Oleh Taufik Darwis

Secara resmi rangkaian festival telah berakhir. Sebagian masyarat telah pulang ke desa masing-masing yang saling berjauhan. Tapi kemudian di tengah-tengah lapangan di pinggir pantai Lewolahang, tercipta lingkaran dari orang-orang yang saling mengaitkan lengan. Di antaranya, juga terlihat bupati dan beberapa tamu undangan yang lain. Mereka bersama-sama bergerak ke kanan dan ke kiri. Terdengar juga beberapa orang seperti tengah berbalas nyanyian atau syair dan bunyi gemerincing dari beberapa kaki yang dibalut gelang kerincing. Peristiwa ini  diinisiasi oleh  masyarakat Adonara yang sebelumnya menampilkan Tari Liang Namang di atas panggung acara sebagai penutup festival.

Pai Taan Tou! (“Pai” artinya mari, “Taan” artinya berbuat atau bertindak, “Tou” artinya satu ). “Mari berbuat bersama!” atau “bekerja sama satu tujuan”! Ungkapan yang selalu diserukan di setiap awal dan akhir rangkaian mata acara dalam tiga hari (5-7 Oktober 2019) Festival Seni dan Budaya Nubun Tawa di Kampung Lewolema, Flores Timur, seperti segera hadir di dalam peristiwa Sole Oha yang tengah berlangsung itu. Di dalam lingkaran: eratan lengan, lingkaran dinamis yang dapat berlapis dan dibuka ketika orang-orang makin bertambah ingin terlibat baik ‘orang dalam’ atau pun ‘orang luar’, langkah kaki yang teratur, gelak tawa, senyum kecil yang tiba saja muncul, nyanyian dan syair yang saling berbalas dan kesungguhan setiap orang terlibat dalam tempo gerakan hingga akhir repertoar. Sementara di luar lingkaran, beberapa orang membagikan tuak nira dan moke (minuman tradisional Lamaholot), sekelompok perempuan berjaga agar peristiwa Sole tidak kekurangan makanan dan minuman,  dan orang-orang duduk mengelilingi Sole, menunggu momen yang tepat untuk terlibat atau hanya berbincang dan merasakan vibrasi dari energi kesuluruhan peristiwa Sole Oha.

Tidak salah jika membayangkan keseluruhan peristiwa yang terjadi di Festival Nubun Tawa adalah bentuk lain yang lebih besar dari keseluruhan energi seperti yang dihasilkan oleh Sole Oha. Keragaman seni dan budaya antar desa, kampung, pulau, posisi, agama/kepercayaan ada dalam lingkaran “Pai Taan Tou!” Festival Nubun Tawa. Festival ini merupakan program kerjasama pemerintah daerah Flores Timur dengan program AntarRagam (Perfoming Differences) Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang sejak setahun lalu bersama-sama bekerja menggali potensi Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Sebenarnya festival ini telah berlangsung empat tahun dan menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur dalam format yang berbeda, yakni lomba seni antarkecamatan. Festival ini kemudian dirancang kembali menjadi sebuah peristiwa budaya berbasis situs atau lokasi di sekitar kecamatan Lewolema dengan agenda seni dan budaya yang beragam sesuai apa yang dimiliki dan masih dilakukan di setiap desa. Jadi tidak hanya peristiwa seni dan budaya yang ada di Lewolema saja, tapi juga desa dan seniman atau komunitas kesenian pun hadir memperkaya kergaman rangkaian acara festival.  Selain itu, festival ini juga mengundang empat seniman dari luar Flores Timur dengan ranah seni yang berbeda, yaitu Ruth Marini (aktor teater dan film dari Lampung/Jakarta), Darlene Litaay (koreografer/performer dari Papua), Iwan Dadijono (koreografer dari Yogyakarta) dan Yasuhiro Moronaga (sound artist dari Jepang) yang di antaranya berkolaborasi dengan seniman dan masyarakat setempat.

Sepertinya tidak sulit untuk mengubah format lomba menjadi perayaan dan kegembiraan bersama. Sebab pada praktiknya, kualitas kebersamaan itu terjadi dan integral di dalam keseharian orang Lamaholot. Jadi ini bukan lagi merawat kultur persaingan – siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam kultur kompetisi.  Tapi soal bagaimana melahirkan kembali dan merawat kultur bersama melalui festival seni dan budaya berbasis masyarakat.  Melihat dan mengalami peristiwa bersama di dalam festival bukan berarti hanya melihat setiap mata acara yang diagendakan. Tapi juga bagaimana efek peristiwa yang diakibatkan festival. Salah satu efek lain festival adalah meningkatkan identitas dan perasaan komunitas, mempromosikan partisipasi dan penciptaan kembali budaya lokal. Efek ini menyiratkan penguatan kebanggaan budaya dan kesadaran budaya. Bahwa nilai-nilai itu penting karena secara intrinsik terhubung dengan konsep identitas orang dengan sekelompok orang, sehingga mendorong pembangunan rasa komunitas dan berpotensi menciptakan persatuan. Efek lain dari festival ini adalah mendorong peristiwa ekonomi, aktivasi infrastuktur antar desa (perbaikan dan pembuatan jalan) dan aktivasi ruang potensial (menyiapkan lokasi acara), dan aktivitas sosio-kultural lain yang membuat hilir mudik orang-orang menuju lokasi acara.

Festival Nubun Tawa ini direncanakan berpindah lokasi (kecamatan) setiap tahunnya. Kecamatan Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival ini karena dinilai mempunyai hubungan kasuistik kenapa Festival ini bersama “Nubun Tawa”.  “Nubun Tawa” yang berarti “Kelahiran Kembali” mempunyai tekanan pada pernyataan kultural terhadap riwayat politik kebudayaan masyarakat Lamaholot. Misalnya misi pemberadaban kolonialisme serta politik sentralisme kebudayaan Orde Baru  terutama sejak tahun 70’an menyebabkan peminggiran-peminggiran kebudayaan masyarakat adat,  yang juga sekaligus berarti peminggiran kemanusian, manusia Lamaholot. Istilah ‘musyrik’, ‘kafir’ serta ‘primitif’ atau ‘tidak beradab’ melekat pada setiap masyarakat yang masih memegang teguh adatnya, kepercayaan sosio-kulturalnya. Atas dasar itu juga negara dengan pandangan ortodoknya sebagai yang “memberadabkan” dan “meluruskan” membuat kebijakan yang mempegaruhi sistem adat yang telah berangsung lama, sebagai kosmos masyarakat adat. Seturut Rm. Peter Simon Suban Tukan dalam Diskusi Kebudayan Lamaholot di Desa Riangkotek (6/10/18), Gereja punya andil ikut mengubur kebudayaan Lamaholot pada pada tahun 1970’an.

Memudarnya kekuasaan negara yang sentralistik pasca Orde Baru dan lahirnya otokritik di dalam tubuh Gereja meluaskan dan membantu kembali masyarakat adat untuk mencari tata-aturan yang bisa memberikan keadilan, ketertiban dan kedamaian bagi kehidupan sendiri. Adat menjadi salah satu tempat berpulang masyarakat untuk mengorganisir dirinya. Festival seni dan budaya adalah salah satu cara yang memungkinkan masyarakat/komunitas kembali mengekspresikan identitas dari pandangan kehidupannya. Meskipun bersifat sementara tapi festival menawarkan cara merasakan kesenangan bersama, mengeksplorasi dan mengamankan keberadaan, kepemilikan, dan makna.

Di sisi lain, tantangan setiap festival seni atau budaya yang bekerja dengan pemerintah adalah bagaimana setiap keputusan di dalam ruang festival tidak terpusat alias tidak didikte oleh pemerintah, apalagi kali ini mengatasnamakan “berbasis masyarakat”. Pertanyaan kemudian yang kerap muncul adalah “apakah masyarakatnya siap”? Hal ini kemudian menjadi alasan ampuh bagi pemerintah untuk menyerahkan ke swasta ditambah pemerintah sendiri tidak mampu.  Modus ini rentan sekali untuk  melahirkan lingkungan yang koruptif. Hingga sebenarnya yang paling prinsip dari alasan penyelenggaraan festival hanyalah kepentingan kompetisi menaikan citra kota/provinsi pemerintah daerah dengan pemerintahan daerah lainya dan tentu saja untuk lingkungan politiknya sendiri. Semuanya dikomodifikasi, termasuk masyarakat serta lingkungannya dan seni-kebudayaan yang hidup di setiap lokasi dibuat atau berbau sensasi. Melalui problem ini kita bisa memeriksa juga atau memikirkan ulang soal setiap peristiwa di Festival Nubun Tawa terjadi. Termasuk bagaimana efek festival terjadi, misalnya pembangun jalan, membuka lahan yang tadinya bukan lokasi utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, apakah itu untuk masyarakat atau turisme yang dibayangkan?

Apakah festival berbasis masyarakat anti turisme? Tentu tidak, sejauh turisme yang diperjualbelikan adalah hospitabilitas, yaitu pengalaman turisme yang diterima sebagai tamu oleh tuan rumah yang baik, pengalaman akan kualitas ‘rumah’ di tempat lain, kerasan, yang mungkin tidak pernah dialami dalam pengalaman apapun. Sebuah seni-kebudayaan atau dalam konteks ini sebuah festival bisa membangun hospitabilitas sejauh semua itu dijalankan oleh masyarakatnya, tidak dibuat-buat (superfisial) dan menjadi kehidupan sehari-hari. Misalnya: beli makanan yang di jual itu seperti makan dirumah orang dan yang dijual adalah bagian dari masyarakatnya. Menerima tamu menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Yang perlu garis bawahi dari hal ini adalah untuk menghindarkan euforia ekonomi turistik yang membongkar ini itu atas nama turis. Tapi jika memang pemerintah mempunyai kesungguhan untuk menjadikan festival ini berbasis masyarakat, saya kira studi kasus untuk belajarnya tidak perlu jauh-jauh dulu. Cukup melihat dan terlibat di dalam setiap peristiwa kultural yang ada di masyarakatnya, dan peristiwa Sole Oha dengan kompleksitasnya dapat menjadi ruang belajar yang baik.

Menurut perencanaan, yang akan menjadi tuan rumah festival tahun depan adalah Kecamatan Adonara. Festival Nubun Tawa akan menghadapi tantangan yang berbeda di tahun 2019, ajang pemilihan presiden, tahun yang penuh persaingan dan kompetisi. Semoga saja di tahun di mana banyak hal semakin mengeras dan bergesekan tersebut energi dan vibrasi Sole Oha makin berlipat ganda. Menjangkau, mengundang dan menjadi imajinasi geografis bagi siapa pun yang memiliki kepingan pengalaman kolektif untuk dibawa dan menghubungkan dengan kepingan lain di Festival Nubun Tawa.

Pai Taan Tou!

 

Oktober, 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *