Oleh Kiki Sulistyo Penulis dan Peminat Seni Pertunjukan

Pada 24-28 Juni 2019 berlangsung Festival Pesona Olat Ojong II di beberapa desa di Kecamatan Unter Iwes, Kabupaten Sumbawa. Aneka kegiatan diadakan, dari pemutaran film, lokakarya pengolahan sampah dan barang bekas, diskusi, pameran, sampai pertunjukan seni. Pada penutupan festival, ditampilkan pertunjukan bertajuk “Aidah Sumbawa” di Lapangan Sering Atas, Desa Kerato,  yang difasilitasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta) sebagai bagian dari seri pentas antar ragam dan disutradari oleh Dendi Madiya, pendiri kelompok seni Artery Performa (Jakarta) dan anggota Majelis Dramaturgi, suatu forum belajar dramaturgi performance dan penggarapan project performance yang juga diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

Melalui tahapan riset, “Aidah Sumbawa” mencoba menyerap sejumlah persoalan sosial setempat sebagai topik. Ada tiga hal yang kemudian terpindai; kerusakan lingkungan, buruh migran, dan kenakalan remaja.

Kerusakan lingkungan sudah menjadi isu global, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Deforestasi, penebangan dan pembalakan hutan -baik untuk industri besar maupun untuk kawasan ladang, menyebabkan menyusutnya kawasan hutan perawan. Lansiran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB (2018) menyebutkan dari total 896 ribu hektare hutan di Provinsi NTB yang berada dalam kondisi kritis, sekitar 35-40 persennya berada di Pulau Sumbawa. Tidak mengherankan jika setiap tahun bencana banjir selalu datang dengan penyebaran yang makin luas. Sementara pembangunan gedung untuk berbagai keperluan di sekitar permukiman juga turut mengikis kawasan hijau penyerap air. Masalah lingkungan yang lain juga terjadi di sekitar permukiman, yakni melimpahnya sampah rumah tangga, terutama yang berbahan plastik.. Ini bisa terjadi lantaran berubahnya pola hidup. Belanja di pasar modern (mini market), di mana semua barang yang dijual memakai kemasan plastik, sudah menjadi kebiasaan baru. Di mini market hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia, sehingga residu dari kemasan yang tak terpakai selalu terbuang setiap hari.

Persoalan buruh migran juga tak kurang gawatnya. Sumbawa adalah penyumbang buruh migran terbesar ketiga di Nusa Tenggara Barat. Banyak kasus-kasus pelecehan dan kekerasan menimpa mereka. Bahkan sering terjadi semenjak awal; modus-modus human traficking memanfaatkan janji pekerjaan sebagai buruh migran dengan gaji besar sebagai jalan untuk menjerat korban yang  kebanyakan adalah kaum perempuan.

Sementara itu, generasi muda -yang populasinya berkembang- seperti kehilangan pijakan, panutan, atau panduan untuk mengaktualisasi diri, sehingga banyak di antaranya menghabiskan energi untuk hal-hal yang tak bermanfaat. Teknologi informasi menjadi jalan utama untuk mencari rujukan. Dengan kemudahan akses informasi, apa-apa yang diasup oleh generasi muda menjadi susah dibendung. “Kenakalan remaja” (suatu istilah yang sebenarnya sudah lampau) masih tetap harus disebut-sebut untuk mengidentifikasi persoalan itu. Meskipun di era sekarang ini, istilah “kenakalan” terdengar terlalu ringan, sebab tindakan anak-anak muda ini jauh lebih ekstrim. Dalam pengalaman riset untuk proyek “Aidah Sumbawa” terungkap misalnya cara menggapai sensasi mabuk (fly) dengan membakar dan mengisap fitting lampu sudah mulai jadi trend.

Ketiga persoalan tersebut diartikulasikan kembali dalam “Aidah Sumbawa” yang dapat dibaca sebagai upaya mencegah persoalan-persoalan tersebut menjadi kian laten hingga tak lagi disadari. Ada hal pokok yang tampaknya berusaha dipantik melalui pertunjukan ini, yakni kesadaran. Sebagai individu maupun anggota masyarakat, kita sepertinya memang mengalami krisis kesadaran, terutama kesadaran kolektif. Persoalan-persoalan berlangsung di sekitar, dan kita sibuk dengan hal-hal lain yang sering tak ada hubungannya dengan kita.

“Aidah Sumbawa” yang dimainkan oleh mahasiswa dan pelajar setempat, memasukkan seni tradisional Sakeco, memanfaatkan hasil olah kreasi berbahan sampah dan barang bekas sebagai set artistik, dan 95% menggunakan Bahasa Sumbawa dalam dialog dan polilognya. Penggunaan Bahasa Sumbawa mendekatkan pertunjukan bukan hanya pada pelaku-pelakunya tetapi juga pada masyarakat yang menyaksikan, sehingga apa yang ingin disampaikan dapat diserap dengan lebih mudah. Dari pertunjukan ini juga dapat dibaca bahwa ketiga persoalan yang diangkat sebagai topik tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya saling terhubung membentuk mata rantai.

Kerusakan lingkungan artinya kerusakan sumber daya alam. Bila sumber daya alam rusak, sumber daya manusia akan terkena imbasnya, baik secara kultur maupun ekonomi. Apalagi jika kerusakan lingkungan disebabkan oleh industri besar yang efek ekonominya tidak bisa dijangkau oleh masyarakat setempat. Pada gilirannya, masyarakat yang tidak bisa menjangkau akan mencari sumber penghidupan lain, misalnya menjadi buruh migran, yang menurut mereka lebih menjanjikan. Kepergian mereka, yang bisa berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan kekosongan pada fungsi yang mereka emban seandainya mereka tidak pergi, yakni sebagai rujukan sekaligus penjaga moral  bagi anak-anak atau remaja di bawahnya. Tak mengherankan, tanpa rujukan dan penjaga moral,  anak-anak dan para remaja melarikan diri ke apa-apa yang dapat mereka asup dengan mudah melalui internet.

Kesadaran lain yang berusaha dipantik melalui “Aidah Sumbawa” ini adalah kesadaran akan fungsi seni. Melalui metode “penciptaan bersama”, Dendi Madiya, sebagai sutradara, tidak menjadi pengatur tunggal.  Dia memulai dengan workshop singkat, memantik gagasan, memberi motif, lantas menata struktur adegan. Selebihnya, misalnya isi dialog dan polilog, dibuat sendiri oleh pemain-pemainnya.

Suatu karya seni cenderung dianggap sebagai objek semata; objek tatapan, tontonan, atau dengaran. Padahal, disamping kekuatan estetiknya, esensi seni terletak pada proses penciptaannya. Sistem yang beroperasi dalam proses penciptaan karya seni melibatkan kemampuan berpikir, keluasan imajinasi, serta kreatifitas untuk mewujudkan. Bila tiga hal ini diterapkan dalam menghadapi persoalan yang berlangsung di sekitar kita, akan lebih mudah menemukan akar persoalan sekaligus merancang dan mewujudkan solusinya.

Bagi generasi muda di Sumbawa, pertunjukan “Aidah Sumbawa” mestinya dapat dijadikan momentum untuk menggerakkan potensi dan energi di lapangan kesenian – mengingat banyaknya ruang dan sumber daya manusia yang ada- sebagai suatu cara membaca dan mengartikulasikan kembali persoalan sosial yang terjadi di sekitar, sekaligus sebagai kanal untuk aktualisasi diri. Melihat keterlibatan sejumlah komunitas, seperti Sumbawa Visual Art, Komunitas Nagaru, dan Korps Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Teknologi Sumbawa, dalam proses “Aidah Sumbawa”, saya kira bayangan dan pengharapan itu tidaklah muluk-muluk.***

 

Kiki Sulistyo, Penulis dan Peminat Seni Pertunjukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *