Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *