Nubun Tawa: Memetakan Potensi Seni Budaya Flores Timur

Oleh Venti Wijayanti

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru—penyegaran dan pengembangan—dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni budaya antar kecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas yakni dengan menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat. Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Nubun Tawa Festival adalah bagian dari program AntarRagam (Performing Differences). Bekerjasama dengan pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur selama ini. Festival Nubun Tawa diselenggarakan di Kecamatan Lewolema, dirancang bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah Flores Timur, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di tujuh desa di Kecamatan Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

Rangkaian acara dibuka dengan upacara penyambutan di gerbang masuk Desa Bantala, dan dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, serta jajaran pejabat daerah Flores Timur, staf Kecamatan Lewolema, Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur. Dilanjutkan rangkaian pentas seni tradisi dan pertunjukan budaya Lewolema, di Lapangan Desa Bantala, membuka festival Nubun Tawa, festival seni budaya berbasis masyarakat Flores Timur. Sore hari, rombongan pengunjung dan warga masyarakat Lewolema, Flores Timur bergerak pindah ke bukit Eta Kenere, menggelar serangkaian pentas dari Darlene Litaay (Papua), Iwan Dadijono (Yogya), Kung Opa (Larantuka) dan Veronika Ratumakin (Adonara – Flores Timur), dan kemudian diakhiri dengan tari pergaulan Sole, Dolo-dolo, Lili dari warga desa Bantala. Acara di bukit berlangsung mulai matahari tenggelam hingga menyambut matahari terbit, dengan konsep camping cerita bersama keluarga.

Pada hari kedua beberapa agenda festival dilangsungkan: Pameran Tattoo Tradisional Budaya Lewolema yang berlangsung selama tiga hari festival, Teater Basa Tupa di Desa Riangkotek, Diskusi Budaya Lamaholot (Lewolema) yang diisi oleh Pater Simon Suban Tukan SVD dan Ivan Nestorman, berserta moderator Kowa Kleden di Desa Riangkotek, dilanjutkan Karnaval Budaya yang dimulai dari Lapangan Riangkotek dan berakhir di Pantai Kawaliwu, Musik akustik oleh Trada Band dan monolog oleh Ruth Marini setelah matahari tenggelam di Pinggir Pantai Kawaliwu. Penyelenggaraan upacara tradisi Lodo Ana di Rumah Suku Liwun, di Kawaliwu berlangsung sampai matahari terbit.

Pada puncak acara Festival di hari ketiga dilaksanakan di Desa Leworahang, yaitu misa Inkulturasi pada pagi sampai siang hari, pameran tattoo tradisional Budaya Lewolema, rangkaian pertunjukan seni dan budaya Flores Timur di Ile Padung antara lain; pertunjukan musik Fanfare, tarian Brasi, Belo Baja, pertunjukan mudik suling tradisional Solor Barat, atraksi tenun tradisional, fashion show busana tradisi Lewolema dan busana modern, pertunjukan musik seniman tamu Yasuhiro Morinaga yang berkolaborasi dengan Magdalena Eda Tukan dan Petronela Tokan, dan ditutup dengan tarian masal tradisional Sole Oha.

 

Membincangkan Madura: Tentang Tanah yang Ia Pijak

Oleh Renee Sari Wulan

I

Udara terasa sejuk berangin ketika aku menapak keluar mobil di pelataran vihara sore itu. Bergegas aku mengedarkan pandangan mencari tempat diskusi karena waktu sudah menunjukkan pukul 16 lewat. Aku terlambat satu jam dari jadwal diskusi yang kulihat di poster acara. Mobil yang mengantarku berhenti di sisi pendopo yang menjadi tempat perhelatan wayang kulit. Di barat pendopo kulihat ada bangunan kecil bertuliskan “Kantin”. Suara hati mendorongku bergerak ke sana, apalagi kulihat mas Cindil (Gunawan Maryanto), seorang teman dari Teater Garasi, melambai padaku dari kejauhan. Aku bergegas menghampirinya, kami bersalaman, bertukar sapa sejenak, lalu kudengar seruan di sisi kananku menyapaku, dia adalah Sita, aktor Teater Garasi juga. Kami berpelukan. Ini adalah perjumpaanku selanjutnya dengan mereka berdua setelah kami bertemu awal September yang lalu di acara Asian Dramaturg Network, yang berlokasi di Yogyakarta. Mas Cindil dan Sita mengarahkanku memasuki kantin yang rupanya menjadi tempat diskusi. Segera aku masuk dan mencari kursi kosong. Aku mendapatkan kursi di deretan belakang dan mulai menyimak diskusi. Pemantik diskusi yang tengah berbicara saat itu adalah Kyai M. Faizi dari Sumenep. Reflek aku menengok ke sisi kananku, kujumpai sederetan buku dipajang untuk dijual. Sambil telingaku berusaha terus menangkap pembicaraan kiai Faizi, mataku jelalatan ke deretan buku-buku itu. Di deretan paling dekat denganku kujumpai 3 buku kiai Faizi, dua buku tentang catatan perjalanan buah pengalaman di bis dan terminal-terminal yang ia kunjungi, satu buku tentang tafsir puisi. Segera kubeli dua buku catatan perjalanan tersebut, ditambah sebuah buku catatan keseharian karya Novie Chamelia. Kembali kusimak diskusi.

II

Dari hal-hal yang beliau utarakan dalam diskusi maupun dari buku karangan beliau yang sempat sekilas kubaca, aku langsung gandrung dengan kiai Faizi. Kiai yang mengasuh pondok pesantren Annuqayah tersebut menjelaskan dengan lugas persoalan tanah di Madura berikut penyikapan orang Madura sendiri atas tanah sebagai budaya maupun  aset ekonomi-politik. Ia menyatakan bahwa berbicara tentang  tanah adalah berbicara tentang perspektif. Perspektif kosmologi akan melihat tanah sebagai lokus, pertemuan hidup dan mati. Tanah memiliki karakter ekologi, manusia memiliki kekuatan untuk menafsir sebagai subjek.

Bagi orang Madura narasi tanah dibicarakan dalam tiga hal besar: tanah waris (tana sangkol), tradisi/ritual turun tanah atau berpijak pada tanah bagi bayi memasuki usia tujuh bulan (toron tana), dan ruwatan tanah/bumi memohon keselamatan-kesejahteraan hidup  dan keberhasilan panen sekaligus rasa syukur atas keberkahan berupa tanah yang subur (rokat tana atau rokat bume).

Pada perjalanan selanjutnya, terutama diperkuat dengan hadirnya jembatan Suramadu, yang awalnya dimaksudkan untuk mengangkat perekonomian di Madura, alhasil yang banyak terjadi adalah justru semakin banyaknya kelas menengah di Madura yang membelanjakan hartanya di luar Madura, dan hadirnya korporasi dengan ketamakan yang semakin kencang lajunya, melahap bumi Madura dengan segala isinya. Dampak lain dari jembatan Suramadu adalah semakin membanjirnya pendatang, namun perputaran uang masih lebih banyak terjadi di luar Madura.

Sebelum  jembatan Suramadu, pada masa Orba muncul kasus waduk Nipah, di mana masyarakat Madura berhadapan dengan negara dan korporasi sekaligus. Pembicara kedua, kiai Dardiri Zubairi (Sumenep), menyatakan bahwa ke depan masyarakat akan lebih banyak berhadapan dengan korporasi. Apalagi jenis bebatuan di Madura serupa dengan Kendeng. Maka ancaman serius bagi Madura jika pembongkaran batu yang dilakukan secara besar-besaran dibiarkan bebas terjadi tanpa ada pengaturan resmi dari pemerintah daerah, tahun 2030 Madura akan kering kerontang kehabisan air dan tanah.

Karenanya mitos perlu dirawat untuk untuk menjadi filter yang berkaitan dengan isu ekologi. Dalam buku Teologi Tanah disebutkan bahwa agama bisa dijadikan basis perlawanan untuk mempertahankan ruang dan tanah. Kapitalisme membutuhkan ruang, yang menyebabkan tanah masyarakat semakin minim.

Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh kiai Faizi: “bukit kapur itu sepertimu, yang diamanahkan untuk dirawat.”

Keluar dari ruang diskusi, aku merasa mendapat kabar gembira bahwa Madura pun bergeliat, bukan ruang hampa yang tak bergeming dengan kompleksitas dan dinamika manusia hari ini. Madura memiliki “orang-orang asyik” yang siap memperjuangkan tanah-bumi pijakannya, dengan gelora yang tinggi.

Lalu bagaimanakah tafsir tanah dan kompleksitas itu di ruang seni pertunjukan?

III

Sambil menunggu waktu pertunjukan, aku menyempatkan berkeliling mengitari kompleks vihara. Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) Pamekasan dibangun sekitar awal abad 20, merupakan satu dari tiga kelenteng di Madura. Patung-patung di sana merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dengan patung Budha dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di dataran Cina. Kompleks vihara ini memiliki keunikan karena memberi ruang juga bagi tempat peribadatan umat lain, yaitu pura dan musholla. Waktu di sana aku hanya melihat musholla saja yang terletak di samping kanan vihara. Keterbukaan semacam ini sungguh menyejukkan, tak heran jika mereka pun terbuka dengan penyelenggaraan Remo Teater Madura di dalam areal kompleks vihara tersebut. Semangat ini bertaut dengan semangat seniman dan pelaku seni budaya Madura yang bergerak mengawal, membaca, dan mengkritisi berbagai perkembangan di ruang sosial Madura, dengan segala kompleksitas dan dinamikanya dari waktu ke waktu.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, panitia mengarahkan kami menuju tanah lapang di luar area kompleks vihara, untuk melihat pertunjukan pertama. Ini adalah pertunjukan teater karya Wail Irsyad bertajuk Tabak. Ia mengambil gagasan dari tanaman tembakau yang akrab dengannya waktu ia kecil. Wail telah lama meninggalkan Madura, ia hijrah ke Bandung. Karena itu ia dipilih panitia Remo Teater  Madura untuk mementaskan karya hasil pembacaannya atas Madura kini sebagai warga diaspora Madura.

Aku bergegas menuju tanah lapang di luar pintu gerbang vihara. Diiringi gelap, nyaris tak ada cahaya di jalan, hanya lampu yang disiapkan beberapa untuk kebutuhan pementasan. Kulihat orang telah berkerumun mengelilingi suatu tempat agak ke tengah lapangan. Tanah yang kuinjak adalah tanah-tanah berbongkah, bukan dataran yang rata, sehingga aku harus berhati-hati melangkah  sekaligus bergegas agar masih mendapatkan posisi menonton yang nyaman. Objek yang dilihat penonton adalah seorang laki-laki yang tengah berproses dengan tubuhnya. Ia bergerak, menggeliat, membungkuk, kadang berjalan lalu tersungkur. Ia berjalan menghampiri bilah semacam anyaman bambu dengan ukuran hampir sama dengan tubuhnya. Ia angkat lalu ia seret bilah itu. Bergerak menuju vihara. Di belakangnya empat laki-laki menyorotkan cahaya ke arahnya, dan turut bergerak mengikutinya. Mereka berjalan memasuki kompleks vihara, berhenti di halaman samping pendopo. Empat laki-laki bergerak menghampiri laki-laki yang membawa bilah anyaman bambu. Mereka menarik laki-laki itu, mengangkat, lalu menghempaskannya lagi di atas bilahan kayu. Saling tarik dalam ketegangan. Lalu mereka membiarkan laki-laki itu berjalan sendiri memasuki ruang pameran. Di dalam ruangan, laki-laki tadi menghampiri gundukan tanah dengan tanaman tembakau di atasnya. Ia duduk bersila seperti bersemedi, lalu bergerak diiringi vokal seorang laki-laki di sisi kanannya. Kadang ia letakkan tanah dan tanaman itu di atas kepalanya sambil terus bergerak. Empat pemuda yang mengikutinya berdiri berjajar diagonal di depannya, sambil mengeluarkan suara. Formasi berubah, dengan suara tetap berbunyi. Kemudian lampu padam. Penonton berpindah ke ruang pertunjukan di samping ruang pameran.

Pertunjukan kedua bertajuk Tera’Ta’Adhamar, produksi Kikana Arts Production Sampang. Didukung oleh empat penari laki-laki dan dua penari perempuan. Mereka berkostum putih dan sesekali ada ungkapan monolog. Karya ini ingin berbagi gagasan tentang ‘keinginan’.

Pertunjukan ketiga adalah pertunjukan penutup. Karya terbaru Hari Ghulur sekembali ia mengikuti program American Dance Festival (ADF). Didukung enam penari (empat perempuan, dua laki-laki) memakai kostum hitam dengan potongan model berbeda. Sesuai dengan judulnya; White Stone (Batu Putih), Hari ingin berungkap tentang watak manusia Madura yang seperti batu putih, keras namun mudah dibentuk. Batu putih atau atu kapur sendiri merupakan hasil sumber daya alam di Madura, biasa digunakan masyarakat untuk mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

IV

Pada karya Wail saya mendapat pesan bahwa tanah yang kita pijak tak selamanya stabil. Ketidakstabilan yang membuat kita berputar, bersiasat, menelusuri. Demikian pula manusianya. Tak ada jaminan bahwa keduanya akan stabil selamanya. Di situlah pertarungan terjadi, karena manusia lebih menginginkan kestabilan. Sayangnya, kembali pada konteks tanah dan korporasi, kestabilan itu (baca: harmoni, keseimbangan) sering didapat dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, misalnya dengan mengikuti keinginan pemodal yang merugikan masyarakat. Ketika Wail meletakkan tanah dan tembakau di kepalanya, saya menangkap pesan bahwa di sisi lain, manusia rela menggantikan tanah, agar tembakau tetap tumbuh.

Hal ini bersambung dengan karya kedua yang bicara tentang harapan/keinginan. Akhir dari karya ini adalah ketika seorang laki-laki berdiri membawa cahaya. Agak berbeda dengan apa yang ingin disampaikan kreator, bahwa yang menjadi cahaya manusia dalam meraih keinginannya adalah ketulusan hati, bagi saya cahaya itu secara kuat melambangkan keinginan. Keinginanlah yang membuat manusia bergerak (hidup). Hal ini dinyatakan dengan gamblang dalam ungkapan menjelang akhir pertunjukan: “keinginanmu laksana cahaya, yang berpendar seperti kunang-kunang”. Tanah pun memiliki keinginan.

Dalam forum kreator yang dilakukan seusai pertunjukan, Rahman sebagai kreator mengungkapkan bahwa ia telah lama meninggalkan panggung kontemporer, lebih banyak melakukan pentas-pentas tari tradisi berdasaran pesanan. Namun, melihat karyanya malam itu, bagi saya istimewa karena di sana saya menjumpai tubuh-tubuh yang bergerak natural dan kuat. Hal ini terjadi pada penari laki-laki. Saya tidak melihat kegamangan mereka dalam bergerak, pilihan kosa-geraknya pun bagus. Mereka menginterpretasikan itu dengan tubuhnya, dan berhasil untuk tidak berjarak (antara tubuh yang bergerak dengan kosa-gerak yang memotivasinya). Tubuh mereka hadir sebagai proses pencarian yang benar-benar mereka lakukan.  Jika dianalogikan dengan kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: motivasi gerak adalah tongkat kayu; yang terjadi adalah bisa dua kemungkinan. Pertama tubuh yang bergerak agar bisa menjadi tongkat kayu (tubuh sedang menuju wujud tongkat kayu, namun belum sampai). Kedua, tubuh yang telah menjadi tongkat kayu dengan tafsir masing-masing (tubuh sudah sampai/menemukan wujud tongkat kayu itu sesuai penafsirannya). Kemungkinan pertama terjadi pada penari perempuan, kemungkinan kedua terjadi pada penari laki-laki.

Selain tubuh yang belum sampai, hal lain yang terjadi pada penari perempuan adalah masih terbebani karakter kosa-gerak tradisi.

Berikutnya adalah pertunjukan White Stone. Dalam catatan koreografinya, Hari Ghulur menyatakan bahwa karya ini hasil kerja studio yang ia jadikan laboratorium tari sekembali ia dari American Dance Festival dua bulan lalu. Kerja laboratorium ini mengujicobakan olah gerak dengan ‘emosi’ dan ‘impresi’. Selain itu ia menjadikan pencak silat Pamur, salah satu gaya pencak silat Madura dari Pamekasan, yang ia pelajari waktu SD, sebagai basis gerak dalam karya ini yang ia kombinasikan dengan teknik ‘Gaga’: sebuah teknik yang mendorong tubuh melakukan pencapaian maksimal atas gerak, dengan cara menghidupkan engine (energi, daya kekuatan/power, rasa/feel) tubuh. Menurut Hari, pencak silat merupakan basis pengendalian diri dan perlindungan bagi masyarakat Madura, karena pada umumnya mereka memiliki kultur merantau (ongga’). Spirit yang ia ambil di karya ini adalah menghindar, menyerang, dan bertahan.

White Stone atau batu putih dalam karya ini adalah tanda orang Madura dalam perspektif Hari, yang keras namun mudah dibentuk. Baginya, masyarakat Madura memiliki watak pekerja keras dan terbuka. Hal ini dipengaruhi oleh kultur kerja di persawahan yang gersang dan cara hidup kolektif.

Enam penari berkostum hitam dengan karakter masing-masing memperlihatkan ragam gerak silat yang berbaur dengan olah gerak lain, dihadirkan dengan intensitas yang kuat dan dipadu dengan tempo yang cepat. Gerakan ini mendominasi hampir seluruh koreografi. Dalam karya ini silat hadir dalam konteksnya sendiri sebagai bentuk ‘pertahanan dan serangan (perlindungan)’, maupun dalam konteks tari/gerak sebagai ekspresi di ruang koreografi kontemporer. Silat melebur dalam ekspresi tari dengan penggalan-penggalan atau potongan-potongan ragam geraknya yang menyatu dengan gerak lain yang mewujud sebagai ekspresi baru. Bentuk serangan dan kebertahanan diri hadir dalam ‘ruang yang lain’, mengarah pada ekspresi atau ungkapan tertentu yang berbeda dengan konteks silat di luar bingkai karya koreografi kontemporer. Di tangan Hari, kehadiran ragam gerak silat mulus berkelindan dengan elemen-elemen yang lain. Paduan itu tampil cantik. Hari berhasil melakukan transformasi tubuh pada penarinya.

Apabila Hari mengangkat batu putih sebagai bahan dasar koreografinya, saya melihat ini sebagai pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan ‘keras’ sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Madura. Terik matahari, batu putih, tanah merah, garam, kulit legam adalah lanskap hidup orang Madura. Sebagai bukan orang Madura, saya merasakan itu sebagai ketidaknyamanan, dan ketidaknyamanan itu saya rasakan pula di panggung Hari. Kini, ketika sebagian besar masyarakat/rakyat negeri ini harus berhadapan dengan kuasa modal dan keserakahan, bagaimana peninggalan leluhur seperti silat, mampu ‘berbicara’ atau berperan?

Dalam White Stone saya melihat silat terpenggal dalam ketakberdayaan. Silat sebagai bagian dari “tubuh Madura” turut terkoyak. Pertanyaannya, apakah perlu dilahirkan ‘silat’ baru?

V

Seluruh perhelatan ini merupakan bagian dari Remo Teater Madura, sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik yang tinggal di Madura maupun di luar Madura (diaspora). Festival ini adalah kerjasama antara sejumlah seniman Madura, Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dan Vihara Avalokitesvara, Pamekasa. Forum ini bertujuan membangun infrastruktur pengetahuan kesenian dengan menggali potensi lokal sebagai basis penciptaan seni, sekaligus membangun jaringan antar komunitas dan warga dalam rangka mewujudkan kerja-kerja kolektif dan organik.

Kami Takut Lapar (Remo Teater Madura)

Oleh Ambrosius Harto

 

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Di bawah temaram pendar lampu, sambil memegang gedek, dua pemuda yang cuma bercelana pendek itu menuding dan berteriak secara berbarengan. ”Yang kami takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang berambut ikal. ”Yang aku takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang bercaping.

Berkali-kali kalimat itu dilantangkan seakan mantra yang hendak menusuk dan mencuci otak penonton pertunjukan SAPAmengkang oleh UjiCoba Teater Sampang, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Di awal, kedua pelakon itu bersimpuh saling berhadapan di atas gedek bergetas dan berdebu. Lempung dan bubuk tanah itu mereka balurkan pada tubuh. Setelah itu, keduanya berkidung meski nadanya terdengar lirih dan menyayat. Seusai tembang, mereka mengambil alu dan menumbuk gedek itu dengan aksen sehingga tercipta lagu.

Saat tubrukan masih berdendang, sutradara Syamsul Arifin datang ke panggung dan berbicara tentang narasi pementasan. Rakyat ”Pulau Garam”, julukan Madura, berkeyakinan teguh bahwa tanah harus dipertahankan. Salah satunya tana sangkol atau tanah warisan yang mempertautkan kehidupan generasi sekarang dengan leluhur dan penerus.

Seperti apa tanggung jawab masyarakat Madura atas lahan yang dipercayakan, diwariskan, diberikan, didapat dari leluhur? Apakah dijaga, dirawat, dikembangkan atau dibagi, diwakafkan, dijual, diobral, ditelantarkan? Apa negosiasi, strategi, dan tradisi yang akan ditempuh? Bagaimana masa depan Madura terutama manusianya?

Mungkin saat ini atau mendatang, Madura seperti kedua pelakon itu di panggung. Ada yang sendiri menampi beras sampai jatuh dan terkulai tak sadarkan diri. Bisa juga yang satu memegang bilik, sedangkan lainnya terus menggedor. Atau keduanya memegang alu sambil berusaha menaikkan caping di ujung lesung, tetapi kemudian berebut menjatuhkannya atau menegakkannya. Saat tudung itu jatuh dan hanya satu pemegang lesung, yang lain tertunduk. Kalah.

Barangkali juga tergambar dalam adegan saat mereka berebut menguasai gedek sampai salah satu tersungkur. Yang menang bolak-balik menarik bilik seolah menunjukkan keberhakan untuk membudidayakan tanah. Yang jatuh terbangun dan sadar telah kehilangan yang berharga dan mencoba merebut kembali, tetapi terus terjungkal dan tak berdaya di hadapan kuasa.

”Sangkal”

SAPAmengkang merupakan pementasan kedua pada hari pertama Remo Teater Madura di lingkungan wihara di Dusun Candi, Desa Pogalan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, itu. Remo ini bukan nama tari khas Jawa Timur, melainkan tradisi arisan dan atau pertemuan antarwarga antarseniman untuk interaksi sosial budaya. Rangkaian acara berlangsung sampai dengan Minggu (30/9) lewat tengah malam.

Drama berjudul Sangkal oleh Lorong Art Pamekasan menjadi pementasan pertama Remo Teater Madura yang merupakan festival seni pertunjukan dan forum pertemuan antarseniman Madura. Sangkal mungkin hendak menceritakan kutukan akibat pelanggaran tradisi sehingga seorang perempuan terutama selalu gagal mendapat lelaki untuk dinikahi.

Gadis itu berdiri dan berteriak di mimbar tinggi. Di bawahnya empat lelaki bertelanjang dada komat-kamit dan seolah berebut ingin menggapai sang perempuan. Kemudian, rombongan datang dan menaruh hantaran lamaran. Si dara turun dan digandeng oleh seorang lelaki mendekati hantaran. Ia mengamati, mengambil sebagian persembahan itu, tetapi kemudian membuang semuanya dari meja. ”Aku tidak sudi,” katanya berteriak lantang lalu kembali ke balkon.

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Seusai pementasan, sutradara Eros Van Yasa menerangkan bahwa di Madura masih kuat adanya keyakinan terhadap pelanggaran tradisi. Sangkal akan membuat perempuan menjadi jomblo abadi alias sampai mati, misalnya, karena menolak lamaran pertama. Menampik permohonan, misalnya, beberapa saat kemudian membuatnya dilangkahi sang adik yang menikah terlebih dahulu.

 

Secara umum Remo Teater Madura hendak menarasikan tanah yang merupakan ikatan primordial rakyat dan sebagai sumber daya untuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Untuk itu, festival alternatif ini mengambil tema ”Berpijak pada Tanah”. Hajatan seni ini diwujudkan dalam lokakarya, pameran seni rupa, pertunjukan, dan forum kreator.

Pada hari Jumat ada lokakarya manajemen komunitas, klenengan Panti Budaya Komunitas Seni Wihara Avalokitesvara, pembukaan pameran seni rupa (foto, lukis, instalasi), pertunjukan teater, dan forum kreator. Pada Sabtu kembali diadakan lokakarya dan pementasan Wirasa oleh Sanggar Genta Pamekasan, Masdurius oleh Suvi Wahyudianto (Yogyakarta), dan Alake Lajaran oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.

Pada Minggu diadakan diskusi ”Berpihak pada Tanah” bersama Dardiri Zubairi dan M Faizi dari Sumenep, lalu kembali diadakan pementasan Tabak oleh M Wail Irsyad Bandung, Tera’ Ta’ Adhamar oleh Kikana Arts Production Sampang, dan White Stone oleh Sawung Dance Studio Surabaya, lalu ditutup dengan pergelaran wayang kulit Wahyu Katentreman oleh Ki Gilang Pandu Permana, dalang remaja asal Ngawi.

Tanah menjadi tema besar dan napas kegiatan festival. Manusia Madura menganggap penting tanah dalam kehidupan. Mereka punya narasi berbeda tentang tanah. Ada tana sangkol atau mekanisme warisan, toron tana (pijak tanah) untuk bayi tujuh bulan guna menandai secara simbolis dimulainya perjalanan hidup di dunia, juga rokat tana atau rokat bume (ruwat tanah atau ruwat bumi) di awal musim sebagai permohonan keselamatan dan keberkahan kepada bumi sehingga tanaman dan ternak tidak diserang hama, penyakit, dan hasil panen memuaskan.

Dalam konteks primordial itu, rakyat Madura diingatkan kembali tentang cara mereka memaknai tanah. Mereka diminta untuk menyeimbangkan jagad kene (jagat kecil) yang tampak dan jagad raja (jagat besar) yang astral demi keharmonisan kehidupan. Apa lagi yang dicari manusia selain hidup aman, damai, sejahtera, bahagia, tenteram jiwa raga?

Di sisi lain, tantangan baru dalam pertanahan muncul terutama setelah Madura dan Jawa disambung dengan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Struktur dengan bentang 5 kilometer di atas Selat Madura itu turut menghantar arus ekonomi, industri, akulturasi budaya, hingga paradigma baru penguasaan lahan, alih fungsi tanah, kapitalisasi, dan privatisasi. Tanah juga menjadi mandala perebutan atau konflik kepentingan dan kekuasaan.

 

Catatan

Sumber tulisan: KOMPAS, 30 September 2018

Foto oleh Joko Sucipto

Berpijak Pada Tanah, Berdiri Pada Gagasan

Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

(Workshop Lanjutan Singkawang: Penajaman Pertanyaan dan Gali Sumber)

Oleh Gunawan Maryanto

Bersama dengan Akbar Yumni saya tiba di Singkawang pada tanggal 8 Juli untuk melanjutkan workshop penciptaan yang telah berlangsung sebelumnya (26-30 April 2018). Sebagai fasilitator yang tidak sempat terlibat dalam workshop tersebut tentu saja saya membawa sejumlah pertanyaan. Beberapa peserta pernah saya temui dalam kedatangan kami pada bulan Februari lalu saat perayaan Cap Go Meh. Selain peserta, saya juga penasaran dengan apa yang telah berlangsung paska workshop penciptaan yang diampu Ugoran Prasad dan beberapa kawan lain. Tentu saja saya telah mengoleksi sejumlah informasi bahwa tim peserta Singkawang berkehendak untuk melanjutkan workshop penciptaan tersebut lebih jauh lagi, yakni menyusun sebuah pertunjukan bersama. Kehendak ini kemudian dikuatkan dengan pembuatan kesepakatan bersama hingga penyusunan jadwal pertemuan rutin di antara mereka, pada kedatangan dan pertemuan bersama Arsita di akhir bulan Juni 2018.

Informasi lain yang saya dapatkan adalah sulitnya teman-teman peserta untuk berkoordinasi, bertemu dan memulai proses penciptaan bersama. Saya paham bahwa penciptaan bersama, apalagi kolaborasi berbagai seniman dari disiplin yang berbeda dan belum pernah berproses sebelumnya, tentu butuh syarat yang tak mudah. Dengan seluruh situasi yang ada, ketika kembali dipertanyakan komitmen masing-masing seniman dalam proses panjang ini, mereka tetap pada niatan awal: berkumpul dan membangun karya bersama.

Berkumpul adalah syarat pertama yang sayangnya tak bisa dipenuhi dengan mudah. Dalam pertemuan pertama, 9 Juli, di Singkawang Cultural Center, hanya hadir 4 peserta workshop terdahulu, setelah menunggu 4 jam dari kesepakatan. Trino, Mpok Yanti dan 2 aktor muda dari Tebs, binaan Mpok Yanti. Helen menyusul belakangan bersama Tia, kawan baru, seorang penyanyi. Workshop tetap berlangsung sembari terus saya bersama Akbar mencoba membaca situasi dan mencari jalan keluar. Target saya adalah mempertajam pertanyaan yang sudah muncul dalam workshop sebelumnya. Target tersebut tercapai, meski masih menyisakan soal, bagaimana dengan mereka yang tak hadir dan sebelumnya turut merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang akan menjadi pintu mereka memasuki proses penciptaan tersebut adalah: Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

Hari kedua jam workshop kami undurkan lebih larut agar tak terjadi lagi situasi saling tunggu. Dan ternyata peserta malah berkurang. Trino mendadak mesti ke Pontianak. Tinggal Mpok dan kedua muridnya yang terus intens melanjutkan workshop. Helen dan Tia kembali merapat sebelum workshop berakhir. Hari kedua saya dan Akbar membekali peserta dengan sejumlah alat untuk menggali sumber di lapangan. Esoknya mereka akan turun ke Pasar Hongkong sampai beberapa hari ke depan. Malam itu juga saya dan Akbar kembali ke Pontianak dan melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti program Cabaret Chairil yang berlangsung di Teater Garasi.

Tanggal 22 Juli saya kembali ke Singkawang untuk melanjutkan workshop. Sehabis mereka mendapatkan data dan informasi dari Pasar Hongkong, saatnyalah mengubah seluruh temuan itu menjadi inspirasi penciptaan. Target saya dalam pertemuan kali ini adalah menyusun kerangka dasar pertunjukan.

Hari pertama, setelah perjalanan panjang menuju Singkawang, saya segera menuju gedung pertemuan Mess Pemda yang disepakati. Saling tunggu hingga 4 jam terjadi lagi. Dan setelah menunggu sekian lama terkumpullah beberapa seniman muda Singkawang. Trino, Mpok Yanti dan anak-anak Tebs tetap menjadi peserta yang bisa diandalkan untuk menjaga keberlangsungan proses. Boncu dan seorang seniman muda dari Bengkayang menjadi pembeda dari peserta workshop sebelumnya. Workshop hari pertama saya gunakan untuk mengecek temuan-temuan mereka di lapangan. Masing-masing orang saya minta untuk bercerita, karena tak ada tulisan atau pun gambar yang mereka bawa selain beberapa rekaman video.

Hari kedua kami sepakati lagi jam workshop agar tak terjadi peristiwa saling tunggu yang cukup menghabiskan energi. Jam 19.30 ditetapkan. Dan tetap saya menjadi orang pertama yang hadir. Barulah jam 21.00 kami memulai workshop. Saya sudah meminta mereka membawa hasil riset yang lebih kongkrit yakni berupa tulisan dan gambar. Tapi hanya Mpok Yanti yang membawa selebar kertas berisi syair lagu ciptaannya tentang Pasar Hongkong. Saya beranjak dari situasi tersebut dengan memberikan beberapa latihan dasar sebagai persiapan mereka untuk menubuhkan seluruh hasil temuan mereka: tubuh menafsir imaji. Di hari kedua ini Arsita Iswardhani bergabung untuk mendampingi saya.

Hari ketiga, dengan jumlah peserta yang berubah lagi, selain Trino dan Mpok Yanti, kami mencoba menubuhkan hasil wawancara dan rekaman video. Hanya dua peserta yang secara aktif mengikuti workshop, yaitu Rizki dan Gustian, anak-anak dari Sanggar Tebs. Di akhir workshop mereka berdua menyajikan kodifikasi mereka. Saya menutupnya dengan mencoba menyusun kodifikasi-kodifikasi tersebut menjadi sebuah repertoar pendek.

Tanggal 25 Juli, hari terakhir kami berada di Singkawang, kami gunakan untuk me-review seluruh proses yang telah berlangsung. Forum ini juga kami gunakan untuk menimbang kesepakatan awal yang tak berjalan sebagaimana yang direncanakan, dan mengembalikan seluruh keputusan berlanjutnya proses kepada peserta. Sebuah tantangan: jika proses bersama belum bisa berlangsung—karena beberapa syarat yang belum terpenuhi, apakah proses bisa dilanjutkan secara individual. Mari kita tunggu.

 

 

 

Lingkungan dan Buruh Migran (Catatan Workshop Penciptaan Bersama: “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” di Sumbawa)

Oleh Venti Wijayanti

Pada tanggal 11 – 15 April 2018 Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop bersama dengan teman-teman komunitas di Sumbawa. Workshop bertempat di Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih.

Workshop hari pertama dibuka oleh H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa sekaligus Kepala Pengurus Istana Dalam Loka. Istana Dalam Loka merupakan tempat yang difungsikan sebagai museum dan pusat kegiatan kesenian di Sumbawa. Peserta workshop yang hadir datang dari berbagai disiplin seni dan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, guru, seniman, dan aktivis buruh migran. Beberapa komunitas yang ambil bagian adalah Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain. Lintas disiplin yang berbeda dan jenjang umur yang beragam membuat workshop menjadi wadah untuk mempertemukan mereka dalam satu percakapan. Jarang terjadi kesempatan berupa kegiatan yang dapat mempertemukan para seniman Sumbawa dari beragam disiplin dan jenjang usia ke dalam satu forum. Workshop Penciptaan Bersama ini adalah salah satu kesempatan itu.

Peserta yang hadir sejumlah 15 orang, dan yang bertahan sampai hari terakhir workshop hanya berjumlah 6 orang. Peserta tersebut adalah Syamsuddin dari SBMI, Mulya Putri Amanatullah, Hadiatul Hasana dari SP, Kardiana dari SP, Dewi Astuti dari Sanggar Tari Mutiara Bungin, dan Reny Suci dari SCS. Praktik workshop penciptaan karya bersama berlangsung sebagai proses mengenali isu lingkungan, sosial, politik, dan perputaran ekonomi di Sumbawa. Proses pengenalan ini berlangsung dari identifikasi benda-benda yang disiapkan oleh peserta workshop, yang sebelumnya memang sudah ditugaskan untuk membawa benda atau tulisan artikel yang menarik tentang lingkungan tempat tinggalnya. Benda yang dibawa beragam dan cukup menarik, antara lain jagung, seragam bekas SMA, foto tari tradisi di Bungin, foto buruh migran, foto anak muda pelaku kriminal, lukisan ikan, boneka, artikel peristiwa kriminal. Narasi cerita yang terangkai dari benda yang dikumpulkan memberikan sedikit gambaran tentang Sumbawa dan karakteristik subjek yang membawa benda tersebut. Keberadaan subjek memberikan kerangka pada sebuah peristiwa memunculkan keluasan pandangan terhadap hal-hal yang terkait pada benda yang dipilihnya.

Isu yang dikemukakan pada sesi diskusi kelompok kecil yang dibagi menjadi dua adalah ‘lingkungan’ dan ‘perempuan buruh migran’ (PBM). Isu lingkungan terkait dengan beberapa kunci yang ditemukan dari proses penceritaan narasi dari artefak yang dibawah peserta workshop. Kata kunci lainnya adalah petani, kedaulatan pangan, pariwisata, tradisi, dan pelestarian. Pada isu lingkungan kaitannya dengan pariwisata dan penanaman bibit jagung hibrida yang mulai masuk pada tahun 2012. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya penanaman jagung pada pembukaan lahan baru di perbukitan yang tersebar di Sumbawa adalah banjir bandang yang diduga efek dari penggundulan hutan di perbukitan. Selain itu juga berdampak pada petani umbi-umbian yang mulai terancam dengan penanaman jagung yang juga menggunakan pupuk kimia untuk mengejar peningkatan hasil panen. Isu lingkungan pada pariwisata diungkapkan bahwa pada umumnya pemerintah membuat kebijakan yang hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi tanpa memikirkan efek dari pelonjakan wisatawan bagi lingkungan. Sumbawa sendiri yang sebenarnya belum mampu menerima wisatawan secara infrastuktur, tetapi pemerintah mulai mengejar peningkatan tersebut dengan cara melakukan praktik ‘disharmonis’ dengan alam.

Isu kedua adalah perempuan buruh migran (PBM). Kata kunci lainnya yang dikemukakan pada tahapan gerbongisasi kuil kata adalah human trafficking, kekerasan (seksual), perlindungan hukum bagi buruh migran. Isu ini menjadi menarik dibicarakan pada waktu sesi diskusi karena terdapat anggota SP dan SBMI yang secara langsung berkerja dengan isu tersebut. Sehingga isu PBM menjadi lebih detail dijabarkan dari alasan yang melatar belakangi banyaknya PBM di Sumbawa sampai beberapa kasus yang terjadi dan kesuksesan buruh migran di Negara-negara seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dll. Banyaknya buruh migran di Sumbawa berkaitan dengan adanya ekosistem yang terdapat di Sumbawa, seperti agen, calo, sponsor, buruh migran sukses. Isu PBM merupakan isu yang kompleks dan sangat dekat dengan masyarakat Sumbawa, karena biasanya PBM merupakan keluarga dekat, saudara kandung, tetangga, dan pelaku agen ilegal juga ada di sekitarnya, biasanya keluarganya sendiri, ataupun di struktur pemerintahan. Isu ini seperti benang kusut yang belum ditangani dengan baik dari segi pencegahan, padahal banyak kasus yang belum terselesaikan. Faktor yang melatarbelakangi untuk menjadi PBM adalah ekonomi atau dorongan keluarga dekat, seperti orang tua.

Proses tahapan workshop selanjutnya adalah gali sumber dengan mencoba praktik riset dan wawancara di pasar tradisional yang ada di pusat kota Sumbawa, yaitu Pasar Seketeng. Semua peserta diberi kesempatan berkeliling di pasar selama dua jam dan diberi tugas untuk mengambil foto, wawancara narasumber, membawa benda yang menarik dan mencatat hasil pengamatan. Pengamatan yang dilakukan di pasar oleh para peserta dilakukan dengan harapan bahwa data yang dicari bisa dijadikan sebagai inspirasi, dan hal yang paling menarik adalah bisa mengetahui bahwa proses ini penting dilakukan dalam metodologi penciptaan karya. Proses kerja gali sumber yang dilakukan bersamaan oleh masing-masing peserta di lokasi yang sama tetap akan mendapatkan informasi yang berbeda sehingga semakin beragam info yang dikumpulkan. Data dari informasi pengamatan saling mengecek satu sama lain sehingga membuka percakapan dan diskusi lebih lanjut.

Hari selanjutnya masuk pada proses improvisasi dari data-data yang didapatkan oleh masing-masing peserta. Pada umumya peserta workshop tetap memilih teater pada bentuk improvisasinya, maskipun latar belakang disiplin dan praktik mereka adalah film, tari, aktvis. Tahapan ini dilakukan peserta dengan mengolah potensi tubuhnya yang difasilitatori oleh Qomar dan Dendi. Pada tahapan ini para peserta mencoba membuka kemungkinan beberapa gerakan dari pengamatan lapangan maupun imajinasi mereka untuk membuat gerakan dengan adaptasi pengolahan tubuhnya. Selanjutnya gerakan dicoba untuk dipraktikkan berulan-ulang dan disusun menjadi komposisi pada masing-masing kelompok. Ada dua kelompok yang menyusunnya menjadi komposisi dari isu buruh migran sebagai narasinya. Komposisi yang muncul adalah gerakan tubuh teater dan tari, serta terdapat dialog yang dimunculkan  dan juga narasi bacaan dari potongan artikel yang ditemukan. Sebagai bentuk praktik penciptaan para peserta workshop di Sumbawa sudah memahami alur dan bentuk praktik sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya yang bisa disusun atau diulang lagi proses pengamatan dan gali sumbernya. Kemudian dipraktikkan, direkam/diingat dan dikaji ulang pada bentuk penciptaannya.  Kemudian pada hari terakhir adalah presentasi.

Proses tahapan workshop ini diharapkan dapat dipraktikan menjadi metodologi penciptaan karya bersama, dan jelas sangat terbuka untuk dimodifikasi sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial yang melatari isu dan penciptaannya maupun konteks produksinya. Workshop selama lima hari di dua tempat berbeda memberikan pengalaman penciptaan, kerjasama kelompok, dan khususnya pemahaman akan waktu yang terlihat pada dinamika kelompok selama workshop. Muncul potensi-potensi para peserta yang beragam dari latar yang juga beragam. Selain itu terdapat pertemuan antara seniman senior dan seniman muda yang dikesehariannya sering tidak bisa bertemu dan berdiskusi karena perbedaan pandangan. Dan juga pada awalnya, mitra penyelenggara workshop bersama Dewan Kesenian Sumbawa tetapi pada prosesnya terselenggaranya juga mendapat dukungan besar dari komunitas Sumbawa Cinema Society, terutama dukungan dari Bapak Hasanuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dan juga seorang maestro tari di Sumbawa, salah satunya memberikan rekomendasi dan surat ijin untuk Dewi Astuti, peserta workshop dari Pulau Bungin yang berprofesi sebagai penari dan guru untuk mengikuti workshop secara penuh.

 

Singkawang: Pluralitas Adalah Niscaya

Oleh Akbar Yumni

 

Pluralitas adalah niscaya. Sekecil apapun sebuah komunitas, meniscayakan sebuah pluralitas di dalamnya. Narasi ini berangkat dari premis keniscayaan akan sebuah pluralitas, termasuk dalam entitas sekecil apapun mengandaikan pluralitas di dalamnya.  Keniscayaan pluralitas tersebut menyebabkan bahwa sebuah komunitas tidak lagi berkutat pada orisinalitas dari sebuah identitas atau tradisi yang berlangsung, karena telah tergerus secara terus menerus dengan pergaulan antara masa lalu dan kekiniannya. Dampak pluralitas ini juga mengandaikan dalam cara memandang masa lalu, di mana perihal ‘asal-usul’ bisa digadaikan dan menjadi sebuah narasi yang selalu bergerak dan terbuka sesuai dengan kebersituasian dari penuturan yang berlangsung.

***

Pembacaan terhadap Kota Singkawang dalam waktu yang singkat, misalnya, sebagaimana para turis yang biasa datang ke Kota Singkawang pada rutinitas ritual tradisi Cap Go Meh, bisa diandaikan melalui pengalaman seseorang yang berharap melihat sebuah fenomena yang ‘menarik’ atau ‘keanehan’ di sebuah masyarakat yang dianggap ‘terpencil’, atau sebuah lanskap yang penuh dengan kode-kode visual dan identitas yang ‘asing’ atau terliyankan. ‘Peliyanan’ itu sendiri bisa jadi adalah sesuatu yang terkadang melekat pada mental  orang yang berasal dari luar dalam memandang sebuah entitas yang lain, sebagaimana para pelancong datang mencari makanan yang khas, atau tempat-tempat dan artefak-artefak yang khas di suatu tempat, kontruksi ini berlanjut dalam cara memandang masyarakatnya yang menjadi identik dengan lanskap menu makanan dan artefak hingga yang sering luput adalah masyarakat juga para individu-individu yang khas dan beragam.

Keniscayaan pluralitas sebagaimana berlangsung di Singkawang, adalah wilayah plural yang muncul sebagai sebuah persilangan dari banyak kultur dan sejarah ekonomi politik yang melingkupinya, juga tidak bisa luput dari sisa-sisa anasir sejarah konflik yang berlangsung pada masa-masa sentralisasi politik baik pada masa kolonial maupun pasa masa pemerintahan Indonesia di masa lalu. Secara umum, Kota Singkawang terbentuk oleh mayoritas komunitas Tionghoa, baik sebagai sebuah wilayah pesisir yang secara geografis cukup strategis sebagai wilayah.

Singkawang mendapatkan penghargaan sebagai 10 kota toleransi se Indonesia pada 2015 dan 2017. Andaian-andaian Singkawang yang mendapatkan penghargaan toleransi sebenarnya memiliki indikator yang berbeda jika memaknai kultur masyarakat sebagai sebuah perilaku dan tindakan keseharian—Sebuah lembaga non-government, Setara Institut, yang memberikan penghargaan dengan menempatkan Singkawang sebagai 10 kota yang memiliki indeks toleransi tertinggi di Indonesia berdasarkan indikator kebijakan pemerintah yang berpihak dan mengakomodir  toleransi.  Pluralitas  berdasarkan struktural ini sebenarnya masih bisa dilihat lagi berdasarkan keseharian para warganya, dalam melakukan pola perilaku kesehariannya, karena pluralisme sebenarnya berangkat dari para individu dalam memandang perbedaan di dalam kesehariannya.

Singkawang yang sebagian besar terdiri dari tiga identitas, Dayak, Melayu dan Tionghoa. Dari beberapa komunitas seni yang terdiri dari anak muda yang ditemui misalnya, beberapa diantaranya seakan membentuk semacam pola tersendiri, di mana nyaris tidak ada individu Tionghoa yang secara keseharian bergaul dengan individu dari identitas lainnya. Meski kemudian ada satu atau dua individu yang bergabung di sebuah sanggar, namun hal tersebut bukan dalam praktek komunitas dalam pengertian pergaulan atau membangun sebuah kelompok bersama atau organik, tetapi lebih pada praktik mekanisme fungsional, seperti kursus tari atau seni lainnya. Pola-pola sosial keseharian ini sebenarnya menjadi sangat tipikal di beberapa wilayah lainnya. Keseharian perbauran antara identitas Dayak, Melayu, dan Tionghoa sebenarnya bisa kita lihat dalam keseharian ekonomi seperti di rumah makan, pekerja dan lain sebagainya.

Suasana kota Singkawang, sebagaimana halnya di Pontianak, di mana di sepanjang jalan banyak warung atau kedai kopi, para anak muda biasa berada di sana dengan akses wifi secara gratis. Selain terdapat beberapa sanggar tari, dan pelaku filem secara individu, dari laman Youtube memperlihatkan bahwa ada inisiatif para pembuat filem di Singkawang secara individu membuat filem yang berbasis bahasa lokal setempat. Kultur produksi independen ini seperti yang juga ada di Medan, di mana para pembuat filem lokal membuat produksi sendiri dengan reproduksi atau menggunakan laman youtube. Penanda yang paling khas dari fenomena produksi filem lokal ini adalah penggunaan bahasa daerah sebagai sebuah usaha mendekatkan produksi filem dengan para warganya sendiri, atau mencari basis penonton yang dekat dengan lingkungan.  Namun secara sinematografis, bahasa visual yang digunakan oleh para pelaku pembuat filem di Singkawang ini masih menggunakan anasir-anasir bahasa filemis yang dominan, karena mungkin tujuannya adalah mencari sebanyak mungkin penonton.  Fenomena produksi filem di Singkawang, membawa kata kunci-kata kunci identitas kedaerahan adalah pada bahasa lokal, meski kemudian anasir identitas sebuah masyarakat Singkawang belum terlihat pada gambaran karya seninya dan juga belum menggambarkan keseharian mereka yang khas.

***

Tradisi Cap Go Meh menjadi sebuah tujuan utama bagi para pelancong di Singkawang. Tahun 2018, menjadi sebuah perayaan besar Cap Go Meh, yang ditandai dengan kedatangan para pejabat negara dari pusat (kabarnya para menteri agama dan olah raga hadir pada perhelatan tersebut), dan keberadaan lampion yang kabarnya memecahkan rekor MURI dan 9 Naga yang dihadirkan pada perhelatan tahunan tersebut. Dalam spasial ini, Cap Go Meh juga dihadiri oleh banyak kalangan di luar masyarkat Tionghoa, bahkan beberapa masyarakat beridentitas di luar Tionghoa, juga terlibat sebagai pelaku Cap Go Meh, seperti sebagai tukang panggul kursi yang diduduki oleh para Tatung. Menurut beberapa keterangan, pengangkat kursi Tatung atau artefak-artefak Cap Go Meh lainnya ini di bayar sekitar 10-50 ribu, dan kebanyakan para pengangkat  yang memang cukup berat ini, diisi oleh para warga diluar identitas Tionghoa yang ada di Singkawang.

Ada sembilan Naga dalam perayaan Cap Go Meh kali ini di Singkawang. Dari desain Naga tersebut nampak sebuah keseragaman Naga, yang berbeda hanyalah warna dan ukuran, namun secara umum terlihat bahwa Naga tersebut dibikin oleh satu pihak. Dari beberapa keterangan yang ada, Naga bagi perayaan Cap Go Meh tersebut dibiayai oleh sebuah yayasan  yang berasal dari sebuah perkumpulan para penguasaha di Singkawang. Ada semacam hubungan mutual antara sebuah tradisi dan relasi modal ekonomi yang melingkupinya.  Cap Go Meh sendiri adalah tradisi Tionghoa yang khas Indonesia, di mana di Negara Tiongkok sendiri perayaan macam Cap Go Meh tidak ada. Meski beberapa elemen dari  Cap Go Meh adalah sebuah tradisi yang berasal dari Tiongkok, namun akulturasi pada Cap Go Meh bisa kita lihat pada Tatung yang merupakan praktik saman yang dipengaruhi oleh masyarakat Dayak, seperti keberadaan Tatung dan daya mistisnya. Dalam spasial ini akulturasi Cap Go Meh  telah mengendap sekian lama dan bahkan saking subtilnya, Cap Go Meh menjadi sebuah  tradisi Tionghoa an sich tanpa proses pengendapan akulturasi didalamnya.

Beberapa kultur dan tradisi Tionghoa di Singkawang sebenarnya sudah hampir pudar. Seperti beberapa pengrajin Barongsai yang juga hampir tidak hidup lagi. Demikian pula dengan wayang Potehi yang biasa nya juga dimainkan di perayaan Imlek, di mana tahun ini tidak dimainkan lagi karena dalang dari wayang tersebut sudah berumur tua dan sakit. Dari keterangan sang istri, sang Dalang sudah tidak bisa bermain, dan sebenarnya mereka mau melatih bermain wayang Potehi secara gratis, namun tidak ada generasi muda yang mau belajar wayang Potehi. Nasib wayang Potehi ini juga ditambah dengan musibah di mana rumah mereka terbakar, sehingga harus pindah—dari beberapa keterangan kecelakan kebakaran tersebut juga dilatari oleh relasi horisontal yang tidak harmonis di antara komunitas mereka sendiri. Beberapa kultur masyarakat Tionghoa di Singkawang lainnya adalah adanya kursus bahasa Mandarin dan menulis aksara Mandirin.

 

Foto oleh Arum Tresnaningtyas

Ekspresi Budaya Masyarakat Singkawang

Aum Tresnaningtyas

1 Maret 2018. 05.00 WIB. Saya, Gunawan Maryanto dan Arsita Iswardani memulai perjalanan dari bandara Adisucipto, Yogyakarta. Kami bertemu Akbar Yumni di Bandara Supadio, Pontianak, lalu singgah di warung kopi milik Davi. Ditemani kopi jahe dan teriknya kota Pontianak, perjalanan kami tunda sejenak sembari menunggu kedatangan teman kami Pascal yang hendak turut ke Singkawang. Perjalanan Pontianak-Singkawang memakan waktu empat jam. Sehari jelang Cap Go Meh, sejumlah ruas jalan protokol dari pagi hingga sore hari dipadati tatung yang melaksanakan ritual cuci jalan. Dalam bahasa Hakka, tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Ritual tersebut sebagai pertanda untuk membersihkan kota dari roh-roh jahat. Para Tatung beramai-ramai ke sejumlah vihara di Singkawang untuk ‘bertamu’ dan meminta berkah para Dewa untuk kelancaran acara esok hari. Kami tiba terlalu sore dan melewatkan ritual tersebut. Semua hotel dan penginapan di Singkawang full booking. Kami menginap di rumah kawan bernama Kendi yang berlokasi di gang Amal, dimana kampung ini banyak dihuni orang Madura.

Esoknya, pukul enam pagi kami berangkat menuju pekong di kawasan Abadi untuk menyaksikan persiapan kelompok Tatung. Bunyi tambur dan simbal memecah keheningan kota. Jalan Diponegoro Kota Singkawang menjadi panggung utama dan tribun bagi para tamu undangan. Ribuan tatung, barongsai dan replika naga beraktraksi di sepanjang jalan. Tercatat sebanyak sembilan replika naga, 1.038 tatung dan juga 20.607 lampion memecahkan rekor MURI. Kami berbaur berdesakan bersama warga dan wisatawan menikmati festival tersebut. Banyak etnis lain juga terlibat di hari raya etnis Tionghoa ini. Seperti Dayak yang ikut parade tatung. Melayu dan Jawa turut memainkan barongsai atau bergabung dalam rombongan sebagai pembawa tandu tatung.

Perayaan dimulai pukul 07.00 pagi, sempat terhenti untuk menghormati umat Muslim yang menjalankan sholat jumat. Perhelatan dilanjutkan dengan pembakaran replika sembilan naga sebagai penutup. Ritual yang dijadwalkan pukul dua siang ini mundur hingga pukul lima sore. Antusias kami sedikit luntur, lantaran bosan dan akhirnya cukup puas menyaksikan dari kejauhan.

Ekspresi budaya di masyarakat Singkawang masih dilihat melulu sebagai bentuk perayaan dan juga hiburan. Baik perayaan keagamaan maupun perayaan yang lain seperti hari jadi kota. Sanggar-sanggar terbentuk— dan kebanyakan adalah sanggar tari dan musik tradisional Dayak dan Melayu— untuk memenuhi kebutuhan perayaan kota, adat dan agama. Selain Cap Go Meh yang belakangan (sejak tahun 2010-an) menjadi pusat perhatian masyarakat baik dalam skala lokal maupun nasional, perayaan lain yang cukup ditunggu adalah perayaan Gawai atau musim panen bagi etnis Dayak. Perayaan ini jauh lebih kecil dari Cap Go Meh, tetapi menjadi salah satu ruang bagi sanggar-sanggar tari dan musik Dayak untuk tampil.

Tujuan utama kedatangan kami yaitu berkenalan dan membangun kontak dengan para pegiat dan pelaku seni di Singkawang. Komunitas ataupun individu yang sekiranya menarik dan berpotensi terlibat dalam projek AntarRagam.

Film dan fotografi menjadi medium yang banyak diminati. Produksi film lokal yang dibuat dalam format DVD cukup menakjubkan. Distribusi film dilakukan secara mandiri dengan jalur Sambas, Singkawang dan Bengkayang. Film-film dengan bahasa lokal tersebut mengangkat tema-tema yang menghibur seperti percintaan, horor dan komedi. Sineas yang kita temui salah satunya adalah Niken, film dokumenternya pernah memenangkan Eagle Award.

Selain film fiksi, banyak juga yang tertarik membuat film dan fotografi dengan pendekatan jurnalistik. Frino adalah salah satu penggeraknya. Ia sering menggelar workshop dan festival berupa pameran foto dan pemutaran film pendek. Bersama komunitasnya, My Singkawang, ia sempat mengadakan lomba video 60 detik tentang kehidupan dan persoalan kampung nelayan di teluk Mak Jantu, Batu Burung. Sebanyak lima belas video terbaik diputar dan disaksikan masyarakat di pesisir pantai. Menurutnya, anak muda Singkawang punya banyak potensi namun kurang inisiatif. Baru tertarik membuat sesuatu jika ada event. Karena itu, ia sering mengadakan perlombaan atau festival untuk memancing semangat kreatifitas.

Teater kurang diminati anak muda. Kami menemui beberapa pegiat teater muda seperti Hellen, Deri, Anningmu, Prima, Boncu, Yoyo Komik dan pelaku senior, Mpok Yanti. Mpok Yanti memiliki sanggar bernama TEBS (Teater Biak Singkawang ) di kelurahan Setapuk, Singkawang Utara. Ia aktif sebagai pemain teater, penulis naskah, make up artist, aktor, pengajar kesenian dan membuka usaha salon. Mpok Yanti terlibat pertunjukkan teater Mustika Bintang yang sempat dipentaskan di Taman Mini. Naskah Mustika Bintang juga dibuat film kolosal. Ia bercerita tentang sulitnya berkolaborasi dengan komunitas lain. Menurutnya, komunitas masih jalan masing-masing, kompetitif dan kurang mendukung satu sama lain.

Beberapa pegiat teater ini juga memiliki minat lain. Misalnya, Prima juga seorang penyair dan sedang menggagas forum penulis Singkawang. Anningmu, selebgram Singkawang yang konsisten membuat video dubbing dengan bahasa lokal. Yoyo Komik, sebelum tertarik menjadi aktor, merintis karir sebagai komikus sejak 2002 dengan mengangkat cerita-cerita rakyat.

Untuk senirupa, kami berjumpa dengan beberapa pegiatnya di warung kopi sekaligus galeri bernama Kedai Sesama. Galeri yang berumur satu tahun ini pernah menyelenggarakan beberapa pameran, seperti batik dan gambar. Ini adalah tempat berkumpulnya anak muda (SMA dan mahasiswa semester awal) yang tertarik gambar dan tergabung dalam komunitas bernama Muge (Musim Menggambar). Kelompok ini dulu sangat aktif, berkumpul seminggu sekali menggambar di beberapa sudut kota Singkawang. Saat ini sedang vakum. Terhentinya kegiatan ini biasanya terjadi karena para penggeraknya pergi untuk bersekolah, bekerja atau berkeluarga.

Kami bertemu Greg, seorang dayak yang juga tatung. Ia adalah musisi, pemain sape dan perkusi. Greg mengeluhkan minimnya fasilitas gedung pertunjukkan dan kurangnya apresiasi pemerintah Singkawang terhadap kesenian. Tidak ada gedung kesenian, namun dijanjikan akan dibangun panggung teater di SCC (Singkawang Cultural Center). SCC dibangun sebagai ruang kreatif dan tempat Pusat Informasi Kota Singkawang. Bangunan ini merupakan wajah baru dari gedung bioskop lama yang sudah direnovasi. Kami sempat menghadiri peluncuran Singkawang Art and Design Week (SADW) di kawasan Pasar Hongkong, dihadiri Walikota Singkawang yang baru Tjhai Chui Mie beserta wakilnya Irwan. Acara yang digagas oleh para arsitek muda Pontianak ini akan direalisasikan tahun 2019. Kami datang bersama Romo, ayah dari Kendi tempat kami menginap. Ia merasa tersinggung karena tidak ada orang Singkawang yang hadir dan dilibatkan dalam acara tersebut. Romo yang tergabung dalam Kelompok Musisi Jalanan Singkawang (KPJ) mengundang beberapa temannya untuk mengintervensi panggung dengan menyanyikan beberapa lagu.

Banyak potensi seni di Singkawang yang belum terfasilitasi dan diapresiasi dengan baik. Akibatnya, banyak pelaku seni lebih nyaman tampil di luar Singkawang. Misalnya, Greg pernah diundang tampil di Taman Mini dan hanya diapresiasi sebesar 300 ribu. Tidak adanya regenerasi juga membuat kekhawatiran pelestarian kesenian di kota ini. Seperti, terancam punahnya wayang gantung. Cerita lainnya,  Ega adalah satu-satunya pendongeng boneka yang tergabung di Komunitas dongeng Indonesia, belum ada peminat lain. Banyak komunitas yang dulu aktif sekarang bubar perlahan. Semoga kunjungan kami berikutnya dapat memantik dan membangunkan gairah berkesenian di Singkawang.

Catatan Kecil dari Sumbawa

Dendi Madiya

Ketika saya berada di udara, sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Lombok Praya, saya melihat daratan dan perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mungil. Komposisi geografisnya terdiri atas persawahan, ladang, padang rumput, tanah, jalan raya, kelokan aliran sungai, laut dan perbukitan. Area perkotaan berikut pemukiman terkonsentrasi di satu-dua titik dengan pergerakan laju kendaraan bermotor di dalamnya. Warna yang diperlihatkan kepulauan ini adalah hijau, cokelat, juga biru. Binatang berkaki empat berserakan: sapi dan kuda yang sedang bersantap siang.

Saya ingin tahu, bagaimana orang NTB berbicara. Dialek seperti apa yang mereka bunyikan dalam percakapan sehari-hari? Bagi saya, hal itu semacam pintu masuk pertama untuk berinteraksi dengan medan penelitian. Saya memasuki smoking room Bandara Lombok Praya. Petugas bandara yang memakai rompi hijau banyak merokok di situ. Tetapi tak banyak percakapan yang terjadi. Mereka asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, bebunyian game dari smartphone masing-masing terdengar. Satu-satunya tema perbincangan yang sempat saya kuping adalah perseteruan sepakbola Liga Eropa.

Bersama tiga orang rekan, Lusia Neti Cahyani, Shohifur Ridho’i dan Venti Wijayanti, saya berkesempatan mengunjungi Sumbawa dalam rangka menjalankan program Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang bertajuk Performing Differences. Sebuah program yang bertujuan untuk mempelajari isu-isu perbedaan, keragaman dan toleransi, terutama di wilayah timur Indonesia.

Saya tidak banyak mengunjungi kota-kota atau daerah-daerah di Indonesia. Tapi cukup sering saya mendengar atau membaca curahan hati seniman-seniman muda yang berkarya di berbagai tempat di Indonesia. Sepertinya memang ada beberapa persoalan yang sama yang menggelayuti lingkungan berkesenian kita. Saya mendengarnya kembali di Sumbawa ini melalui sejumlah pegiat seni dan sosial di Sumbawa.

Persoalan-persoalan itu diantaranya adalah kesulitan mendapatkan ruang untuk menyelenggarakan kegiatan kesenian bersama publik; regenerasi yang tidak berlangsung pada beberapa sektor bidang kesenian; ketergantungan seniman kepada festival yang diselenggarakan oleh pemerintah; dukungan pemerintah yang belum komprehensif terhadap luasnya lanskap kesenian; pandangan seniman-seniman senior yang masih minor terhadap pembaruan-pembaruan yang diupayakan oleh seniman-seniman penerusnya; masih banyak seniman muda yang tidak berani berkarya keluar dari apa yang disebut sebagai ‘pakem’ yang digariskan oleh seniman pendahulu; mandeknya kreatifitas seniman; seniman masih alergi terhadap diskusi-diskusi; seniman belum mampu menuliskan konsep kekaryaannya; miskinnya isu yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat yang diangkat seniman ke dalam karyanya; kurangnya pengajar atau pelatih kesenian untuk sekolah-sekolah; isu kesenian sebagai pariwisata.

Masalah-masalah itu saya rasakan seperti tersebar dimana-mana di Indonesia ini, tidak hanya di Sumbawa. Memang terkesan sok tahu. Tapi begitulah yang saya rasakan. Seperti ada penyebab yang sama, pengkondisian yang sama, oleh pelaku yang sama, sejak lama, tak kunjung memperoleh jalan keluar.

Sering pula kita mendengar ucapan tokoh masyarakat, pejabat di suatu daerah, seorang seniman yang mengatakan bahwa di wilayahnya terdapat warga dari beragam etnis. Begitu pula Sumbawa. “Sumbawa ini miniatur Indonesia.” Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘miniatur Indonesia’ itu. Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘kampung etnis A,’ ‘kampung etnis B,’ ‘kampung etnis C,’ dan seterusnya.  Warga terbuka untuk kehadiran saudara-saudara dari etnis lain. “Tidak ada pertikaian etnis di Sumbawa,” kata Yuli Andari dari Sumbawa Cinema Society (SCS).

Mereka menemani kami dengan kisah-kisah serta perjalanan ke berbagai tempat di Sumbawa. Selain Andari, dari SCS ada Anton Susilo dan Reny Suci. Tidak ketinggalan, Hallen Muchlis dan Moel dari Sumbawa Visual Art (SVA). Musisi rock, Ferdiansyah dan Muhammad Akbar, yang pernah menyelenggarakan event Rock in Samawa. Juga Lulu yang bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa.

Dari mereka, terendus semangat untuk melakukan perubahan-perubahan, baik kondisi social maupun kesenian Sumbawa. Setidaknya ada spirit untuk tidak tinggal diam, spirit membaca masyarakat, spirit menempuh jalur alternatif untuk keluar dari problema, meskipun ‘kisah-kisah sedih’ memang sudah terlanjur berada di pundak. Kisah-kisah memprihatinkan tentang problema sosial, budaya, kesenian Sumbawa, mengucur dari mereka.

Anton pernah mengangkat kisah (yang tak kunjung habis) mengenai buruh migran Sumbawa ke dalam karya film: problema buruh migran yang berada dalam lingkaran penderitaan, penganiayaan, kematian, juga kegilaan, di samping kesuksesan yang sering diperlihatkan melalui cara berpakaian buruh migran yang berubah mewah sebagai tanda pertama ketika mereka pulang. Lebih dalam mengenai regulasi dan hal teknis lainnya mengenai buruh migran dipaparkan oleh rekan-rekan dari SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa yang juga sempat kami temui. Dari mereka, kami mendengar kisah betapa kompleksnya persoalan yang melingkupi dunia buruh migran. Belum lagi harus berhadapan dengan aparat Negara dari berbagai tingkat untuk mengurus satu kasus yang berlarut-larut sebagaimana diceritakan kawankawan dari Solidaritas Perempuan Sumbawa.

Dengan mengajak banyak pihak diantaranya ikatan-ikatan keluarga beragam etnis yang ada di Sumbawa, Andari menggagas dan mewujudkan program Harmoni di Tanah Samawa (HTS) pada Mei 2017. Andari yang dikenal juga sebagai sutradara film, memasukkan lintas disiplin seni ke dalam acara ini. Selain pemutaran film, ada pertunjukan teater, tari, pawai dan seni instalasi.

Kegiatan yang seperti hendak menghembuskan nafas kerukunan dan perdamaian antar lintas warga di Sumbawa ini, mengambil tempat di Istana Bala Puti (kini disebut Wisma Daerah). Istana ini dibangun tahun 1932-1934 oleh Sultan Sumbawa ke-17, yaitu Sultan Muhammad Kaharuddin III. Sayang beribu sayang, enam bulan kemudian setelah pelaksanaan HTS, istana ini mengalami kebakaran. Kami sempat menyaksikan reruntuhannya. Ada semacam ironi yang saya rasakan ketika berada di situ. Seperti ada lembaran-lembaran sejarah yang tercerabut hilang.

Sebuah kompetisi mural baru saja diselenggarakan oleh SVA yang mengambil tajuk Warna- Warni Kota Kita pada Januari lalu. Kompetisi yang menuntut peserta untuk mendeskripsikan Sumbawa lewat mural ini, mengambil lokasi di Stadion Pragas. “Untuk seni rupa, Sumbawa belum kelihatan,” demikian Hallen membuka pengamatannya. Event yang mereka gelar itu merupakan usaha percobaan untuk mendeteksi kekuatan seni rupa Sumbawa. Sebenarnya mereka masih meraba-raba dalam pelaksanaannya. Di luar dugaan, tingkat antusiasme peserta cukup tinggi dengan jumlah tim mural yang ikut serta sebanyak 50 tim. Ternyata para peserta dari kalangan muda ini menunggu untuk adanya sebuah event dimana selama ini mereka vakum.

Ferdi dan Akbar adalah musisi-musisi muda beraliran rock yang berkiprah di Sumbawa dengan mengangkat isu-isu toleransi. Selain itu, keduanya merupakan pecinta kopi. Pada sebuah kesempatan obrolan, Ferdi mengidamkan banyak kebun kopi di Sumbawa ketimbang kebun jagung. Banyak sudah hutan diubah menjadi kebun jagung dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Sumbawa, cerita Ferdi. “Sudah seperti Jakarta saja, banjir setiap tahun.” Kopi memang untuk orang-orang yang visioner dan penyabar, lanjut Ferdi. “Kalau orang Sumbawa banyak menanam kopi, hatinya pasti damai dan tentram,” begitu imajinasi Ferdi. Akbar sendiri sudah dua kali menggelar event yang mempertemukan para petani kopi dengan konsumen serta diisi pula dengan workshop-workshop pengolahan kopi.

Obrolan-obrolan yang hangat pun berlangsung dengan para pengurus Dewan Kesenian Sumbawa dan beberapa seniman senior dari bidang teater dan seni rupa. Dari sini muncul cerita legenda Tanjung Menangis yang telah dipentaskan berulang kali dalam festival yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu Festival Moyo. Ada kegelisahan-kegelisahan, mengapa hanya legenda ini yang sering dipentaskan, disamping harapan adanya penulisan ulang dengan memasukkan visi-visi baru. Tapi, siapa pula yang akan menuliskannya? Sementara, pada sisi lain, ada sosok seorang aktor senior seperti Pak Jayadi yang kini disibukkan dengan kegiatannya sebagai kepala sekolah sebuah SMK. Pak Jayadi telah beberapa kali mementaskan naskah-naskah dari Arifin C. Noer, Anton Chekov dan Putu Wijaya.

Pada suatu kesempatan, kami memasuki area persawahan di Desa Poto, Moyohilir. Kami mengikuti seorang petani sekaligus seniman yang bernama Papin (Kakek) Prebore. Tubuhnya masih tampak kekar tetapi juga membungkuk. Kakek ini adalah seorang peniup suling dari batang padi atau disebut juga ‘serunai.’ Papin menyibak-nyibak batang padi di sawah dengan konsentrasi penuh. Kami yang bertanya-tanya tentang apa yang dicarinya, tidak digubrisnya.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, Papin meniup-niup batang padi itu. Kami mendengar lantunan nada dari nafas panjangnya. Bagi saya, Papin seperti bagian lain dari peta kesenian di Sumbawa. Jauh dari keriuhan permasalahan, di rumahnya di antara ladang, dia asyik menghayati kesenian dengan ditemani sang isteri.

Ah, kambing kertas. Tentu, yang juga tak dapat dilupakan adalah kunjungan ke Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Di sini, karena tidak ada padang rumput, kambingkambing

jadi pemakan apa saja yang bisa mereka makan, termasuk kertas. Kambing-kambing berkeliaran diantara padatnya rumah penduduk. Inilah wilayah yang disebut ‘daerah terduga kumuh.’ Kesenian yang berasal dari sini adalah joget Bungin. Dewi Astuti dan Ibu Nilam masih bergiat mempraktekkannya, mengajarkannya ke anak-anak dengan iringan musik dari tape dan handphone. Sudah tidak banyak yang mampu menjadi pemusik untuk joget Bungin.

Kontras terasa ketika kami beranjak ke restoran apung dimana angin dan laut seperti mampu menghilangkan kepenatan. Dan kami pulang kembali ke penginapan dengan berdebar karena harus mengarungi perjalanan malam tanpa cahaya lampu mobil.

Kami diantar ke beberapa tempat oleh seorang supir (yang kemudian menjadi kawan) bernama Obi. Lelaki muda belum genap berusia 30 tahun ini merupakan anggota SVA. Di dalam mobilnya, sambil mengantar kita, Obi memutar lagu-lagu dari radio maupun flasdisk. Kita tetap bisa mendengar lagu-lagu Slank, juga Gugun and the Blues Shelter di Sumbawa. Sempat kita nikmati pecel lele dan pecel ayam sebagaimana di kota-kota di Pulau Jawa. Spanduk kain kedai pecel ini masih bernuansa sama dengan kedai pecel di Pulau Jawa: ada gambar lele, gambar ayam, tahu-tempe serta warna-warni yang ngejreng. Tak lupa, Indomart dan Alfamart. Salah satu lokasi mereka di Jalan Hasanudin terlihat dua waralaba ini berdiri berseberangan dan berhadaphadapan langsung

Bersama mereka semua, telinga saya seperti dilatih untuk sabar mendengar. Terbersit dalam hati, belum seberapa berat masalah yang saya hadapi. Pekerjaan ‘mendengar’ bukan perkara mudah. Perlu kemampuan untuk menunda apa yang ingin saya katakan, apa yang saya pikir adalah solusi, karena jangan-jangan apa yang saya ketahui dan pahami belum sebegitu mendalam dari apa yang digulati orang lain.

Entitas Pulau Bungin Sebagai Wilayah Pesisir

Venti Wijayanti

Setelah beberapa hari sampai di Sumbawa, kami sudah melalui pertemuan dengan  beberapa komunitas seni yang tumbuh di sana. Komunitas seni anak muda pada  umumnya menarik, seperti Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art, dan  di bidang musik ada Ferdi dan Akbar yang tergabung dalam Indimusic Movement.

Berkesenian menurut mereka tidak sama dengan orang-orang berkesenian di Sumbawa pada umumnya, kesenian merupakan bentuk dari usaha kreatif mencipta untuk bersuara. Sehingga kegiatan berkesenian bagi komunitas anak-anak muda ini selalu dihidupi dengan usaha mewujudkan ide mereka atas respon kesenian yang berbentuk festival dan proyek.

Pertemuan dengan komunitas seni anak-anak muda di Sumbawa Besar membawa penasaran kami dengan bentuk seni dan budaya yang ada di daerah-daerah lainnya di Sumbawa. Saya, Lusi, Dendi dan Ridho merencanakan perjalanan ke Pulau Bungin pada Senin, 5 Maret. Perjalanan dilakukan dari pagi melewati daerah bernama Rhee, yang sepajang jalan wilayah tersebut menjual jagung dengan biji berwarna putih atau jagung ketan. Sesampainya di Pulau Bungin dengan melalui jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Sumbawa Besar. Lanskap wilayah pesisir ini memiliki keunikan tersendiri yang membawa penasaran saya untuk mencari tahu banyak tentang Pulau Bungin. Ingatan visual saya terpikat dengan adanya pemandangan laut pinggir pantai, batu-batu karang sebagai pondasi rumah, sampah berserakan, pola susunan rumah panggung, anak-anak kecil bermain air di Dermaga, kambing, dan tanaman berjaring.

Bungin terletak di kecamatan Alas, yang posisinya di bagian Utara Sumbawa Besar. Bungin memiliki 15 RT yang dibagi menjadi 3 Dusun, yaitu Dusun Tanjung (RT 1 – 5), Dusun Sakatek (RT 6 – 10), Dusun Bungin Tenggiri (RT 11 – 15). Banyak media meliput dan memberitakan bahwa Pulau ini sebagai daerah terpadat di Dunia. Pada saat Teater Garasi berkesempatan mengunjungi dan mengenal kesenian dan budaya di Pulau Bungin, saya menemukan keterangan bahwa Pulau ini sebagai Pemukiman Terduga Kumuh oleh lembaga pemerintah Pekerjaan Umum program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) pada tahun 2016. Hal ini memberikan asumsi bahwa Pulau Bungin masih gamang ditetapkan sebagai Pemukiman Terduga Kumuh. Penetapan ini bisa jadi terlalu gegabah, dan secara psikologis memungkinkan adanya dampak pernyataan tersebut terhadap penduduk Pulau Bungin. Asumsi ini jika dikaitkan dengan keunikan Bungin sebagai pulau dan kota pemukiman satelit dengan kehidupan sederhana sudah bisa dikatakan seperti itu. Potensi Bungin yang warganya merupakan suku Bajo dan Bugis , yang memiliki nenek moyang dari Selayar sudah telihat kekhasannya sebagai kota pesisir. Ketika penilaian program Kotaku tahun 2016 menunjukan bahwa Pulau ini menarik perhatian.

Perluasan atau reklamasi pulau Bungin semakin tahun semakin menjadi, pada awalnya tradisi untuk merperluas wilayah dikarenakan adanya pernikahan. Pernikahan mengharuskan pria yang berasal dari lain daerah yang akan meminang gadis Bungin, mengumpulkan sebanyak-banyaknya batu karang dari pinggir pantai untuk membangun fondasi rumah. Rumah yang ada di Bungin berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu. Kepadatan penduduk Pulau Bungin berawal dari adanya pernikahan dan beranak pinak, sehingga perluasan wilayah pesisir ini semakin tidak  terbendung. Bungin mengalami reklamasi pertama besar-besaran adalah tahun 2012 dan saat ini terjadi semakin luas. Mata pencaharian dari penduduk Pulau Bungin adalah pelaut atau nelayan ikan, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki yang melaut sampai Kupang, bahkan Timor Leste, wilayah yang masih memiliki hasil laut yang beragam. Biasanya mencari biota laut, seperti ikan hias atau terumbu karang untuk dijual.

Vegetasi tanaman yang tumbuh di Bungin sangatlah jarang dan terhambat pertumbuhannya karena wilayah pesisir yang gersang dan belum terolah sistem pertanamannya. Terbatasnya vegetasi tidak semata-mata karena wilayahnya yang sulit untuk dibudidayakan tanaman, tetapi ada penyebab lain yaitu karena habitat kambing. Tanaman di Bungin harus ekstra perlindungan jika ingin pertumbuhannya berlangsung lama dan tetap indah dipandang dengan cara memberikan pagar dari bambu atau jaring-jaring. Perlindungan ini merupakan usaha penduduk untuk memiliki vegetasi tanaman dan melindunginya dari serangan hama kambing.

Keberadaan kambing yang terlalu banyak populasinya di Bungin adalah petakan bagi pertumbuhan tanaman. Masyarakat Pulau Bungin memelihara kambing sebagai hewan ternak dan investasi jangka panjang, tetapi juga menjadi hama bagi warganya. Hal ini dikarenakan sulitnya pertumbuhan lahan hijau, sehingga kambing harus hidup dengan makan sampah rumah tangga bahkan kertas. Kambing dibiarkan hidup bebas dan berkeliaran mencari makan. Pada suatu saat ada musibah yang dialami oleh kantor Desa Bungin, pada saat staff tidak ada dan keadaan kantor terbuka, kambing menyerang masuk ke kantor dan memakan banyak arsip dokumen Desa. Alhasil Kepala Desa berserta staffnya kelabakan dengan adanya penyerangan hama kambing. Cara survive kambing investasi tersebut memang jelas akan menguntungkan empunya karena tidak perlu memberinya makan tetapi hal ini mengakibatkan kambing terserang penyakit scabies, sejenis penyakit kulit pada hewan yang kurang nutrisi.

Penduduk Bungin juga banyak dihuni dengan anak-anak kecil dan orang dewasa usia produktif. Di Bungin terdapat sekolah atau institusi pendidikan untuk anak-anak dari PAUD, TK, SD, sampai SMP. Para orang tua bisa menyekolahkan anaknya di Bungin sampai SMP, dan akan mengirimkan anaknya sekolah di daerah terdekat untuk tingkat SMA dan untuk tingkat Universitas biasanya memilih di Mataram atau Bali. Pilihan menyekolahkan ke Universitas, jika keluarganya mampu untuk menyekolahkan anaknya pada tahap pendidikan tersebut. Pendidikan masyarakat Bungin masih rendah, banyak yang hanya lulus SMA, dan tidak sampai menempuh pendidikan SMA. Biasanya generasi muda Bungin banyak yang lulus SMA memilih untuk berkerja sebagai pegawai waralaba di Bali atau Mataram, kota maju yang letaknya dekat dengan Bungin. Banyak juga yang lulus sekolah Pariwisata dan berkerja sebagai pegawai Hotel di Bali dan Lombok. Pekerjaan di Hotel menjadi tawaran yang menarik pada generasi muda karena akan mendapatkan gaji yang banyak, dan hanya bermodal bisa bahasa Inggris.

Alat transportasi utama di bungin adalah Jhonson yaitu perahu motor kecil, untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lainnya. Biasanya digunakan untuk bekerja, berpergian, atau berangkat ke sekolah. Jhonson sangatlah popular sebagai alat transportasi di wilayah pesisir, tetapi karena Pulau Bungin sendiri sekarang sudah ada jembatan jalan darat yang menghubungkan langsung dengan kota jadi kebutuhan akan Jhonson sudah tidak seistimewa dulu lagi. Karena penduduk sudah dimudahkan dengan alat transportasi sepeda motor. Jhonson tetap dipakai untuk mengirim barang-barang dagangan dan perlengkapan upacara adat Tibaraki yaitu bambu dan pohon pisang.

Upacara adat Tibaraki adalah sejenis upacara larung yang biasanya diselenggarakan jika ada penduduk Bungin yang mengalami sakit. Upacara ini dilakukan dengan melarung kepala kerbau dan menggunakan Sandro (dukun) untuk menjalankan upacara. Tibaraki merupakan upacara yang berkaitan dengan tradisi larung yang berdasarkan dengan adat nenek moyang dan kehidupan masyarakat dari laut.

Upacara ini memiliki bentuk khas perempuan dan terdapat tarian yang harus ditarikan oleh perempuan, selain itu disiapkan perlengkapan rias dan memasak. Biasanya Tibaraki berlangsung lama dan tidak dapat dijadwalkan akan selesai kapan, karena Sandro menunggu penari atau orang yang ikut upacara adat ini trans, dan Sandro bertugas untuk membahasakan maksud dari orang trans tersebut. Kaitannya dengan perlengkapan upacara dan durasi upacara yang panjang, Tibarakimembutuhkan anggaran yang banyak.

Kesenian di Bungin terdapat tari dan musik, yang semua kaitanya dengan upacara adat dan festival atau lomba. Dewi Astuti merupakan penari yang memiliki Sanggar Mutiara yang dia kelola sejak tahun 2012, sepeninggal ibunya yang merupakan pendiri sanggar tersebut bersama dengan Ibu Nilam. Dewi bergerak di tari kreasi baru, sedangkan Ibu Nilam menekuni tari tradisi yang sesuai pakem. Tari di Bungin terkendala oleh regenerasi pemusik yang bertugas mengiringi penari pada saat pentas. Pemusik kebanyakan yang ada sudah berumur tua dan mereka memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Pemerintahan (PNS) sehingga pada saat ada pementasan harus dijadwalkan lama sebelumnya. Pemusik di tari biasanya sebagai pemain Tipiu, sejenis alat musik seruling. Jika tidak ada pemusik, maka penari tidak bisa pentas. Hal ini menjadi problem penting di kesenian tradisi di Bungin. Dewi biasanya melatih tari di sanggar pada hari Minggu sore atau terkadang juga pada hari libur aka nada jadwal menari. Peserta tari di Sanggar Mutiara pada umumnya anak-anak SD.

Mereka berlatih rutin untuk mengisi kegiatan atau jika ada undangan dari Desa untuk mengirimkan perwakilan lomba di Kecamatan. Pulau Bungin sering kedatangan tourist yang melakukan perjalanan dari Lombok yang akan ke Labuan Bajo, biasanya kapal akan berlabuh di Dermaga Pulau Bungin. Para agen travel biasanya menghubungi Dewi untuk menyambut tamu dengan tarian selamat datang di Dermaga. Secara pribadi Dewi menjelaskan bahwa dengan adanya tourist berarti bisa menambah penghasilan pada Dewi yang bekerja sebagai Guru Honorer SD di Bungin.