Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

(Workshop Lanjutan Singkawang: Penajaman Pertanyaan dan Gali Sumber)

Oleh Gunawan Maryanto

Bersama dengan Akbar Yumni saya tiba di Singkawang pada tanggal 8 Juli untuk melanjutkan workshop penciptaan yang telah berlangsung sebelumnya (26-30 April 2018). Sebagai fasilitator yang tidak sempat terlibat dalam workshop tersebut tentu saja saya membawa sejumlah pertanyaan. Beberapa peserta pernah saya temui dalam kedatangan kami pada bulan Februari lalu saat perayaan Cap Go Meh. Selain peserta, saya juga penasaran dengan apa yang telah berlangsung paska workshop penciptaan yang diampu Ugoran Prasad dan beberapa kawan lain. Tentu saja saya telah mengoleksi sejumlah informasi bahwa tim peserta Singkawang berkehendak untuk melanjutkan workshop penciptaan tersebut lebih jauh lagi, yakni menyusun sebuah pertunjukan bersama. Kehendak ini kemudian dikuatkan dengan pembuatan kesepakatan bersama hingga penyusunan jadwal pertemuan rutin di antara mereka, pada kedatangan dan pertemuan bersama Arsita di akhir bulan Juni 2018.

Informasi lain yang saya dapatkan adalah sulitnya teman-teman peserta untuk berkoordinasi, bertemu dan memulai proses penciptaan bersama. Saya paham bahwa penciptaan bersama, apalagi kolaborasi berbagai seniman dari disiplin yang berbeda dan belum pernah berproses sebelumnya, tentu butuh syarat yang tak mudah. Dengan seluruh situasi yang ada, ketika kembali dipertanyakan komitmen masing-masing seniman dalam proses panjang ini, mereka tetap pada niatan awal: berkumpul dan membangun karya bersama.

Berkumpul adalah syarat pertama yang sayangnya tak bisa dipenuhi dengan mudah. Dalam pertemuan pertama, 9 Juli, di Singkawang Cultural Center, hanya hadir 4 peserta workshop terdahulu, setelah menunggu 4 jam dari kesepakatan. Trino, Mpok Yanti dan 2 aktor muda dari Tebs, binaan Mpok Yanti. Helen menyusul belakangan bersama Tia, kawan baru, seorang penyanyi. Workshop tetap berlangsung sembari terus saya bersama Akbar mencoba membaca situasi dan mencari jalan keluar. Target saya adalah mempertajam pertanyaan yang sudah muncul dalam workshop sebelumnya. Target tersebut tercapai, meski masih menyisakan soal, bagaimana dengan mereka yang tak hadir dan sebelumnya turut merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang akan menjadi pintu mereka memasuki proses penciptaan tersebut adalah: Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

Hari kedua jam workshop kami undurkan lebih larut agar tak terjadi lagi situasi saling tunggu. Dan ternyata peserta malah berkurang. Trino mendadak mesti ke Pontianak. Tinggal Mpok dan kedua muridnya yang terus intens melanjutkan workshop. Helen dan Tia kembali merapat sebelum workshop berakhir. Hari kedua saya dan Akbar membekali peserta dengan sejumlah alat untuk menggali sumber di lapangan. Esoknya mereka akan turun ke Pasar Hongkong sampai beberapa hari ke depan. Malam itu juga saya dan Akbar kembali ke Pontianak dan melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti program Cabaret Chairil yang berlangsung di Teater Garasi.

Tanggal 22 Juli saya kembali ke Singkawang untuk melanjutkan workshop. Sehabis mereka mendapatkan data dan informasi dari Pasar Hongkong, saatnyalah mengubah seluruh temuan itu menjadi inspirasi penciptaan. Target saya dalam pertemuan kali ini adalah menyusun kerangka dasar pertunjukan.

Hari pertama, setelah perjalanan panjang menuju Singkawang, saya segera menuju gedung pertemuan Mess Pemda yang disepakati. Saling tunggu hingga 4 jam terjadi lagi. Dan setelah menunggu sekian lama terkumpullah beberapa seniman muda Singkawang. Trino, Mpok Yanti dan anak-anak Tebs tetap menjadi peserta yang bisa diandalkan untuk menjaga keberlangsungan proses. Boncu dan seorang seniman muda dari Bengkayang menjadi pembeda dari peserta workshop sebelumnya. Workshop hari pertama saya gunakan untuk mengecek temuan-temuan mereka di lapangan. Masing-masing orang saya minta untuk bercerita, karena tak ada tulisan atau pun gambar yang mereka bawa selain beberapa rekaman video.

Hari kedua kami sepakati lagi jam workshop agar tak terjadi peristiwa saling tunggu yang cukup menghabiskan energi. Jam 19.30 ditetapkan. Dan tetap saya menjadi orang pertama yang hadir. Barulah jam 21.00 kami memulai workshop. Saya sudah meminta mereka membawa hasil riset yang lebih kongkrit yakni berupa tulisan dan gambar. Tapi hanya Mpok Yanti yang membawa selebar kertas berisi syair lagu ciptaannya tentang Pasar Hongkong. Saya beranjak dari situasi tersebut dengan memberikan beberapa latihan dasar sebagai persiapan mereka untuk menubuhkan seluruh hasil temuan mereka: tubuh menafsir imaji. Di hari kedua ini Arsita Iswardhani bergabung untuk mendampingi saya.

Hari ketiga, dengan jumlah peserta yang berubah lagi, selain Trino dan Mpok Yanti, kami mencoba menubuhkan hasil wawancara dan rekaman video. Hanya dua peserta yang secara aktif mengikuti workshop, yaitu Rizki dan Gustian, anak-anak dari Sanggar Tebs. Di akhir workshop mereka berdua menyajikan kodifikasi mereka. Saya menutupnya dengan mencoba menyusun kodifikasi-kodifikasi tersebut menjadi sebuah repertoar pendek.

Tanggal 25 Juli, hari terakhir kami berada di Singkawang, kami gunakan untuk me-review seluruh proses yang telah berlangsung. Forum ini juga kami gunakan untuk menimbang kesepakatan awal yang tak berjalan sebagaimana yang direncanakan, dan mengembalikan seluruh keputusan berlanjutnya proses kepada peserta. Sebuah tantangan: jika proses bersama belum bisa berlangsung—karena beberapa syarat yang belum terpenuhi, apakah proses bisa dilanjutkan secara individual. Mari kita tunggu.

 

 

 

Sumbawa Hari Ini: Workshop Penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia

Rabu, tanggal 11 April 2018, bertempat di Istana Dalam Loka, workshop penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia dibuka oleh Bapak H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa.

Kegiatan workshop ini diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumbawa dan didukung oleh sejumlah komunitas seni di kota tersebut. Selama lima hari, dari tanggal 11-15 April 2018 workshop berlangsung di dua tempat, yaitu Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih. Fasilitator workshop antara lain Dendy Madiya, MN. Qomaruddin, Shohifur Ridho’i, dan Venti Wijayanti dari Teater Garasi. Adapun peserta workshop datang dari beragam komunitas, organisasi dengan beragam usia dan profesi.  Peserta workshop yang terlibat antara lain dari Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain.

Dalam workshop ini peserta diperkenalkan dengan metodologi ‘Penciptaan Bersama’ Teater Garasi yang diformulasikan dalam enam tahap: (1) menentukan pertanyaan, (2) riset, (3) improvisasi, (4) kodifikasi, (5) komposisi, dan (6) presentasi.

Hari pertama dan kedua workshop, peserta menemukan dan menentukan dua isu yang nantinya akan diolah menjadi karya bersama, yaitu ‘lingkungan’ dan ‘buruh migran’. Dalam isu lingkungan peserta mengajukan pokok soal seperti industri pariwisata, kedaulatan pangan dan pertanian. Sementara isu buruh migran berkisar di antara pokok kasus human trafficking, kekerasan seksual dan perlindungan hukum bagi buruh migran. Dalam rangka menungi dua isu besar tersebut, peserta kemudian memberi tema proyeknya: Sumbawa Hari Ini.

Proses selanjutnya adalah membuat karya dari data dan diskusi yang telah diselesaikan pada dua tahap sebelumnya. Meskipun peserta berasal dari disiplin seni yang berbeda, namun mereka justru tertarik dan tertantang untuk menubuhkan diskusi awal ke pertunjukan teater. Pada hari Minggu, tanggal 15 April 2018, presentasi karya berhasil dilaksanakan. Bagi beberapa peserta, presentasi dalam wujud karya seni dan tampil sebagai performer merupakan pengalaman pertama mereka. Selanjutnya diskusi paska presentasi berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan bagaimana seni menjadi alat alternatif dalam menyampaikan isu sosial yang terjadi di Sumbawa.

Lingkungan dan Buruh Migran (Catatan Workshop Penciptaan Bersama: “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” di Sumbawa)

Oleh Venti Wijayanti

Pada tanggal 11 – 15 April 2018 Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop bersama dengan teman-teman komunitas di Sumbawa. Workshop bertempat di Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih.

Workshop hari pertama dibuka oleh H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa sekaligus Kepala Pengurus Istana Dalam Loka. Istana Dalam Loka merupakan tempat yang difungsikan sebagai museum dan pusat kegiatan kesenian di Sumbawa. Peserta workshop yang hadir datang dari berbagai disiplin seni dan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, guru, seniman, dan aktivis buruh migran. Beberapa komunitas yang ambil bagian adalah Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain. Lintas disiplin yang berbeda dan jenjang umur yang beragam membuat workshop menjadi wadah untuk mempertemukan mereka dalam satu percakapan. Jarang terjadi kesempatan berupa kegiatan yang dapat mempertemukan para seniman Sumbawa dari beragam disiplin dan jenjang usia ke dalam satu forum. Workshop Penciptaan Bersama ini adalah salah satu kesempatan itu.

Peserta yang hadir sejumlah 15 orang, dan yang bertahan sampai hari terakhir workshop hanya berjumlah 6 orang. Peserta tersebut adalah Syamsuddin dari SBMI, Mulya Putri Amanatullah, Hadiatul Hasana dari SP, Kardiana dari SP, Dewi Astuti dari Sanggar Tari Mutiara Bungin, dan Reny Suci dari SCS. Praktik workshop penciptaan karya bersama berlangsung sebagai proses mengenali isu lingkungan, sosial, politik, dan perputaran ekonomi di Sumbawa. Proses pengenalan ini berlangsung dari identifikasi benda-benda yang disiapkan oleh peserta workshop, yang sebelumnya memang sudah ditugaskan untuk membawa benda atau tulisan artikel yang menarik tentang lingkungan tempat tinggalnya. Benda yang dibawa beragam dan cukup menarik, antara lain jagung, seragam bekas SMA, foto tari tradisi di Bungin, foto buruh migran, foto anak muda pelaku kriminal, lukisan ikan, boneka, artikel peristiwa kriminal. Narasi cerita yang terangkai dari benda yang dikumpulkan memberikan sedikit gambaran tentang Sumbawa dan karakteristik subjek yang membawa benda tersebut. Keberadaan subjek memberikan kerangka pada sebuah peristiwa memunculkan keluasan pandangan terhadap hal-hal yang terkait pada benda yang dipilihnya.

Isu yang dikemukakan pada sesi diskusi kelompok kecil yang dibagi menjadi dua adalah ‘lingkungan’ dan ‘perempuan buruh migran’ (PBM). Isu lingkungan terkait dengan beberapa kunci yang ditemukan dari proses penceritaan narasi dari artefak yang dibawah peserta workshop. Kata kunci lainnya adalah petani, kedaulatan pangan, pariwisata, tradisi, dan pelestarian. Pada isu lingkungan kaitannya dengan pariwisata dan penanaman bibit jagung hibrida yang mulai masuk pada tahun 2012. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya penanaman jagung pada pembukaan lahan baru di perbukitan yang tersebar di Sumbawa adalah banjir bandang yang diduga efek dari penggundulan hutan di perbukitan. Selain itu juga berdampak pada petani umbi-umbian yang mulai terancam dengan penanaman jagung yang juga menggunakan pupuk kimia untuk mengejar peningkatan hasil panen. Isu lingkungan pada pariwisata diungkapkan bahwa pada umumnya pemerintah membuat kebijakan yang hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi tanpa memikirkan efek dari pelonjakan wisatawan bagi lingkungan. Sumbawa sendiri yang sebenarnya belum mampu menerima wisatawan secara infrastuktur, tetapi pemerintah mulai mengejar peningkatan tersebut dengan cara melakukan praktik ‘disharmonis’ dengan alam.

Isu kedua adalah perempuan buruh migran (PBM). Kata kunci lainnya yang dikemukakan pada tahapan gerbongisasi kuil kata adalah human trafficking, kekerasan (seksual), perlindungan hukum bagi buruh migran. Isu ini menjadi menarik dibicarakan pada waktu sesi diskusi karena terdapat anggota SP dan SBMI yang secara langsung berkerja dengan isu tersebut. Sehingga isu PBM menjadi lebih detail dijabarkan dari alasan yang melatar belakangi banyaknya PBM di Sumbawa sampai beberapa kasus yang terjadi dan kesuksesan buruh migran di Negara-negara seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dll. Banyaknya buruh migran di Sumbawa berkaitan dengan adanya ekosistem yang terdapat di Sumbawa, seperti agen, calo, sponsor, buruh migran sukses. Isu PBM merupakan isu yang kompleks dan sangat dekat dengan masyarakat Sumbawa, karena biasanya PBM merupakan keluarga dekat, saudara kandung, tetangga, dan pelaku agen ilegal juga ada di sekitarnya, biasanya keluarganya sendiri, ataupun di struktur pemerintahan. Isu ini seperti benang kusut yang belum ditangani dengan baik dari segi pencegahan, padahal banyak kasus yang belum terselesaikan. Faktor yang melatarbelakangi untuk menjadi PBM adalah ekonomi atau dorongan keluarga dekat, seperti orang tua.

Proses tahapan workshop selanjutnya adalah gali sumber dengan mencoba praktik riset dan wawancara di pasar tradisional yang ada di pusat kota Sumbawa, yaitu Pasar Seketeng. Semua peserta diberi kesempatan berkeliling di pasar selama dua jam dan diberi tugas untuk mengambil foto, wawancara narasumber, membawa benda yang menarik dan mencatat hasil pengamatan. Pengamatan yang dilakukan di pasar oleh para peserta dilakukan dengan harapan bahwa data yang dicari bisa dijadikan sebagai inspirasi, dan hal yang paling menarik adalah bisa mengetahui bahwa proses ini penting dilakukan dalam metodologi penciptaan karya. Proses kerja gali sumber yang dilakukan bersamaan oleh masing-masing peserta di lokasi yang sama tetap akan mendapatkan informasi yang berbeda sehingga semakin beragam info yang dikumpulkan. Data dari informasi pengamatan saling mengecek satu sama lain sehingga membuka percakapan dan diskusi lebih lanjut.

Hari selanjutnya masuk pada proses improvisasi dari data-data yang didapatkan oleh masing-masing peserta. Pada umumya peserta workshop tetap memilih teater pada bentuk improvisasinya, maskipun latar belakang disiplin dan praktik mereka adalah film, tari, aktvis. Tahapan ini dilakukan peserta dengan mengolah potensi tubuhnya yang difasilitatori oleh Qomar dan Dendi. Pada tahapan ini para peserta mencoba membuka kemungkinan beberapa gerakan dari pengamatan lapangan maupun imajinasi mereka untuk membuat gerakan dengan adaptasi pengolahan tubuhnya. Selanjutnya gerakan dicoba untuk dipraktikkan berulan-ulang dan disusun menjadi komposisi pada masing-masing kelompok. Ada dua kelompok yang menyusunnya menjadi komposisi dari isu buruh migran sebagai narasinya. Komposisi yang muncul adalah gerakan tubuh teater dan tari, serta terdapat dialog yang dimunculkan  dan juga narasi bacaan dari potongan artikel yang ditemukan. Sebagai bentuk praktik penciptaan para peserta workshop di Sumbawa sudah memahami alur dan bentuk praktik sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya yang bisa disusun atau diulang lagi proses pengamatan dan gali sumbernya. Kemudian dipraktikkan, direkam/diingat dan dikaji ulang pada bentuk penciptaannya.  Kemudian pada hari terakhir adalah presentasi.

Proses tahapan workshop ini diharapkan dapat dipraktikan menjadi metodologi penciptaan karya bersama, dan jelas sangat terbuka untuk dimodifikasi sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial yang melatari isu dan penciptaannya maupun konteks produksinya. Workshop selama lima hari di dua tempat berbeda memberikan pengalaman penciptaan, kerjasama kelompok, dan khususnya pemahaman akan waktu yang terlihat pada dinamika kelompok selama workshop. Muncul potensi-potensi para peserta yang beragam dari latar yang juga beragam. Selain itu terdapat pertemuan antara seniman senior dan seniman muda yang dikesehariannya sering tidak bisa bertemu dan berdiskusi karena perbedaan pandangan. Dan juga pada awalnya, mitra penyelenggara workshop bersama Dewan Kesenian Sumbawa tetapi pada prosesnya terselenggaranya juga mendapat dukungan besar dari komunitas Sumbawa Cinema Society, terutama dukungan dari Bapak Hasanuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dan juga seorang maestro tari di Sumbawa, salah satunya memberikan rekomendasi dan surat ijin untuk Dewi Astuti, peserta workshop dari Pulau Bungin yang berprofesi sebagai penari dan guru untuk mengikuti workshop secara penuh.

 

Singkawang: Pluralitas Adalah Niscaya

Oleh Akbar Yumni

 

Pluralitas adalah niscaya. Sekecil apapun sebuah komunitas, meniscayakan sebuah pluralitas di dalamnya. Narasi ini berangkat dari premis keniscayaan akan sebuah pluralitas, termasuk dalam entitas sekecil apapun mengandaikan pluralitas di dalamnya.  Keniscayaan pluralitas tersebut menyebabkan bahwa sebuah komunitas tidak lagi berkutat pada orisinalitas dari sebuah identitas atau tradisi yang berlangsung, karena telah tergerus secara terus menerus dengan pergaulan antara masa lalu dan kekiniannya. Dampak pluralitas ini juga mengandaikan dalam cara memandang masa lalu, di mana perihal ‘asal-usul’ bisa digadaikan dan menjadi sebuah narasi yang selalu bergerak dan terbuka sesuai dengan kebersituasian dari penuturan yang berlangsung.

***

Pembacaan terhadap Kota Singkawang dalam waktu yang singkat, misalnya, sebagaimana para turis yang biasa datang ke Kota Singkawang pada rutinitas ritual tradisi Cap Go Meh, bisa diandaikan melalui pengalaman seseorang yang berharap melihat sebuah fenomena yang ‘menarik’ atau ‘keanehan’ di sebuah masyarakat yang dianggap ‘terpencil’, atau sebuah lanskap yang penuh dengan kode-kode visual dan identitas yang ‘asing’ atau terliyankan. ‘Peliyanan’ itu sendiri bisa jadi adalah sesuatu yang terkadang melekat pada mental  orang yang berasal dari luar dalam memandang sebuah entitas yang lain, sebagaimana para pelancong datang mencari makanan yang khas, atau tempat-tempat dan artefak-artefak yang khas di suatu tempat, kontruksi ini berlanjut dalam cara memandang masyarakatnya yang menjadi identik dengan lanskap menu makanan dan artefak hingga yang sering luput adalah masyarakat juga para individu-individu yang khas dan beragam.

Keniscayaan pluralitas sebagaimana berlangsung di Singkawang, adalah wilayah plural yang muncul sebagai sebuah persilangan dari banyak kultur dan sejarah ekonomi politik yang melingkupinya, juga tidak bisa luput dari sisa-sisa anasir sejarah konflik yang berlangsung pada masa-masa sentralisasi politik baik pada masa kolonial maupun pasa masa pemerintahan Indonesia di masa lalu. Secara umum, Kota Singkawang terbentuk oleh mayoritas komunitas Tionghoa, baik sebagai sebuah wilayah pesisir yang secara geografis cukup strategis sebagai wilayah.

Singkawang mendapatkan penghargaan sebagai 10 kota toleransi se Indonesia pada 2015 dan 2017. Andaian-andaian Singkawang yang mendapatkan penghargaan toleransi sebenarnya memiliki indikator yang berbeda jika memaknai kultur masyarakat sebagai sebuah perilaku dan tindakan keseharian—Sebuah lembaga non-government, Setara Institut, yang memberikan penghargaan dengan menempatkan Singkawang sebagai 10 kota yang memiliki indeks toleransi tertinggi di Indonesia berdasarkan indikator kebijakan pemerintah yang berpihak dan mengakomodir  toleransi.  Pluralitas  berdasarkan struktural ini sebenarnya masih bisa dilihat lagi berdasarkan keseharian para warganya, dalam melakukan pola perilaku kesehariannya, karena pluralisme sebenarnya berangkat dari para individu dalam memandang perbedaan di dalam kesehariannya.

Singkawang yang sebagian besar terdiri dari tiga identitas, Dayak, Melayu dan Tionghoa. Dari beberapa komunitas seni yang terdiri dari anak muda yang ditemui misalnya, beberapa diantaranya seakan membentuk semacam pola tersendiri, di mana nyaris tidak ada individu Tionghoa yang secara keseharian bergaul dengan individu dari identitas lainnya. Meski kemudian ada satu atau dua individu yang bergabung di sebuah sanggar, namun hal tersebut bukan dalam praktek komunitas dalam pengertian pergaulan atau membangun sebuah kelompok bersama atau organik, tetapi lebih pada praktik mekanisme fungsional, seperti kursus tari atau seni lainnya. Pola-pola sosial keseharian ini sebenarnya menjadi sangat tipikal di beberapa wilayah lainnya. Keseharian perbauran antara identitas Dayak, Melayu, dan Tionghoa sebenarnya bisa kita lihat dalam keseharian ekonomi seperti di rumah makan, pekerja dan lain sebagainya.

Suasana kota Singkawang, sebagaimana halnya di Pontianak, di mana di sepanjang jalan banyak warung atau kedai kopi, para anak muda biasa berada di sana dengan akses wifi secara gratis. Selain terdapat beberapa sanggar tari, dan pelaku filem secara individu, dari laman Youtube memperlihatkan bahwa ada inisiatif para pembuat filem di Singkawang secara individu membuat filem yang berbasis bahasa lokal setempat. Kultur produksi independen ini seperti yang juga ada di Medan, di mana para pembuat filem lokal membuat produksi sendiri dengan reproduksi atau menggunakan laman youtube. Penanda yang paling khas dari fenomena produksi filem lokal ini adalah penggunaan bahasa daerah sebagai sebuah usaha mendekatkan produksi filem dengan para warganya sendiri, atau mencari basis penonton yang dekat dengan lingkungan.  Namun secara sinematografis, bahasa visual yang digunakan oleh para pelaku pembuat filem di Singkawang ini masih menggunakan anasir-anasir bahasa filemis yang dominan, karena mungkin tujuannya adalah mencari sebanyak mungkin penonton.  Fenomena produksi filem di Singkawang, membawa kata kunci-kata kunci identitas kedaerahan adalah pada bahasa lokal, meski kemudian anasir identitas sebuah masyarakat Singkawang belum terlihat pada gambaran karya seninya dan juga belum menggambarkan keseharian mereka yang khas.

***

Tradisi Cap Go Meh menjadi sebuah tujuan utama bagi para pelancong di Singkawang. Tahun 2018, menjadi sebuah perayaan besar Cap Go Meh, yang ditandai dengan kedatangan para pejabat negara dari pusat (kabarnya para menteri agama dan olah raga hadir pada perhelatan tersebut), dan keberadaan lampion yang kabarnya memecahkan rekor MURI dan 9 Naga yang dihadirkan pada perhelatan tahunan tersebut. Dalam spasial ini, Cap Go Meh juga dihadiri oleh banyak kalangan di luar masyarkat Tionghoa, bahkan beberapa masyarakat beridentitas di luar Tionghoa, juga terlibat sebagai pelaku Cap Go Meh, seperti sebagai tukang panggul kursi yang diduduki oleh para Tatung. Menurut beberapa keterangan, pengangkat kursi Tatung atau artefak-artefak Cap Go Meh lainnya ini di bayar sekitar 10-50 ribu, dan kebanyakan para pengangkat  yang memang cukup berat ini, diisi oleh para warga diluar identitas Tionghoa yang ada di Singkawang.

Ada sembilan Naga dalam perayaan Cap Go Meh kali ini di Singkawang. Dari desain Naga tersebut nampak sebuah keseragaman Naga, yang berbeda hanyalah warna dan ukuran, namun secara umum terlihat bahwa Naga tersebut dibikin oleh satu pihak. Dari beberapa keterangan yang ada, Naga bagi perayaan Cap Go Meh tersebut dibiayai oleh sebuah yayasan  yang berasal dari sebuah perkumpulan para penguasaha di Singkawang. Ada semacam hubungan mutual antara sebuah tradisi dan relasi modal ekonomi yang melingkupinya.  Cap Go Meh sendiri adalah tradisi Tionghoa yang khas Indonesia, di mana di Negara Tiongkok sendiri perayaan macam Cap Go Meh tidak ada. Meski beberapa elemen dari  Cap Go Meh adalah sebuah tradisi yang berasal dari Tiongkok, namun akulturasi pada Cap Go Meh bisa kita lihat pada Tatung yang merupakan praktik saman yang dipengaruhi oleh masyarakat Dayak, seperti keberadaan Tatung dan daya mistisnya. Dalam spasial ini akulturasi Cap Go Meh  telah mengendap sekian lama dan bahkan saking subtilnya, Cap Go Meh menjadi sebuah  tradisi Tionghoa an sich tanpa proses pengendapan akulturasi didalamnya.

Beberapa kultur dan tradisi Tionghoa di Singkawang sebenarnya sudah hampir pudar. Seperti beberapa pengrajin Barongsai yang juga hampir tidak hidup lagi. Demikian pula dengan wayang Potehi yang biasa nya juga dimainkan di perayaan Imlek, di mana tahun ini tidak dimainkan lagi karena dalang dari wayang tersebut sudah berumur tua dan sakit. Dari keterangan sang istri, sang Dalang sudah tidak bisa bermain, dan sebenarnya mereka mau melatih bermain wayang Potehi secara gratis, namun tidak ada generasi muda yang mau belajar wayang Potehi. Nasib wayang Potehi ini juga ditambah dengan musibah di mana rumah mereka terbakar, sehingga harus pindah—dari beberapa keterangan kecelakan kebakaran tersebut juga dilatari oleh relasi horisontal yang tidak harmonis di antara komunitas mereka sendiri. Beberapa kultur masyarakat Tionghoa di Singkawang lainnya adalah adanya kursus bahasa Mandarin dan menulis aksara Mandirin.

 

Foto oleh Arum Tresnaningtyas

Fleksibilitas Pendekatan Penciptaan Bersama

Oleh: Haries Pribady

Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop penciptaan dengan melibatkan pelaku seni di Kota Singkawang. Dengan mengusung tema Bertolak Dari yang Ada, Bicara pada Dunia, workshop  dilaksanakan di Singkawang Cultural Center selama lima hari dari tanggal 26 April hingga 30 April 2018.

Workshop dipandu oleh empat orang instruktur, yakni Ugoran Prasad, Akbar Yumni, Arum Tresnaningtyas, dan Arsita Iswardhani. Penulis pada mulanya berpikir bahwa ini merupakan workshop teater. Hal ini mengingat instruktur workshop berasal dari Teater Garasi. Sebuah kelompok teater di Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, workshop penciptaan kali ini berbasis pada konsep bahwa sebuah karya bisa diciptakan dan dihubungkan dari ide banyak orang. Hal ini merupakan pengalaman baru penulis. Karena pada umumnya sebuah penciptaan karya baik itu sastra dan kriya, misalnya, mengandalkan intuisi dan imajinasi penciptanya sendiri. Penciptaan bersama menawarkan sebuah hal yang baru. Memang terlihat tidak biasa, tapi ini dilakukan atas upaya untuk mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiran-pikiran para pencipta. Workshop “penciptaan bersama” adalah upaya untuk mencari persinggungan antara tiap ide, sehingga pada akhirnya tercipta sesuatu yang mewakili setiap penciptanya.

Workshop penciptaan bersama dilakukan dengan santai. Dimulai dari pukul tiga sore hingga sepuluh malam, workshop dilalui oleh peserta dengan sangat nyaman. Tidak kaku dan jauh dari kesan formal, dalam workshop ini peserta diajak berdiskusi. Bahkan diskusi kelompok dilakukan selama dua hari berturut-turut hanya untuk menemukan ide awal.

Sebagian besar workshop dilakukan di dalam gedung teater. Namun beberapa kali instruktur mengajak peserta keluar ruangan untuk melakukan olah tubuh sambil mengenalkan materi viewpoints. Diskusi di awal-awal workshop pun dilaksanakan di luar ruangan sambil berselonjor di teras teater.

Secara umum, workshop yang dilalui oleh 30 peserta terbagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama, peserta diajak untuk merumuskan pertanyaan-pertanyan yang sifatnya kontekstual dengan realitas. Setelah itu, pertanyaan tersebut dielaborasi sehingga peserta menemukan persinggungan pertanyaan antarpeserta.

Setelah itu, persinggungan tersebut diubah ke dalam sebuah bentuk dasar. Di dalam workshop, bentuk dasar yang dipilih adalah berupa pose. Dengan level, tempo, dan jarak tertentu.  Dengan tetap berpegang pada persinggungan pertanyaan, pose yang dibentuk oleh setiap peserta dikolaborasikan dalam suatu panggung pertunjukan.

Ketika sampai di hari terakhir, penulis baru menyadari bahwa workshop kerangka penciptaan seni ini adalah kegiatan untuk menghasilkan sebuah pertunjukan tanpa berpegang pada naskah. Tentu ini merupakan sebuah hal yang menarik dan unik. Di dalam kajian dramatologi yang penulis ikuti beberapa tahun lalu, pendekatan penciptaan ini belum begitu populer, bahkan sama sekali tidak diajarkan.

Workshop kerangka penciptaan seni adalah sebuah pendekatan baru. Setelah ditelaah lebih lanjut, pendekatan ini tidak secara spesifik dikhususkan untuk penciptaan seni teater. Langkah-langkah yang ada di dalam pendekatan bisa diimplementasikan ke dalam penciptaan karya yang lain. Karya sastra dan karya seni rupa misalnya.

Dengan fleksibilitas yang dimilikinya, pendekatan ini memungkinkan sebuah karya diciptakan secara bersama. Bukan dengan mengenyampingkan ide-ide pencipta dan pelaku seni, justru pendekatan ini mampu membawa pencipta untuk bertemu dengan titik singgungan ide-ide pencipta. Hal ini  sangat bagus, mengingat bahwa salah satu kriteria karya seni yang baik bukan hanya berpatokan pada estetika, melainkan juga pada kemampuannya merepresentasikan realitas lewat sebuah ciptaan.  Satu hal yang paling penting, pendekatan ini menjadikan sebuah teater tidak hanya sebatas media pertunjukan, melainkan membentuk teater sebagai perepresentasi dan pembentuk realitas. Dua hal yang bisa dilaksanakan oleh sebuah karya secara bersamaan.

Singkawang, 30 Mei 2018

Foto oleh Juan Arminandi

 

Berkenalan Lewat Isu, Berbicara Dengan Tubuh

Oleh Reny Suci

Kunjungan teman-teman dari Teater Garasi pada bulan Maret adalah momen yang menyenangkan bagi saya. Pada kesempatan itu, saya berjumpa dengan kawan-kawan super santai yang datang dengan niat untuk berdiskusi tentang Sumbawa. Bagi saya, setiap diskusi santai yang dilakukan adalah ‘rasan-rasan berfaedah’. Bukan diskusi berat macam pegawai pemerintah, atau perbincangan filosofis penuh istilah sulit seperti akademisi. Kami berbicara mengenai banyak hal, hingga saya kemudian menyadari bahwa ternyata saya ini masih sangat kuper! Banyak hal yang terlewat padahal semua ada di depan mata saya.

Kunjungan kedua pada bulan April agak sedikit memalukan bagi saya. Saya merasa seperti tuan rumah yang tak siap dikunjungi tamu. Di hari pertama, saya tidak menyediakan semua barang yang dibutuhkan terkait isu yang terjadi di Sumbawa, di hari kedua saya tak bisa hadir, di hari ketiga hingga hari terakhir saya selalu datang terlambat dan harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Tapi saya sangat salut dengan kesabaran teman-teman dari Teater Garasi yang sangat santai saja menghadapi kami (terutama saya).

Hari pertama workshop cukup membingungkan bagi beberapa orang, tapi bagi saya ini adalah kesempatan yang baik untuk berdiskusi dan berbagi kegelisahan bersama. Kami berdiskusi santai di bawah kolong Istana Dalam Loka sambil menikmati kudapan dan dibuai sejuknya angin yang berhembus. Mungkin itu sebabnya diskusi kami tidak panas dan alot. Meski santai, diskusi itu merumuskan dua permasalahan yang penting untuk dibicarakan: lingkungan dan buruh mingran.

Karena berhalangan hadir di hari kedua, maka saya loncati saja ke hari ketiga. Bagi saya, materi pada hari ketiga lumayan menguras lemak karena kami diarahkan untuk bergerak dengan kata kunci tertentu. Saya terkejut ketika tubuh saya merespon dengan gerakan dan pose yang cukup aneh yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya lebih kaget lagi ketika melalui materi tersebut, saya bisa berinteraksi tanpa merasa canggung dengan Dewi, Atul dan Diana yang baru saja saya kenal. Hari keempat hingga hari terakhir, kami masih berproses dan mengikuti tahapan-tahapan yang telah dijelaskan sebelumnya. Tahap kodifikasi ini menarik karena di sini kami diminta untuk memperagakan ulang gerakan-gerakan dan pose yang sudah kami lakukan sebelumnya. Di sini saya belajar gerakan Joge’ Bungin dari Dewi, seorang penari dari Bungin dan gerakan yang dibuat oleh Syam, seorang aktifis buruh migran. Setelah itu kami diminta untuk membuat komposisi dari kumpulan gerakan-gerakan yang telah dipilih.

Kami, enam orang yang bertahan di hari kelima harus membuat komposisi. Ini membuat kami terpecah menjadi dua kubu: Syam dan teman-teman perempuan (Diana, Dewi, Mulya, Atul dan saya). Syam berpikir sendiri membuat draft cerita sederhana, sementara teman-teman perempuan sibuk menentukan urutan gerakan sesuai kode yang ada untuk membentuk cerita. Ternyata Syam lebih cepat merumuskan alur, yang kemudian kami kombinasikan dengan rincian gerakan yang telah dibuat oleh teman-teman perempuan. Proses ini menunjukkan bahwa ternyata kami memiliki pikiran yang sama walaupun berproses dengan cara yang berbeda. Hingga saat presentasi tiba, kami yang sebagian besar bukan pemain teater ternyata mampu menerjemahkan gagasan menjadi gerak dan narasi yang berawal dari kegelisahan bersama yang telah kami rumuskan sebelumnya. Presentasi ditutup dengan alunan suara Syam, gerakan tari dari Dewi dan komando dari Mulya. Saya rasa, proses itu menunjukkan bahwa kami semua telah menekan ego masing-masing demi mewujudkan sebuah karya sederhana. Terima kasih, Mas Qomar, Mbak Venti, Mas Dendy dan Mas Ridho!

Satu hal yang paling penting jika harus berbicara mengenai refleksi workshop kemarin, saya datang dalam keadaan kosong, pulang dengan kepala dan jiwa yang terisi penuh. Jika jiwa dan otak saya diibaratkan jerigen air, maka stok ilmu, pemahaman dan pengalaman yang saya punya sebelumnya saya pinggirkan dulu. Saya membawa jerigen kosong untuk diisi inspirasi, metodologi, gagasan, pandangan, sikap, kawan dan partner baru. Saya menemukan kembali bentuk komunikasi yang telah lama saya tinggalkan dan berkenalan dengan cara yang unik: melalui tubuh dan gerakan.

Kita Tidak Sendirian Jika Ada Isu Bersama yang Membuat Kita Gelisah

Oleh Mulya Putri Amanattullah

Sehari sebelum workshop kami diberi tugas untuk membawa benda 3D, teks, dan gambar 2 dimensi, saya sempat kebingungan, buat apa kita mengikuti workshop tetapi harus ada tugas yang kita kerjakan dan diminta full 5 hari, terlebih lagi yang dari lingkungan kuliah hanya saya dan Marsa, semakin bingung saya, tetapi pada akhirnya mulai mengerti setelah dibantu oleh mbak Venti.

Pada hari pertama saya membawa berita tentang kekerasan seksual, foto pelaku kekerasan seksual dan baju sekolah yang sudah dicorat-coret. Pada awal pertemuan, saya merasa ini akan biasa saja karena kesan awal yang hanya menggunakan penjelasan menggunakan papan tulis tetapi ketika diberikan waktu untuk menjelaskan dan mencari kata kunci yang tepat dari apa yang kita bawa ternyata beberapa orang merasakan hal yang sama dan sepemikiran dengan saya.  Hari pertama yang awalnya saya mengira akan ramai tetapi tidak sesuai ekspektasi.

Di hari pertama beberapa orang sudah mulai saling mengenal, beberapa pembicaraan mulai nyambung. Berlanjut di hari kedua beberapa orang mulai izin, beberapa orang mulai datang terlambat. Keseruan dihari kedua adalah kita menjelajahi pasar. Saat di pasar kita diminta berkeliling dan bertemu siap saja selama 45 menit. Saya kembali, ternyata beberapa orang sudah sampai terlebih dahulu di Istana Dalam Loka. Yah, menurut saya apa yang sudah disepakati sejak awal memang harus direalisasikan, bukan ditinggal.

Pada hari ketiga mulai datang orang yang baru dan mencoba berproses bersama, kita sudah mulai mempelajari tempo, mengembangkan pose dan lain sebagainya. Hari ketiga adalah hari paling menyenangkan menurut saya karena kita langsung pada praktiknya dan membutuhkan banyak tenaga. Seru dan banyak tertawa, banyak senyum, saling melihat ekspresi dan banyak sekali mengimajinasikan sesuatu. Kita mulai mencoba improvisasi, ternyata sulit menyatukan kepala yang tua dan yang muda, beberapa memikirkan alur agar dibuat dengan cara yang baik, beberapa lagi memikirkan ‘yang penting ini jadi’. Tetapi ternyata hal tersebut membawa dampak. Itu wajar terjadi, namun yang terpenting adalah tidak membesarkan permasalahan itu.

Hari keempat ada yang izin, ada yang masih terlambat juga, ada yang datang lagi, kesulitnya dalam improvisasi di hari keempat adalah saat pemain atau peserta selalu mencoba memberikan stimulus dan meminta respon dari orang lain tetapi ketika diberi respon dia malah tidak merespon kembali, nah ini yang paling sulit untuk disatukan. Sisi emosional orang tua dengan anak muda berbeda, perasaan orang tua juga harus lebih dalam untuk dipahami dikarenakan jam terbang mereka lebih tinggi. Akan tetapi semuanya tetap berjalan dengan lancar, dan di hari akhir hanya tersisa 6 orang saja, dan ternyata ini membuat saya kaget, tetapi mau bagaimana lagi. Kita sampai ke tahap persentasi dan ternyata berjalan dengan lancar dengan dukungan dari 6 orang yang telah berusaha memberikan yang terbaik.

Kekecewaan saya tentang workshop ini adalah ternyata sulit sekali untuk bertemu. Saya berharap bertemu dengan orang-orang yang berkesenian di Sumbawa, ternyata mereka masih ada kesibukkannya, beberapa orang tua mungkin menganggap ini tidak penting tetapi bagi saya ketika mendapatkan kesempatan itu adalah momen yang harus dimanfaatkan terlepas dari banyak atau tidaknya jam terbang yang sudah kita punya, saya berharap sekali banyak peserta yang akan mengikuti dan saling berbagi ilmu.

Saya mendapatkan ilmu, metodologi yang baru, keluarga baru, mencoba memahami sifat dan karakter orang-orang baru, cara pandang yang  baru dan ternyata kita tidak sendirian jika ada isu yang membuat kita gelisah, kita hanya perlu mengumpulkan orang-orang dengan kegelisahan yang sama dan kita realisasikan kegelisahan itu dengan berbagai media, baik itu teater, puisi dan lain sebagainya.

Ternyata untuk mementaskan sesuatu tidak perlu barang barang yang mahal, cukup dengan peralatan yg kita punya di rumah dapat kita aplikasikan sebagai alat pendukung pementasan. Pendekatan yg menarik, mudah diingat, mudah dipraktikkan, dan cara penyampaiannya materi juga tidak terlalu baku. Saya senang karena baik penyelenggara maupun peserta mampu bekerja sama dengan baik dan mudah akrab satu sama lain.

Yang paling berharga adalah rasa nyaman yg sudah terjalin selama workshop, jadi saat kembali ke rutinitas awal saya merasa ada yg kurang. Harapannya adalah ketika suatu hari nanti mengadakan workshop pihak penyelenggara bisa tegas dalam hal kedatangan, maupun kehadiran, dan sudah bisa dipastikan peserta yg benar-benar bersedia terlebih dahulu namun dalam jumlah yg tidak terlalu sedikit pula dan sebisa mungkin jika menyangkut kesenian, orang-orang yg berperan aktif dalam dunia kesenian juga lebih banyak dirangkul atau diundang, tidak hanya orang tua tetapi juga anak anak muda. Saya yakin banyak yang berperan aktif, hanya saja namanya tidak begitu didengar, agar penambahan ilmu atau pengalaman semakin bertambah. Selebihnya workshop yang berlangsung selama lima hari sangat menyenangkan dan jika ada workshop lintas disiplin part 2 di Sumbawa, saya pasti ikut lagi.

 

Seni Adalah Alat, Tinggal Rakyatlah yang Menggunakannya

(Refleksi Selama Mengikuti Workshop yang Diselenggarakan oleh Teater Garasi Bekerjasama Dengan (DKS) Dewan Kesenian Sumbawa)

Oleh Syamsudin

 

Pengentahuan saya tentang teater masih gamang, baik pengetahuan secara teknis maupun, lebih-lebih, pengetahuan atau informasi tentang Teater Garasi/ Garasi Performanca Institute.

Pada umumnya teater di Sumbawa sudah pernah ada sejak tahun 1940-an, demikian ungkap Bapak H. Hasanuddin, S.pd, kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, saat beliau membuka workshop yang berlokasi di Istana Dalam Loka pada tanggal 11 April 2018. Namun perkembangan teater di Sumbawa kecenderungan bergerak lambat, itu dibuktikan oleh minimnya minat dan pemahaman sebagian besar masyarakat Sumbawa terutama lembaga-lembaga pendidikan, seperti kampus-kampus yang ada di Sumbawa. Geliat teater justru ada di kalangan pelajar ketimbang di kalangan mahasiswa, padahal di kalangan kampus teater sangat potensial untuk dikembangakan, apalagi dewasa ini teater adalah media yang cukup representatif sebagai alat atau media dalam menyampaikan suara tentang realitas sosial hari ini, terutama di Sumbawa dengan problematikanya yang tak kunjung usai.

Sebelum saya merefleksikan workshop, saya ingin bercerita awal bertemu dengan Teater Garasi. Tepat di bulan Maret 2018 yang lalu saya kedatangan tamu dari Yogyakarta. Mereka diajak oleh mas Anton Susilo (Sumbawa Cinema Society) ke Warung Titah Cita Rasa Marhaen yang merupakan tempat saya beraktifitas dengan keluarga kecil saya.

Di warung itulah kami berdiskusi tentang isu buruh migran khususnya buruh migran asal Sumbawa. Saya didampingi oleh Roni Septian BK yang merupakan bendahara DPC SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa. Kami banyak bercerita tentang polemik buruh migran dan situasi buruh migran hari ini serta kebutuhan pokok mereka, yakni perlindungan dan perbaikan sistem serta ekonomi keluarganya.
Dari diskusi itulah yang akhirnya teman-teman Teater Garasi mengadakan kegiatan Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”. Selama lima hari (11 – 15 April 2018) kami mendapat banyak hal terutama dasar-dasar dan metodologi dalam membuat karya bersama khususnya teater.

Di hari pertama, saya sendiri masih bingung meski pemateri telah menetapkan alur atau tahapan dalam menggali isu bersama hingga nantinya melahirkan sebuah karya bersama. Bagi saya ini pengalaman pertama mengikuti workshop teater. Kami dibagi dalam dua kelompok, selanjutnya kami memaparkan isu yang sesuai dengan konsentrasi masing-masing peserta. Saya mewakili SBMI dengan isu buruh migrannya, teman-teman yang lain ada yang mengangkat tentang lingkungan, pariwisata dan lain-lain.

Sebelum masuk ke segmen penggalian isu, Qomar (fasilitator) melempar pertanyaan kepada peserta agar mendiskusikan dan menentukan tema besar, akhirnya kami bersepakat mengangkat tema Sumbawa Hari Ini. Setelah berdiskusi Panjang, kami secara Bersama-sama menentukan dua isu yang berbeda namun di satu sisi berkaitan erat juga dengan masyarakat Sumbawa hari ini, yakni isu ‘lingkungan dan perempuan buruh migran’. Menurut kami dua isu ini sangat krusial di Sumbawa hari ini.

Hari kedua kami mengadakan gali sumber di Pasar Seketeng. Praktik ini pengalaman pertama walaupun metode ini sering dilakukan dalam penggalian data persoalan buruh migran (advokasi) selama ini. Namun yang menarik adalah hasil dari gali sumber tersebut kemudian kami menubuhkan temuan-temuan aktifitas pasar yang berhasil kami rekam. Kemudian kami belajar bagaimana membuat karya kolaborasi, meski berbeda-beda namun ternyata bisa disatukan sebuah karya seni di atas panggung.

Hari ketiga, fasilitator menyampaikan tahapan-tahapan dan pengenalan terhadap improvisasi dan metode prosesnya. Hari selanjutnya kami mulai melakukan improvisasi, lalu kodifikasi, dan komposisi, yang dipandu oleh Mas Dandi dan Ridho, meski kami agak sedikit kaku dan belum benar-benar menggunakan perasaan dan tubuh. Dalam berimprovisasi saya mengusir rasa malu dan berusaha untuk lebih serius namun kadang cengengesan juga. hehehe… Maklum, masih pemula.

Hari kelima, kami dipandu oleh Mas Dendi, Ridho dan Venty. Kami melakukan presentasi dari hasil tahapan-tahapan sebelumnya. Nah, di tahap presentasi ini, kami berdisukusi menentukan alur berangkat dari dua isu, yakni Lingkungan dan Buruh Migran, dan kami berhasil mengkolaborasikan dua isu tersebut dan di saat presentasi kami awalnya agak sulit untuk menentukan ending ceritanya walaupun pada akhirnya kami berhasil menuntaskannya dengan sempurna. Hehehehe…, menurut kami begitulah sebagai pemula.

Demikian tentang refleksi selama mengikuti workshop teater selama lima hari, banyak hal yang secara individu saya dapatkan lewat kesempatan ini, dan yang tak kalah penting, Teater adalah media atau alat ideal yang bisa digunakan di Sumbawa hari ini, seperti kata Mas Anton, “seni adalah alat, tinggal rakyatlah yang menggunakannya.” Terimakasih banyak atas ilmu selama lima hari dari Teater Garasi Yogyakarta. Semoga jaya dalam karya….

Ekspresi Budaya Masyarakat Singkawang

Aum Tresnaningtyas

1 Maret 2018. 05.00 WIB. Saya, Gunawan Maryanto dan Arsita Iswardani memulai perjalanan dari bandara Adisucipto, Yogyakarta. Kami bertemu Akbar Yumni di Bandara Supadio, Pontianak, lalu singgah di warung kopi milik Davi. Ditemani kopi jahe dan teriknya kota Pontianak, perjalanan kami tunda sejenak sembari menunggu kedatangan teman kami Pascal yang hendak turut ke Singkawang. Perjalanan Pontianak-Singkawang memakan waktu empat jam. Sehari jelang Cap Go Meh, sejumlah ruas jalan protokol dari pagi hingga sore hari dipadati tatung yang melaksanakan ritual cuci jalan. Dalam bahasa Hakka, tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Ritual tersebut sebagai pertanda untuk membersihkan kota dari roh-roh jahat. Para Tatung beramai-ramai ke sejumlah vihara di Singkawang untuk ‘bertamu’ dan meminta berkah para Dewa untuk kelancaran acara esok hari. Kami tiba terlalu sore dan melewatkan ritual tersebut. Semua hotel dan penginapan di Singkawang full booking. Kami menginap di rumah kawan bernama Kendi yang berlokasi di gang Amal, dimana kampung ini banyak dihuni orang Madura.

Esoknya, pukul enam pagi kami berangkat menuju pekong di kawasan Abadi untuk menyaksikan persiapan kelompok Tatung. Bunyi tambur dan simbal memecah keheningan kota. Jalan Diponegoro Kota Singkawang menjadi panggung utama dan tribun bagi para tamu undangan. Ribuan tatung, barongsai dan replika naga beraktraksi di sepanjang jalan. Tercatat sebanyak sembilan replika naga, 1.038 tatung dan juga 20.607 lampion memecahkan rekor MURI. Kami berbaur berdesakan bersama warga dan wisatawan menikmati festival tersebut. Banyak etnis lain juga terlibat di hari raya etnis Tionghoa ini. Seperti Dayak yang ikut parade tatung. Melayu dan Jawa turut memainkan barongsai atau bergabung dalam rombongan sebagai pembawa tandu tatung.

Perayaan dimulai pukul 07.00 pagi, sempat terhenti untuk menghormati umat Muslim yang menjalankan sholat jumat. Perhelatan dilanjutkan dengan pembakaran replika sembilan naga sebagai penutup. Ritual yang dijadwalkan pukul dua siang ini mundur hingga pukul lima sore. Antusias kami sedikit luntur, lantaran bosan dan akhirnya cukup puas menyaksikan dari kejauhan.

Ekspresi budaya di masyarakat Singkawang masih dilihat melulu sebagai bentuk perayaan dan juga hiburan. Baik perayaan keagamaan maupun perayaan yang lain seperti hari jadi kota. Sanggar-sanggar terbentuk— dan kebanyakan adalah sanggar tari dan musik tradisional Dayak dan Melayu— untuk memenuhi kebutuhan perayaan kota, adat dan agama. Selain Cap Go Meh yang belakangan (sejak tahun 2010-an) menjadi pusat perhatian masyarakat baik dalam skala lokal maupun nasional, perayaan lain yang cukup ditunggu adalah perayaan Gawai atau musim panen bagi etnis Dayak. Perayaan ini jauh lebih kecil dari Cap Go Meh, tetapi menjadi salah satu ruang bagi sanggar-sanggar tari dan musik Dayak untuk tampil.

Tujuan utama kedatangan kami yaitu berkenalan dan membangun kontak dengan para pegiat dan pelaku seni di Singkawang. Komunitas ataupun individu yang sekiranya menarik dan berpotensi terlibat dalam projek AntarRagam.

Film dan fotografi menjadi medium yang banyak diminati. Produksi film lokal yang dibuat dalam format DVD cukup menakjubkan. Distribusi film dilakukan secara mandiri dengan jalur Sambas, Singkawang dan Bengkayang. Film-film dengan bahasa lokal tersebut mengangkat tema-tema yang menghibur seperti percintaan, horor dan komedi. Sineas yang kita temui salah satunya adalah Niken, film dokumenternya pernah memenangkan Eagle Award.

Selain film fiksi, banyak juga yang tertarik membuat film dan fotografi dengan pendekatan jurnalistik. Frino adalah salah satu penggeraknya. Ia sering menggelar workshop dan festival berupa pameran foto dan pemutaran film pendek. Bersama komunitasnya, My Singkawang, ia sempat mengadakan lomba video 60 detik tentang kehidupan dan persoalan kampung nelayan di teluk Mak Jantu, Batu Burung. Sebanyak lima belas video terbaik diputar dan disaksikan masyarakat di pesisir pantai. Menurutnya, anak muda Singkawang punya banyak potensi namun kurang inisiatif. Baru tertarik membuat sesuatu jika ada event. Karena itu, ia sering mengadakan perlombaan atau festival untuk memancing semangat kreatifitas.

Teater kurang diminati anak muda. Kami menemui beberapa pegiat teater muda seperti Hellen, Deri, Anningmu, Prima, Boncu, Yoyo Komik dan pelaku senior, Mpok Yanti. Mpok Yanti memiliki sanggar bernama TEBS (Teater Biak Singkawang ) di kelurahan Setapuk, Singkawang Utara. Ia aktif sebagai pemain teater, penulis naskah, make up artist, aktor, pengajar kesenian dan membuka usaha salon. Mpok Yanti terlibat pertunjukkan teater Mustika Bintang yang sempat dipentaskan di Taman Mini. Naskah Mustika Bintang juga dibuat film kolosal. Ia bercerita tentang sulitnya berkolaborasi dengan komunitas lain. Menurutnya, komunitas masih jalan masing-masing, kompetitif dan kurang mendukung satu sama lain.

Beberapa pegiat teater ini juga memiliki minat lain. Misalnya, Prima juga seorang penyair dan sedang menggagas forum penulis Singkawang. Anningmu, selebgram Singkawang yang konsisten membuat video dubbing dengan bahasa lokal. Yoyo Komik, sebelum tertarik menjadi aktor, merintis karir sebagai komikus sejak 2002 dengan mengangkat cerita-cerita rakyat.

Untuk senirupa, kami berjumpa dengan beberapa pegiatnya di warung kopi sekaligus galeri bernama Kedai Sesama. Galeri yang berumur satu tahun ini pernah menyelenggarakan beberapa pameran, seperti batik dan gambar. Ini adalah tempat berkumpulnya anak muda (SMA dan mahasiswa semester awal) yang tertarik gambar dan tergabung dalam komunitas bernama Muge (Musim Menggambar). Kelompok ini dulu sangat aktif, berkumpul seminggu sekali menggambar di beberapa sudut kota Singkawang. Saat ini sedang vakum. Terhentinya kegiatan ini biasanya terjadi karena para penggeraknya pergi untuk bersekolah, bekerja atau berkeluarga.

Kami bertemu Greg, seorang dayak yang juga tatung. Ia adalah musisi, pemain sape dan perkusi. Greg mengeluhkan minimnya fasilitas gedung pertunjukkan dan kurangnya apresiasi pemerintah Singkawang terhadap kesenian. Tidak ada gedung kesenian, namun dijanjikan akan dibangun panggung teater di SCC (Singkawang Cultural Center). SCC dibangun sebagai ruang kreatif dan tempat Pusat Informasi Kota Singkawang. Bangunan ini merupakan wajah baru dari gedung bioskop lama yang sudah direnovasi. Kami sempat menghadiri peluncuran Singkawang Art and Design Week (SADW) di kawasan Pasar Hongkong, dihadiri Walikota Singkawang yang baru Tjhai Chui Mie beserta wakilnya Irwan. Acara yang digagas oleh para arsitek muda Pontianak ini akan direalisasikan tahun 2019. Kami datang bersama Romo, ayah dari Kendi tempat kami menginap. Ia merasa tersinggung karena tidak ada orang Singkawang yang hadir dan dilibatkan dalam acara tersebut. Romo yang tergabung dalam Kelompok Musisi Jalanan Singkawang (KPJ) mengundang beberapa temannya untuk mengintervensi panggung dengan menyanyikan beberapa lagu.

Banyak potensi seni di Singkawang yang belum terfasilitasi dan diapresiasi dengan baik. Akibatnya, banyak pelaku seni lebih nyaman tampil di luar Singkawang. Misalnya, Greg pernah diundang tampil di Taman Mini dan hanya diapresiasi sebesar 300 ribu. Tidak adanya regenerasi juga membuat kekhawatiran pelestarian kesenian di kota ini. Seperti, terancam punahnya wayang gantung. Cerita lainnya,  Ega adalah satu-satunya pendongeng boneka yang tergabung di Komunitas dongeng Indonesia, belum ada peminat lain. Banyak komunitas yang dulu aktif sekarang bubar perlahan. Semoga kunjungan kami berikutnya dapat memantik dan membangunkan gairah berkesenian di Singkawang.

Catatan Kecil dari Sumbawa

Dendi Madiya

Ketika saya berada di udara, sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Lombok Praya, saya melihat daratan dan perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mungil. Komposisi geografisnya terdiri atas persawahan, ladang, padang rumput, tanah, jalan raya, kelokan aliran sungai, laut dan perbukitan. Area perkotaan berikut pemukiman terkonsentrasi di satu-dua titik dengan pergerakan laju kendaraan bermotor di dalamnya. Warna yang diperlihatkan kepulauan ini adalah hijau, cokelat, juga biru. Binatang berkaki empat berserakan: sapi dan kuda yang sedang bersantap siang.

Saya ingin tahu, bagaimana orang NTB berbicara. Dialek seperti apa yang mereka bunyikan dalam percakapan sehari-hari? Bagi saya, hal itu semacam pintu masuk pertama untuk berinteraksi dengan medan penelitian. Saya memasuki smoking room Bandara Lombok Praya. Petugas bandara yang memakai rompi hijau banyak merokok di situ. Tetapi tak banyak percakapan yang terjadi. Mereka asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, bebunyian game dari smartphone masing-masing terdengar. Satu-satunya tema perbincangan yang sempat saya kuping adalah perseteruan sepakbola Liga Eropa.

Bersama tiga orang rekan, Lusia Neti Cahyani, Shohifur Ridho’i dan Venti Wijayanti, saya berkesempatan mengunjungi Sumbawa dalam rangka menjalankan program Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang bertajuk Performing Differences. Sebuah program yang bertujuan untuk mempelajari isu-isu perbedaan, keragaman dan toleransi, terutama di wilayah timur Indonesia.

Saya tidak banyak mengunjungi kota-kota atau daerah-daerah di Indonesia. Tapi cukup sering saya mendengar atau membaca curahan hati seniman-seniman muda yang berkarya di berbagai tempat di Indonesia. Sepertinya memang ada beberapa persoalan yang sama yang menggelayuti lingkungan berkesenian kita. Saya mendengarnya kembali di Sumbawa ini melalui sejumlah pegiat seni dan sosial di Sumbawa.

Persoalan-persoalan itu diantaranya adalah kesulitan mendapatkan ruang untuk menyelenggarakan kegiatan kesenian bersama publik; regenerasi yang tidak berlangsung pada beberapa sektor bidang kesenian; ketergantungan seniman kepada festival yang diselenggarakan oleh pemerintah; dukungan pemerintah yang belum komprehensif terhadap luasnya lanskap kesenian; pandangan seniman-seniman senior yang masih minor terhadap pembaruan-pembaruan yang diupayakan oleh seniman-seniman penerusnya; masih banyak seniman muda yang tidak berani berkarya keluar dari apa yang disebut sebagai ‘pakem’ yang digariskan oleh seniman pendahulu; mandeknya kreatifitas seniman; seniman masih alergi terhadap diskusi-diskusi; seniman belum mampu menuliskan konsep kekaryaannya; miskinnya isu yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat yang diangkat seniman ke dalam karyanya; kurangnya pengajar atau pelatih kesenian untuk sekolah-sekolah; isu kesenian sebagai pariwisata.

Masalah-masalah itu saya rasakan seperti tersebar dimana-mana di Indonesia ini, tidak hanya di Sumbawa. Memang terkesan sok tahu. Tapi begitulah yang saya rasakan. Seperti ada penyebab yang sama, pengkondisian yang sama, oleh pelaku yang sama, sejak lama, tak kunjung memperoleh jalan keluar.

Sering pula kita mendengar ucapan tokoh masyarakat, pejabat di suatu daerah, seorang seniman yang mengatakan bahwa di wilayahnya terdapat warga dari beragam etnis. Begitu pula Sumbawa. “Sumbawa ini miniatur Indonesia.” Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘miniatur Indonesia’ itu. Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘kampung etnis A,’ ‘kampung etnis B,’ ‘kampung etnis C,’ dan seterusnya.  Warga terbuka untuk kehadiran saudara-saudara dari etnis lain. “Tidak ada pertikaian etnis di Sumbawa,” kata Yuli Andari dari Sumbawa Cinema Society (SCS).

Mereka menemani kami dengan kisah-kisah serta perjalanan ke berbagai tempat di Sumbawa. Selain Andari, dari SCS ada Anton Susilo dan Reny Suci. Tidak ketinggalan, Hallen Muchlis dan Moel dari Sumbawa Visual Art (SVA). Musisi rock, Ferdiansyah dan Muhammad Akbar, yang pernah menyelenggarakan event Rock in Samawa. Juga Lulu yang bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa.

Dari mereka, terendus semangat untuk melakukan perubahan-perubahan, baik kondisi social maupun kesenian Sumbawa. Setidaknya ada spirit untuk tidak tinggal diam, spirit membaca masyarakat, spirit menempuh jalur alternatif untuk keluar dari problema, meskipun ‘kisah-kisah sedih’ memang sudah terlanjur berada di pundak. Kisah-kisah memprihatinkan tentang problema sosial, budaya, kesenian Sumbawa, mengucur dari mereka.

Anton pernah mengangkat kisah (yang tak kunjung habis) mengenai buruh migran Sumbawa ke dalam karya film: problema buruh migran yang berada dalam lingkaran penderitaan, penganiayaan, kematian, juga kegilaan, di samping kesuksesan yang sering diperlihatkan melalui cara berpakaian buruh migran yang berubah mewah sebagai tanda pertama ketika mereka pulang. Lebih dalam mengenai regulasi dan hal teknis lainnya mengenai buruh migran dipaparkan oleh rekan-rekan dari SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa yang juga sempat kami temui. Dari mereka, kami mendengar kisah betapa kompleksnya persoalan yang melingkupi dunia buruh migran. Belum lagi harus berhadapan dengan aparat Negara dari berbagai tingkat untuk mengurus satu kasus yang berlarut-larut sebagaimana diceritakan kawankawan dari Solidaritas Perempuan Sumbawa.

Dengan mengajak banyak pihak diantaranya ikatan-ikatan keluarga beragam etnis yang ada di Sumbawa, Andari menggagas dan mewujudkan program Harmoni di Tanah Samawa (HTS) pada Mei 2017. Andari yang dikenal juga sebagai sutradara film, memasukkan lintas disiplin seni ke dalam acara ini. Selain pemutaran film, ada pertunjukan teater, tari, pawai dan seni instalasi.

Kegiatan yang seperti hendak menghembuskan nafas kerukunan dan perdamaian antar lintas warga di Sumbawa ini, mengambil tempat di Istana Bala Puti (kini disebut Wisma Daerah). Istana ini dibangun tahun 1932-1934 oleh Sultan Sumbawa ke-17, yaitu Sultan Muhammad Kaharuddin III. Sayang beribu sayang, enam bulan kemudian setelah pelaksanaan HTS, istana ini mengalami kebakaran. Kami sempat menyaksikan reruntuhannya. Ada semacam ironi yang saya rasakan ketika berada di situ. Seperti ada lembaran-lembaran sejarah yang tercerabut hilang.

Sebuah kompetisi mural baru saja diselenggarakan oleh SVA yang mengambil tajuk Warna- Warni Kota Kita pada Januari lalu. Kompetisi yang menuntut peserta untuk mendeskripsikan Sumbawa lewat mural ini, mengambil lokasi di Stadion Pragas. “Untuk seni rupa, Sumbawa belum kelihatan,” demikian Hallen membuka pengamatannya. Event yang mereka gelar itu merupakan usaha percobaan untuk mendeteksi kekuatan seni rupa Sumbawa. Sebenarnya mereka masih meraba-raba dalam pelaksanaannya. Di luar dugaan, tingkat antusiasme peserta cukup tinggi dengan jumlah tim mural yang ikut serta sebanyak 50 tim. Ternyata para peserta dari kalangan muda ini menunggu untuk adanya sebuah event dimana selama ini mereka vakum.

Ferdi dan Akbar adalah musisi-musisi muda beraliran rock yang berkiprah di Sumbawa dengan mengangkat isu-isu toleransi. Selain itu, keduanya merupakan pecinta kopi. Pada sebuah kesempatan obrolan, Ferdi mengidamkan banyak kebun kopi di Sumbawa ketimbang kebun jagung. Banyak sudah hutan diubah menjadi kebun jagung dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Sumbawa, cerita Ferdi. “Sudah seperti Jakarta saja, banjir setiap tahun.” Kopi memang untuk orang-orang yang visioner dan penyabar, lanjut Ferdi. “Kalau orang Sumbawa banyak menanam kopi, hatinya pasti damai dan tentram,” begitu imajinasi Ferdi. Akbar sendiri sudah dua kali menggelar event yang mempertemukan para petani kopi dengan konsumen serta diisi pula dengan workshop-workshop pengolahan kopi.

Obrolan-obrolan yang hangat pun berlangsung dengan para pengurus Dewan Kesenian Sumbawa dan beberapa seniman senior dari bidang teater dan seni rupa. Dari sini muncul cerita legenda Tanjung Menangis yang telah dipentaskan berulang kali dalam festival yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu Festival Moyo. Ada kegelisahan-kegelisahan, mengapa hanya legenda ini yang sering dipentaskan, disamping harapan adanya penulisan ulang dengan memasukkan visi-visi baru. Tapi, siapa pula yang akan menuliskannya? Sementara, pada sisi lain, ada sosok seorang aktor senior seperti Pak Jayadi yang kini disibukkan dengan kegiatannya sebagai kepala sekolah sebuah SMK. Pak Jayadi telah beberapa kali mementaskan naskah-naskah dari Arifin C. Noer, Anton Chekov dan Putu Wijaya.

Pada suatu kesempatan, kami memasuki area persawahan di Desa Poto, Moyohilir. Kami mengikuti seorang petani sekaligus seniman yang bernama Papin (Kakek) Prebore. Tubuhnya masih tampak kekar tetapi juga membungkuk. Kakek ini adalah seorang peniup suling dari batang padi atau disebut juga ‘serunai.’ Papin menyibak-nyibak batang padi di sawah dengan konsentrasi penuh. Kami yang bertanya-tanya tentang apa yang dicarinya, tidak digubrisnya.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, Papin meniup-niup batang padi itu. Kami mendengar lantunan nada dari nafas panjangnya. Bagi saya, Papin seperti bagian lain dari peta kesenian di Sumbawa. Jauh dari keriuhan permasalahan, di rumahnya di antara ladang, dia asyik menghayati kesenian dengan ditemani sang isteri.

Ah, kambing kertas. Tentu, yang juga tak dapat dilupakan adalah kunjungan ke Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Di sini, karena tidak ada padang rumput, kambingkambing

jadi pemakan apa saja yang bisa mereka makan, termasuk kertas. Kambing-kambing berkeliaran diantara padatnya rumah penduduk. Inilah wilayah yang disebut ‘daerah terduga kumuh.’ Kesenian yang berasal dari sini adalah joget Bungin. Dewi Astuti dan Ibu Nilam masih bergiat mempraktekkannya, mengajarkannya ke anak-anak dengan iringan musik dari tape dan handphone. Sudah tidak banyak yang mampu menjadi pemusik untuk joget Bungin.

Kontras terasa ketika kami beranjak ke restoran apung dimana angin dan laut seperti mampu menghilangkan kepenatan. Dan kami pulang kembali ke penginapan dengan berdebar karena harus mengarungi perjalanan malam tanpa cahaya lampu mobil.

Kami diantar ke beberapa tempat oleh seorang supir (yang kemudian menjadi kawan) bernama Obi. Lelaki muda belum genap berusia 30 tahun ini merupakan anggota SVA. Di dalam mobilnya, sambil mengantar kita, Obi memutar lagu-lagu dari radio maupun flasdisk. Kita tetap bisa mendengar lagu-lagu Slank, juga Gugun and the Blues Shelter di Sumbawa. Sempat kita nikmati pecel lele dan pecel ayam sebagaimana di kota-kota di Pulau Jawa. Spanduk kain kedai pecel ini masih bernuansa sama dengan kedai pecel di Pulau Jawa: ada gambar lele, gambar ayam, tahu-tempe serta warna-warni yang ngejreng. Tak lupa, Indomart dan Alfamart. Salah satu lokasi mereka di Jalan Hasanudin terlihat dua waralaba ini berdiri berseberangan dan berhadaphadapan langsung

Bersama mereka semua, telinga saya seperti dilatih untuk sabar mendengar. Terbersit dalam hati, belum seberapa berat masalah yang saya hadapi. Pekerjaan ‘mendengar’ bukan perkara mudah. Perlu kemampuan untuk menunda apa yang ingin saya katakan, apa yang saya pikir adalah solusi, karena jangan-jangan apa yang saya ketahui dan pahami belum sebegitu mendalam dari apa yang digulati orang lain.