan dan tiadanya perlindungan hukum dari negara.

Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan, baik pertimbangan ide maupun teknisnya, kami memilih isu generasi muda dan buruh migran di Sumbawa.  Pada isu buruh migran, hal pertama yang menjadi pertanyaan kunci adalah apa yang membuat keluarga buruh migran enggan bersolidaritas terhadap keluarga buruh migran yang bermasalah? Sementara pertanyaan kunci pada isu generasi muda Sumbawa adalah kenapa praktik kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? Pertanyaan tersebut membawa kami pada tahap memetakan kemungkinan narasumber untuk menggali informasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya, yaitu tahap riset.

Pada hari keempat dan kelima, kami mewawancarai narasumber dari instansi pemerintah. Kemudian kami bertemu dengan beberapa narasumber lain, yaitu Ibu Siti Hajar dan Bapak Kusmadi Gani (mantan buruh migran), Ibu Husnulyati dari Solidaritas Perempuan Sumbawa, Roni Septian, Piranha Sumbawa MotorClub, dan Slanker Sumbawa. Selama proses riset ini, kami melakukan pembagian kerja demi efektifitas dan efisiensi waktu.

Pada hari keenam kami masih melakukan riset. Setelah berbincang dengan Sendi, seorang mantan buruh migran (kami juga berbicara mengenai generasi muda Sumbawa), kami mengevaluasi kembali pertanyaan kunci untuk kedua isu tersebut, apakah pertanyaan itu masih relevan? Temuan baru apa yang berhasil digali? Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk mengubah pertanyaan untuk dua isu tersebut.

Pertanyaan kunci pada isu Buruh Migran Sumbawa (BMS) yaitu: bagaimana proses yang dijalani/dialami BMS dari awal hingga akhir proses? (Pengawasan ketat di berbagai habitat BMS (CCTV)? Sihir/ jimat (cara-cara alternative perdukunan) dalam dunia BMS?)

Pertanyaan kunci pada isu Generasi Muda Sumbawa (GMS) yaitu: 1. Kenapa pelaku dan korban tindak kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? 2. Apa yang sudah dilakukan banyak pihak untuk menangani hal itu?.

Pada hari ketujuh, kami mewancarai Bapak M. Dahlan, Suami dari Ibu Rubaiyah (mantan buruh migran) dan Bapak Hasbullah, salah satu sponsor yang memberangkatkan buruh migran ke luar negeri. Bapak M. Dahlan bercerita bahwa dulu istrinya pernah bekerja di Jeddah sejak tahun 2007 sampai 2017. Pada dua tahun pertama bekerja, keluarga bisa berkomunikasi dengan Ibu Rubaiyah dengan lancar, namun setelah itu, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Ibu Rubaiyah dan juga dengan majikannya. Berbagai upaya dilakukan M. Dahlan untuk bisa mengetahui kondisi istrinya. Akhirnya pihak keluarga mulai melaporkan kasusnya ke Depnaker, juga kepada LSM yang menangani kasus buruh migran, dan juga pergi ke dukun berkali-kali demi menolong istrinya. Setelah delapan tahun perjuangan dan usaha dilakukan M. Dahlan, akhirnya Ibu Rubaiyah bisa pulang namun dalam keadaan depresi dan stres, bahkan tidak lagi mengenali suaminya.

Pada hari kedelapan dan kesembilan kami masuk pada tahap improvisasi. Dari data riset yang telah diperoleh dan menurut kami menarik, kami ambil untuk dikembangkan dan diproyeksikan menjadi berbagai elemen: mulai dari tulisan, gerakan, dan suara. Pada tahap ini kami mencoba melakukan improvisasi dengan cara yang berbeda-beda: ada yang membuat sketsa kejadian/peristiwa, ada yang membuat tulisan/naskah, dan lain-lain. Sembari mengolah data ke tahapan bentuk, kami juga memikirkan potensi (inspirasi) data-data itu ke wujud karya.

Hari kesepuluh kami melakukan evaluasi bersama terkait tahapan-tahapan penciptaan bersama yang sudah kami lakukan. Mengingat keterbatasan waktu dan demi efektifitas kerja dan semacamnya, kami menyusun rencana kerja ke depan. Evaluasi di hari terakhir membawa kami untuk melakukan proses riset lagi, sekaligus menyusun pertanyaan-pertanyaan kunci kembali dalam rangka mendalami dan menajamkan isunya. Pada titik ini, kami belum bisa membayangkan inspirasi apa yang akan muncul dari data-data itu sampai ia mampu menggerakkan kami menciptakan karya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *