Kerangkeng dan Mimpi di Atas Pagi di Pondok Pesantren Al Mukhlisin Pakong Pamekasan

(Pentas Teater Karapan Pamekasan dan Uji Coba Theatre Sampang Pada “Seri Pentas Antar Ragam”)

Tanggal 27 November 2017, di Pondok Pesantren Al Mukhlisin, pondok di mana Hafiki atau biasa dipanggil Viki, tengah membangun kelompok teater Kerapan, 2 pertunjukan digelar. Pertama adalah pertunjukan perdana dari Teater Kerapan yang beranggotakan santri-santri putri Pondok Pesantren Al Mukhlisin dan kedua pertunjukan dari Uji Coba Teater Sampang yang diinisiasi oleh Samsul Pranata dan Syukron. Kedua pertunjukan ini masih merupakan rangkaian dari #SeriPentasAntarRagam yang diinisiasi oleh mitra-mitra kreatif Teater Garasi di Madura dan Flores.

Berbeda dengan pertunjukan atau acara lain dalam #SeriPentasAntarRagam, kedua kelompok ini tidak sepenuhnya didampingi oleh seniman-seniman Teater Garasi dalam proses perwujudannya. Kedua kelompok ini memilih untuk mengujicoba pendekatan penciptaan yang mereka dapatkan melalui workshop yang di lakukan Teater Garasi di Sampang pada bulan Mei 2017 secara mandiri.

Teater Kerapan menampilkan karya kolektif merekadisutradarai oleh Viki yang berjudul Kerangkeng. Karya ini berangkat dari kegelisahan dan penelusuran para santri putri atas kehidupan pesantren yang mereka diami. Masing-masing santri putri, berjumlah 15 orang, memilih satu tema yang paling menarik perhatian mereka berkait dengan kehidupan santri dan pesantren. Seturut penuturan Viki tema yang kemudian paling mengemuka adalah pesantren dan perubahan. Bagaimana perubahan jaman dan perkembangan tekhnologi telah menggeser nilai-nilai yang dulu tertanam kuat di pesantren. Di tengah jadwal kegiatan para santri yang cukup padat, dan Viki yang mesti bolak-balik Pamekasan dan Sumeneptempat tinggal Viki yang baruproses berlangsung kurang lebih 3 bulan.

Ujicoba Teater Sampang mengangkat sebuah repertoar berjudul Mimpi di Atas Pagi. Karya ini bermula kegelisahan Samsul atas hilangnya tari petik laut yang dahulu menjadi tari atau upacara kebanggaan Sampang. Setelah menelusuri tradisi O-Ca’o, yel-yel dalam upacara petik laut, Samsul Arifin kemudian mengundang Syukron Yusuf, seniman muda dari Banyuwangi, untuk menyusun sebuah pertunjukan. Pada akhirnya penelusuran mereka tak hanya berhenti pada O-Ca’o, melainkan pada kehidupan sosiak kampung nelayan di mana Syamsul tinggal. Selama 3 bulan mereka menyusun repertoar Mimpi di Atas Pagi sebuah ingatan atas masa kecil di kampung nelayan dan perubahan yang menyusun banyak kehilangan di kampung nelayan tersebut.

Acara yang semestinya dimulai pukul 19.30 WIB, setelah seluruh kegiatan di pesantren rampung, mesti mundur kurang lebih satu jam karena cukup banyak penonton yang belum datang mengingat lokasi yang cukup jauh dari kota Pamekasan (1 jam perjalanan) dan hujan yang tak kunjung reda sejak sore hari. Pertunjukan dibuka oleh pertunjukan salawat dari Pondok Al Mukhlisin. Viki sempat menerangkan sebelumnya kepada penulis bahwa itu adalah strateginya agar kegiatan teater di pondok tersebut direstui oleh para kyai.

Pertunjukan Kerangkeng mengambil tempat di halaman pondok yang tak seberapa luas. Penonton mengambil tempat di empat sisi lapangan kecil tersebut. Dari batu putih, material utama bangunan rumah di Madura, Viki dan kawan-kawan membangun sebuah segi empat yang mengindikasikan sebuah bangunan tembok rumah.Bangunan tersebut menjadi setting utama dari pertunjukan. Seorang perempuan, barangkali berperan sebagai seorang ibu menyanyikan sebuah lagu buaian sembari menyusun dan memperbaiki tembok yang rusak. 3 sosok perempuan berdiri tegak sepanjang pertunjukan. Ketiganya berperan sebagai jam atau penanda waktu. Selanjutnya serombongan orang berjubah plastik dan bercaping masuk. Mereka terus bergerak untuk masuk ke dalam bangunan.

Secara keseluruhan komposisi bentuk tersusun dengan rapi dan mengalir lancar dari satu adegan ke adegan berikutnya. Sebagai sebuah pertunjukan perdana sebuah kelompok yang baru saja terbentuk, dengan beranggotakan santri-santri putri yang masih belia, Kerangkeng cukup menjanjikan banyak hal. Meskipun jika merujuk pada gagasan awal dari pertunjukan inikehidupan pesantren dan isu-isu yang dimunculkannyabentuk-bentuk yang tersajikan masih cukup gelap dan masih memerlukan jembatan untuk bisa diakses oleh para penonton.

Setelah diselingi pembacaan puisi spontan oleh penonton sambil menunggu pergantian setting dan lampu, Uji Coba Teater pun segera tampil. Penonton yang terlambat datang semakin memenuhi ke empat sisi pelataran. Mimpi di Atas pagi dimainkan oleh dua orang aktor: Samsul dan Syukron sendiri. Dengan properti yang minimalis, terdiri dari benda-benda keseharian yang mereka bawa dalam keranjang plastik, pertunjukan berlangsung. Masih menggunakan area yang sama dengan pertunjukan sebelumnya, dengan sedikit perubahan, Samsul dan Syukron membentuk berbagai komposisi yang mereka padukan dengan kalimat-kalimat yang minimaliscenderung gelap dan puitis. Komposisi yang tersusun cukup kuat, dinamis dan memunculkan banyak tafsir. Dalam diskusi yang berlangsung setelah pertunjukan, Yudi Ahmad Tajudin, Direktur Artistik Teater Garasi, menyebut bahwa pertunjukan tersebut mengingatkannya pada Menunggu Godot dari Samuel Beckett. Meski demikian, sebagaimana karya sebelumnya, bentuk-bentuk yang tersaji tersebut masih memiliki banyak soal jika disandingkan lagi dengan gagasan awal dan isu yang hendak disampaikan. Syukron dalam kesempatan yang lain menyampaikan kepada penulis bahwa ia masih merasa kurang dalam melakukan riset atas tema yang mereka angkat.

Dari dua karya tersebut tampak kedua inisiator, Samsul dan Viki yang merupakan peserta Workshop Penciptaan Bertolak dari yang Ada Bicara pada Dunia, telah mencoba mempraktik tahapan-tahapan penciptaan yang dibagi oleh para fasilitator dari Teater Garasi. Pada tahapan pencarian bentuk/improvisasi, kodifikasi, dan komposisi, Kerangkeng dan Mimpi di Atas Pagi telah menunjukkan hasilnya pada ukuran tertentu. Tapi pada tahap perumusan pertanyaan dan kerja gali sumber mereka masih cukup terbata-bata. Hal ini tentunya cukup menjadi catatan bagi pelaksanaan program AntarRagam berikutnya.

 

Foto oleh Lubet Arga Tengah

Pocĕt di Vihara Avalokitesvara

(Pentas Kedua Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan Pada “Seri Pentas Antar Ragam”)

Dua hari berselang selepas presentasi pertama di Sanggar Seni Makan Ati, Pocĕt kembali dipentaskan pada tanggal 28 November 2017 di gedung kesenian di kompleks Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong).

Vihara yang terletak di sekitar pantai Talang Siring kecamatan Galis, kabupaten Pamekasan tersebut adalah salah satu dari tiga kelenteng yang ada di Madura. Menurut penuturan Kosala Mahinda, ketua Vihara Avalokitesvara Pamekasan, kelenteng tersebut bermula pada sekitar tahun 1400 M ketika keraton Jamburingin di Proppo, Pamekasan, berencana membuat candi untuk tempat ibadah. Majapahit sebagai penguasa wilayah Jamburingin membantu pembangunan candi dengan mengirim beberapa arca pemujaan. Arca-arca dikirim dengan kapal laut lewat pelabuhan Talang yang berjarak sekitar 35 KM dari Jamburingin. Namun pengiriman candi gagal Karena angkutan rusak sehingga penguasa Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar palabuhan Talang, tempat kelenteng tersebut berdiri hingga sekarang.

Menariknya, di kompleks Vihara Avalokitesvara atau kelenteng Kwan Im Kiong Candi Pamekasan Madura juga terdapat tempat ibadah untuk umat beragama lain, yaitu Pura untuk umat Hindu dan Mushalla untuk umat Islam. Rencananya akan dibangun lagi sebuah gereja untuk umat Nasrani. Untuk itu, MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) memberi penghargaan kepada Vihara Avalokistesvara sebagai simbol kerukunan umat beragama dan penganutnya hidup rukun dan berdampingan.

Tepat di situlah alasan mengapa pertunjukan Pocĕt digelar di Vihara Avalokitesvara. Sanggar Seni Makan Ati ingin menginisiasi satu perjumpaan di mana antar umat beragama berkumpul dalam satu ruang dan bersama menyaksikan pertunjukan teater.

Menurut Kosala, pentas seni di lingkungan vihara sudah beberapa kali dilakukan, terutama seni tradisi seperti wayang orang dan musik gamelan. Banyak warga sekitar vihara menyaksikan pertunjukan. Sambutan mereka cukup hangat dan biasanya, jika vihara sedang punya agenda tertentu seperti hari raya peribadatan dan pentas kesenian, warga turut membantu. Namun pentas yang pernah dilakukan belum memantik anak muda untuk datang ke vihara. Kosala berharap, pentas teater dari Sanggar Seni Makan Ati ini mempu menyedot anak muda lebih banyak lagi.

Lebih dari seratus penonton hadir malam itu, mulai dari anak-anak hingga dewasa dan sebagian besar adalah warga dusun Candi. Jumlah penonton memang terlalu besar untuk gedung yang berukuran tiga kali lapangan badminton. Namun ruang dikondisikan dengan pencahayaan oleh Yudi untuk memfokuskan lokasi penonton di bagian depan, bersejajar dengan pemain musik di bagian depan-kiri panggung.

Gedung milik vihara tersebut memiliki panggung prosenium dan tampaknya satu-satunya gedung pertunjukan di Madura yang bisa diakses oleh publik umum. Fikril dan kawan-kawan Sanggar Seni Makan Ati tidak banyak melakukan perubahan adengan dan struktur pertunjukan kecuali sedikit penyesuaian dengan ruang prosenium.

Pertunjukan yang sejak mula diproyeksikan sebagai pentas site-spesific di perkampungan dengan memanfaatkan halaman yang kosong dan rumah-rumah warga, ketika kemudian dipindah ke panggung prosenium, dengan modal pelisanan berbahasa Madura dan gestur-gestur yang akrab, memunculkan efek lain di mana pertunjukan seperti malih rupa menjadi pagelaran ludruk.

Maka, baik pertunjukan di halaman Sanggar Seni Makan Ati maupun di vihara, pertunjukan sama-sama dekat dan nyaris tak berjarak dengan lingkungannya. Jika pentas yang pertama isu dipresentasikan dengan memaksimalkan ruang spesifik sehingga isu terasa lebih dekat bahkan seperti melihat kenyataan itu sendiri, maka pada pertunjukan kedua ‘kedekatan’ berlangsung pada hubungan penonton dengan pengalaman menonton seni pertunjukan di Madura: ludruk.
Dan meskipun Fikril tak banyak melakukan perubahan dan negosiasi artistik tertentu ketika berjumpa dengan panggung prosenium, struktur pertunjukan dan pilihan-pilihan artistik yang sejak awal dirancang, cukup berhasil dipresentasikan di ruang berbeda, dan setiap ruang seperti sedang mengucapkan dan memberi perspektif yang berlainan.

Pocĕt di Dusun Bugih

(Pentas Pertama Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan Pada “Seri Pentas Antar Ragam”)

Setelah nyaris sehari penuh Madura diguyur hujan pada hari Minggu 26 November 2017 membuat udara terasa dingin. Itu hari di mana Sanggar Seni Makan Ati akan mementaskan karyanya yang berjudul Pocĕt. Pertunjukan yang disutradarai oleh Fikril Akbar tersebut tetap berlangsung sebagaimana yang direncanakan meski halaman depan sanggar yang dijadikan panggung belum sepenuhnya kering dan masih becek, namun situasi tersebut justru memunculkan efek atau imaji yang menarik berkaitan dengan dunia anak-anak yang penuh permainan dan keriangan.

Pertunjukan yang didukung oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute itu digelar di tengah-tengah pemukiman warga di daerah Bugih, Pamekasan, yang tak lain adalah tempat Sanggar Seni Makan Ati tinggal. Halaman yang luasnya sekitar 8 x 4 meter itu ditata dengan dekorasi khas pernikahan di kampung-kampung di Madura: terop didirikan, pelaminan sekadarnya didesain sendiri oleh warga, janur kuning dipajang di pintu masuk panggung, tulisan Selamat Menempuh Hidup Baru ditempel di dinding-dinding rumah warga.

Belum lama selepas azan isya’ berkumandang, dikepalai oleh Cahyono, salah satu seniman Sanggar Seni Makan Ati yang juga pendiri sanggar tersebut, tepat pukul 19.00 WIB nomor-nomor karawitan tentang pernikahan mulai dimainkan. Pemain karawitan terdiri dari anak-anak hinggar orang dewasa. Syair-syair berbahasa Madura yang dilantukan oleh Nuris tersebut berisi pedoman hidup sepasang suami istri, mulai bagaimana kehidupan rumah tangga dijalankan, hingga hubungan sosial dengan tetangga. Nomor-nomor tersebut dimainkan sejak awal untuk mengiringi penonton yang mulai berdatangan ke lokasi ‘pernikahan’.

Di beberapa daerah di Madura, Pernikahan dini masih berlangsung meski jumlahnya sudah berkurang. Mereka memilih isu tersebut mulanya didorong oleh pengalaman yang dirasakan oleh Fikril sendiri dan Imam Hidayat, salah satu orang aktor Pocĕt, namun kegelisahan personal coba dibawa ke pembacaan yang lebih lebar, misalnya kaitan isu dengan bagaimana struktur sosial masyarakat di Madura melihat perempuan, satu pihak yang kerap dirugikan oleh praktik pernikahan dini.

Selain kegelisahan personal di atas, isu tersebut dipilih sebab ia nyaris tak pernah muncul sebagai isu dominan. Pernikahan dini adalah isu minor yang lepas dari percakapan yang serius. Tepat di situlah usaha Sanggar Seni Makan Ati ingin membicarakan pernikahan dini kepada dan bersama masyarakat.

Bentuk-bentuk yang dipilih serta strategi pemanggungan dalam Pocĕt berangkat dari sudut pandang anak-anak yang coba diterjemah pada gestur dan dialog yang sederhana. Bentuk-bentuk permainan anak-anak serta karakter superhero yang muncul dibuat tak sempurna. Pernikahan dini dilihat sebagai sesuatu yang kontradiktif: serius, namun main-main, sebagaimana kostum sepasang mempelai wanita dan pria yang tak lengkap mengisyaratkan pada narasi main-main, kalua bukan mengolok-olok. Dikisahkan, sebelum dibawa, atau lebih tepatnya dipaksa, naik ke pelaminan, sepasang mempelai ‘diciduk’ saat mereka tengah bermain bersama teman-treman sebayanya. Ketika undangan (penonton) mulai berdatangan dan acara dimulai, mereka belum lagi selesai berdandan, jadilah pernikahan itu demikian ganjil, serba tak lengkap, serba main-main.

Menggelar pertunjukan di tengah perkampungan sebagai tempat spesifik dan percakapan dalam Bahasa Madura membuat Pocĕt tak berjarak dengan lingkungannya, terutama bagi para orang tua dan anak-anak yang turut menyimak jalannya pertunjukan hingga tuntas. Sekitar seratus penonton dari beberapa komunitas di Madura dan Jawa turut memenuhi tenda terop dan teras rumah warga hingga selesai pada pukul 21.30 WIB.

Jika kesuksesan karya diukur oleh respon dari audien berupa percakapan lebih lanjut, maka pertunjukan berdurasi sekitar 90 menit iniberhasil melakukan itu. Paling tidak Pocĕt membuka pintu kesadaran dan membuat kita merefleksikan isu tersebut. Dan itu yang terjadi pada forum diskusi karya selepas pertunjukan usai.

Penonton yang masih bertahan hingga diskusi digelar, masing-masing memunculkan pengalaman personalnya mengenai isu. Dan ini satu hal penting bagi teater di Madura sendiri di mana forum tidak melulu membahas bentuk artistik belaka, melainkan apa yang dibicarakan dan disampaikan oleh karya di panggung.

Pertunjukan yang juga bagian dari Seri Pentas Antar Ragam ini didukung oleh Vihara Avalokitesvara, Teater Kaged, Teater Akura, Teater Pangestu, LPM Semesta, dan Civitas Kotheka.

 

Foto oleh tim dokumentasi Sanggar Seni Makan Ati

Perempuan, dan Kapal yang Hilang di Pendopo Pratanu, Bangkalan

(Pentas Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan Pada “Seri Pentas Antar Ragam”)

 

Sore sudah mulai gelap, beberapa anak muda sudah mulai berdatangan di Gedung Pratanu atau biasa disebut Pendopo Wakil Bupati, Bangkalan. Tim Artistik dari Komunitas Masyarakat Lumpur bers

 

iap-siap di belakang panggung. Hari ini, Sabtu, 25 November 2017, pementasan Perempuan, dan Kapal yang Hilang, sutradara R Nike Dianita Febrianti dari Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.

Selepas Isya, sekitar jam 19.30, penonton mulai berdesakan di meja penerima tamu, antri mengisi buku tamu yang sudah disediakan. sambil menunggau pementasan dimulai, penonton yang sebagian besar adalah anak muda, mulai berfoto di wall fame yang disiapkan di depan pintu masuk, sebagian lain menyaksikan video screening yang berisi dokumentasi dari proses.

Pukul 20.00, pementasan yang disutradarai sutradara R. Nike Febriyani itu dibuka oleh seorang MC yang mempersilahkan penonton duduk lesehan di tikar, atau duduk di kursi belakang yang sudah disediakan. Di samping kanan kiri panggung, tampak dua orang aktor bergerak mengikuti cahaya lampu disko. Mereka berada dalam kotak layaknya sebuah kurungan besar. Tak lama kemudian hentakan house musik terdengar, diiringi tiga orang aktor yang berjalan sangat perlahan membelah penonton dari belakang. Hoiri Asfa, Dini Islami dan R Dian Kunfilah berjalan sangat pelan, kotras dengan musik menghentak keras berirama cepat.

Sesampai di panggung, setelah beberapa saat mereka pun menari seirama hentakan musik, dan sesaat setelah musik berhenti, ketiga aktor berhimpitan tiduran di lantai panggung, menangis, tertawa lalu menit selanjutnya mereka mengenakan sarung dan peci, duduk seolah-olah sedang mengaji, akan tetapi yang keluar dari mulut mereka adalah lantunan Suci dalam Debu, lagu Malaysia yang cukup terkenal di era 90an.

Adegan selanjutnya masuklah seorang aktor bernama Merry Vitaloka Sakti dengan mengenakan kebaya dan kain. Ia berperan sebagai isteri seorang pelayar dan bercerita tentang suka duka sebab hidup berpisah dengan suami, sekaligus harus menanggung cibiran dari masyarakat sebagai perempuan yang sendirian. Bersamaan dengan monolog tersebut, dibatasi dengan layar, seorang aktor (Samsul) yang berperan sebagai suami/pelayar, bergerak menggambarkan kegelisahannya. Sesaat kemudian masuk tiga aktor perempuan mengusung sofa, lalu bergunjing duduk di sofa. Ketiga fokus saling bergantian merebut perhatian penonton.

Adegan selanjutnya semua aktor, kecuali isteri pelayar, mengenakan topeng. menuding ke arah isteri pelayar yang berjalan pelan, sendirian, keluar dari pangung.

Seiring dengan menghilangnya pemeran isteri pelayar, maka mulailah masuk adegan Soto Madura. Soto Madura adalah pertunjukan tradisional Madura. menjadi satu bagian dari pertunukan Orkes Melayu. Soto Madura biasa ditanggap saat pesta pernikahan. Di dalam pertunjukan Soto Madura hanya ada dua aktor yaitu laki-laki dan perempuan. Dialognya biasanya berisi tentang cerita isteri yang sudah lama tidak berjumpa dengan suaminya yang merantau.

Sutradara meminjam adegan Soto Madura menjadi saalah satu adegan dalam pertunjukannya kali ini. Diawali dengan iringan musik tradisional Madura dan tarian topeng dua aktor yang berkerudung sarung, layar hitam di belakang panggung terbuka. Tampak background bergambar kapal besar. Artistik yang digarap oleh Anwar Sadat tersebut ingin mencoba mendekati panggung Soto Madura yang asli. Dialog yang penuh humor itu memperbincangkan keadaan perempuan sebagai istri pelayar yang ditinggal suaminya diperankan oleh Dini Islami. Aktor laki-laki (Hoiri) menjadi wakil dari masyarakat yang menggunjingkan dan memberi stigma pada istri pelayar, bahwa mereka suka hidup glamour dan suka selingkuh sementara suami bekerja keras di kapal.

Adegan Soto Madura penuh humor, membuat tawa penonton yang hampir memenuhi pendopo pecah. Bahasa Madura yang menjadi bahasa sehari-hari masyarakat Madura, sangat mudah dicerna oleh penonton dari berbagai kalangan.

Pertunjukan ditutup dengan memasukan kotak besar seperti kurungan, di mana kali ini didalamnya adalah aktor perempuan, dan monolog penutup dari istri pelayar.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar 1 jam tersebut berhasil membuat penonton betah duduk hingga pertunjukan usai. Penonton kurang lebih berjumlah 500 orang, datang dari berbagai kalangan, yaitu siswa SMA, Mahasiswa, Guru, Seniman, maupun umum.

Pertunjukan berakhir pukul 21.00, disusul dengan apresiasi dari beberapa penonton diantaranya dosen Unesa, Authar Abdillah menyampaikan tentang digunakannya bahasa Madura dalam pertunjukan. Dinara Maya Julianti dosen Universitas Trunojoyo memberi apresiasi tentang isu perempuan yang diangkat oleh sutradara. Juga beberapa mahasiswa dari Malang, maupun mahasiswa dan seniman dari Bangkalan secara umum mengapresiasi dengan baik pertunjukan tersebut.

R. Nike Dianita Febrianti bersama-sama dengan timnya menggarap karya tersebut selama kurang lebih dua bulan, dari September hingga Desember. Mereka menggali data tentang isteri pelayar lansung ke desa Arosbaya, Bangkalan, di mana di desa tersebut memang banyak warga yang bekerja sebagai pelayar. Nike dan tim menggali data langsung dari para isteri pelayar, para pelayar, tokoh masyarakat dan masyarakat umum.

 

Foto oleh Fahmy Faqih

Pertemuan dan Percakapan di Flores Timur dan Maumere

Perjalanan kali ini bertepatan dengan upacara penahbisan seorang calon Romo, Innosensius Inno Koten, yang telah mengundang kami (teman-teman dari Teater Garasi) untuk hadir di upacara besarnya. Kami dan Inno bertemu di workshop penciptaan yang kami selenggarakan di Larantuka pada bulan Mei lalu. Inno adalah salah satu peserta workshop, (waktu itu masih) seorang frater yang aktif di Teater Tanya Ritapiret, dan juga adalah seorang pendamping kelompok teater di seminari Hokeng. Sedikitnya sudah ada sembilan naskah pertunjukan yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” sebagai hadiah pentahbisannya.

Tentu saja tak hanya ingin menghadiri upacara penahbisan Romo, tapi dalam perjalanan ini kami juga merencanakan pertemuan dengan rekan-rekan yang sedang berproses mempersiapkan karyanya, Mama Vero dari Sanggar Sinar Riang — Adonara Timur, dan juga Komunitas Kahe — Maumere. Sepulang dari residensi di Teater Garasi —Yogya selama enam minggu, Mama Vero dan juga Eka (Komunitas Kahe) kembali ke komunitas masing-masing dan mempersiapkan satu proses proyek karya bersama yang rencananya akan dipresentasikan di bulan November mendatang.

Pertemuan dan Percakapan Proses Karya Veronika Ratumakin

Sepulang dari program residensi Mama Vero (demikian ia biasa dipanggil) di Teater Garasi Yogyakarta bulan Juli-Agustus lalu, Mama Vero berencana akan membuat satu karya dengan rekan-rekannya di Sanggar Sina Riang bersama juga dengan seorang penulis dari komunitas Agupena, Pion Ratuloli. Sebelum kami merencanakan pertemuan ini, Mama Vero sempat berkabar mengenai kesibukannya yang memadat. Pada Hari Raya Idul Adha, 31 Agustus 2017, Mama Vero diminta untuk pentas di Kecamatan. Dalam waktu tiga hari, Mama Vero mempersiapkan satu karya pendek yang bertemakan Idul Adha. Seturut cerita Mama Vero kepada Mbak Lusi yang langsung menyeberang ke Adonara begitu tiba di Larantuka, di bulan Oktober ini Mama Vero juga sedang terlibat dalam dua proses produksi karya, yaitu bersama Teater Nara dan bersama siswa SMK di Adonara. Bersama Teater Nara, Mama Vero diminta Silvester Hurit (sutradara dan pendiri Teater Nara) tidak hanya sekedar bermain tetapi juga menjadi semacam asisten sutradara. Mereka membuat sebuah karya pementasan kampanye anti narkoba yang dipentaskan pertengahan Oktober lalu. Sedangkan bersama siswa SMK di Adonara, Mama Vero diminta mendampingi kegiatan pengembangan siswa dengan target pementasan pada akhir bulan Oktober ini. Dalam situasi ini, Mama Vero masih terus mengembangkan naskahnya sendiri untuk SinaRiang dengan rencana kolaborasi penulisan bersama Pion Ratuloli.

Dalam proses menyiapkan karya ini, Mama Vero sempat bercerita mengenai kekhawatirannya mengenai bagaimana mengundang penonton dalam sebuah acara pementasa teater mandiri, yang tidak terhubung dengan agenda acara lainnya. Biasanya selama ini pementasan Sina Riang selalu dalam (ke)rangka sebuah agenda besar lain, misalnya Festival Teater atau acara di desa/kecamatan. Tapi di pertemuan kemarin, Mama bercerita bahwa ada rencana Kepala Desa membawa presentasi karya ini sebagai bagian  dari satu program acara sosialisasi toleransi dari Pemerintah Daerah. Rencana ini sedang terus dimatangkan oleh pihak-pihak yang terkait.

Di perjalanan kali ini, kami juga berkesempatan menonton pementasan karya Mama Vero di Solor, dalam perayaan setelah upacara penahbisan Romo Inno. Di pementasan ini, Mama Vero bersama Sanggar Sina Riang mementaskan kisah hidup Romo Inno dari kecil hingga penahbisannya menjadi Romo. Para penonton menikmati pementasan teater yang juga dibalut dengan tarian dan nyanyian ini. Sayang sekali kami tak sempat bercakap lebih lama lagi dengan Mama Vero, karena berselisih jalan, Mama Vero harus langsung kembali ke Adonara setelah acara pentahbisan usai.

Pertemuan dan Percakapan dengan Komunitas Kahe

Setelah agenda-agenda di Larantuka usai, sementara Mbak Lusia Neti kembali ke Yogyakarta sementara saya dan Mas Yudi Ahmad Tajudin bergerak menuju Maumere (mampir ke Hokeng) pada tanggal 28 September 2019. Agenda pertemuan dengan Komunitas Kahe sudah dijadwalkan di tanggal 29 September 2017 malam. Pada praktiknya, pertemuan ini berlangsung selama 2 hari, di tanggal 29 dan 30 September 2017.

Pertemuan pertama dengan Komunitas Kahe berlangsung di ruang kelas di SMAS Katolik John Paul II. Malam itu pertemuan diawali dengan sedikit uraian mereka mengenai perkembangan tema proyek mereka “Tsunami”. Namun percakapan selanjutnya hingga di akhir, kami membicarakan mengenai (kemungkinan) pengembangan Kahe sebagai sebuah institusi. Percakapan ini berlangsung panjang dan hampir seluruh teman-teman Kahe terlibat aktif menyampaikan pikirannya. Beberapa menyampaikan pertimbangan-pertimbangan dan kekhawatirannya mengenai ide institusionalisasi ini, seperti misalnya situasi teman-teman Kahe yang mulai harus meninggalkan Maumere dan tidak bisa hadir seutuhnya secara fisik. Tapi kekhawatiran-kekhawatiran ini tak terhenti hanya menjadi kekhawatiran, karena juga ada pemikiran dari Bapak Tua — Bapak dari Kikan (salah satu anggota perempuan Kahe), orang yang dihormati oleh teman-teman Kahe — bahwa sebenarnya orang-orang yang pergi itu bisa membawa sesuatu untuk komunitas Kahe ini. Bapak Tua juga yang pertama kali memberi ide untuk kelompok ini melakukan perjalanan bersama, di mana akhirnya teman-teman Kahe menghabiskan satu akhir pekan di Kojadoi, salah satu pulau di Maumere yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Mereka tidak hanya berkunjung dan piknik, tapi juga membuat satu aktivitas bersama dengan masyarakat di sana, sembari melakukan riset juga untuk proyek bersama mereka “Tsunami”.

Di luar pertimbangan dan kekhawatiran, dari percakapan ini juga tercetus bahwa

Seri Pentas AntarRagam di Madura dan Flores

Seri Pentas AntarRagam
[scroll down for English]

Teater Garasi/Garasi Performance Institute bekerja sama dengan sejumlah komunitas kreatif di Madura dan Flores mempersembahkan #SeriPentasAntarRagam — serial presentasi karya yang diinisiasi oleh komunitas kreatif mitra Teater Garasi berdasarkan isu dan potensi lokalnya masing-masing. Proyek penciptaan seni dan seluruh rangkaian kegiatan yang menyertainya (workshop, residensi, diskusi) merupakan bagian dari program AntarRagam, inisiatif terbaru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang berlangsung sejak awal tahun 2017.

#SeriPentasAntarRagam

1. Komunitas Masyarakat Lumpur

Pertunjukan Teater
PEREMPUAN, DAN KAPAL YANG HILANG
Sutradara: R Nike Dianita Febriyanti

Sabtu, 25 November 2017
Pukul 19.00 WIB
Di Gedung Pratanu (Pendopo II Bangkalan)
Jl. Soekarno-Hatta, No. 35, Bangkalan Madura

2. Sanggar Seni Makan-Ati

Pertunjukan Teater
POCET
Sutradara: Fikril Akbar

Minggu, 26 November 2017
Pukul 19.00 WIB
Di Sanggar Seni Makan Ati
Jl. Pintu Gerbang Gg. VII Bugih Pamekasan Madura

Selasa, 28 November 2017
Pukul 19.00 WIB
Di Vihara Avalokitesvara
Dusun Candi, Desa Polagan, Galis Pamekasan Madura

Pertunjukan ini didukung oleh Teater Akura, Teater Pangestu, Teater Kaged, LPM Semesta dan Vihara Avalokiteswara

3. Teater Karapan Pamekasan

Pertunjukan Teater
Kerangkeng
Sutradara: Hafiki

Ujicoba Teater Sampang

Pertunjukan Teater
Mimpi di Atas Pagi
Karya: Syamsul Pranata dan Syukron Yusuf

Senin, 27 Nopember 2017
Pukul 19.00 WIB
Di Pondok Pesantren Al Mukhlisin Sedur Pakong Pamekasan Madura

4. Sanggar Sina Riang Adonara
bekerjasama dengan Komunitas Wathan Lamahala
dan Desa Weiburak

Pertunjukan Teater
“Warisan”
Sutradara: Veronika Ratumakin

Sabtu 2 Desember 2017
pukul 19.30 WITA
Di Desa Lamahala, Adonara Timur, Flores Timur

Senin 4 Desember 2017
Pukul 19.30 WITA
Di halaman gudang putra tunggal, Dusun 2 Desa Waiburak, Adonara Timur. Flores Timur

5. Komunitas KAHE Maumere

M 7,8 SR
Pameran, Diskusi, dan Pertunjukan
(Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan dan Ancaman)
Koordinator: Eka Dede Aton Putra Nggalu

5-11 Desember 2017
di Area Studio Radio Sonia Fm dan Dapoer Soenda
Jl. Don Thomas, No. 19 Maumere, Sikka.

Tentang AntarRagam
Adalah inisiatif baru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang ingin menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an).

Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Inisiatif ini didukung oleh Ford Foundation.

—-

AntarRagam Performance Series

Teater Garasi/Garasi Performance Institute, in collaboration with creative communities in Madura and Flores present #SeriPentasAntarRagam – series of work presentation initiated by, and based on issues and potentials in communities respectively. The creative performance and the whole activities (workshop, residency program, discussion) are part of AntarRagam, Teater Garasi/Garasi Performance Institute latest initiative which started in early 2017.

#SeriPentasAntarRagam

1. Komunitas Masyarakat Lumpur

Theater Performance
PEREMPUAN, DAN KAPAL YANG HILANG (Women, and the Lost Ship)
Director : R. Nike Dianita Febriyanti

Saturday, 25 November 2017
19.00
Gedung Pratanu (Pendopo II Bangkalan)
Jl. Soekarno-Hatta, No. 35, Bangkalan Madura

2. Sanggar Seni Makan Ati

Theater Performance
POCET (The Rippening)
Director : Fikril Akbar

Sunday, 26 November 2017
19.00 WIB
Sanggar Seni Makan Ati
Jl. Pintu Gerbang Gg. VII Bugih Pamekasan Madura

Tuesday, 28 November 2017
19.00 WIB
Vihara Avalokitesvara
Dusun Candi, Polagan, Galis Pamekasan Madura

This performance is supported by Teater Akura, Teater Pangestu, Teater Kaged, LPM Semesta and Vihara Avalokiteswara

3. Teater Karapan Pamekasan

Theater Performance
KERANGKENG (Cage)
Director : Hafiki

Uji Coba Theatre Sampang

Theater Performance
Mimpi di Atas Pagi (Dreams Over the Morning)
Work by : Samsul Arifin dan Syukron Yusuf

Monday, 27 November 2017
Pukul 19.00 WIB
Al Mukhlisin Islamic Boarding School, Sedur Pakong, Pamekasan Madura

4. Sanggar Sina Riang Adonara
In partnership with Wathan Lamahala community
and the village administrative of Weiburak

Theater Performance
WARISAN (Inheritance)
Director : Veronika Ratumakin

Saturday 2 December 2017
19.30 WITA
Village of Lamahala, East Adonara, East Flores

Monday 4 December 2017
19.30 WITA
At the yard of Gudang Putra Tunggal, Dusun 2, Waiburak, East Adonara. East Flores

5. KAHE community Maumere

M 7,8 SR
Exhibition, Discussion, and Performance
(Reflecting Tsunami in Memory, Changes, and Threat)
Coordinator: Eka Putra Nggalu

5-11 December 2017
At the area of Radio Sonia Fm and Dapoer Soenda
Jl. Don Thomas, No. 19 Maumere, Sikka.

On AntarRagam

Antarragam is Teater Garasi/Garasi Performance Institute’s new initiative that aims to build a contact and meeting platform with different traditions and cultures as well as with emerging artist and young people in the cities outside Java, as an unlearning and relearning process on being Indonesian or Asian.

Performance piece and art project that is created in this program can give rise to new knowledge and alternative narratives of the realities of change and social-cultural diversity in Indonesia and Asia.

This program is supported by The Ford Foundation.

Improvisasi, Pernikahan Dini, dan Dunia Anak-Anak (Menonton Proses Latihan Sanggar Seni Makan Ati, Pamekasan)

Sanggar Seni Makan Ati sedang melakukan tahap improvisasi pada tanggal 7 hingga 9 November 2017. Latihan digelar di halaman Sanggar Seni Makan Ati yang terletak di salah satu pemukiman warga di daerah Bugih, Pamekasan.

Pada latihan-latihan sebelumnya, Fikril juga melakukan tahap improvisasi, dan dari potongan-potongan adegan yang belum dipilih dan dikodifikasi itu, secara bersama-sama, dibuatlah struktur dasar pertunjukan.

Improvisasi malam itu berangkat dari struktur tersebut dan memfokuskan diri pada satu adegan, yaitu dunia anak-anak. Para aktor yang terdiri dari Abu, Imam, Nurus, Faizin, Fifa, dan Santi memilih melakukan improvisasi dengan Bahasa Madura. Permainan anak-anak seperti petak umpet dan karakter tokoh hero seperti Power Rangers adalah beberapa hal yang muncul dan terus dicari kemungkinan bentuknya.

 

Selama proses latihan berlangsung, warga (dari orang tua hingga anak-anak) turut mengikuti jalannya proses dan sesekali memberi respon spontan atas apa yang berlangsung dalam improvisasi. Respon warga merupakan hal menarik sebab itu menunjukkan betapa isu yang diangkat dan strategi pemanggungan yang dilakukan Sanggar Seni makan Ati cukup bisa diterima dan dinikmati oleh publik umum.

Latihan yang digelar malam hari itu dipimpin oleh Dwi Fitriyanto (ketua Sanggar Seni Makan Ati) yang sementara ini menggantikan sutradara Fikril Akbar sebab sedang berada di luar kota. Pada tanggal 7 dan 8 latihan melibatkan musik karawitan dari Sanggar Seni Makan Ati sendiri. Menariknya, seniman yang memainkan karwitan dan mencoba berdialog dengan panggung adalah anak-anak, mulai dari tingkat SD hingga SMA.

Setelah dua malam melihat latihan dan kemudian mengidentifikasi kebutuhan terkait keaktoran, maka pada malam tanggal 9 November, para aktor latihan bersama Gunawan Maryanto. Latihan meliputi view point, theatre of image, interaksi, dan tubuh menafsir imaji.

Improvisasi, Suara Perempuan, dan Soto Madura (Menonton Proses Latihan Komunitas Masyarakat Lumpur, Bangkalan)

Bersamaan dengan digelarnya workshop Manajemen Produksi, Manajemen Panggung dan Artistik, dan Tata Cahaya pada tanggal 3 s.d 5 November 2017 di Bangkalan, Nike dan teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur menjalani proses latihan bersama Erytrina Baskoro dari Teater Garasi.

Bertempat di Pendopo Pratanu, Bangkalan, proses latihan selama tiga hari itu memfokuskan diri pada dua hal. Pertama, pematangan isu tentang situasi ambivalen yang dialami oleh perempuan (istri) dalam menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya yang bekerja sebagai pelayar.

Kedua, improvisasi teks dialog Soto Madura. Nike meminjam pertunjukan tradisi Madura yaitu Soto Madura menjadi salah satu bagian yang saat ini sedang coba dikembangkan. Dalam pewujudan karyanya, Nike dibantu oleh teman-teman di Komunitas Masyarakat Lumpur, seperti Anwar Sadat dalam penggarapan visual artistiknya.

Bersama 6 aktor seperti Hoiri, Dian, Oktavia, Dinny, Mery, dan Soul, Nike telah memulai proses penciptaan sejak bulan September lalu dengan riset langsung ke desa Arosbaya, salah satu daerah di mana banyak dijumpai keluarga pelayar. Mereka bertemu dan berbincang langsung dengan para istri dari pelayar, tokoh masyarakat, suami pelayar dan masyarakat lainnya dalam rangka menggali data tentang kehidupan istri pelayar, apa saja yang dihadapi saat tidak ada suami di rumah, bagaimana perempuan (istri) berperan ganda dalam mengasuh anak, dan juga menghadapi stigma atau pandangan masyarakat yang sering tidak berpihak pada perempuan-istri pelayar.

Enam hari kemudian, tepatnya pada tanggal 11-12 November 2017, Gunawan Maryanto menemani proses latihan Nike dan teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur. Selama dua hari Gunawan Maryanto melihat perkembangan prosesnya, menonton potongan-potongan adegan yang sudah dibuat, dan mendiskusikan naskah. Di samping itu ia juga memberi latihan dasar keaktoran sebagai tahap pra kondisi sebelum fokus lagi pada penggarapan karya.

Workshop Komposisi Musik di Maumere, NTT

Komunitas Kahe Maumere merencanakan agenda serangkaian acara yang berangkat dari tema Tsunami pada akhir November 2017. Pentas musik merupakan salah satu menu dalam acara tersebut. Ide tema acara ini sendiri sudah dibicarakan sejak tahun 2015. Tahun ini tepat 25 tahun usia peristiwa bencana alam yang terjadi pada 1992 tersebut, dan bulan September lalu anggota Komunitas Kahe berkesempatan untuk melakukan kerja gali sumber di pulau Kojadoi (salah satu lokasi yang terkena dampak terparah saat tsunami 1992).

Sepulang dari Kojadoi beberapa anggota Komunitas Kahe yang memiliki konsern besar pada musik—dimotori oleh Riki dan Kepin—mulai sering bertemu dan melakukan jamming guna menciptakan karya komposisi musik yang berangkat dari tema tsunami yang mereka rumuskan setelah perjalanan ke Kojadoi.

 

Berangkat dari situasi tersebut awal November lalu Komunitas Kahe bersama Teater Garasi, juga sebagai lanjutan dari program AntarRagam di Flores, mengadakan workshop komposisi musik yang difasilitasi oleh Doni Kurniawan, basist dari grup band Risky Summerbee and The Honeytief (RSTH). Workshop dihadiri 20 orang peserta, terdiri dari perwakilan Sanggar Seni Makan Ati dan Komunitas Masyarakat Lumpur dari Madura, Sanggar Sina Riang dari Adonara, Calypso, Flourescent Adolescent, Karmel, serta Teater Tanya dari Maumere.

Workshop yang diselenggarakan pada tanggal 4-5 November 2017 di Aula Hotel Pelita Maumere, Sikka, NTT ini diawali dengan presentasi komposisi musik dari Komunitas Kahe untuk kemudian didiskusikan sebagai pijakan memahami dasar-dasar memahami komposisi musik. Kemudian Doni menjelaskan bahwa dalam membuat komposisi musik, komposer dapat memulai dari tema lalu merancang konsep, atau dari improvisasi nada.

Pada hari pertama workshop, peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Dalam waktu kurang lebih dua jam tiap kelompok ditugaskan untuk membuat komposisi musik berangkat dari tema tertentu. Kelompok pertama adalah anggota Komunitas Kahe yang menggarap tema tsunami. Kelompok kedua berangkat dari tema Religi dan spiritualitas, terdiri dari anggota Teater Tanya dan beberapa Pemusik dari Maumere. Lalu kelompok ketiga beranggotakan perwakilan dari Komunitas Masyarakat Lumpur dan Sanggar Seni Makan Ati Madura, Sanggar Sina Riang Adonara, dan Anggota Komunitas Kahe, berangkat dari tema perempuan.

Sebelum proses penggarapan komposisi musik, tiap kelompok diminta untuk melakukan riset singkat tentang tema. Kemudian setiap kelompok mempresentasikan komposisi musik yang mereka ciptakan dalam waktu dua jam tersebut. Melalui praktik singkat, Doni mengajak peserta untuk mengenal bagaima menurunkan ide atau gagasan ke dalam bentuk improvisasi singkat sebagai salah satu cara penciptaan komposisi. Doni juga berbagi mengenai proses kerja penciptaan musik di RTSH yang seringkali berangkat dari penggalian tema atau isu tertentu. Pada sesi ini Doni juga mengomentari potensi para peserta yang memiliki rasa musikal yang kuat, sehingga tugas komposer adalah menciptakan ruang bermain yang memungkinkan munculnya potensi-potensi tersebut.

Pada workshop hari kedua, para peserta diajak untuk membedah dan membuat komposisi sederhana. Doni juga menjelaskan, komposisi musik—sebagaimana dalam bahasa—ialah susunan beberapa kalimat; dari beberapa kata, atau dengan kata lain komposisi musik disusun oleh serangkaian motif-motif bunyi. Dalam sesi ini Doni mengajak peserta berdiskusi dan merefleksikan pengalaman bermusik masing-masing peserta, kemudian mencari cara sederhana mencipta komposisi, mulai dari menggunakan skala, hingga bagaimana membuat interjeksi dalam komposisi.

Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan praktik membuat komposisi sederhana. Peserta dibagi menjadi lima kelompok dengan lima tema, dan ditugaskan untuk membuat daftar kata kunci sebagai pijakan dalam mencipta motif-motif bunyi. Setelah proses tersebut, tiap kelompok membuat lapis-lapis partitur sederhana. Sesi ditutup dengan presentasi komposisi musik dari lima kelompok.

Workshop Manajemen Produksi, Manajemen Panggung, dan Tata Cahaya AntarRagam di Madura

 

Sebagai proses lanjutan program AntarRagam di Madura, dengan menimbang beberapa kebutuhan dan target atau capaian yang diinginkan dari beberapa seniman (dari komunitas mitra kerja Teater Garasi) yang saat ini sedang menggarap karya, maka pada tanggal 3 s.d 5 November 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memfasilitasi tiga workshop sekaligus, meliputi Manajemen Produksi, Manajemen Panggung, dan Tata Cahaya.

Hari pertama, tanggal 3 November 2017, sekitar pukul 10.00 WIB, bertempat di pendopo Taman Paseban Bangkalan pada sesi 1 dan di Sanggar Masyarakat Lumpur, dusun Tarogan, Bangkalan pada sesi 2, Lusia Neti Cahyani, manajer program Teater Garasi memulai workshop dengan materi Manajemen Produksi. Lusia membagi materi perihal bagaimana nilai satu karya tidak hanya dilihat dari aspek artistik di panggung, tetapi juga bagaimana hal itu didukung oleh kerja manajerial yang ketat, mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, monitoring, dan evaluasi.

Workshop yang diikuti 11 peserta dari Masyarakat Lumpur Bangkalan dan Makan Ati Pamekasan ini tidak hanya membahas soal teknis manajerial, tetapi juga bagaimana manajemen produksi bergantung dengan situasi di daerah masing-masing di mana sanggar atau komunitas berada. Lusia juga membagi pengalamannya sebagai pimpinan produksi untuk pertunjukan-pertunjukan Teater Garasi, seperti bagaimana membangun jaringan yang luas dan memelihara jaringan tersebut dengan program-program berkelanjutan dan upaya melibatkan publik.

Hari kedua membahas manajemen panggung dan hal yang berkaitan dengan teknik artistik di panggung. Workshop yang difasilitasi oleh Ignatius Sugiarto, technical director Teater Garasi, ini dimulai dengan perkenalan dan presentasi tentang image yang dibawa oleh masing-masing peserta. Dari image tersebut kemudian peserta mencari kata kunci yang relevan dan memproyeksikan image tersebut ke atas panggung.

Diskusi dari peserta akhirnya membawa pada satu pemahaman bahwa artistik di panggung selalu bertolak dari ide dan gagasan serta kebutuhan pertunjukan. Hal itu juga berkaitan dengan pilihan-pilihan medium dan situasi ruang pertunjukan.

Workshop hari kedua diakhiri dengan riset ke Bukit Jeddih, tempat penambangan batu kapur yang kini menjadi salah satu destinasi wisata alam di Madura. Di Bukit Jeddih para peserta diminta untuk mengamati dan mengalami ruang serta melihat aktifitas para penambang dan wisatawan. Hasil dari amatan tersebut kemudian dipresentasikan oleh masing-masing peserta dengan menunjukkan potret dan kemungkinan apa yang terjadi jika potret tersebut diproyeksikan ke dalam pertunjukan.

Workshop hari terakhir membahas Tata Cahaya, dimulai pukul 14.00 WIB. Bertempat di gedung Pendopo Pratanu Bangkalan, materi dimulai dengan beberapa pertanyaan dari peserta terkait cayaha dalam pertunjukan. Misalnya bagaimana membangun image siang dan malam, bagaimana psikologi warna bekerja dalam pencahayaan, bagaimana cahaya membentuk ruang, bagaimana relasi cahaya dengan ruang, apakah tanpa cahaya juga ruang.

Fasilitator Ignatius Sugiarto, yang juga seorang lighting designer Teater Garasi, merespon pertanyaan peserta dengan memberi penjelasan terkait cahaya dan ‘kehadiran’ dan bagaimana cahaya juga adalah tanda bagi kehadiran elemen lain.

Workshop yang diikuti peserta Makan Ati Pamekasan, Masyarakat Lumpur Bangkalan, dan Uji Coba Theatre Sampang ini juga menyentuh wilayah teknis tata cahaya, seperti sumber cahaya, jenis lampu dan karakter cahaya, penempatan atau posisi lampu, intensitas, suhu, warna, penomoran channel, efek, dan lain-lain. Menjelang pukul 18.00, para peserta dibagi dua kelompok dan masing-masing membuat lembar kerja untuk dipraktikkan pada malam harinya dengan simulasi dari salah satu adegan pertunjukan Suara-Suara Perempuan (sutradara R. Nike Dianita Febriyanti) yang berdurasi 4 menit 15 detik.