Lingkungan dan Buruh Migran (Catatan Workshop Penciptaan Bersama: “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” di Sumbawa)

Oleh Venti Wijayanti

Pada tanggal 11 – 15 April 2018 Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop bersama dengan teman-teman komunitas di Sumbawa. Workshop bertempat di Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih.

Workshop hari pertama dibuka oleh H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa sekaligus Kepala Pengurus Istana Dalam Loka. Istana Dalam Loka merupakan tempat yang difungsikan sebagai museum dan pusat kegiatan kesenian di Sumbawa. Peserta workshop yang hadir datang dari berbagai disiplin seni dan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, guru, seniman, dan aktivis buruh migran. Beberapa komunitas yang ambil bagian adalah Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain. Lintas disiplin yang berbeda dan jenjang umur yang beragam membuat workshop menjadi wadah untuk mempertemukan mereka dalam satu percakapan. Jarang terjadi kesempatan berupa kegiatan yang dapat mempertemukan para seniman Sumbawa dari beragam disiplin dan jenjang usia ke dalam satu forum. Workshop Penciptaan Bersama ini adalah salah satu kesempatan itu.

Peserta yang hadir sejumlah 15 orang, dan yang bertahan sampai hari terakhir workshop hanya berjumlah 6 orang. Peserta tersebut adalah Syamsuddin dari SBMI, Mulya Putri Amanatullah, Hadiatul Hasana dari SP, Kardiana dari SP, Dewi Astuti dari Sanggar Tari Mutiara Bungin, dan Reny Suci dari SCS. Praktik workshop penciptaan karya bersama berlangsung sebagai proses mengenali isu lingkungan, sosial, politik, dan perputaran ekonomi di Sumbawa. Proses pengenalan ini berlangsung dari identifikasi benda-benda yang disiapkan oleh peserta workshop, yang sebelumnya memang sudah ditugaskan untuk membawa benda atau tulisan artikel yang menarik tentang lingkungan tempat tinggalnya. Benda yang dibawa beragam dan cukup menarik, antara lain jagung, seragam bekas SMA, foto tari tradisi di Bungin, foto buruh migran, foto anak muda pelaku kriminal, lukisan ikan, boneka, artikel peristiwa kriminal. Narasi cerita yang terangkai dari benda yang dikumpulkan memberikan sedikit gambaran tentang Sumbawa dan karakteristik subjek yang membawa benda tersebut. Keberadaan subjek memberikan kerangka pada sebuah peristiwa memunculkan keluasan pandangan terhadap hal-hal yang terkait pada benda yang dipilihnya.

Isu yang dikemukakan pada sesi diskusi kelompok kecil yang dibagi menjadi dua adalah ‘lingkungan’ dan ‘perempuan buruh migran’ (PBM). Isu lingkungan terkait dengan beberapa kunci yang ditemukan dari proses penceritaan narasi dari artefak yang dibawah peserta workshop. Kata kunci lainnya adalah petani, kedaulatan pangan, pariwisata, tradisi, dan pelestarian. Pada isu lingkungan kaitannya dengan pariwisata dan penanaman bibit jagung hibrida yang mulai masuk pada tahun 2012. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya penanaman jagung pada pembukaan lahan baru di perbukitan yang tersebar di Sumbawa adalah banjir bandang yang diduga efek dari penggundulan hutan di perbukitan. Selain itu juga berdampak pada petani umbi-umbian yang mulai terancam dengan penanaman jagung yang juga menggunakan pupuk kimia untuk mengejar peningkatan hasil panen. Isu lingkungan pada pariwisata diungkapkan bahwa pada umumnya pemerintah membuat kebijakan yang hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi tanpa memikirkan efek dari pelonjakan wisatawan bagi lingkungan. Sumbawa sendiri yang sebenarnya belum mampu menerima wisatawan secara infrastuktur, tetapi pemerintah mulai mengejar peningkatan tersebut dengan cara melakukan praktik ‘disharmonis’ dengan alam.

Isu kedua adalah perempuan buruh migran (PBM). Kata kunci lainnya yang dikemukakan pada tahapan gerbongisasi kuil kata adalah human trafficking, kekerasan (seksual), perlindungan hukum bagi buruh migran. Isu ini menjadi menarik dibicarakan pada waktu sesi diskusi karena terdapat anggota SP dan SBMI yang secara langsung berkerja dengan isu tersebut. Sehingga isu PBM menjadi lebih detail dijabarkan dari alasan yang melatar belakangi banyaknya PBM di Sumbawa sampai beberapa kasus yang terjadi dan kesuksesan buruh migran di Negara-negara seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dll. Banyaknya buruh migran di Sumbawa berkaitan dengan adanya ekosistem yang terdapat di Sumbawa, seperti agen, calo, sponsor, buruh migran sukses. Isu PBM merupakan isu yang kompleks dan sangat dekat dengan masyarakat Sumbawa, karena biasanya PBM merupakan keluarga dekat, saudara kandung, tetangga, dan pelaku agen ilegal juga ada di sekitarnya, biasanya keluarganya sendiri, ataupun di struktur pemerintahan. Isu ini seperti benang kusut yang belum ditangani dengan baik dari segi pencegahan, padahal banyak kasus yang belum terselesaikan. Faktor yang melatarbelakangi untuk menjadi PBM adalah ekonomi atau dorongan keluarga dekat, seperti orang tua.

Proses tahapan workshop selanjutnya adalah gali sumber dengan mencoba praktik riset dan wawancara di pasar tradisional yang ada di pusat kota Sumbawa, yaitu Pasar Seketeng. Semua peserta diberi kesempatan berkeliling di pasar selama dua jam dan diberi tugas untuk mengambil foto, wawancara narasumber, membawa benda yang menarik dan mencatat hasil pengamatan. Pengamatan yang dilakukan di pasar oleh para peserta dilakukan dengan harapan bahwa data yang dicari bisa dijadikan sebagai inspirasi, dan hal yang paling menarik adalah bisa mengetahui bahwa proses ini penting dilakukan dalam metodologi penciptaan karya. Proses kerja gali sumber yang dilakukan bersamaan oleh masing-masing peserta di lokasi yang sama tetap akan mendapatkan informasi yang berbeda sehingga semakin beragam info yang dikumpulkan. Data dari informasi pengamatan saling mengecek satu sama lain sehingga membuka percakapan dan diskusi lebih lanjut.

Hari selanjutnya masuk pada proses improvisasi dari data-data yang didapatkan oleh masing-masing peserta. Pada umumya peserta workshop tetap memilih teater pada bentuk improvisasinya, maskipun latar belakang disiplin dan praktik mereka adalah film, tari, aktvis. Tahapan ini dilakukan peserta dengan mengolah potensi tubuhnya yang difasilitatori oleh Qomar dan Dendi. Pada tahapan ini para peserta mencoba membuka kemungkinan beberapa gerakan dari pengamatan lapangan maupun imajinasi mereka untuk membuat gerakan dengan adaptasi pengolahan tubuhnya. Selanjutnya gerakan dicoba untuk dipraktikkan berulan-ulang dan disusun menjadi komposisi pada masing-masing kelompok. Ada dua kelompok yang menyusunnya menjadi komposisi dari isu buruh migran sebagai narasinya. Komposisi yang muncul adalah gerakan tubuh teater dan tari, serta terdapat dialog yang dimunculkan  dan juga narasi bacaan dari potongan artikel yang ditemukan. Sebagai bentuk praktik penciptaan para peserta workshop di Sumbawa sudah memahami alur dan bentuk praktik sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya yang bisa disusun atau diulang lagi proses pengamatan dan gali sumbernya. Kemudian dipraktikkan, direkam/diingat dan dikaji ulang pada bentuk penciptaannya.  Kemudian pada hari terakhir adalah presentasi.

Proses tahapan workshop ini diharapkan dapat dipraktikan menjadi metodologi penciptaan karya bersama, dan jelas sangat terbuka untuk dimodifikasi sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial yang melatari isu dan penciptaannya maupun konteks produksinya. Workshop selama lima hari di dua tempat berbeda memberikan pengalaman penciptaan, kerjasama kelompok, dan khususnya pemahaman akan waktu yang terlihat pada dinamika kelompok selama workshop. Muncul potensi-potensi para peserta yang beragam dari latar yang juga beragam. Selain itu terdapat pertemuan antara seniman senior dan seniman muda yang dikesehariannya sering tidak bisa bertemu dan berdiskusi karena perbedaan pandangan. Dan juga pada awalnya, mitra penyelenggara workshop bersama Dewan Kesenian Sumbawa tetapi pada prosesnya terselenggaranya juga mendapat dukungan besar dari komunitas Sumbawa Cinema Society, terutama dukungan dari Bapak Hasanuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dan juga seorang maestro tari di Sumbawa, salah satunya memberikan rekomendasi dan surat ijin untuk Dewi Astuti, peserta workshop dari Pulau Bungin yang berprofesi sebagai penari dan guru untuk mengikuti workshop secara penuh.

 

Catatan Kecil dari Sumbawa

Dendi Madiya

Ketika saya berada di udara, sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Lombok Praya, saya melihat daratan dan perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mungil. Komposisi geografisnya terdiri atas persawahan, ladang, padang rumput, tanah, jalan raya, kelokan aliran sungai, laut dan perbukitan. Area perkotaan berikut pemukiman terkonsentrasi di satu-dua titik dengan pergerakan laju kendaraan bermotor di dalamnya. Warna yang diperlihatkan kepulauan ini adalah hijau, cokelat, juga biru. Binatang berkaki empat berserakan: sapi dan kuda yang sedang bersantap siang.

Saya ingin tahu, bagaimana orang NTB berbicara. Dialek seperti apa yang mereka bunyikan dalam percakapan sehari-hari? Bagi saya, hal itu semacam pintu masuk pertama untuk berinteraksi dengan medan penelitian. Saya memasuki smoking room Bandara Lombok Praya. Petugas bandara yang memakai rompi hijau banyak merokok di situ. Tetapi tak banyak percakapan yang terjadi. Mereka asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, bebunyian game dari smartphone masing-masing terdengar. Satu-satunya tema perbincangan yang sempat saya kuping adalah perseteruan sepakbola Liga Eropa.

Bersama tiga orang rekan, Lusia Neti Cahyani, Shohifur Ridho’i dan Venti Wijayanti, saya berkesempatan mengunjungi Sumbawa dalam rangka menjalankan program Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang bertajuk Performing Differences. Sebuah program yang bertujuan untuk mempelajari isu-isu perbedaan, keragaman dan toleransi, terutama di wilayah timur Indonesia.

Saya tidak banyak mengunjungi kota-kota atau daerah-daerah di Indonesia. Tapi cukup sering saya mendengar atau membaca curahan hati seniman-seniman muda yang berkarya di berbagai tempat di Indonesia. Sepertinya memang ada beberapa persoalan yang sama yang menggelayuti lingkungan berkesenian kita. Saya mendengarnya kembali di Sumbawa ini melalui sejumlah pegiat seni dan sosial di Sumbawa.

Persoalan-persoalan itu diantaranya adalah kesulitan mendapatkan ruang untuk menyelenggarakan kegiatan kesenian bersama publik; regenerasi yang tidak berlangsung pada beberapa sektor bidang kesenian; ketergantungan seniman kepada festival yang diselenggarakan oleh pemerintah; dukungan pemerintah yang belum komprehensif terhadap luasnya lanskap kesenian; pandangan seniman-seniman senior yang masih minor terhadap pembaruan-pembaruan yang diupayakan oleh seniman-seniman penerusnya; masih banyak seniman muda yang tidak berani berkarya keluar dari apa yang disebut sebagai ‘pakem’ yang digariskan oleh seniman pendahulu; mandeknya kreatifitas seniman; seniman masih alergi terhadap diskusi-diskusi; seniman belum mampu menuliskan konsep kekaryaannya; miskinnya isu yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat yang diangkat seniman ke dalam karyanya; kurangnya pengajar atau pelatih kesenian untuk sekolah-sekolah; isu kesenian sebagai pariwisata.

Masalah-masalah itu saya rasakan seperti tersebar dimana-mana di Indonesia ini, tidak hanya di Sumbawa. Memang terkesan sok tahu. Tapi begitulah yang saya rasakan. Seperti ada penyebab yang sama, pengkondisian yang sama, oleh pelaku yang sama, sejak lama, tak kunjung memperoleh jalan keluar.

Sering pula kita mendengar ucapan tokoh masyarakat, pejabat di suatu daerah, seorang seniman yang mengatakan bahwa di wilayahnya terdapat warga dari beragam etnis. Begitu pula Sumbawa. “Sumbawa ini miniatur Indonesia.” Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘miniatur Indonesia’ itu. Dimana-mana di Indonesia ini rasanya seringkali ada, apa yang disebut ‘kampung etnis A,’ ‘kampung etnis B,’ ‘kampung etnis C,’ dan seterusnya.  Warga terbuka untuk kehadiran saudara-saudara dari etnis lain. “Tidak ada pertikaian etnis di Sumbawa,” kata Yuli Andari dari Sumbawa Cinema Society (SCS).

Mereka menemani kami dengan kisah-kisah serta perjalanan ke berbagai tempat di Sumbawa. Selain Andari, dari SCS ada Anton Susilo dan Reny Suci. Tidak ketinggalan, Hallen Muchlis dan Moel dari Sumbawa Visual Art (SVA). Musisi rock, Ferdiansyah dan Muhammad Akbar, yang pernah menyelenggarakan event Rock in Samawa. Juga Lulu yang bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa.

Dari mereka, terendus semangat untuk melakukan perubahan-perubahan, baik kondisi social maupun kesenian Sumbawa. Setidaknya ada spirit untuk tidak tinggal diam, spirit membaca masyarakat, spirit menempuh jalur alternatif untuk keluar dari problema, meskipun ‘kisah-kisah sedih’ memang sudah terlanjur berada di pundak. Kisah-kisah memprihatinkan tentang problema sosial, budaya, kesenian Sumbawa, mengucur dari mereka.

Anton pernah mengangkat kisah (yang tak kunjung habis) mengenai buruh migran Sumbawa ke dalam karya film: problema buruh migran yang berada dalam lingkaran penderitaan, penganiayaan, kematian, juga kegilaan, di samping kesuksesan yang sering diperlihatkan melalui cara berpakaian buruh migran yang berubah mewah sebagai tanda pertama ketika mereka pulang. Lebih dalam mengenai regulasi dan hal teknis lainnya mengenai buruh migran dipaparkan oleh rekan-rekan dari SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Sumbawa yang juga sempat kami temui. Dari mereka, kami mendengar kisah betapa kompleksnya persoalan yang melingkupi dunia buruh migran. Belum lagi harus berhadapan dengan aparat Negara dari berbagai tingkat untuk mengurus satu kasus yang berlarut-larut sebagaimana diceritakan kawankawan dari Solidaritas Perempuan Sumbawa.

Dengan mengajak banyak pihak diantaranya ikatan-ikatan keluarga beragam etnis yang ada di Sumbawa, Andari menggagas dan mewujudkan program Harmoni di Tanah Samawa (HTS) pada Mei 2017. Andari yang dikenal juga sebagai sutradara film, memasukkan lintas disiplin seni ke dalam acara ini. Selain pemutaran film, ada pertunjukan teater, tari, pawai dan seni instalasi.

Kegiatan yang seperti hendak menghembuskan nafas kerukunan dan perdamaian antar lintas warga di Sumbawa ini, mengambil tempat di Istana Bala Puti (kini disebut Wisma Daerah). Istana ini dibangun tahun 1932-1934 oleh Sultan Sumbawa ke-17, yaitu Sultan Muhammad Kaharuddin III. Sayang beribu sayang, enam bulan kemudian setelah pelaksanaan HTS, istana ini mengalami kebakaran. Kami sempat menyaksikan reruntuhannya. Ada semacam ironi yang saya rasakan ketika berada di situ. Seperti ada lembaran-lembaran sejarah yang tercerabut hilang.

Sebuah kompetisi mural baru saja diselenggarakan oleh SVA yang mengambil tajuk Warna- Warni Kota Kita pada Januari lalu. Kompetisi yang menuntut peserta untuk mendeskripsikan Sumbawa lewat mural ini, mengambil lokasi di Stadion Pragas. “Untuk seni rupa, Sumbawa belum kelihatan,” demikian Hallen membuka pengamatannya. Event yang mereka gelar itu merupakan usaha percobaan untuk mendeteksi kekuatan seni rupa Sumbawa. Sebenarnya mereka masih meraba-raba dalam pelaksanaannya. Di luar dugaan, tingkat antusiasme peserta cukup tinggi dengan jumlah tim mural yang ikut serta sebanyak 50 tim. Ternyata para peserta dari kalangan muda ini menunggu untuk adanya sebuah event dimana selama ini mereka vakum.

Ferdi dan Akbar adalah musisi-musisi muda beraliran rock yang berkiprah di Sumbawa dengan mengangkat isu-isu toleransi. Selain itu, keduanya merupakan pecinta kopi. Pada sebuah kesempatan obrolan, Ferdi mengidamkan banyak kebun kopi di Sumbawa ketimbang kebun jagung. Banyak sudah hutan diubah menjadi kebun jagung dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Sumbawa, cerita Ferdi. “Sudah seperti Jakarta saja, banjir setiap tahun.” Kopi memang untuk orang-orang yang visioner dan penyabar, lanjut Ferdi. “Kalau orang Sumbawa banyak menanam kopi, hatinya pasti damai dan tentram,” begitu imajinasi Ferdi. Akbar sendiri sudah dua kali menggelar event yang mempertemukan para petani kopi dengan konsumen serta diisi pula dengan workshop-workshop pengolahan kopi.

Obrolan-obrolan yang hangat pun berlangsung dengan para pengurus Dewan Kesenian Sumbawa dan beberapa seniman senior dari bidang teater dan seni rupa. Dari sini muncul cerita legenda Tanjung Menangis yang telah dipentaskan berulang kali dalam festival yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu Festival Moyo. Ada kegelisahan-kegelisahan, mengapa hanya legenda ini yang sering dipentaskan, disamping harapan adanya penulisan ulang dengan memasukkan visi-visi baru. Tapi, siapa pula yang akan menuliskannya? Sementara, pada sisi lain, ada sosok seorang aktor senior seperti Pak Jayadi yang kini disibukkan dengan kegiatannya sebagai kepala sekolah sebuah SMK. Pak Jayadi telah beberapa kali mementaskan naskah-naskah dari Arifin C. Noer, Anton Chekov dan Putu Wijaya.

Pada suatu kesempatan, kami memasuki area persawahan di Desa Poto, Moyohilir. Kami mengikuti seorang petani sekaligus seniman yang bernama Papin (Kakek) Prebore. Tubuhnya masih tampak kekar tetapi juga membungkuk. Kakek ini adalah seorang peniup suling dari batang padi atau disebut juga ‘serunai.’ Papin menyibak-nyibak batang padi di sawah dengan konsentrasi penuh. Kami yang bertanya-tanya tentang apa yang dicarinya, tidak digubrisnya.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, Papin meniup-niup batang padi itu. Kami mendengar lantunan nada dari nafas panjangnya. Bagi saya, Papin seperti bagian lain dari peta kesenian di Sumbawa. Jauh dari keriuhan permasalahan, di rumahnya di antara ladang, dia asyik menghayati kesenian dengan ditemani sang isteri.

Ah, kambing kertas. Tentu, yang juga tak dapat dilupakan adalah kunjungan ke Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Di sini, karena tidak ada padang rumput, kambingkambing

jadi pemakan apa saja yang bisa mereka makan, termasuk kertas. Kambing-kambing berkeliaran diantara padatnya rumah penduduk. Inilah wilayah yang disebut ‘daerah terduga kumuh.’ Kesenian yang berasal dari sini adalah joget Bungin. Dewi Astuti dan Ibu Nilam masih bergiat mempraktekkannya, mengajarkannya ke anak-anak dengan iringan musik dari tape dan handphone. Sudah tidak banyak yang mampu menjadi pemusik untuk joget Bungin.

Kontras terasa ketika kami beranjak ke restoran apung dimana angin dan laut seperti mampu menghilangkan kepenatan. Dan kami pulang kembali ke penginapan dengan berdebar karena harus mengarungi perjalanan malam tanpa cahaya lampu mobil.

Kami diantar ke beberapa tempat oleh seorang supir (yang kemudian menjadi kawan) bernama Obi. Lelaki muda belum genap berusia 30 tahun ini merupakan anggota SVA. Di dalam mobilnya, sambil mengantar kita, Obi memutar lagu-lagu dari radio maupun flasdisk. Kita tetap bisa mendengar lagu-lagu Slank, juga Gugun and the Blues Shelter di Sumbawa. Sempat kita nikmati pecel lele dan pecel ayam sebagaimana di kota-kota di Pulau Jawa. Spanduk kain kedai pecel ini masih bernuansa sama dengan kedai pecel di Pulau Jawa: ada gambar lele, gambar ayam, tahu-tempe serta warna-warni yang ngejreng. Tak lupa, Indomart dan Alfamart. Salah satu lokasi mereka di Jalan Hasanudin terlihat dua waralaba ini berdiri berseberangan dan berhadaphadapan langsung

Bersama mereka semua, telinga saya seperti dilatih untuk sabar mendengar. Terbersit dalam hati, belum seberapa berat masalah yang saya hadapi. Pekerjaan ‘mendengar’ bukan perkara mudah. Perlu kemampuan untuk menunda apa yang ingin saya katakan, apa yang saya pikir adalah solusi, karena jangan-jangan apa yang saya ketahui dan pahami belum sebegitu mendalam dari apa yang digulati orang lain.

Entitas Pulau Bungin Sebagai Wilayah Pesisir

Venti Wijayanti

Setelah beberapa hari sampai di Sumbawa, kami sudah melalui pertemuan dengan  beberapa komunitas seni yang tumbuh di sana. Komunitas seni anak muda pada  umumnya menarik, seperti Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art, dan  di bidang musik ada Ferdi dan Akbar yang tergabung dalam Indimusic Movement.

Berkesenian menurut mereka tidak sama dengan orang-orang berkesenian di Sumbawa pada umumnya, kesenian merupakan bentuk dari usaha kreatif mencipta untuk bersuara. Sehingga kegiatan berkesenian bagi komunitas anak-anak muda ini selalu dihidupi dengan usaha mewujudkan ide mereka atas respon kesenian yang berbentuk festival dan proyek.

Pertemuan dengan komunitas seni anak-anak muda di Sumbawa Besar membawa penasaran kami dengan bentuk seni dan budaya yang ada di daerah-daerah lainnya di Sumbawa. Saya, Lusi, Dendi dan Ridho merencanakan perjalanan ke Pulau Bungin pada Senin, 5 Maret. Perjalanan dilakukan dari pagi melewati daerah bernama Rhee, yang sepajang jalan wilayah tersebut menjual jagung dengan biji berwarna putih atau jagung ketan. Sesampainya di Pulau Bungin dengan melalui jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Sumbawa Besar. Lanskap wilayah pesisir ini memiliki keunikan tersendiri yang membawa penasaran saya untuk mencari tahu banyak tentang Pulau Bungin. Ingatan visual saya terpikat dengan adanya pemandangan laut pinggir pantai, batu-batu karang sebagai pondasi rumah, sampah berserakan, pola susunan rumah panggung, anak-anak kecil bermain air di Dermaga, kambing, dan tanaman berjaring.

Bungin terletak di kecamatan Alas, yang posisinya di bagian Utara Sumbawa Besar. Bungin memiliki 15 RT yang dibagi menjadi 3 Dusun, yaitu Dusun Tanjung (RT 1 – 5), Dusun Sakatek (RT 6 – 10), Dusun Bungin Tenggiri (RT 11 – 15). Banyak media meliput dan memberitakan bahwa Pulau ini sebagai daerah terpadat di Dunia. Pada saat Teater Garasi berkesempatan mengunjungi dan mengenal kesenian dan budaya di Pulau Bungin, saya menemukan keterangan bahwa Pulau ini sebagai Pemukiman Terduga Kumuh oleh lembaga pemerintah Pekerjaan Umum program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) pada tahun 2016. Hal ini memberikan asumsi bahwa Pulau Bungin masih gamang ditetapkan sebagai Pemukiman Terduga Kumuh. Penetapan ini bisa jadi terlalu gegabah, dan secara psikologis memungkinkan adanya dampak pernyataan tersebut terhadap penduduk Pulau Bungin. Asumsi ini jika dikaitkan dengan keunikan Bungin sebagai pulau dan kota pemukiman satelit dengan kehidupan sederhana sudah bisa dikatakan seperti itu. Potensi Bungin yang warganya merupakan suku Bajo dan Bugis , yang memiliki nenek moyang dari Selayar sudah telihat kekhasannya sebagai kota pesisir. Ketika penilaian program Kotaku tahun 2016 menunjukan bahwa Pulau ini menarik perhatian.

Perluasan atau reklamasi pulau Bungin semakin tahun semakin menjadi, pada awalnya tradisi untuk merperluas wilayah dikarenakan adanya pernikahan. Pernikahan mengharuskan pria yang berasal dari lain daerah yang akan meminang gadis Bungin, mengumpulkan sebanyak-banyaknya batu karang dari pinggir pantai untuk membangun fondasi rumah. Rumah yang ada di Bungin berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu. Kepadatan penduduk Pulau Bungin berawal dari adanya pernikahan dan beranak pinak, sehingga perluasan wilayah pesisir ini semakin tidak  terbendung. Bungin mengalami reklamasi pertama besar-besaran adalah tahun 2012 dan saat ini terjadi semakin luas. Mata pencaharian dari penduduk Pulau Bungin adalah pelaut atau nelayan ikan, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki yang melaut sampai Kupang, bahkan Timor Leste, wilayah yang masih memiliki hasil laut yang beragam. Biasanya mencari biota laut, seperti ikan hias atau terumbu karang untuk dijual.

Vegetasi tanaman yang tumbuh di Bungin sangatlah jarang dan terhambat pertumbuhannya karena wilayah pesisir yang gersang dan belum terolah sistem pertanamannya. Terbatasnya vegetasi tidak semata-mata karena wilayahnya yang sulit untuk dibudidayakan tanaman, tetapi ada penyebab lain yaitu karena habitat kambing. Tanaman di Bungin harus ekstra perlindungan jika ingin pertumbuhannya berlangsung lama dan tetap indah dipandang dengan cara memberikan pagar dari bambu atau jaring-jaring. Perlindungan ini merupakan usaha penduduk untuk memiliki vegetasi tanaman dan melindunginya dari serangan hama kambing.

Keberadaan kambing yang terlalu banyak populasinya di Bungin adalah petakan bagi pertumbuhan tanaman. Masyarakat Pulau Bungin memelihara kambing sebagai hewan ternak dan investasi jangka panjang, tetapi juga menjadi hama bagi warganya. Hal ini dikarenakan sulitnya pertumbuhan lahan hijau, sehingga kambing harus hidup dengan makan sampah rumah tangga bahkan kertas. Kambing dibiarkan hidup bebas dan berkeliaran mencari makan. Pada suatu saat ada musibah yang dialami oleh kantor Desa Bungin, pada saat staff tidak ada dan keadaan kantor terbuka, kambing menyerang masuk ke kantor dan memakan banyak arsip dokumen Desa. Alhasil Kepala Desa berserta staffnya kelabakan dengan adanya penyerangan hama kambing. Cara survive kambing investasi tersebut memang jelas akan menguntungkan empunya karena tidak perlu memberinya makan tetapi hal ini mengakibatkan kambing terserang penyakit scabies, sejenis penyakit kulit pada hewan yang kurang nutrisi.

Penduduk Bungin juga banyak dihuni dengan anak-anak kecil dan orang dewasa usia produktif. Di Bungin terdapat sekolah atau institusi pendidikan untuk anak-anak dari PAUD, TK, SD, sampai SMP. Para orang tua bisa menyekolahkan anaknya di Bungin sampai SMP, dan akan mengirimkan anaknya sekolah di daerah terdekat untuk tingkat SMA dan untuk tingkat Universitas biasanya memilih di Mataram atau Bali. Pilihan menyekolahkan ke Universitas, jika keluarganya mampu untuk menyekolahkan anaknya pada tahap pendidikan tersebut. Pendidikan masyarakat Bungin masih rendah, banyak yang hanya lulus SMA, dan tidak sampai menempuh pendidikan SMA. Biasanya generasi muda Bungin banyak yang lulus SMA memilih untuk berkerja sebagai pegawai waralaba di Bali atau Mataram, kota maju yang letaknya dekat dengan Bungin. Banyak juga yang lulus sekolah Pariwisata dan berkerja sebagai pegawai Hotel di Bali dan Lombok. Pekerjaan di Hotel menjadi tawaran yang menarik pada generasi muda karena akan mendapatkan gaji yang banyak, dan hanya bermodal bisa bahasa Inggris.

Alat transportasi utama di bungin adalah Jhonson yaitu perahu motor kecil, untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lainnya. Biasanya digunakan untuk bekerja, berpergian, atau berangkat ke sekolah. Jhonson sangatlah popular sebagai alat transportasi di wilayah pesisir, tetapi karena Pulau Bungin sendiri sekarang sudah ada jembatan jalan darat yang menghubungkan langsung dengan kota jadi kebutuhan akan Jhonson sudah tidak seistimewa dulu lagi. Karena penduduk sudah dimudahkan dengan alat transportasi sepeda motor. Jhonson tetap dipakai untuk mengirim barang-barang dagangan dan perlengkapan upacara adat Tibaraki yaitu bambu dan pohon pisang.

Upacara adat Tibaraki adalah sejenis upacara larung yang biasanya diselenggarakan jika ada penduduk Bungin yang mengalami sakit. Upacara ini dilakukan dengan melarung kepala kerbau dan menggunakan Sandro (dukun) untuk menjalankan upacara. Tibaraki merupakan upacara yang berkaitan dengan tradisi larung yang berdasarkan dengan adat nenek moyang dan kehidupan masyarakat dari laut.

Upacara ini memiliki bentuk khas perempuan dan terdapat tarian yang harus ditarikan oleh perempuan, selain itu disiapkan perlengkapan rias dan memasak. Biasanya Tibaraki berlangsung lama dan tidak dapat dijadwalkan akan selesai kapan, karena Sandro menunggu penari atau orang yang ikut upacara adat ini trans, dan Sandro bertugas untuk membahasakan maksud dari orang trans tersebut. Kaitannya dengan perlengkapan upacara dan durasi upacara yang panjang, Tibarakimembutuhkan anggaran yang banyak.

Kesenian di Bungin terdapat tari dan musik, yang semua kaitanya dengan upacara adat dan festival atau lomba. Dewi Astuti merupakan penari yang memiliki Sanggar Mutiara yang dia kelola sejak tahun 2012, sepeninggal ibunya yang merupakan pendiri sanggar tersebut bersama dengan Ibu Nilam. Dewi bergerak di tari kreasi baru, sedangkan Ibu Nilam menekuni tari tradisi yang sesuai pakem. Tari di Bungin terkendala oleh regenerasi pemusik yang bertugas mengiringi penari pada saat pentas. Pemusik kebanyakan yang ada sudah berumur tua dan mereka memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Pemerintahan (PNS) sehingga pada saat ada pementasan harus dijadwalkan lama sebelumnya. Pemusik di tari biasanya sebagai pemain Tipiu, sejenis alat musik seruling. Jika tidak ada pemusik, maka penari tidak bisa pentas. Hal ini menjadi problem penting di kesenian tradisi di Bungin. Dewi biasanya melatih tari di sanggar pada hari Minggu sore atau terkadang juga pada hari libur aka nada jadwal menari. Peserta tari di Sanggar Mutiara pada umumnya anak-anak SD.

Mereka berlatih rutin untuk mengisi kegiatan atau jika ada undangan dari Desa untuk mengirimkan perwakilan lomba di Kecamatan. Pulau Bungin sering kedatangan tourist yang melakukan perjalanan dari Lombok yang akan ke Labuan Bajo, biasanya kapal akan berlabuh di Dermaga Pulau Bungin. Para agen travel biasanya menghubungi Dewi untuk menyambut tamu dengan tarian selamat datang di Dermaga. Secara pribadi Dewi menjelaskan bahwa dengan adanya tourist berarti bisa menambah penghasilan pada Dewi yang bekerja sebagai Guru Honorer SD di Bungin.