Pertunjukan “Aidah, Sumbawa!” merupakan sketsa dari sejumlah isu sosial yang terjadi di Sumbawa. Seorang pekerja migran perempuan mengalami depresi setibanya kembali di kampung halaman setelah bertahun-tahun tidak diketahui kabarnya. Sementara sejumlah generasi muda Sumbawa terlibat aksi mabuk-mabukan hingga tawuran. Di sisi lain, menanggapi isu lingkungan hidup, beberapa desa telah menggalakkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah dan ekowisata. Ada semangat optimisme untuk menengok kembali dan mengolah bumi kelahiran.

Pertunjukan yang dikemas jenaka namun dramatis ini juga diisi oleh ragam tarian dan musik tradisional Sumbawa. Pertunjukan ini melibatkan beberapa komunitas kesenian di Sumbawa, disutradarai oleh Dendi Madiya. Melalui pertunjukan ini diharapkan akan muncul percakapan kritis, refleksi bersama tentang isu yang diangkat sebagai konten pertunjukan yaitu buruh migran, lingkungan, dan generasi muda.

Dendi Madiya merupakan sutradara dan membentuk kelompok kesenian yang bernama Artery Performa di Jakarta. Beberapa pertunjukan teater disutradarainya bersama Artery Performa, yaitu Segenggam Tanah Di Mulutku, Struktur Rumah Tangga Kami, Tidak Ada Kekosongan, Abracadabra Postpartum dan Gunungan Bantar Gebang. Dendi menjadi salah satu sutradara pada Asian Performing Arts Forum (APAF)-Workshop for International Collaboration, November 2018 di Jepang. Hingga kini, Dendi merupakan salah satu anggota Majelis Dramaturgi, suatu forum diskusi yang melibatkan beberapa seniman-seniman pertunjukan di Indonesia yang dinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

“Aidah, Sumbawa!” akan dipentaskan pada hari Jumat, 28 Juni 2019 pada pukul 20.00 WITA bertempat di Lapangan Sering Atas, Desa Kerato. Pertunjukan ini menjadi puncak acara penutupan Festival Pesona Olat Ojong II di Kecamatan Unter Iwes, Sumbawa. Tata artistik yang digunakan dalam pertunjukan ini merupakan karya siswa-siswi sekolah dasar dari desa Krato, Nijang, Sering,  Uma Beringin, dan Pelat – hasil dari workshop pengolahan sampah plastik dan kardus yang difasilitasi oleh Sumbawa Visual Art yang berlangsung pada tanggal 17 – 21 Juni 2019. Karya para peserta workshop tersebut kemudian dirancang oleh Sumbawa Visual Art dan Komunitas Nagaru menjadi setting panggung pertunjukan.

Selain pertunjukan “Aidah, Sumbawa!”, rangkaian acara penutupan Festival Pesona Olat Ojong II akan menampilan pameran hasil workshop pengolahan sampah dan barang bekas, serta live mural oleh Sumbawa Visual Art.

Festival Pesona Olat Ojong II Kecamatan Unter Iwes dilaksanakan pada 24 – 28 Juni 2019 di Desa Jorok, Desa Pelat, Desa Kerato, Desa Uma Beringin, Desa Nijang, dan Desa Sering. Ragam kegiatan festival antara lain berupa workshop, pemutaran film, diskusi tentang  wajah generasi muda Sumbawa saat ini, pameran, live mural, dan pertunjukan.

Festival Pesona Olat Ojong II kali ini terselenggara atas kerja sama Pemerintah Kecamatan Unter Iwes dan Teater Garasi/Garasi Performance Institute bersama Sekolah Dasar se-Kecamatan Unter Iwes, Karang Taruna dan komunitas orang muda di Sumbawa yaitu Komunitas Nagaru, Sumbawa Visual Art, Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dan Komunitas Bileng Bineng.

Acara ini merupakan bagian dari #SeriPentasAntarRagam Teater Garasi/Garasi Performance Institute. #SeriPentasAntarRagam adalah bagian dari program AntarRagam, sebuah inisiatif baru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang ingin menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses unlearning dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *