Kenang Tsunami Flores, KAHE Maumere Gelar Pameran “M 7,8 SR”

 

MAUMERE, IndonesiaSatu.co– Komunitas seni dan sastra KAHE Maumere didukung oleh Garasi Performance Institute Yogyakarta mengadakan pameran, diskusi, dan pertunjukan bertajuk “M 7, 8 SR. Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman” di area Radio Sonia FM dan Dapoer Soenda Flores, Jalan Don Thomas No.  19 Maumere, Flores. Berbagai lukisan, foto, dan video screening yang dipamerkan merupakan bentuk respons kesenian komunitas KAHE atas peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Flores, terutama Maumere pada 1992 dulu.

“Kami coba mengenang tragedi gempa dan tsunami dua puluh lima tahun silam melalui aktivitas berkesenian. Di sini, kami tak hanya melihat tsunami sebagai peristiwa historis semata, tapi juga mengkajinya lebih jauh sebagai aspek metaforis yang berkenaan dengan isu-isu sosial kekinian,” tutur Dede Aton, koordinator umum kegiatan ini di Maumere melalui keterangan pers kepada IndonesiaSatu.co, Minggu (3 Desember 2017).

Lukisan yang dipamerkan merupakan karya tunggal Qikan Tethy Itammati dan berjumlah sekitar 30-an buah. Ada juga pameran foto dan video screening dari anggota KAHE lainnya yang menjadi referensi visual bagi siapa pun yang datang berkunjung. Selain itu, di sela-sela pameran juga akan terjadi aktivitas diskusi, sharing, talkshow, pembacaan cerpen dan puisi, pentas monolog, live accoustic, dan mural painting yang melibatkan tokoh masyarakat dan seniman-seniman lainnya di Maumere.

Yudi Ahmad Tajudin sendiri selaku direktur Garasi Performance Institute menyatakan bahwa kegiatan ini menjadikan seni sebagai ruang pertemuan orang-orang untuk bisa saling berdiskusi satu sama lain.

“Kreativitas seniman dalam merespons tema dan memanfaatkan ruang merupakan sesuatu yang berharga. Apalagi ini bukan hanya sekadar pameran lukisan, melainkan ada juga diskusi dan tampilan aktivitas kesenian lainnya. Adanya banyak bentuk kesenian tersebut semoga bisa menginspirasi seniman-seniman muda di Maumere untuk menatap isu spesifik tertentu dan meresponsnya dengan karya-karya,” ujarnya.

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung pada tanggal 05 hingga 11 Desember 2017.

Sumber: http://indonesiasatu.co/detail/kenang-tsunami-flores–kahe-maumere-gelar-pameran–m-7-8-sr-

 

Tiga Sanggar Seni Desa Waiburak Dikukuhkan

Wakil Bupati Flores Timur Agus Boli memberikan tabungan kepada siswa SD di sela-sela pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak/Foto: Istimewa

Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, mengukuhkan tiga sanggar seni. Pengukuhan Sanggar Seni Budaya Sina Riang, Sanggar Seni Budaya Nuba Tawang, dan Sanggar Seni Budaya Kemoti ini dilakukan di lapangan depan mesjid Waiburak pada Senin (4/12) dan dihadiri oleh Wakil Bupati Flores Timur  Agustinus Payong Boli,SH.

Acara pengukuhan tiga sanggar seni budaya Desa Waiburak ini menampilkan seni tari Hedung yang dibawakan oleh Sanggar Nuba Tawang. Sementara itu, Sanggar Kemoti membawakan Teater Mimpi, dan Sanggar Sina Riang menampilkan Teater Warisan.

Pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak ini dihadiri juga oleh Yudi Ahmad Tahjudin, salah satu pendiri teater Garasi, Gunawan Mariyanto, penulis dan sastrawan, Taufik Darwis, pengamat dan praktisi teater dari Bandung dan Silvester Petara Hurit, kritikus teater Flores Timur.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Waiburak Mansur Haji Djamaludin menyampaikan terima kasih kepada Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli yang turut hadir. “Saya bersyukur bahwa bapak Wakil Bupati berkesempatan hadir di acara pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak, meskipun undangan dilakukan hanya melalui SMS. Hal ini tentu sangatlah luar biasa,” ungkap Mansur yang baru dua tahun menjabat sebagai Kepala Desa Waiburak ini.

Menurut Mansur, kehadiran sanggar seni di Waiburak dengan sendirinya membuat warganya memiliki pilihan-pilihan untuk berekspresi. “Kami tentu bergembira karena warga Waiburak memiliki akses untuk berekspresi. Dan, selanjutnya kami tentu akan memperhatikan sanggar-sanggar seni ini,” ujar Mansur lagi.

Kepala Desa Waiburak juga menyampaikan penghargaan kepada Sanggar Garasi dari Yogyakarta yang telah memberikan pendampingan untuk sanggar seni dari Desa Waiburak. “Kami berterima kasih kepada Sanggar Garasi yang telah memberikan pendampingan kepada Sanggar Sina Riang. Hal tersebut juga menjadi motivasi bagi kami pemerintah desa untuk memperhatikan anak-anak kami dan generasi muda melalui kegiatan seni, khususnya seni teater,” tegas Mansur.

Sementara itu Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli juga memberikan apresiasi atas munculnya sanggar seni di Desa Waiburak. “Ini adalah sebuah hal baik. Dan, sudah tentu pemerintah sangat mendukung kegiatan-kegiataan seni budaya,” ujar Agus Boli.

Wakil Bupati Flores Timur Agus Boli memberikan tabungan kepada siswa SD di sela-sela pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak/Foto: Istimewa

Wakil Bupati Flores Timur itu melanjutkan munculnya sanggar-sanggar seni di masyarakat sebenarnya sejalan dengan salah satu misi utama pemerintahan saat ini yaitu selamatkan orang muda. “Ada dua hal yang hendak kita capai bersama dalam misi selamatkan orang muda Flores Timur ini. Pertama, menciptakan orang-orang muda menjadi wirausahawan agar dapat mandiri secara ekonomi menuju kesejahteraannya, keluarga, dan orang-orang yang ada disekitarnya. Dan yang kedua, membangun karakter orang muda agar memiliki karakter yang baik untuk bekal kepemimpinannya dalam setiap aspek kehidupannya,” urai Agus Boli menjelaskan.

Agus melanjutkan bahwa hal ini dicapai melalui kegiatan seni budaya dan olahraga. Oleh karena itu, Agus menghimbau kepada semua pihak agar mendukung setiap kegiatan seni dan olahraga sebagai bagian penting dari pembangunan di kabupaten Flores Timur selama lima tahun kedepan.

Lebih lanjut politisi Partai Gerindra itu berharap agar dengan pengukuhan sanggar-sanggar seni budaya Desa Waiburak ini dapat menjadi pemantik bagi desa-desa yang lain, yang ada di Kabupaten Flores Timur, agar bisa mengorganisir sanggar-sanggar seni yang ada di desanya. “Kiranya apa yang dilakukan oleh teman-teman di Desa Waiburak ini dapat menjadi contoh sehingga di desa-desa lain juga teman-teman muda mulai bergerak dalam kegiatan-kegiatan positif,” ujar Agus Boli berharap.

Di akhir sambutan, Wakil Bupati Flores Timur tersebut sempat memberikan tabungan untuk beberapa siswa sekolah dasar di Desa Waiburak. Menurut Agus Boli, pemberian tabungan ini agar para siswa mulai membiasakan diri untuk menabung sejak dini. “Ini hanya langkah awal supaya anak-anak mulai menabung. Dengan menabung sejak dini berarti kita mempersiapkan biaya untuk masa depan kita,” ujar Agus Boli memotivasi anak-anak. *(Ito Kabelen)

Editor: Christo Korohama

Sumber: http://www.sarabitinews.com/2017/12/06/tiga-sanggar-seni-desa-waiburak-dikukuhkan/

Menangkap Pesan Pertunjukan Teater ”Perempuan dan Kapal yang Hilang”

Kisah tentang Istri yang Ditinggal Suami

Aktor saat melakoni pertunjukan teater ”Perempuan dan Kapal yang hilang” di Pendapa Pratanu, Bangkalan, Sabtu malam (25/11). (BADRI STIAWAN/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Sabtu malam (25/11) di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bangkalan, biasa terdengar kebisingan knalpot kendaraan bermotor. Juga ramai pemuda nongkrong di trotoar. Di balik itu, di Pendapa Pratanu terpancar lampu berbagai warna di antara kain hitam.

Ratusan pasang mata di tempat itu tertuju pada satu sudut: pertunjukan teater. Penonton duduk bersila, duduk di kursi, dan ada pula yang berdiri. Tak banyak yang memalingkan wajah, pertanda tak ingin melewatkan hiburan gratis di Sabtu malam itu. Penonton sesekali tertawa melihat kelakuan aktor laki-laki dan perempuan.

Pertunjukan teater tersebut bertajuk ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” yang disutradarai R. Nike Dianita Febriyanti. Proses panjang dilalui untuk mengemas pertunjukan kurang lebih satu jam setengah itu. Tidak mudah. Pertunjukan yang mengangkat kondisi sosial masyarakat tersebut menuntut sutradara melakukan observasi.

Bukan sekadar imajinasi. Pertunjukan itu berkisah tentang perempuan yang ditinggal berlayar. ”Saya menggagas pertunjukan ini setelah pulang dari Jogjakarta. Setelah pulang itu, saya berpikiran harus membuat karya,” ucap perempuan muda kelahiran Bangkalan, 2 Februari 1993 tersebut usai pertunjukan.

Tiga bulan lalu Nike mendapat kesempatan melakukan residensi di Jogjakarta. Dia menimba ilmu kesenian di Teater Garasi. Di situlah dia mendapat bimbingan khusus. Mulai cara mengonsep, membuat naskah, menonton pertunjukan, hingga diskusi dengan para pelaku seni. ”Untuk membuka wawasan lebih jauh,” tuturnya.

Landasan utama Nike menyajikan pertunjukan yaitu penelitian tugas akhir kuliahnya. Dia mengangkat pertunjukan rakyat Soto Madura. Tema itu tidak jauh dari perantauan. Maka, dia berinisiatif merepresentasikan pertunjukan Soto Madura ke dalam seni teater kontemporer.

”Ada yang melandasi pertunjukan ini, yaitu studi saya tentang Soto Madura. Dalam naskah paten Soto Madura, meski tidak tertulis, tema dasarnya merantau. Ini kontemporer. Ada ruang realitas dan imajinatif. Jadi, tidak sepenuhnya realis dan tidak sepenuhnya absurd,” ungkap Nike.

Kebiasaan merantau orang Madura menjadi inspirasi bagi naskah teater yang dia angkat. Jenis perantauan yang diangkat yakni di lingkungan masyarakat Bangkalan tentang pelayaran. Tidak asal membuat naskah, dia melakukan riset.

”Mulai riset sekitar dua setengah bulan yang lalu. Dua minggu setelah menemukan ide ini, saya pergi bersama aktor ke Arosbaya. Ini bukan murni karya saya. Tapi, kolektif dari semua aktor mencipta,” ucap perempuan 24 tahun ini.

Kebiasaan masyarakat Madura dalam merantau menjadi ciri khas dan menurut dia menarik diangkat di panggung teater. Tekad Nike semakin bulat membuat pertunjukan teater atas dasar kegelisahannya sebagai perempuan. Di Bangkalan banyak kejadian istri ditinggal suami berlayar. Suami lama mengarungi lautan, terpisah jauh dengan daratan dan istri.

Sembari membuat naskah dari hasil riset, Nike mengajak aktor mengetahui aktivitas keluarga pelayaran secara langsung. ”Ini prosesnya bukan naskah sudah ada. Orang Madura banyak yang merantau. Di Bangkalan merantaunya banyak pelayaran,” ucap perempuan yang usai studi S-1 Sendratasik, Prodi Drama, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Saat riset, tidak jarang informan perempuan yang ditinggal suaminya berlayar tidak menyambut dengan ramah. Ada sekitar tujuh sumber yang dia wawancarai untuk bahan materi pertunjukan. Ada informan yang senang diwawancarai, ada juga yang cuek.

”Saya yang lebih banyak tanya. Jawabannya cuma iya dan tidak. Akhirnya tidak banyak data secara teks. Tantangannya itu,” kenang Nike.

Proses pra-pertunjukan sangat menarik baginya. Mulai dari riset, penyusunan naskah, keaktoran, hingga persiapan panggung pertunjukan. Tantangan lain yang dihadapi yakni aktor tidak hanya berdomisili di Bangkalan. Separo aktor yang dia pilih tinggal di Surabaya karena masih kuliah. Tidak jarang aktor berlatih secara terpisah.

”Saya suka prosesnya. Saya tidak begitu melihat hasil. Separo aktor saya berdomisili di Surabaya. Jadi sulit. Tidak bisa setiap hari latihan. Kadang saya sendiri yang ke Surabaya. Latihan terpisah,” urai anggota aktif sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan itu.

Hasil tidak akan menghianati usaha. Itulah yang didapatkan Nike dari apresiasi penonton. Remaja hingga lanjut usia larut menyimak pertunjukan yang disajikannya. Bahkan dosen Nike waktu masih kuliah juga ikut menyaksikan.

Penonton yang hadir dari kalangan pegiat seni, akademisi, mahasiswa/pelajar, muda-mudi, dan perwakilan sanggar teater dari sejumlah daerah. Di antaranya, Bangkalan, Malang, Semarang, Trenggalek, Jogjakarta, dan Sumenep.

”Saya kaget dengan penonton yang apresiatif. Banyak apresiasi dari orang-orang yang kompeten. Ada dosen saya yang lihat pamflet kemudian ingin datang,” ujarnya semringah.

Pembina KML Bangkalan M. Helmy Prasetya menyampaikan kebanggaannya kepada Nike yang berani menunjukkan kreativitas pada pertunjukan teater. Menurut dia, tidak semua perempuan muda bisa menyajikan pertunjukan kesenian dengan apresiasi penonton.

Sesepuh KML ini menerangkan, sajian pertunjukan teater dengan judul ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” sengaja dibuat berbeda. Namun, tetap tidak meninggalkan nilai estetika pertunjukan.

Dia mengaku, KML tidak akan berhenti berkarya. ”Kita tidak ingin berhenti di sini. Setidaknya terus berkembang. Bisa melaui kerja sama dengan teater di luar Bangkalan. Misalnya, studi keaktoran sebagai bekal kami,” katanya.

Pertunjukan yang mengangkat tema perempuan ditinggal suami berlayar itu cukup sukses disajikan Nike. Tema yang diangkat memang terjadi di Bangkalan sehingga menarik masyarakat umum untuk menonton. Diperkirakan, penonton yang datang antara 450 hingga 500 orang.

”Sangat pas tema ini diangkat. Kami memang mencoba menyajikan pertunjukan dengan estetika kreatif. Seperti penggunaan artistik dan efek lighting,” tuturnya.

Perwakilan Teater Garasi/Garasi Performance Institute Yudi Ahmad Judin juga memberikan apresiasi pada pertunjukan yang bisa menonjolkan isu lokal sebagai tema dasar itu. Menurut dia, pertunjukan ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” layak dikembangkan.

”Poin pentingnya, jangan melupakan kekayaan yang ada di daerah kita. Untuk mengawali sebuah penciptaan, ide kita angkat dari persoalan masyarakat setempat. Ini yang menjadi menarik,” ucapnya saat memberikan apresiasi usai pertunjukan di gedung Pendapa Pratanu Bangkalan.

Pertunjukan teater ini juga mendapat apresiasi dan masukan dari para pegiat seni dan para pakar. Di antaranya dosen. Ada juga penyampaian kekaguman penonton.

(mr/bad/hud/han/bas/JPR)

Sumber: https://www.jawapos.com/radarmadura/read/2017/11/29/30286/menangkap-pesan-pertunjukan-teater-perempuan-dan-kapal-yang-hilang

 

Pocèt dan Perjalanannya (Menyelesaikan Apa yang Sudah Saya Mulai)

Catatan pendek dari seseorang yang terlanjur jadi sutradara

oleh Fikril Akbar

13 mei 2017, awal saya bertemu dengan Teater Garasi dalam workshop penciptaan ‘Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia’. Pada hari-hari sebelum pertemuan ini berlangsung saya dengan Tocil Tanah Garam a.k.a Dwi Fitriyanto selaku ketua Sanggar Seni Makan Ati  bercakap ringan kemungkinan pertunjukan macam apa yang bisa kita lahirkan dari pertemuan tersebut, yang sebelumnya pihak sanggar memberikan saya tanggung jawab untuk mengurus masalah teater di sanggar ke depan yang ini juga menjadi alasan mempercayakan saya untuk mengikuti kegiatan (workshop) semacam ini. Hampir tidak banyak–kalau saya tidak mau mangatakannya tidak ada– teater yang bergerak mandiri di luar kampus di Pamekasan. Saya yang pernah berkecimpung di teater kampus tentu tahu selama ini kegiatan teater hanya ada dan tumbuh di dalam kampus walaupun gerakan untuk membangun publik teater dalam masyarakat terus berada dalam agenda mereka.

Saat workshop berlangsung, Keinginan untuk berkarya tidak terbendung. Bagaimana tidak, metodologi yang bersifat terbuka untuk semua jenis karya (teater, seni rupa, musik dan sastra) yang coba ditawarkan Teater Garasi membuka mata kami bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa kita upayakan untuk melahirkan karya. Mempunyai pijakan yang kuat dalam setiap berkarya adalah beberapa hal menarik yang saya dapat dari perjumpaan ini, kreator tidak melulu berkarya dengan ide-ide abstrak. Metodologi ini memberikan kesempatan kepada saya–sebagai manusia biasa yang tidak jenius– untuk bisa terus berkarya. Bahkan salah satu teman peserta workshop tidak berlebihan kiranya ketika dia bilang bahwa metodologi ini membuat kita enggan berpaling dari berkesenian.

Berbeda dengan workshop yang pernah dikuti saya dan teman-teman sanggar, kontak yang terus terjalin antara kami Sanggar Seni Makan dan Teater Garasi terus bergulir di luar yang kami bayangkan sebelum pertemuan awal. Saya kira pertemuan akan selesai setealah workshop usai atau berakhir di layar gawai—layar pamer media sosial.

Keinginan untuk menggarap pertunjukan saya coba untuk wujudkan dengan mengumpulkan sebagian teman-teman yang masih aktif berkesenian di dalam dan luar kampus. Pada pertemuan ini saya mencoba membagikan hasil workshop sebanyak yang saya ingat, isu-isu mulai dibicarakan. Dari isu besar sampai isu kecil; dari isu global sampai masalah pribadi mencoba dibicarakan untuk ditawarkan di panggung pertunjukan. Berbagai tanggapan muncul tentang workshop yang saya ikuti.

Aku kok gak denger kabar ya?”, “oh, gitu ya, metode semacam itu saya juga pernah dapat”, “patut dicoba nih peluang untuk menteaterkan masyarakat dan memasyrakatkan teater yang terus aku pikirkan memang”, “kalo yang begini-begini nih, dan untuk yang pemula-pemula aja, gak cukup nih waktunya untuk pertunjukan yang kalo memang ingin di wujudkan dalam waktu tiga atau empat bulan, mana risetnya lagi. riset tuh gak sebentar, gak sesederhana itu.

 Negosiasi terus kami lakukan, mulai dari menyusun jadwal yang bisa kita capai di setiap pertemuan sampai kemungkinan apa yang bisa kita wujudkan di panggung pertunjukan. Dari  pertemuan ini yang menjadi kegundahan saya adalah obrolan di akhir-akhir percakapan, di mana kita sibuk mengidentifikasi bentuk teater kita di Pamekasan dan bagaimana kaitannya paling tidak di wilayah Jawa Timur. Pertemuan ini berakhir kira-kira dengan kalimat dari seorang teman “kita harus mencari atau menemukan identitas; style/gaya pertunjukan kita”.

Pertemuan berikutnya kami mulai mengumpulkan keresahan; masalah pribadi, isu sosial, ekonomi, budaya, agama, modernitas, politik dan isu kultural, kemudian diurut dari isu besar dari tertangkapnya bupati karena korupsi sampai isu tidak penting seperti pernikahan dini. Dari daftar isu yang kami kumpulkan mengajak kami pada perjumpaan kedua dengan Teater Garasi. Kami dan pihak Teater Garasi mulai mendiskusikan isu yang kami kumpulkan yang pada waktu itu kami keliru menyebutnya dengan rancangan tema. Yang saya dengar di hari-hari kemudian bahwa hal ini juga menjadi perbincangan serius di meja mereka.

Isu keresahan yang kami kumpulkan semua mengenai batas runtuh, dinding Madura yang melemah; semua mengenai identitas Madura, diserangnya gagasan atas kemaduraan oleh nilai lain di luarnya. Ugoran Prasad waktu itu melihat isu-isu yang terkumpul seperti kasus Amerika yang ditawarkan Donald Trump yaitu Amerika yang seolah tunggal dan selesai, lupa kalau Amerika itu hybrid: disusun oleh yang banyak, dan nilai-nilainya terus tumbuh. Jika kita meminjam slogan kampanyenya adalah “Make Madura Great Again”, yang sebenarnya ini hampir jadi tema atau judul dari pertunjukan kami namun urung karena dirasa obrolan di panggung akan berat kalau kita bicara spesifik dan mendalam di setiap isunya; kemudian bagaimana mencari titik hubungannya lalu dari titik mana kita membahas semuanya sekali pukul-dan tentu saja isunya akan banyak direduksi. Pilihan yang lain adalah melihat sudut pandang, gagasan kemaduraan yang akan menjadi pusat percakapan. Dan yang terakhir adalah mengambil isu yang paling tidak penting.

Isu pernikahan dini adalah isu minor dalam percakapan kita, kenapa isu berada di urutan terakhir juga karena pengaruh hirarki pengetahuan kami yang artinya isu ini tidak banyak kami tahu. Pilihan mengambil isu pernikahan dini adalah karena posisi kita sebagai seniman memilih untuk memposisikan teater sebagai alat belajar atas isu yang seolah dibiarkan terjadi. Untuk kemudian mengajak masyarakat mengobrolkan kembali dan bersama-sama mencari solusi–kalau tidak alternatif —masalah pernikahan dini.

Dalam prosesnya tahapan kerja gali sumber dan improvisasi terus kami lakukan, walaupun improvisasi di awal kami kerap melakukannya di level meja. Dalam data-data yang kami himpun kami sampai pada titik dimana kami tidak tahu harus mencari data macam apalagi. Kami nyaris kalah. Kami kebingungan tidak berdaya dihadapan data-data itu, mereka seakan-akan berebutan ingin mengambil tempat dalam pertunjukan. Mereka tidak berhenti mengganggu saya setiap malam. Pada saat yang sama kami mulai berguguran, banyak teman mulai mengundurkan diri dari proses ini, mereka menyatakan sedikit kemungkinan untuk terus terlibat sampai hari pertunjukan. Dan sisanya sibuk dengan agenda besar mereka.

Pada kondisi seperti ini saya harus mencari teman yang bersedia untuk diajak mengobrol sekedar menumpahkan apa yang ada dikepala saya atau mengolah data yang kami temukan, Untuk mencoba menawarkan dan mengharap umpan balik sebagai upaya—paling tidak–lahirnya bayangan pertunjukan. Dan beruntunglah teman-teman Sivitas Kothèka selalu bersedia saya sibukkan.

Dalam upaya yang kesekian, pada hari menjelang kira-kira satu bulan sebelum pertunjukan, kami mulai mencari nama-nama baru sebagai pemenuhan dalam bayangan pertunjukan yang mulai muncul. Kami menlemparkan kepada mereka temuan-temuan kami dan mencoba menggali dari mereka pribadi terkait kasus fenomena dalam tema yang kita angkat. Dari merekalah sudut pandang baru ditemukan. Saya mulai membuat potongan-potongan naskah sebagai bahan latihan dan dibongkar pasang yang kemudian kita menyebutnya struktur pertunjukan. latihan berjalan. namun saya semakin gelisah ketika kabar bahwa bapak sedang sakit dan mengharuskan saya untuk pergi ke ujung pulau seberang untuk merawatnya. Selama seminggu saya dan teman-teman aktor hanya terlibat dalam kontak virtual selama latihan.

Selama itu pula saya terus gelisah karena target dalam latihan belum tercapai. Dan kabar bahwa paman saya meninggal dunia saat merawat bapak membuat saya berpikir dan bertanya apakah ada kemungkinan untuk menunda peristiwa semacam itu, kenapa harus hari ini ketika saya tidak bisa berjumpa untuk yang terakhir. Saya kecewa dia pulang saat saya tidak ada di dekatnya. Dua hari setelah kabar itu, Saya behasil memenuhi harapan bapak untuk menemaninya pulang ke Madura, saya tidak tahu kalau yang bapak maksud pulang adalah pulang yang sebenar-benarnya. Bapak menyusul paman. Dan sekali lagi saya tidak berdaya menghadapi waktu. Pada saat seperti ini saya seperti dituntut untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya tidak menyangka pertunjukan ini akan lahir diantara dua kematian.

Pocèt adalah sebutan bahasa Madura untuk buah-buahan yang baru lahir (belum layak dikonsumsi). Dan itu merujuk pada hubungannya dengan fenomena pernikahan dini dan bagaimana proses pertunjukan ini terjadi. Judul ini muncul pada saat hari pertunjukan sudah menghitung jari ketika kami semua gelisah karena banyak ide-ide di awal pertemuan belum menemukan artikulasi yang tepat dalam panggung pertunjukan. Bongkar pasang struktur pertunjukan terus dilakukan. Mendatangkan teman-teman pelaku teater kampus dalam latihan pun kami lakukan sampai sebelum hari pertunjukan sebagai upaya untuk koreksi sehingga kami pun semakin yakin dengan apa yang coba diwujudkan.

Pertunjukan ini lahir dalam dua kali pertunjukan. Dalam susana pernikahan di kampung (Sanggar Seni Makan Ati), Pocèt untuk pertama kali bertemu dengan penontonnya, dengan lingkungan di mana dia dierami. Dan pada pertunjukan kedua dia lahir kembali sebagai Pocèt yang lain dalam suasana ludruk di aula pertunjukan Vihara Avalokitesvhara, bertemu dengan umat lain dari agama yang berbeda.

Saya merasa Pocèt–sebagai pertunjukan—masih harus diolah karena dia tidak akan berhenti tumbuh dalam ruang kreatif kami sebagai sebuah hasil kerja kolektif. Dia masih meminta pertanggungjawaban untuk terus kami asuh. Entah dia akan lahir dalam ruang karya yang seperti apa lagi, saya ragu menjawabnya. Yang jelas beberapa diantara kami berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi dalam workshop yang berbeda mulai berencana mewujudkannya dalam pertunjukan musik. Apakah itu Pocèt yang lain, saya belum tahu. Namun dari peristiwa ini sepertinya akan mulai lahir pertunjukan-pertunjukan lain—semoga saya tidak salah mengira-ngira. Yang apapun bentuknya nanti saya tidak sabar untuk mengunjunginya.

 

Fikril Akbar adalah anggota Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan dan sutradara pertunjukan Pocèt (#SeriPentasAntarRagam).

Pengalaman Pertemuan Masyarakat Lumpur dengan Teater Garasi

Oleh: R. Nike Dianita Febriyanti

Pada awal Februari 2017 Komunitas Masyarakat Lumpur kedatangan dua orang pegiat teater. Erythrina Baskoro dan Shohifur Ridho’i bertandang ke sanggar kami atas nama Teater Garasi. Jujur saja sebelumnya saya tidak tahu Teater Garasi, tapi setelah kehadiran keduanya saya jadi penasaran, secara tidak langsung jadi sering cari tahu kegiatan-kegiatan Teater Garasi. Pada awal pertemuan saya pribadi tidak berpikir apa-apa, saya hanya berfikir bahwa setiap kali berjumpa dengan orang baru maka bertambahlah relasi pertemanan saya, itu saja.

Perjumpaan kami dengan Teater Garasi di bulan Februari bukanlah sebuah perjumpaan yang sekadar kunjungan. Mengapa demikian? Karena di bulan April Teater Garasi yang kali ini diwakili Gunawan Maryanto kembali singgah di Sanggar kami membincangkan banyak hal, pengetahuan mengenai dunia kesenian, baik tentang teater maupun di luar teater.

Komunitas Masyarakat Lumpur benar-benar merasakan relasi yang cukup berpengaruh ketika Erythrina Baskoro datang menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2 yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur di Gedung Pratanu, Pendopo II Bangkalan.

Tidak berhenti di sini, di bulan berikutnya kami menerima undangan Workshop Penciptaan yang bertajuk Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia. Workshop ini berlangsung selama lima hari pada tanggal 13-17 Mei 2017, diselenggarakan oleh Teater Garasi bekerjasama dengan komunitas-komunitas teater dan sastra di Kabupaten Sampang, tempat diselenggarakannya workshop tersebut. Jumlah peserta kala itu kurang lebih 20 orang, perwakilan dari empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Workshop Penciptaan ini cukup memberi referensi yang berharga dan berpengaruh bagi keberlangsungan teater di Madura. Metode penciptaan yang ditawarkan oleh Teater Garasi membuka rongga pengetahuan dari perspektif lain bahwa sebuah karya sebaiknya diciptakan dengan tahapan dan target yang jelas.

Pasca Workshop Penciptaan di Sampang, saya berpikir bahwa waktu pertemuan dengan teman-teman dari Teater Garasi akan terbatas. Kala itu saya yang masih lugu tidak dapat membaca rencana apa yang sedang Teater Garasi ingin bangun di Madura, yang terbesit dalam pikir saya mengapa Garasi begitu baik membagi banyak pengetahuan dan perjalanan kelompoknya dalam bekesenian dengan begitu ramah dan terbuka. Di luar presepsi itu, saya ingat betul saat bulan Ramadhan tanggal 5 di bulan Juni 2017, saya mendapati handphone saya berbunyi tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Sebuah pesan dari Mbak Ery, begini kalimatnya “Selamat pagi Nike, apa kabar? Ini Ery-Teater Garasi, Gimana sudah ngobrol sama Mas Helmy?” Membaca pesan itu saya sedikit terkejut, bingung, dan bertanya-tanya. Tidak lama setelah itu Mbak Ery menelepon saya. Sebuah tawaran untuk saya mengikuti kegiatan residensi di Teater Garasi bersama satu teman dari Sampang dan dua orang dari Flores. Saya gemetar, bahagia, susah, bimbang menghantui kala itu. Ingin sekali rasanya langsung menerima kesempatan langka itu, akan tetapi tawaran durasi kegiatan yang selama enam minggulah yang menjadi pertimbangan saya. Sangat berat sekali sebab harus meninggalkan pekerjaan dan terutama izin kepada orang tua yang masih membuat diri saya sendiri merasa ragu.

Berjalannya waktu, semua yang terasa ragu akhirnya dapat terlewati. Izin orang tua sudah dikantongi, untuk urusan pekerjaan juga sudah mendapatkan izin. Sampailah pada tanggal 10 Juni 2017 saya berangkat dengan teman dari Sampang, Syamsul Arifin namanya.

Selama enam minggu di Jogja dalam rangka residensi, begitu banyak hal berharga yang  saya dapatkan. Mulai dari bertambahnya teman, mengenali banyak tempat di Jogja yang berkaitan dengan seni maupun tidak, menonton dan menghadiri acara-acara kesenian yang sedang berlangsung di Jogja. Sungguh, semuanya adalah hal yang sangat berharga bagi pengalaman hidup saya dan satu hal lagi yang membuat saya tak berhenti merasa beruntung berada di Jogja, tak hanya mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, saya juga belajar banyak hal mengenai Jogja dan Teater Garasi. Tentang seniman, manajemen, dan juga karya-karya Teater Garasi yang sangat menginspirasi dalam berkesenian di tempat saya tinggal, Bangkalan.

Setelah seluruh kegiatan Residensi selesai keesokan harinya saya diajak untuk membahas banyak hal. Dari beberapa hal yang paling ditekankan adalah tentang apa yang akan saya lakukan setelah kembali ke komunitas atau ke kampung halaman. Tentu saya akan membuat sebuah karya pertunjukan, karena memang itu yang terbersit di benak  kala itu. Saya juga diminta untuk menyampaikan beberapa ide awal yang sedang ingin saya rancang, atau apa yang mungkin saya gelisahkan saat ini. Saya menyampaikan dua poin yang mengganggu pikiran saya yaitu tentang perempuan (istri) pelayaran dan pertunjukan Soto Madura. Kedua kegelisahan ini yang saya sampaikan di hadapan rekan-rekan Teater Garasi, saya sedang gelisah dengan pertunjukan Soto Madura yang sebelumnya pernah saya teliti sebagai objek skripsi, menurut saya penelitian itu masih belum tuntas dan ingin rasanya saya juga mencoba untuk lebih mendalami lagi seperti apa pertunjukan Soto Madura itu, dengan terjun langsung ke dalam pertunjukannya.

Setibanya di Bangkalan, saya seperti baru pulang umroh. Teman-teman meminta saya menceritakan apa saja kisah-kisah dan pengalaman yang didapat selama di Jogja, bagaimana kehidupan di sana, betah atau tidak hidup di Jogja dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari setiap teman dan keluarga yang saya temui, situasi ini berlangsung selama satu minggu. Saya tidak pernah lelah bercerita pengalaman kepada teman-teman terutama kepada teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur. Bagaimana kesenian di Jogja begitu ramai dan hidup, sekecil apa pun sebuah karya di Jogja selalu dihargai. Diskusi-diskusi yang berlangsung di Jogja sungguh sangat ramah. Demikian saya bercerita dengan girang, sampai-sampai rasanya ingin kembali ke Jogja lagi.

Pada tanggal 4 September 2017 menjadi awal langkah saya memulai proses, saya mengajak beberapa calon aktor yang berdomisili Bangkalan untuk bertemu dan menawarkan konsep pertunjukan yang akan dilalui dalam proses secara bersama. Tanggal 6 September 2017 saya kembali menjumpai aktor yang kebetulan sedang tinggal di Surabaya. Tidak mudah mengambil keputusan ini, mengajak proses aktor-aktor yang memiliki jarak cukup jauh dengan tempat proses, akan tetapi segala risiko sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Berbekal dari pengalaman yang didapat selama workshop di Sampang dan Residensi di Jogja saya memakai pendekatan yang biasanya digunakan Teater Garasi dalam proses penciptaan karyanya dengan tahapan menemukan pertanyaan, riset/observasi, improvisasi, komposisi, kodifikasi, presentasi. Kami mulai mengaplikasikan tahapan yang digunakan oleh Teater Garasi dalam penciptaan karya kami di Bangkalan. Selama satu bulan kami melakukan tahapan latihan pra conditioning sambil lalu memasuki tahapan pertama yaitu membincangkan pertanyaan. Setelah satu bulan berlalu kami mulai melakukan riset (turun ke lapangan) bertemu dan berkomunikasi langsung dengan perempuan (istri) seorang pelayaran. Dari hasil riset, selanjutnya kami mendiskusikan bersama hasil temuan, mengembangkan pertanyaan dan membincangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dari hasil observasi yang pertama, kami mencoba melakukan improvisasi. Saat sampai pada tahapan ini, tim kekaryaan kami mendapat tawaran untuk pentas di Gresik Art Festival. Tawaran ini kami diskusikan dan hasilnya telah kami sepakati untuk mengambil kesempatan ini sebagai langkah work in progress. Oleh karena itu, kami mencoba mengolah data hasil observasi dan mempercepat tahapan latihan sebagai kebutuhan pertunjukan di Gresik Art Festival. Kami berhasil mengemas pertunjukan kecil yang diberi judul “Suara Perempuan” dalam durasi kurang lebih 25 menit.

Setelah pertunjukan “Suara Perempuan” dipentaskan, banyak evaluasi dan masukan yang membangun sebagai landasan untuk melanjutkan proses karya ini. Saya dengan tim kembali ke tahapan proses yang sudah tersusun sebelumnya. Kami melakukan tahap improvisasi dengan tambahan data. Selanjutnya kami melakukan kodifikasi sampai pada tahap komposisi. Menjalankan latihan sampai pada tahap ini benar-benar tidak mudah, mengingat domisili aktor yang tidak hanya berasal dari Bangkalan, melainkan juga di Surabaya. Terkadang, saya sebagai sutradara harus menjalankan latihan secara terpisah. Beberapa hari di Surabaya, beberapa hari lagi di Bangkalan. Proses ini melelahkan tapi juga menyenangkan. Saya pribadi menjadi lebih tertantang dengan adanya situasi ini, belajar manajemen waktu agar dapat efisien menjalankan target. Jatuh bangun sering terjadi, di tengah proses pernah rasanya ingin menyerah karena secara kerja kolektif kami sebagai komunitas saya merasa masih sangatlah kurang. Dari situ pula kemudian saya mempelajari bahwa kesenian merupakan kerja kolektif itu benar harus disadari dan penerapannya dalam bentuk kesadaran individu. Komunitas Masyarakat Lumpur harus lebih banyak belajar hal yang seharusnya mendasar ini.

Detik-detik menjelang pertunjukan, segala persiapan menjadi semakin gencar dilakukan. Persiapan panggung, properti, musik, kostum, publikasi, dan lain-lain. Tidak lupa kami mendiskusikan kembali terkait dengan judul pertunjukan yang akhirnya kami sepakati untuk merubah judul menjadi Perempuan dan Kapal yang Hilang. Seluruh tim bertanggungjawab pada tugasnya masing-masing sampai pada hari pertunjukan berlangsung. Proses panjang ini tentu saja tidak lepas dari bimbingan Teater Garasi, dengan ketersediaannya selalu memantau progres apa saja yang telah kami capai. Dengan setia mendampingi saya dan teman-teman untuk melalui kesulitan-kesulitan dalam langkah kami mewujudkan pertunjukan ini.

Dan tibalah hari pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, sepenuhnya saya percaya kepada seluruh tim bahwa mereka akan menjalankan tugasnya masing-masing. Meskipun masih terdapat kendala di sana sini terutama pada teknis saat pertunjukan berlangsung, semua itu terasa ringan dengan kehadiran penonton yang mencapai kurang lebih 500 orang. Sungguh, pertunjukan ini sepenuhnya telah kami persembahkan untuk seluruh penonton khususnya warga Bangkalan. Di antara sekian banyak penonton mereka hadir dengan tujuan masing-masing. Seluruh elemen berkumpul dan dengan seksama telah turut menjadi bagian dari pertunjukan Perempuan dan Kapal Yang Hilang ini. Sebagai sutradara saya tidak menyangka bahwa penonton akan memenuhi Pendopo Pratanu. Teater umum di Bangkalan memang sepi, Teater di Bangkalan tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah. Oleh karena itu beberapa penonton menyampaikan rasa haus dalam menonton pertunjukan teater semacam ini. Mereka berharap kepada Komunitas Masyarakat Lumpur untuk konsisten menggelar pertunjukan teater yang dapat di konsumsi oleh masyarakat umum.

Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya justru merasa takut kehilangan kesempatan untuk bisa melakukan proses besar seperti ini lagi. Proses kekaryaan ini sungguh sangat berharga, karena dengan proses ini saya pribadi banyak belajar tentang hal-hal yang baru. Misalnya, bagaimana mengatur waktu latihan dengan kepentingan masing-masing individu yang beragam. Bagaimana menggagas sebuah karya secara kolektif, Bagaimana karya ini dapat berkomunikasi dengan baik kepada penonton. Sungguh tidak mudah, tapi apa pun hasilnya yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kami telah berhasil melalui proses sampai pada tahap pertunjukan, bukan perkara sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan. Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya tetap berharap akan terus memiliki kesempatan berproses yang lebih baik lagi.

Pertemuan Komunitas Masyarakat Lumpur dan Teater Garasi juga memberi banyak pelajaran berharga kepada kami sebagai komunitas terutama dalam pengelolaan kelompok. Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang telah memberi motivasi kepada anggota komunitas lainnya, untuk kembali melanjutkan produksi teater di tahun 2018.

 

R. Nike Dianita Febriyanti adalah anggota Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan sutradara Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, satu karya yang menjadi bagian dari #SeriPentasAntarRagam (2017).

Saya, KAHE, dan Pertemuan dengan Garasi

oleh Eka Putra Nggalu

Pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute bagi saya adalah sebuah kebetulan yang bukan kebetulan. Saya dan teman-teman KAHE membajak perjalanan mereka di bandar udara Waioti, menemani mereka jalan-jalan ke beberapa tempat yang ingin mereka kunjungi selama di Maumere, makan malam bersama, minum moke, dan bercerita. Dari cerita-cerita serta sharing yang kami lakukan, saya merasakan adanya keterbukaan dan komunikasi yang baik, terlepas dari adanya perbedaan kebudayaan, profesi, usia, dan mungkin pengetahuan. Sebagai sebuah komunitas yang baru tumbuh, kesempatan bertemu dengan komunitas dan institusi teater yang sudah sangat lama berkarya dan bisa mengelola dirinya sendiri seperti menjawab kebutuhan kami. Pertemuan kami dengan Teater Garasi seperti sebuah jawaban akan lelah kami. Awalnya, kami selalu merasa asing di tengah masyarakat yang tidak terlalu peduli dengan kerja kesenian yang serius, dengan sastra, dengan teater, dengan dikusi-diskusi kesenian, filsafat, dan kebudayaan yang kami buat. Setelah kami mulai mendapat apresiasi, kami lalu merasa tidak dilihat atau diperhatikan oleh para pemangku kebijakan di sekitar kami. Kerja kesenian kami hampir tidak pernah didukung secara finansial oleh Pemerintah Daerah, kendati kami memiliki hubungan yang cukup baik dengan beberapa pejabat yang bersedia menyumbang secara personal. Meski demikian, dalam segala keterbatasan, kami percaya, karya-karya kami yang kami publikasikan, yang kami pentaskan, dan disaksikan banyak orang akan berbicara dengan sendirinya. Meskipun pertemuan kami tidak diawali dengan karya tetapi sebuah pembajakan, saya merasa pertemuan dengan Teater Garasi, dengan sejarah mereka, dengan pengalaman jatuh bangun mereka sebelum menjadi sebuah institusi mandiri adalah sebuah awal yang baik, sebuah momen yang akan mengubah banyak hal. Saya belum sepenuhnya bisa mendefinisikan itu, tetapi saya percaya, perubahan akan terjadi.

Pertemuan kami dengan Teater Garasi berlanjut melalui komunikasi di sosial media dan kemudian workshop penciptaan bersama. Pada Juli-Agustus 2017, saya diundang mengalami residensi di Yogyakarta selama dua bulan. Waktu dua bulan ini memberi ilham dan inspirasi yang sangat bernilai bagi saya seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, ‘Jalan-Jalan ke Jogja’. Selain residensi itu, komunikasi dan pendampingan selama produksi event M 7.8 SR adalah sebuah pengalaman baru bagi saya dan KAHE, bekerja dengan sebuah institusi professional. Dari pengalaman itu ada beberapa hal bernilai yang saya temukan. Saya memperoleh pengetahuan dan perspektif baru mengenai kerja-kerja kesenian dan kebudayaan, baik itu secara praktis-metodologis, prinsip, maupun cara mengelola organisasi, infrastruktur serta modal-modal yang ada.

Dalam berbagai workshop saya memperoleh pengetahuan baru tentang penciptaan kesenian. Metode penciptaan kesenian Teater Garasi yang dikenal sebagai metode penciptaan bersama memberikan banyak sekali perspektif baru. Saya belajar mendekati masyarakat sebagai subjek, titik tolak, sekaligus arah dari proses berkesenian. Saya belajar untuk berani mengambil posisi, berani menyampaikan pernyataan terkait dengan isu-isu dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat yang saya dekati melalui media kesenian. Saya belajar menciptakan sebuah karya berdasarkan riset, data-data yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan dalam statement yang ingin disampaikan. Yang terakhir, yang paling penting adalah saya belajar bekerja dalam tim, sebagai sebuah komunitas.

Dalam kaitannya dengan M 7.8 SR saya mendapati banyak sekali hal dan perubahan yang kami alami dalam berkarya. Misalnya, dalam evaluasi internal, kami semua sepakat bahwa galeri M 7.8 SR yang kami ciptakan sebenarnya adalah sesuatu yang sangat bernilai edukatif. Kami tidak hanya memajang lukisan atau foto-foto yang indah-indah saja tetapi di dalamnya hadir pengetahuan, sejarah, peristiwa, dan filosofi Maumere, kota Maumere, masyarakat Maumere. Arsip-arsip berita, foto-foto reproduksi adalah hal-hal yang sangat sulit dicari dan dikumpulkan, tetapi semuanya tersedia dalam galeri KAHE. Kami juga mendasari proses penciptaan kami dengan riset. Kami pun akhirnya menemukan bahwa riset yang tidak kuat akan menghasilkan sebuah karya yang tidak kuat juga. Beberapa karya kesenian yang tidak selesai pada tenggat waktu yang ditentukan sebenarnya juga dipengaruhi oleh riset yang tidak serius dan memadai. Beberapa catatan bisa kami berikan berkaiatan dengan metode penciptaan ini. Secara umum kami menikmati dan merasa sangat membantu dalam cara kami mendekati sebuah isu sebagai materi berkesenian. Karya kami pun menjadi sangat bernilai dan kuat sebagai sebuah statement. Di lain sisi, kami merasa bahwa metode ini mensyaratkan sebuah komunikasi yang baik, komitmen yang baik antara semua yang terlibat, dan standar pengetahuan tertentu atau kesamaan persepsi dalam memandang sebuah masalah yang sedang dikritisi.

Selain pengetahuan tentang pendekatan penciptaan kesenian, saya dan teman-teman juga mendapat banyak pelajaran berharga berkaitan dengan manajemen event dan tentu manajemen komunitas. Kami belajar bagaimana membuat rancangan dan timeline kerja. Kami belajar membuat distribusi kerja. Dalam evaluasi internal, kami mendapati bahwa poin ini yang menjadi perhatian serius bagi kami dalam event M 7.8 SR. Harus diakui secara jujur bahwa ritme kerja kami dalam event M 7.8 SR sangat lambat dan tidak sesuai dengan tenggat waktu yang ada. Banyak hal teknis yang tidak sesuai konsep dan selesai dikerjakan sesuai dengan jadwal yang seharusnya. Dalam evaluasi kami, lebih dari sebuah pola kerja, hal ini juga dipengaruhi oleh konsistensi dan tanggungjawab masing-masing anggota dalam menyelesaikan tugasnya. Saya secara pribadi sebagai ketua, merasa dan juga akhirnya dikritik, bahwa sepulang dari residensi di Jogja, saya semacam memberi tuntutan yang tinggi pada teman-teman dalam hal membuat sebuah kegiatan atau karya atas nama komunitas. Tuntutan itu berhubungan dengan desain dan konsep kegiatan atau karya yang harus selalu dicek bersama-sama baik secara ide maupun bentuk, limitasi waktu, dan logistik yang mendukungnya. Sementara ada tuntutan seperti ini di satu sisi, di sisi lain, kenyataan yang ada tidak langsung menunjang pelaksanaanya. Tidak semua yang terlibat dalam produksi M 7.8 SR memiliki waktu luang dan kesempatan untuk memberikan konsentrasi penuh dalam penyelenggaraan event ini. Di satu sisi ada kebutuhan yang besar di komunitas, di sisi lain banyak teman yang tidak dapat meninggalkan tugas dan mata pencahariannya yang pokok. Dengan kata lain kerja komunitas akhirnya bukan menjadi sebuah prioritas, sebab ada kebutuhan yang lebih penting yang harus dipenuhi. Tegangan ini kemudian juga disadari berhubungan dan saling kait-mengait antara komitmen personal tiap anggota, bagaimana para anggota mendisposisikan diri dalam komunitas, visi, dan dengan kebutuhan-kebutuhan akan institusionalisasi, penguatan kapasitas para anggota KAHE, dan juga profesionalitas dalam bekerja. Keadaan ini di satu sisi membuat instabilitas dalam tubuh komunitas, khusus dalam penyelenggaran M 7.8 SR. Di lain sisi, ini menjadi sebuah momen refleksi masing-masing anggota dalam kaitan dengan kesadarannya mendisposisikan diri dalam komunitas. Ini juga tidak lantas merusak hubungan personal dalam relasi di komunitas, tetapi yang lebih penting, ini adalah sebuah kebutuhan yang harus dicari solusinya secara bersama-sama. Dalam kaitan dengan ini, muncul isu dan kebutuhan sustainable dalam tubuh komunitas, dan kebutuhan akan cara komunitas dapat mengelola dirinya sendiri, termasuk memberi sedikit reward bagi anggota-anggotanya yang terlibat dalam kerja komunitas.

Saya secara pribadi melihat situasi ini sebagai sebuah dialektika yang harus dilewati KAHE dalam usianya yang sudah menginjak tahun kedua. Saya melihat semua ini sebagai problem sekaligus progress. Sebagai problem, ini membuat ketidakstabilan dalam komunitas. Ego-ego personal, tentang siapa yang tidak bekerja dan siapa yang bekerja misalnya, akhirnya muncul ke permukaan. Problem ini tentu membuat ketidaknyamanan dan harus diselesaikan. Sebagai progress, komunitas akhirnya mendapat tantangan untuk terus-menerus mendefinisikan dirinya. Saya masih melihat kerja-kerja KAHE sampai pada tahun keduanya ini perlu diarahkan pada penguatan komunitas. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam manajemen event ini memberikan perspektif dan kesadaran baru tentang perubahan dan kebutuhan-kebutuhan baru dalam komunitas. Dalam diskusi internal di komunitas, masalah-masalah seperti komitmen kerja, disiplin, tanggungjawab itu tidak hanya kami proyeksikan pada ‘event berikut’ tetapi lebih jauh pada ‘siapa saya, untuk apa saya, mengapa saya, dan bagaimana seharusnya saya ada di KAHE?’ Lebih sederhana dari pertanyaan filosifis di atas, saya mendapati adanya kebutuhan akan penguatan infrastruktur komunitas (dalam hal ini orang-orang), dalam keterampilan teknis (lampu, artistik) manajemen event, dan tentu saja usaha-usaha mandiri untuk menghidupi komunitas, yang sebenarnya sudah kami jalankan lewat jurnal, pendampingan ekstrakurikuler dan hal-hal lain yang regular tetapi belum ditata secara baik.

Hal lain yang bernilai yang saya temukan dalam perjumpaan dengan Teater Garasi adalah cara mereka mengenali lingkungannya, menempatkan diri, dan membangun relasi dengan orang lain. Saya melihat bahwa berkomunikasi dan belajar bersama dengan Teater Garasi bukanlah sesuatu yang sulit seperti saya bayangkan sebelumnya. Harus saya akui, saya menahan nafas beberapa saat, ketika pertama kali berjumpa dengan Mas Yudi Ahmad Tajudin di bandara, seseorang yang saya kenal sebelumnya hanya lewat literatur. Lebih penting dari keadaan ‘baper’ di atas, saya belajar bagaimana membangun komunikasi yang terbuka, yang saling menguntungkan, dan tidak terjebak ada hubungan yang melulu formal tetapi juga membangun hubungan persaudaraan. Berkaiatan dengan ini, kredibilitas dan rasa saling percaya menurut saya adalah hal yang paling penting. Saya dan komunitas belajar banyak soal ketepatan waktu, soal kejujuran, soal tanggungjawab. Melalui Teater Garasi, saya dan kami terutama belajar menjalin sebuah relasi profesional, dengan cara yang tak terduga. Kami yang selama ini hidup dalam zona nyaman kami, dalam keadaan, ritme, yang boleh dibilang seenaknya dan semaunya dalam menyelesaikan hal-hal, belajar untuk konsisten, belajar untuk disiplin dan tepat waktu, belajar untuk bertanggungjawab melalui cara yang tidak terduga. Saya membayangkan Mbak Lusia Neti Cahyani ketika menulis ini, sambil mengingat pesan Pater Leo ketika menyampaikan apresiasi dan masukannya untuk Komunitas KAHE, ‘kerja kebudayaan itu tidak main-main, harus mulai serius.’ Saya harus meminta maaf untuk segala ketidakdisiplinan yang terjadi.

Tentang perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan masyarakat yang lebih luas, saya sendiri tidak menyangka bahwa pengunjung yang hadir pada penyelenggaraan M 7.8 SR mencapai 410 orang dan paling banyak berasal dari institusi pendidikan. Meski agak tidak puas karena event ini sama sekali tidak diminati oleh para pejabat pemerintahan dan tidak mampu menjangkau khalayak yang lebih ramai, dalam arti dengan lebih banyak ragam latar belakang profesi dan pekerjaan, saya merasa event ini memberi dampak dan referensi berharga bagi mahasiswa, pelajar, dan guru-guru serta dosen. Pada dua tahun awal karya KAHE, kami merasa sangat sulit masuk dan menembus tembok-tembok kampus di sekitar Maumere, kecuali Ledalero, yang adalah sekolah filsafat dan mayoritas calon imam (harus dicatat bahwa penggerak KAHE awalnya adalah calon imam yang gagal). Event M 7.8 SR, sebenarnya menjadi sebuah momen ketika kami bisa berjumpa dengan teman-teman mahasiswa dari IKIP Muhammadiyah, yang kemudian menjadi pengunjung terbanyak dan konstan setiap harinya. Perjumpaan KAHE dengan IKIP Muhammadiyah tentu berlanjut dalam komunikasi-komunikasi tentang kerjasama selanjutnya. Kami merasa berhasil ketika teman-teman IKIP Muhammadiyah, dengan jumlah yang bervariasi setiap harinya selalu datang mengunjungi pameran dan mengikuti berbagai kegiatan dan mengaku terinspirasi dangan aktivitas KAHE. Kami juga melihat antusiasme dari sekolah-sekolah menengah atas, misalnya SMAS John Paul II, yang terlibat dalam pembacaan cerpen. Harus diakui, dalam sejarah kota Maumere, ini adalah event pembacaan cerpen pertama. Dari semuanya ini, dampak langsung event M 7.8 SR adalah mampu menjadi referensi yang baik, secara bentuk, tema, mapun proses garapan bagi para pengunjung yang umumnya adalah pelajar dan mahasiswa.

Mengenai dampak atau resepsi tentang isu dan tema yang kami angkat, tidak relevan jika saya jelaskan tanpa studi resepsi yang memadai. Namun dari beberapa wawancara misalnya dengan Ibu Marlin Lering, dia melihat bahwa tema ini sangat menarik dan merangsang generasi sekarang untuk mencari tahu secara lebih baik tentang tsunami dan gempa yang terjadi dua puluh lima tahun silam. Atau seperti yang dikisahkan Babe Lucky (pimpinan radio Sonia FM), galeri M 7.8 SR sebenarnya penuh dengan muatan edukasi. Kami juga senang bisa menyediakan media bagi Bapak Rony Mbulo untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Wuring, meskipun pihak-pihak yang seharusnya mendengar tidak hadir memenuhi undangan kami, tetapi setidaknya sharing beliau bisa didengar oleh masyarakat Maumere melalui radio Sonia FM. Kami juga merasa bahwa diskusi coral yang dihadiri beberapa pegiat pariwisata memenuhi ekspetasi kami.

Meski tidak secara langsung dapat diamati atau dibuktikan, menurut saya kehadiran para pelajar dan mahasiswa dalam event ini setidaknya akan menjadi medium resonansi yang membawa gema tentang tema dan isu yang ingin kami soroti. Seperti pada awalnya kami membutuhkan dan menempatkan para pengunjung sebagai partner sharing dan diskusi, pemberi usul dan saran untuk kemajuan karya kesenian kami, dan lebih dari pada semuanya itu, agar pesan-pesan yang kami sampaikan dalam karya-karya kesenian ini dapat menjumpai banyak orang dan diteruskan ke semakin banyak orang pula. Setidaknya apa yang mereka baca, lihat, sampaikan, dan dengar dalam item-item acara yang mereka hadiri dan jumpai sedikitnya membekas dalam benak mereka. Kita berharap itu semua menjadi informasi yang dapat mereka kembangkan untuk kebutuhan mereka sendiri. Lebih dari pada itu, kiranya peristiwa bencana tsunami terus tinggal dalam memori kolektif orang Maumere.

Pertemuan dengan Teater Garasi untuk saya tidak memberikan solusi untuk kebutuhan-kebutuhan saya, secara pribadi dan komunitas. Pertemuan dengan Teater Garasi, dalam bahasa Injil, mendatangkan api dan pedang. Pertemuan dengan mereka justru memberikan provokasi lebih, memicu kegelisahan lebih, bagi saya dalam memandang hal-hal di kehidupan saya sehari-hari. Saya sebagai seniman, ketua komintas KAHE, merasa butuh berjuang lebih giat dalam mewujudkan hal-hal. Kami dari hari ke hari berefleksi dan menemukan berbagai modal sekaligus kelemahan-kelemahan kami secara personal, maupun secara komunitas. Untuk saya, hal yang akan selalu digulirkan dan menjadi kebutuhan terus menerus secara pribadi adalah pertama-tama soal kebutuhan akan penguatan kapasitas dan profesionalitas. Secara pribadi saya terprovokasi untuk menata prasyarat-prasyarat dalam kerja kesenian, seperti disiplin, manajemen waktu yang baik, dan kesungguhan dalam berkarya. Ini tentu juga dibutuhkan dalam komunitas secara lebih luas. Berkaitan dengan persoalan metode, saya kira metode penciptaan Teater Garasi menjadi pedoman yang bisa dipakai sebagai sebuah perspektif untuk mendekati realitas dan membahasakannya melalu kesenian. Target jangka panjang kami masih sama, yaitu mencari cara untuk menjawab isu sustainable dalam komunitas.

Yang lebih praktis dan mendesak bagi saya dan KAHE adalah kebutuhan untuk menyelesaikan karya-karya yang masih dalam status ‘work-in-progress’. Antologi buku dan pertunjukan musik, yang belum selesai adalah ‘pe-er’ yang harus segera diselesaikan. Maumerelogia III sebagai event yang akan mengakomodasi perwujudan karya-karya ‘work-in-progress’ menjadi target jangka pendek kami. Kami ingin mewujudkan penciptaan karya-karya yang tertunda dan belum selesai dengan lebih baik, dengan desain yang lebih tertata, dan menjangkau lebih banyak orang. Kami tentu berharap, Teater Garasi masih memiliki daya dan berkenan untuk mendampingi kami dalam proyek kesenian selanjutnya. Isu yang kami angkat masih sama. Tentang Tsunami. Tentang gelombang dan getaran M 7.8 SR yang belum selesai.

 

Eka Putra Nggalu

Komunitas KAHE Maumere

 

Catatan:

M 7.8 SR adalah presentasi kasenian Komunitas KAHE yang mencoba merefleksikan peristiwa tsunami di Flores tahun 1992, yang pada tahun ini (2017) berusia 25 tahun.

Bertempat Tinggal dan Membangun Kediaman (Catatan Jalan-Jalan ke Flores)

Oleh Taufik Darwis

Tiga tahun terakhir selepas memutuskan untuk lebih banyak berfikir, berbuat sesuatu, tinggal lebih lama di Bandung sebagai tempat kediaman sekaligus tempat menghadapi persoalan sehari-hari, saya seperti perlu lebih banyak lagi jalan-jalan. Dalam artian, melihat dan belajar pada wahana realitas lain yang sama mencoba merumuskan usaha serupa atau minimal semangatnya. Bandung, telah lama saya simpulkan dengan perasaan sedikit marah sekaligus tergoda, adalah tidak lain dari sebuah kota dengan kultur ekonomi yang berada di atas kehendak lainnya. Bandung mempunyai arena simbolik yang meminggirkan upaya-upaya seni pertunjukan dengan etos ekonomi absurdnya (3-6 bulan latihan, tak bisa berjualan tiket pertunjukan) untuk berbuat sesuatu dalam pergaulan dan pembangunan kota yang bergerak melalui mistifikasi kreatif dan indeks kebahagian.

Selama tiga tahun terakhir itu saya merasa keriput, merasa sok heroik, sendirian di tengah pertukaran simbolik untuk sekedar mencari teman yang meskipun tidak punya misi-visi yang sama tapi punya kegelisahan yang sama: sudah tidak kerasan dengan kediaman kita sendiri. Bagaimana bertempat tinggal dan membangun kediaman ketika kita selalu sulit untuk membaca dan merumuskan “yang sosial” bagi kita sendiri, ketika kita tidak sulit untuk mengidentifikasi kelemahan dan potensi yang membentang dari kebergantungan, kesejarahan, dan batas-batas kita sendiri? Apakah ini kegelisahan yang dibuat-buat? Sepertinya saya harus membiarkannya keluar dari keran kalau memang airnya sudah siap untuk mengalir sambil jalan-jalan sana-sini dengan kesempatan yang dipunya.

Ini adalah kesempatan melakukan perjalanan paling jauh saya ke luar Bandung. Teater Garasi mengajak saya jalan-jalan sekalian melihat presentasi program AntarRagam di Adonara dan Maumere, Flores selama enam hari. Saya berangkat tangal 3 Desember dari Jakarta bersama Yudi Ahmad Tajudin. Untuk sampai tiba di Flores Timur, kami harus transit dua kali di Surabaya dan Kupang. Dalam  perjalanan, sesekali Yudi bercerita tentang program yang saya akan lihat ini. AntarRagam merupakan program yang sudah dikerjakan selama hampir setahun (2017), dengan Penciptan Bersama (Collective Creation) sebagai basis kerjanya. Penciptaan Bersama adalah pendekatan yang kerap dipakai Teater Garasi yang mempunyai karakter multidisiplin. Teater Garasi memposisikan Penciptaan Bersama dalam AntarRagam sebagai metodologi, bukan metode. Dalam artian, Penciptaan Bersama menjadi semacam prinsip dalam mengidentifikasi modal sampai persoalan pada setiap produksi yang akan diciptakan dan diposisikan oleh setiap orang atau komunitas.

Ketika ditanya kenapa memilih keluar Pulau Jawa, Yudi menjelaskan, bahwa, kita perlu mencoba melihat kenyatan dari perspektif yang berbeda, kenyataan Indonesia yang dilihat dari luar Jawa. Indonesia bukan dan tidak melulu Jawa. Program AntarRagam ini dikerjakan dalam tiga tahap, yaitu workshop penciptaan bersama di Flores dan Madura; residensi di studio Teater Garasi selama enam minggu; presentasi dan pendampingan penciptaan di tempat atau arena produksi masing-masing. Jadi, saya datang ketika program AntarRagam menuju tahap akhirnya, yaitu presentasi dan pendampingan dari Tim Teater Garasi yang sudah berada di Flores sebelumnya.

Saya tiba di Larantuka, Flores Timur ketika pagi. Kami harus melewati selat selama satu jam lebih untuk sampai ke Adonara. Di sana malam hari akan dipentaskan untuk kedua kalinya pertunjukan Warisan karya Veronika Ratumakin dari Sanggar Sinariang. Veronika atau Mama Vero adalah salah satu seniman yang mengikuti rangkaian program AntarRagam. Tapi sebelum ke Adonara kami harus tetap di Larantuka, Yudi merencakan adanya pembicaraan dengan Bupati Antonius Gege Hajon yang juga melibatkan teman lama saya di Bandung yang kini telah menjadi sutradara teater sekaligus staff Pemerintah Flores Timur, Silvester Petara Hurit. Sore, kami memakai perahu berukuran sedang melintas ke Adonara, tepatnya ke Desa Waiburak, Adonara Timur, Flores Timur. Saya yang punya masalah dan trauma keseimbangan yang membuat saya tidak bisa menikmati perjalanan. Hanya ada atap pendek, bau solar dan bau box stereofoam ikan yang bergoyang-goyang di benak saya. Tapi akhirnya, kami sampai ketika hari hampir menjelang gelap malam.

Membuka dan membagi warisan dalam upaya memahami diri sendiri

Sanggar Sina Riang memakai strategi bercerita untuk mencoba membawa penonton mengidentifikasi kenyataan tanah Adonara hari ini. Mama Vero yang menjadi tokoh Ibu menceritakan pada anaknya secara diakronis bagaimana Tanah Adonara lahir dan bagaimana kenyataan-kenyataan kemudian lahir menjadi kenyataan hari ini, seperti halnya konflik yang terjadi karena klaim atas tanah, menjadi tema atau isu di pertunjukan Warisan. Pertunjukan Warisan yang saya tonton adalah pertunjukan kedua. Berbeda dengan pertunjukan pertama yang dipentaskan di hari kemarin di tempat dan acara yang berbeda, pertunjukan kedua ini dipentaskan di lapangan volley di antara masjid dan jalan raya, sebagai bagian dari peresmian sanggar-sanggar seni di Adonara. Sebagai peresmian yang mengundang pemerintah setempat (wakil bupati Flores Timur), jalannya acara menjadi terganggu dengan menunggu pemerintah mendengarkan terlalu banyak sambutan. Tapi saya harus mengerti akan situasi seperti ini.

Sebelum pertunjukan Warisan, ada 2 pertunjukan dari 2 sanggar lain yang malam itu juga dikukuhkan sebagai sanggar desa, yakni Sanggar Tari Hedung dan Sanggar Kemoti dengan judul pertunjukan Mimpi. Sanggar Kemoti dalam kesempatan itu membawakan sebuah pertunjukan teater yang juga mencoba membaca kualitas kehidupan di Adonara, tapi dengan strategi melihat Adonara di masa depan, yaitu cita-cita anak-anak. Pertunjukan ini selain mencoba mengidentifikasi juga sekaligus membayangkan bagaimana kualitas yang ideal dari keadilan, keamanan, kepemimpinan di Adonara lewat narasi dan tindakan anak-anak. Pertunjukan ini seperti bayangan saya ketika membayangkan bagaimana teater rakyat bermain di tengah rakyatnya, selain menngunakan garis-garis bloking yang sejajar, bertutur, juga seperti selalu ada aspek moralitas bagaimana menjadi masyarakat di tengah-tengah keinginan untuk mengkritik dan memain-mainkan.

Berbeda dengan pertunjukan Sanggar Kemoti, Warisan terlihat memiliki banyak bentuk-bentuk pengadeganan di dalam struktur pertunjukannya. Ini juga bisa terkait dengan konteks narasi yang menjadi alur pertunjukannya. Mama Vero menggunakan narasi diakronis yang cukup panjang untuk menunjukan satu-persatu dari dasar bagaimana bangunan konflik di Adonara kerap terjadi. Bahwa konflik atas nama tanah itu tidak terberi, tapi dikontruksi melalui sistem kekerabatan, wacana dan proses bawah sadar seperti pengalaman di masa kecil dan secara performatif (perang), hingga ke titik normalisasi. Tapi justru strategi ini dipakai Mama Vero untuk melacak secara geneologis dan mencoba memberi refleksi kepada penonton, yaitu bagaimana menghadapi alur konflik yang terjadi, sebab menurut ceritanya sebagian besar warga Adonara adalah warga pendatang.

Alur besar sejarah Adonara yang juga menjadi alur pertunjukan, yang pertama-tama diperistiwakan melalui pengadean seorang ibu yang bercerita pada anak yang digendong di pelukannya, terdistribusi melalui penggambaran adegan yang muncul dari luar panggung oleh banyak aktor. Setiap pola pergerakan dan bloking menyiratkan suatu masa dan kualitas peristiwa tertentu. Seperti kedatangan pertama para manusia pertama (leluhur), kedamaian, perang (Tari Hedung), datangnya agama Islam, datangnya para misionaris Portugis dan Belanda, hingga resolusi dari alur sejarah yang coba dimaknai ulang melalui sebuah formasi lingkaran dengan iringan nyanyian adat yang saya tidak tahu artinya. Pertunjukan ditutup dengan proses mengundang Tim Teater Garasi dan pejabat setempat maju kedepan berpegangan tangan, menari Tari Dolo-Dolo. Di depan dan akhirnya di tengah-tengah saya sedang terjadi upaya bagaimana sebuah pertunjukan mencoba menciptakan kembali komunalitas dan individualitas sebagai bagian dari proses memahami peran masing-masing dalam membangun kediaman di tempat tinggalnya.

Menggunakan titik krisis untuk merancang masa depan    

Komunitas Kahe memilih merancang suatu acara berdurasi seminggu sebagai proyek penciptaan bersama. Meskipun mereka mengadakan pameran yang sama sekali tidak berubah setiap harinya selain teknik pemasangan/display yang terus diperbaiki. Menurut Yudi, awalnya Komunitas Kahe merencanakan proyek penulisan bersama yang berangkat dari Tsunami Maumere 1992, tapi berkembang menjadi penciptaan acara/event. Komunitas Kahe menamai acaranya M 7,8 SR,  merujuk pada skala getaran yang menyebabkan Tsunami 1992 terjadi di Maumere. Tsunami ini disebutkan termasuk 10 Tsunami paling besar dan mematikan di dunia sehingga membentuk kebiasan orang tua untuk menceritakan peristiwa tsunami pada anaknya setiap tanggal 12 Desember. Tahun 2017 adalah tahun ke-25 tsunami ini berlalu.

Dede Aton (Komunitas Kahe) mengakui Tsunami 1992 tidak disadari atau bahkan tidak dialami oleh sebagian besar di generasinya. Kerena memang sebagian besar belum lahir ketika peristiwa tsunami terjadi, atau karena masih anak-anak (1-3 tahun). Tapi menurutnya justru karena alasan itu Komunitas Kahe perlu lebih mencari tahu dan mencoba memaknai cerita-cerita yang sering mereka dengar dari sisi apa saja. Acara M 7,8 SR adalah salah satu cara untuk mengupayakan proses pemakanaan tersebut, sebagai salah satu cara untuk hidup dan bertahan di Maumere, kota yang diapit dengan jarak dua laut yang sama-sama bisa ditempuh dengan waktu satu jam saja (utara dan selatan).

Saya tiba di Maumere dengan melintas lagi ke Larantuka bersama untuk menempuh perjalanan panjang yang berkelok-kelok. Kedatangan bertepatan dengan pembukaan acara yang digelar selama seminggu (5-11 Desember 2017). Semua acara ini dilaksanakan di Dapur Sunda Flores atau Radio Sonia FM. Tapi saya hanya bisa mengikuti tiga dari tujuh hari pelaksanaan. Tapi setidaknya dari tiga hari itu saya merasa dapat membaca inisiatif teman-teman Komunitas Kahe, atau dengan menggunakan istilah yang selalu dilontarkan Dede Aton, membaca apa yang ‘menggerakan’ mereka merancang acara ini. Meskipun urusan acara seperti kesiapan teknis, ritme kerja dalam ketegangan tidak terlalu diperhatikan lebih detail. Karena bagi saya, itu akan menjadi biasa dengan pertumbuhan tingkat kebutuhan Komunitas Kahe dalam mempertahankan visi yang diartikulasikan melalui kegiatan-kegiatannya.

Setiap rangkaian acara seperti diskusi, pameran (lukisan, instalasi, puisi, cerpen, dan  arsip), monolog dan film yang dirancang Komunitas Kahe seperti mengupayakan agar tema atau isu acara ini tersebar ke berbagai lini kepentingan, disiplin, dan peminatnya.  Rangkaian acara yang bertepatan dengan ulang tahun Radio Sonia FM ini dibuka dengan diskusi bertema Tsunami: Memori, Perubahan, dan Ancaman dan pembukaan pameran bersama. Judul tersebut sebenarnya sudah menjadi pintu awal bagaimana Komunitas Kahe mencoba merumuskan wacana yang akan dibawanya ke depan, kalau memang benar, bahwa acara ini dijadikan sebagai semacam riset juga untuk merancang apa yang akan dilakukan di tahun depan. Dari diskusi yang lumayan panjang ini karena selain mengundang Dede Aton dan Yudi Ahmad Tajudin berbicara, juga melibatkan dua penyaksi yang mempunyai pengalaman spesifik dalam menghadapi tsunami dan dampak yang ditimbulkannya. Yang satu adalah mantan pemerintah dan yang satu lagi adalah seorang romo/dosen. Wacana Tsunami di masa lalu begerak menjadi sebuah metafor bagaimana melihat kondisi Maumere saat ini, seperti pembangunan yang berbasis kepentingan ekonomi yang  mengubah hubungan sosial dan hubungan ekologis manusia dengan lingkungannya.

Wacana ini juga bergerak di tengah-tengah pameran Komunitas Kahe. Ketika pameran dibuka, dengan strategi display yang seperti diupayakan tetap informatif, saya bisa melihat bagaimana Komunitas Kahe mencoba tetap mempertahankan dalam menggunakan Tsunami 1992 sebagai wacana untuk mencari titik krisis yang terjadi saat ini dan apa yang akan dikerjakan di depan. Seperti arsip foto (repro) dampak tsunami dan berita di koran lokal, juga lukisan-lukisan yang merepresentasikan bagaimana keadaan Maumere hari ini yang dibawa oleh modernitas, globalisasi yang mereka tempatkan sebagai “gempa dan tsunami” zaman ini. Titik krisis ini tampaknya akan menjadi wacana kemudian dan tetap akan terus dieksplorasi dari serangkaian suara yang terlibat pada momen-momen di Maumere: apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi? Maumere dan Tsunami menjadi ruang bersama, mengiterupsi pembangunan yang berdasarkan asas ekonomi semata dengan melibatkan bagian yang dianggap bukan bagian dari sejarah kemanusian Maumere. Seperti sosok Baba Akong yang kami temui di hutan mangrove yang beliau tanam paska peristiwa tsunami 1992 dan dirawat hingga kini.  Atau Bapa Alo M. (Warga Kampung Wuring/kampung terapung) yang bertarung dengan reklamasi pantai yang dibagun pemerintah.

Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat [Bagian 2]

Spasialitas Pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Judul pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan, semacam metafora bagi posisi perempuan Madura yang ditinggal oleh sang suami yang pergi bekerja di kapal pesiar, namun akhirnya sang suami menikah dengan perempuan lain. Isu perempuan ini berdasarkan  spasialitas  lanskap sosial masyarakat Madura kekiniaan, dengan segala lanskap ekonomi kekiniaan dan juga gambaran akan peristiwa dari pengalaman personal. Judul pertunjukkan jelas menunjukan bahwa isu ‘kapal yang hilang’ menjadi semacam metafora bagi para perempuan yang kehilangan suaminya karena berlayar dan kemudian menikah dengan perempuan lain.

Teks pada pertunjukkan ini banyak dimuati monolog yang menjadi semacam refleksi dari sebuah gambaran personal dari kegelisahan kaum perempuan yang mengalami pengalaman negatif dalam menghadapi situasi para lelakinya yang pergi berlayar. Beberapa spasial dari pengalaman negatif juga diwujudkan dalam beberapa koreografi, seperti pada adegan dalam dua komposisi yang kontras di mana tiga perempuan masuk ke panggung dalam ekspresi wajah yang sedih, sementara di sudut panggung terdapat dua objek kerangkeng yang masing-masing berisikan seorang lelaki di dalam kerangkeng sedang berjoget dengan musik dangdut. Kontras ini untuk menunjukan dua sisi yang berbeda dari posisi laki-laki dan perempuan, di mana lanskap sosial dari gaya hidup para lelaki Madura yang suka berada di tempat hiburan dangdut dan lanskap posisi perempuan yang berada dalam ruang domestik yang tertindas. Permainan kontras atau dua peristiwa yang pararel di atas panggung dalam beberapa adegan yang lain dalam “Perempuan dan Kapal yang Hilang” ini memberikan kontruksi realisme tersendiri kepada para penonton, tentang sebuah kompleksitas dan banyaknya lapisan sebuah persoalan yang berlangsung dari sebuah peristiwa. Model-model kontras dan pararel ini, selain sebagai sebuah kebutuhan akan bentuk, juga memberikan banyak lapisan dalam memaknai realitas yang berlangsung.

Secara umum, koreografi didasarkan pada ruang spasial dari ‘situasi dalam’ kondisi personal kaum perempuan Madura yang terekspresikan secara simbolik maupun abstrak, selain ‘situasi dalam’ juga terwujud dalam bentuk monolog. Beberapa penggunaan topeng dalam pertunjukkan juga usaha menggunakan landskap artefak seni dalam kultur masyarakat Madura, sedemikian hingga pertunjukkan ini juga berusaha memberikan gambaran keragaman artefak tradisi—penggunaan topeng dan tari—dan  budaya subkultur kekiniaan seperti penggunaan kultur dangdut pada adegan awal. Penggunaan topeng adalah metafora dari ekspresi-ekspresi ‘situasi dalam’ dari pengalaman-pengalaman negatif yang tak terbahasakan. Selain penggunaan topeng juga menjadi permainan dan koreografi tersendiri untuk memperkaya pertunjukkan. Demikian pula dengan penggunaan layar bergerak yang mengikuti tokoh perempuan, menjadi semacam  metafora dunia yang melekat bagi sang tokoh, di mana secara strategis layar tersebut juga dimanfaatkan sebagai bloking untuk menghadirkan tokoh antagonis yang seketika bisa muncul di balik layar tersebut. Layar yang bergerak mengikuti tokoh wanita, menjadi semacam dua dunia yang melekat pada tokoh perempuan, atau semacam protagonis yang dibayang-bayangi tokoh antagonis yang muncul di balik layar tersebut.

Pertunjukkan ini juga diselingi oleh jeda berupa pertunjukkan ludruk ala Madura, “Soto Madura”. Pertunjukan Soto Madura ini lebih menghibur dan komunikatif karena sifatnya yang komedi khas Madura. Namun sayangnya, muatan dalam “Soto Madura” ini tidak memiliki korelasi dengan isu perempuan yang diangkat dalam pertunjukkan, atau seakan-akan sebuah jeda yang terpisah secara tematik dari pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”. Idealnya, meski “Soto Madura” terpisah sebagai sebuah sekuen peritiwa dalam “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, Ia justru memiliki kekuatan sebagai sebuah tema yang lebih reflektif, baik secara isu maupun secara pertunjukkan itu sendiri, sehingga sebagai ‘jeda’ pertunjukkan, “Soto Madura” masih memiliki korelasi yang organik sebagai sebuah keseluruhan dan kepadatan pada pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”.

Isu perempuan Madura yang diangkat dalam pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, memberikan sebuah etnografi kehadiran tentang masyarakat  Madura kekiniaan, berdasarkan isu perempuan yang mengalami kepergiaan sang suami pergi berlayar. Pengalaman performatif dari ‘situasi dalam’ melalui bentuk gestural dan juga teks pada monolog dari situasi kaum perempuan yang ditinggalkan oleh sang suami yang bekerja di kapal pesiar. Beberapa isu yang diangkat dalam pertunjukkan ini masih lemah, karena kurangnya data riset atau kompleksitas masalah. Keberadaann data masih dianggap sebagai sebuah bahan untuk membentuk naratif pada pertunjukkan, sementara data itu sendiri pada dasarnya adalah ‘musuh alamiah dari narasi’ (Lev Manovich). Dalam kerangka naratif selalu ada posisi antagonis dan protagonis, ada awal dan akhir, ada konflik dan lain sebagainya, sementara pada data itu sendiri pada dasarnya tidak mengenal kaidah protagonis dan antagonis, awal dan akhir, dan seterusnya. Pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” yang sebenarnya memuat banyak data, sebenarnya bisa jadi hanya menghadirkan data di atas pertunjukkan tanpa memiliki pretensi akan bentuk atau naratif, yang sebenarnya bisa memperkaya kompleksitas peristiwa di atas panggung, dan juga sembari memberikan sebuah persepsi baru tentang teater dan juga isu perempuan itu sendiri.

“Pocet”, Kemungkinan sebuah ‘Para Teater’ dari Sanggar Seni Makan Ati, Pamekasan

Istilah ‘para teater’ bisa dibayangkan sebagai sebuah usaha pertunjukkan yang mengambil sebuah anasir dari peristiwa yang berlangsung dalam kultur masyarakat, sehingga sebenarnya praktik dari model teater ini adalah memanfaatkan atau berorganik dengan sebuah momentum yang berlangsung dalam sebuah masyarakat tertentu. “Pocet” mengambil sebuah tradisi pernikahan yang biasa diadakan di dalam kultur masyarakat Madura dan Indonesia pada umumnya, sebagai sebuah setting peristiwa dan juga setting panggung pertunjukkannya. Kerangka ini cukup menarik jika dibaca dalam kerangka yang lebih luas di mana pertunjukkan semacam memanfaatkan peristiwa yang ada di masyarakat itu sendiri, sehingga membawa kemungkinan baru dalam pertunjukkan, atau semacam teater yang memanfaatkan seni pertunjukkan yang ada sebelumnya.  Para teater bisa dibayangkan juga sebagai sebuah praktik yang bukan lagi teater, namun masih dalam ranah pertunjukkan, ketika sebuah pertunjukkan tidak mengandaikan adanya sebuah penonton dan bukan penonton. Seperti pada pertunjukkan “Pocet” yang memanfaatkan tradisi pernikahan, bisa dikemas sebagai sebuah pertunjukkan yang benar-benar sebuah tradisi pernikahan, atau sebuah performatif pernikahan dimana penonton setting pertunjukkan juga bisa membawa penonton pada suasana dan tindakan acara pernikahan yang lebih ‘real’.

Tema “Pocet” sendiri adalah isu akan sebuah pernikahan dini yang dialami para perempuan di Madura. Isu perempuan ini adalah bagaimana pandangan atau kultur di Madura yang masih sangat domestik, sehingga sejak usia dini para perempuan sudah dinikahkan, selain juga pada narasi digambarkan bagaimana para anak-anak kecil di Madura yang harus kehilangan masa bermainnya karena harus bekerja. Siasat menggunakan acara pernikahan cukup menarik, dan juga lanskap pertunjukkan yang berada di halaman rumah warga, sehingga pertunjukkan ini pada setting awalnya juga memiliki kesan sebuah acara pernikahan yang ‘real’. Sebelum pertunjukkan para penonton juga coba didorong pada sebuah proses pernikahan, di mana para mempelai hadir di pelaminan pernikahan. Daya tarik pertunjukkan ini adalah siasat menggunakan kultur acara pernikahan yang banyak berlangsung di warga, serta landskap pertunjukkan yang berlangsung di rumah warga. Secara naratif “Pocet” menggambarkan masa kecil para anak-anak yang hilang, melalui sebuah adegan yang metaforis melalui beberapa objek boneka, dan permainan komedi.

Pertunjukkan “Pocet” adalah pertunjukkan yang cair dengan beberapa adegan yang komedis, selain situs pertunjukkan yang juga memanfaatkan rumah warga. Beberapa ‘situasi dalam’ dari pengalaman personal diwujudkan melalui monolog dan beberapa koreografi, khususnya terkait dengan pengalaman negatif tentang para anak di Madura. Kurangnya basis riset pada pertunjukkan ini menunjukkan masih dominannya tradisi naratif ketimbang kehadiran data atau persepsi baru terhadap isu yang diangkat. Satu hal penting dari pertunjukkan ini adalah, di mana paska pertunjukkan para penonton diajak untuk memperbincangkan isu yang diangkat dalam pertunjukkan, sehingga membawa refleksi baru bahwa seni bukan lagi perihal makna yang abstrak tapi membawa penonton kepada pengalaman tentang keseharian mereka sendiri.

Pertunjukkan “Pocet” yang kedua dimainkan di Vihara di Pamekasan. Peristiwa ini menjadi cukup menarik, karena usaha-usaha untuk membangun sebuah lintas identitas dalam kultur masyarakat Madura.

“Mimpi di Atas Pagi”, Uji Coba Teater, Sampang

Pertunjukkan “Mimpi di Atas Pagi” adalah pertunjukkan yang sederhana yang dimainkan oleh dua aktor. Ruang pertunjukkan juga ruang yang sederhana dan bisa dimainkan di mana saja. Tingkat spasialitas pada pertunjukkan ini sebenarnya lebih terletak pada keberadaan objek-objek yang hadir dan melingkupi pertunjukkan. Namun sayang, “Mimpi di Atas Pagi” masih menempatkan keberadaan objek-objek yang masih tergantikan seperti yang hadirkan dalam pertunjukkan tersebut seperti; keranjang ikan, sapu, piring seng, dan sendok sehingga mengandaikan sebuah objek yang metaforis dan simbolis. Sementara pada perminan telepon yang menggunakan kaleng dan benang adalah pertunjukkan yang menarik dalam mempraktikan miss komunikasi dalam medium manual di era digital. Pilihan-pilihan terhadap objek seperti keranjang ikan, sapu, piring seng, sendok dan lain sebagainya patut dipertanyakan rujukan spasialitasnya, atau objek tersebut sekadar sebuah permainan yang bisa dilepaskan dari spasialitas ruang atau teks yang melingkupinya.

Isu pertunjukkan “Mimpi di Atas Pagi” berangkat dari fenomena yang ada di media sosial, di mana teks yang dihasilkan berasal dari akun atau teks yang ada di media sosial tersebut. Namun teks yang berasal dari logika medium pada pertunjukkan ini justru tidak menghadirkan keberadaan objek dari medium tersebut.  Antara isu dan bentuk dalam pertunjukkan ini bagaikan teks yang melintas di antara beberapa koreografi. Teks seakan melintas begitu saja, di atas  gesture, sebagaimana ingin menguji sejauh mana otonomi teks dalam tubuh.

Permainan gesture tubuh cukup menarik dalam pertunjukkan ini, bagaikan sebuah permainan sederhana yang dimainkan oleh dua aktor dan objek-objek yang bisa diambil dalam keseharian. Namun justru persoalannya ada di penggunaan objek yang mudah didapatkan dari keseharian itulah yang kemudian pertanyaannya adalah bahwa objek-objek tersebut hanya digunakan sebagai permainan dan bukan berdasarkan sebuah spasialitas ruang atau keseharian dari isu yang diangkat.

Pertunjukkan “Kerangkeng”, Teater Karapan, Pamekasan

Yang bisa dibaca dalam pertunjukkan “Kerangkeng” oleh Teater Karapan, Pamekasan ini adalah situs pertunjukkan yang berada di pesantren, para aktor perempuan yang notabene adalah para santri di pesantren setempat. Secara tematik pertunjukkan ini terlalu metaforis dan tidak dekat dengan para aktornya, karena tingkat refleksi tema yang cukup abstrak dan tidak berangkat dari pengalaman keseharian para aktor. Orientasi terhadap bentuk pada pertunjukkan ini membawa dampak pada dominasi bentuk itu sendiri, ketimbang keberadaan isu dan kehadiran aktor itu sendiri. Terkesan, aktor berada di bawah dominasi narasi dan bentuk, dengan banyak memainkan hal-hal yang metaforis yang berjarak dengan tubuh para aktornya. Latar belakang aktor yang notabene adalah para santri perempuan, sebenarnya bisa menjadi visi pertunjukkan yang tidak lagi membentuk jarak dalam pembentukan gesture dan gerak para aktornya.

Keberadaan pertunjukkan “Kerangkeng” memberi sebuah aktivasi tersendiri, khususnya dalam kultur teater yang bisa membawa sebuah refleksi terhadap agama dan lingkungan sekitar, selain teater juga sebagai alat transformasi dan membawa lingkup keberadaan teater di pesantren yang menghadirkan publik yang berinteraksi dengan mereka, baik melalui isu, seni pertunjukkan, kolaboratif, dan lain sebagainya.

Orientasi terhadap Bentuk (Estetika)  dalam Isu Spasial

Dari segi bentuk, hampir semua pertunjukkan cendrung cukup terukur melalui komposisi dan koreografi yang disusun di atas panggung, khususnya pada pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” dan “Kerangkeng” yang banyak didominasi oleh komposisi dan koreografi. Persoalan bentuk dan isi menjadi hal penting dalam memandang pertunjukkan, karena terkait juga mempertanyakan apakah ‘keseharian’ yang diangkat membentuk sebuah bentuk baru dari pertunjukkan, atau orientasi terhadap bentuk justru mengikis kemungkinan spasial keseharian yang diangkat menjadi tereliminir. Problem-problem bentuk dan isi juga menjadi bagian dari sebuah visi pertunjukkan itu sendiri, sembari mempertanyakan ulang tentang bagaimana sebuah kontemporeritas sebuah pertunjukkan dalam kekiniaannya. Beberapa pertunjukkan lain juga masih memperlihatkan orientasi terhadap bentuk, ketimbang menghadirkan data yang dimungkinkan dalam isu yang diangkat dalam pertunjukkan.

Dalam tradisi modern, narasi tentu menjadi begitu dominan di atas semua elemen yang lain dalam tradisi spektakel. Seakan semua elemen adalah menopang atau mengkultivikasi narasi itu sendiri.  Pada viewpoints-nya Mary Overlie, sebagaimana halnya tradisi postmodern, adalah usaha untuk membuat semua elemen setara, seperti ruang, bentuk, waktu, emosi, gerak dan narasi. Kesetaraan ini pada dasarnya adalah refleksi atas tradisi modern yang lebih mengedepankan atau dominasi narasi di atas elemen-elemen yang lain. Pengaruh postmodern Mary Overlie ini sebenarnya masih berkutat pada orientasi bentuk, meski ada perluasan bentuk dari orientasi sebelumnya.

Model platform empat pertunjukkan di Madura pada akhir November 2017 lalu adalah kerangka bagaimana teater bisa mengaktivasi sosial masyarakat di sekitarnya. Ukuran-ukuran pertunjukkan sebenarnya tidak lagi merujuk pada orientasi teks semata, namun juga merujuk pada isu dan data yang ada dalam keseharian masyarakat yang melingkupi pertunjukkan. Beberapa catatan yang bisa diambil adalah, bagaimana orientasi terhadap bentuk membawa dampak pada teater yang masih didominasi putusan-putusan sutradara ketimbang pada para periset atau dramaturg.

Namun yang menarik dalam tiga pertunjukkan di Madura ini adalah, adanya sebuah diskursus dan perbincangan tentang isu sosial yang terdapat pada pertunjukkan bagi para penonton yang dilakukan paska pertunjukkan. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa sebenarnya orientasi para penonton tidak lagi berkutat pada bentuk pertunjukkan itu sendiri, meski kemudian dalam perkembangan diskusi tidak terlalu banyak data yang bisa dibagi dalam forum diskusi, karena pertunjukkan itu sendiri yang tidak banyak berfokus pada data-data dari isu yang diangkat. Lemahnya data dari isu yang diangkat dalam pertunjukkan, mengandaikan kebutuhan sebuah kerja-kerja kolaboratif yang dimungkinkan bagi sebuah kebutuhan isu yang diangkat. Kebutuhan kerja kolaboratif ini misalnya adalah, adanya para periset yang berfokus pada pencarian data dari isu yang diangkat, selain posisi periset juga bisa dikolaborasikan sebagai seorang dramaturg.

Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat [Bagian 1]

(Catatan Menonton Empat Pertunjukan #SeriPentasAntarRagam di Madura)

oleh Akbar Yumni

Seni  dan Realitas

Perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, dan perkembangaun sosial media  yang semakin performatif dalam menggerakkan masyarakat, membuat status ‘seni’ (seni modern) semakin dipertanyakan sebagai sebuah otoritas yang sanggup memberikan pencerahan atau ilham dalam ontologinya sebagai sebuah refleksi atau melampaui ‘realitas’ yang melingkupinya. Kritik seni dalam kerangka ini sebenarnya sudah dimulai paska Perang Dunia ke-2. Theodor Adorno melihat status seni sebagai sesuatu yang mustahil ketika genosida di luar nalar manusia berlangsung. Artinya, realitas genosida paska PD 2, sebuah gambaran yang sama sekali jauh dari ‘realitas seni’ itu sendiri, seakan seni menjadi inferior terhadap realitas yang berlangsung—genosida pada PD 2. Dalam perkembangannya secara kekiniaan, seni menjadi tidak lagi bersaing atau berusaha melampaui realitas itu sendiri. Seni pada perkembangan kekiniaannya, mengambil bahan baku yang ada di sekitar keseharian masyarakatnya (everyday aesthetic).

Dalam ranah seni pertunjukkan, praktik artistik yang didasarkan pada keseharian masyarakat, juga didasarkan pada sebuah refleksi terhadap teks yang dianggap sebagai sebuah dunia tertutup yang tidak lagi memadai dalam merefleksikan realitas sosial yang melingkupinya, atau sebuah totalitas gambaran dunia yang jauh dari kesadaran dan keseharian masyarakat yang melingkupinya—dalam kasus pernyataan Adorno memiliki dampak bahwa seni menjadi jauh tidak performatif ketimbang keseharian di masyarakat. Dalam perkembangannya seni pertunjukkan tidak lagi berkutat pada sebuah teks yang ‘tertutup’ sebagai sebuah gambaran dunia secara tekstual yang tidak lagi menyentuh persoalan-persoalan dan kesadaran masyarakat yang melingkupinya. Avantgardisme seni dianggap tidak lagi memadai, karena kompleksitas persoaalan sosial di masyarakat yang semakin kompleks dan jauh lebih performatif ketimbang seni itu sendiri—game pokemon, merekam bunuh diri di Facebook, sosial media, dsb. Kompleksitas tersebut membuat seniman sebagai individu yang berada di atas masyarakat menjadi naif, sehingga praktik-praktik seni kekiniaan adalah praktik yang bersifat lintas disiplin jika dilihat dari kompleksitas sosial yang melingkupinya. Estetika keseharian sendiri sebenarnya muncul dari pengaruh John Dewey yang memaknai seni bukan sebagai objek artistik yang ada di galeri, museum, atau institusi seni lainnya, namun lebih pada pengalaman personal. Pendasaran atas pengalaman dalam melihat seni, menjadi seni bukan lagi pengalaman akan ‘keindahan’ atau estetis itu sendiri, namun kembali kepada pengalaman individu itu sendiri dalam melihat karya seni. Dalam perkembangannya pada periode 1990-an. Katya Mandoki mengembangkan matra sosial dari estetika keseharian ini melalui istilah ‘prosaics’ sebagai sebuah sub-disiplin yang merefleksikan estetika yang terlibat dalam aktivitas keseharian, di mana peranan estetika merujuk melalui interaksi simbolis, negosiasi identitas dan kinerja dramaturgis untuk menghasilkan efek sensitif dan dampak spesifik pada sensibilitas. Praktik estetika ini juga sebuah lintas disiplin yang juga sebagai  fenomena multi-sensorial. Pertunjukan bersifat spasial yang menekankan gaya dan bentuk ekspresi dalam interaksi dengan penonton yang memiliki temporalitas dan momentum yang khas.

Refleksi atas realitas keseharian sebagai bahan baku artistik pada seni pertunjukan, dalam perkembangannya, seni juga menjadi sebuah praktik yang juga melibatkan situs, artefak, orang-orang, dan entitas lainnya yang berasal dari keseharian itu pula. Usaha-usaha mengaktivasi sebuah entitas masyarakat—termasuk di dalamnya adalah mengaktivasi ruang, isu, identitas, dan lain sebagainya—telah menjadi platform teater kekiniaan. Dalam dramturgi baru (new dramturgy) model-model pertunjukan yang menggunakan bahan baku isu yang berangkat dari keseharian masyarakat  itu sendiri adalah  bagian dari usaha teater keluar dari beban historisnya terhadap pengaruh teater atau seni Aristotelian yang dianggap hanya sebagai atribut dari teks dramatik sedemikian hingga mempengaruhi totalitas putusan-putusan artistik dalam proses penciptaan dalam pertunjukan. Seni pertunjukkan dalam kerangka dramaturgi baru ini, menjadikan seni tidak sekadar mengekspansi dari perluasan isu yang digarap dalam kekiniaan masyarakatnya, namun praktik pertunjukkan itu sendiri juga memainkan peran transformatif berdasarkan praktik mengaktivasi dari penggunaan bentangan (lanskap) sosial sebagai pijakan artistiknya. “Dramaturgi kini dipertimbangkan menjadi aliran batin dari sebuah sistem yang dinamis. Dengan helain baru dari karya dramaturgis (devised theatre, dance, new-circus, performance art, dll) yang muncul, materi baru untuk berkarya (diperoleh dari improvisasi, hal-hal kebetulan, stimuli lintas disiplin dan media baru), dan perubahan hubungan baik ruang dan penonton—praktik bukan hanya perluasan namun dramaturgi juga menjadi bertransformasi (Katalin Trencsenyi and Bernadette Cochrane, dalam pendahuluan New Dramaturgy, New York: Bloomsbury Publishing, 2014, hlm. XI)

‘Etnografi Kehadiran (present) dan Performatif’ Madura melalui Seni Pertunjukkan

Satu di antara problem etnografi adalah perihal representasi, sampai kemudian dalam pandangan Clifford Geertz dalam  membuat posisi emik (melalui cara pandang orang dalam) sebagai usaha menjembatani kesenjangan posisi etik (cara pandang orang luar) juga mengalami pergulatan karena otoritas perihal representasi masih di tangan periset—pihak luar. Refleksi Geertz pada dasarnya adalah pergulatan sains sosial itu sendiri, khususnya dalam pergulatan antropologi dalam perihal subyektivitas dan objektivitas. Bagi Geertz, pandangan terhadap para native adalah bagaikan ‘boneka’ yang bisa diobjektivikasi sekehendak bagi para pengamat, atau kemudian pengamat berusaha mendengar ‘alunan lagu’ dari para native yang bisa jadi adalah ‘fantasi’ dari pengamat itu sendiri. Dalam kerangka etnografi Geertz ini, para pengamat menjadi semacam ‘saksi’  atau semacam posisi pengamat ‘yang berada di sana’ sebagai pihak yang memberikan gambaran tentang sebuah entitas masyarakat. Pergulatan objektivitas dan subyektifitas ini memang semacam otomatisme dalam pemikiran modern yang masih mengandaikan posisi biner dan problem representasi.

Dalam perkembangan seni kekiniaan, problem-problem representasi sangat dimungkinkan untuk diambil alih pada pola-pola partisipatif untuk membentuk ‘kehadiran’ (present) yang dimungkinkan karena logika medium yang melingkupi praktik seni itu sendiri. Seperti dalam etnografi di bidang filem, di mana kontruksi akan realitas pada sebuah gambaran ‘native’ yang bisa disusun bersama mereka (para native) untuk mendapatkan sebuah gambaran yang tidak berjarak tentang sebuah masyarakat. Bahkan logika medium dalam seni filem bisa membuat semacam ‘antropologi bersama’ (shared antrophology)—seperti  yang dilakukan oleh sutradara Jean Rouch di Afrika pada periode 1960-70-an—para native juga dimungkinkan untuk memegang alat reproduksi kamera itu sendiri untuk menggambarkan pengalaman mereka sendiri. ‘Antropologi bersama’ ini semacam praktik heremeneutika yang jauh lebih egaliter ketimbang dalam sains sosial dalam tradisi akademik di mana perihal representasi yang masih berkutat pada tradisi naratif (tulis) yang otoritas ‘representasi’nya berujung pada putusan pengamat. Dalam spasial seni pertunjukkan, perihal ‘antropologi bersama’ ini memiliki semangat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Jean Rouch dalam memperlakukan medium pertunjukkan yang bisa anasir-anasir yang berasal dari pengalaman para native, atau bahkan keterlibatan para native itu sendiri di atas panggung. Pengalaman 100% Yogyakarta oleh Rimini Protokol misalnya, adalah bagaimana dimungkinkannya‘ pelaku para keseharian’ itu sendirilah yang terlibat.

Model-model etnografi yang didasarkan pada praktik-praktik seni bisa dibaca sebagai sebuah ‘etnografi kehadiran’ sebagai sebuah kritik atas ‘etnografi representasi’ dalam tradisi akademik. Etnografi kehadiran adalah bagaimana perihal data justru hadir sebagai sebuah ‘kehadiran’, sehingga bisa mengikis jarak antara pembaca/penonton dengan ‘gambaran native’ itu sendiri seperti yang diperlihatkan dalam persoalan ‘representasional’ itu sendiri. Model-model etnografi kehadiran ini juga model etnografi performatif, karena data tidak lagi hadir sebagai bentuk yang representatif, namun sebagai sebuah kehadiran itu sendiri dan dalam bentuk yang performatif kepada para penontonnya. Bentuk performatif dari data yang dihadirkan dalam seni pertunjukkan, menjadikan pembacaan terhadap sebuah gambaran masyarakat yang dihadirkan dalam pertunjukkan tersebut selalu bersifat spasial dan bergerak sesuai dengan kebersituasian yang berlangsung dalam setiap pertunjukkan yang berlangsung. Segi performatif ini juga mengandaikan sebuah pertunjukkan yang selalu bergerak dalam momentumnya sendiri, berdasarkan spasial ruang dan penonton yang melingkupinya. (Bersambung)

Lanjutan artikel, silakan klik tautan berikut: Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat (Catatan Menonton Empat Pertunjukan Seri Pentas AntarRagam di Madura) [Bagian 2]

Mantra, Adat, dan Ritual Agama (Catatan perjalanan Penahbisan Romo Inno Koten)

Arsita Iswardhani

 

Perjalanan Teater Garasi kali ini juga bertepatan dengan upacara penahbisan seorang calon Romo, Innosensius Inno Koten, yang telah mengundang kami untuk hadir di upacara besarnya. Kami dan Inno bertemu di workshop penciptaan yang kami selenggarakan di Larantuka pada bulan Mei lalu. Inno adalah salah satu peserta workshop, (waktu itu masih) seorang frater yang aktif di Teater Tanya Ritapiret, dan juga adalah seorang pendamping kelompok teater di seminari Hokeng. Sedikitnya sudah ada sembilan naskah pertunjukan yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” sebagai hadiah di penahbisannya.

Saya belum pernah menghadiri upacara penahbisan seseorang menjadi Romo sebelumnya. Juga karena tak ada orang dekat yang akan mengalaminya, jadi tak pernah terpikir juga menghadiri acara serupa. Tapi kali ini undangan datang dari seorang kawan baru dari timur. Ia beberapa kali mengingatkan dan meminta saya dan teman-teman Garasi untuk hadir di upacara penahbisannya ini. Di perjalanan saya sebelumnya ke kampung Romo Inno di Wulu Blolong- Solor Timur bersama Mbak Lusi, Qomar, dan Mas Risky di bulan Februari juga mendapatkan sedikit cerita bahwa di bulan September (2017) akan ada upacara adat besar dalam rangka penahbisan (Romo) Inno Koten. Waktu itu, saya belum terlalu mengenalnya, hanya sekilas bertemu ketika rombongan Teater Garasi bertemu dengan teman-teman teater seminari di Maumere.

 

 

***

Upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo diselenggarakan di depan gereja WuluBlolong, kampung halaman Inno, pada tanggal 27 September 2017 pagi. Namun, rangkaian acara berlangsung di tiga desa, berturut-turut selama 4 hari, dimulai dari upacara penyambutan kedatangan Inno di Solor Timur, persinggahan ke rumah adat nenek moyang di Lewohedo, penelusuran jalur nenek moyangnya melalui desa LewoKebo hingga kemudian menetap di Desa WuluBlolong, dan kemudian upacara penahbisan Inno menjadi Romo di desa WuluBlolong.

 

Di siang kami menyeberang menuju Solor Timur pada tanggal 24 September 2017, sebelum kapal kami menepi, tiga kapal kecil telah disiapkan untuk penjemputan Inno, sebagai calon Romo. Di bibir pelabuhan, tampak telah berdiri sebuah gapura penyambutan bertuliskan Lewohedo Laka Neo / Tana Kaha Laka Lado / Soron Lodo Tapin Bali. Saya menanyakan artinya di kemudian hari pada Inno, dan ia menjawab, sesungguhnya tulisan itu seperti sebuah mantra yang kurang lebih artinya adalah “tanah yang melepasmu pergi, dan ia yang memanggilmu kembali”. Makna tulisan itu seperti pas benar untuk penyambutan Inno, seperti bagaimana ia dibesarkan di seminari Ritapiret dan seminari Hokeng dalam masa pembentukannya menjadi Frater dan kemudian Diakon, pada kampung halamannyalah kemudian ia menempatkan diri untuk ditahbiskan menjadi Romo.

 

Tak hanya tulisan mantra di gapura yang bersiap menyambut Inno (dan rombongan, termasuk kami di dalamnya), tapi serangkaian upacara dan tarian telah dipersiapkan. Bapak kepala desan menyambut Inno dengan pidato panjang berbahasa daerah, tentu saja saya tak memahaminya, tapi saya seperti dapat merasakan kedalaman pesan yang sedang beliau sampaikan. Pidato ini tampak seperti sebuah mantra lagu yang diucapkan, yang didengarkan dengan khidmat. Pidato kepala desa diiringi dengan rangkaian sirih pinang dan moke yang dituangkan sedikit ke tanah, sebelum diteguk oleh Inno. Seluruh rangkaian ini membuka tapak perjalanan rangkaian upacara hingga penahbisan Inno oleh Uskup nantinya, dan ia lakukan sembari menggunakan seragam gereja berwarna putih berkalung syal tenun dari upacara, didampingi oleh salah satu Romo gereja di sampingnya . Bagi saya, ini adalah sebuah keunikan tersendiri, kombinasi seragam gereja dan upacara adat – sirih pinang – moke.

Selepas dari gapura, maka seluruh masyarakat mengiringi Inno untuk ke gereja untuk misa dan kemudian ke rumah adat Lewohedo. Desa Lewohedo, adalah desa asal muasal nenek moyang Inno sebelum akhirnya melakukan perjalanan dan tinggal di desa WuluBlolong. Rangkaian upacara adat menuju penahbisan ini mensyaratkan Inno untuk menelusuri ulang perjalanan nenek moyangnya. Maka demikianlah, seluruh upacara dimulai dari desa ini. Para penari — perempuan dan laki-laki, mengenakan pakaian adat, selendang dan tombak perisai— menari dengan langkah mundur yang ritmis, diiringi Diakon Inno dan rombongan yang berjalan ke depan, berhadapan.

Upacara penerimaan di rumah adat Lewohedo hampir-hampir tak berbeda dengan rangkaian acara di gapura. Inno disambut oleh Bapak Tua (yang katanya masih saudara baginya) dengan pidato singkat berbahasa daerah. Dalam waktu senggang, saya menanyakan kedua pidato tersebut (kepala desa dan Bapak Tua), dan menurut Inno, tak ada yang naratif dalam pidato itu. Hampir semuanya adalah seperti mantra. Mantra yang menjelaskan dan memberikan pesan untuk Inno. Tak semua bisa benar-benar mengartikan mantra simbolis itu, kecuali orang-orang yang telah secara khusus memang bertugas untuk mempelajari mantra dan menggunakan atau menyebarluaskannya dengan cara-cara tertentu. Mantra, adalah cara orang-orang adat menyampaikan pesan, baik dalam pidato yang khidmat, ataupun bahkan dalam gerak dan lagu, seperti yang saya alami di malam harinya.

Setelah acara makan bersama secara adat selesai, saya sempat menonton sekelompok kecil mama-mama dan bapak-bapak bergandengan tangan membuat lingkaran berlapis, melangkahkan kaki dengan pola gerak tertentu, sembari bernyanyi. “Mereka sedang main Tandak”, kata salah satu saudara Inno. Tandak biasanya selalu ada di malam-malam ada upacara atau acara di mana penduduk biasanya melakuan mete (begadang). Tandak bisa dilakukan semalam suntuk hingga pagi menjelang. Di Lewohedo, tandak disebut hema. Nantinya, di malam sebelum penahbisan pun, penduduk Wulublolong juga melakukan tandak, dengan cara yang kurang lebih sama, tapi berbeda di langkah kaki dan tentu saja lirik  yang dinyanyikan. Penduduk wulublolong menyebutnya Sole. Tak semua bernyanyi terus-menerus di dalam tandak, ada beberapa orang tertentu yang bergantian menyanyikan lagu-lagu seperti sedang bercerita. Salah satu atau dua diantara para bapak mengenakan gelang kerincing di kakinya. Di Lewohedo, saya mencoba bergabung ‘bermain’. Tak lama, saya dapat mengikuti gerakan kaki dan tangan yang dilakukan para mama dan bapak ini. Tapi saya tetap tak bisa paham apa yang dinyanyikan. Sedangkan di Wulublolong, saya hanya menonton para mama dan bapak dan beberapa pemuda bermain sole. Pola kaki tandak di Wulublolong agak lebih rumit daripada di Lewohedo. Dari Opu Yakob dan Inno, saya mendapatkan cerita lebih jauh tentang Tandak. Lagi-lagi, saya menemukan kata mantra dalam penjelasan mereka. Lirik yang dinyanyikan dalam tandak adalah mantra mengenai cerita-cerita keadaan desa, mitos, dan lainnya. Biasanya kisah ini diceritakan secara turun temurun, pada orang-orang tertentu yang memang bertugas ‘menjaga’ mantra. Tapi orang-orang ini juga kadang-kadang bisa menceritakan kisah-kisah atau situasi terbaru yang ada di desa.

Rangkaian adat berlanjut di keesokan harinya, di mana Inno harus menelusuri ‘jalur’ nenek moyang. Nenek dari nenek (entah keturunan keberapa) dikisahkan mampir ke desa Lewokebo sebelum akhirnya menetap di Wulublolong dan menikah, dan menjadi suku Koten. Upacara pelepasan dari rumah adat Lewohedo sama persis dengan upacara penerimaannnya kemarin, diiringi penari, rombongan menuju Desa Lewo Kebo. Yang menarik, di desa ini, kami disambut dengan penari-penari cilik (laki-laki), mengenakan sarung, kaos tanpa lengan warna putih, dan juga membawa golok dan perisai berukuran kecil. Tarian dari mereka juga mengiringi perjalanan berikutnya (berjalan kaki) hingga Wulu Blolong.

Di WuluBlolong, spanduk bertulliskan Lewo Wulu Lama Rebon, Tana Rebon Lama Dike “Selamat Datang Rombongan Penahbisan Imam Baru”, telah terpasang. Juga tampak bapak tua dari empat rumah adat di WuluBlolong di bagian paling depan. Urut-urutan penyambutan di ‘gapura’ ini hampir sama dengan penyambutan di LewoHedo sebelumnya. Pembedanya adalah tarian adat penyambutan dan pengiring perjalanan dan jumlah rumah adat yang didatangi. Tarian adat pengiring dari Desa WuluBlolong berbeda tempo langkah dengan di LewoHedo, cenderung lebih pelan. Dan jumlah lebih banyak dan lebih beragam, kalau tidak salah, jumlah tarian sesuai jumlah suku yang berdiam di Desa WuluBlolong. Para penari biasanya berganti kelompok di perempatan jalan atau di jalan bercabang. Tarian laki-lakinya mengenakan parang dan perisai kayu. Tarian perempuannya mengenakan selendang. Tapi dari seluruh tarian yang menyambut Inno di Wulu Blolong, ada satu tarian yang begitu khidmat dan paling berbeda. NamaUla, nama tarian ini. Para mama berjajar berdiri di samping kiri dan kanan jalan, dan para bapa menari berdiri dua-dua di tengah, lengkap dengan kerincing di salah satu kaki bapa. Dalam tarian ini, dinyanyikan sebuah lagu yang isi liriknya adalah kisah hidup Inno sejak lahir hingga kini. Saya tentu tak mengerti lirik kata per kata, tapi suasana petang itu terasa sungguh syahdu bagi saya.

Rumah adat pertama yang didatangi yaitu rumah adat LewoRebon, yang asal usulnya, ini adalah rumah adat pertama yang didatangi oleh keluarga Inno dahulu. Di sana upacara penyambutan oleh bapak tua dengan cerita-cerita mengenai mendiang ayah Diakon Inno, berhasil membuat tangis haru pecah di dalam rumah adat. Selanjutnya, ritual sirih pinang dan tentu saja moke. (PS, saya mendapatkan moke terenak sepanjang yang saya coba di seluruh perjalanan saya ke Flores Timur, padahal katanya itu moke kelas tiga, bukan kelas pertama. Hahaha.) Selanjutnya, hampir menjelang petang, perjalanan dilanjutkan ke rumah adat Koten, di mana suku Koten ini adalah suku keluarga Inno saat ini. Kurang lebih dengan urutan sama, upacara hari itu diakhiri dengan moke dituang dalam gelas masing-masing orang di dalam rumah adat. Dalam seluruh rangkaian ini, Inno menjalaninya dengan mengenakan seragam gereja.

Hari ketiga, persiapan dilakukan oleh penduduk desa Wulublolong. Seluruh persiapan mereka lakukan dengan gotong-royong. Ini juga yang kami lihat di desa Lewohedo. Memasak, mengangkat hewan yang akan disembelih, menyiapkan tempat upacara, dan segala bentuk persiapan yang dibutuhkan untuk upacara penahbisan. Ini tak hanya mereka lakukan di hari ini, tapi telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Sebelum memasak, mereka juga menyelenggarakan upacara penyembelihan hewan yang nantinya akan dihidangkan. Juga ada semacam gladi resik untuk upacara puncak besok paginya. Di hari upacara, ada satu rumah yang dijadikan dapur umum, di mana ibu-ibu memasak makanan untuk hidangan makan siang perayaan penahbisan. Beberapa dari mereka mengenakan jilbab, tak urung ikut terlibat membantu. Ketika kami bertanya, mereka mendapat bagian untuk memasak makanan non-babi. Kami sungguh kagum, melihat bagaimana seluruh desa terlibat dalam upacara ini.

Tanggal 27 September 2017, jam 9 pagi, upacara penahbisan Inno dilaksanakan. Rangkaian acara puncak ini dimulai dari penjemputan Inno di rumah adat Koten, diiringi dengan tarian, kemudian berjalan menuju lapangan untuk berkumpul dengan para tamu undangan dan para romo, sebelum menuju lokasi upacara di depan gereja. Hingga kemudian tiba waktunya, iringan gong dan penari mengawali barisan para romo dan diakon menuju halaman depan gereja, untuk memulai upacara penahbisan. Kursi telah penuh oleh para penduduk desa WuluBlolong, Lewokebo, Lewohedo, dan juga tetangga desa lainnya, yang ingin menyaksikan dan mengikuti upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo. Upacara penahbisan dipimpin oleh Bapak Uskup Larantuka. Seluruh urutan upacara keagamaan diberlangsungkan dengan khusyuk, diiringi oleh paduan suara gereja yang khidmat, hingga akhirnya, resmilah Diakon Inno menjadi Romo Inno.

Acara siang itu masih belum usai, sembari dihidangkan makan siang, dimulailah pesta perayaan penahbisan Romo Inno. Selain sambutan-sambutan: dari Bapak Wakil Bupati, Bapak Uskup; Romo Inno mengundang Mas Yudi dan Opu Silvester, rekan kami dari Larantuka, untuk memberi sambutan sekaligus mengesahkan peluncuran buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” milik Inno, yang dibagikan gratis, sebagai hadiah penahbisan. Berbagai macam pertunjukan dipentaskan di atas panggung dalam perayaan siang itu, termasuk di antaranya pentas teater dari Sanggar Sina Riang milik Mama Vero, salah satu mitra Teater Garasi di Adonara Timur, Flores. Mama Vero dan teman-teman Sanggar Sina Riang mementaskan karyanya berjudul “Ema Nene Koten”, bercerita tentang kisah hidup Romo Inno, dan impian dari seorang nenek yang kemudian terjawab, dilengkapi dengan doa dari seorang Ibu.

Seluruh penduduk telah menunaikan perjalanan upacara adat hingga upacara penahbisan Romo Inno. Mereka tampak gembira, terutama keluarga dari Romo Inno. Empat hari kami bersama mereka, mereka menyambut kami dengan hangat, membuat kami merasa dekat dan seperti memiliki keluarga lainnya. Kami harus pulang keesokan paginya, tak sempat mengikuti misa perdana Romo Inno (maaf Romo…). Tapi pertemuan kami dengan Solor Timur: Lewohedo, Lewokebo, Wulublolong, dan desa lainnya (kami sempat juga berkunjung ke benteng Lohayong) telah membuka sesuatu yang baru di benak kami masing-masing. Bagi saya sendiri, baru kali ini, saya melihat balutan adat dan ritual agama yang kental berpadu satu sama lain. Adat seperti tak menghalangi di tanah Flores ini, tapi ia yang justru menghantarkan perjalanan (dulunya) frater Inno pada salah satu puncak pengabdiannya kepada Tuhan sebagai Romo. Kedekatan adat pada kehidupan mereka, yang telah saya rasakan sejak moke yang disuguhkan pada saya ketika menyeberang dari kota Larantuka ke Solor Timur melalui pelabuhan kecil dekat desa Lewohedo; hingga ke acara puncak upacara penahbisan.