Catatan Perjalanan Pertama ke Sumenep Madura

Gunawan Maryanto

19 Februari 2017 jam 6 pagi kami, Erythrina Baskoro, Febrinawan Prestianto, Shohifur Ridho dan saya sendiri tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Sejenak kami beristirahat sembari menunggu kedatangan Anwari, salah seorang rekan yang akan mendampingi kami ke Madura. Anwari adalah seorang seniman muda dari Sumenep Madura yang belakangan banyak menjadi perbincangan karena karya-karyanya. Saat ini ia tinggal di Malang bersama istrinya, Elyda K Rara, seorang guru dan pegiat teater dan sastra di Malang. Begitu Anwari tiba di stasiun segera kami sarapan pagi bersama sambil bercakap tentang rencana perjalanan kami.

Selanjutnya kami bergerak menuju Bangkalan, tepatnya ke stadion Karapan Sapi Banyumunih. Di sana kami menyaksikan perhelatan Karapan Sapi. Sebenarnya saya, Giant, nama panggilan Febrinawan Prestianto, dan Anwari berencana untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Sumenep. Sementara Ery dan Ridho akan tinggal di Bangkalan. Tapi pertandingan Karapan Sapi itu tak mudah dilewatkan begitu saja. Akhirnya kami turun semua untuk menyaksikan pertandingan.

Dan sebagaimana rencana saya, Giant dan Anwari kemudian melanjutkan perjalanan. Kami berkejaran dengan waktu untuk segera sampai di Sumenep. Di hari pertama itu kami berencana untuk turut hadir dalam forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran (MSP), sebuah forum pertemuan para pegiat seni di Sumenep. Pertemuan itu berlangsung setiap bulan sekali diikuti oleh pegiat-pegiat seni muda dari berbagai pondok pesantren dan komunitas. Pertemuan bulan Februari ini berlangsung di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Beruntunglah kami sampai di Sumenep tepat waktu, acara yang direncanakan dimulai pukul 3 sore itu belum mulai. Sesampainya di STKIP PGRI Sumenep kami segera berkenalan dengan beberapa pegiat MSP, salah satunya adalah Mahendra Utama. Mahendra adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah di Jogja ia cukup aktif berteater di kampus UIN dan juga beberapa kelompok lain. Di tempat yang sama saya juga berjanji bertemu dengan Syah A Lathief, kawan lama yang dulu aktif di Teater Suto Jogja. Ia sudah pulang kampung dan menetap di Sumenep. Sebagaimana Mahendra, biasa dipanggil Eeng, Syah A Lathief juga cukup aktif sebagai penggerak seni, khususnya teater di Sumenep.

Forum MSP pun berlangsung. Mengalir lancar dengan spontanitas di sana-sini. Eeng dengan Language Theatre-nya juga tampil. Ia dan kawan-kawannya membawakan sebuah repertoar tubuh. Saya sendiri sempat didaulat untuk ngobrol di forum diskusi. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengantar maksud kedatangan tim Teater Garasi ke Madura.

Malamnya kami beristirahat di rumah Anwari yang terletak di daerah Dasuk. Di lingkungan rumahnya inilah Anwari kerap memberlangsungkan proses latihan teaternya dengan payung Padepokan Seni Madura. Di sana kami sebelum beristirahat kami sempat ngobrol-ngobrol dengan kerabat Anwari: Nenek Buyut, Nenek, ayah, ibu dan paman Anwari.

20 Februari pagi kami bergerak menuju rumah Syaf Anton, salah seorang buadayawan senior Sumenep. Ia mengelola situs www.lontarmadura.com. Syaf Anton sendiri juga dikenal sebagai pegiat seni sastra. Meski dalam keadaan yang kurang begitu sehat Syaf Anton dengan hangat menyambut dan meladeni banyak pertanyaan kami tentang keadaan seni dan budaya Madura, khususnya di Sumenep. Selepas dari Syaf Anton kami mengunjungi Museum Kraton Sumenep untuk melihat peninggalan-peninggalan kerajaan yang masih tersimpan di sana. Sebagai sebuah kerajaan yang telah berusia cukup panjang–pertama terdengar sejak jaman kerajaan Singasari di abad ke 13–kraton Sumenep memiliki koleksi yang cukup banyak dan unik.

Di kraton Sumenep kami bertemu kembali dengan Syah A Lathief yang berjanji untuk mengajak kami ke Pinggir Papas, sebuah kawasan yang terletak di pinggir pantai dan dipenuhi dengan ladang garam yang sebagian besar adalah milik PT Garam. Di sana kami bertemu dengan H. Machbub, salah seorang sesepuh Pinggir Papas yang sehari-hari mengelola madrasah yang didirikannya di Pinggir Papas. Beliau banyak bercerita tentang mitologi Angga Suta, seorang tokoh legenda yang dipercaya sebagai penemu garam pertama di pulau Madura. Maghrib memutus percakapan kami yang cukup panjang.

Selanjutnya masih bersama dengan Syah A Lathief kami mengunjungi Kyai Turmidzi Djaka di pondoknya yang terletak di daerah Prenduan. Beliau adalah seorang kyai yang aktif berkesenian. Hapir semua seniman yang kami temui sebelumnya menganjurkan kami untuk bertemu dengannya. Beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki jaringan yang cukup luas baik dengan sesama seniman maupun dengan aparat pemerintahan. Terakhir Turmidzi Djaka terpilih sebagai ketua Dewan Kesenian Sumenep sebelum pada akhirnya sekarang kosong. Percakapan dimulai dengan kegiatannya hari-hari ini yakni membatik. Di pondoknya tampak beberapa santri dan rekan seniman bekerja membatik. Mereka pun turut bergabung dengan percakapan hingga adzan subuh terdengar. Kyai Turmidzi juga dikenal sebagai seorang pemusik. Dengan kelompoknya Adz Dzikir ia sudah melanglang ke banyak kota di Madura dan Jawa. Sekarang ia tak lagi aktif dengan musiknya. Tapi dengan cara yang sama saat ia bermusik ia melibatkan banyak orang di sekitarnya untuk membatik.

Hari itu, 21 Februari, kami memutuskan untuk menginap di rumah Syah A Lathif di daerah Dungkek. Kami beristirahat hingga siang. Selanjutnya kami menuju ke pondok pesantren Annaquyah di mana Kyai M Faizi tinggal. Kami menuju ke daerah Guluk-guluk. Bagi para penyair nama Guluk-guluk dan  Faizi sudah tak asing lagi. Setiap kali ke Madura banyak penulis dan penyair menyempatkan diri berkunjung ke sana. M Faizi dikenal banyak memiliki jaringan dengan para penulis Indonesia. Beliau sendiri adalah juga seorang penulis dan penyair. Lewat percakapan yang hangat beliau menuturkan bagaimana sejarah dan perkembangan seni sastra dan teater yang banyak disukai oleh santri-santrinya. Kami sempat pula melihat latihan teater yang tengah berlangsung di aula pondok. Tampak Mahendra bertindak sebagai pelatih dan sutradara. Selanjutnya kami diminta untuk membuka diskusi bersama dengan para santri yang memiliki hobby sastra dan teater. Selain menggali banyak informasi dari Kyai Faizi kami juga mendapat banyak informasi tambahan dari Mahendra Utama yang banyak melatih kelompok-kelompok teater di banyak pesantren.

Tanggal 22 Februari, secara mengejutkan Syah A Lathief memberi kabar bahwa Bupati Sumenep, KH Busyro Karim bersedia menerima kedatangan kami. Kami pun bergegas menuju kantor dinas bupati. Di sana tanpa menunggu terlalu lama KH Busyro Karim menerima kami. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan Teater Garasike Sumenep, beliau ganti bercerita tentang beberapa program yang hendak berlangsung di Sumenep berkait dengan kebudayaan. Kebetulan tahun 2018 ditargetkan sebagai tahun kunjungan wisata Sumenep. Karena waktu bupati yang cukup terbatas kami pun segera berpamit dan melanjutkan rencana kami untuk bertemu dengan Mahendra di rumahnya.

Di rumah kami menunggu Mahendra yang masih bekerja di sawah. Setelah beristirahat sejenak kami pun makan siang sambil bercakap perihan perkembangan teater di Sumenep. Mahendra banyak bercerita tentang Language Theatre, kelompok yang dipimpin dan dikelolanya saat ini. Di kelompok inilah Mahendra mewujudkan keinginan dan kegelisahannya. Banyak pengalaman yang ditimbanya semasa kuliah di Jogja dia praktikkan bersama kelompoknya. Language Theatre cukup dikenal di Jawa Timur karena beberapa kali mengikuti festival teater di Surabaya.

Sepulang dari rumah Mahendra kami beristirahat sejenak di sebuah warung kopi. Saya berniat untuk melanjutkan beberapa pekerjaan Teater Garasi yang tertunda. Tapi tak berapa lama Anwari kedatangan sepasang suami istri yang merupakan bekas pelatih teater sewaktu SMA dulu. Mereka adalah Mas Imam dan Mbak Yanti. Keduanya juga pernah aktif berteater di STKIP PGRI Sumenep. Dari mereka kami banyak mendapat informasi tentang dinamika teater sekolah. Percakapan mesti berhenti karena malam telah larut.

Hari berikutnya, 23 Februari, berbekal beberapa informasi kami berniat menemui Adi Sutipno, seorang pimpinan kelompok topeng di daerah Salopeng. Setelah menunggu beberapa saat di rumahnya, Pak Sutip pun segera pulang dari tempatnya bekerja. Sehari-harinya beliau bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah. Dari Pak Sutip kami mendengarkan sejarah perkembangan seni tari topeng di daerah Salopeng. Kesenian topeng merupakan warisan turun temurun. Beliau merupakan generasi keempat dari pendiri kelompok seni topeng Rukun Perawas. Pak Sutip sendiri sekarang mengelola kelompok seni topeng Rukun Pewaras yang merupakan sempalan dari kelompok sebelumnya. Kedua kelompok topeng ini masih sama aktifnya hingga sekarang. Mereka masih terus berproses dan berpentas di banyak hajatan masyarakat. Di akhir percakapan Pak Sutip mengajak kami untuk mengunjungi iparnya yang merupakan seniman pembuat topeng. Saya membawa satu topeng Baladewa sebagai kenang-kenangan dari sana. Malamnya kembali kami menginap di rumah Syah A Lathief sekaligus menggali informasi darinya.

Tanggal 24 yang merupakan hari terakhir kunjungan kami ke Sumenep, kami menghabiskan banyak waktu untuk mencatat segala temuan selama kami berada di Sumenep. Pada waktunya kami mesti pergi Syah A Lathief mengantar kami ke terminal. Kami selanjutnya menuju ke Sampang untuk bertemu kembali dengan tim Teater Garasi yang lain.