Kerja Gali Sumber: Catatan Pendek Tentang Proses Riset (Menuju Penciptaan Karya)

 Oleh Hadiatul Hasana

Hal yang segera saya ingat ketika berbicara mengenai seni adalah saat saya menyimak penyair Dewi Nova bercerita melalui puisinya. Dia menyentuh pendengarnya untuk merasakan isi dan makna dari setiap bait puisinya. Salah satu kalimat puisi yang selalu saya ingat berbunyi “Aku kau matikan, tapi tidak nyaliku dan keteguhanku”. Puisi tersebut mengekspresikan situasi perempuan buruh dalam memperjuangkan keadilan yang tiada henti mereka suarakan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

***

Selama riset yang kami lakukan, banyak hal yang menjadi pelajaran dan pengalaman dalam menciptakan karya. Mulai dari awal pertemuan ketika kami mulai berkumpul untuk membicarakan ide-ide dari masing-masing kepala. Pada awal diskusi bersama kawan Reny dan mas Syam kami merasa kebingungan saat merencanakan proses penciptaan bersama mengenai isu sosial di Sumbawa. Membuat karya seni adalah hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kami membahas terkait dua isu di Sumbawa, yaitu isu lingkungan dan Perempuan Buruh Migran (PBM) di Sumbawa. Fokus yang dibahas adalah tentang kaitannya isu lingkungan dengan problem pangan khususnya pembukaan lahan baru untuk penanaman jagung dan pertambangan. Kami membahas bagaimana kondisi lingkungan saat ini, apa penyebabnya, apa dampaknya, mengapa itu terjadi, sejak kapan dan daerah mana saja yang menjadi sasaran proyek tersebut? Sementara pada isu buruh migran kami membahas terkait bagaimana kondisi mereka saat menjadi buruh migran, permasalahan apa yang dihadapi, apa penyebab dan dampaknya, siapa aktor yang terlibat, bagaimana proses advokasi bagi buruh migran yang sedang menghadapi kasus? Kami membahas dua isu tersebut serta bayangan selanjutnya untuk penciptaan bersama. Bagaimana menentukan pertanyaan dan melakukan proses gali sumber? Beberapa dari pertanyaan itu belum mendapatkan titik terang dan menggantung.

Dua isu tadi muncul ketika Workshop Penciptaan Bersama di Istana Dalam Loka yang diinisiasi oleh Teater Garasi dari Yogyakarta. Dua isu itu jadi pijakan pertama untuk berangkat ke proyek yang lebih panjang: membuat karya berdasarkan data terkait isu sosial di Sumbawa.

***

Ini adalah awal perjalanan yang cukup menarik dalam merumuskan pertanyaan yang kemudian menjadi pintu masuk dalam melihat dan mengkritisi setiap isu di Sumbawa. Kami menghabiskan waktu selama tiga hari pada tahap merumuskan pertanyaan, sebab setiap orang memiliki ketertarikan isu yang berbeda. Namun isu yang berbeda-beda tersebut  membuat kami merasa bahwa betapa di Sumbawa banyak sekali soal. Kaitannya dengan proses penciptaan, ada empat isu yang muncul, antara lain adalah (1) isu sosial di pulau Bungin terkait dengan pola pemukiman yang padat dan reklamasi yang terus berlangsung hingga sekarang, (2) isu generasi muda Sumbawa terkait kasus kriminalitas, (3) isu lingkungan terkait pembukaan lahan baru untuk proyek penaman jagung dan pertambangan, (4) isu buruh migran terkait kekerasan dan tiadanya perlindungan hukum dari negara.

Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan, baik pertimbangan ide maupun teknisnya, kami memilih isu generasi muda dan buruh migran di Sumbawa.  Pada isu buruh migran, hal pertama yang menjadi pertanyaan kunci adalah apa yang membuat keluarga buruh migran enggan bersolidaritas terhadap keluarga buruh migran yang bermasalah? Sementara pertanyaan kunci pada isu generasi muda Sumbawa adalah kenapa praktik kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? Pertanyaan tersebut membawa kami pada tahap memetakan kemungkinan narasumber untuk menggali informasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya, yaitu tahap riset.

Pada hari keempat dan kelima, kami mewawancarai narasumber dari instansi pemerintah. Kemudian kami bertemu dengan beberapa narasumber lain, yaitu Ibu Siti Hajar dan Bapak Kusmadi Gani (mantan buruh migran), Ibu Husnulyati dari Solidaritas Perempuan Sumbawa, Roni Septian, Piranha Sumbawa MotorClub, dan Slanker Sumbawa. Selama proses riset ini, kami melakukan pembagian kerja demi efektifitas dan efisiensi waktu.

Pada hari keenam kami masih melakukan riset. Setelah berbincang dengan Sendi, seorang mantan buruh migran (kami juga berbicara mengenai generasi muda Sumbawa), kami mengevaluasi kembali pertanyaan kunci untuk kedua isu tersebut, apakah pertanyaan itu masih relevan? Temuan baru apa yang berhasil digali? Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk mengubah pertanyaan untuk dua isu tersebut.

Pertanyaan kunci pada isu Buruh Migran Sumbawa (BMS) yaitu: bagaimana proses yang dijalani/dialami BMS dari awal hingga akhir proses? (Pengawasan ketat di berbagai habitat BMS (CCTV)? Sihir/ jimat (cara-cara alternative perdukunan) dalam dunia BMS?)

Pertanyaan kunci pada isu Generasi Muda Sumbawa (GMS) yaitu: 1. Kenapa pelaku dan korban tindak kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? 2. Apa yang sudah dilakukan banyak pihak untuk menangani hal itu?.

Pada hari ketujuh, kami mewancarai Bapak M. Dahlan, Suami dari Ibu Rubaiyah (mantan buruh migran) dan Bapak Hasbullah, salah satu sponsor yang memberangkatkan buruh migran ke luar negeri. Bapak M. Dahlan bercerita bahwa dulu istrinya pernah bekerja di Jeddah sejak tahun 2007 sampai 2017. Pada dua tahun pertama bekerja, keluarga bisa berkomunikasi dengan Ibu Rubaiyah dengan lancar, namun setelah itu, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Ibu Rubaiyah dan juga dengan majikannya. Berbagai upaya dilakukan M. Dahlan untuk bisa mengetahui kondisi istrinya. Akhirnya pihak keluarga mulai melaporkan kasusnya ke Depnaker, juga kepada LSM yang menangani kasus buruh migran, dan juga pergi ke dukun berkali-kali demi menolong istrinya. Setelah delapan tahun perjuangan dan usaha dilakukan M. Dahlan, akhirnya Ibu Rubaiyah bisa pulang namun dalam keadaan depresi dan stres, bahkan tidak lagi mengenali suaminya.

Pada hari kedelapan dan kesembilan kami masuk pada tahap improvisasi. Dari data riset yang telah diperoleh dan menurut kami menarik, kami ambil untuk dikembangkan dan diproyeksikan menjadi berbagai elemen: mulai dari tulisan, gerakan, dan suara. Pada tahap ini kami mencoba melakukan improvisasi dengan cara yang berbeda-beda: ada yang membuat sketsa kejadian/peristiwa, ada yang membuat tulisan/naskah, dan lain-lain. Sembari mengolah data ke tahapan bentuk, kami juga memikirkan potensi (inspirasi) data-data itu ke wujud karya.

Hari kesepuluh kami melakukan evaluasi bersama terkait tahapan-tahapan penciptaan bersama yang sudah kami lakukan. Mengingat keterbatasan waktu dan demi efektifitas kerja dan semacamnya, kami menyusun rencana kerja ke depan. Evaluasi di hari terakhir membawa kami untuk melakukan proses riset lagi, sekaligus menyusun pertanyaan-pertanyaan kunci kembali dalam rangka mendalami dan menajamkan isunya. Pada titik ini, kami belum bisa membayangkan inspirasi apa yang akan muncul dari data-data itu sampai ia mampu menggerakkan kami menciptakan karya.

 

 

Berkenalan Lewat Isu, Berbicara Dengan Tubuh

Oleh Reny Suci

Kunjungan teman-teman dari Teater Garasi pada bulan Maret adalah momen yang menyenangkan bagi saya. Pada kesempatan itu, saya berjumpa dengan kawan-kawan super santai yang datang dengan niat untuk berdiskusi tentang Sumbawa. Bagi saya, setiap diskusi santai yang dilakukan adalah ‘rasan-rasan berfaedah’. Bukan diskusi berat macam pegawai pemerintah, atau perbincangan filosofis penuh istilah sulit seperti akademisi. Kami berbicara mengenai banyak hal, hingga saya kemudian menyadari bahwa ternyata saya ini masih sangat kuper! Banyak hal yang terlewat padahal semua ada di depan mata saya.

Kunjungan kedua pada bulan April agak sedikit memalukan bagi saya. Saya merasa seperti tuan rumah yang tak siap dikunjungi tamu. Di hari pertama, saya tidak menyediakan semua barang yang dibutuhkan terkait isu yang terjadi di Sumbawa, di hari kedua saya tak bisa hadir, di hari ketiga hingga hari terakhir saya selalu datang terlambat dan harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Tapi saya sangat salut dengan kesabaran teman-teman dari Teater Garasi yang sangat santai saja menghadapi kami (terutama saya).

Hari pertama workshop cukup membingungkan bagi beberapa orang, tapi bagi saya ini adalah kesempatan yang baik untuk berdiskusi dan berbagi kegelisahan bersama. Kami berdiskusi santai di bawah kolong Istana Dalam Loka sambil menikmati kudapan dan dibuai sejuknya angin yang berhembus. Mungkin itu sebabnya diskusi kami tidak panas dan alot. Meski santai, diskusi itu merumuskan dua permasalahan yang penting untuk dibicarakan: lingkungan dan buruh mingran.

Karena berhalangan hadir di hari kedua, maka saya loncati saja ke hari ketiga. Bagi saya, materi pada hari ketiga lumayan menguras lemak karena kami diarahkan untuk bergerak dengan kata kunci tertentu. Saya terkejut ketika tubuh saya merespon dengan gerakan dan pose yang cukup aneh yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya lebih kaget lagi ketika melalui materi tersebut, saya bisa berinteraksi tanpa merasa canggung dengan Dewi, Atul dan Diana yang baru saja saya kenal. Hari keempat hingga hari terakhir, kami masih berproses dan mengikuti tahapan-tahapan yang telah dijelaskan sebelumnya. Tahap kodifikasi ini menarik karena di sini kami diminta untuk memperagakan ulang gerakan-gerakan dan pose yang sudah kami lakukan sebelumnya. Di sini saya belajar gerakan Joge’ Bungin dari Dewi, seorang penari dari Bungin dan gerakan yang dibuat oleh Syam, seorang aktifis buruh migran. Setelah itu kami diminta untuk membuat komposisi dari kumpulan gerakan-gerakan yang telah dipilih.

Kami, enam orang yang bertahan di hari kelima harus membuat komposisi. Ini membuat kami terpecah menjadi dua kubu: Syam dan teman-teman perempuan (Diana, Dewi, Mulya, Atul dan saya). Syam berpikir sendiri membuat draft cerita sederhana, sementara teman-teman perempuan sibuk menentukan urutan gerakan sesuai kode yang ada untuk membentuk cerita. Ternyata Syam lebih cepat merumuskan alur, yang kemudian kami kombinasikan dengan rincian gerakan yang telah dibuat oleh teman-teman perempuan. Proses ini menunjukkan bahwa ternyata kami memiliki pikiran yang sama walaupun berproses dengan cara yang berbeda. Hingga saat presentasi tiba, kami yang sebagian besar bukan pemain teater ternyata mampu menerjemahkan gagasan menjadi gerak dan narasi yang berawal dari kegelisahan bersama yang telah kami rumuskan sebelumnya. Presentasi ditutup dengan alunan suara Syam, gerakan tari dari Dewi dan komando dari Mulya. Saya rasa, proses itu menunjukkan bahwa kami semua telah menekan ego masing-masing demi mewujudkan sebuah karya sederhana. Terima kasih, Mas Qomar, Mbak Venti, Mas Dendy dan Mas Ridho!

Satu hal yang paling penting jika harus berbicara mengenai refleksi workshop kemarin, saya datang dalam keadaan kosong, pulang dengan kepala dan jiwa yang terisi penuh. Jika jiwa dan otak saya diibaratkan jerigen air, maka stok ilmu, pemahaman dan pengalaman yang saya punya sebelumnya saya pinggirkan dulu. Saya membawa jerigen kosong untuk diisi inspirasi, metodologi, gagasan, pandangan, sikap, kawan dan partner baru. Saya menemukan kembali bentuk komunikasi yang telah lama saya tinggalkan dan berkenalan dengan cara yang unik: melalui tubuh dan gerakan.

Kita Tidak Sendirian Jika Ada Isu Bersama yang Membuat Kita Gelisah

Oleh Mulya Putri Amanattullah

Sehari sebelum workshop kami diberi tugas untuk membawa benda 3D, teks, dan gambar 2 dimensi, saya sempat kebingungan, buat apa kita mengikuti workshop tetapi harus ada tugas yang kita kerjakan dan diminta full 5 hari, terlebih lagi yang dari lingkungan kuliah hanya saya dan Marsa, semakin bingung saya, tetapi pada akhirnya mulai mengerti setelah dibantu oleh mbak Venti.

Pada hari pertama saya membawa berita tentang kekerasan seksual, foto pelaku kekerasan seksual dan baju sekolah yang sudah dicorat-coret. Pada awal pertemuan, saya merasa ini akan biasa saja karena kesan awal yang hanya menggunakan penjelasan menggunakan papan tulis tetapi ketika diberikan waktu untuk menjelaskan dan mencari kata kunci yang tepat dari apa yang kita bawa ternyata beberapa orang merasakan hal yang sama dan sepemikiran dengan saya.  Hari pertama yang awalnya saya mengira akan ramai tetapi tidak sesuai ekspektasi.

Di hari pertama beberapa orang sudah mulai saling mengenal, beberapa pembicaraan mulai nyambung. Berlanjut di hari kedua beberapa orang mulai izin, beberapa orang mulai datang terlambat. Keseruan dihari kedua adalah kita menjelajahi pasar. Saat di pasar kita diminta berkeliling dan bertemu siap saja selama 45 menit. Saya kembali, ternyata beberapa orang sudah sampai terlebih dahulu di Istana Dalam Loka. Yah, menurut saya apa yang sudah disepakati sejak awal memang harus direalisasikan, bukan ditinggal.

Pada hari ketiga mulai datang orang yang baru dan mencoba berproses bersama, kita sudah mulai mempelajari tempo, mengembangkan pose dan lain sebagainya. Hari ketiga adalah hari paling menyenangkan menurut saya karena kita langsung pada praktiknya dan membutuhkan banyak tenaga. Seru dan banyak tertawa, banyak senyum, saling melihat ekspresi dan banyak sekali mengimajinasikan sesuatu. Kita mulai mencoba improvisasi, ternyata sulit menyatukan kepala yang tua dan yang muda, beberapa memikirkan alur agar dibuat dengan cara yang baik, beberapa lagi memikirkan ‘yang penting ini jadi’. Tetapi ternyata hal tersebut membawa dampak. Itu wajar terjadi, namun yang terpenting adalah tidak membesarkan permasalahan itu.

Hari keempat ada yang izin, ada yang masih terlambat juga, ada yang datang lagi, kesulitnya dalam improvisasi di hari keempat adalah saat pemain atau peserta selalu mencoba memberikan stimulus dan meminta respon dari orang lain tetapi ketika diberi respon dia malah tidak merespon kembali, nah ini yang paling sulit untuk disatukan. Sisi emosional orang tua dengan anak muda berbeda, perasaan orang tua juga harus lebih dalam untuk dipahami dikarenakan jam terbang mereka lebih tinggi. Akan tetapi semuanya tetap berjalan dengan lancar, dan di hari akhir hanya tersisa 6 orang saja, dan ternyata ini membuat saya kaget, tetapi mau bagaimana lagi. Kita sampai ke tahap persentasi dan ternyata berjalan dengan lancar dengan dukungan dari 6 orang yang telah berusaha memberikan yang terbaik.

Kekecewaan saya tentang workshop ini adalah ternyata sulit sekali untuk bertemu. Saya berharap bertemu dengan orang-orang yang berkesenian di Sumbawa, ternyata mereka masih ada kesibukkannya, beberapa orang tua mungkin menganggap ini tidak penting tetapi bagi saya ketika mendapatkan kesempatan itu adalah momen yang harus dimanfaatkan terlepas dari banyak atau tidaknya jam terbang yang sudah kita punya, saya berharap sekali banyak peserta yang akan mengikuti dan saling berbagi ilmu.

Saya mendapatkan ilmu, metodologi yang baru, keluarga baru, mencoba memahami sifat dan karakter orang-orang baru, cara pandang yang  baru dan ternyata kita tidak sendirian jika ada isu yang membuat kita gelisah, kita hanya perlu mengumpulkan orang-orang dengan kegelisahan yang sama dan kita realisasikan kegelisahan itu dengan berbagai media, baik itu teater, puisi dan lain sebagainya.

Ternyata untuk mementaskan sesuatu tidak perlu barang barang yang mahal, cukup dengan peralatan yg kita punya di rumah dapat kita aplikasikan sebagai alat pendukung pementasan. Pendekatan yg menarik, mudah diingat, mudah dipraktikkan, dan cara penyampaiannya materi juga tidak terlalu baku. Saya senang karena baik penyelenggara maupun peserta mampu bekerja sama dengan baik dan mudah akrab satu sama lain.

Yang paling berharga adalah rasa nyaman yg sudah terjalin selama workshop, jadi saat kembali ke rutinitas awal saya merasa ada yg kurang. Harapannya adalah ketika suatu hari nanti mengadakan workshop pihak penyelenggara bisa tegas dalam hal kedatangan, maupun kehadiran, dan sudah bisa dipastikan peserta yg benar-benar bersedia terlebih dahulu namun dalam jumlah yg tidak terlalu sedikit pula dan sebisa mungkin jika menyangkut kesenian, orang-orang yg berperan aktif dalam dunia kesenian juga lebih banyak dirangkul atau diundang, tidak hanya orang tua tetapi juga anak anak muda. Saya yakin banyak yang berperan aktif, hanya saja namanya tidak begitu didengar, agar penambahan ilmu atau pengalaman semakin bertambah. Selebihnya workshop yang berlangsung selama lima hari sangat menyenangkan dan jika ada workshop lintas disiplin part 2 di Sumbawa, saya pasti ikut lagi.

 

Seni Adalah Alat, Tinggal Rakyatlah yang Menggunakannya

(Refleksi Selama Mengikuti Workshop yang Diselenggarakan oleh Teater Garasi Bekerjasama Dengan (DKS) Dewan Kesenian Sumbawa)

Oleh Syamsudin

 

Pengentahuan saya tentang teater masih gamang, baik pengetahuan secara teknis maupun, lebih-lebih, pengetahuan atau informasi tentang Teater Garasi/ Garasi Performanca Institute.

Pada umumnya teater di Sumbawa sudah pernah ada sejak tahun 1940-an, demikian ungkap Bapak H. Hasanuddin, S.pd, kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, saat beliau membuka workshop yang berlokasi di Istana Dalam Loka pada tanggal 11 April 2018. Namun perkembangan teater di Sumbawa kecenderungan bergerak lambat, itu dibuktikan oleh minimnya minat dan pemahaman sebagian besar masyarakat Sumbawa terutama lembaga-lembaga pendidikan, seperti kampus-kampus yang ada di Sumbawa. Geliat teater justru ada di kalangan pelajar ketimbang di kalangan mahasiswa, padahal di kalangan kampus teater sangat potensial untuk dikembangakan, apalagi dewasa ini teater adalah media yang cukup representatif sebagai alat atau media dalam menyampaikan suara tentang realitas sosial hari ini, terutama di Sumbawa dengan problematikanya yang tak kunjung usai.

Sebelum saya merefleksikan workshop, saya ingin bercerita awal bertemu dengan Teater Garasi. Tepat di bulan Maret 2018 yang lalu saya kedatangan tamu dari Yogyakarta. Mereka diajak oleh mas Anton Susilo (Sumbawa Cinema Society) ke Warung Titah Cita Rasa Marhaen yang merupakan tempat saya beraktifitas dengan keluarga kecil saya.

Di warung itulah kami berdiskusi tentang isu buruh migran khususnya buruh migran asal Sumbawa. Saya didampingi oleh Roni Septian BK yang merupakan bendahara DPC SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa. Kami banyak bercerita tentang polemik buruh migran dan situasi buruh migran hari ini serta kebutuhan pokok mereka, yakni perlindungan dan perbaikan sistem serta ekonomi keluarganya.
Dari diskusi itulah yang akhirnya teman-teman Teater Garasi mengadakan kegiatan Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”. Selama lima hari (11 – 15 April 2018) kami mendapat banyak hal terutama dasar-dasar dan metodologi dalam membuat karya bersama khususnya teater.

Di hari pertama, saya sendiri masih bingung meski pemateri telah menetapkan alur atau tahapan dalam menggali isu bersama hingga nantinya melahirkan sebuah karya bersama. Bagi saya ini pengalaman pertama mengikuti workshop teater. Kami dibagi dalam dua kelompok, selanjutnya kami memaparkan isu yang sesuai dengan konsentrasi masing-masing peserta. Saya mewakili SBMI dengan isu buruh migrannya, teman-teman yang lain ada yang mengangkat tentang lingkungan, pariwisata dan lain-lain.

Sebelum masuk ke segmen penggalian isu, Qomar (fasilitator) melempar pertanyaan kepada peserta agar mendiskusikan dan menentukan tema besar, akhirnya kami bersepakat mengangkat tema Sumbawa Hari Ini. Setelah berdiskusi Panjang, kami secara Bersama-sama menentukan dua isu yang berbeda namun di satu sisi berkaitan erat juga dengan masyarakat Sumbawa hari ini, yakni isu ‘lingkungan dan perempuan buruh migran’. Menurut kami dua isu ini sangat krusial di Sumbawa hari ini.

Hari kedua kami mengadakan gali sumber di Pasar Seketeng. Praktik ini pengalaman pertama walaupun metode ini sering dilakukan dalam penggalian data persoalan buruh migran (advokasi) selama ini. Namun yang menarik adalah hasil dari gali sumber tersebut kemudian kami menubuhkan temuan-temuan aktifitas pasar yang berhasil kami rekam. Kemudian kami belajar bagaimana membuat karya kolaborasi, meski berbeda-beda namun ternyata bisa disatukan sebuah karya seni di atas panggung.

Hari ketiga, fasilitator menyampaikan tahapan-tahapan dan pengenalan terhadap improvisasi dan metode prosesnya. Hari selanjutnya kami mulai melakukan improvisasi, lalu kodifikasi, dan komposisi, yang dipandu oleh Mas Dandi dan Ridho, meski kami agak sedikit kaku dan belum benar-benar menggunakan perasaan dan tubuh. Dalam berimprovisasi saya mengusir rasa malu dan berusaha untuk lebih serius namun kadang cengengesan juga. hehehe… Maklum, masih pemula.

Hari kelima, kami dipandu oleh Mas Dendi, Ridho dan Venty. Kami melakukan presentasi dari hasil tahapan-tahapan sebelumnya. Nah, di tahap presentasi ini, kami berdisukusi menentukan alur berangkat dari dua isu, yakni Lingkungan dan Buruh Migran, dan kami berhasil mengkolaborasikan dua isu tersebut dan di saat presentasi kami awalnya agak sulit untuk menentukan ending ceritanya walaupun pada akhirnya kami berhasil menuntaskannya dengan sempurna. Hehehehe…, menurut kami begitulah sebagai pemula.

Demikian tentang refleksi selama mengikuti workshop teater selama lima hari, banyak hal yang secara individu saya dapatkan lewat kesempatan ini, dan yang tak kalah penting, Teater adalah media atau alat ideal yang bisa digunakan di Sumbawa hari ini, seperti kata Mas Anton, “seni adalah alat, tinggal rakyatlah yang menggunakannya.” Terimakasih banyak atas ilmu selama lima hari dari Teater Garasi Yogyakarta. Semoga jaya dalam karya….

Pocèt dan Perjalanannya (Menyelesaikan Apa yang Sudah Saya Mulai)

Catatan pendek dari seseorang yang terlanjur jadi sutradara

oleh Fikril Akbar

13 mei 2017, awal saya bertemu dengan Teater Garasi dalam workshop penciptaan ‘Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia’. Pada hari-hari sebelum pertemuan ini berlangsung saya dengan Tocil Tanah Garam a.k.a Dwi Fitriyanto selaku ketua Sanggar Seni Makan Ati  bercakap ringan kemungkinan pertunjukan macam apa yang bisa kita lahirkan dari pertemuan tersebut, yang sebelumnya pihak sanggar memberikan saya tanggung jawab untuk mengurus masalah teater di sanggar ke depan yang ini juga menjadi alasan mempercayakan saya untuk mengikuti kegiatan (workshop) semacam ini. Hampir tidak banyak–kalau saya tidak mau mangatakannya tidak ada– teater yang bergerak mandiri di luar kampus di Pamekasan. Saya yang pernah berkecimpung di teater kampus tentu tahu selama ini kegiatan teater hanya ada dan tumbuh di dalam kampus walaupun gerakan untuk membangun publik teater dalam masyarakat terus berada dalam agenda mereka.

Saat workshop berlangsung, Keinginan untuk berkarya tidak terbendung. Bagaimana tidak, metodologi yang bersifat terbuka untuk semua jenis karya (teater, seni rupa, musik dan sastra) yang coba ditawarkan Teater Garasi membuka mata kami bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa kita upayakan untuk melahirkan karya. Mempunyai pijakan yang kuat dalam setiap berkarya adalah beberapa hal menarik yang saya dapat dari perjumpaan ini, kreator tidak melulu berkarya dengan ide-ide abstrak. Metodologi ini memberikan kesempatan kepada saya–sebagai manusia biasa yang tidak jenius– untuk bisa terus berkarya. Bahkan salah satu teman peserta workshop tidak berlebihan kiranya ketika dia bilang bahwa metodologi ini membuat kita enggan berpaling dari berkesenian.

Berbeda dengan workshop yang pernah dikuti saya dan teman-teman sanggar, kontak yang terus terjalin antara kami Sanggar Seni Makan dan Teater Garasi terus bergulir di luar yang kami bayangkan sebelum pertemuan awal. Saya kira pertemuan akan selesai setealah workshop usai atau berakhir di layar gawai—layar pamer media sosial.

Keinginan untuk menggarap pertunjukan saya coba untuk wujudkan dengan mengumpulkan sebagian teman-teman yang masih aktif berkesenian di dalam dan luar kampus. Pada pertemuan ini saya mencoba membagikan hasil workshop sebanyak yang saya ingat, isu-isu mulai dibicarakan. Dari isu besar sampai isu kecil; dari isu global sampai masalah pribadi mencoba dibicarakan untuk ditawarkan di panggung pertunjukan. Berbagai tanggapan muncul tentang workshop yang saya ikuti.

Aku kok gak denger kabar ya?”, “oh, gitu ya, metode semacam itu saya juga pernah dapat”, “patut dicoba nih peluang untuk menteaterkan masyarakat dan memasyrakatkan teater yang terus aku pikirkan memang”, “kalo yang begini-begini nih, dan untuk yang pemula-pemula aja, gak cukup nih waktunya untuk pertunjukan yang kalo memang ingin di wujudkan dalam waktu tiga atau empat bulan, mana risetnya lagi. riset tuh gak sebentar, gak sesederhana itu.

 Negosiasi terus kami lakukan, mulai dari menyusun jadwal yang bisa kita capai di setiap pertemuan sampai kemungkinan apa yang bisa kita wujudkan di panggung pertunjukan. Dari  pertemuan ini yang menjadi kegundahan saya adalah obrolan di akhir-akhir percakapan, di mana kita sibuk mengidentifikasi bentuk teater kita di Pamekasan dan bagaimana kaitannya paling tidak di wilayah Jawa Timur. Pertemuan ini berakhir kira-kira dengan kalimat dari seorang teman “kita harus mencari atau menemukan identitas; style/gaya pertunjukan kita”.

Pertemuan berikutnya kami mulai mengumpulkan keresahan; masalah pribadi, isu sosial, ekonomi, budaya, agama, modernitas, politik dan isu kultural, kemudian diurut dari isu besar dari tertangkapnya bupati karena korupsi sampai isu tidak penting seperti pernikahan dini. Dari daftar isu yang kami kumpulkan mengajak kami pada perjumpaan kedua dengan Teater Garasi. Kami dan pihak Teater Garasi mulai mendiskusikan isu yang kami kumpulkan yang pada waktu itu kami keliru menyebutnya dengan rancangan tema. Yang saya dengar di hari-hari kemudian bahwa hal ini juga menjadi perbincangan serius di meja mereka.

Isu keresahan yang kami kumpulkan semua mengenai batas runtuh, dinding Madura yang melemah; semua mengenai identitas Madura, diserangnya gagasan atas kemaduraan oleh nilai lain di luarnya. Ugoran Prasad waktu itu melihat isu-isu yang terkumpul seperti kasus Amerika yang ditawarkan Donald Trump yaitu Amerika yang seolah tunggal dan selesai, lupa kalau Amerika itu hybrid: disusun oleh yang banyak, dan nilai-nilainya terus tumbuh. Jika kita meminjam slogan kampanyenya adalah “Make Madura Great Again”, yang sebenarnya ini hampir jadi tema atau judul dari pertunjukan kami namun urung karena dirasa obrolan di panggung akan berat kalau kita bicara spesifik dan mendalam di setiap isunya; kemudian bagaimana mencari titik hubungannya lalu dari titik mana kita membahas semuanya sekali pukul-dan tentu saja isunya akan banyak direduksi. Pilihan yang lain adalah melihat sudut pandang, gagasan kemaduraan yang akan menjadi pusat percakapan. Dan yang terakhir adalah mengambil isu yang paling tidak penting.

Isu pernikahan dini adalah isu minor dalam percakapan kita, kenapa isu berada di urutan terakhir juga karena pengaruh hirarki pengetahuan kami yang artinya isu ini tidak banyak kami tahu. Pilihan mengambil isu pernikahan dini adalah karena posisi kita sebagai seniman memilih untuk memposisikan teater sebagai alat belajar atas isu yang seolah dibiarkan terjadi. Untuk kemudian mengajak masyarakat mengobrolkan kembali dan bersama-sama mencari solusi–kalau tidak alternatif —masalah pernikahan dini.

Dalam prosesnya tahapan kerja gali sumber dan improvisasi terus kami lakukan, walaupun improvisasi di awal kami kerap melakukannya di level meja. Dalam data-data yang kami himpun kami sampai pada titik dimana kami tidak tahu harus mencari data macam apalagi. Kami nyaris kalah. Kami kebingungan tidak berdaya dihadapan data-data itu, mereka seakan-akan berebutan ingin mengambil tempat dalam pertunjukan. Mereka tidak berhenti mengganggu saya setiap malam. Pada saat yang sama kami mulai berguguran, banyak teman mulai mengundurkan diri dari proses ini, mereka menyatakan sedikit kemungkinan untuk terus terlibat sampai hari pertunjukan. Dan sisanya sibuk dengan agenda besar mereka.

Pada kondisi seperti ini saya harus mencari teman yang bersedia untuk diajak mengobrol sekedar menumpahkan apa yang ada dikepala saya atau mengolah data yang kami temukan, Untuk mencoba menawarkan dan mengharap umpan balik sebagai upaya—paling tidak–lahirnya bayangan pertunjukan. Dan beruntunglah teman-teman Sivitas Kothèka selalu bersedia saya sibukkan.

Dalam upaya yang kesekian, pada hari menjelang kira-kira satu bulan sebelum pertunjukan, kami mulai mencari nama-nama baru sebagai pemenuhan dalam bayangan pertunjukan yang mulai muncul. Kami menlemparkan kepada mereka temuan-temuan kami dan mencoba menggali dari mereka pribadi terkait kasus fenomena dalam tema yang kita angkat. Dari merekalah sudut pandang baru ditemukan. Saya mulai membuat potongan-potongan naskah sebagai bahan latihan dan dibongkar pasang yang kemudian kita menyebutnya struktur pertunjukan. latihan berjalan. namun saya semakin gelisah ketika kabar bahwa bapak sedang sakit dan mengharuskan saya untuk pergi ke ujung pulau seberang untuk merawatnya. Selama seminggu saya dan teman-teman aktor hanya terlibat dalam kontak virtual selama latihan.

Selama itu pula saya terus gelisah karena target dalam latihan belum tercapai. Dan kabar bahwa paman saya meninggal dunia saat merawat bapak membuat saya berpikir dan bertanya apakah ada kemungkinan untuk menunda peristiwa semacam itu, kenapa harus hari ini ketika saya tidak bisa berjumpa untuk yang terakhir. Saya kecewa dia pulang saat saya tidak ada di dekatnya. Dua hari setelah kabar itu, Saya behasil memenuhi harapan bapak untuk menemaninya pulang ke Madura, saya tidak tahu kalau yang bapak maksud pulang adalah pulang yang sebenar-benarnya. Bapak menyusul paman. Dan sekali lagi saya tidak berdaya menghadapi waktu. Pada saat seperti ini saya seperti dituntut untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya tidak menyangka pertunjukan ini akan lahir diantara dua kematian.

Pocèt adalah sebutan bahasa Madura untuk buah-buahan yang baru lahir (belum layak dikonsumsi). Dan itu merujuk pada hubungannya dengan fenomena pernikahan dini dan bagaimana proses pertunjukan ini terjadi. Judul ini muncul pada saat hari pertunjukan sudah menghitung jari ketika kami semua gelisah karena banyak ide-ide di awal pertemuan belum menemukan artikulasi yang tepat dalam panggung pertunjukan. Bongkar pasang struktur pertunjukan terus dilakukan. Mendatangkan teman-teman pelaku teater kampus dalam latihan pun kami lakukan sampai sebelum hari pertunjukan sebagai upaya untuk koreksi sehingga kami pun semakin yakin dengan apa yang coba diwujudkan.

Pertunjukan ini lahir dalam dua kali pertunjukan. Dalam susana pernikahan di kampung (Sanggar Seni Makan Ati), Pocèt untuk pertama kali bertemu dengan penontonnya, dengan lingkungan di mana dia dierami. Dan pada pertunjukan kedua dia lahir kembali sebagai Pocèt yang lain dalam suasana ludruk di aula pertunjukan Vihara Avalokitesvhara, bertemu dengan umat lain dari agama yang berbeda.

Saya merasa Pocèt–sebagai pertunjukan—masih harus diolah karena dia tidak akan berhenti tumbuh dalam ruang kreatif kami sebagai sebuah hasil kerja kolektif. Dia masih meminta pertanggungjawaban untuk terus kami asuh. Entah dia akan lahir dalam ruang karya yang seperti apa lagi, saya ragu menjawabnya. Yang jelas beberapa diantara kami berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi dalam workshop yang berbeda mulai berencana mewujudkannya dalam pertunjukan musik. Apakah itu Pocèt yang lain, saya belum tahu. Namun dari peristiwa ini sepertinya akan mulai lahir pertunjukan-pertunjukan lain—semoga saya tidak salah mengira-ngira. Yang apapun bentuknya nanti saya tidak sabar untuk mengunjunginya.

 

Fikril Akbar adalah anggota Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan dan sutradara pertunjukan Pocèt (#SeriPentasAntarRagam).

Pengalaman Pertemuan Masyarakat Lumpur dengan Teater Garasi

Oleh: R. Nike Dianita Febriyanti

Pada awal Februari 2017 Komunitas Masyarakat Lumpur kedatangan dua orang pegiat teater. Erythrina Baskoro dan Shohifur Ridho’i bertandang ke sanggar kami atas nama Teater Garasi. Jujur saja sebelumnya saya tidak tahu Teater Garasi, tapi setelah kehadiran keduanya saya jadi penasaran, secara tidak langsung jadi sering cari tahu kegiatan-kegiatan Teater Garasi. Pada awal pertemuan saya pribadi tidak berpikir apa-apa, saya hanya berfikir bahwa setiap kali berjumpa dengan orang baru maka bertambahlah relasi pertemanan saya, itu saja.

Perjumpaan kami dengan Teater Garasi di bulan Februari bukanlah sebuah perjumpaan yang sekadar kunjungan. Mengapa demikian? Karena di bulan April Teater Garasi yang kali ini diwakili Gunawan Maryanto kembali singgah di Sanggar kami membincangkan banyak hal, pengetahuan mengenai dunia kesenian, baik tentang teater maupun di luar teater.

Komunitas Masyarakat Lumpur benar-benar merasakan relasi yang cukup berpengaruh ketika Erythrina Baskoro datang menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2 yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur di Gedung Pratanu, Pendopo II Bangkalan.

Tidak berhenti di sini, di bulan berikutnya kami menerima undangan Workshop Penciptaan yang bertajuk Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia. Workshop ini berlangsung selama lima hari pada tanggal 13-17 Mei 2017, diselenggarakan oleh Teater Garasi bekerjasama dengan komunitas-komunitas teater dan sastra di Kabupaten Sampang, tempat diselenggarakannya workshop tersebut. Jumlah peserta kala itu kurang lebih 20 orang, perwakilan dari empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Workshop Penciptaan ini cukup memberi referensi yang berharga dan berpengaruh bagi keberlangsungan teater di Madura. Metode penciptaan yang ditawarkan oleh Teater Garasi membuka rongga pengetahuan dari perspektif lain bahwa sebuah karya sebaiknya diciptakan dengan tahapan dan target yang jelas.

Pasca Workshop Penciptaan di Sampang, saya berpikir bahwa waktu pertemuan dengan teman-teman dari Teater Garasi akan terbatas. Kala itu saya yang masih lugu tidak dapat membaca rencana apa yang sedang Teater Garasi ingin bangun di Madura, yang terbesit dalam pikir saya mengapa Garasi begitu baik membagi banyak pengetahuan dan perjalanan kelompoknya dalam bekesenian dengan begitu ramah dan terbuka. Di luar presepsi itu, saya ingat betul saat bulan Ramadhan tanggal 5 di bulan Juni 2017, saya mendapati handphone saya berbunyi tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Sebuah pesan dari Mbak Ery, begini kalimatnya “Selamat pagi Nike, apa kabar? Ini Ery-Teater Garasi, Gimana sudah ngobrol sama Mas Helmy?” Membaca pesan itu saya sedikit terkejut, bingung, dan bertanya-tanya. Tidak lama setelah itu Mbak Ery menelepon saya. Sebuah tawaran untuk saya mengikuti kegiatan residensi di Teater Garasi bersama satu teman dari Sampang dan dua orang dari Flores. Saya gemetar, bahagia, susah, bimbang menghantui kala itu. Ingin sekali rasanya langsung menerima kesempatan langka itu, akan tetapi tawaran durasi kegiatan yang selama enam minggulah yang menjadi pertimbangan saya. Sangat berat sekali sebab harus meninggalkan pekerjaan dan terutama izin kepada orang tua yang masih membuat diri saya sendiri merasa ragu.

Berjalannya waktu, semua yang terasa ragu akhirnya dapat terlewati. Izin orang tua sudah dikantongi, untuk urusan pekerjaan juga sudah mendapatkan izin. Sampailah pada tanggal 10 Juni 2017 saya berangkat dengan teman dari Sampang, Syamsul Arifin namanya.

Selama enam minggu di Jogja dalam rangka residensi, begitu banyak hal berharga yang  saya dapatkan. Mulai dari bertambahnya teman, mengenali banyak tempat di Jogja yang berkaitan dengan seni maupun tidak, menonton dan menghadiri acara-acara kesenian yang sedang berlangsung di Jogja. Sungguh, semuanya adalah hal yang sangat berharga bagi pengalaman hidup saya dan satu hal lagi yang membuat saya tak berhenti merasa beruntung berada di Jogja, tak hanya mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, saya juga belajar banyak hal mengenai Jogja dan Teater Garasi. Tentang seniman, manajemen, dan juga karya-karya Teater Garasi yang sangat menginspirasi dalam berkesenian di tempat saya tinggal, Bangkalan.

Setelah seluruh kegiatan Residensi selesai keesokan harinya saya diajak untuk membahas banyak hal. Dari beberapa hal yang paling ditekankan adalah tentang apa yang akan saya lakukan setelah kembali ke komunitas atau ke kampung halaman. Tentu saya akan membuat sebuah karya pertunjukan, karena memang itu yang terbersit di benak  kala itu. Saya juga diminta untuk menyampaikan beberapa ide awal yang sedang ingin saya rancang, atau apa yang mungkin saya gelisahkan saat ini. Saya menyampaikan dua poin yang mengganggu pikiran saya yaitu tentang perempuan (istri) pelayaran dan pertunjukan Soto Madura. Kedua kegelisahan ini yang saya sampaikan di hadapan rekan-rekan Teater Garasi, saya sedang gelisah dengan pertunjukan Soto Madura yang sebelumnya pernah saya teliti sebagai objek skripsi, menurut saya penelitian itu masih belum tuntas dan ingin rasanya saya juga mencoba untuk lebih mendalami lagi seperti apa pertunjukan Soto Madura itu, dengan terjun langsung ke dalam pertunjukannya.

Setibanya di Bangkalan, saya seperti baru pulang umroh. Teman-teman meminta saya menceritakan apa saja kisah-kisah dan pengalaman yang didapat selama di Jogja, bagaimana kehidupan di sana, betah atau tidak hidup di Jogja dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari setiap teman dan keluarga yang saya temui, situasi ini berlangsung selama satu minggu. Saya tidak pernah lelah bercerita pengalaman kepada teman-teman terutama kepada teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur. Bagaimana kesenian di Jogja begitu ramai dan hidup, sekecil apa pun sebuah karya di Jogja selalu dihargai. Diskusi-diskusi yang berlangsung di Jogja sungguh sangat ramah. Demikian saya bercerita dengan girang, sampai-sampai rasanya ingin kembali ke Jogja lagi.

Pada tanggal 4 September 2017 menjadi awal langkah saya memulai proses, saya mengajak beberapa calon aktor yang berdomisili Bangkalan untuk bertemu dan menawarkan konsep pertunjukan yang akan dilalui dalam proses secara bersama. Tanggal 6 September 2017 saya kembali menjumpai aktor yang kebetulan sedang tinggal di Surabaya. Tidak mudah mengambil keputusan ini, mengajak proses aktor-aktor yang memiliki jarak cukup jauh dengan tempat proses, akan tetapi segala risiko sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Berbekal dari pengalaman yang didapat selama workshop di Sampang dan Residensi di Jogja saya memakai pendekatan yang biasanya digunakan Teater Garasi dalam proses penciptaan karyanya dengan tahapan menemukan pertanyaan, riset/observasi, improvisasi, komposisi, kodifikasi, presentasi. Kami mulai mengaplikasikan tahapan yang digunakan oleh Teater Garasi dalam penciptaan karya kami di Bangkalan. Selama satu bulan kami melakukan tahapan latihan pra conditioning sambil lalu memasuki tahapan pertama yaitu membincangkan pertanyaan. Setelah satu bulan berlalu kami mulai melakukan riset (turun ke lapangan) bertemu dan berkomunikasi langsung dengan perempuan (istri) seorang pelayaran. Dari hasil riset, selanjutnya kami mendiskusikan bersama hasil temuan, mengembangkan pertanyaan dan membincangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dari hasil observasi yang pertama, kami mencoba melakukan improvisasi. Saat sampai pada tahapan ini, tim kekaryaan kami mendapat tawaran untuk pentas di Gresik Art Festival. Tawaran ini kami diskusikan dan hasilnya telah kami sepakati untuk mengambil kesempatan ini sebagai langkah work in progress. Oleh karena itu, kami mencoba mengolah data hasil observasi dan mempercepat tahapan latihan sebagai kebutuhan pertunjukan di Gresik Art Festival. Kami berhasil mengemas pertunjukan kecil yang diberi judul “Suara Perempuan” dalam durasi kurang lebih 25 menit.

Setelah pertunjukan “Suara Perempuan” dipentaskan, banyak evaluasi dan masukan yang membangun sebagai landasan untuk melanjutkan proses karya ini. Saya dengan tim kembali ke tahapan proses yang sudah tersusun sebelumnya. Kami melakukan tahap improvisasi dengan tambahan data. Selanjutnya kami melakukan kodifikasi sampai pada tahap komposisi. Menjalankan latihan sampai pada tahap ini benar-benar tidak mudah, mengingat domisili aktor yang tidak hanya berasal dari Bangkalan, melainkan juga di Surabaya. Terkadang, saya sebagai sutradara harus menjalankan latihan secara terpisah. Beberapa hari di Surabaya, beberapa hari lagi di Bangkalan. Proses ini melelahkan tapi juga menyenangkan. Saya pribadi menjadi lebih tertantang dengan adanya situasi ini, belajar manajemen waktu agar dapat efisien menjalankan target. Jatuh bangun sering terjadi, di tengah proses pernah rasanya ingin menyerah karena secara kerja kolektif kami sebagai komunitas saya merasa masih sangatlah kurang. Dari situ pula kemudian saya mempelajari bahwa kesenian merupakan kerja kolektif itu benar harus disadari dan penerapannya dalam bentuk kesadaran individu. Komunitas Masyarakat Lumpur harus lebih banyak belajar hal yang seharusnya mendasar ini.

Detik-detik menjelang pertunjukan, segala persiapan menjadi semakin gencar dilakukan. Persiapan panggung, properti, musik, kostum, publikasi, dan lain-lain. Tidak lupa kami mendiskusikan kembali terkait dengan judul pertunjukan yang akhirnya kami sepakati untuk merubah judul menjadi Perempuan dan Kapal yang Hilang. Seluruh tim bertanggungjawab pada tugasnya masing-masing sampai pada hari pertunjukan berlangsung. Proses panjang ini tentu saja tidak lepas dari bimbingan Teater Garasi, dengan ketersediaannya selalu memantau progres apa saja yang telah kami capai. Dengan setia mendampingi saya dan teman-teman untuk melalui kesulitan-kesulitan dalam langkah kami mewujudkan pertunjukan ini.

Dan tibalah hari pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, sepenuhnya saya percaya kepada seluruh tim bahwa mereka akan menjalankan tugasnya masing-masing. Meskipun masih terdapat kendala di sana sini terutama pada teknis saat pertunjukan berlangsung, semua itu terasa ringan dengan kehadiran penonton yang mencapai kurang lebih 500 orang. Sungguh, pertunjukan ini sepenuhnya telah kami persembahkan untuk seluruh penonton khususnya warga Bangkalan. Di antara sekian banyak penonton mereka hadir dengan tujuan masing-masing. Seluruh elemen berkumpul dan dengan seksama telah turut menjadi bagian dari pertunjukan Perempuan dan Kapal Yang Hilang ini. Sebagai sutradara saya tidak menyangka bahwa penonton akan memenuhi Pendopo Pratanu. Teater umum di Bangkalan memang sepi, Teater di Bangkalan tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah. Oleh karena itu beberapa penonton menyampaikan rasa haus dalam menonton pertunjukan teater semacam ini. Mereka berharap kepada Komunitas Masyarakat Lumpur untuk konsisten menggelar pertunjukan teater yang dapat di konsumsi oleh masyarakat umum.

Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya justru merasa takut kehilangan kesempatan untuk bisa melakukan proses besar seperti ini lagi. Proses kekaryaan ini sungguh sangat berharga, karena dengan proses ini saya pribadi banyak belajar tentang hal-hal yang baru. Misalnya, bagaimana mengatur waktu latihan dengan kepentingan masing-masing individu yang beragam. Bagaimana menggagas sebuah karya secara kolektif, Bagaimana karya ini dapat berkomunikasi dengan baik kepada penonton. Sungguh tidak mudah, tapi apa pun hasilnya yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kami telah berhasil melalui proses sampai pada tahap pertunjukan, bukan perkara sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan. Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya tetap berharap akan terus memiliki kesempatan berproses yang lebih baik lagi.

Pertemuan Komunitas Masyarakat Lumpur dan Teater Garasi juga memberi banyak pelajaran berharga kepada kami sebagai komunitas terutama dalam pengelolaan kelompok. Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang telah memberi motivasi kepada anggota komunitas lainnya, untuk kembali melanjutkan produksi teater di tahun 2018.

 

R. Nike Dianita Febriyanti adalah anggota Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan sutradara Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, satu karya yang menjadi bagian dari #SeriPentasAntarRagam (2017).

Tentang Jalan-Jalan ke Jogja (Catatan Residensi Seniman Teater Garasi-2017)

Oleh Eka Putra Nggalu

Di Cuba de Libre

Sampah-sampah adalah pengetahuan

Seperti pengetahuan-pengetahuan

Adalah tumpukan sampah

(Jogja, 2017)

 

Saya menyambut dengan gembira tawaran dari teater Garasi kepada saya untuk melakukan residensi artis di Yogyakarta selama kurang lebih enam minggu, mulai dari tanggal 9 Juli-24 Agustus 2017. Saya gembira karena residensi ini menjadi kesempatan pertama saya jalan-jalan ke luar NTT, sesuatu yang saya rindukan sejak lama dan belum pernah kesampaian karena terhalang oleh banyak faktor. Selain kerinduan, jalan-jalan ke luar NTT juga saya pandang sebagai kebutuhan. Ini dalam kapasitas saya sebagai anak muda yang perlu banyak pengalaman, posisi saya dalam konstelasi masyarakat di Maumere (kota asal saya) sebagai kelas menengah-katolik (mayoritas), berpendidikan baik, yang juga butuh referensi lain sebagai pembanding (saya mahasiswa STFK Ledalero, satu dari sedikit sekolah tinggi bermutu di NTT), dan sebagai seorang seniman yang sedang merintis sebuah komunitas yang sedang bergulat dengan berbagai kemungkinan pengembangan dan kebutuhan untuk secara mandiri menyokong keberlangsungan hidupnya.

Dalam mengikuti residensi ini, saya tidak secara khusus menempatkan teater atau seni pertunjukan sebagai fokus yang akan saya dalami. Dengan sadar, saya mengarahkan diri saya untuk melihat dan mengalami sebanyak-banyaknya aktivitas dan peristiwa dalam kehidupan saya di Jogja. Saya ‘bermain-main’ dengan jarak dalam menempatkan diri saya ketika saya berhadapan dengan berbagai program yang ditawarkan teater Garasi pun dengan aktivitas kesenian, diskusi-ilmiah, dan kehidupan sosial yang saya jumpai dan alami dalam hari-hari saya di Jogja. Konsekuensi dari pilihan saya ini adalah saya mungkin mendapat deskripsi yang luas tentang lanskap Jogja sebagai kota dengan akivitas kesenian yang tinggi, kota pelajar dengan tradisi intelektual yang baik, kota tempat banyak komunitas dibangun sebagai ruang advokasi isu-isu sosial, ekspresi kesenian dan aspirasi politis, hingga produksi pengetahuan. Tentunya, seluruh hal ini saya alami dalam berbagai macam bentuk pengejawantahannya. Di sisi lain, saya mungkin saja melewatkan banyak hal detail dalam satu aktivitas yang saya amati dan alami. Meskipun demikian, saya selalu dan sedapat mungkin melihat pantulan seluruh kekurangan dan kelebihan pengalaman saya di Jogja bagi aktivitas saya sebagai seniman dan pegiat di komunitas KAHE, sebuah komunitas seni-budaya di Maumere tempat saya bergiat. Refleksi pengalaman saya terutama saya arahkan pada kebutuhan komunitas KAHE untuk dapat mengelola dirinya secara mandiri. Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya di Jogja dan refleksi saya atas pengalaman-pengalaman saya bagi komunitas yang sedang saya dan teman-teman kembangkan.

Temuan-Temuan Saya di Jogja

Sejak awal harus saya akui bahwa pengalaman saya selama residensi di Jogja tidak dapat saya deskripsikan satu per satu dalam satu tulisan saja. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan beberapa pengalaman yang melekat dalam ingatan, kesan, dan imajinasi saya. Beberapa pengalaman yang ada dalam tulisan ini juga coba saya refleksikan secara lebih khusus dalam tulisan yang terpisah. Sudah barang tentu, semua itu saya refleksikan dalam kaitannya dengan kegelisahan dan kebutuhan saya dan teman-teman di komunitas.

Di Jogja, hal pertama yang sangat berkesan bagi saya adalah soal makanannya. Saya datang dan langsung diajak untuk makan bakmi Jawa di salah satu warung lesehan. Saya menikmati rasa bakmi Jawa dengan perasaan agak aneh. Lidah saya yang sudah akrab dengan ikan laut dan garam harus beradaptasi dengan cita rasa masakan Jawa yang umumnya manis. Perbedaan cita rasa masakan Maumere dan Jogja inilah yang pertama kali membuat saya sadar dan bersiap-siap untuk menjumpai lebih banyak perbedaan.

Di Jogja, saya merasakan ada perbedaan lain dalam hal cara berinteraksi maupun dalam membangun relasi sosial. Orang Jogja umumnya ramah-ramah, sangat halus dalam menyapa, dan murah senyum. Saya langsung menemukan perbedaan ketika saya berkomunikasi dengan dialek Maumere dan volume suara yang menggelegar. Saya juga sering ditegur, ketika wajah saya terlihat agak mengkerut dan seperti ingin marah. Sesuatu yang menurut saya normal ketika saya sedang mencoba fokus memikirkan suatu hal. Saya menyadari bahwa disposisi diri saya harus lebih diadaptasikan dengan lingkungan Jogja.

Perbedaan kebudayaan juga saya alami ketika berhadapan dengan teman-teman performer studio maupun teman-teman lain yang juga terlibat dalam residensi artis. Pertemuan dengan teman-teman dari Jawa, Madura, Belanda, dan Australia menuntut saya untuk lebih terbuka. Komunikasi kami, satu sama lain harus benar-benar dicermati secara baik. Di beberapa percakapan saya menemukan adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi karena kami tidak berangkat dari cara pandang atau pemahaman yang sama terhadap satu isu atau hal yang sedang diperbincangkan. Selain kebudayaan, kami juga berangkat dari status sosial, agama, dan latar belakang pendidikan yang berbeda yang mendesak banyak penyesuaian dalam berkomunikasi. Temuan saya dari situasi ini sangat banyak. Saya menemukan keterbatasan-keterbatasan personal saya dalam berkomunikasi, misalnya egois, cenderung menguasai pembicaraan, sulit mendengarkan, dan kurang terbuka. Saya merasakan hal ini tidak sebagai sebuah kecenderungan sadar, atau yang sifatnya karakteristik, tetapi lebih sebagai efek dari perbedaan-perbedaan yang tidak terjembatani secara baik dalam berkomunikasi. Saya menemukan miniatur Indonesia dalam kelompok kecil ini. Dialektika perbedaan-perbedaan sangat terasa karena intensitas interaksi kami yang cukup tinggi. Kendala yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan ini begitu terasa ketika kami melakukan penciptaan bersama. Seringkali komunikasi kami ‘tak sampai’ karena perbedaan-perbedaan tadi. Ketika kembali membayangkan hal ini, saya mengingat kata-kata Mas Ugo Prasad, ‘penciptaan kesenian dapat berlangsung ketika kau membiarkan pertemuan, tubuh, percakapan, gerak, perasaan, lebih pintar dari dirimu’.

Di Jogja, saya juga berkeliling mengunjungi galeri-galeri seni rupa. Pada satu kesempatan, saya berkunjung ke sebuah studio yang sedang menyelenggarakan pameran dari seorang perupa Jepang. Betapa saya terkejut ketika mendapati bahwa yang ada di dalam galeri tersebut adalah jejeran batu-batu. Beberapa kali saya coba berjalan mengelilingi galeri yang dipenuhi oleh pajangan batu-batu. Saya sungguh tidak mampu menikmati pameran itu sebagai karya seni. Saya membaca panduan program dan menemukan penjelasan bahwa pameran tersebut mencoba menghadirkan konsep sekaligus sensasi tentang sebuah benda yang sedang berada dalam situasi ‘jeda’. Batu-batu itu diambil dari lokasi-lokasi para pekerja tambang, bangunan, dan berbagai proyek industri material. Batu-batu yang ada di pameran itu berada dalam situasi di antara wujud asli dan wujud hasil produksi, dialektika antara materia dan forma, potensi dan actus. Batu-batu itu memuat narasi sejarah batu, potensi batu, bentuk yang ideal dari batu yang sedang dikerjakan, narasi para pekerja, dan posisi semua hal ini dalam konstelasi industri serta wacana kemanusiaan yang lebih luas.

Meskipun saya memahmi bahwa konsep pameran ini begitu detail dan bagus, saya masih terganggu dengan medium serta wujud estetis yang dipilih untuk menyampaikan ide itu. Bukankah ketika batu-batu ini ditempatkan dalam ruang kesenian (galeri), karya-karya ini juga dituntut untuk hadir sebagai sesuatu yang indah, yang menampilkan efek sensibilitas tertentu atau momen keterkejutan bagi para pengamatnya? Ataukah cara saya memandang dan menikmati kesenian masih terbatas, masih melulu melalui sensasi indrawi? Apakah salah jika saya tidak dapat menikmati karya ini sebagai suatu karya seni? Ataukah justru karya ini berhasil ketika dia benar-benar meninggalkan teror melalui pertanyaan yang terus tinggal di kepala saya bahkan setelah sebulan saya meninggalkan tempat pameran?

‘Pameran batu’ ini adalah satu dari beberapa model kesenian yang bagi saya baru dan yang saya jumpai serta alami di Jogja. Saya menonton konser Balungan, melihat festival gamelan, beberapa kali mengunjungi beberapa stan di Festival Kesenian Yogyakarta. Temuan saya adalah betapa kerja-kerja kesenian yang saya jumpai di Jogja umumnya tidak hanya mengandalkan atau menampilkan keterampilan teknis dan ekspresi estetis, tetapi melibatkan desain konsep yang membutuhkan sekaligus memproduksi pengetahuan yang sangat besar. Hal inilah yang menurut saya sangat jarang dijumpai dalam kesenian-kesenian di Maumere bahkan NTT. Jika di NTT yang masih diperbincangkan adalah soal penguasaan teknis, soal bagus-jelek, yang saya temukan di Jogja, sebagian besarnya adalah soal konsep, ide, dan statement yang ingin diserukan oleh sebuah karya. Saya benar-benar menemukan bahwa dialektika dan diskursus antara bentuk dan isi dalam karya seni benar-benar tampak.

Jalan-jalan saya ke galeri-galeri seni rupa membuat saya terlibat dalam beberapa diskusi kesenian dan kebudayaan. Saya mengikuti diskusi di Pendhapa Art Space, saya mengikuti diskusi di Cemeti Art House, saya juga mengikuti diskusi dengan Komunitas Taring Padi. Yang menarik, saya menemukan beberapa ‘muka yang sama’ yang selalu hadir dalam kegiatan-kegaitan seperti ini. Peserta diskusi pun tidak banyak. Dua puluh adalah angka yang mungkin menjadi standar bagi jumlah peserta sebuah diskusi. Pemandangan ini sesungguhnya tidak berbeda jauh dari yang terjadi di NTT atau Maumere. Yang berbeda adalah kualitas diskusinya. Saya hampir tidak pernah menemukan diskusi yang tidak serius atau tidak bermutu di Jogja. Saya juga berbesar hati, ternyata saya mampu terlibat dan minimal paham topik dan isu yang sedang diperbincangkan. Melihat hal ini, di satu sisi saya merasa tidak layak merasa diri sebagai inferior sekaligus memacu saya untuk semakin menumbuhkan tradisi dan iklim diskusi, minimal dalam komunitas yang sadang kami kembangkan.

Khusus dalam irisannya dengan seni pertunjukan, residensi saya kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Saya menonton pertunjukan Gejolak Makam Keramat karya Teater Tamara, Sahabat Terbaik yang disutradarai Joned Suryatmoko, dan beberapa peetunjukan lainnya. Menonton pertunjukan-pertujukan ini, saya menemukan bahwa konsep dan pemahaman saya tentang teater selama ini benar-benar dijungkirbalikan dan diobrak-abrik. Jika di Maumere konsep dan model teater yang saya serap sebagai referensi maupun saya kreasikan selalu berupa teater prosenium dan petunjukan tradisi, maka di Jogja saya mendapati beberapa macam model pertunjukan yang aneh, mulai dari arena, site specific teater, teater dengan penonton yang terlibat, teater dengan ekstensi tubuh ‘orang-orangan’ dan banyak macam lainnya. Temuan-temuan ini tentu memperkaya pemahaman dan referensi saya mengenai model teater. Dalam beberapa kesempatan saya merasa terkagum-kagum dengan pertunjukan-pertunjukan yang saya jumpai. Dalam kesempatan lain, saya merasa sebagai orang yang berasal dari daerah, saya seperti tidak punya hak untuk merasa inferior. Saya merasa banyak hal yang bisa saya dan teman-teman lakukan.

Pemahaman saya tentang teater juga digugat sekaligus direstorasi sepanjang hari-hari saya mengikuti serangkaian workshop, training, penciptaan, dan obrolan-obrolan ringan di teater Garasi. Sejak awal kedatangan saya di teater Garasi, saya mengalami atmosfir diskusi yang cukup ilmiah dan serius. Saya menikmati atmosfir ini sebagai sebuah prakondisi sekaligus kondisi yang baik untuk belajar apa saja. Saya mencermati semua diskusi di sela-sela ngopi atau ngebir, yang kelihatan sangat santai dan remeh-temeh tetapi selalu berisi dan berkualitas. Saya bertanya macam-macam tentang teater, sastra, sejarah, sosial budaya, hingga sepakbola dan pertanyaan saya dijawab dengan berbagai macam hal. Atmosfir ini untuk saya langka di Indonesia (apalagi Maumere), bahkan dalam sebuah institusi pendidikan setingkat universitas.

Satu hal menarik yang juga saya dapatkan adalah ketika saya mengunjungi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Di Festival ini saya membayangkan adanya interaksi dan dialektika antara para seniman dalam posisi personalnya maupun dalam medan keseniannya, pemerintah sebagai yang menjalankan medan kekuasaan, dan juga masayarakat penikmat seni. Saya membayangkan ada kompetisi, gesekan-gesekan yang besar sekaligus juga kerjasama yang saling membangun dan menguntungkan. Saya kagum dengan kunjungan di FKY yang tidak pernah sepi dan pengelolaan event yang untuk saya baru dan bermutu. Saya berangan-angan akan ada satu seperti Festival Kesenian Yogyakarta di Maumere.

Pemahaman saya tentang teater teruatama ‘diganggu’ saat saya mengalami serangkaian workshop dalam program Performer Studio, sebuah program yang diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute untuk belajar keaktoran bagi seniman muda. Untuk saya, workshop dekonstruksi oleh Mas Yudi Ahmad Tajudin adalah salah satu workshop yang memiliki efek besar bagi cara pandang saya terhadap seni pertunjukan dan kesenian pada umumnya. Dalam workshop ini, saya menemukan bahwa teater tidak sebatas sebuah ekspresi estetis belaka, tidak juga bernuansa mistis seperti yang sering melekat dalam pemahaman banyak orang. Seni pertunjukan adalah satu kompleksitas yang bisa berdiri sekaligus sebagai sebuah laku hidup, disiplin pengetahuan, dan profesi (meskipun Mas Yudi selalu berulang-ulang menekankan bahwa hampir tidak ada kelompok teater yang benar-benar profesional di Indonesia). Dalam workshop-workshop lainnya, saya tentu mendapat pengetahuan tentang tubuh, tentang pelisanan, dan pentingnya analisis sosial sebagai landasan pijak sebuah penciptaan kesenian.

Pengalaman lain tentang teater saya peroleh dalam praktik penciptaan bersama menggunakan metode Teater Garasi. Dalam penciptaan ini saya mengalami suatu situasi yang benar-benar baru. Saya harus menciptakan teater dengan suatu metode yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Saya menciptakan teater secara bersama-sama dengan teman-teman dari latar belakang budaya, bahasa, tingkat pendidikan, preferensi dan referensi estetis yang berbeda-beda yang menutut keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi. Implikasi dari proses bersama ini sungguh saya alami. Saya mengenal batasan-batasan sekaligus potensi diri saya dalam berkomunikasi ketika saya berada dalam lingkungan yang plural, saya menemukan bahwa metode penciptaan bersama menuntut adanya relasi komunikasi yang setara, partisipasi aktif dan kontribusi nyata setiap orang yang terlibat dalam penciptaan bersama, dan keseriusan dalam menyikapi setiap langkahnya. Pertunjukan berjudul Bagaimana Menghilang Sepenuhnya yang akhrinya kami hasilkan adalah cerminan dari masing-masing potensi, karakter, preferensi dan referensi estetis para penciptanya.

Selain pemahaman tentang teater, yang utama saya cermati dalam pengalaman saya di Jogja adalah model-model pengelolaan komunitas. Saya bercerita dengan pegelola Cemeti Art House, saya mengikuti sharing dengan teman-teman komunitas Kecil Bergerak dan komunitas Taring Padi, saya berkunjung ke Kalanari Theatre Movement dan bersama teman dari Flores, saya berkunjung ke kelompok musik kampung Maumere yang berkarya di Jogja dan beberapa organisasi mahasiswa. Dari pertemuan-pertemuan ini saya menemukan ada banyak pola dan model pengelolan komunitas, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat kompleks.

Masih dalam kaitannya dengan pengelolaan komunitas, saya beruntung mendapat kesempatan ngobrol tiga jam dengan Mas Yudi. Mas Yudi bercerita tentang pertumbuhan Teater Garasi dari awal sebagai sebuah komunitas kampus hingga sekarang menjadi sebuah komunitas dan juga institusi yang mandiri dan profesional. Saya mendengar peralihan-peralihan yang dialami Teater Garasi dalam merumuskan identitas diri mereka yang berjalan seiring dengan pola-pola penyesuaian pengelolaan komunitas. Saya mendengarkan dengan saksama problem-problem internal yang dialami Garasi, mulai dari proses yang dialami seniman-senimman Teater Garasi dalam menjawab pertanyaan eksistensial tentang keberlangsungan komunitas, sampai dengan cara Teater Garasi secara terus-menerus merefleksikan identitas diri mereka, dan menyikapi problem-probelem tentang perbedaan visi di antara para anggota. Dalam pantulannya dengan KAHE, saya memperoleh banyak sekali masukan dan juga pengetahuan dalam hal pengelolaan komunitas.

Hal terakhir yang menarik yang juga saya jumpai dalam pengalaman saya di Jogja saya refleksikan dalam kaitannya dengan saya sebagai ‘orang timur yang katolik’. Saya menyadari bahwa dalam banyak hal dan oleh karena banyak faktor, persepsi dan pengetahuan orang Jogja tentang orang-orang dari kawasan Timur (Flores, Ambon, Timor, Maluku, Papua) sungguh beragam. Tidak semua orang Jogja memiliki pengetahuan yang memadai tentang Maumere, kota asal saya. Masih banyak orang Jogja yang membayangkan Maumere sebagai sebuah kota yang masih sangat primitif. Ada yang bertanya soal harga bahan bakar minyak, ada yang bertanya tentang situasi kota yang dalam pandangan mereka masih dipenuhi dengan hewan-ewan yang berkeliaran. Ada yang berpendapat bahwa orang-orang dari Flores umumnya pintar-pintar sekaligus ‘tukang pukul’.

Dalam situasi lain, saya menyadari diri sebagai kaum minoritas ketika saya hadir dan terlibat dalam sebuah diskusi di Cemeti. Ada banyak perasaan yang muncul ketika iman yang saya hidupi ‘diganggu’ dengan lelucon-lelucon maupun dengan pernyataan-pernyataan dalam diskusi yang sebenarnya saya bisa terlibat lebih jauh di dalamnya tetapi tidak terjadi karena ada banyak pertimbangan lain salah satunya karena saya minoritas. Namun, saya juga mengalami bahwa pemberitaan tentang radikalisme dan fundamentalisme agama di media-media terkesan membual dan hiperbolis. Di Jogja, saya masih merasa aman sebagai orang Katolik. Saya merasa toleransi antar umat beragama di Jogja bukan suatu hal yang asing.

Saya juga menemukan bahwa struktur kekuasaan yang terlalu lama sentralistis, wacana-wacana jawasentris atau jakartasentris yang lebih dominan, bipolarisasi pusat-daerah, pembangunan yang tidak merata, perbedaan kebudayaan yang tidak selalu dijembatani dengan komunikasi yang baik, menghasilkan stereotipe-stereotipe tertentu terhadap orang timur, yang juga turut menentukan cara orang timur memandang dirinya dan selanjutnya menempatkan dirinya dalam konstelasi masyarakat yang lebih luas dari daerah asalnya (di Jawa misalnya). Saya menyadari bahwa pada awal perjumpaan saya dengan berbagai hal dan aktivitas di Jogja, perasaan-perasaan inferior sering muncul. Entah kenapa, saya juga jarang sekali menemukan ada ‘orang timur’ yang hadir di beberapa pameran seni rupa, pertunjukan, diskusi ilmiah dan kegiatan-kegiatan kesenian yang mungkin cukup serius. Padahal, saya mengalami bahwa banyak hal di Jogja, misalnya produksi kesenian sangat bisa dibuat di daerah saya, dalam arti sumberdaya manusia dan infrastruktur di Maumere sudah sangat memungkinkan hal itu terjadi. Saya mengalami saya bisa terlibat dalam diskusi-diskusi kesenian mapun sosial politik. Saya merasa bahwa banyak saudara-saudara saya dari timur sebenarnya punya kapasitas untuk terlibat dalam medan-medan kesenian maupun produksi pengetahuan di Indonesia. Mungkin hubungan hal-hal di atas terkesan sangat kabur tetapi bagi saya tetap saling mempengaruhi.

Pengalaman di Jogja dalam Refleksinya dengan Komunitas KAHE

Tentu saja semua hal yang saya alami di Jogja saya bagikan dengan teman-teman di Komunitas. Kami punya tradisi untuk selalu membagikan temuan-temuan kami dalam perjalanan atau kegiatan apapun yang kami ikuti, secara personal maupu secara komunitas. Meski semua hal saya ceritakan, secara lebih dominan saya melihat berbagai pengalam saya di Jogja lebih dalam kaiatannya dengan kerangka institusional development. Saya merefleksikan pengalaman perkembangan Teater Garasi dari karakternya sebagai komunitas menuju institusi dalam relevansinya dengan konteks serta kebutuhan KAHE untuk bisa sustain sebagai suatu komunitas yang mandiri dan profesional.

KAHE sebagai sebuah komunitas baru bergiat selama kurang lebih dua tahun. Sebelumnya sebagian besar anggota KAHE sudah menjalin pergaulan dan persahabatan. Ada yang sejak SMP dan ada yang sejak di Seminari menengah SMA. KAHE boleh dibilang tumbuh setelah pergaulan dan persahabatan ini berlangsung dengan baik. Alasan keberadaan KAHE sendiri tidak sejak awal jelas. Setelah saya refleksikan lebih mendalam, saya menemukan bahwa KAHE sebenarnya berdiri atas dasar hasrat dan kebutuhan bersama akan adanya sebuah ruang diskusi, kreasi, dan apresiasi sastra di Maumere. Berangkat dari sastra, KAHE berkembang menjadi sebuah komunitas yang amat akomodatif sifatnya. Banyak anggota dari berbagai latar belakang kesenian mulai bergabung. KAHE berkarya dan menciptakan lingkungan serta suasana belajar yang kondusif bagi orang-orang yang bergabung di dalamnya. Gairah berkesenianlah yang pertama-tama membangun dan menggerakan KAHE. Dalam perjalanan waktu, KAHE yang rata-rata digerakan oleh para mahasiswa yang akan lulus dalam satu hingga dua tahun ke depan dan anak-anak muda yang sudah mulai membangun rumah tangga, berhadapan dengan beragam pertanyaan di antaranya, apakah komunitas ini ingin terus dilanjutkan? Jika berlanjut apakah komunitas ini akan memiliki kontribusi yang signifikan bagi kehidupan ekonomi masing-masing anggota? Apakah komunitas ini kemudian hanya jadi tempat singgah, tempat pelampiasan ide yang tidak bisa dituangkan di tempat kerja yang utama?

Sharing dan pengamatan saya tentang Teater Garasi, meski tidak sempurna, coba saya refleksikan dan ambil relevansinya dengan KAHE. Saya dan teman-teman merasa perlu memperkuat komunitas secara internal dan Garasi dalam taraf tertentu memberikan perspektif serta menjadi satu referensi yang baik perihal perkembangan serta pertumbuhan sebuah komunitas. Saya merasa perlu membagikan situasi yang dialami Garasi, situasi-situasi peralihan-peralihan yang mereka lalui dalam sejarah, bagaimana mereka berdialektika dengan situasi zaman serta pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan idealis tentang keberlanjutan komunitas, hingga pengelolaan institusi dalam bentuknya yang paling mutakhir.

Pada dasarnya, saya dan teman-teman berencana untuk tetap bertahan dan melanjutkan komunitas yang sudah kami rintis bersama. Dalam diskusi saya dengan teman-teman yang juga sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengembangan serta pengelolaan komunitas, kami merasa perlu untuk merumuskan visi bersama. Kami pun merasa ada kebutuhan untuk membuat pemetaan tentang modal-modal yang ada dalam komunitas terutama sumber daya manusia, modal kultural, dan modal sosial, peluang serta kesempatan yang mungkin kami peroleh, potensi-potensi yang bisa dikonversi menjadi sesuatu, serta hambatan dan kendala-kendala yang memberatkan proses realisasi perumusan visi serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan kami. Kami merasa perlu untuk memperkuat kerja-kerja kebudayaan yang kami lakukan. Pertanyaan Joko Pinurbo kepada salah satu anggota KAHE yang mengikuti MASTERA baru-baru ini: ‘apa isu Maumere atau NTT yang coba kau hadirkan dalam puisi-puisimu?’ pada akhirnya juga menjadi pertanyaan besar bagi KAHE secara komunitas. Pertanyaan ini serta-merta membuat kami sadar, sebagai sebuah komunitas, kami merasa perlu untuk melihat dan menempatkan diri secara lebih tepat, cermat, dan proporsional dalam konstelasi dan dialektika dengan masyarakat beserta segala struktur dan kompleksitasnya. Kami merasa perlu memberikan konrtibusi bagi pembangunan manusia-manusia di NTT secara umum maupun Maumere khususnya, melalui medium kesenian. KAHE sebagai komunitas kesenian dan kebudayaan harus mulai berpikir untuk memiliki statement politis, menjadi cerminan sekaligus media untuk menyuarakan kegelisahan dan keprihatinan sosial.

Dalam bentuk yang lebih konkret, saya dan teman-teman dalam komunitas berencana mematangkan konsep kegiatan dan karya-karya yang sudah dan sedang kami buat selama ini, seperti jurnal sastra, diskusi mingguan, siaran radio, dan Festival Teater Maumerelogia. Kami berencana memetakan pula sejauh mana hal-hal yang sudah kami buat memberi efek bagi orang-orang di sekitar kami, yang terlibat maupun yang mengamati kerja kami. Sejak awal hal-hal ini kami lakukan sebagai sebuah upaya memberi makan eksistensi dan juga demi menjaga identitas KAHE sebagai sebuah komunitas kesenian dan kebudayaan yang di dalamnya terdapat pula usaha memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai. Kami percaya, penguatan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan di atas tentu juga berpengaruh pada penguatan komunitas.

Kami juga berencana untuk menyegarkan kembali pengetahuan mengenai metode penciptaan bersama Teater Garasi yang kami dapat dalam workshop ‘Bertolak dari Yang Ada, Bicara kepada Dunia’, maupun dalam pengalaman residensi saya di Jogja. Bayangan tentang produk penyegaran metode penciptaan bersama ini adalah antologi bersama dan sebuah pertunjukan teater. Antologi bersama ini akan berupa tulisan dan kemungkinan pengembangannya. Antologi bersama ini akan diselesaikan pada November 2017. Sedangkan pertunjukan teater direncanakan sebagai bagian dari Maumerelogia III tahun 2018.

Sekedar Penutup

Di Jogja, saya beberapakali nongkrong di Prawirotaman. Café-café sepanjang daerah ini sesekali menyajikan live music reggae yang sebagian besar dimainkan oleh orang-orang dari Flores. Sebagian besar dari para musisi reggae ini adalah mantan mahasiswa di beberapa kampus di Jogja. Banyak anak-anak muda dari wilayah lain di Indonesia Timur juga mencari hiburan di sekitar Prawirotaman. Pace-mace, nong-nona, tata-ari dengan sangat mudah dapat ditemukan di daerah ini. Saya beberapa kali ke sini dengan alasan untuk melihat aktivitasnya, sesekali juga karena memang sudah begitu rindu menikmati minuman beralkohol dan bercakap-cakap dengan sesama orang Maumere atau Flores umumnya.

Di sebuah café, di daerah Prawirotaman, saya juga pernah begitu marah dan kecewa. Saya marah dan kecewa ketika melihat perkelahian segerombolan orang Papua. Dari perkelahian ini, satu orang akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan kepala berdarah-darah terkena hantaman botol.  Beberapa hari setelah kejadian, saya melihat beberapa preman Jogja menunjukan muka tidak senang kepada orang-orang yang berkulit hitam. Saya menyimpan beberapa tatapan berisi tuduhan kepada saya, di kepala saya.

Dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Maumere, saya berjumpa dengan seorang musisi Maumere yang akan mengadakan konser di kota kelahirannya itu. Kami sempat bertemu di Jogja sebelumnya, tetapi baru bisa bercakap-cakap dalam perjalanan pulang ke Maumere. Saat di ruang pengambilan bagasi di bandar udara Waioti-Maumere, dengan nada kelakar dan sedikit mabuk ia berujar ‘ko belajar banyak-banyak di Jogja, tapi jang lupa pulang e’. Saya tertawa mendengar kata-katanya. Saya mengajak dia untuk mampir ke radio tempat saya sering nongkrong tetapi dia bilang mamanya sudah menunggu di rumah, ingin mendengar cerita-ceritanya. Sebelum kami berpisah saya mengucapkan selamat untuk konsernya nanti dan dia menggerakan kedua jari telunjuknya seperti isyarat seorang pelatih sepak bola bahwa akan ada pergantian pemain.

Saya ke Jogja dengan kepala penuh tanda tanya dan kembali tiba di Maumere dalam keadaan yang peris sama.

 

Eka Putra Nggalu, Pegiat di Komunitas KAHE-Maumere

Peserta Residensi Seniman Teater Garasi-2017

Catatan Peserta Flores

Elvan De Porres

Baru sadar tentang makna sebenarnya dari “hasil adalah ujung dari proses”. Bahwa dalam pertunjukan tidak ada yang benar dan salah, justru yang benar dan salah itu ada dalam proses menuju pertunjukan. Semua pertunjukan akan jadi kesenian setelah melewati proses yang “berdarah-darah.”

Tiga hal penting yang diingat dalam workshop adalah : Metode proses  penciptaan dalam seni pertunjukan harus selalu bertolak pada sesuatu yang empiris atau berdasar pada isu realitas yang ada. Hal inilah yang paling saya ingat dalam proses pertunjukan. Itu artinya juga dalam sebuah seni pertunjukan penting sekali untuk didiskusikan bersama.

Apresiasi terhadap seni dari Garasi sungguh luar biasa. Saya kagum karena selama proses workshop, pemateri tidak pernah menilik benar/salah dari apa yang kami tampilkan. Ini sebuah kultur yang baik yang harus kami teladani. Salah satu hal yang membuat seni itu tidak berkembang di sini adalah apresiasi. Di sini saya belajar dari Garasi tentang apresiasi seni.

Garasi secara personal sangat dekat dengan kami, hampir tidak ada jarak. Itulah yang membuat kami sangat pede dan ingin selalu belajar.

Frano Padji Tukan

Workshop ini berkah bagi saya . Teater itu tentang jaringan/network. Memulai dari yang ada dan kami akan berbicara pada dunia

Fransiskus Rasa Ama Kolin

Selama workshop yang diadakan tetaer Garasi, saya pribadi merasa ada banyak pelajaran yang saya dapat, yang tidak pernah saya dapat dari pengalaman lain. Hal yang paling menarik adalah menghasilkan karya seni tetaer tanpa teks, pada awalnya, namun berangkat dari penggalian isu/problem yang ada dan kerangka yang dibuat. Kedua adalah Improvisasi dan ketiga adalah Kodifikasi

Maksimus Masan Kian

Kak Yudi dan tim mampu mendampingi kami dari nol  dengan metode yang sederhana tapi mampu membentuk kami untuk bisa melakukan sesuatu seperti yang diarahkan. Kami bahkan tidak sadar bahwa kami bisa,itu karena lewat pendampingan yang tulus

Kita pasti kembali berjumpa di tanah Flores

Pion Ratulolly

Yang menarik dari workshop ini adalah Metodologi  pembelajaran yang  sistematis, metode transfer ilmunya fun dan menarik, media pembelajarannya variatif dan kedisiplinan dan kesolidan timnya oke

“Berbagilah terus binar prisma Garasi”

Thomas Are

Kegiatan ini sangat inspiratif dan berdaya guna dalam membangun komitmen pribadi saya dalam mencintai dunia tetaer, kerena berbagai metode yang disajikan sangat kontekstual. Kegiatan ini juga sebuah persaudaraaan yang terjalin kuat antara berbagai elemen kelompok teater di Flores.

Veronika Ratumakin

Metode penyajiannya sangat ringan dan sederhana, membuat materinya sangat mudah dicerna. Pelajaran olah tubuh sangat bagus dan sangat inspiratif. Shallom.

Dimas Radjalewa

Hal yang paling saya ingat sela 4 hari workshop ini:

Metodologi penciptaan bersama yang coba diaplikasikan selama workshop ini benar-benar sangat membantu saya selama proses penciptaan. Setiap proses yang dilewati sangat membantu saya menciptakan komposisi dan diakhiri presentasi.  

Saya sangat terbantu dalam kerja gali sumber, improvisasi, dan kodifikasi. Saya baru di tahap ini tapi saya kira ini bagus untuk penciptaan yang tidak hanya seni pertunjukan, tapi juga dalam penulisan cerpen, puisi, artikel, esai, dan lain-lain.

Metode yang dibawakan memang tidak sederhana, tetapi cara membawakan sangat sederhana sehingga kami cepat menyerapnya dan melakukan eksplorasi yang benar-benar di luar dugaan kami sendiri.

Catatan untuk teman-teman Garasi: Kalau bisa kegiatan macam ini tidak berhenti di sini. Jika diselenggarakan lagi semoga durasi prosesnya lebih panjang lagi.

Darno Desno

Hal yang paling diingat adalah membuat/menggarap karya dengan mengumpulkan masalah yang kemudian melahirkan satu tema besar. Tubuh sebagai materi dasar yang kemudian diolah dengan berbagai Parameter. Tidak ada unsur pendukung. Semua usur dalam tetaer adalah Inti. Sederhana itu kaya.

Asyari Hidayah Hanafi

Tiga hal penting dalam workshop ini adalah sistematika penyajian materi teratur, cara membangkitkan peserta dalam proses penciptaan fleksibel dan terbuka.

Pesan saya adalah pertahankan kesederhanaan dalam pembelajaran yang bersahaja.

Inosensius Soni Koten

Pencarian dan penemuan ide justru ditemukan dalam ruang diskusi pada titik ini. Teater Garasi menerjemahkan dengan piawai dan mengajarkan bahwa ide dapat ditemukan dengan sederhana.

Semoga kita bias bertemu lagi. Salam!

 

 

Catatan Peserta Madura

Fayat Muhammad

Language Theatre Indonesia, Sumenep

Peserta yang terdari dari empat daerah di Madura, berikut dengan kultur berbeda yang melatarinya, membuat saya banyak belajar tidak hanya dari Teater garasi, tapi juga dari teman-teman peserta. Di situ kami saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang situasi masing-masing. Workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” ini dilakukan secara sistematis, terperinci dan jelas. Mulai dari membawa isu yang ada pada benda, teks, dan image, sampai pada penubuhan dan prsentasi. Melalui pendekatan ini, saya mendapati kemungkinan-kemungkinan yang lebih kaya karena masing-masing peserta saling merespon dan melengkapi.

Rosi Praditya

Komunitas Stingghil Sampang

Workshop ini membangkitkan naluri dan sensitivitas saya terhadap lingkungan di sekitar melalui jalan seni. Semoga teater mempertemukan kita lagi di tempat-tempat lain. Salam sejuk buat Teater Garasi.

R. Dian Kunfillah

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

 Awalnya saya tidak mengerti mengapa kami diminta membawa benda, foto dan tulisan mengenai isu yang berada di tempat saya tinggal. Namun setelah melewati hari demi hari workshop, mulai terang jalurnya ketika kami bercerita tentang benda yang kami bawa. Pada akhirnya isu tersebut dimatangkan dan diwujudkan menjadi pertunjukan dan karya tersebut diciptakan dan disepakati bersama.

Semoga workshop ini terus berlanjut ke kegiatan-kegiatan yang lain.

R. Nike Dianita Febriyanti

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Mulanya saya sangat senang saat diberi kabar tentang workshop penciptaan dari Teater Garasi. Sungguh teramat senang. Akan tetapi saat mengetahui tanggal pelaksanaannya, saya merasa kecewa karena jadwalnya tidak cocok dengan agenda saya. Saya tahu yang tidak akan pernah kembali adalah waktu dan waktu memberi saya pilihan. Dan saya hatus memilih. Karena soal jadwal itulah saya hanya bisa ikut sampai tiga hari saja. Nah, di dalam tiga hari itu saya begitu sangat menikmati jalannya workshop. Memang sejak berangkat saya bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Materi workshop yang diberikan pada dasarnya sudah pernah saya peroleh sebelumnya saat studi di Sendratasik Unesa, misalnya saat masuk ke ‘praktik’. Tapi metode mencipta yang ‘sabar’ ini menarik bagi saya. Sabar? Iya. Bagi saya, workshop ini adalah proses penciptaan yang cukup sabar dan detail sekali. Tentu juga tidak menutup diri bahwa banyak hal baru juga yang saya peroleh dan tidak pernah saya dapatkan saat berproses selama ini. Misalnya proses penciptaan ide yang diawali dengan membawa benda, image, dan teks yang berangkat dari isu yang ada. Sampai akhirnya membuat peta konsep untuk mempermudah melakukan eksplorasi.

Tapi saya masih penasaran apakah dua hari yang tersisa itu adalah peristiwa-peristiwa yang menakjubkan, saya yakin iya. Maka saya iri dengan teman-teman yang dapat menuntaskan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” sampai selesai. Namun, meskipun hanya tiga hari materi yang saya ikuti, saya tetap bersyukur dan akan coba terapkan hasil workshop ini terhadap teman-teman dan murid-murid saya. Pasti berguna. Terimakasih Teater Garasi.

Suryadi Arfa

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Setelah mengikuti workshop dari tanggal 13-17 Mei 2017, saya mencatat beberapa hal penting dalam sebuah proses penciptaan, yaitu (1) betapa pentingnya mengangkat isu yang ada di sekitar kita, (2) penerapan metodologi yang sudah diformulasi oleh Teater Garasi sangat mempermudah dalam membuat karya, (3) bagaimana bentuk, waktu (tempo, durasi), garis, ruang yang dikelola dengan parameter yang ada akhirnya memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru dan tidak terduga, (4) pentingnya menghindari hal-hal yang abstrak dan memperjelas bentuk dan detail agar isu tersampaikan dengan baik.

Saya berharap Teater Garasi bersedia memantau perkembangan teman-teman peserta workshop sehingga dapat diketahui sejauh apa perkembangannya. Semoga workshop ini tidak selesai sampai di sini saja, besar harapan saya adanya kelanjutan proses untuk memperdalam ilmu yang telah diberikan.

Hoiri

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Pelajaran utama yang saya peroleh adalah pentingnya menciptakan karya yang berasal dari apa yang kita punya. Dan bagaimana modal tersebut dikelola melalui metodologi yang Teater Garasi tawarkan. Semoga setelah workshop ini Teater Garasi masih terus mengalirkan pengetahuannya, misalnya lewat pertunjukan sebagai pembelajaran dan referensi.

Hafiki

Sanggar Karapan Pamekasan

Banyak hal yang saya peroleh selama mengikuti workshop penciptaan ini. Metodologi penciptaan yang disampaikan Teater Garasi sangat rinci dan mudah dicerna. Bagi saya ini workshop yang berbeda dari workshop-workshop teater yang pernah saya ikuti sebelumnya.

Mudah-mudahan ini dapat berguna bagi perjalanan berkesenian saya selanjutnya. Selain itu, workshop ini membuat pegiat seni di Madura bisa bersatu, dan kini Sampang bukan lagi tempat ‘persimpangan’ orang-orang Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan, melainkan ‘bagian’ penting dari Madura.

Syamsul Arifin

Ujicoba Theatre Sampang

Di sini saya datang dan turut berpartisipasi dalam workshop penciptaan “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”.

Saya berteater untuk proses perbaikan diri. Saya menganggap bahwa teater sebagai jembatan pulang menuju diri sebab ia lahir dari kegelisahan saya tentang diri. Namun workshop ini mengantar saya pada situasi, problem dan isu di sekitar saya yang sebelumnya lepas dari perhatian saya.

Dari workshop ini semoga ke depannya, khususnya kehidupan teater di Madura, akan semakin berkembang dan baik. Semoga berkah. Terimakasih.

Lusi

Biruh Ompos Sampang

Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Itu yang menjadi pegangan hidup untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Begitu juga dengan proses yang telah saya ikuti selama lima hari ini sangat luar biasa untuk dijadikan modal dalam berkarya. Dan karena itulah yang membuat saya semakin tergoda untuk berkarya. Biarkan kami terus memikirkan dan menikmati apa yang telah diberikan Teater Garasi

Agus Alan Kusuma

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman Teater Garasi yang telah memberikan sesuatu yang segar dan baru pada ‘pengalaman’ berksenian saya. Workshop selama lima hari ini bagi saya merupakan lompatan kreativitas di mana seni dapat menjadi sesuatu yang berharga.

Selain pengalaman tersebut, metodologi yang ditawarkan dapat menjadi landasan penciptaan pada proses saya di kemudian hari. Semoga hasil workshop ini berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi lingkungan seni di Madura, minimal kelompok-kelompok yang turut berpartisipasi membuat pertunjukan berdasakan konsep penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi.

Pengetahuan yang berharga ini adalah bekal bagi pegiat seni generasi muda di Madura. Sekian dan terimakasih.

Syifa’uddin Addhohiri

Sanggar Padi Sumenep

Saya ucapkan terimakasih kepada Teater Garasi dengan segala hal yang diberikan kepada saya. Ucapan maaf tak terhingga kepada segenap teman-teman Garasi apabila selama workshop saya mempunyai salah yang tak disengaja maupun disengaja, saya mohon maaf.

Mengenai workshop yang sudah kita jalani bersama selama lima hari, saya kira sangat membantu teman-teman di Madura untuk proses penciptaan, karena dengan metodologi yang dibawa oleh Garasi ini akan mempermudah teman-teman menemukan sesuatu yang baru dan menyampaikan isu ‘yang ada’ di sekitar kita.

Setelah ini, saya akan mengajak teman-teman di komunitas saya untuk mencoba memakai metodologi yang ditawarkan oleh Teater Garasi.

Faizin Syafi’ie

Pamekasan

Berproses di worskhop Teater Garasi merupakan kesempatan yang sulit dan jarang didapatkan. Ini adalah kesempatan menarik bagi saya untuk ‘mengolah’ sesuatu yang saya miliki dengan bantuan rancangan konsep dari Teater Garasi.Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi adalah pengetahuan segar untuk pengembangan teater/kesenian di mana saya berada.

Harapan saya, Teater Garasi memberi bimbingan lanjutan kepada kami, karena bagaimanapun juga kami sangat ingin sekali mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang yang tinggal di kota, tempat di mana jaringan pengetahuan begitu mudah diperoleh.

Hayatik Handayani

Teater Tombak Sampang

Saya sangat mengapresiasi sekali kegiatan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” yang dibuat oleh Teater Garasi Yogyakarta. Banyak pengetahuan yang bisa saya ambil. Di workshop ini saya belajar hal baru yang tidak saya peroleh di workshop yang pernah saya ikuti sebelumnya. Pada kesempatan kali ini saya belajar menerjemahkan benda yang kemudian benda tersebut ditelusuri menjadi isu, lalu dikembangkan menjadi rupa, bentuk, gerak, cerita yang kemudian bisa diwujudkan menjadi pertunjukan teater.

Saya berharap Teater Garasi kembali ke Madura dan membuat kegiatan lagi di sini, menjadi promotor bagi pegiat seni di Madura, khususnya Sampang. Saya mengucapkan terimakasih atas ilmu yang diberikan kepada kami.

Matorsakalangkong taretan Jogja, sala lopot ta’ langkong saporaagi.

Didi Kurniawan

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi dan diterapkan dengan apik dalam workshop ini menambah keyakinan saya tentang fungsi teater dan cara mengolah bahan. Metodologi penciptaan ini juga dapat secara bijak kita terapkan pada proses kreatif bidang seni yang lain.

Workshop ini menawarkan proses kerja kolektif yang ‘berangkat dari yang ada’ dan menjawab pertanyaan atas situasi di sekitar kita. Keinginan setelah pulang dari workshop ini adalah menerapkan metodologi ini ke dalam proses teater kami. Semoga bekal yang kami dapat bisa dikembangkan.

Yuni Kartika Sari

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Tanggal 13-17 Mei 2017 adalah momentum penting yang terjadi di Sampang. Sebagaimana semesta mengatur segala dengan begitu arifnya hingga membawa saya pada pelatihan penciptaan yang diadakan oleh Teater Garasi. Banyak hal yang saya dapat dan nantinya bisa dibagi kepada orang lain.

Saya mengalami proses ketubuhan dan mengasah fungsi panca indera supaya bekerja lebih mendalam lagi. Merasakan garis-garis, bentuk, dan lain-lain. Tubuh keseharian seringkali membuat tubuh ‘mati’, namun dengan pelatihan ini, hal-hal yang sebelumnya tidak dilatih coba dihadirkan dan dialami kembali. Berteater adalah jawaban agar setiap diri menjadi peka. Harapannya, saya Bersama teman-teman Bawah Arus Bangkalan akan mengujicobakan konsep dan metodologi dari Teater Garasi. Terimakasih atas seluruhnya.

Lubet Arga Tengah

Rokateater Sumenep

Pengetahuan, pengalaman, dan kenangan. Ketiganya lahir dari sebuah peristiwa “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”. Kabar Teater Garasi hadir ke Madura merupakan catatan manis dalam harianku sebagai ‘seorang’ yang terlibat menciptakan momentum atau potongan mainan untuk menghibur dan memecahkan kebekuan yang sempat mengeram lama dalam kepala.

Dalam workshop penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi adalah jurus-jurus penjinak kemalasan. Jadi sebagai pencipta tidak hanya duduk manis dan tiba-tiba muncul karya dengan cara tidak ‘ruwet’, misalnya membuat karya cukup bermodal, naskah, aktor, dan kru, tapi tidak dengan metodologi sebagaimana yang ditawarkan Garasi. Model penciptaan begini benar-benar ‘brengsek’ karena telah berhasil membuat aku enggan berpaling dari kesenian, semakin menggoda untuk terus dicari dan dialami. Workshop ini membuat aku terus ingin berlanjut dan selalu belajar dan memperbarui pengalaman.

Selanjutnya, aku ingin mencoba menerapkan metodologi ini sebagai (1) karya dan (2) pelatihan-pelatihan kepada kelompok lain agar aku terus belajar dan merawat pengetahuan tentang workshop ini.

Fikril Akbar

Sanggar Makan Ati Pamekasan

Merasa sangat beruntung sekali saya bisa mengikuti workshop penciptaan ini. Teater Garasi mengajari cara berterimakasih kepada Madura den kepada alam yang bersedia menampung saya.

Tawaran metodologi workshop penciptaan “Berangkat Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” mulai memberi gambaran-gambaran bagaimana sebuah karya diciptakan dari modal yang ada. Menariknya, metodologi ini juga sangat terbuka dan bisa diterapkan di semua disiplin seni.

Harapan ke depannya semoga Teater Garasi lebih sering lagi mengadakan acara-acara semacam ini di Madura, dan tentu saja tulisan pendek ini tidak bisa menggambarkan perasaan betapa bangganya berproses Bersama Teater Garasi.

Matorsakalangkong Mas Yudi, Mas Gun, Mbak Ery, Mbak Lusi dan Bang Qomar. Kami tunggu di Pamekasan.