Kabar Dari Jauh: Membincangkan Buruh Migran di Sumbawa

Kabar Dari Jauh merupakan acara yang secara khusus merespon isu ‘buruh migran’. Isu ini dipilih karena Sumbawa adalah daerah penyumbang buruh migran terbesar ketiga se-Nusa Tenggara Barat. Beberapa kasus yang memantik isu ini dimunculkan dan hendak dibicarakan secara serius adalah: human trafficking, pelanggaran HAM, kekerasan fisik, pelecehan seksual, perlindungan hukum yang lemah, dan pemberangkatan secara non-prosedural yang kerap dialami oleh pekerja buruh migran.

Acara ini digagas oleh Sumbawa Collective (perkumpulan antar komunitas di Sumbawa). Sumbawa Collective akan berkolaborasi dengan warga Desa Pelat yang tergabung dalam Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Komunitas Seni Nagaru (pemuda Pelat) dan Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo. Desa Pelat dipilih sebagai kolaborator dan lokasi presentasi karya sebab desa tersebut merupakan salah satu kantong buruh migran di Kabupaten Sumbawa.

Kabar Dari Jauh diharapkan dapat memunculkan percakapan kritis, refleksi bersama dan bagaimana warga melakukan negosiasi serta menghadapi soal-soal terkait buruh migran.

___

Acara ini adalah bagian dari #SeriPentasAntarRagam, inisiatif baru Teater Garasi dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.
___

Jadwal Lengkap Acara

Hari & tanggal: Sabtu,17 November 2018
Tempat: Lapangan Bola Desa Pelat

– Workshop Seni Rupa: “Surat Untuk Ibu”
Difasilitasi oleh: Sumbawa Visual Art dan Komunitas Seni Nagaru
Waktu: 15.30 – 18.00 WITA

– Pemutaran & Diskusi Film pendek: “Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang”
Sutradara: Anton Susilo
Waktu: 20.00 – 21.30 WITA

– Pertunjukan teater: “Rungan Do”
Sutradara: Reny Suci
Pemain: Deni Kurniawan, Mulya Putri Amanatullah, Nella Salsabila & Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo
Waktu: 21.30 – 22.30 WITA

___

Panitia Pelaksana: Kelompok Melati (eks-perempuan buruh migran), Sanggar Seni Kemang Buin Jeringo, Komunitas Seni Nagaru, Sumbawa Cinema Society, Sumbawa Visual Art, Solidaritas Perempuan Sumbawa, Serikat Buruh Migran Indonesia, dan Sumbawa Indie Movement.

BELALLE’: Ruang Alternatif yang Mengakomodasi Partisipasi Warga dan Isu Lokal

Pada bulan November 2018, #SeriPentasAntarRagam kembali digelar. Kali ini Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengunjungi Kota Singkawang dan bekerja sama dengan Teater Tebs dan Rumaksi (Ruang Muda Kreatif Singkawang) menyelenggarakan BELALLE’.

BELALLE’ adalah sebuah acara seni yang digagas oleh Komunitas Rumaksi dan Teater Tebs, berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute (TG/GPI) melalui workshop yang diadakan di Singkawang pada awal 2018 dan residensi di Yogyakarta pada bulan Agustus-September 2018.

Workshop yang diberi tajuk “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” diikuti oleh seniman-seniman muda dari kota Singkawang dan Pontianak. Di dalam workshop, TG/GPI membagikan metodologi penciptaan bersama yang selama ini dipraktekkan dalam menciptakan karya (seni), berangkat dari isu yang terjadi dalam masyarakat dan modal yang dimiliki.

Workshop ini memicu usaha-usaha mengaktivasi kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dari potensi para seniman, komunitas, bahkan ruang kota yang ada di Singkawang untuk secara kolektif menciptakan sebuah ruang alternatif yang mengakomodasi partisipasi warga dan isu lokal.

BELALLE’ sendiri adalah bahasa Melayu Singkawang yang artinya gotong royong, menanam dan panen bersama, mengolah dan menikmati hasil bersama.

Berikut jadwal acara:

#SeriPentasAntarRagam
BELALLE’
7 November 2018
Gedung PIP (Pusat Informasi Pariwisata)
Jl. Merdeka, Singkawang. .

Pukul 19.30
Pertunjukan Teater
“Dua Wajah” oleh Teater Tebs
Sutradara: Mpok Yanti

Pukul 20.30
Launching Program “NOGO’ PLUS PLUS:
Pemutaran Film “Nenek Bangun”(Ahmad Syafari, 2015)
 

Nubun Tawa: Memetakan Potensi Seni Budaya Flores Timur

Oleh Venti Wijayanti

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru—penyegaran dan pengembangan—dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni budaya antar kecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas yakni dengan menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat. Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Nubun Tawa Festival adalah bagian dari program AntarRagam (Performing Differences). Bekerjasama dengan pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur selama ini. Festival Nubun Tawa diselenggarakan di Kecamatan Lewolema, dirancang bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah Flores Timur, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di tujuh desa di Kecamatan Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

Rangkaian acara dibuka dengan upacara penyambutan di gerbang masuk Desa Bantala, dan dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, serta jajaran pejabat daerah Flores Timur, staf Kecamatan Lewolema, Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur. Dilanjutkan rangkaian pentas seni tradisi dan pertunjukan budaya Lewolema, di Lapangan Desa Bantala, membuka festival Nubun Tawa, festival seni budaya berbasis masyarakat Flores Timur. Sore hari, rombongan pengunjung dan warga masyarakat Lewolema, Flores Timur bergerak pindah ke bukit Eta Kenere, menggelar serangkaian pentas dari Darlene Litaay (Papua), Iwan Dadijono (Yogya), Kung Opa (Larantuka) dan Veronika Ratumakin (Adonara – Flores Timur), dan kemudian diakhiri dengan tari pergaulan Sole, Dolo-dolo, Lili dari warga desa Bantala. Acara di bukit berlangsung mulai matahari tenggelam hingga menyambut matahari terbit, dengan konsep camping cerita bersama keluarga.

Pada hari kedua beberapa agenda festival dilangsungkan: Pameran Tattoo Tradisional Budaya Lewolema yang berlangsung selama tiga hari festival, Teater Basa Tupa di Desa Riangkotek, Diskusi Budaya Lamaholot (Lewolema) yang diisi oleh Pater Simon Suban Tukan SVD dan Ivan Nestorman, berserta moderator Kowa Kleden di Desa Riangkotek, dilanjutkan Karnaval Budaya yang dimulai dari Lapangan Riangkotek dan berakhir di Pantai Kawaliwu, Musik akustik oleh Trada Band dan monolog oleh Ruth Marini setelah matahari tenggelam di Pinggir Pantai Kawaliwu. Penyelenggaraan upacara tradisi Lodo Ana di Rumah Suku Liwun, di Kawaliwu berlangsung sampai matahari terbit.

Pada puncak acara Festival di hari ketiga dilaksanakan di Desa Leworahang, yaitu misa Inkulturasi pada pagi sampai siang hari, pameran tattoo tradisional Budaya Lewolema, rangkaian pertunjukan seni dan budaya Flores Timur di Ile Padung antara lain; pertunjukan musik Fanfare, tarian Brasi, Belo Baja, pertunjukan mudik suling tradisional Solor Barat, atraksi tenun tradisional, fashion show busana tradisi Lewolema dan busana modern, pertunjukan musik seniman tamu Yasuhiro Morinaga yang berkolaborasi dengan Magdalena Eda Tukan dan Petronela Tokan, dan ditutup dengan tarian masal tradisional Sole Oha.

 

Berpijak Pada Tanah, Berdiri Pada Gagasan

Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Nubun Tawa Festival Seni Dan Budaya Flores Timur 2018 “PAI TAAN TOU! “

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru, penyegaran dan pengembangan, dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diberadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni-budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Di tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni-budaya antarkecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas lagi yakni menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat.

Tahun ini Festival Seni-Budaya Flores Timur diadakan di Kecamatan Lewolema dengan nama Nubun Tawa. Nubun Tawa: Festival Seni-Budaya Flores Timur lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman yang ada di bumi Lamaholot Flores Timur. Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival karena merupakan salah satu pusat kebudayaan Lamaholot di masa lalu dan terutama karena represivitas, pelarangan dan pemberangusan kebudayaan di tahun 1970-an yang mengakibatkan masyarakat kehilangan kepercayaan dalam membangun dan merawat daya hidup serta identitas kolektif-kulturalnya.

Nubun Tawa yang bermakna: “lahir/tumbuhnya generasi muda” adalah spirit sekaligus dukungan terhadap generasi muda agar percaya diri serta memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan kebudayaan yang dibiarkan mati selama hampir setengah abad. Festival ini diharapkan menjadi gerakan bersama memajukan diri dan masyarakat. Membangun daya hidup, spirit bekerja dan berkarya. Meluaskan dan memperhebat pergaulan lintas-budaya dalam ketergantungan produktif untuk saling menjaga dan merawat kualitas hidup di tengah banalitas ekspresi, kekerasan dan konsumtivisme.

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” akan berlangsung pada tanggal 5 – 7 Oktober 2018 di Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Menampilkan beragam ekspresi seni-budaya masyarakat Flores Timur, kekayaan alam Lewolema, pertunjukan dari komunitas-komunitas seni di Flores Timur, juga pertunjukan tamu dari seniman-seniman dari luar NTT seperti: Iwan Dadijono, Darlene Litaay (seniman dan koreografer Papua), Ruth Marini (seniman teater nasional) dan Yasuhiro Morinaga (komposer Jepang). Tersedia juga beberapa paket wisata seni-budaya yang dirancang khusus untuk menikmati rangkaian acara festival. (Detil agenda acara dan paket wisata terlampir).

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut silakan berkunjung akun media sosial Nubun Tawa

Kontak: +62 856-3422-430 (Venti Wijayanti)

Berikut jadwal lengkap Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018

Remo Teater Madura: Forum Gagasan Antar Seniman Madura

Remo Teater Madura (RTM) adalah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik seniman yang tinggal dan bekerja di Madura maupun seniman yang tinggal dan bekerja di luar Madura (diaspora) guna membangun infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.

Remo adalah tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi warga. Selain itu tradisi ini dapat membangun kepedulian sosial antar warga di satu kampung dengan cara memberi sumbangan kepada warga lain yang kurang mampu atau untuk merencanakan agenda kepentingan bersama seperti membangun infrastruktur desa seperti jalan, tempat ibadah, dan lain-lain.

“Berpijak Pada Tanah” adalah tema utama festival seni pertunjukan ini. Tema ini dipilih sebagai satu usaha para seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’ dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang ditampilkan dalam festival.

Pemilihan ‘Tanah’ sebagai pijakan festival adalah sebuah cara membicarakan Madura hari ini. Salah satu pokok penting apabila membicarakan Madura hari ini terutama yang berkaitan dengan Madura sebagai etnis dan Madura sebagai wilayah atau teritori geografis adalah ‘Tanah’. Melalui titik ini, RTM bisa membicarakan Tanah dalam dua bingkai percakapan sekaligus, yaitu tanah sebagai ikatan primordial masyarakat Madura—bagaimana orang Madura memaknai tanah, dan bagaimana makna tanah sesungguhnya merujuk pada jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak) dan jagad raja (jagat besar/yang tak tampak) yang dijaga supaya seimbang dan harmonis—dan tanah sebagai sumber daya dan lahan dalam konteks sosial-politik dan ekonomi: perebutan dan penguasaan tanah, alih fungsi lahan, kapitalisasi dan privatisasi, dan lain-lain.

Remo Teater Madura “Berpijak Pada Tanah” akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan pada tanggal 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop. Detil agenda terlampir.

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Madura.

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut, kontak: +62 818-0405-6913 (Arsita Iswardhani)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga Festival di Tiga Daerah: Merayakan Keberagaman

Sejak awal tahun lalu, 2017, Teater Garasi/Garasi Performnace Institute membangun kontak dan interaksi dengan beberapa seniman dan komunitas di beberapa kota di Madura dan Flores dalam kerangka program #AntarRagam. Kontak dan interaksi kami kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di Madura dan Flores.

Pada akhir tahun 2017 berlangsung sejumlah pertunjukan dan pameran dalam #seripentasantarragam di Bangkalan dan Pamekasan (Madura), desa Lamahala dan Waiburak (Adonara Timur, Flores Timur) serta di kota Maumere.

Tahun ini, inisiatif “baru” dibangun oleh para mitra kami:


1. REMO TEATER MADURA (RTM), sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, yang akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara, Kab. Pamekasan pada tgl 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman dari tiap kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan juga mengundang seniman-seniman Madura yang sudah tidak lagi bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad, untuk pulang kembali ke ‘rumahnya’. Tak hanya teater, RTM juga akan menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop.

2. Di Flores Timur: festival NUBUN TAWA. Bekerja bersama pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flotim selama ini. Festival Nubun Tawa yang akan diselenggarakan pada 1-5 Oktober 2018 di Kec. Lewolema, secara bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah FloTim, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di 7 desa di Kec. Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

3. MAUMERELOGIA III, oleh Komunitas Kahe, Maumere. Festival sastra dan seni pertunjukan ini digagas sebagai ruang uji coba ekspresi seni, medium produksi pengetahuan dan ekspresi politis atas isu-isu sosial di Maumere dan NTT dan dalam konteks yang lebih luas merefleksikan Indonesia saat ini. Maumerelogia III mengambil tema Tsunami! Tsunami! sebagai perluasan dan pendalaman atas karya pameran dan pertunjukan “M 7.8 SR: Pameran, Diskusi, dan Pertunjukan (Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman)” yang berlangsung akhir 2017 lalu. Dalam festival ini akan ditampilkan pertunjukan dari komunitas seni yang berasal dari Maumere, Hokeng (Flores Timur), Kupang, Ende dan Bajawa. Selain itu juga akan diselenggarakan pameran dan peluncuran buku antologi tulisan (esai, puisi, cerita pendek) “Tsunami! Tsunami!” yang penerbitannya didukung oleh TG/GPI. Seluruh rangkaian Maumerelogia III akan berlangsung pada tanggal 2-10 November 2018.

TG/GPI mendukung ketiga festival tersebut sebagai sebuah upaya menciptakan ruang pertemuan dan peristiwa sosial budaya, juga ekonomi politik, yang merayakan keragaman identitas dan ekspresi kultural.

 

Sumbawa Hari Ini: Workshop Penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia

Rabu, tanggal 11 April 2018, bertempat di Istana Dalam Loka, workshop penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia dibuka oleh Bapak H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa.

Kegiatan workshop ini diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumbawa dan didukung oleh sejumlah komunitas seni di kota tersebut. Selama lima hari, dari tanggal 11-15 April 2018 workshop berlangsung di dua tempat, yaitu Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih. Fasilitator workshop antara lain Dendy Madiya, MN. Qomaruddin, Shohifur Ridho’i, dan Venti Wijayanti dari Teater Garasi. Adapun peserta workshop datang dari beragam komunitas, organisasi dengan beragam usia dan profesi.  Peserta workshop yang terlibat antara lain dari Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain.

Dalam workshop ini peserta diperkenalkan dengan metodologi ‘Penciptaan Bersama’ Teater Garasi yang diformulasikan dalam enam tahap: (1) menentukan pertanyaan, (2) riset, (3) improvisasi, (4) kodifikasi, (5) komposisi, dan (6) presentasi.

Hari pertama dan kedua workshop, peserta menemukan dan menentukan dua isu yang nantinya akan diolah menjadi karya bersama, yaitu ‘lingkungan’ dan ‘buruh migran’. Dalam isu lingkungan peserta mengajukan pokok soal seperti industri pariwisata, kedaulatan pangan dan pertanian. Sementara isu buruh migran berkisar di antara pokok kasus human trafficking, kekerasan seksual dan perlindungan hukum bagi buruh migran. Dalam rangka menungi dua isu besar tersebut, peserta kemudian memberi tema proyeknya: Sumbawa Hari Ini.

Proses selanjutnya adalah membuat karya dari data dan diskusi yang telah diselesaikan pada dua tahap sebelumnya. Meskipun peserta berasal dari disiplin seni yang berbeda, namun mereka justru tertarik dan tertantang untuk menubuhkan diskusi awal ke pertunjukan teater. Pada hari Minggu, tanggal 15 April 2018, presentasi karya berhasil dilaksanakan. Bagi beberapa peserta, presentasi dalam wujud karya seni dan tampil sebagai performer merupakan pengalaman pertama mereka. Selanjutnya diskusi paska presentasi berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan bagaimana seni menjadi alat alternatif dalam menyampaikan isu sosial yang terjadi di Sumbawa.

Membangun Kontak Dengan Komunitas Anak-Anak Muda dan Seniman di Singkawang

Pada 1 Maret 2018, Gunawan Maryanto, Arsita Iswardhani, Akbar Yumni dan Aum Tresnaningtyas memulai perjalanan ke Singkawang untuk membangun kontak dengan para pegiat dan pelaku seni di Singkawang. Kedatangan mereka berbarengan dengan perayaan Cap Go Meh yang belakangan (sejak tahun 2010-an) menjadi pusat perhatian masyarakat baik dalam skala lokal maupun nasional.

Di Singkawang, mereka bertemu dengan para seniman pegiat film (Niken, sineas muda di mana film dokumenternya pernah memenangkan Eagle Award), fotografi  (Frino dan komunitas My Singkawang), penggiat seni pertunjukan-Sniper Singkawang (Hellen, Deri, Anningmu, Prima, Boncu, Mpok Yanti bersama sanggar TEBS (Teater Biak Singkawang) dan Yoyok Komik). Prima adalah juga seorang penyair yang  sedang menggagas forum penulis Singkawang, sementara Anningmu, selebgram Singkawang yang konsisten membuat video dubbing dengan bahasa lokal. Yoyok Komik, sebelum tertarik menjadi aktor, merintis karir sebagai komikus sejak 2002 dengan mengangkat cerita-cerita rakyat.

Fenomena munculnya komunitas orang-orang muda juga terjadi di Singkawang. Film dan fotografi menjadi medium yang banyak diminati anak muda Singkawang. Anak-anak muda ini biasanya memanfaatkan warung/kedai kopi sebagai tempat berkumpul. Salah satunya adalah Kedai Sesama yang menjadi tempat berkumpul anak muda yang tertarik dengan dunia menggambar dan tergabung dalam komunitas bernama Muge (Musim Menggambar), yang diinisiasi oleh Reza, salah seorang lulusan Seni Rupa ISI Yogyakarta. Rata-rata mereka adalah anak muda atau penggiat yang dulunya kuliah di luar kota/pulau, lalu setelah lulus kembali  dengan cita-cita membangun kesenian di kota Singkawang.

Lingkungan Sosial dan Kesenian di Tana Samawa

(Catatan singkat pertemuan Teater Garasi dengan (warga) Sumbawa)

Kami berkunjung ke Sumbawa mulai tanggal 1 sampai 8 Maret 2018. Selama satu minggu kami bertemu dengan seniman, aktivis sosial, komunitas seni, dan warga. Sumbawa adalah salah satu wilayah yang secara adminstratif masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tahun ini merupakan kedatangan Teater garasi/Garasi Performance Institute yang pertama ke wilayah yang dulunya sistem pemerintahan dipegang oleh kesultanan Sumbawa sebelum Sultan Kaharuddin III menyatakan bergabung dengan NKRI selepas Indonesia merdeka.

Perjalanan ini merupakan bagian dari program Performing Deferences yang diinisiasi oleh Teater Garasi. Kami berbincang dan belajar tentang konteks, isu, dan praktik kesenian yang pernah dan tengah berlangsung di Sumbawa. Kami dibantu oleh Andari, seorang pegiat film yang juga pendiri Sumbawa Cinema Society, sebagai guide lokal yang mempertemukan kami dengan banyak orang.

Melalui perbincangan dengan Andari dan Reny, juga dua orang teman dari Sumbawa Visual Arts bernama Moel dan Hallen pada hari pertama (dan berlanjut pada hari-hari sesudahnya), kami memeroleh gambaran tentang situasi Sumbawa saat ini. Menurut Andari, hal pertama yang menarik dilihat adalah isu lingkungan dan hubungannya dengan konflik pertambangan, kesenjangan sosial, dan akses terhadap lapangan pekerjaan. Kedua isu tentang etnis. Andari melihat isu tersebut sebagai problem atas keragaman atau toleransi di Sumbawa. Sebagai respon atas pembacaanya, dia membuat satu event berjudul Harmoni di Tana Samawa (2017) yang melibatkan banyak seniman dan warga lintas etnis.

Di ranah kesenian dan yang sering disebut oleh banyak orang adalah fenomena festival. Setiap kecamatan di Sumbawa memiliki festival, terhitung ada 24 festival seturut dengan jumlah kecamatan yang ada di kabupaten tersebut. Sementara festival yang digarap oleh pemerintah kabupaten bernama Festival Moyo. Sebagaimana umumnya fenomena festival di tempat-tempat lain di luar Sumbawa, festival di sana juga diproyeksikan untuk kepentingan industri parawisata. Di satu sisi festival tersebut menjadi semacam ruang dan infrastruktur non-fisik bagi pegiat seni terutama seni tradisi seperti tari dan musik untuk pentas. Namun di sisi yang lain, festival tersebut tidak dibarengi dengan penataan program dan desain festival yang baik. Sehingga setiap tahun terus berulang dengan bentuk yang nyaris sama. ada beberapa seniman yang membikin karya tidak terpaku pada agenda regular tersebut, terutama seniman-seniman yang bekerja dengan medium seni film dan seni rupa. Mereka punya caranya sendiri dalam merespon isu

Kami juga sempat bertemu dengan Pak Jayadi, seorang kepala sekolah SMK 3 yang pada tahun 80-an juga aktif sebagai seniman teater. Berkat beliau kami mendapat informasi tentang trajektori praktik teater modern di Sumbawa melalui naskah-naskah yang beliau mainkan mulai dari naskah karya Arifin C. Noer hingga Anton Chekov.

Pada kesempatan itu pula kami berkunjung ke institusi pendidikan seperti SMP 1 Sumbawa, Institut Teknologi Sumbawa, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa, bertemu dengan Dewan Kesenian Sumbawa, komunitas Dompas Bulaeng, Drug Stone, Sanggar Mutiara di Pulau Bungin, serta berbincang dengan teman-teman aktivis social seperti Solidaritas Perempuan Sumbawa, Serikat Buruh Migran Indonesia, dan Koin Foundation.