AntarRagam Lebih Lanjut

Setelah rangkaian workshop penciptaan (Mei 2017) dan program residensi di Yogyakarta (Juli-Agustus 2017), komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Flores dan Madura kemudian membuat proyek penciptaan seni berdasarkan isu dan potensi lokalnya masing-masing. Proyek penciptaan seni dan seluruh rangkaian kegiatan yang menyertainya ini merupakan bagian dari program AntarRagam, inisiatif terbaru Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

Dalam kerangka proses penciptaan tersebut, di bulan November ini mitra di Madura dan Flores bersama Teater Garasi memberlangsungkan beberapa agenda kegiatan, sebagai berikut:

Lusia Neti Cahyani (Manajer Program Teater Garasi) berbagi Pendekatan Manajemen Produksi bersama Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan) dan Makan Ati (Pamekasan) di Sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur, kampung Tarogan, Bangkalan, Madura, Jumat 3 November 2017.

Ignatius Sugiarto (Seniman Mukim—Direktur Teknik dan Penata Cahaya—Teater Garasi) berbagi Pendekatan Manajemen Panggung bersama Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan) dan Komunitas Makan Ati (Pamekasan), Sabtu 4 November 2017, di Sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur, kampung Tarogan, Bangkalan, Madura. Dan Minggu 5 November 2017, Pak Clink (aka Ignatius Sugiarto) berbagi Pendekatan Tata Cahaya di gedung Pratanu, komplek Kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan.

Workshop Komposisi Musik Bersama Doni Kurniawan (Bassist Risky Summerbee & the Honeythief, LastElise, Penggagas Proyek Pengenalan Musik kepada remaja-remaja “Musik For Everyone”), 4-5 November 2017, di Aula Hotel Pelita Maumere, Sikka, NTT. Agenda ini diselenggarakan bersama Komunitas Kahe, komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Maumere-Flores. Peserta workshop tidak hanya komunitas mitra dari Flores (Komuntitas Kahe dan Sanggar SinarRiang), tapi juga seniman dari komunitas mitra di Madura. Pertemuan seniman dari dua kawasan di workshop ini juga menjadi kesempatan untuk menginisiasi pertukaran ragam musikalitas Flores dan Madura.

Selain workshop-workshop di atas, beberapa seniman Teater Garasi juga berkesempatan untuk menemani proses latihan dan perwujudan proyek penciptaan dari masing-masing komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Flores dan Madura.

Work in Progress Suara-Suara Perempuan Madura

Selepas dari residensi selama enam minggu (10 Juli s.d. 20 Agustus) di Teater Garasi/Garasi Performance Institute, R. Nike Dianita Febriyanti, seniman asal Bangkalan, Madura, menginisiasi sebuah proses karya pertunjukan bersama seniman-seniman muda Madura lainnya seperti Mery Vitaloka, Soul Esto, Hoiri Asfa, Dian Kunfillah, Oktavia Dwi Rahayu, dan Dini Islami.

Pertunjukan ini berangkat dari isu tentang situasi ambivalen yang dialami oleh perempuan (istri) dalam menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya yang bekerja sebagai pelayar. Karena karya ini berangkat dari isu, maka Nike dan kawan-kawan melakukan riset di Arosbaya, salah satu kecamatan di Bangkalan yang terletak di daerah pesisir utara Madura, sebagai contoh kasus dimana situasi tersebut sedang berlangsung.

Sebagai satu percobaan, pada tanggal 23 Oktober 2017, Nike dan kawan-kawan mempresentasikan karya tahap work in progress-nya di gelaran Gresik Art Festival 2017, yang bertempat di gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro Gresik, Jawa Timur. Karya yang diberi judul Suara-Suara Perempuan ini merupakan simulasi pertunjukan di mana hasil akhirnya akan dipresentasikan pada tanggal 25 November 2017 di Bangkalan.

 

Penggalian dan Pendalaman Isu Untuk Proses Penciptaan Karya di Pamekasan dan Bangkalan

Setelah melalui tahap menciptakan secara bersama-sama melalui pendekatan penciptaan Teater Garasi/Garasi Performer Institut dalam workshop maupun program magang yang diadakan Tetaer Garasi, mitra seniman Madura dan Flores yaitu  Fikril Akbar (Pamekasan,Madura), R. Nike Dianita Febriyanti (bangkalan, Madura), Samsyul arifin (Sampang, Madura), Antonius F. Eka Putra Nggalu (Maumere, NTT), Veronika Ratumakin (Adonara, NTT) dirangsang untuk menciptakan satu karya bersama komunitasnya berangkat dari isu dan konteks lokal. Selama proses penciptaan karya, Teater Garasi/Garasi Performance Institute sebagai mitra akan menjadi teman diskusi selama penciptaan berlangsung.

***

Erythrina Baskoro, Gunawan Maryanto, dan Shohifur Ridho’i bertolak ke Madura pada tanggal 19 hingga 22 September 2017 untuk berdikusi mengenai proses Fikril Akbar dari Pamekasan dan R. Nike Dianita Febriyanti dari Bangkalan dan pada saat bersamaan bertemu dengan Samsul Arifin dari Sampang. Ketiga seniman muda tersebut, adalah  peserta workshop Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia di Sampang pada bulan Mei 2017 silam. Selepas workshop, mereka berinisiatif membuat satu karya dengan mengajak anggota komunitasnya masing-masing.

Pertemuan dengan Fikril dan timnya berlangsung di kantor Dewan Kesenian Pamekasan, kami membahas tema yang mereka pilih, yaitu ‘Pernikahan Dini’. Diskusi  yang berlangsung  hingga tengah malam telah berhasil  menjawab beberapa pertanyaan seperti: bagaimana pernikahan dini dalam lanskap kultur Madura, apakah pernikahan dini relevan dengan kenyataan Madura hari ini, mengapa pernikahan dini nyaris selalu berujung pada perceraian, bagaimana hak mendapat pendidikan untuk anak, bagaimana kehidupan ‘korban’ pernikahan dini selepas bercerai, bagaimana stigma negatif terhadap perempuan selepas bercerai.

Samsul Arifin salah satu peserta workshop di Sampang pada bulan Mei silam sekaligus peserta residensi Teater Garasi pada bulan Agustus yang lalu, ikut terlibat dalam diskusi malam itu. Samsul bersama Syukron Yusuf (anggota Uji Coba Theatre, Sampang) saat ini sedang dalam proses menciptakan karya dengan mengambil tarian ritual laut sebagai pijakan dalam karyanya. Menurut rencana, karya tersebut akan dipresentasikan pada pertengahan November 2017 di Sampang.

Di sela diskusi di  tempat yang sama, kami bertemu dan berbincang dengan Brodjol Seno Aji, salah satu pegiat seni di Pamekasan yang kini mengajar di salah satu sekolah di Pamekasan. Melalui obrolan dengan Brojol, kami sedikit melihat peta dan persoalan kesenian di Pamekasan yang secara umum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di daerah-daerah lain di Madura, misalnya tentang pembinaan kepada seniman muda, dukungan dari pemerintah terhadap kerja-kerja seniman, dan bagaimana pemerintah dan seniman bekerja dalam kesinambungan yang sama sehingga menciptakan lingkungan kreatif yang lebih kondusif dan terukur.

***

Esok harinya, 20 Oktober 2017, Erythrina Baskoro, Gunawan Maryanto, Shohifur Ridho’i dan tim Fikril berkunjung ke studio Sanggar Makan Ati Pamekasan, sebuah kelompok kesenian di mana Fikril banyak berproses di sanggar tersebut. Sanggar Makan Ati terletak terletak di tengah-tengah pemukiman warga. Kami berbicang dengan pendiri Sanggar Makan Ati yaitu Tocil, Yono, Cahyanto dan Novie Camelia, pendiri komunitas Civitas Kotheka, kelompok kajian atau diskusi di Pamekasan.

Studio yang berada persis di tengah-tengah kampung itu memunculkan inspirasi untuk memprsentasikan karya Fikril di sana. Apalagi tema yang diusung sangat dekat dengan isu masyarakat kampung tersebut.

***

Sebelum beranjak ke Bangkalan, kami sempatkan ke Kecamatan Parenduan, Sumenep untuk bertemu dengan kyai Turmidzi di Tabun Art Space, sebuah ruang seni yang terletak sekitar 1 KM dari kediaman kyai yang juga seorang seniman batik ini.  Kami melanjutkan obrolan perihal pernikahan dini di Madura dan bayangan ke depan atas kemungkinan ruang yang saat ini sedang dibangun oleh kyai Turmizi.

Esok harinya kami bertolak ke kota kabupaten Sumenep untuk bertemu dengan Syah A. Latief atau biasa dipanggil Athink di Kancakona Kopi. Di kafe milik para alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut kami berbincang mengenai kemungkinan  teater juga hadir di tengah-tengah warga kampung di Sumenep, di mana warga tidak hanya sebagai penonton belaka namun juga terlibat sebagai penggerak dan mempresentasikan kegelisahan mereka sebagai warga. Direncanakan agenda ini dilakukan tahun depan dan Athink akan bekerja bersama warga pulau Gili Raja, salah satu pulau kecil di kabupaten Sumenep.

***

 

Hari berikutnya kami beranjak ke Bangkalan utuk bertemu dengan R. Nike Dianita Febriyanti dan Komunitas Masyarakat Lumpur.  Selain melihat proses latihan tim Nike, kami terlibat dalam diskusi untuk membentang kemungkinan pembacaan atas fenomena yang terjadi di Arosbaya, Bangkalan, yaitu istri yang ditinggal berlayar oleh suaminya.

Diskusi berlangsung hingga malam, dan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan sebagai kerangka mendalami isu. Misalnya, bagaimana istri bertahan dalam kondisi berjarak dengan suaminya, bagaimana mereka mengahadapi stigma negatif atas anggapan istri yang hidup tanpa suami di rumah, apa saja bentuk stigma yang muncul, kenapa stigma itu muncul, dalam situasi apa stigma tersebut muncul di masyarakat,  sekaligus membicarakan  bagaimana menyikapi data-data yang sudah terkumpul seperti hasil wawancara dengan subjek terkait (istri dari suami pelayar)

***

Tanggal 13 Oktober 2017, Gunawan Maryanto dan Erythrina Baskoro berkunjung lagi ke Bangkalan dalam rangka pendampingan proses untuk yang kedua kalinya bersama Nike dan teman-teman. Kunjungan kedua tersebut untuk melihat kebutuhan proses yang sedang berlangsung.

Ada 2 isu utama yang tengah dihadapi Nike dalam dalam proses penciptaannya, yakni penajaman/penguatan tema dan perwujudannya ke bentuk. Usai latihan Gunawan Maryanto dan Erythrina Baskoro mengajak mereka untuk mendiskusikan proses yang telah berlangsung. Diskusi ini juga melibatkan para anggota Komunitas Masyarakat Lumpur lainnya, termasuk para pendiri komunitas seperti M Helmy Prasetya.

Dari diskusi tersebut muncul kebutuhan untuk segera menyusun struktur pertunjukan. Temuan-temuan Nike dan kawan-kawan di lapangan dan bahan-bahan tertulis mengenai tema istri-istri pelayar di Arosbaya sudah dirasa cukup untuk melangkah ke tahap berikutnya: penyusunan struktur. Dengan adanya struktur dibayangkan para aktor akan lebih mudah mencari turunan-turunannya ke bentuk. Kebutuhan ini dirasa cukup mendesak mengingat pertunjukan yang tengah digarap tersebut juga direncanakan untuk dipanggungkan di Gresik pada tanggal 23 Oktober 2017.

Presentasi Akhir Program Residensi AntarRagam Seniman Flores dan Madura

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Presentasi akhir program residensi Antarragam seniman Flores dan Madura berlangung pada hari Minggu, 20 Agustus 2017 di Ark Galerie. Presentasi ini diikuti oleh tiga orang seniman residensi Antarragam, Antonius F. Eka Putra Nggalu (Maumere), R. Nike Dianita Febriyanti (Bangkalan), dan Syamsul Arifin (Sampang).

Gelaran akhir program residensi ini dilakukan setelah peserta melalui proses belajar dasar keaktoran bersama empat peserta Performer Studio dan dua peserta magang internasional. Selama enam minggu mereka tinggal di Teater Garasi untuk melihat dan mengalami proses kerja Teater Garasi dan juga lingkungan seni di Yogyakarta. Selama 10 hari terakhir mereka menyiapkan dua pertunjukan kecil yang masing-masing berjudul Bagaimana Menghilang Sepenuhnya dan Lupa Untuk Mengingat.

Pertunjukan Bagaimana Menghilang Sepenuhnya bertolak dari pertanyaan: apa yang terjadi jika percakapan antar pribadi tidak berangkat dari kontek dan bahasa yang sama? Pertanyaan tersebut muncul setelah para performer Eka Putra, Komang Rosie, Rizki Irawan, Syamsul Arifin, dan Shohifur Ridho’i sebagai sutradara mengamati watak percakapan di media sosial. Pertunjukan yang dibuat secara bersama ini coba menerjemahkan situasi tersebut dengan cara menubuhkan pengalaman percakapan di media sosial ke atas panggung.

Sementara Lupa Untuk Mengingat berangkat dari diskusi tentang sejarah dan perbedaan ingatan antar generasi. Pertunjukan yang dikerjakan oleh Eva Nuril, Nike Dianita, Galank Hidayat, dan disutradarai Imre van den Bosch ini mempertanyakan tentang ingatan dan bagaimana kita membentuk ingatan. Untuk membicarakan tema ini, mereka berangkat dari narasi-narasi minor para performer dan kemudian dipertemukan dan dirajut menjadi satu pertunjukan berdurasi sekitar dua puluh menit.

Penonton yang hadir berjumlah kurang lebih 200 orang dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, seniman, dan umum memadati ruang pertunjukan Ark Galerie. Presentasi akhir ini digenapi dengan diskusi bersama penonton.

 

Rehearsal Presentasi Akhir Program Residensi Seniman Flores dan Madura

Setelah melalui serangkaian workshop dan training sejak tanggal 17 Juli hingga 4 Agustus 2017, empat peserta residensi dari Flores dan Madura: Antonius F. Eka Putra Nggalu (Maumere), Veronika Ratumakin (Adonara), R. Nike Dianita Febriyanti (Bangkalan), dan Syamsul Arifin (Sampang) memasuki tahap rehearsal untuk presentasi akhir berupa karya pertunjukan.

Dalam proses ini mereka bergabung dengan empat peserta Performer Studio: Denta Aditya (Yogyakarta), Galank Hidayat (Sukabumi), Muhammad Eva Nuril Huda (Yogyakarta), dan Rizki Irawan (Yogyakarta), dan dua peserta magang: Imre van den Bosch (Utrecht, Belanda) dan Komang Rosie Clynes (Melbourne, Australia).

Selama empat minggu peserta melalui tahap Workshop I: Pembongkaran yang diampu oleh Yudi Ahmad Tajudin, kelas Analisa Sosial oleh Ugoran Prasad, Workshop II: Vokal dan Pelisanan oleh Gunawan Maryanto, Workshop III: Interaksi oleh Ugoran Prasad, Systema oleh Ari Dwianto, dan PGB Bangau Putih oleh Teguh Eswe. Sementara training berlangsung bersama instruktur Arsita Iswardani, Erytrina Baskorowati, dan MN Qomaruddin.

Pada tahap rehearsal peserta dibagi dalam dua kelompok dan masing-masing kelompok disutradarai oleh Imre van den Bosch dan Shohifur Ridho’i. Dua kelompok ini akan menggarap karyanya dengan pendekatan Penciptaan Bersama. Di penghujung proses, karya ini akan dipresentasikan pada tanggal 20 Agustus 2017 di Ark Galerie, Yogyakarta.

Diskusi Seniman Residensi di Teater Garasi: Cerita-Cerita Dari Flores dan Madura

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Memasuki minggu ketiga program residensi Antarragam, Teater Garasi/Garasi Performance Institute menggelar acara diskusi publik bersama empat orang peserta residensi dari Flores dan Madura, serta pengamat undangan dari luar. Melalui forum ini mereka berbagi tentang praktik berkeseniannya sebagai tolakan bertukar pengetahuan dengan publik Yogya (peserta diskusi) dalam membincang dan menimbang ulang kaitan atara seni dan lingkungan yang lebih luas.

Diskusi ini dibagi dalam dua sesi dan berlangsung selama dua hari, mulai dari pukul 16.00 s/d 18.00 WIB. Sesi pertama berlangsung pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017, dimulai oleh peserta dari Flores, Antonius F. Eka Putra Nggalu dan Veronika Ratumakin. Mereka ditemani Yohanes W Hayon, penulis dan alumnus STFK Ladelero sebagai pemantik diskusi dan MN Qomaruddin sebagai moderator.

Bertolak dari tema “Seni, Adat, dan Agama di Flores”, Eka berbagi tentang dinamika proses di Komunitas KAHE, Maumere, sebagai kumpulan para penulis yang ingin menciptakan lingkungan kreatif di luar lingkungan gereja/seminari. Sementara Veronika memapar di sekitar isu perempuan dan adat dalam karyanya bersama Ibu-Ibu rumah tangga di komunitas yang dia dirikan, Sanggar Seni Budaya Sina Riang, Adonara. Adapun W Hayon memapar soal yang lebih luas lagi, mulai dari sejarah masuknya Portugis ke Nusa Tenggara Timur dan pengaruh yang ditinggalkannya, hingga lanskap sosial politik, agama, adat dan singgungannya dengan kesenian yang berlangsung sampai hari ini.

Besoknya, pada jam yang sama, Minggu 06 Agustus 2017 forum diskusi sesi kedua digelar. Dua peserta residensi dari Madura, Syamsul Arifin dan R. Nike Dianita Febriyanti, beroleh giliran mempresentasikan proses berkeseniannya di komunitas dan kotanya masing-masing. Forum yang dimoderatori oleh Gunawan Maryanto ini membincang relasi antara “Seni dan Pesantren di Madura”.

Samsul memulai obrolan dengan mula-mula berbagi biografi personalnya, pengalaman berjumpa dengan beberapa seniman muda di Madura dan kegelisahannya tentang minimnya kegiatan seni di Sampang. Berangkat dari kegelisahan itu, Samsul kemudian berinisiatif mendirikan Ujicoba Theatre di Sampang sebagai laboratorium mengolah ide dan gagasan untuk menciptakan karya seni pertunjukan. Sementara Nike bercerita tentang Komunitas Masyarakat Lumpur dan bagaimana mereka menciptakan lingkungan seni di kota Bangkalan dengan melibatkan siswa dan sekolah dalam setiap kegiatannya. Forum ini juga mengundang Abdul Aziz Faiz, peneliti kelahiran Sampang dan kini bekerja di ISAIs (Institute Southeast Asian Islam) Yogyakarta. Faiz melihat pesantren dan kurikulum kitab klasik sebagai laboratorium bahasa lokal di mana kekuatan imajinasi dan memori kemaduraan terpelihara dalam medium bahasa, dan oleh karena itu spiritualitas dan estetika saling berjejalin dan menjadi sesuatu yang inherent dalam laku hidup santri/orang Madura.

Kedatangan Peserta Residensi Antarragam Dari Flores dan Madura

Hari Minggu tanggal 09 Juli 2017, dua peserta residensi Antarragam dari Flores, Antonius F. Eka Putra Nggalu (Maumere) dan Veronika Ratumakin (Adonara) tiba di Teater Garasi, Yogyakarta. Satu hari kemudian disusul oleh peserta residensi dari Madura, Syamsul Arifin (Sampang) dan R. Nike Dianita Febriyanti (Bangkalan).

Mereka akan menjalani program residensi di Teater Garasi/Garasi Performance Institute mulai tanggal 10 Juli sampai 20 Agustus 2017. Program residensi ini merupakan bagian/lanjutan dari program Antarragam, suatu inisiatif baru Teater Garasi yang ingin menjalin kontak dan pertemuan dengan tradisi, kebudayaan, serta seniman di kota-kota luar (pulau) Jawa.

Satu pekan pertama mereka melakukan serangkaian kegiatan seperti menonton pertunjukan, melihat pameran senirupa, mengunjungi komunitas seni, bertemu dengan seniman, dan mengikuti diskusi di sejumlah forum seni dan budaya sebagai orientasi awal program mereka di Yogyakarta.

Keempat seniman residensi ini akan bergabung dengan empat peserta workshop Performer Studio (program belajar keaktoran yang akan dimulai dari tanggal 17 Juli) dan dua peserta magang internasional, dan akan terbagi dalam dua kelompok untuk menciptakan proyek pertunjukan kecil yang akan dipresentasikan di Ark Galeri pada tanggal 20 Agustus nanti.

Perjalanan Pertama Teater Garasi ke Pulau Madura

Pada bulan Februari Teater Garasi melakukan perjalanan pertamanya ke Pulau Madura.  Gunawan Maryanto, Erythrina Baskoro, Shohifur Ridho’i dan Febrinawan Prestianto dibantu oleh teman seniman dari Sumenep,  Anwari , mengunjungi kota Bangkalan, Sampang dan Sumenep untuk bertemu dengan seniman-seniman di kota tersebut. Berbagi pengalaman dan belajar ini dilakukan dari tanggal 19 hingga 24 Februari 2017. Beberapa komunitas seni yang sempat kami kunjungi di kota Bangkalan adalah Komunitas Masyarakat Lumpur dan Teater Nanggala Universitas Trunojoyo, sementara di kota Sampang kami bertemu dengan seniman dari Ujicoba Teater, Taeater Tombak, Komunitas Stingghil, Pustaka Madura, Sanggar Kikana Rahman dan Padepokan Biruh Ompos. Di Kota Sumenep kami bertemu dengan seniman Syah A Lathief, Syaf Anton, Kyai Turmidzi Djaka,  Kyai M Faizi di pondok pesantren Annaquyah, Mahendra  dengan kelompoknya Language Theatre, dan Adi Sutipno, seorang pimpinan kelompok topeng Rukun Perawas.

Dari pertemuan tersebut Teater Garasi mengetahui kehidupan berkesenian di Madura, di mana dinamika antara satu kota dengan kota lainnya berbeda. Salah satunya adalah tumbuhnya kesenian di lingkungan pondok pesantren karena dukungan dan apresiasi dari kyai di kota Sumenep, sementara hal tersebut tidak terlalu terasa di kota Sampang maupun Bangkalan.

Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Sampang, Madura.

Setelah di Flores – NTT, Teater Garasi lalu berkunjung ke Sampang, Madura. Selama seminggu kami bertemu dan bertukar pengetahuan bersama seniman-seniman muda dari beberapa kota di Madura, melalui workshop dari tanggal 13-17 Mei, 2017, di 3 lokasi (aula Dinas Sosial, Balai Latihan Kerja dan Gedung Kesenian Sampang, Madura). Yudi Ahmad Tajudin, Gunawan Maryanto, Erythrina Baskoro, MN Qomarudin dan Lusia Neti Cahyani (seniman dan manajer Teater Garasi) memfasilitasi workshop ini, dibantu oleh Shohifur Ridho (sutradara Roka Teater, alumnus Performer Studio Teater Garasi). Bersama seniman-seniman muda dari Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan juga Sampang, kami mengajak melakukan proses identifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di Madura, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini. Peserta dibagi menjadi 2 grup yang mengolah isu dan modal kultural mereka ke dalam pertunjukan kecil (sekitar 30 menit) yang lalu di presentasikan di akhir workshop, di hadapan beberapa teman seniman dari Madura yang kami undang.

Workshop ini dibantu oleh teman-teman dari Padepokan Biruh Ompos, Komunitas Stingghil, dan Uji Coba Teater Sampang.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Workshop Pendekatan Penciptaan “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Flores Timur, NTT

 

Selama 5 hari (8-12 Mei 2017), beberapa seniman Teater Garasi (Yudi Ahmad Tajudin, Rizky Sasono, Arsita Iswardhani dan MN Qomarudin, ditemani oleh Antonius Maria Indrianto —aktivis NGO dan ketua dewan pengawas Teater Garasi) berkunjung ke Flores Timur, tepatnya ke kota Larantuka. Bersama sembilan belas teman dari beberapa daerah di Flores Timur (Adonara, Solor, Larantuka) dan Maumere, kami mengidentifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di daerah Flores, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam penciptaan seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini.

Proses saling berbagi ini kami selenggarakan bersama teman-teman Teater Nara (Flores Timur) dan Komunitas Kahe (Maumere). Berikut ini foto-foto aktivitas workshop yang dilakukan di wisma Bina Saron, San Dominggo, Larantuka.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|