Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

(Workshop Lanjutan Singkawang: Penajaman Pertanyaan dan Gali Sumber)

Oleh Gunawan Maryanto

Bersama dengan Akbar Yumni saya tiba di Singkawang pada tanggal 8 Juli untuk melanjutkan workshop penciptaan yang telah berlangsung sebelumnya (26-30 April 2018). Sebagai fasilitator yang tidak sempat terlibat dalam workshop tersebut tentu saja saya membawa sejumlah pertanyaan. Beberapa peserta pernah saya temui dalam kedatangan kami pada bulan Februari lalu saat perayaan Cap Go Meh. Selain peserta, saya juga penasaran dengan apa yang telah berlangsung paska workshop penciptaan yang diampu Ugoran Prasad dan beberapa kawan lain. Tentu saja saya telah mengoleksi sejumlah informasi bahwa tim peserta Singkawang berkehendak untuk melanjutkan workshop penciptaan tersebut lebih jauh lagi, yakni menyusun sebuah pertunjukan bersama. Kehendak ini kemudian dikuatkan dengan pembuatan kesepakatan bersama hingga penyusunan jadwal pertemuan rutin di antara mereka, pada kedatangan dan pertemuan bersama Arsita di akhir bulan Juni 2018.

Informasi lain yang saya dapatkan adalah sulitnya teman-teman peserta untuk berkoordinasi, bertemu dan memulai proses penciptaan bersama. Saya paham bahwa penciptaan bersama, apalagi kolaborasi berbagai seniman dari disiplin yang berbeda dan belum pernah berproses sebelumnya, tentu butuh syarat yang tak mudah. Dengan seluruh situasi yang ada, ketika kembali dipertanyakan komitmen masing-masing seniman dalam proses panjang ini, mereka tetap pada niatan awal: berkumpul dan membangun karya bersama.

Berkumpul adalah syarat pertama yang sayangnya tak bisa dipenuhi dengan mudah. Dalam pertemuan pertama, 9 Juli, di Singkawang Cultural Center, hanya hadir 4 peserta workshop terdahulu, setelah menunggu 4 jam dari kesepakatan. Trino, Mpok Yanti dan 2 aktor muda dari Tebs, binaan Mpok Yanti. Helen menyusul belakangan bersama Tia, kawan baru, seorang penyanyi. Workshop tetap berlangsung sembari terus saya bersama Akbar mencoba membaca situasi dan mencari jalan keluar. Target saya adalah mempertajam pertanyaan yang sudah muncul dalam workshop sebelumnya. Target tersebut tercapai, meski masih menyisakan soal, bagaimana dengan mereka yang tak hadir dan sebelumnya turut merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang akan menjadi pintu mereka memasuki proses penciptaan tersebut adalah: Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

Hari kedua jam workshop kami undurkan lebih larut agar tak terjadi lagi situasi saling tunggu. Dan ternyata peserta malah berkurang. Trino mendadak mesti ke Pontianak. Tinggal Mpok dan kedua muridnya yang terus intens melanjutkan workshop. Helen dan Tia kembali merapat sebelum workshop berakhir. Hari kedua saya dan Akbar membekali peserta dengan sejumlah alat untuk menggali sumber di lapangan. Esoknya mereka akan turun ke Pasar Hongkong sampai beberapa hari ke depan. Malam itu juga saya dan Akbar kembali ke Pontianak dan melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti program Cabaret Chairil yang berlangsung di Teater Garasi.

Tanggal 22 Juli saya kembali ke Singkawang untuk melanjutkan workshop. Sehabis mereka mendapatkan data dan informasi dari Pasar Hongkong, saatnyalah mengubah seluruh temuan itu menjadi inspirasi penciptaan. Target saya dalam pertemuan kali ini adalah menyusun kerangka dasar pertunjukan.

Hari pertama, setelah perjalanan panjang menuju Singkawang, saya segera menuju gedung pertemuan Mess Pemda yang disepakati. Saling tunggu hingga 4 jam terjadi lagi. Dan setelah menunggu sekian lama terkumpullah beberapa seniman muda Singkawang. Trino, Mpok Yanti dan anak-anak Tebs tetap menjadi peserta yang bisa diandalkan untuk menjaga keberlangsungan proses. Boncu dan seorang seniman muda dari Bengkayang menjadi pembeda dari peserta workshop sebelumnya. Workshop hari pertama saya gunakan untuk mengecek temuan-temuan mereka di lapangan. Masing-masing orang saya minta untuk bercerita, karena tak ada tulisan atau pun gambar yang mereka bawa selain beberapa rekaman video.

Hari kedua kami sepakati lagi jam workshop agar tak terjadi peristiwa saling tunggu yang cukup menghabiskan energi. Jam 19.30 ditetapkan. Dan tetap saya menjadi orang pertama yang hadir. Barulah jam 21.00 kami memulai workshop. Saya sudah meminta mereka membawa hasil riset yang lebih kongkrit yakni berupa tulisan dan gambar. Tapi hanya Mpok Yanti yang membawa selebar kertas berisi syair lagu ciptaannya tentang Pasar Hongkong. Saya beranjak dari situasi tersebut dengan memberikan beberapa latihan dasar sebagai persiapan mereka untuk menubuhkan seluruh hasil temuan mereka: tubuh menafsir imaji. Di hari kedua ini Arsita Iswardhani bergabung untuk mendampingi saya.

Hari ketiga, dengan jumlah peserta yang berubah lagi, selain Trino dan Mpok Yanti, kami mencoba menubuhkan hasil wawancara dan rekaman video. Hanya dua peserta yang secara aktif mengikuti workshop, yaitu Rizki dan Gustian, anak-anak dari Sanggar Tebs. Di akhir workshop mereka berdua menyajikan kodifikasi mereka. Saya menutupnya dengan mencoba menyusun kodifikasi-kodifikasi tersebut menjadi sebuah repertoar pendek.

Tanggal 25 Juli, hari terakhir kami berada di Singkawang, kami gunakan untuk me-review seluruh proses yang telah berlangsung. Forum ini juga kami gunakan untuk menimbang kesepakatan awal yang tak berjalan sebagaimana yang direncanakan, dan mengembalikan seluruh keputusan berlanjutnya proses kepada peserta. Sebuah tantangan: jika proses bersama belum bisa berlangsung—karena beberapa syarat yang belum terpenuhi, apakah proses bisa dilanjutkan secara individual. Mari kita tunggu.

 

 

 

Singkawang: Pluralitas Adalah Niscaya

Oleh Akbar Yumni

 

Pluralitas adalah niscaya. Sekecil apapun sebuah komunitas, meniscayakan sebuah pluralitas di dalamnya. Narasi ini berangkat dari premis keniscayaan akan sebuah pluralitas, termasuk dalam entitas sekecil apapun mengandaikan pluralitas di dalamnya.  Keniscayaan pluralitas tersebut menyebabkan bahwa sebuah komunitas tidak lagi berkutat pada orisinalitas dari sebuah identitas atau tradisi yang berlangsung, karena telah tergerus secara terus menerus dengan pergaulan antara masa lalu dan kekiniannya. Dampak pluralitas ini juga mengandaikan dalam cara memandang masa lalu, di mana perihal ‘asal-usul’ bisa digadaikan dan menjadi sebuah narasi yang selalu bergerak dan terbuka sesuai dengan kebersituasian dari penuturan yang berlangsung.

***

Pembacaan terhadap Kota Singkawang dalam waktu yang singkat, misalnya, sebagaimana para turis yang biasa datang ke Kota Singkawang pada rutinitas ritual tradisi Cap Go Meh, bisa diandaikan melalui pengalaman seseorang yang berharap melihat sebuah fenomena yang ‘menarik’ atau ‘keanehan’ di sebuah masyarakat yang dianggap ‘terpencil’, atau sebuah lanskap yang penuh dengan kode-kode visual dan identitas yang ‘asing’ atau terliyankan. ‘Peliyanan’ itu sendiri bisa jadi adalah sesuatu yang terkadang melekat pada mental  orang yang berasal dari luar dalam memandang sebuah entitas yang lain, sebagaimana para pelancong datang mencari makanan yang khas, atau tempat-tempat dan artefak-artefak yang khas di suatu tempat, kontruksi ini berlanjut dalam cara memandang masyarakatnya yang menjadi identik dengan lanskap menu makanan dan artefak hingga yang sering luput adalah masyarakat juga para individu-individu yang khas dan beragam.

Keniscayaan pluralitas sebagaimana berlangsung di Singkawang, adalah wilayah plural yang muncul sebagai sebuah persilangan dari banyak kultur dan sejarah ekonomi politik yang melingkupinya, juga tidak bisa luput dari sisa-sisa anasir sejarah konflik yang berlangsung pada masa-masa sentralisasi politik baik pada masa kolonial maupun pasa masa pemerintahan Indonesia di masa lalu. Secara umum, Kota Singkawang terbentuk oleh mayoritas komunitas Tionghoa, baik sebagai sebuah wilayah pesisir yang secara geografis cukup strategis sebagai wilayah.

Singkawang mendapatkan penghargaan sebagai 10 kota toleransi se Indonesia pada 2015 dan 2017. Andaian-andaian Singkawang yang mendapatkan penghargaan toleransi sebenarnya memiliki indikator yang berbeda jika memaknai kultur masyarakat sebagai sebuah perilaku dan tindakan keseharian—Sebuah lembaga non-government, Setara Institut, yang memberikan penghargaan dengan menempatkan Singkawang sebagai 10 kota yang memiliki indeks toleransi tertinggi di Indonesia berdasarkan indikator kebijakan pemerintah yang berpihak dan mengakomodir  toleransi.  Pluralitas  berdasarkan struktural ini sebenarnya masih bisa dilihat lagi berdasarkan keseharian para warganya, dalam melakukan pola perilaku kesehariannya, karena pluralisme sebenarnya berangkat dari para individu dalam memandang perbedaan di dalam kesehariannya.

Singkawang yang sebagian besar terdiri dari tiga identitas, Dayak, Melayu dan Tionghoa. Dari beberapa komunitas seni yang terdiri dari anak muda yang ditemui misalnya, beberapa diantaranya seakan membentuk semacam pola tersendiri, di mana nyaris tidak ada individu Tionghoa yang secara keseharian bergaul dengan individu dari identitas lainnya. Meski kemudian ada satu atau dua individu yang bergabung di sebuah sanggar, namun hal tersebut bukan dalam praktek komunitas dalam pengertian pergaulan atau membangun sebuah kelompok bersama atau organik, tetapi lebih pada praktik mekanisme fungsional, seperti kursus tari atau seni lainnya. Pola-pola sosial keseharian ini sebenarnya menjadi sangat tipikal di beberapa wilayah lainnya. Keseharian perbauran antara identitas Dayak, Melayu, dan Tionghoa sebenarnya bisa kita lihat dalam keseharian ekonomi seperti di rumah makan, pekerja dan lain sebagainya.

Suasana kota Singkawang, sebagaimana halnya di Pontianak, di mana di sepanjang jalan banyak warung atau kedai kopi, para anak muda biasa berada di sana dengan akses wifi secara gratis. Selain terdapat beberapa sanggar tari, dan pelaku filem secara individu, dari laman Youtube memperlihatkan bahwa ada inisiatif para pembuat filem di Singkawang secara individu membuat filem yang berbasis bahasa lokal setempat. Kultur produksi independen ini seperti yang juga ada di Medan, di mana para pembuat filem lokal membuat produksi sendiri dengan reproduksi atau menggunakan laman youtube. Penanda yang paling khas dari fenomena produksi filem lokal ini adalah penggunaan bahasa daerah sebagai sebuah usaha mendekatkan produksi filem dengan para warganya sendiri, atau mencari basis penonton yang dekat dengan lingkungan.  Namun secara sinematografis, bahasa visual yang digunakan oleh para pelaku pembuat filem di Singkawang ini masih menggunakan anasir-anasir bahasa filemis yang dominan, karena mungkin tujuannya adalah mencari sebanyak mungkin penonton.  Fenomena produksi filem di Singkawang, membawa kata kunci-kata kunci identitas kedaerahan adalah pada bahasa lokal, meski kemudian anasir identitas sebuah masyarakat Singkawang belum terlihat pada gambaran karya seninya dan juga belum menggambarkan keseharian mereka yang khas.

***

Tradisi Cap Go Meh menjadi sebuah tujuan utama bagi para pelancong di Singkawang. Tahun 2018, menjadi sebuah perayaan besar Cap Go Meh, yang ditandai dengan kedatangan para pejabat negara dari pusat (kabarnya para menteri agama dan olah raga hadir pada perhelatan tersebut), dan keberadaan lampion yang kabarnya memecahkan rekor MURI dan 9 Naga yang dihadirkan pada perhelatan tahunan tersebut. Dalam spasial ini, Cap Go Meh juga dihadiri oleh banyak kalangan di luar masyarkat Tionghoa, bahkan beberapa masyarakat beridentitas di luar Tionghoa, juga terlibat sebagai pelaku Cap Go Meh, seperti sebagai tukang panggul kursi yang diduduki oleh para Tatung. Menurut beberapa keterangan, pengangkat kursi Tatung atau artefak-artefak Cap Go Meh lainnya ini di bayar sekitar 10-50 ribu, dan kebanyakan para pengangkat  yang memang cukup berat ini, diisi oleh para warga diluar identitas Tionghoa yang ada di Singkawang.

Ada sembilan Naga dalam perayaan Cap Go Meh kali ini di Singkawang. Dari desain Naga tersebut nampak sebuah keseragaman Naga, yang berbeda hanyalah warna dan ukuran, namun secara umum terlihat bahwa Naga tersebut dibikin oleh satu pihak. Dari beberapa keterangan yang ada, Naga bagi perayaan Cap Go Meh tersebut dibiayai oleh sebuah yayasan  yang berasal dari sebuah perkumpulan para penguasaha di Singkawang. Ada semacam hubungan mutual antara sebuah tradisi dan relasi modal ekonomi yang melingkupinya.  Cap Go Meh sendiri adalah tradisi Tionghoa yang khas Indonesia, di mana di Negara Tiongkok sendiri perayaan macam Cap Go Meh tidak ada. Meski beberapa elemen dari  Cap Go Meh adalah sebuah tradisi yang berasal dari Tiongkok, namun akulturasi pada Cap Go Meh bisa kita lihat pada Tatung yang merupakan praktik saman yang dipengaruhi oleh masyarakat Dayak, seperti keberadaan Tatung dan daya mistisnya. Dalam spasial ini akulturasi Cap Go Meh  telah mengendap sekian lama dan bahkan saking subtilnya, Cap Go Meh menjadi sebuah  tradisi Tionghoa an sich tanpa proses pengendapan akulturasi didalamnya.

Beberapa kultur dan tradisi Tionghoa di Singkawang sebenarnya sudah hampir pudar. Seperti beberapa pengrajin Barongsai yang juga hampir tidak hidup lagi. Demikian pula dengan wayang Potehi yang biasa nya juga dimainkan di perayaan Imlek, di mana tahun ini tidak dimainkan lagi karena dalang dari wayang tersebut sudah berumur tua dan sakit. Dari keterangan sang istri, sang Dalang sudah tidak bisa bermain, dan sebenarnya mereka mau melatih bermain wayang Potehi secara gratis, namun tidak ada generasi muda yang mau belajar wayang Potehi. Nasib wayang Potehi ini juga ditambah dengan musibah di mana rumah mereka terbakar, sehingga harus pindah—dari beberapa keterangan kecelakan kebakaran tersebut juga dilatari oleh relasi horisontal yang tidak harmonis di antara komunitas mereka sendiri. Beberapa kultur masyarakat Tionghoa di Singkawang lainnya adalah adanya kursus bahasa Mandarin dan menulis aksara Mandirin.

 

Foto oleh Arum Tresnaningtyas

Ekspresi Budaya Masyarakat Singkawang

Aum Tresnaningtyas

1 Maret 2018. 05.00 WIB. Saya, Gunawan Maryanto dan Arsita Iswardani memulai perjalanan dari bandara Adisucipto, Yogyakarta. Kami bertemu Akbar Yumni di Bandara Supadio, Pontianak, lalu singgah di warung kopi milik Davi. Ditemani kopi jahe dan teriknya kota Pontianak, perjalanan kami tunda sejenak sembari menunggu kedatangan teman kami Pascal yang hendak turut ke Singkawang. Perjalanan Pontianak-Singkawang memakan waktu empat jam. Sehari jelang Cap Go Meh, sejumlah ruas jalan protokol dari pagi hingga sore hari dipadati tatung yang melaksanakan ritual cuci jalan. Dalam bahasa Hakka, tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Ritual tersebut sebagai pertanda untuk membersihkan kota dari roh-roh jahat. Para Tatung beramai-ramai ke sejumlah vihara di Singkawang untuk ‘bertamu’ dan meminta berkah para Dewa untuk kelancaran acara esok hari. Kami tiba terlalu sore dan melewatkan ritual tersebut. Semua hotel dan penginapan di Singkawang full booking. Kami menginap di rumah kawan bernama Kendi yang berlokasi di gang Amal, dimana kampung ini banyak dihuni orang Madura.

Esoknya, pukul enam pagi kami berangkat menuju pekong di kawasan Abadi untuk menyaksikan persiapan kelompok Tatung. Bunyi tambur dan simbal memecah keheningan kota. Jalan Diponegoro Kota Singkawang menjadi panggung utama dan tribun bagi para tamu undangan. Ribuan tatung, barongsai dan replika naga beraktraksi di sepanjang jalan. Tercatat sebanyak sembilan replika naga, 1.038 tatung dan juga 20.607 lampion memecahkan rekor MURI. Kami berbaur berdesakan bersama warga dan wisatawan menikmati festival tersebut. Banyak etnis lain juga terlibat di hari raya etnis Tionghoa ini. Seperti Dayak yang ikut parade tatung. Melayu dan Jawa turut memainkan barongsai atau bergabung dalam rombongan sebagai pembawa tandu tatung.

Perayaan dimulai pukul 07.00 pagi, sempat terhenti untuk menghormati umat Muslim yang menjalankan sholat jumat. Perhelatan dilanjutkan dengan pembakaran replika sembilan naga sebagai penutup. Ritual yang dijadwalkan pukul dua siang ini mundur hingga pukul lima sore. Antusias kami sedikit luntur, lantaran bosan dan akhirnya cukup puas menyaksikan dari kejauhan.

Ekspresi budaya di masyarakat Singkawang masih dilihat melulu sebagai bentuk perayaan dan juga hiburan. Baik perayaan keagamaan maupun perayaan yang lain seperti hari jadi kota. Sanggar-sanggar terbentuk— dan kebanyakan adalah sanggar tari dan musik tradisional Dayak dan Melayu— untuk memenuhi kebutuhan perayaan kota, adat dan agama. Selain Cap Go Meh yang belakangan (sejak tahun 2010-an) menjadi pusat perhatian masyarakat baik dalam skala lokal maupun nasional, perayaan lain yang cukup ditunggu adalah perayaan Gawai atau musim panen bagi etnis Dayak. Perayaan ini jauh lebih kecil dari Cap Go Meh, tetapi menjadi salah satu ruang bagi sanggar-sanggar tari dan musik Dayak untuk tampil.

Tujuan utama kedatangan kami yaitu berkenalan dan membangun kontak dengan para pegiat dan pelaku seni di Singkawang. Komunitas ataupun individu yang sekiranya menarik dan berpotensi terlibat dalam projek AntarRagam.

Film dan fotografi menjadi medium yang banyak diminati. Produksi film lokal yang dibuat dalam format DVD cukup menakjubkan. Distribusi film dilakukan secara mandiri dengan jalur Sambas, Singkawang dan Bengkayang. Film-film dengan bahasa lokal tersebut mengangkat tema-tema yang menghibur seperti percintaan, horor dan komedi. Sineas yang kita temui salah satunya adalah Niken, film dokumenternya pernah memenangkan Eagle Award.

Selain film fiksi, banyak juga yang tertarik membuat film dan fotografi dengan pendekatan jurnalistik. Frino adalah salah satu penggeraknya. Ia sering menggelar workshop dan festival berupa pameran foto dan pemutaran film pendek. Bersama komunitasnya, My Singkawang, ia sempat mengadakan lomba video 60 detik tentang kehidupan dan persoalan kampung nelayan di teluk Mak Jantu, Batu Burung. Sebanyak lima belas video terbaik diputar dan disaksikan masyarakat di pesisir pantai. Menurutnya, anak muda Singkawang punya banyak potensi namun kurang inisiatif. Baru tertarik membuat sesuatu jika ada event. Karena itu, ia sering mengadakan perlombaan atau festival untuk memancing semangat kreatifitas.

Teater kurang diminati anak muda. Kami menemui beberapa pegiat teater muda seperti Hellen, Deri, Anningmu, Prima, Boncu, Yoyo Komik dan pelaku senior, Mpok Yanti. Mpok Yanti memiliki sanggar bernama TEBS (Teater Biak Singkawang ) di kelurahan Setapuk, Singkawang Utara. Ia aktif sebagai pemain teater, penulis naskah, make up artist, aktor, pengajar kesenian dan membuka usaha salon. Mpok Yanti terlibat pertunjukkan teater Mustika Bintang yang sempat dipentaskan di Taman Mini. Naskah Mustika Bintang juga dibuat film kolosal. Ia bercerita tentang sulitnya berkolaborasi dengan komunitas lain. Menurutnya, komunitas masih jalan masing-masing, kompetitif dan kurang mendukung satu sama lain.

Beberapa pegiat teater ini juga memiliki minat lain. Misalnya, Prima juga seorang penyair dan sedang menggagas forum penulis Singkawang. Anningmu, selebgram Singkawang yang konsisten membuat video dubbing dengan bahasa lokal. Yoyo Komik, sebelum tertarik menjadi aktor, merintis karir sebagai komikus sejak 2002 dengan mengangkat cerita-cerita rakyat.

Untuk senirupa, kami berjumpa dengan beberapa pegiatnya di warung kopi sekaligus galeri bernama Kedai Sesama. Galeri yang berumur satu tahun ini pernah menyelenggarakan beberapa pameran, seperti batik dan gambar. Ini adalah tempat berkumpulnya anak muda (SMA dan mahasiswa semester awal) yang tertarik gambar dan tergabung dalam komunitas bernama Muge (Musim Menggambar). Kelompok ini dulu sangat aktif, berkumpul seminggu sekali menggambar di beberapa sudut kota Singkawang. Saat ini sedang vakum. Terhentinya kegiatan ini biasanya terjadi karena para penggeraknya pergi untuk bersekolah, bekerja atau berkeluarga.

Kami bertemu Greg, seorang dayak yang juga tatung. Ia adalah musisi, pemain sape dan perkusi. Greg mengeluhkan minimnya fasilitas gedung pertunjukkan dan kurangnya apresiasi pemerintah Singkawang terhadap kesenian. Tidak ada gedung kesenian, namun dijanjikan akan dibangun panggung teater di SCC (Singkawang Cultural Center). SCC dibangun sebagai ruang kreatif dan tempat Pusat Informasi Kota Singkawang. Bangunan ini merupakan wajah baru dari gedung bioskop lama yang sudah direnovasi. Kami sempat menghadiri peluncuran Singkawang Art and Design Week (SADW) di kawasan Pasar Hongkong, dihadiri Walikota Singkawang yang baru Tjhai Chui Mie beserta wakilnya Irwan. Acara yang digagas oleh para arsitek muda Pontianak ini akan direalisasikan tahun 2019. Kami datang bersama Romo, ayah dari Kendi tempat kami menginap. Ia merasa tersinggung karena tidak ada orang Singkawang yang hadir dan dilibatkan dalam acara tersebut. Romo yang tergabung dalam Kelompok Musisi Jalanan Singkawang (KPJ) mengundang beberapa temannya untuk mengintervensi panggung dengan menyanyikan beberapa lagu.

Banyak potensi seni di Singkawang yang belum terfasilitasi dan diapresiasi dengan baik. Akibatnya, banyak pelaku seni lebih nyaman tampil di luar Singkawang. Misalnya, Greg pernah diundang tampil di Taman Mini dan hanya diapresiasi sebesar 300 ribu. Tidak adanya regenerasi juga membuat kekhawatiran pelestarian kesenian di kota ini. Seperti, terancam punahnya wayang gantung. Cerita lainnya,  Ega adalah satu-satunya pendongeng boneka yang tergabung di Komunitas dongeng Indonesia, belum ada peminat lain. Banyak komunitas yang dulu aktif sekarang bubar perlahan. Semoga kunjungan kami berikutnya dapat memantik dan membangunkan gairah berkesenian di Singkawang.