Oleh Kiki Sulistyo

Bahasa jadi masalah bagi teater modern Indonesia. Bahasa Indonesia yang lahir dari wacana nasionalisme beroperasi sebagai bahasa politik dan kerap tak bisa diserap oleh tubuh pelakon yang tumbuh dengan bahasa ibu. Ketika terucapkan oleh pelakon, Bahasa Indonesia seperti benda mati yang tak punya kaitan genetik maupun kultur dengan tubuh pengucapnya. Pada situasi semacam itu, pesan yang terkandung dalam bahasa seperti tak memiliki sumber dan ketika diresepsi oleh penonton sebagai komunikan, pesan itu pun kehilangan bobot pengalaman dan emosinya. Alih-alih sebagai peristiwa, pertunjukan teater hadir sebagai tontonan semata ketika sistem transmisi dari pertunjukan ke penonton membawa beban pesan yang tak bersumber dari keduanya. Padahal, karena pertunjukan dan penonton berada dalam ruang dan waktu yang sama, teater sejatinya adalah peristiwa.

Pertunjukan “Aidah Sumbawa” yang berlangsung pada 28 Juni 2019, di Lapangan Sering Atas, Unter Iwes, Sumbawa, tampaknya menyadari persoalan itu. Teater Garasi/Garasi Performance Institute menginisiasi pertunjukan itu sebagai bagian dari Seri Pentas Antar Ragam dan dipresentasikan sebagai penutup Festival Pesona Olat Ojong II. Sutradara Dendi Madiya membiarkan para pelakonnya, yang semuanya adalah mahasiswa/pelajar setempat, mengembangkan sendiri materi dari hasil riset atas persoalan-persoalan di sekitar mereka.

Peran bahasa menjadi krusial dalam upaya mengartikulasikan kembali persoalan- persoalan tersebut. Semula, Dendi, yang aktivitas keseniannya berlangsung di Jakarta, hendak menulis naskah dalam Bahasa Indonesia. Tetapi menimbang para mahasiswa/pelajar setempat tidak tumbuh dalam tradisi (proses) teater, Bahasa Indonesia kemungkinan besar menjadi kendala yang solusinya tidak bisa cepat. Untuk itu, ia kemudian memilih “hanya” membangun motif dan merancang struktur adegan. Sementara teks (dialog atau polilog) dikembangkan sendiri oleh para pelakon dengan menggunakan nyaris seratus persen Bahasa Sumbawa.

Sebagai basis cerita, “Aidah Sumbawa” menyerap tiga persoalan utama masyarakat Sumbawa. Persoalan-persoalan itu yakni kerusakan lingkungan, buruh migran, dan dekadensi moral generasi muda. Ketiga persoalan tersebut muncul silih-berganti di panggung dengan irisan dari kehadiran sastra-lisan Sakeco dan kampanye lingkungan hidup. Dalam durasi dua jam, terlihat bagaimana bahasa ibu bisa dengan mudah beroperasi sehingga, sebagai komunikator, para pelakon lebih ringan melibatkan tubuhnya sebagai bagian dari perangkat komunikasi. Penonton tidak melihat acting, melainkan artikulasi sosial yang dibingkai oleh dramaturgi pertunjukan.

Tiga persoalan yang menjadi basis cerita, dalam dunia faktual Sumbawa sudah nyaris menjadi laten dan bila dibicarakan dalam karya seni bisa jatuh menjadi klise. Tetapi soalnya adalah ketiganya belum bisa diselesaikan, sehingga tetap hadir sebagai persoalan. Melalui “Aidah Sumbawa” ada terbaca bahwa ketiga persoalan itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri, bahwa kerusakan lingkungan berhubungan dengan akses ekonomi dan akses ekonomi berhubungan pula dengan perubahan perilaku.

Penggunaan Bahasa Sumbawa mengartikulasikan persoalan-persoalan sosial itu dengan lebih tegas, dan sisipan-sisipan Bahasa Indonesia di tengah-tengah bahasa ibu para pelakon itu seperti jargon-jargon hampa dari negara. Melalui tatapan atas penggunaaan bahasa itu, “Aidah Sumbawa” hadir sebagai peristiwa yang ironis.

Keironisan itu bahkan bisa dipindai dari syair yang dinyanyikan oleh pemain Sakeco. Di bagian awal syair, digambarkan nasib masyarakat yang harus mencari nafkah sampai ke luar negeri menjadi pekerja migran. Tetapi di bagian berikutnya syair bergeser ke kampanye pajak, lengkap dengan diksi dan jargon-jargon dalam Bahasa Indonesia, seperti “pembangunan” dan “orang bijak taat pajak”. Syair Sakeco jadi terasa satir, suatu sindiran atas minimnya peran negara dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

Dalam proses penciptaan “Aidah Sumbawa”, Teater Garasi/Garasi Performance Institute melibatkan sejumlah komunitas setempat, seperti Sumbawa Visual Art, Komunitas Nagaru, Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dan Komunitas Bileng Bineng. Set artistik berupa gerbang, awan, dan rangkaian replika rumah adalah hasil olahan dari sampah plastik, kardus bekas, dan ecobrick. Sebagian adalah hasil lokakarya yang dibuat anak-anak SD. Dengan begitu transmisi pesan dari pertunjukan ke penonton dipancarkan tidak cuma melalui teks tapi juga dari set artistik. Metode penciptaan bersama memberi ruang egaliter bagi semua yang terlibat, serupa musyawarah untuk membaca persoalan dan secara bersama-sama mencari solusinya. Bahasa sebagai perangkat komunikasi dalam proses tersebut tentu punya peran besar untuk membangun kedekatan emosi tanpa terjebak dalam perangkap primordial.

Teater modern lahir di kota, suatu wilayah baru yang membutuhkan bahasa yang bisa menghubungkan siapa saja yang datang dari mana saja. Semangat kelahirannya pun berjalan seiring perkembangan intelektual. Ketika teater modern menyebar ke pelbagai wilayah di luar kota, ada semacam resistensi-genetis dari masyarakat, sebab teater sebagai pertunjukan tumbuh di nusantara sebagai (bagian dari) peristiwa; bentuk- bentuk performatif yang tidak terlepas dari kegiatan keseharian atau musiman. Teater modern, melalui naskah tertulis, kemudian memanggul Bahasa Indonesia ke atas panggung. Ketika tubuh-tubuh pelakon yang tidak tumbuh dengan Bahasa Indonesia mencoba melakoninya, tubuh-tubuh itu berubah menjadi kaku, formal, tanpa emosi.

Mirip tubuh negara yang cenderung menghasilkan diksi, narasi, dan jargon-jargon hampa.***

 

Kiki Sulistyo, penyair dan peminat seni pertunjukan.

Catatan: Tulisan ini pernah tayang di harian Jawa Pos, Minggu, 6 Juli 2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *