Nubun Tawa: Memetakan Potensi Seni Budaya Flores Timur

Oleh Venti Wijayanti

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru—penyegaran dan pengembangan—dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni budaya antar kecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas yakni dengan menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat. Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Nubun Tawa Festival adalah bagian dari program AntarRagam (Performing Differences). Bekerjasama dengan pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flores Timur selama ini. Festival Nubun Tawa diselenggarakan di Kecamatan Lewolema, dirancang bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah Flores Timur, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di tujuh desa di Kecamatan Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

Rangkaian acara dibuka dengan upacara penyambutan di gerbang masuk Desa Bantala, dan dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, serta jajaran pejabat daerah Flores Timur, staf Kecamatan Lewolema, Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur. Dilanjutkan rangkaian pentas seni tradisi dan pertunjukan budaya Lewolema, di Lapangan Desa Bantala, membuka festival Nubun Tawa, festival seni budaya berbasis masyarakat Flores Timur. Sore hari, rombongan pengunjung dan warga masyarakat Lewolema, Flores Timur bergerak pindah ke bukit Eta Kenere, menggelar serangkaian pentas dari Darlene Litaay (Papua), Iwan Dadijono (Yogya), Kung Opa (Larantuka) dan Veronika Ratumakin (Adonara – Flores Timur), dan kemudian diakhiri dengan tari pergaulan Sole, Dolo-dolo, Lili dari warga desa Bantala. Acara di bukit berlangsung mulai matahari tenggelam hingga menyambut matahari terbit, dengan konsep camping cerita bersama keluarga.

Pada hari kedua beberapa agenda festival dilangsungkan: Pameran Tattoo Tradisional Budaya Lewolema yang berlangsung selama tiga hari festival, Teater Basa Tupa di Desa Riangkotek, Diskusi Budaya Lamaholot (Lewolema) yang diisi oleh Pater Simon Suban Tukan SVD dan Ivan Nestorman, berserta moderator Kowa Kleden di Desa Riangkotek, dilanjutkan Karnaval Budaya yang dimulai dari Lapangan Riangkotek dan berakhir di Pantai Kawaliwu, Musik akustik oleh Trada Band dan monolog oleh Ruth Marini setelah matahari tenggelam di Pinggir Pantai Kawaliwu. Penyelenggaraan upacara tradisi Lodo Ana di Rumah Suku Liwun, di Kawaliwu berlangsung sampai matahari terbit.

Pada puncak acara Festival di hari ketiga dilaksanakan di Desa Leworahang, yaitu misa Inkulturasi pada pagi sampai siang hari, pameran tattoo tradisional Budaya Lewolema, rangkaian pertunjukan seni dan budaya Flores Timur di Ile Padung antara lain; pertunjukan musik Fanfare, tarian Brasi, Belo Baja, pertunjukan mudik suling tradisional Solor Barat, atraksi tenun tradisional, fashion show busana tradisi Lewolema dan busana modern, pertunjukan musik seniman tamu Yasuhiro Morinaga yang berkolaborasi dengan Magdalena Eda Tukan dan Petronela Tokan, dan ditutup dengan tarian masal tradisional Sole Oha.

 

Nubun Tawa Festival Seni Dan Budaya Flores Timur 2018 “PAI TAAN TOU! “

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru, penyegaran dan pengembangan, dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diberadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni-budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Di tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni-budaya antarkecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas lagi yakni menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat.

Tahun ini Festival Seni-Budaya Flores Timur diadakan di Kecamatan Lewolema dengan nama Nubun Tawa. Nubun Tawa: Festival Seni-Budaya Flores Timur lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman yang ada di bumi Lamaholot Flores Timur. Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival karena merupakan salah satu pusat kebudayaan Lamaholot di masa lalu dan terutama karena represivitas, pelarangan dan pemberangusan kebudayaan di tahun 1970-an yang mengakibatkan masyarakat kehilangan kepercayaan dalam membangun dan merawat daya hidup serta identitas kolektif-kulturalnya.

Nubun Tawa yang bermakna: “lahir/tumbuhnya generasi muda” adalah spirit sekaligus dukungan terhadap generasi muda agar percaya diri serta memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan kebudayaan yang dibiarkan mati selama hampir setengah abad. Festival ini diharapkan menjadi gerakan bersama memajukan diri dan masyarakat. Membangun daya hidup, spirit bekerja dan berkarya. Meluaskan dan memperhebat pergaulan lintas-budaya dalam ketergantungan produktif untuk saling menjaga dan merawat kualitas hidup di tengah banalitas ekspresi, kekerasan dan konsumtivisme.

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” akan berlangsung pada tanggal 5 – 7 Oktober 2018 di Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Menampilkan beragam ekspresi seni-budaya masyarakat Flores Timur, kekayaan alam Lewolema, pertunjukan dari komunitas-komunitas seni di Flores Timur, juga pertunjukan tamu dari seniman-seniman dari luar NTT seperti: Iwan Dadijono, Darlene Litaay (seniman dan koreografer Papua), Ruth Marini (seniman teater nasional) dan Yasuhiro Morinaga (komposer Jepang). Tersedia juga beberapa paket wisata seni-budaya yang dirancang khusus untuk menikmati rangkaian acara festival. (Detil agenda acara dan paket wisata terlampir).

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut silakan berkunjung akun media sosial Nubun Tawa

Kontak: +62 856-3422-430 (Venti Wijayanti)

Berikut jadwal lengkap Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018

Kenang Tsunami Flores, KAHE Maumere Gelar Pameran “M 7,8 SR”

 

MAUMERE, IndonesiaSatu.co– Komunitas seni dan sastra KAHE Maumere didukung oleh Garasi Performance Institute Yogyakarta mengadakan pameran, diskusi, dan pertunjukan bertajuk “M 7, 8 SR. Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman” di area Radio Sonia FM dan Dapoer Soenda Flores, Jalan Don Thomas No.  19 Maumere, Flores. Berbagai lukisan, foto, dan video screening yang dipamerkan merupakan bentuk respons kesenian komunitas KAHE atas peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Flores, terutama Maumere pada 1992 dulu.

“Kami coba mengenang tragedi gempa dan tsunami dua puluh lima tahun silam melalui aktivitas berkesenian. Di sini, kami tak hanya melihat tsunami sebagai peristiwa historis semata, tapi juga mengkajinya lebih jauh sebagai aspek metaforis yang berkenaan dengan isu-isu sosial kekinian,” tutur Dede Aton, koordinator umum kegiatan ini di Maumere melalui keterangan pers kepada IndonesiaSatu.co, Minggu (3 Desember 2017).

Lukisan yang dipamerkan merupakan karya tunggal Qikan Tethy Itammati dan berjumlah sekitar 30-an buah. Ada juga pameran foto dan video screening dari anggota KAHE lainnya yang menjadi referensi visual bagi siapa pun yang datang berkunjung. Selain itu, di sela-sela pameran juga akan terjadi aktivitas diskusi, sharing, talkshow, pembacaan cerpen dan puisi, pentas monolog, live accoustic, dan mural painting yang melibatkan tokoh masyarakat dan seniman-seniman lainnya di Maumere.

Yudi Ahmad Tajudin sendiri selaku direktur Garasi Performance Institute menyatakan bahwa kegiatan ini menjadikan seni sebagai ruang pertemuan orang-orang untuk bisa saling berdiskusi satu sama lain.

“Kreativitas seniman dalam merespons tema dan memanfaatkan ruang merupakan sesuatu yang berharga. Apalagi ini bukan hanya sekadar pameran lukisan, melainkan ada juga diskusi dan tampilan aktivitas kesenian lainnya. Adanya banyak bentuk kesenian tersebut semoga bisa menginspirasi seniman-seniman muda di Maumere untuk menatap isu spesifik tertentu dan meresponsnya dengan karya-karya,” ujarnya.

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung pada tanggal 05 hingga 11 Desember 2017.

Sumber: http://indonesiasatu.co/detail/kenang-tsunami-flores–kahe-maumere-gelar-pameran–m-7-8-sr-

 

Tiga Sanggar Seni Desa Waiburak Dikukuhkan

Wakil Bupati Flores Timur Agus Boli memberikan tabungan kepada siswa SD di sela-sela pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak/Foto: Istimewa

Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, mengukuhkan tiga sanggar seni. Pengukuhan Sanggar Seni Budaya Sina Riang, Sanggar Seni Budaya Nuba Tawang, dan Sanggar Seni Budaya Kemoti ini dilakukan di lapangan depan mesjid Waiburak pada Senin (4/12) dan dihadiri oleh Wakil Bupati Flores Timur  Agustinus Payong Boli,SH.

Acara pengukuhan tiga sanggar seni budaya Desa Waiburak ini menampilkan seni tari Hedung yang dibawakan oleh Sanggar Nuba Tawang. Sementara itu, Sanggar Kemoti membawakan Teater Mimpi, dan Sanggar Sina Riang menampilkan Teater Warisan.

Pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak ini dihadiri juga oleh Yudi Ahmad Tahjudin, salah satu pendiri teater Garasi, Gunawan Mariyanto, penulis dan sastrawan, Taufik Darwis, pengamat dan praktisi teater dari Bandung dan Silvester Petara Hurit, kritikus teater Flores Timur.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Waiburak Mansur Haji Djamaludin menyampaikan terima kasih kepada Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli yang turut hadir. “Saya bersyukur bahwa bapak Wakil Bupati berkesempatan hadir di acara pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak, meskipun undangan dilakukan hanya melalui SMS. Hal ini tentu sangatlah luar biasa,” ungkap Mansur yang baru dua tahun menjabat sebagai Kepala Desa Waiburak ini.

Menurut Mansur, kehadiran sanggar seni di Waiburak dengan sendirinya membuat warganya memiliki pilihan-pilihan untuk berekspresi. “Kami tentu bergembira karena warga Waiburak memiliki akses untuk berekspresi. Dan, selanjutnya kami tentu akan memperhatikan sanggar-sanggar seni ini,” ujar Mansur lagi.

Kepala Desa Waiburak juga menyampaikan penghargaan kepada Sanggar Garasi dari Yogyakarta yang telah memberikan pendampingan untuk sanggar seni dari Desa Waiburak. “Kami berterima kasih kepada Sanggar Garasi yang telah memberikan pendampingan kepada Sanggar Sina Riang. Hal tersebut juga menjadi motivasi bagi kami pemerintah desa untuk memperhatikan anak-anak kami dan generasi muda melalui kegiatan seni, khususnya seni teater,” tegas Mansur.

Sementara itu Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli juga memberikan apresiasi atas munculnya sanggar seni di Desa Waiburak. “Ini adalah sebuah hal baik. Dan, sudah tentu pemerintah sangat mendukung kegiatan-kegiataan seni budaya,” ujar Agus Boli.

Wakil Bupati Flores Timur Agus Boli memberikan tabungan kepada siswa SD di sela-sela pengukuhan sanggar seni Desa Waiburak/Foto: Istimewa

Wakil Bupati Flores Timur itu melanjutkan munculnya sanggar-sanggar seni di masyarakat sebenarnya sejalan dengan salah satu misi utama pemerintahan saat ini yaitu selamatkan orang muda. “Ada dua hal yang hendak kita capai bersama dalam misi selamatkan orang muda Flores Timur ini. Pertama, menciptakan orang-orang muda menjadi wirausahawan agar dapat mandiri secara ekonomi menuju kesejahteraannya, keluarga, dan orang-orang yang ada disekitarnya. Dan yang kedua, membangun karakter orang muda agar memiliki karakter yang baik untuk bekal kepemimpinannya dalam setiap aspek kehidupannya,” urai Agus Boli menjelaskan.

Agus melanjutkan bahwa hal ini dicapai melalui kegiatan seni budaya dan olahraga. Oleh karena itu, Agus menghimbau kepada semua pihak agar mendukung setiap kegiatan seni dan olahraga sebagai bagian penting dari pembangunan di kabupaten Flores Timur selama lima tahun kedepan.

Lebih lanjut politisi Partai Gerindra itu berharap agar dengan pengukuhan sanggar-sanggar seni budaya Desa Waiburak ini dapat menjadi pemantik bagi desa-desa yang lain, yang ada di Kabupaten Flores Timur, agar bisa mengorganisir sanggar-sanggar seni yang ada di desanya. “Kiranya apa yang dilakukan oleh teman-teman di Desa Waiburak ini dapat menjadi contoh sehingga di desa-desa lain juga teman-teman muda mulai bergerak dalam kegiatan-kegiatan positif,” ujar Agus Boli berharap.

Di akhir sambutan, Wakil Bupati Flores Timur tersebut sempat memberikan tabungan untuk beberapa siswa sekolah dasar di Desa Waiburak. Menurut Agus Boli, pemberian tabungan ini agar para siswa mulai membiasakan diri untuk menabung sejak dini. “Ini hanya langkah awal supaya anak-anak mulai menabung. Dengan menabung sejak dini berarti kita mempersiapkan biaya untuk masa depan kita,” ujar Agus Boli memotivasi anak-anak. *(Ito Kabelen)

Editor: Christo Korohama

Sumber: http://www.sarabitinews.com/2017/12/06/tiga-sanggar-seni-desa-waiburak-dikukuhkan/

Saya, KAHE, dan Pertemuan dengan Garasi

oleh Eka Putra Nggalu

Pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute bagi saya adalah sebuah kebetulan yang bukan kebetulan. Saya dan teman-teman KAHE membajak perjalanan mereka di bandar udara Waioti, menemani mereka jalan-jalan ke beberapa tempat yang ingin mereka kunjungi selama di Maumere, makan malam bersama, minum moke, dan bercerita. Dari cerita-cerita serta sharing yang kami lakukan, saya merasakan adanya keterbukaan dan komunikasi yang baik, terlepas dari adanya perbedaan kebudayaan, profesi, usia, dan mungkin pengetahuan. Sebagai sebuah komunitas yang baru tumbuh, kesempatan bertemu dengan komunitas dan institusi teater yang sudah sangat lama berkarya dan bisa mengelola dirinya sendiri seperti menjawab kebutuhan kami. Pertemuan kami dengan Teater Garasi seperti sebuah jawaban akan lelah kami. Awalnya, kami selalu merasa asing di tengah masyarakat yang tidak terlalu peduli dengan kerja kesenian yang serius, dengan sastra, dengan teater, dengan dikusi-diskusi kesenian, filsafat, dan kebudayaan yang kami buat. Setelah kami mulai mendapat apresiasi, kami lalu merasa tidak dilihat atau diperhatikan oleh para pemangku kebijakan di sekitar kami. Kerja kesenian kami hampir tidak pernah didukung secara finansial oleh Pemerintah Daerah, kendati kami memiliki hubungan yang cukup baik dengan beberapa pejabat yang bersedia menyumbang secara personal. Meski demikian, dalam segala keterbatasan, kami percaya, karya-karya kami yang kami publikasikan, yang kami pentaskan, dan disaksikan banyak orang akan berbicara dengan sendirinya. Meskipun pertemuan kami tidak diawali dengan karya tetapi sebuah pembajakan, saya merasa pertemuan dengan Teater Garasi, dengan sejarah mereka, dengan pengalaman jatuh bangun mereka sebelum menjadi sebuah institusi mandiri adalah sebuah awal yang baik, sebuah momen yang akan mengubah banyak hal. Saya belum sepenuhnya bisa mendefinisikan itu, tetapi saya percaya, perubahan akan terjadi.

Pertemuan kami dengan Teater Garasi berlanjut melalui komunikasi di sosial media dan kemudian workshop penciptaan bersama. Pada Juli-Agustus 2017, saya diundang mengalami residensi di Yogyakarta selama dua bulan. Waktu dua bulan ini memberi ilham dan inspirasi yang sangat bernilai bagi saya seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, ‘Jalan-Jalan ke Jogja’. Selain residensi itu, komunikasi dan pendampingan selama produksi event M 7.8 SR adalah sebuah pengalaman baru bagi saya dan KAHE, bekerja dengan sebuah institusi professional. Dari pengalaman itu ada beberapa hal bernilai yang saya temukan. Saya memperoleh pengetahuan dan perspektif baru mengenai kerja-kerja kesenian dan kebudayaan, baik itu secara praktis-metodologis, prinsip, maupun cara mengelola organisasi, infrastruktur serta modal-modal yang ada.

Dalam berbagai workshop saya memperoleh pengetahuan baru tentang penciptaan kesenian. Metode penciptaan kesenian Teater Garasi yang dikenal sebagai metode penciptaan bersama memberikan banyak sekali perspektif baru. Saya belajar mendekati masyarakat sebagai subjek, titik tolak, sekaligus arah dari proses berkesenian. Saya belajar untuk berani mengambil posisi, berani menyampaikan pernyataan terkait dengan isu-isu dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat yang saya dekati melalui media kesenian. Saya belajar menciptakan sebuah karya berdasarkan riset, data-data yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan dalam statement yang ingin disampaikan. Yang terakhir, yang paling penting adalah saya belajar bekerja dalam tim, sebagai sebuah komunitas.

Dalam kaitannya dengan M 7.8 SR saya mendapati banyak sekali hal dan perubahan yang kami alami dalam berkarya. Misalnya, dalam evaluasi internal, kami semua sepakat bahwa galeri M 7.8 SR yang kami ciptakan sebenarnya adalah sesuatu yang sangat bernilai edukatif. Kami tidak hanya memajang lukisan atau foto-foto yang indah-indah saja tetapi di dalamnya hadir pengetahuan, sejarah, peristiwa, dan filosofi Maumere, kota Maumere, masyarakat Maumere. Arsip-arsip berita, foto-foto reproduksi adalah hal-hal yang sangat sulit dicari dan dikumpulkan, tetapi semuanya tersedia dalam galeri KAHE. Kami juga mendasari proses penciptaan kami dengan riset. Kami pun akhirnya menemukan bahwa riset yang tidak kuat akan menghasilkan sebuah karya yang tidak kuat juga. Beberapa karya kesenian yang tidak selesai pada tenggat waktu yang ditentukan sebenarnya juga dipengaruhi oleh riset yang tidak serius dan memadai. Beberapa catatan bisa kami berikan berkaiatan dengan metode penciptaan ini. Secara umum kami menikmati dan merasa sangat membantu dalam cara kami mendekati sebuah isu sebagai materi berkesenian. Karya kami pun menjadi sangat bernilai dan kuat sebagai sebuah statement. Di lain sisi, kami merasa bahwa metode ini mensyaratkan sebuah komunikasi yang baik, komitmen yang baik antara semua yang terlibat, dan standar pengetahuan tertentu atau kesamaan persepsi dalam memandang sebuah masalah yang sedang dikritisi.

Selain pengetahuan tentang pendekatan penciptaan kesenian, saya dan teman-teman juga mendapat banyak pelajaran berharga berkaitan dengan manajemen event dan tentu manajemen komunitas. Kami belajar bagaimana membuat rancangan dan timeline kerja. Kami belajar membuat distribusi kerja. Dalam evaluasi internal, kami mendapati bahwa poin ini yang menjadi perhatian serius bagi kami dalam event M 7.8 SR. Harus diakui secara jujur bahwa ritme kerja kami dalam event M 7.8 SR sangat lambat dan tidak sesuai dengan tenggat waktu yang ada. Banyak hal teknis yang tidak sesuai konsep dan selesai dikerjakan sesuai dengan jadwal yang seharusnya. Dalam evaluasi kami, lebih dari sebuah pola kerja, hal ini juga dipengaruhi oleh konsistensi dan tanggungjawab masing-masing anggota dalam menyelesaikan tugasnya. Saya secara pribadi sebagai ketua, merasa dan juga akhirnya dikritik, bahwa sepulang dari residensi di Jogja, saya semacam memberi tuntutan yang tinggi pada teman-teman dalam hal membuat sebuah kegiatan atau karya atas nama komunitas. Tuntutan itu berhubungan dengan desain dan konsep kegiatan atau karya yang harus selalu dicek bersama-sama baik secara ide maupun bentuk, limitasi waktu, dan logistik yang mendukungnya. Sementara ada tuntutan seperti ini di satu sisi, di sisi lain, kenyataan yang ada tidak langsung menunjang pelaksanaanya. Tidak semua yang terlibat dalam produksi M 7.8 SR memiliki waktu luang dan kesempatan untuk memberikan konsentrasi penuh dalam penyelenggaraan event ini. Di satu sisi ada kebutuhan yang besar di komunitas, di sisi lain banyak teman yang tidak dapat meninggalkan tugas dan mata pencahariannya yang pokok. Dengan kata lain kerja komunitas akhirnya bukan menjadi sebuah prioritas, sebab ada kebutuhan yang lebih penting yang harus dipenuhi. Tegangan ini kemudian juga disadari berhubungan dan saling kait-mengait antara komitmen personal tiap anggota, bagaimana para anggota mendisposisikan diri dalam komunitas, visi, dan dengan kebutuhan-kebutuhan akan institusionalisasi, penguatan kapasitas para anggota KAHE, dan juga profesionalitas dalam bekerja. Keadaan ini di satu sisi membuat instabilitas dalam tubuh komunitas, khusus dalam penyelenggaran M 7.8 SR. Di lain sisi, ini menjadi sebuah momen refleksi masing-masing anggota dalam kaitan dengan kesadarannya mendisposisikan diri dalam komunitas. Ini juga tidak lantas merusak hubungan personal dalam relasi di komunitas, tetapi yang lebih penting, ini adalah sebuah kebutuhan yang harus dicari solusinya secara bersama-sama. Dalam kaitan dengan ini, muncul isu dan kebutuhan sustainable dalam tubuh komunitas, dan kebutuhan akan cara komunitas dapat mengelola dirinya sendiri, termasuk memberi sedikit reward bagi anggota-anggotanya yang terlibat dalam kerja komunitas.

Saya secara pribadi melihat situasi ini sebagai sebuah dialektika yang harus dilewati KAHE dalam usianya yang sudah menginjak tahun kedua. Saya melihat semua ini sebagai problem sekaligus progress. Sebagai problem, ini membuat ketidakstabilan dalam komunitas. Ego-ego personal, tentang siapa yang tidak bekerja dan siapa yang bekerja misalnya, akhirnya muncul ke permukaan. Problem ini tentu membuat ketidaknyamanan dan harus diselesaikan. Sebagai progress, komunitas akhirnya mendapat tantangan untuk terus-menerus mendefinisikan dirinya. Saya masih melihat kerja-kerja KAHE sampai pada tahun keduanya ini perlu diarahkan pada penguatan komunitas. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam manajemen event ini memberikan perspektif dan kesadaran baru tentang perubahan dan kebutuhan-kebutuhan baru dalam komunitas. Dalam diskusi internal di komunitas, masalah-masalah seperti komitmen kerja, disiplin, tanggungjawab itu tidak hanya kami proyeksikan pada ‘event berikut’ tetapi lebih jauh pada ‘siapa saya, untuk apa saya, mengapa saya, dan bagaimana seharusnya saya ada di KAHE?’ Lebih sederhana dari pertanyaan filosifis di atas, saya mendapati adanya kebutuhan akan penguatan infrastruktur komunitas (dalam hal ini orang-orang), dalam keterampilan teknis (lampu, artistik) manajemen event, dan tentu saja usaha-usaha mandiri untuk menghidupi komunitas, yang sebenarnya sudah kami jalankan lewat jurnal, pendampingan ekstrakurikuler dan hal-hal lain yang regular tetapi belum ditata secara baik.

Hal lain yang bernilai yang saya temukan dalam perjumpaan dengan Teater Garasi adalah cara mereka mengenali lingkungannya, menempatkan diri, dan membangun relasi dengan orang lain. Saya melihat bahwa berkomunikasi dan belajar bersama dengan Teater Garasi bukanlah sesuatu yang sulit seperti saya bayangkan sebelumnya. Harus saya akui, saya menahan nafas beberapa saat, ketika pertama kali berjumpa dengan Mas Yudi Ahmad Tajudin di bandara, seseorang yang saya kenal sebelumnya hanya lewat literatur. Lebih penting dari keadaan ‘baper’ di atas, saya belajar bagaimana membangun komunikasi yang terbuka, yang saling menguntungkan, dan tidak terjebak ada hubungan yang melulu formal tetapi juga membangun hubungan persaudaraan. Berkaiatan dengan ini, kredibilitas dan rasa saling percaya menurut saya adalah hal yang paling penting. Saya dan komunitas belajar banyak soal ketepatan waktu, soal kejujuran, soal tanggungjawab. Melalui Teater Garasi, saya dan kami terutama belajar menjalin sebuah relasi profesional, dengan cara yang tak terduga. Kami yang selama ini hidup dalam zona nyaman kami, dalam keadaan, ritme, yang boleh dibilang seenaknya dan semaunya dalam menyelesaikan hal-hal, belajar untuk konsisten, belajar untuk disiplin dan tepat waktu, belajar untuk bertanggungjawab melalui cara yang tidak terduga. Saya membayangkan Mbak Lusia Neti Cahyani ketika menulis ini, sambil mengingat pesan Pater Leo ketika menyampaikan apresiasi dan masukannya untuk Komunitas KAHE, ‘kerja kebudayaan itu tidak main-main, harus mulai serius.’ Saya harus meminta maaf untuk segala ketidakdisiplinan yang terjadi.

Tentang perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan masyarakat yang lebih luas, saya sendiri tidak menyangka bahwa pengunjung yang hadir pada penyelenggaraan M 7.8 SR mencapai 410 orang dan paling banyak berasal dari institusi pendidikan. Meski agak tidak puas karena event ini sama sekali tidak diminati oleh para pejabat pemerintahan dan tidak mampu menjangkau khalayak yang lebih ramai, dalam arti dengan lebih banyak ragam latar belakang profesi dan pekerjaan, saya merasa event ini memberi dampak dan referensi berharga bagi mahasiswa, pelajar, dan guru-guru serta dosen. Pada dua tahun awal karya KAHE, kami merasa sangat sulit masuk dan menembus tembok-tembok kampus di sekitar Maumere, kecuali Ledalero, yang adalah sekolah filsafat dan mayoritas calon imam (harus dicatat bahwa penggerak KAHE awalnya adalah calon imam yang gagal). Event M 7.8 SR, sebenarnya menjadi sebuah momen ketika kami bisa berjumpa dengan teman-teman mahasiswa dari IKIP Muhammadiyah, yang kemudian menjadi pengunjung terbanyak dan konstan setiap harinya. Perjumpaan KAHE dengan IKIP Muhammadiyah tentu berlanjut dalam komunikasi-komunikasi tentang kerjasama selanjutnya. Kami merasa berhasil ketika teman-teman IKIP Muhammadiyah, dengan jumlah yang bervariasi setiap harinya selalu datang mengunjungi pameran dan mengikuti berbagai kegiatan dan mengaku terinspirasi dangan aktivitas KAHE. Kami juga melihat antusiasme dari sekolah-sekolah menengah atas, misalnya SMAS John Paul II, yang terlibat dalam pembacaan cerpen. Harus diakui, dalam sejarah kota Maumere, ini adalah event pembacaan cerpen pertama. Dari semuanya ini, dampak langsung event M 7.8 SR adalah mampu menjadi referensi yang baik, secara bentuk, tema, mapun proses garapan bagi para pengunjung yang umumnya adalah pelajar dan mahasiswa.

Mengenai dampak atau resepsi tentang isu dan tema yang kami angkat, tidak relevan jika saya jelaskan tanpa studi resepsi yang memadai. Namun dari beberapa wawancara misalnya dengan Ibu Marlin Lering, dia melihat bahwa tema ini sangat menarik dan merangsang generasi sekarang untuk mencari tahu secara lebih baik tentang tsunami dan gempa yang terjadi dua puluh lima tahun silam. Atau seperti yang dikisahkan Babe Lucky (pimpinan radio Sonia FM), galeri M 7.8 SR sebenarnya penuh dengan muatan edukasi. Kami juga senang bisa menyediakan media bagi Bapak Rony Mbulo untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Wuring, meskipun pihak-pihak yang seharusnya mendengar tidak hadir memenuhi undangan kami, tetapi setidaknya sharing beliau bisa didengar oleh masyarakat Maumere melalui radio Sonia FM. Kami juga merasa bahwa diskusi coral yang dihadiri beberapa pegiat pariwisata memenuhi ekspetasi kami.

Meski tidak secara langsung dapat diamati atau dibuktikan, menurut saya kehadiran para pelajar dan mahasiswa dalam event ini setidaknya akan menjadi medium resonansi yang membawa gema tentang tema dan isu yang ingin kami soroti. Seperti pada awalnya kami membutuhkan dan menempatkan para pengunjung sebagai partner sharing dan diskusi, pemberi usul dan saran untuk kemajuan karya kesenian kami, dan lebih dari pada semuanya itu, agar pesan-pesan yang kami sampaikan dalam karya-karya kesenian ini dapat menjumpai banyak orang dan diteruskan ke semakin banyak orang pula. Setidaknya apa yang mereka baca, lihat, sampaikan, dan dengar dalam item-item acara yang mereka hadiri dan jumpai sedikitnya membekas dalam benak mereka. Kita berharap itu semua menjadi informasi yang dapat mereka kembangkan untuk kebutuhan mereka sendiri. Lebih dari pada itu, kiranya peristiwa bencana tsunami terus tinggal dalam memori kolektif orang Maumere.

Pertemuan dengan Teater Garasi untuk saya tidak memberikan solusi untuk kebutuhan-kebutuhan saya, secara pribadi dan komunitas. Pertemuan dengan Teater Garasi, dalam bahasa Injil, mendatangkan api dan pedang. Pertemuan dengan mereka justru memberikan provokasi lebih, memicu kegelisahan lebih, bagi saya dalam memandang hal-hal di kehidupan saya sehari-hari. Saya sebagai seniman, ketua komintas KAHE, merasa butuh berjuang lebih giat dalam mewujudkan hal-hal. Kami dari hari ke hari berefleksi dan menemukan berbagai modal sekaligus kelemahan-kelemahan kami secara personal, maupun secara komunitas. Untuk saya, hal yang akan selalu digulirkan dan menjadi kebutuhan terus menerus secara pribadi adalah pertama-tama soal kebutuhan akan penguatan kapasitas dan profesionalitas. Secara pribadi saya terprovokasi untuk menata prasyarat-prasyarat dalam kerja kesenian, seperti disiplin, manajemen waktu yang baik, dan kesungguhan dalam berkarya. Ini tentu juga dibutuhkan dalam komunitas secara lebih luas. Berkaitan dengan persoalan metode, saya kira metode penciptaan Teater Garasi menjadi pedoman yang bisa dipakai sebagai sebuah perspektif untuk mendekati realitas dan membahasakannya melalu kesenian. Target jangka panjang kami masih sama, yaitu mencari cara untuk menjawab isu sustainable dalam komunitas.

Yang lebih praktis dan mendesak bagi saya dan KAHE adalah kebutuhan untuk menyelesaikan karya-karya yang masih dalam status ‘work-in-progress’. Antologi buku dan pertunjukan musik, yang belum selesai adalah ‘pe-er’ yang harus segera diselesaikan. Maumerelogia III sebagai event yang akan mengakomodasi perwujudan karya-karya ‘work-in-progress’ menjadi target jangka pendek kami. Kami ingin mewujudkan penciptaan karya-karya yang tertunda dan belum selesai dengan lebih baik, dengan desain yang lebih tertata, dan menjangkau lebih banyak orang. Kami tentu berharap, Teater Garasi masih memiliki daya dan berkenan untuk mendampingi kami dalam proyek kesenian selanjutnya. Isu yang kami angkat masih sama. Tentang Tsunami. Tentang gelombang dan getaran M 7.8 SR yang belum selesai.

 

Eka Putra Nggalu

Komunitas KAHE Maumere

 

Catatan:

M 7.8 SR adalah presentasi kasenian Komunitas KAHE yang mencoba merefleksikan peristiwa tsunami di Flores tahun 1992, yang pada tahun ini (2017) berusia 25 tahun.

Bertempat Tinggal dan Membangun Kediaman (Catatan Jalan-Jalan ke Flores)

Oleh Taufik Darwis

Tiga tahun terakhir selepas memutuskan untuk lebih banyak berfikir, berbuat sesuatu, tinggal lebih lama di Bandung sebagai tempat kediaman sekaligus tempat menghadapi persoalan sehari-hari, saya seperti perlu lebih banyak lagi jalan-jalan. Dalam artian, melihat dan belajar pada wahana realitas lain yang sama mencoba merumuskan usaha serupa atau minimal semangatnya. Bandung, telah lama saya simpulkan dengan perasaan sedikit marah sekaligus tergoda, adalah tidak lain dari sebuah kota dengan kultur ekonomi yang berada di atas kehendak lainnya. Bandung mempunyai arena simbolik yang meminggirkan upaya-upaya seni pertunjukan dengan etos ekonomi absurdnya (3-6 bulan latihan, tak bisa berjualan tiket pertunjukan) untuk berbuat sesuatu dalam pergaulan dan pembangunan kota yang bergerak melalui mistifikasi kreatif dan indeks kebahagian.

Selama tiga tahun terakhir itu saya merasa keriput, merasa sok heroik, sendirian di tengah pertukaran simbolik untuk sekedar mencari teman yang meskipun tidak punya misi-visi yang sama tapi punya kegelisahan yang sama: sudah tidak kerasan dengan kediaman kita sendiri. Bagaimana bertempat tinggal dan membangun kediaman ketika kita selalu sulit untuk membaca dan merumuskan “yang sosial” bagi kita sendiri, ketika kita tidak sulit untuk mengidentifikasi kelemahan dan potensi yang membentang dari kebergantungan, kesejarahan, dan batas-batas kita sendiri? Apakah ini kegelisahan yang dibuat-buat? Sepertinya saya harus membiarkannya keluar dari keran kalau memang airnya sudah siap untuk mengalir sambil jalan-jalan sana-sini dengan kesempatan yang dipunya.

Ini adalah kesempatan melakukan perjalanan paling jauh saya ke luar Bandung. Teater Garasi mengajak saya jalan-jalan sekalian melihat presentasi program AntarRagam di Adonara dan Maumere, Flores selama enam hari. Saya berangkat tangal 3 Desember dari Jakarta bersama Yudi Ahmad Tajudin. Untuk sampai tiba di Flores Timur, kami harus transit dua kali di Surabaya dan Kupang. Dalam  perjalanan, sesekali Yudi bercerita tentang program yang saya akan lihat ini. AntarRagam merupakan program yang sudah dikerjakan selama hampir setahun (2017), dengan Penciptan Bersama (Collective Creation) sebagai basis kerjanya. Penciptaan Bersama adalah pendekatan yang kerap dipakai Teater Garasi yang mempunyai karakter multidisiplin. Teater Garasi memposisikan Penciptaan Bersama dalam AntarRagam sebagai metodologi, bukan metode. Dalam artian, Penciptaan Bersama menjadi semacam prinsip dalam mengidentifikasi modal sampai persoalan pada setiap produksi yang akan diciptakan dan diposisikan oleh setiap orang atau komunitas.

Ketika ditanya kenapa memilih keluar Pulau Jawa, Yudi menjelaskan, bahwa, kita perlu mencoba melihat kenyatan dari perspektif yang berbeda, kenyataan Indonesia yang dilihat dari luar Jawa. Indonesia bukan dan tidak melulu Jawa. Program AntarRagam ini dikerjakan dalam tiga tahap, yaitu workshop penciptaan bersama di Flores dan Madura; residensi di studio Teater Garasi selama enam minggu; presentasi dan pendampingan penciptaan di tempat atau arena produksi masing-masing. Jadi, saya datang ketika program AntarRagam menuju tahap akhirnya, yaitu presentasi dan pendampingan dari Tim Teater Garasi yang sudah berada di Flores sebelumnya.

Saya tiba di Larantuka, Flores Timur ketika pagi. Kami harus melewati selat selama satu jam lebih untuk sampai ke Adonara. Di sana malam hari akan dipentaskan untuk kedua kalinya pertunjukan Warisan karya Veronika Ratumakin dari Sanggar Sinariang. Veronika atau Mama Vero adalah salah satu seniman yang mengikuti rangkaian program AntarRagam. Tapi sebelum ke Adonara kami harus tetap di Larantuka, Yudi merencakan adanya pembicaraan dengan Bupati Antonius Gege Hajon yang juga melibatkan teman lama saya di Bandung yang kini telah menjadi sutradara teater sekaligus staff Pemerintah Flores Timur, Silvester Petara Hurit. Sore, kami memakai perahu berukuran sedang melintas ke Adonara, tepatnya ke Desa Waiburak, Adonara Timur, Flores Timur. Saya yang punya masalah dan trauma keseimbangan yang membuat saya tidak bisa menikmati perjalanan. Hanya ada atap pendek, bau solar dan bau box stereofoam ikan yang bergoyang-goyang di benak saya. Tapi akhirnya, kami sampai ketika hari hampir menjelang gelap malam.

Membuka dan membagi warisan dalam upaya memahami diri sendiri

Sanggar Sina Riang memakai strategi bercerita untuk mencoba membawa penonton mengidentifikasi kenyataan tanah Adonara hari ini. Mama Vero yang menjadi tokoh Ibu menceritakan pada anaknya secara diakronis bagaimana Tanah Adonara lahir dan bagaimana kenyataan-kenyataan kemudian lahir menjadi kenyataan hari ini, seperti halnya konflik yang terjadi karena klaim atas tanah, menjadi tema atau isu di pertunjukan Warisan. Pertunjukan Warisan yang saya tonton adalah pertunjukan kedua. Berbeda dengan pertunjukan pertama yang dipentaskan di hari kemarin di tempat dan acara yang berbeda, pertunjukan kedua ini dipentaskan di lapangan volley di antara masjid dan jalan raya, sebagai bagian dari peresmian sanggar-sanggar seni di Adonara. Sebagai peresmian yang mengundang pemerintah setempat (wakil bupati Flores Timur), jalannya acara menjadi terganggu dengan menunggu pemerintah mendengarkan terlalu banyak sambutan. Tapi saya harus mengerti akan situasi seperti ini.

Sebelum pertunjukan Warisan, ada 2 pertunjukan dari 2 sanggar lain yang malam itu juga dikukuhkan sebagai sanggar desa, yakni Sanggar Tari Hedung dan Sanggar Kemoti dengan judul pertunjukan Mimpi. Sanggar Kemoti dalam kesempatan itu membawakan sebuah pertunjukan teater yang juga mencoba membaca kualitas kehidupan di Adonara, tapi dengan strategi melihat Adonara di masa depan, yaitu cita-cita anak-anak. Pertunjukan ini selain mencoba mengidentifikasi juga sekaligus membayangkan bagaimana kualitas yang ideal dari keadilan, keamanan, kepemimpinan di Adonara lewat narasi dan tindakan anak-anak. Pertunjukan ini seperti bayangan saya ketika membayangkan bagaimana teater rakyat bermain di tengah rakyatnya, selain menngunakan garis-garis bloking yang sejajar, bertutur, juga seperti selalu ada aspek moralitas bagaimana menjadi masyarakat di tengah-tengah keinginan untuk mengkritik dan memain-mainkan.

Berbeda dengan pertunjukan Sanggar Kemoti, Warisan terlihat memiliki banyak bentuk-bentuk pengadeganan di dalam struktur pertunjukannya. Ini juga bisa terkait dengan konteks narasi yang menjadi alur pertunjukannya. Mama Vero menggunakan narasi diakronis yang cukup panjang untuk menunjukan satu-persatu dari dasar bagaimana bangunan konflik di Adonara kerap terjadi. Bahwa konflik atas nama tanah itu tidak terberi, tapi dikontruksi melalui sistem kekerabatan, wacana dan proses bawah sadar seperti pengalaman di masa kecil dan secara performatif (perang), hingga ke titik normalisasi. Tapi justru strategi ini dipakai Mama Vero untuk melacak secara geneologis dan mencoba memberi refleksi kepada penonton, yaitu bagaimana menghadapi alur konflik yang terjadi, sebab menurut ceritanya sebagian besar warga Adonara adalah warga pendatang.

Alur besar sejarah Adonara yang juga menjadi alur pertunjukan, yang pertama-tama diperistiwakan melalui pengadean seorang ibu yang bercerita pada anak yang digendong di pelukannya, terdistribusi melalui penggambaran adegan yang muncul dari luar panggung oleh banyak aktor. Setiap pola pergerakan dan bloking menyiratkan suatu masa dan kualitas peristiwa tertentu. Seperti kedatangan pertama para manusia pertama (leluhur), kedamaian, perang (Tari Hedung), datangnya agama Islam, datangnya para misionaris Portugis dan Belanda, hingga resolusi dari alur sejarah yang coba dimaknai ulang melalui sebuah formasi lingkaran dengan iringan nyanyian adat yang saya tidak tahu artinya. Pertunjukan ditutup dengan proses mengundang Tim Teater Garasi dan pejabat setempat maju kedepan berpegangan tangan, menari Tari Dolo-Dolo. Di depan dan akhirnya di tengah-tengah saya sedang terjadi upaya bagaimana sebuah pertunjukan mencoba menciptakan kembali komunalitas dan individualitas sebagai bagian dari proses memahami peran masing-masing dalam membangun kediaman di tempat tinggalnya.

Menggunakan titik krisis untuk merancang masa depan    

Komunitas Kahe memilih merancang suatu acara berdurasi seminggu sebagai proyek penciptaan bersama. Meskipun mereka mengadakan pameran yang sama sekali tidak berubah setiap harinya selain teknik pemasangan/display yang terus diperbaiki. Menurut Yudi, awalnya Komunitas Kahe merencanakan proyek penulisan bersama yang berangkat dari Tsunami Maumere 1992, tapi berkembang menjadi penciptaan acara/event. Komunitas Kahe menamai acaranya M 7,8 SR,  merujuk pada skala getaran yang menyebabkan Tsunami 1992 terjadi di Maumere. Tsunami ini disebutkan termasuk 10 Tsunami paling besar dan mematikan di dunia sehingga membentuk kebiasan orang tua untuk menceritakan peristiwa tsunami pada anaknya setiap tanggal 12 Desember. Tahun 2017 adalah tahun ke-25 tsunami ini berlalu.

Dede Aton (Komunitas Kahe) mengakui Tsunami 1992 tidak disadari atau bahkan tidak dialami oleh sebagian besar di generasinya. Kerena memang sebagian besar belum lahir ketika peristiwa tsunami terjadi, atau karena masih anak-anak (1-3 tahun). Tapi menurutnya justru karena alasan itu Komunitas Kahe perlu lebih mencari tahu dan mencoba memaknai cerita-cerita yang sering mereka dengar dari sisi apa saja. Acara M 7,8 SR adalah salah satu cara untuk mengupayakan proses pemakanaan tersebut, sebagai salah satu cara untuk hidup dan bertahan di Maumere, kota yang diapit dengan jarak dua laut yang sama-sama bisa ditempuh dengan waktu satu jam saja (utara dan selatan).

Saya tiba di Maumere dengan melintas lagi ke Larantuka bersama untuk menempuh perjalanan panjang yang berkelok-kelok. Kedatangan bertepatan dengan pembukaan acara yang digelar selama seminggu (5-11 Desember 2017). Semua acara ini dilaksanakan di Dapur Sunda Flores atau Radio Sonia FM. Tapi saya hanya bisa mengikuti tiga dari tujuh hari pelaksanaan. Tapi setidaknya dari tiga hari itu saya merasa dapat membaca inisiatif teman-teman Komunitas Kahe, atau dengan menggunakan istilah yang selalu dilontarkan Dede Aton, membaca apa yang ‘menggerakan’ mereka merancang acara ini. Meskipun urusan acara seperti kesiapan teknis, ritme kerja dalam ketegangan tidak terlalu diperhatikan lebih detail. Karena bagi saya, itu akan menjadi biasa dengan pertumbuhan tingkat kebutuhan Komunitas Kahe dalam mempertahankan visi yang diartikulasikan melalui kegiatan-kegiatannya.

Setiap rangkaian acara seperti diskusi, pameran (lukisan, instalasi, puisi, cerpen, dan  arsip), monolog dan film yang dirancang Komunitas Kahe seperti mengupayakan agar tema atau isu acara ini tersebar ke berbagai lini kepentingan, disiplin, dan peminatnya.  Rangkaian acara yang bertepatan dengan ulang tahun Radio Sonia FM ini dibuka dengan diskusi bertema Tsunami: Memori, Perubahan, dan Ancaman dan pembukaan pameran bersama. Judul tersebut sebenarnya sudah menjadi pintu awal bagaimana Komunitas Kahe mencoba merumuskan wacana yang akan dibawanya ke depan, kalau memang benar, bahwa acara ini dijadikan sebagai semacam riset juga untuk merancang apa yang akan dilakukan di tahun depan. Dari diskusi yang lumayan panjang ini karena selain mengundang Dede Aton dan Yudi Ahmad Tajudin berbicara, juga melibatkan dua penyaksi yang mempunyai pengalaman spesifik dalam menghadapi tsunami dan dampak yang ditimbulkannya. Yang satu adalah mantan pemerintah dan yang satu lagi adalah seorang romo/dosen. Wacana Tsunami di masa lalu begerak menjadi sebuah metafor bagaimana melihat kondisi Maumere saat ini, seperti pembangunan yang berbasis kepentingan ekonomi yang  mengubah hubungan sosial dan hubungan ekologis manusia dengan lingkungannya.

Wacana ini juga bergerak di tengah-tengah pameran Komunitas Kahe. Ketika pameran dibuka, dengan strategi display yang seperti diupayakan tetap informatif, saya bisa melihat bagaimana Komunitas Kahe mencoba tetap mempertahankan dalam menggunakan Tsunami 1992 sebagai wacana untuk mencari titik krisis yang terjadi saat ini dan apa yang akan dikerjakan di depan. Seperti arsip foto (repro) dampak tsunami dan berita di koran lokal, juga lukisan-lukisan yang merepresentasikan bagaimana keadaan Maumere hari ini yang dibawa oleh modernitas, globalisasi yang mereka tempatkan sebagai “gempa dan tsunami” zaman ini. Titik krisis ini tampaknya akan menjadi wacana kemudian dan tetap akan terus dieksplorasi dari serangkaian suara yang terlibat pada momen-momen di Maumere: apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi? Maumere dan Tsunami menjadi ruang bersama, mengiterupsi pembangunan yang berdasarkan asas ekonomi semata dengan melibatkan bagian yang dianggap bukan bagian dari sejarah kemanusian Maumere. Seperti sosok Baba Akong yang kami temui di hutan mangrove yang beliau tanam paska peristiwa tsunami 1992 dan dirawat hingga kini.  Atau Bapa Alo M. (Warga Kampung Wuring/kampung terapung) yang bertarung dengan reklamasi pantai yang dibagun pemerintah.

Mantra, Adat, dan Ritual Agama (Catatan perjalanan Penahbisan Romo Inno Koten)

Arsita Iswardhani

 

Perjalanan Teater Garasi kali ini juga bertepatan dengan upacara penahbisan seorang calon Romo, Innosensius Inno Koten, yang telah mengundang kami untuk hadir di upacara besarnya. Kami dan Inno bertemu di workshop penciptaan yang kami selenggarakan di Larantuka pada bulan Mei lalu. Inno adalah salah satu peserta workshop, (waktu itu masih) seorang frater yang aktif di Teater Tanya Ritapiret, dan juga adalah seorang pendamping kelompok teater di seminari Hokeng. Sedikitnya sudah ada sembilan naskah pertunjukan yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” sebagai hadiah di penahbisannya.

Saya belum pernah menghadiri upacara penahbisan seseorang menjadi Romo sebelumnya. Juga karena tak ada orang dekat yang akan mengalaminya, jadi tak pernah terpikir juga menghadiri acara serupa. Tapi kali ini undangan datang dari seorang kawan baru dari timur. Ia beberapa kali mengingatkan dan meminta saya dan teman-teman Garasi untuk hadir di upacara penahbisannya ini. Di perjalanan saya sebelumnya ke kampung Romo Inno di Wulu Blolong- Solor Timur bersama Mbak Lusi, Qomar, dan Mas Risky di bulan Februari juga mendapatkan sedikit cerita bahwa di bulan September (2017) akan ada upacara adat besar dalam rangka penahbisan (Romo) Inno Koten. Waktu itu, saya belum terlalu mengenalnya, hanya sekilas bertemu ketika rombongan Teater Garasi bertemu dengan teman-teman teater seminari di Maumere.

 

 

***

Upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo diselenggarakan di depan gereja WuluBlolong, kampung halaman Inno, pada tanggal 27 September 2017 pagi. Namun, rangkaian acara berlangsung di tiga desa, berturut-turut selama 4 hari, dimulai dari upacara penyambutan kedatangan Inno di Solor Timur, persinggahan ke rumah adat nenek moyang di Lewohedo, penelusuran jalur nenek moyangnya melalui desa LewoKebo hingga kemudian menetap di Desa WuluBlolong, dan kemudian upacara penahbisan Inno menjadi Romo di desa WuluBlolong.

 

Di siang kami menyeberang menuju Solor Timur pada tanggal 24 September 2017, sebelum kapal kami menepi, tiga kapal kecil telah disiapkan untuk penjemputan Inno, sebagai calon Romo. Di bibir pelabuhan, tampak telah berdiri sebuah gapura penyambutan bertuliskan Lewohedo Laka Neo / Tana Kaha Laka Lado / Soron Lodo Tapin Bali. Saya menanyakan artinya di kemudian hari pada Inno, dan ia menjawab, sesungguhnya tulisan itu seperti sebuah mantra yang kurang lebih artinya adalah “tanah yang melepasmu pergi, dan ia yang memanggilmu kembali”. Makna tulisan itu seperti pas benar untuk penyambutan Inno, seperti bagaimana ia dibesarkan di seminari Ritapiret dan seminari Hokeng dalam masa pembentukannya menjadi Frater dan kemudian Diakon, pada kampung halamannyalah kemudian ia menempatkan diri untuk ditahbiskan menjadi Romo.

 

Tak hanya tulisan mantra di gapura yang bersiap menyambut Inno (dan rombongan, termasuk kami di dalamnya), tapi serangkaian upacara dan tarian telah dipersiapkan. Bapak kepala desan menyambut Inno dengan pidato panjang berbahasa daerah, tentu saja saya tak memahaminya, tapi saya seperti dapat merasakan kedalaman pesan yang sedang beliau sampaikan. Pidato ini tampak seperti sebuah mantra lagu yang diucapkan, yang didengarkan dengan khidmat. Pidato kepala desa diiringi dengan rangkaian sirih pinang dan moke yang dituangkan sedikit ke tanah, sebelum diteguk oleh Inno. Seluruh rangkaian ini membuka tapak perjalanan rangkaian upacara hingga penahbisan Inno oleh Uskup nantinya, dan ia lakukan sembari menggunakan seragam gereja berwarna putih berkalung syal tenun dari upacara, didampingi oleh salah satu Romo gereja di sampingnya . Bagi saya, ini adalah sebuah keunikan tersendiri, kombinasi seragam gereja dan upacara adat – sirih pinang – moke.

Selepas dari gapura, maka seluruh masyarakat mengiringi Inno untuk ke gereja untuk misa dan kemudian ke rumah adat Lewohedo. Desa Lewohedo, adalah desa asal muasal nenek moyang Inno sebelum akhirnya melakukan perjalanan dan tinggal di desa WuluBlolong. Rangkaian upacara adat menuju penahbisan ini mensyaratkan Inno untuk menelusuri ulang perjalanan nenek moyangnya. Maka demikianlah, seluruh upacara dimulai dari desa ini. Para penari — perempuan dan laki-laki, mengenakan pakaian adat, selendang dan tombak perisai— menari dengan langkah mundur yang ritmis, diiringi Diakon Inno dan rombongan yang berjalan ke depan, berhadapan.

Upacara penerimaan di rumah adat Lewohedo hampir-hampir tak berbeda dengan rangkaian acara di gapura. Inno disambut oleh Bapak Tua (yang katanya masih saudara baginya) dengan pidato singkat berbahasa daerah. Dalam waktu senggang, saya menanyakan kedua pidato tersebut (kepala desa dan Bapak Tua), dan menurut Inno, tak ada yang naratif dalam pidato itu. Hampir semuanya adalah seperti mantra. Mantra yang menjelaskan dan memberikan pesan untuk Inno. Tak semua bisa benar-benar mengartikan mantra simbolis itu, kecuali orang-orang yang telah secara khusus memang bertugas untuk mempelajari mantra dan menggunakan atau menyebarluaskannya dengan cara-cara tertentu. Mantra, adalah cara orang-orang adat menyampaikan pesan, baik dalam pidato yang khidmat, ataupun bahkan dalam gerak dan lagu, seperti yang saya alami di malam harinya.

Setelah acara makan bersama secara adat selesai, saya sempat menonton sekelompok kecil mama-mama dan bapak-bapak bergandengan tangan membuat lingkaran berlapis, melangkahkan kaki dengan pola gerak tertentu, sembari bernyanyi. “Mereka sedang main Tandak”, kata salah satu saudara Inno. Tandak biasanya selalu ada di malam-malam ada upacara atau acara di mana penduduk biasanya melakuan mete (begadang). Tandak bisa dilakukan semalam suntuk hingga pagi menjelang. Di Lewohedo, tandak disebut hema. Nantinya, di malam sebelum penahbisan pun, penduduk Wulublolong juga melakukan tandak, dengan cara yang kurang lebih sama, tapi berbeda di langkah kaki dan tentu saja lirik  yang dinyanyikan. Penduduk wulublolong menyebutnya Sole. Tak semua bernyanyi terus-menerus di dalam tandak, ada beberapa orang tertentu yang bergantian menyanyikan lagu-lagu seperti sedang bercerita. Salah satu atau dua diantara para bapak mengenakan gelang kerincing di kakinya. Di Lewohedo, saya mencoba bergabung ‘bermain’. Tak lama, saya dapat mengikuti gerakan kaki dan tangan yang dilakukan para mama dan bapak ini. Tapi saya tetap tak bisa paham apa yang dinyanyikan. Sedangkan di Wulublolong, saya hanya menonton para mama dan bapak dan beberapa pemuda bermain sole. Pola kaki tandak di Wulublolong agak lebih rumit daripada di Lewohedo. Dari Opu Yakob dan Inno, saya mendapatkan cerita lebih jauh tentang Tandak. Lagi-lagi, saya menemukan kata mantra dalam penjelasan mereka. Lirik yang dinyanyikan dalam tandak adalah mantra mengenai cerita-cerita keadaan desa, mitos, dan lainnya. Biasanya kisah ini diceritakan secara turun temurun, pada orang-orang tertentu yang memang bertugas ‘menjaga’ mantra. Tapi orang-orang ini juga kadang-kadang bisa menceritakan kisah-kisah atau situasi terbaru yang ada di desa.

Rangkaian adat berlanjut di keesokan harinya, di mana Inno harus menelusuri ‘jalur’ nenek moyang. Nenek dari nenek (entah keturunan keberapa) dikisahkan mampir ke desa Lewokebo sebelum akhirnya menetap di Wulublolong dan menikah, dan menjadi suku Koten. Upacara pelepasan dari rumah adat Lewohedo sama persis dengan upacara penerimaannnya kemarin, diiringi penari, rombongan menuju Desa Lewo Kebo. Yang menarik, di desa ini, kami disambut dengan penari-penari cilik (laki-laki), mengenakan sarung, kaos tanpa lengan warna putih, dan juga membawa golok dan perisai berukuran kecil. Tarian dari mereka juga mengiringi perjalanan berikutnya (berjalan kaki) hingga Wulu Blolong.

Di WuluBlolong, spanduk bertulliskan Lewo Wulu Lama Rebon, Tana Rebon Lama Dike “Selamat Datang Rombongan Penahbisan Imam Baru”, telah terpasang. Juga tampak bapak tua dari empat rumah adat di WuluBlolong di bagian paling depan. Urut-urutan penyambutan di ‘gapura’ ini hampir sama dengan penyambutan di LewoHedo sebelumnya. Pembedanya adalah tarian adat penyambutan dan pengiring perjalanan dan jumlah rumah adat yang didatangi. Tarian adat pengiring dari Desa WuluBlolong berbeda tempo langkah dengan di LewoHedo, cenderung lebih pelan. Dan jumlah lebih banyak dan lebih beragam, kalau tidak salah, jumlah tarian sesuai jumlah suku yang berdiam di Desa WuluBlolong. Para penari biasanya berganti kelompok di perempatan jalan atau di jalan bercabang. Tarian laki-lakinya mengenakan parang dan perisai kayu. Tarian perempuannya mengenakan selendang. Tapi dari seluruh tarian yang menyambut Inno di Wulu Blolong, ada satu tarian yang begitu khidmat dan paling berbeda. NamaUla, nama tarian ini. Para mama berjajar berdiri di samping kiri dan kanan jalan, dan para bapa menari berdiri dua-dua di tengah, lengkap dengan kerincing di salah satu kaki bapa. Dalam tarian ini, dinyanyikan sebuah lagu yang isi liriknya adalah kisah hidup Inno sejak lahir hingga kini. Saya tentu tak mengerti lirik kata per kata, tapi suasana petang itu terasa sungguh syahdu bagi saya.

Rumah adat pertama yang didatangi yaitu rumah adat LewoRebon, yang asal usulnya, ini adalah rumah adat pertama yang didatangi oleh keluarga Inno dahulu. Di sana upacara penyambutan oleh bapak tua dengan cerita-cerita mengenai mendiang ayah Diakon Inno, berhasil membuat tangis haru pecah di dalam rumah adat. Selanjutnya, ritual sirih pinang dan tentu saja moke. (PS, saya mendapatkan moke terenak sepanjang yang saya coba di seluruh perjalanan saya ke Flores Timur, padahal katanya itu moke kelas tiga, bukan kelas pertama. Hahaha.) Selanjutnya, hampir menjelang petang, perjalanan dilanjutkan ke rumah adat Koten, di mana suku Koten ini adalah suku keluarga Inno saat ini. Kurang lebih dengan urutan sama, upacara hari itu diakhiri dengan moke dituang dalam gelas masing-masing orang di dalam rumah adat. Dalam seluruh rangkaian ini, Inno menjalaninya dengan mengenakan seragam gereja.

Hari ketiga, persiapan dilakukan oleh penduduk desa Wulublolong. Seluruh persiapan mereka lakukan dengan gotong-royong. Ini juga yang kami lihat di desa Lewohedo. Memasak, mengangkat hewan yang akan disembelih, menyiapkan tempat upacara, dan segala bentuk persiapan yang dibutuhkan untuk upacara penahbisan. Ini tak hanya mereka lakukan di hari ini, tapi telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Sebelum memasak, mereka juga menyelenggarakan upacara penyembelihan hewan yang nantinya akan dihidangkan. Juga ada semacam gladi resik untuk upacara puncak besok paginya. Di hari upacara, ada satu rumah yang dijadikan dapur umum, di mana ibu-ibu memasak makanan untuk hidangan makan siang perayaan penahbisan. Beberapa dari mereka mengenakan jilbab, tak urung ikut terlibat membantu. Ketika kami bertanya, mereka mendapat bagian untuk memasak makanan non-babi. Kami sungguh kagum, melihat bagaimana seluruh desa terlibat dalam upacara ini.

Tanggal 27 September 2017, jam 9 pagi, upacara penahbisan Inno dilaksanakan. Rangkaian acara puncak ini dimulai dari penjemputan Inno di rumah adat Koten, diiringi dengan tarian, kemudian berjalan menuju lapangan untuk berkumpul dengan para tamu undangan dan para romo, sebelum menuju lokasi upacara di depan gereja. Hingga kemudian tiba waktunya, iringan gong dan penari mengawali barisan para romo dan diakon menuju halaman depan gereja, untuk memulai upacara penahbisan. Kursi telah penuh oleh para penduduk desa WuluBlolong, Lewokebo, Lewohedo, dan juga tetangga desa lainnya, yang ingin menyaksikan dan mengikuti upacara penahbisan Diakon Inno menjadi Romo. Upacara penahbisan dipimpin oleh Bapak Uskup Larantuka. Seluruh urutan upacara keagamaan diberlangsungkan dengan khusyuk, diiringi oleh paduan suara gereja yang khidmat, hingga akhirnya, resmilah Diakon Inno menjadi Romo Inno.

Acara siang itu masih belum usai, sembari dihidangkan makan siang, dimulailah pesta perayaan penahbisan Romo Inno. Selain sambutan-sambutan: dari Bapak Wakil Bupati, Bapak Uskup; Romo Inno mengundang Mas Yudi dan Opu Silvester, rekan kami dari Larantuka, untuk memberi sambutan sekaligus mengesahkan peluncuran buku kumpulan naskah lakon “Siapa Tuhan yang Kau Sembah?” milik Inno, yang dibagikan gratis, sebagai hadiah penahbisan. Berbagai macam pertunjukan dipentaskan di atas panggung dalam perayaan siang itu, termasuk di antaranya pentas teater dari Sanggar Sina Riang milik Mama Vero, salah satu mitra Teater Garasi di Adonara Timur, Flores. Mama Vero dan teman-teman Sanggar Sina Riang mementaskan karyanya berjudul “Ema Nene Koten”, bercerita tentang kisah hidup Romo Inno, dan impian dari seorang nenek yang kemudian terjawab, dilengkapi dengan doa dari seorang Ibu.

Seluruh penduduk telah menunaikan perjalanan upacara adat hingga upacara penahbisan Romo Inno. Mereka tampak gembira, terutama keluarga dari Romo Inno. Empat hari kami bersama mereka, mereka menyambut kami dengan hangat, membuat kami merasa dekat dan seperti memiliki keluarga lainnya. Kami harus pulang keesokan paginya, tak sempat mengikuti misa perdana Romo Inno (maaf Romo…). Tapi pertemuan kami dengan Solor Timur: Lewohedo, Lewokebo, Wulublolong, dan desa lainnya (kami sempat juga berkunjung ke benteng Lohayong) telah membuka sesuatu yang baru di benak kami masing-masing. Bagi saya sendiri, baru kali ini, saya melihat balutan adat dan ritual agama yang kental berpadu satu sama lain. Adat seperti tak menghalangi di tanah Flores ini, tapi ia yang justru menghantarkan perjalanan (dulunya) frater Inno pada salah satu puncak pengabdiannya kepada Tuhan sebagai Romo. Kedekatan adat pada kehidupan mereka, yang telah saya rasakan sejak moke yang disuguhkan pada saya ketika menyeberang dari kota Larantuka ke Solor Timur melalui pelabuhan kecil dekat desa Lewohedo; hingga ke acara puncak upacara penahbisan.

Tentang Jalan-Jalan ke Jogja (Catatan Residensi Seniman Teater Garasi-2017)

Oleh Eka Putra Nggalu

Di Cuba de Libre

Sampah-sampah adalah pengetahuan

Seperti pengetahuan-pengetahuan

Adalah tumpukan sampah

(Jogja, 2017)

 

Saya menyambut dengan gembira tawaran dari teater Garasi kepada saya untuk melakukan residensi artis di Yogyakarta selama kurang lebih enam minggu, mulai dari tanggal 9 Juli-24 Agustus 2017. Saya gembira karena residensi ini menjadi kesempatan pertama saya jalan-jalan ke luar NTT, sesuatu yang saya rindukan sejak lama dan belum pernah kesampaian karena terhalang oleh banyak faktor. Selain kerinduan, jalan-jalan ke luar NTT juga saya pandang sebagai kebutuhan. Ini dalam kapasitas saya sebagai anak muda yang perlu banyak pengalaman, posisi saya dalam konstelasi masyarakat di Maumere (kota asal saya) sebagai kelas menengah-katolik (mayoritas), berpendidikan baik, yang juga butuh referensi lain sebagai pembanding (saya mahasiswa STFK Ledalero, satu dari sedikit sekolah tinggi bermutu di NTT), dan sebagai seorang seniman yang sedang merintis sebuah komunitas yang sedang bergulat dengan berbagai kemungkinan pengembangan dan kebutuhan untuk secara mandiri menyokong keberlangsungan hidupnya.

Dalam mengikuti residensi ini, saya tidak secara khusus menempatkan teater atau seni pertunjukan sebagai fokus yang akan saya dalami. Dengan sadar, saya mengarahkan diri saya untuk melihat dan mengalami sebanyak-banyaknya aktivitas dan peristiwa dalam kehidupan saya di Jogja. Saya ‘bermain-main’ dengan jarak dalam menempatkan diri saya ketika saya berhadapan dengan berbagai program yang ditawarkan teater Garasi pun dengan aktivitas kesenian, diskusi-ilmiah, dan kehidupan sosial yang saya jumpai dan alami dalam hari-hari saya di Jogja. Konsekuensi dari pilihan saya ini adalah saya mungkin mendapat deskripsi yang luas tentang lanskap Jogja sebagai kota dengan akivitas kesenian yang tinggi, kota pelajar dengan tradisi intelektual yang baik, kota tempat banyak komunitas dibangun sebagai ruang advokasi isu-isu sosial, ekspresi kesenian dan aspirasi politis, hingga produksi pengetahuan. Tentunya, seluruh hal ini saya alami dalam berbagai macam bentuk pengejawantahannya. Di sisi lain, saya mungkin saja melewatkan banyak hal detail dalam satu aktivitas yang saya amati dan alami. Meskipun demikian, saya selalu dan sedapat mungkin melihat pantulan seluruh kekurangan dan kelebihan pengalaman saya di Jogja bagi aktivitas saya sebagai seniman dan pegiat di komunitas KAHE, sebuah komunitas seni-budaya di Maumere tempat saya bergiat. Refleksi pengalaman saya terutama saya arahkan pada kebutuhan komunitas KAHE untuk dapat mengelola dirinya secara mandiri. Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya di Jogja dan refleksi saya atas pengalaman-pengalaman saya bagi komunitas yang sedang saya dan teman-teman kembangkan.

Temuan-Temuan Saya di Jogja

Sejak awal harus saya akui bahwa pengalaman saya selama residensi di Jogja tidak dapat saya deskripsikan satu per satu dalam satu tulisan saja. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan beberapa pengalaman yang melekat dalam ingatan, kesan, dan imajinasi saya. Beberapa pengalaman yang ada dalam tulisan ini juga coba saya refleksikan secara lebih khusus dalam tulisan yang terpisah. Sudah barang tentu, semua itu saya refleksikan dalam kaitannya dengan kegelisahan dan kebutuhan saya dan teman-teman di komunitas.

Di Jogja, hal pertama yang sangat berkesan bagi saya adalah soal makanannya. Saya datang dan langsung diajak untuk makan bakmi Jawa di salah satu warung lesehan. Saya menikmati rasa bakmi Jawa dengan perasaan agak aneh. Lidah saya yang sudah akrab dengan ikan laut dan garam harus beradaptasi dengan cita rasa masakan Jawa yang umumnya manis. Perbedaan cita rasa masakan Maumere dan Jogja inilah yang pertama kali membuat saya sadar dan bersiap-siap untuk menjumpai lebih banyak perbedaan.

Di Jogja, saya merasakan ada perbedaan lain dalam hal cara berinteraksi maupun dalam membangun relasi sosial. Orang Jogja umumnya ramah-ramah, sangat halus dalam menyapa, dan murah senyum. Saya langsung menemukan perbedaan ketika saya berkomunikasi dengan dialek Maumere dan volume suara yang menggelegar. Saya juga sering ditegur, ketika wajah saya terlihat agak mengkerut dan seperti ingin marah. Sesuatu yang menurut saya normal ketika saya sedang mencoba fokus memikirkan suatu hal. Saya menyadari bahwa disposisi diri saya harus lebih diadaptasikan dengan lingkungan Jogja.

Perbedaan kebudayaan juga saya alami ketika berhadapan dengan teman-teman performer studio maupun teman-teman lain yang juga terlibat dalam residensi artis. Pertemuan dengan teman-teman dari Jawa, Madura, Belanda, dan Australia menuntut saya untuk lebih terbuka. Komunikasi kami, satu sama lain harus benar-benar dicermati secara baik. Di beberapa percakapan saya menemukan adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi karena kami tidak berangkat dari cara pandang atau pemahaman yang sama terhadap satu isu atau hal yang sedang diperbincangkan. Selain kebudayaan, kami juga berangkat dari status sosial, agama, dan latar belakang pendidikan yang berbeda yang mendesak banyak penyesuaian dalam berkomunikasi. Temuan saya dari situasi ini sangat banyak. Saya menemukan keterbatasan-keterbatasan personal saya dalam berkomunikasi, misalnya egois, cenderung menguasai pembicaraan, sulit mendengarkan, dan kurang terbuka. Saya merasakan hal ini tidak sebagai sebuah kecenderungan sadar, atau yang sifatnya karakteristik, tetapi lebih sebagai efek dari perbedaan-perbedaan yang tidak terjembatani secara baik dalam berkomunikasi. Saya menemukan miniatur Indonesia dalam kelompok kecil ini. Dialektika perbedaan-perbedaan sangat terasa karena intensitas interaksi kami yang cukup tinggi. Kendala yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan ini begitu terasa ketika kami melakukan penciptaan bersama. Seringkali komunikasi kami ‘tak sampai’ karena perbedaan-perbedaan tadi. Ketika kembali membayangkan hal ini, saya mengingat kata-kata Mas Ugo Prasad, ‘penciptaan kesenian dapat berlangsung ketika kau membiarkan pertemuan, tubuh, percakapan, gerak, perasaan, lebih pintar dari dirimu’.

Di Jogja, saya juga berkeliling mengunjungi galeri-galeri seni rupa. Pada satu kesempatan, saya berkunjung ke sebuah studio yang sedang menyelenggarakan pameran dari seorang perupa Jepang. Betapa saya terkejut ketika mendapati bahwa yang ada di dalam galeri tersebut adalah jejeran batu-batu. Beberapa kali saya coba berjalan mengelilingi galeri yang dipenuhi oleh pajangan batu-batu. Saya sungguh tidak mampu menikmati pameran itu sebagai karya seni. Saya membaca panduan program dan menemukan penjelasan bahwa pameran tersebut mencoba menghadirkan konsep sekaligus sensasi tentang sebuah benda yang sedang berada dalam situasi ‘jeda’. Batu-batu itu diambil dari lokasi-lokasi para pekerja tambang, bangunan, dan berbagai proyek industri material. Batu-batu yang ada di pameran itu berada dalam situasi di antara wujud asli dan wujud hasil produksi, dialektika antara materia dan forma, potensi dan actus. Batu-batu itu memuat narasi sejarah batu, potensi batu, bentuk yang ideal dari batu yang sedang dikerjakan, narasi para pekerja, dan posisi semua hal ini dalam konstelasi industri serta wacana kemanusiaan yang lebih luas.

Meskipun saya memahmi bahwa konsep pameran ini begitu detail dan bagus, saya masih terganggu dengan medium serta wujud estetis yang dipilih untuk menyampaikan ide itu. Bukankah ketika batu-batu ini ditempatkan dalam ruang kesenian (galeri), karya-karya ini juga dituntut untuk hadir sebagai sesuatu yang indah, yang menampilkan efek sensibilitas tertentu atau momen keterkejutan bagi para pengamatnya? Ataukah cara saya memandang dan menikmati kesenian masih terbatas, masih melulu melalui sensasi indrawi? Apakah salah jika saya tidak dapat menikmati karya ini sebagai suatu karya seni? Ataukah justru karya ini berhasil ketika dia benar-benar meninggalkan teror melalui pertanyaan yang terus tinggal di kepala saya bahkan setelah sebulan saya meninggalkan tempat pameran?

‘Pameran batu’ ini adalah satu dari beberapa model kesenian yang bagi saya baru dan yang saya jumpai serta alami di Jogja. Saya menonton konser Balungan, melihat festival gamelan, beberapa kali mengunjungi beberapa stan di Festival Kesenian Yogyakarta. Temuan saya adalah betapa kerja-kerja kesenian yang saya jumpai di Jogja umumnya tidak hanya mengandalkan atau menampilkan keterampilan teknis dan ekspresi estetis, tetapi melibatkan desain konsep yang membutuhkan sekaligus memproduksi pengetahuan yang sangat besar. Hal inilah yang menurut saya sangat jarang dijumpai dalam kesenian-kesenian di Maumere bahkan NTT. Jika di NTT yang masih diperbincangkan adalah soal penguasaan teknis, soal bagus-jelek, yang saya temukan di Jogja, sebagian besarnya adalah soal konsep, ide, dan statement yang ingin diserukan oleh sebuah karya. Saya benar-benar menemukan bahwa dialektika dan diskursus antara bentuk dan isi dalam karya seni benar-benar tampak.

Jalan-jalan saya ke galeri-galeri seni rupa membuat saya terlibat dalam beberapa diskusi kesenian dan kebudayaan. Saya mengikuti diskusi di Pendhapa Art Space, saya mengikuti diskusi di Cemeti Art House, saya juga mengikuti diskusi dengan Komunitas Taring Padi. Yang menarik, saya menemukan beberapa ‘muka yang sama’ yang selalu hadir dalam kegiatan-kegaitan seperti ini. Peserta diskusi pun tidak banyak. Dua puluh adalah angka yang mungkin menjadi standar bagi jumlah peserta sebuah diskusi. Pemandangan ini sesungguhnya tidak berbeda jauh dari yang terjadi di NTT atau Maumere. Yang berbeda adalah kualitas diskusinya. Saya hampir tidak pernah menemukan diskusi yang tidak serius atau tidak bermutu di Jogja. Saya juga berbesar hati, ternyata saya mampu terlibat dan minimal paham topik dan isu yang sedang diperbincangkan. Melihat hal ini, di satu sisi saya merasa tidak layak merasa diri sebagai inferior sekaligus memacu saya untuk semakin menumbuhkan tradisi dan iklim diskusi, minimal dalam komunitas yang sadang kami kembangkan.

Khusus dalam irisannya dengan seni pertunjukan, residensi saya kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Saya menonton pertunjukan Gejolak Makam Keramat karya Teater Tamara, Sahabat Terbaik yang disutradarai Joned Suryatmoko, dan beberapa peetunjukan lainnya. Menonton pertunjukan-pertujukan ini, saya menemukan bahwa konsep dan pemahaman saya tentang teater selama ini benar-benar dijungkirbalikan dan diobrak-abrik. Jika di Maumere konsep dan model teater yang saya serap sebagai referensi maupun saya kreasikan selalu berupa teater prosenium dan petunjukan tradisi, maka di Jogja saya mendapati beberapa macam model pertunjukan yang aneh, mulai dari arena, site specific teater, teater dengan penonton yang terlibat, teater dengan ekstensi tubuh ‘orang-orangan’ dan banyak macam lainnya. Temuan-temuan ini tentu memperkaya pemahaman dan referensi saya mengenai model teater. Dalam beberapa kesempatan saya merasa terkagum-kagum dengan pertunjukan-pertunjukan yang saya jumpai. Dalam kesempatan lain, saya merasa sebagai orang yang berasal dari daerah, saya seperti tidak punya hak untuk merasa inferior. Saya merasa banyak hal yang bisa saya dan teman-teman lakukan.

Pemahaman saya tentang teater juga digugat sekaligus direstorasi sepanjang hari-hari saya mengikuti serangkaian workshop, training, penciptaan, dan obrolan-obrolan ringan di teater Garasi. Sejak awal kedatangan saya di teater Garasi, saya mengalami atmosfir diskusi yang cukup ilmiah dan serius. Saya menikmati atmosfir ini sebagai sebuah prakondisi sekaligus kondisi yang baik untuk belajar apa saja. Saya mencermati semua diskusi di sela-sela ngopi atau ngebir, yang kelihatan sangat santai dan remeh-temeh tetapi selalu berisi dan berkualitas. Saya bertanya macam-macam tentang teater, sastra, sejarah, sosial budaya, hingga sepakbola dan pertanyaan saya dijawab dengan berbagai macam hal. Atmosfir ini untuk saya langka di Indonesia (apalagi Maumere), bahkan dalam sebuah institusi pendidikan setingkat universitas.

Satu hal menarik yang juga saya dapatkan adalah ketika saya mengunjungi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Di Festival ini saya membayangkan adanya interaksi dan dialektika antara para seniman dalam posisi personalnya maupun dalam medan keseniannya, pemerintah sebagai yang menjalankan medan kekuasaan, dan juga masayarakat penikmat seni. Saya membayangkan ada kompetisi, gesekan-gesekan yang besar sekaligus juga kerjasama yang saling membangun dan menguntungkan. Saya kagum dengan kunjungan di FKY yang tidak pernah sepi dan pengelolaan event yang untuk saya baru dan bermutu. Saya berangan-angan akan ada satu seperti Festival Kesenian Yogyakarta di Maumere.

Pemahaman saya tentang teater teruatama ‘diganggu’ saat saya mengalami serangkaian workshop dalam program Performer Studio, sebuah program yang diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute untuk belajar keaktoran bagi seniman muda. Untuk saya, workshop dekonstruksi oleh Mas Yudi Ahmad Tajudin adalah salah satu workshop yang memiliki efek besar bagi cara pandang saya terhadap seni pertunjukan dan kesenian pada umumnya. Dalam workshop ini, saya menemukan bahwa teater tidak sebatas sebuah ekspresi estetis belaka, tidak juga bernuansa mistis seperti yang sering melekat dalam pemahaman banyak orang. Seni pertunjukan adalah satu kompleksitas yang bisa berdiri sekaligus sebagai sebuah laku hidup, disiplin pengetahuan, dan profesi (meskipun Mas Yudi selalu berulang-ulang menekankan bahwa hampir tidak ada kelompok teater yang benar-benar profesional di Indonesia). Dalam workshop-workshop lainnya, saya tentu mendapat pengetahuan tentang tubuh, tentang pelisanan, dan pentingnya analisis sosial sebagai landasan pijak sebuah penciptaan kesenian.

Pengalaman lain tentang teater saya peroleh dalam praktik penciptaan bersama menggunakan metode Teater Garasi. Dalam penciptaan ini saya mengalami suatu situasi yang benar-benar baru. Saya harus menciptakan teater dengan suatu metode yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Saya menciptakan teater secara bersama-sama dengan teman-teman dari latar belakang budaya, bahasa, tingkat pendidikan, preferensi dan referensi estetis yang berbeda-beda yang menutut keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi. Implikasi dari proses bersama ini sungguh saya alami. Saya mengenal batasan-batasan sekaligus potensi diri saya dalam berkomunikasi ketika saya berada dalam lingkungan yang plural, saya menemukan bahwa metode penciptaan bersama menuntut adanya relasi komunikasi yang setara, partisipasi aktif dan kontribusi nyata setiap orang yang terlibat dalam penciptaan bersama, dan keseriusan dalam menyikapi setiap langkahnya. Pertunjukan berjudul Bagaimana Menghilang Sepenuhnya yang akhrinya kami hasilkan adalah cerminan dari masing-masing potensi, karakter, preferensi dan referensi estetis para penciptanya.

Selain pemahaman tentang teater, yang utama saya cermati dalam pengalaman saya di Jogja adalah model-model pengelolaan komunitas. Saya bercerita dengan pegelola Cemeti Art House, saya mengikuti sharing dengan teman-teman komunitas Kecil Bergerak dan komunitas Taring Padi, saya berkunjung ke Kalanari Theatre Movement dan bersama teman dari Flores, saya berkunjung ke kelompok musik kampung Maumere yang berkarya di Jogja dan beberapa organisasi mahasiswa. Dari pertemuan-pertemuan ini saya menemukan ada banyak pola dan model pengelolan komunitas, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat kompleks.

Masih dalam kaitannya dengan pengelolaan komunitas, saya beruntung mendapat kesempatan ngobrol tiga jam dengan Mas Yudi. Mas Yudi bercerita tentang pertumbuhan Teater Garasi dari awal sebagai sebuah komunitas kampus hingga sekarang menjadi sebuah komunitas dan juga institusi yang mandiri dan profesional. Saya mendengar peralihan-peralihan yang dialami Teater Garasi dalam merumuskan identitas diri mereka yang berjalan seiring dengan pola-pola penyesuaian pengelolaan komunitas. Saya mendengarkan dengan saksama problem-problem internal yang dialami Garasi, mulai dari proses yang dialami seniman-senimman Teater Garasi dalam menjawab pertanyaan eksistensial tentang keberlangsungan komunitas, sampai dengan cara Teater Garasi secara terus-menerus merefleksikan identitas diri mereka, dan menyikapi problem-probelem tentang perbedaan visi di antara para anggota. Dalam pantulannya dengan KAHE, saya memperoleh banyak sekali masukan dan juga pengetahuan dalam hal pengelolaan komunitas.

Hal terakhir yang menarik yang juga saya jumpai dalam pengalaman saya di Jogja saya refleksikan dalam kaitannya dengan saya sebagai ‘orang timur yang katolik’. Saya menyadari bahwa dalam banyak hal dan oleh karena banyak faktor, persepsi dan pengetahuan orang Jogja tentang orang-orang dari kawasan Timur (Flores, Ambon, Timor, Maluku, Papua) sungguh beragam. Tidak semua orang Jogja memiliki pengetahuan yang memadai tentang Maumere, kota asal saya. Masih banyak orang Jogja yang membayangkan Maumere sebagai sebuah kota yang masih sangat primitif. Ada yang bertanya soal harga bahan bakar minyak, ada yang bertanya tentang situasi kota yang dalam pandangan mereka masih dipenuhi dengan hewan-ewan yang berkeliaran. Ada yang berpendapat bahwa orang-orang dari Flores umumnya pintar-pintar sekaligus ‘tukang pukul’.

Dalam situasi lain, saya menyadari diri sebagai kaum minoritas ketika saya hadir dan terlibat dalam sebuah diskusi di Cemeti. Ada banyak perasaan yang muncul ketika iman yang saya hidupi ‘diganggu’ dengan lelucon-lelucon maupun dengan pernyataan-pernyataan dalam diskusi yang sebenarnya saya bisa terlibat lebih jauh di dalamnya tetapi tidak terjadi karena ada banyak pertimbangan lain salah satunya karena saya minoritas. Namun, saya juga mengalami bahwa pemberitaan tentang radikalisme dan fundamentalisme agama di media-media terkesan membual dan hiperbolis. Di Jogja, saya masih merasa aman sebagai orang Katolik. Saya merasa toleransi antar umat beragama di Jogja bukan suatu hal yang asing.

Saya juga menemukan bahwa struktur kekuasaan yang terlalu lama sentralistis, wacana-wacana jawasentris atau jakartasentris yang lebih dominan, bipolarisasi pusat-daerah, pembangunan yang tidak merata, perbedaan kebudayaan yang tidak selalu dijembatani dengan komunikasi yang baik, menghasilkan stereotipe-stereotipe tertentu terhadap orang timur, yang juga turut menentukan cara orang timur memandang dirinya dan selanjutnya menempatkan dirinya dalam konstelasi masyarakat yang lebih luas dari daerah asalnya (di Jawa misalnya). Saya menyadari bahwa pada awal perjumpaan saya dengan berbagai hal dan aktivitas di Jogja, perasaan-perasaan inferior sering muncul. Entah kenapa, saya juga jarang sekali menemukan ada ‘orang timur’ yang hadir di beberapa pameran seni rupa, pertunjukan, diskusi ilmiah dan kegiatan-kegiatan kesenian yang mungkin cukup serius. Padahal, saya mengalami bahwa banyak hal di Jogja, misalnya produksi kesenian sangat bisa dibuat di daerah saya, dalam arti sumberdaya manusia dan infrastruktur di Maumere sudah sangat memungkinkan hal itu terjadi. Saya mengalami saya bisa terlibat dalam diskusi-diskusi kesenian mapun sosial politik. Saya merasa bahwa banyak saudara-saudara saya dari timur sebenarnya punya kapasitas untuk terlibat dalam medan-medan kesenian maupun produksi pengetahuan di Indonesia. Mungkin hubungan hal-hal di atas terkesan sangat kabur tetapi bagi saya tetap saling mempengaruhi.

Pengalaman di Jogja dalam Refleksinya dengan Komunitas KAHE

Tentu saja semua hal yang saya alami di Jogja saya bagikan dengan teman-teman di Komunitas. Kami punya tradisi untuk selalu membagikan temuan-temuan kami dalam perjalanan atau kegiatan apapun yang kami ikuti, secara personal maupu secara komunitas. Meski semua hal saya ceritakan, secara lebih dominan saya melihat berbagai pengalam saya di Jogja lebih dalam kaiatannya dengan kerangka institusional development. Saya merefleksikan pengalaman perkembangan Teater Garasi dari karakternya sebagai komunitas menuju institusi dalam relevansinya dengan konteks serta kebutuhan KAHE untuk bisa sustain sebagai suatu komunitas yang mandiri dan profesional.

KAHE sebagai sebuah komunitas baru bergiat selama kurang lebih dua tahun. Sebelumnya sebagian besar anggota KAHE sudah menjalin pergaulan dan persahabatan. Ada yang sejak SMP dan ada yang sejak di Seminari menengah SMA. KAHE boleh dibilang tumbuh setelah pergaulan dan persahabatan ini berlangsung dengan baik. Alasan keberadaan KAHE sendiri tidak sejak awal jelas. Setelah saya refleksikan lebih mendalam, saya menemukan bahwa KAHE sebenarnya berdiri atas dasar hasrat dan kebutuhan bersama akan adanya sebuah ruang diskusi, kreasi, dan apresiasi sastra di Maumere. Berangkat dari sastra, KAHE berkembang menjadi sebuah komunitas yang amat akomodatif sifatnya. Banyak anggota dari berbagai latar belakang kesenian mulai bergabung. KAHE berkarya dan menciptakan lingkungan serta suasana belajar yang kondusif bagi orang-orang yang bergabung di dalamnya. Gairah berkesenianlah yang pertama-tama membangun dan menggerakan KAHE. Dalam perjalanan waktu, KAHE yang rata-rata digerakan oleh para mahasiswa yang akan lulus dalam satu hingga dua tahun ke depan dan anak-anak muda yang sudah mulai membangun rumah tangga, berhadapan dengan beragam pertanyaan di antaranya, apakah komunitas ini ingin terus dilanjutkan? Jika berlanjut apakah komunitas ini akan memiliki kontribusi yang signifikan bagi kehidupan ekonomi masing-masing anggota? Apakah komunitas ini kemudian hanya jadi tempat singgah, tempat pelampiasan ide yang tidak bisa dituangkan di tempat kerja yang utama?

Sharing dan pengamatan saya tentang Teater Garasi, meski tidak sempurna, coba saya refleksikan dan ambil relevansinya dengan KAHE. Saya dan teman-teman merasa perlu memperkuat komunitas secara internal dan Garasi dalam taraf tertentu memberikan perspektif serta menjadi satu referensi yang baik perihal perkembangan serta pertumbuhan sebuah komunitas. Saya merasa perlu membagikan situasi yang dialami Garasi, situasi-situasi peralihan-peralihan yang mereka lalui dalam sejarah, bagaimana mereka berdialektika dengan situasi zaman serta pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan idealis tentang keberlanjutan komunitas, hingga pengelolaan institusi dalam bentuknya yang paling mutakhir.

Pada dasarnya, saya dan teman-teman berencana untuk tetap bertahan dan melanjutkan komunitas yang sudah kami rintis bersama. Dalam diskusi saya dengan teman-teman yang juga sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengembangan serta pengelolaan komunitas, kami merasa perlu untuk merumuskan visi bersama. Kami pun merasa ada kebutuhan untuk membuat pemetaan tentang modal-modal yang ada dalam komunitas terutama sumber daya manusia, modal kultural, dan modal sosial, peluang serta kesempatan yang mungkin kami peroleh, potensi-potensi yang bisa dikonversi menjadi sesuatu, serta hambatan dan kendala-kendala yang memberatkan proses realisasi perumusan visi serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan kami. Kami merasa perlu untuk memperkuat kerja-kerja kebudayaan yang kami lakukan. Pertanyaan Joko Pinurbo kepada salah satu anggota KAHE yang mengikuti MASTERA baru-baru ini: ‘apa isu Maumere atau NTT yang coba kau hadirkan dalam puisi-puisimu?’ pada akhirnya juga menjadi pertanyaan besar bagi KAHE secara komunitas. Pertanyaan ini serta-merta membuat kami sadar, sebagai sebuah komunitas, kami merasa perlu untuk melihat dan menempatkan diri secara lebih tepat, cermat, dan proporsional dalam konstelasi dan dialektika dengan masyarakat beserta segala struktur dan kompleksitasnya. Kami merasa perlu memberikan konrtibusi bagi pembangunan manusia-manusia di NTT secara umum maupun Maumere khususnya, melalui medium kesenian. KAHE sebagai komunitas kesenian dan kebudayaan harus mulai berpikir untuk memiliki statement politis, menjadi cerminan sekaligus media untuk menyuarakan kegelisahan dan keprihatinan sosial.

Dalam bentuk yang lebih konkret, saya dan teman-teman dalam komunitas berencana mematangkan konsep kegiatan dan karya-karya yang sudah dan sedang kami buat selama ini, seperti jurnal sastra, diskusi mingguan, siaran radio, dan Festival Teater Maumerelogia. Kami berencana memetakan pula sejauh mana hal-hal yang sudah kami buat memberi efek bagi orang-orang di sekitar kami, yang terlibat maupun yang mengamati kerja kami. Sejak awal hal-hal ini kami lakukan sebagai sebuah upaya memberi makan eksistensi dan juga demi menjaga identitas KAHE sebagai sebuah komunitas kesenian dan kebudayaan yang di dalamnya terdapat pula usaha memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai. Kami percaya, penguatan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan di atas tentu juga berpengaruh pada penguatan komunitas.

Kami juga berencana untuk menyegarkan kembali pengetahuan mengenai metode penciptaan bersama Teater Garasi yang kami dapat dalam workshop ‘Bertolak dari Yang Ada, Bicara kepada Dunia’, maupun dalam pengalaman residensi saya di Jogja. Bayangan tentang produk penyegaran metode penciptaan bersama ini adalah antologi bersama dan sebuah pertunjukan teater. Antologi bersama ini akan berupa tulisan dan kemungkinan pengembangannya. Antologi bersama ini akan diselesaikan pada November 2017. Sedangkan pertunjukan teater direncanakan sebagai bagian dari Maumerelogia III tahun 2018.

Sekedar Penutup

Di Jogja, saya beberapakali nongkrong di Prawirotaman. Café-café sepanjang daerah ini sesekali menyajikan live music reggae yang sebagian besar dimainkan oleh orang-orang dari Flores. Sebagian besar dari para musisi reggae ini adalah mantan mahasiswa di beberapa kampus di Jogja. Banyak anak-anak muda dari wilayah lain di Indonesia Timur juga mencari hiburan di sekitar Prawirotaman. Pace-mace, nong-nona, tata-ari dengan sangat mudah dapat ditemukan di daerah ini. Saya beberapa kali ke sini dengan alasan untuk melihat aktivitasnya, sesekali juga karena memang sudah begitu rindu menikmati minuman beralkohol dan bercakap-cakap dengan sesama orang Maumere atau Flores umumnya.

Di sebuah café, di daerah Prawirotaman, saya juga pernah begitu marah dan kecewa. Saya marah dan kecewa ketika melihat perkelahian segerombolan orang Papua. Dari perkelahian ini, satu orang akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan kepala berdarah-darah terkena hantaman botol.  Beberapa hari setelah kejadian, saya melihat beberapa preman Jogja menunjukan muka tidak senang kepada orang-orang yang berkulit hitam. Saya menyimpan beberapa tatapan berisi tuduhan kepada saya, di kepala saya.

Dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Maumere, saya berjumpa dengan seorang musisi Maumere yang akan mengadakan konser di kota kelahirannya itu. Kami sempat bertemu di Jogja sebelumnya, tetapi baru bisa bercakap-cakap dalam perjalanan pulang ke Maumere. Saat di ruang pengambilan bagasi di bandar udara Waioti-Maumere, dengan nada kelakar dan sedikit mabuk ia berujar ‘ko belajar banyak-banyak di Jogja, tapi jang lupa pulang e’. Saya tertawa mendengar kata-katanya. Saya mengajak dia untuk mampir ke radio tempat saya sering nongkrong tetapi dia bilang mamanya sudah menunggu di rumah, ingin mendengar cerita-ceritanya. Sebelum kami berpisah saya mengucapkan selamat untuk konsernya nanti dan dia menggerakan kedua jari telunjuknya seperti isyarat seorang pelatih sepak bola bahwa akan ada pergantian pemain.

Saya ke Jogja dengan kepala penuh tanda tanya dan kembali tiba di Maumere dalam keadaan yang peris sama.

 

Eka Putra Nggalu, Pegiat di Komunitas KAHE-Maumere

Peserta Residensi Seniman Teater Garasi-2017

Antara Workshop, Moke dan Perjumpaan Kita

Kristina Beatrix Nong Goa “Qikan”

Sejak pertama kali Teater Garasi menginfokan akan membuat workshop di Flores tepatnya di kota Larantuka, saya sadar ini akan menjadi sebuah pengalaman belajar yang berharga secara pribadi maupun secara komunitas; untuk itu tak boleh disia-siakan. Beberapa teman juga mengakui hal yang sama, meskipun banyak juga yang lantas menyatakan kekecewaan mereka karena tak bisa mengikuti kegiatan ini karena kesibukan pekerjaan, selain karena memang peserta dibatasi. Dan ternyata benar, saya dan teman-teman Kahe yang mengikuti kegiatan ini merasa sangat beruntung. Banyak hal baru yang kami pelajari terutama soal metode-metode penciptaan, bagaimana menggagas tema, bagaimana menerjemahkan ide ke dalam gerak, theater of image (yang secara pribadi cukup berkesan untuk saya), parameter-parameter gerak dan banyak hal lain lagi yang berkaitan dengan proses penciptaan. Sehabis mengikuti workshop bertemakan ‘Bertolak Dari Yang Ada, Bicara Kepada Dunia’ ini kami—sebagai yang mewakili komunias Kahe—sudah membuat komitmen bersama untuk membuat sebuah karya bersama dan sejumlah project kecil-kecilan bertolak dari hal-hal yang sudah dipelajari dari workshop kali ini.

Akan tetapi, dalam tulisan singkat nan ringan ini saya tidak hendak membahas hal-hal teknis berkaitan dengan workshop atau juga mengenai detail karya dan project yang akan kami buat. Toh, di hari terakhr workshop, Mas Yudi dan kawan-kawan Garasi sendiri sudah mendengar secara langsung ungkapan hati, kesan dan rasa terima kasih berlimpah dari para peserta karena telah mengikuti workshop yang diselenggarakan. Saya hanya ingin membahas sedikit mengenai dampak langsung yang kami rasakan setelah workshop ini dibuat. Teman-teman Kahe yang lain mungkin punya kesan dan pengalaman yang berbeda yang tidak bisa saya tulis. Beberapa hal bisa saya ungkapkan di sini.

Pertama, sejujurnya, Teater Garasi/ Garasi Performance Institute yang diwakili oleh Mas Yudi, Mas Rizky, Mas Qomar, Mbak Sita, Mbak Lusi (meski tidak sempat hadir saat workshop) dan Siom (saya lupa nama aslinya, maaf) telah menyuntikkan energi baru bagi kami untuk terus berkarya. Di tengah segala keterbatasan akses informasi, pengetahuan, dan apresiasi, kadangkala ada rasa jenuh dan ‘tak berdaya’ yang secara pribadi dan secara komunitas kami rasakan. Garasi telah ‘membangunkan’ kami dari tidur dan serentak menyadarkan kami kalau kami sebenarnya punya potensi yang luar biasa. Kekayaan alam, budaya dan tradisi yang kami miliki justru menjadi alat kejut yang ampuh untuk sejenak membuka mata kami. Atau mungkinkah kami telah terlalu lama hidup dalam comfort zone? Entahlah, saya sendiri tidak yakin untuk itu. Tetapi, energi itu telah kami tularkan juga kepada teman-teman sekomunitas yang tidak mengikuti kegiatan ini. Seperti yang sudah saya singgung di atas, mereka merasa kecewa tidak bisa mengikuti workshop ini. Namun, saya yakin ada semacam semangat baru juga yang mereka rasakan seperti apa yang kami rasakan juga sebab semua kegiatan workshop selalu kami laporkan di group WA komunitas. Bahkan dengan mendengar cerita-cerita kami, mereka sangat terpesona dan tertarik (kalau tidak mau dibilang iri hati). Barangkali, bagi teman-teman Garasi sendiri ini merupakan hal yang biasa atau terlampau hiperbolis, tetapi memang begitulah kenyataannya. Sesuatu yang biasa dan sederhana bisa jadi merupakan hal besar dan luar biasa bagi orang lain. Dan itu sedang kami rasakan. Saya ingat bagaimana Mas Yudi memberikan materi dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Suasana workshop yang diciptakan; yang santai dan fleksibel, membuat kami berani mengungkapkan ide dan hal apa saja yang ingin kami tanyakan. Di dalam praktek pun kami tidak pernah dinilai dari aspek benar dan salah; Mas Yudi dan teman-teman Garasi tidak pernah men-judge bahwa gerakan yang ini salah dan yang benar harus seperti ini atau ide yang ini tidak benar, misalnya. Apa yang ada pada kami itulah yang diberdayakan. Saya mengerti bahwa inilah yang disebut; bertolak dari yang ada bicara kepada dunia.

Kedua, yang berkesan dari sebuah perjalanan adalah pengalaman perjumpaan; perjumpaan wajah, perjumpaan tubuh. Ini tentu merupakan pengalaman kedua kalinya teman-teman Garasi datang ke Flores (kecuali Siom yang katanya sudah beberapa kali ke NTT) setelah pada bulan Maret (kalau tidak salah) datang untuk kali pertama. Sebelumnya kami hanya mengetahui Teater Garasi dari youtube, Kompas, Tempo dan media-media nasional lainnya. Sebagaimana yang seringkali diucapkan Ka Sil Hurit, Teater Garasi adalah sebuah kelompok Teater terdepan di negeri ini. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, tetapi dari pengalaman perjumpaan, kami telah menganggap teman-teman Garasi (meskipun berbeda generasi) menjadi bagian dari kami; sahabat, keluarga, teman diskusi, dan ‘teman minum’ yang baik. Kami sangat menghormati dan menghargai Garasi, bahkan untuk semua yang telah mereka buat dan untuk dua puluhan tahun berkarya, hormat dan apresiasi setinggi-tingginya patut siapa saja berikan. Namun, ada hal yang lebih dari itu; yakni bagaimana Garasi juga turut meleburkan diri ke dalam hidup kami, pola pikir kami, tradisi dan budaya kami sambil banyak kali menyumbangkan sudut pandang lain yang sangat berguna bagi kami.
Yang menarik juga adalah ketika malam menjelang dan kita duduk melantai bersama dan ada beberapa botol yang berdiri. Sebotol moke tetaplah berisi moke bagi orang yang hanya ingin mabuk-mabukan, tetapi kemudian moke kelihatan lebih bermartabat ketika spontanitas diri setiap orang berujung pada sebuah persahabatan lintas generasi, lintas pulau, lintas agama, lintas suku. Ada produksi pengetahuan di sana, ada suara yang didengarkan, ada nada-nada yang dihayati dan ada saling menghormati. Sehingga ketika itu, Mas Yudi mulai jadi pendiam, Mas Qomar mulai membuat dahi kami berkerut dengan obrolan filsafat dan teologinya, mas Rizky menunjukkan musikalitasnya, Siom dengan moment of the truth-nya, dan Mbak Sita yang cepat ngantuk. Di situasi-situasi seperti inilah, Garasi menjadi sungguh-sungguh orang Flores. Kami pun menjadi tak canggung, meski kami sadar kami sedang berhadapan dengan sekelompok orang hebat. Bayangkan, saking hebatnya ketika mengetahui Mas Yudi dan Mas Qomar sampai hari ini belum kelar-kelar menuntaskan skripsi, Epang juga mau ikut-ikutan tidak mau menyelesaikan skripsinya dengan alasan kuat; yang penting berkarya dan berkesenian; teladannya ya sudah pasti Mas berdua itu. Saya yakin Mas Yudi tidak mau bertanggungjawab untuk kasus ini. Apalagi Mas Qomar.

Terima kasih banyak teman-teman Garasi. Kalian telah berhasil menjadi bagian dari kami dan membagi banyak hal kepada kami. Ada banyak kekurangan dan keburukan yang ada pada kami. Untuk semua itu, kami haturkan beribu maaf. Semoga alam, budaya dan senyum orang-orang Flores bisa menjadi inspirasi dalam berkarya.
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Epan gawan. Amapu Benjer!!!

Salam dan doa,

Qikan dan teman-teman Kahe Maumere of Flores

 

Catatan Perjalanan Pertama ke Flores NTT

Arsita Iswardhani

Perjalanan Flores ini merupakan perjalan pertama dari seluruh rangkaian perjalanan ke depan yang akan mungkin dilakukan lagi oleh kami, Teater Garasi.

Kami singgah di dua daerah, yaitu di Maumere (Sikka) dan Flores Timur.

Di Maumere, kami ditemani partner lokal, Komunitas KAHE, sejak mendarat di bandara Frans Seda Maumere. Hari pertama di Maumere kami menemui Romo Tule Philipus dan Frater Hendrik dari Seminari Ledalero. Dari beliau ini, kami mendapatkan informasi tentang situasi keberagaman sosial dan budaya di Flores. Romo Tule adalah pakar Islamologi, dan Frater Hendrik sendiri juga tokoh yang sangat aktif dalam usaha-usaha menjaga situasi damai dan kerja bersama lintas agama. Salah satu yang sedang dipersiapkan saat kami bertemu dengan beliau, dan kemudian kami juga mengikuti acaranya di hari terakhir kami di Maumere, yaitu Aksi Bela Bumi. Setelah dari Seminari Ledalero, kami bertemu dengan anggota kelompok KAHE; Eka Putranggalu, Elvan, Rico Wawo, Haris Meoligo, Kikan, Rizal, Dimas, dan Tika. Mereka kelompok anak muda yang sangat aktif menggerakkan kesenian di Maumere. Malamnya, kami diajak ke Seminari Ritapiret untuk bertemu dengan kelompok-kelompok teater dari Seminari: Teater Tanya dan Teater Aletheia. Sesi ini terasa cukup formal tapi tetap santai, karena mereka ternyata menyiapkan satu forum besar. Dari pertemuan ini, kami sedikit banyak tahu bagaimana situasi perkembangan teater di Maumere.

Salah satu daerah yang saya kunjungi di Maumere adalah Desa Wuring. Desa ini terletak di pinggir laut. Bahkan ada sebagian rumah dari penduduk desa ini adalah rumah apung, dengan struktur bambu dan kayu. Juga ada masjing apung di ujung desa. Desa ini adalah salah satu desa muslim di Maumere. Rata-rata penduduk kampung Wuring berasal dari Bajo atau Bugis, dengan mata pencaharian para lelakinya hampir semuanya adalah nelayan. Di desa ini, saya bertemu dengan salah satu warga “atas”, Bapak Thomas Tega, yang berjualan alpukat dan hasil bumi di pelabuhan Wuring, bahkan sejak pelabuhan tersebut belum ada. Selain itu, saya bertemu juga dengan Ibu Rina dan Imam Masjid Tengah, yaitu Alidin Baco/Tabo.

Di hari terakhir di Maumere, sebelum ke Larantuka, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya dan rombongan mampir untuk melihat Aksi Bela Bumi yang diiniasis oleh Prater Hendrik. Aksi ini adalah aksi menanam pohon di mata air Wairkajo, yang diikuti oleh berbagai komunitas lintas agama. Di sana, kami bertemu langsung dengan kelompok-kelompok perwakilan dari gereja, kesusteran, kelompok masjid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere, dan masyarakat desa sekitar. Saya sendiri sempat bercakap-cakap dengan salah dua peserta yang terlibat. Salah satu dari mereka bernenek moyang dari Bajo dan beragama Islam. Sejak lahir, ia tinggal berdampingan dekat dengan gereja. Dan merasa tidak pernah merasa ada gejolak konflik apapun. Mereka tinggal bersama dengan damai.

Bergerak ke Flores Timur, kami tiba di Larantuka, bertemu dengan partner lokal kami di sana, “Opu” Silvester. Opu ini juga yang sebenarnya menghubungkan kami dengan teman-teman komunitas Kahe di Maumere. Beliau ini adalah penghubung yang sangat apik.

Di Flores Timur ini, pertama-tama kami pergi ke Adonara Timur. Di sana kami bertemu seorang penulis muda dan juga seorang pengajar, anggota dari Agupena juga, Pion Ratulolly. Tulisan-tulisan Pion telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pion banyak bercerita tentang sejarah dan kebudayaan desa Lamahala, satu desa muslim di Adonara Timur. Dari Pion juga, kami mendengar banyak cerita konflik tanah dan perang adat yang terjadi. Setelah bersama Pion hingga sore, kami bergerak menuju Desa Bele, masih di Adonara Timur. Di sini kami bertemu dengan kelompok Teater Nara, di bawah asuhan Opu Silvester. Anggota Teater Nara ini sangat beragam, dari mulai guru, ibu rumah tangga, hingga perempuan muda yang baru saja lulus dari kuliah di ibukota. Teater Nara sedang proses latihan mempersiapkan pentas mereka di Festival Cirebon pada bulan April.

Sepulangnya dari Adonara Timur, saya, Mbak Lusi, Qomar dan Opu berkunjung ke desa Birawan kampung Lewotobi. Kepala Desa Birawan masih sangat muda, dan beliau berhasil membuat Desa Birawan menjadi Desa Terbaik pada tahun 2015. Bersama kepala desa, ada satu tim yang selalu bekerja bersamanya, yaitu Sekretaris Desa, Manajer BUMDes, dan Kepala Dusun. Mereka sedang bekerja bersama dengan satu LSM untuk mengusahakan konservasi terumbu karang.

Di hari kelima perjalanan, kami menuju Solor, tepatnya di desa WuluBlolong. Kami berencana untuk menghadiri upacara adat Kebare Reka Wuung. Yaitu upacara adat buka puasa bagi para gadis. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan hasil bumi yang ditanam di musim hujan. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana adat berusaha menjaga kesinambungan kehidupan di desa tersebut. Di sini kami bertemu dan dijamu oleh keluarga Bapak Yakob. Dari kunjungan ini, saya mendapatkan cerita mengenai satu konflik yang masih terus berlangsung hingga saat ini, yaitu konflik antara Desa Lohayon dan Desa WuluBlolong ini. Sebelum kembali ke Larantuka, kami sempat menemui kepala dusun 4, dusun di mana terjadinya pembakaran rumah saat terjadinya konflik Lohayon. Kami bertemu juga dengan Bapak Yakobus Ola, ipar dari kepal dusun, dan anak dari Kepala Dusun 4.

Hari terakhir di Larantuka, saya dan Mbak Lusi sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan Bapak Bernad Tukan, seorang guru yang juga aktif dalam menggerakkan dan mencatat mengenai kebudayaan di Flores Timur. Setelah itu kami bertemu dengan rombongan lainnya di SMA Darius, bertemu dengan siswa-siswa yang aktif di teater. Teater SMA Darius sangat dikenal di Larantuka, mereka sering menjuarai perlombaan teater yang diselenggarakan di sana setiap tahunnya.

Malam terakhir di Larantuka, kami habiskan di Taman Kota Larantuka, bersama para tokoh muda penggiat kesenian dan kebudayaan di Larantuka; Kanis Soge, Frano Tukan, Maxi dari Agupena, Iwan, Felix (Pos Kupang), dan Bento. Kami membicarakan bagaimana kesenian bergerak di Larantuka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka sendiri di sana.

Dari seluruh perjalanan ini, saya sendiri punya satu catatan refleksi yang cukup dalam. Pertama, semangat belajar dan mencari referensi dari teman-teman komunitas di sana, sebut saja Komunitas Kahe, misalnya. Yang kedua, saya sangat terinspirasi bagaimana aspirasi anak muda untuk membuat satu gerakan tentang kesenian di Flores.