Membincangkan Madura: Tentang Tanah yang Ia Pijak

Oleh Renee Sari Wulan

I

Udara terasa sejuk berangin ketika aku menapak keluar mobil di pelataran vihara sore itu. Bergegas aku mengedarkan pandangan mencari tempat diskusi karena waktu sudah menunjukkan pukul 16 lewat. Aku terlambat satu jam dari jadwal diskusi yang kulihat di poster acara. Mobil yang mengantarku berhenti di sisi pendopo yang menjadi tempat perhelatan wayang kulit. Di barat pendopo kulihat ada bangunan kecil bertuliskan “Kantin”. Suara hati mendorongku bergerak ke sana, apalagi kulihat mas Cindil (Gunawan Maryanto), seorang teman dari Teater Garasi, melambai padaku dari kejauhan. Aku bergegas menghampirinya, kami bersalaman, bertukar sapa sejenak, lalu kudengar seruan di sisi kananku menyapaku, dia adalah Sita, aktor Teater Garasi juga. Kami berpelukan. Ini adalah perjumpaanku selanjutnya dengan mereka berdua setelah kami bertemu awal September yang lalu di acara Asian Dramaturg Network, yang berlokasi di Yogyakarta. Mas Cindil dan Sita mengarahkanku memasuki kantin yang rupanya menjadi tempat diskusi. Segera aku masuk dan mencari kursi kosong. Aku mendapatkan kursi di deretan belakang dan mulai menyimak diskusi. Pemantik diskusi yang tengah berbicara saat itu adalah Kyai M. Faizi dari Sumenep. Reflek aku menengok ke sisi kananku, kujumpai sederetan buku dipajang untuk dijual. Sambil telingaku berusaha terus menangkap pembicaraan kiai Faizi, mataku jelalatan ke deretan buku-buku itu. Di deretan paling dekat denganku kujumpai 3 buku kiai Faizi, dua buku tentang catatan perjalanan buah pengalaman di bis dan terminal-terminal yang ia kunjungi, satu buku tentang tafsir puisi. Segera kubeli dua buku catatan perjalanan tersebut, ditambah sebuah buku catatan keseharian karya Novie Chamelia. Kembali kusimak diskusi.

II

Dari hal-hal yang beliau utarakan dalam diskusi maupun dari buku karangan beliau yang sempat sekilas kubaca, aku langsung gandrung dengan kiai Faizi. Kiai yang mengasuh pondok pesantren Annuqayah tersebut menjelaskan dengan lugas persoalan tanah di Madura berikut penyikapan orang Madura sendiri atas tanah sebagai budaya maupun  aset ekonomi-politik. Ia menyatakan bahwa berbicara tentang  tanah adalah berbicara tentang perspektif. Perspektif kosmologi akan melihat tanah sebagai lokus, pertemuan hidup dan mati. Tanah memiliki karakter ekologi, manusia memiliki kekuatan untuk menafsir sebagai subjek.

Bagi orang Madura narasi tanah dibicarakan dalam tiga hal besar: tanah waris (tana sangkol), tradisi/ritual turun tanah atau berpijak pada tanah bagi bayi memasuki usia tujuh bulan (toron tana), dan ruwatan tanah/bumi memohon keselamatan-kesejahteraan hidup  dan keberhasilan panen sekaligus rasa syukur atas keberkahan berupa tanah yang subur (rokat tana atau rokat bume).

Pada perjalanan selanjutnya, terutama diperkuat dengan hadirnya jembatan Suramadu, yang awalnya dimaksudkan untuk mengangkat perekonomian di Madura, alhasil yang banyak terjadi adalah justru semakin banyaknya kelas menengah di Madura yang membelanjakan hartanya di luar Madura, dan hadirnya korporasi dengan ketamakan yang semakin kencang lajunya, melahap bumi Madura dengan segala isinya. Dampak lain dari jembatan Suramadu adalah semakin membanjirnya pendatang, namun perputaran uang masih lebih banyak terjadi di luar Madura.

Sebelum  jembatan Suramadu, pada masa Orba muncul kasus waduk Nipah, di mana masyarakat Madura berhadapan dengan negara dan korporasi sekaligus. Pembicara kedua, kiai Dardiri Zubairi (Sumenep), menyatakan bahwa ke depan masyarakat akan lebih banyak berhadapan dengan korporasi. Apalagi jenis bebatuan di Madura serupa dengan Kendeng. Maka ancaman serius bagi Madura jika pembongkaran batu yang dilakukan secara besar-besaran dibiarkan bebas terjadi tanpa ada pengaturan resmi dari pemerintah daerah, tahun 2030 Madura akan kering kerontang kehabisan air dan tanah.

Karenanya mitos perlu dirawat untuk untuk menjadi filter yang berkaitan dengan isu ekologi. Dalam buku Teologi Tanah disebutkan bahwa agama bisa dijadikan basis perlawanan untuk mempertahankan ruang dan tanah. Kapitalisme membutuhkan ruang, yang menyebabkan tanah masyarakat semakin minim.

Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh kiai Faizi: “bukit kapur itu sepertimu, yang diamanahkan untuk dirawat.”

Keluar dari ruang diskusi, aku merasa mendapat kabar gembira bahwa Madura pun bergeliat, bukan ruang hampa yang tak bergeming dengan kompleksitas dan dinamika manusia hari ini. Madura memiliki “orang-orang asyik” yang siap memperjuangkan tanah-bumi pijakannya, dengan gelora yang tinggi.

Lalu bagaimanakah tafsir tanah dan kompleksitas itu di ruang seni pertunjukan?

III

Sambil menunggu waktu pertunjukan, aku menyempatkan berkeliling mengitari kompleks vihara. Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) Pamekasan dibangun sekitar awal abad 20, merupakan satu dari tiga kelenteng di Madura. Patung-patung di sana merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dengan patung Budha dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di dataran Cina. Kompleks vihara ini memiliki keunikan karena memberi ruang juga bagi tempat peribadatan umat lain, yaitu pura dan musholla. Waktu di sana aku hanya melihat musholla saja yang terletak di samping kanan vihara. Keterbukaan semacam ini sungguh menyejukkan, tak heran jika mereka pun terbuka dengan penyelenggaraan Remo Teater Madura di dalam areal kompleks vihara tersebut. Semangat ini bertaut dengan semangat seniman dan pelaku seni budaya Madura yang bergerak mengawal, membaca, dan mengkritisi berbagai perkembangan di ruang sosial Madura, dengan segala kompleksitas dan dinamikanya dari waktu ke waktu.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, panitia mengarahkan kami menuju tanah lapang di luar area kompleks vihara, untuk melihat pertunjukan pertama. Ini adalah pertunjukan teater karya Wail Irsyad bertajuk Tabak. Ia mengambil gagasan dari tanaman tembakau yang akrab dengannya waktu ia kecil. Wail telah lama meninggalkan Madura, ia hijrah ke Bandung. Karena itu ia dipilih panitia Remo Teater  Madura untuk mementaskan karya hasil pembacaannya atas Madura kini sebagai warga diaspora Madura.

Aku bergegas menuju tanah lapang di luar pintu gerbang vihara. Diiringi gelap, nyaris tak ada cahaya di jalan, hanya lampu yang disiapkan beberapa untuk kebutuhan pementasan. Kulihat orang telah berkerumun mengelilingi suatu tempat agak ke tengah lapangan. Tanah yang kuinjak adalah tanah-tanah berbongkah, bukan dataran yang rata, sehingga aku harus berhati-hati melangkah  sekaligus bergegas agar masih mendapatkan posisi menonton yang nyaman. Objek yang dilihat penonton adalah seorang laki-laki yang tengah berproses dengan tubuhnya. Ia bergerak, menggeliat, membungkuk, kadang berjalan lalu tersungkur. Ia berjalan menghampiri bilah semacam anyaman bambu dengan ukuran hampir sama dengan tubuhnya. Ia angkat lalu ia seret bilah itu. Bergerak menuju vihara. Di belakangnya empat laki-laki menyorotkan cahaya ke arahnya, dan turut bergerak mengikutinya. Mereka berjalan memasuki kompleks vihara, berhenti di halaman samping pendopo. Empat laki-laki bergerak menghampiri laki-laki yang membawa bilah anyaman bambu. Mereka menarik laki-laki itu, mengangkat, lalu menghempaskannya lagi di atas bilahan kayu. Saling tarik dalam ketegangan. Lalu mereka membiarkan laki-laki itu berjalan sendiri memasuki ruang pameran. Di dalam ruangan, laki-laki tadi menghampiri gundukan tanah dengan tanaman tembakau di atasnya. Ia duduk bersila seperti bersemedi, lalu bergerak diiringi vokal seorang laki-laki di sisi kanannya. Kadang ia letakkan tanah dan tanaman itu di atas kepalanya sambil terus bergerak. Empat pemuda yang mengikutinya berdiri berjajar diagonal di depannya, sambil mengeluarkan suara. Formasi berubah, dengan suara tetap berbunyi. Kemudian lampu padam. Penonton berpindah ke ruang pertunjukan di samping ruang pameran.

Pertunjukan kedua bertajuk Tera’Ta’Adhamar, produksi Kikana Arts Production Sampang. Didukung oleh empat penari laki-laki dan dua penari perempuan. Mereka berkostum putih dan sesekali ada ungkapan monolog. Karya ini ingin berbagi gagasan tentang ‘keinginan’.

Pertunjukan ketiga adalah pertunjukan penutup. Karya terbaru Hari Ghulur sekembali ia mengikuti program American Dance Festival (ADF). Didukung enam penari (empat perempuan, dua laki-laki) memakai kostum hitam dengan potongan model berbeda. Sesuai dengan judulnya; White Stone (Batu Putih), Hari ingin berungkap tentang watak manusia Madura yang seperti batu putih, keras namun mudah dibentuk. Batu putih atau atu kapur sendiri merupakan hasil sumber daya alam di Madura, biasa digunakan masyarakat untuk mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

IV

Pada karya Wail saya mendapat pesan bahwa tanah yang kita pijak tak selamanya stabil. Ketidakstabilan yang membuat kita berputar, bersiasat, menelusuri. Demikian pula manusianya. Tak ada jaminan bahwa keduanya akan stabil selamanya. Di situlah pertarungan terjadi, karena manusia lebih menginginkan kestabilan. Sayangnya, kembali pada konteks tanah dan korporasi, kestabilan itu (baca: harmoni, keseimbangan) sering didapat dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, misalnya dengan mengikuti keinginan pemodal yang merugikan masyarakat. Ketika Wail meletakkan tanah dan tembakau di kepalanya, saya menangkap pesan bahwa di sisi lain, manusia rela menggantikan tanah, agar tembakau tetap tumbuh.

Hal ini bersambung dengan karya kedua yang bicara tentang harapan/keinginan. Akhir dari karya ini adalah ketika seorang laki-laki berdiri membawa cahaya. Agak berbeda dengan apa yang ingin disampaikan kreator, bahwa yang menjadi cahaya manusia dalam meraih keinginannya adalah ketulusan hati, bagi saya cahaya itu secara kuat melambangkan keinginan. Keinginanlah yang membuat manusia bergerak (hidup). Hal ini dinyatakan dengan gamblang dalam ungkapan menjelang akhir pertunjukan: “keinginanmu laksana cahaya, yang berpendar seperti kunang-kunang”. Tanah pun memiliki keinginan.

Dalam forum kreator yang dilakukan seusai pertunjukan, Rahman sebagai kreator mengungkapkan bahwa ia telah lama meninggalkan panggung kontemporer, lebih banyak melakukan pentas-pentas tari tradisi berdasaran pesanan. Namun, melihat karyanya malam itu, bagi saya istimewa karena di sana saya menjumpai tubuh-tubuh yang bergerak natural dan kuat. Hal ini terjadi pada penari laki-laki. Saya tidak melihat kegamangan mereka dalam bergerak, pilihan kosa-geraknya pun bagus. Mereka menginterpretasikan itu dengan tubuhnya, dan berhasil untuk tidak berjarak (antara tubuh yang bergerak dengan kosa-gerak yang memotivasinya). Tubuh mereka hadir sebagai proses pencarian yang benar-benar mereka lakukan.  Jika dianalogikan dengan kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: motivasi gerak adalah tongkat kayu; yang terjadi adalah bisa dua kemungkinan. Pertama tubuh yang bergerak agar bisa menjadi tongkat kayu (tubuh sedang menuju wujud tongkat kayu, namun belum sampai). Kedua, tubuh yang telah menjadi tongkat kayu dengan tafsir masing-masing (tubuh sudah sampai/menemukan wujud tongkat kayu itu sesuai penafsirannya). Kemungkinan pertama terjadi pada penari perempuan, kemungkinan kedua terjadi pada penari laki-laki.

Selain tubuh yang belum sampai, hal lain yang terjadi pada penari perempuan adalah masih terbebani karakter kosa-gerak tradisi.

Berikutnya adalah pertunjukan White Stone. Dalam catatan koreografinya, Hari Ghulur menyatakan bahwa karya ini hasil kerja studio yang ia jadikan laboratorium tari sekembali ia dari American Dance Festival dua bulan lalu. Kerja laboratorium ini mengujicobakan olah gerak dengan ‘emosi’ dan ‘impresi’. Selain itu ia menjadikan pencak silat Pamur, salah satu gaya pencak silat Madura dari Pamekasan, yang ia pelajari waktu SD, sebagai basis gerak dalam karya ini yang ia kombinasikan dengan teknik ‘Gaga’: sebuah teknik yang mendorong tubuh melakukan pencapaian maksimal atas gerak, dengan cara menghidupkan engine (energi, daya kekuatan/power, rasa/feel) tubuh. Menurut Hari, pencak silat merupakan basis pengendalian diri dan perlindungan bagi masyarakat Madura, karena pada umumnya mereka memiliki kultur merantau (ongga’). Spirit yang ia ambil di karya ini adalah menghindar, menyerang, dan bertahan.

White Stone atau batu putih dalam karya ini adalah tanda orang Madura dalam perspektif Hari, yang keras namun mudah dibentuk. Baginya, masyarakat Madura memiliki watak pekerja keras dan terbuka. Hal ini dipengaruhi oleh kultur kerja di persawahan yang gersang dan cara hidup kolektif.

Enam penari berkostum hitam dengan karakter masing-masing memperlihatkan ragam gerak silat yang berbaur dengan olah gerak lain, dihadirkan dengan intensitas yang kuat dan dipadu dengan tempo yang cepat. Gerakan ini mendominasi hampir seluruh koreografi. Dalam karya ini silat hadir dalam konteksnya sendiri sebagai bentuk ‘pertahanan dan serangan (perlindungan)’, maupun dalam konteks tari/gerak sebagai ekspresi di ruang koreografi kontemporer. Silat melebur dalam ekspresi tari dengan penggalan-penggalan atau potongan-potongan ragam geraknya yang menyatu dengan gerak lain yang mewujud sebagai ekspresi baru. Bentuk serangan dan kebertahanan diri hadir dalam ‘ruang yang lain’, mengarah pada ekspresi atau ungkapan tertentu yang berbeda dengan konteks silat di luar bingkai karya koreografi kontemporer. Di tangan Hari, kehadiran ragam gerak silat mulus berkelindan dengan elemen-elemen yang lain. Paduan itu tampil cantik. Hari berhasil melakukan transformasi tubuh pada penarinya.

Apabila Hari mengangkat batu putih sebagai bahan dasar koreografinya, saya melihat ini sebagai pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan ‘keras’ sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Madura. Terik matahari, batu putih, tanah merah, garam, kulit legam adalah lanskap hidup orang Madura. Sebagai bukan orang Madura, saya merasakan itu sebagai ketidaknyamanan, dan ketidaknyamanan itu saya rasakan pula di panggung Hari. Kini, ketika sebagian besar masyarakat/rakyat negeri ini harus berhadapan dengan kuasa modal dan keserakahan, bagaimana peninggalan leluhur seperti silat, mampu ‘berbicara’ atau berperan?

Dalam White Stone saya melihat silat terpenggal dalam ketakberdayaan. Silat sebagai bagian dari “tubuh Madura” turut terkoyak. Pertanyaannya, apakah perlu dilahirkan ‘silat’ baru?

V

Seluruh perhelatan ini merupakan bagian dari Remo Teater Madura, sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik yang tinggal di Madura maupun di luar Madura (diaspora). Festival ini adalah kerjasama antara sejumlah seniman Madura, Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dan Vihara Avalokitesvara, Pamekasa. Forum ini bertujuan membangun infrastruktur pengetahuan kesenian dengan menggali potensi lokal sebagai basis penciptaan seni, sekaligus membangun jaringan antar komunitas dan warga dalam rangka mewujudkan kerja-kerja kolektif dan organik.

Kami Takut Lapar (Remo Teater Madura)

Oleh Ambrosius Harto

 

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Di bawah temaram pendar lampu, sambil memegang gedek, dua pemuda yang cuma bercelana pendek itu menuding dan berteriak secara berbarengan. ”Yang kami takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang berambut ikal. ”Yang aku takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang bercaping.

Berkali-kali kalimat itu dilantangkan seakan mantra yang hendak menusuk dan mencuci otak penonton pertunjukan SAPAmengkang oleh UjiCoba Teater Sampang, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Di awal, kedua pelakon itu bersimpuh saling berhadapan di atas gedek bergetas dan berdebu. Lempung dan bubuk tanah itu mereka balurkan pada tubuh. Setelah itu, keduanya berkidung meski nadanya terdengar lirih dan menyayat. Seusai tembang, mereka mengambil alu dan menumbuk gedek itu dengan aksen sehingga tercipta lagu.

Saat tubrukan masih berdendang, sutradara Syamsul Arifin datang ke panggung dan berbicara tentang narasi pementasan. Rakyat ”Pulau Garam”, julukan Madura, berkeyakinan teguh bahwa tanah harus dipertahankan. Salah satunya tana sangkol atau tanah warisan yang mempertautkan kehidupan generasi sekarang dengan leluhur dan penerus.

Seperti apa tanggung jawab masyarakat Madura atas lahan yang dipercayakan, diwariskan, diberikan, didapat dari leluhur? Apakah dijaga, dirawat, dikembangkan atau dibagi, diwakafkan, dijual, diobral, ditelantarkan? Apa negosiasi, strategi, dan tradisi yang akan ditempuh? Bagaimana masa depan Madura terutama manusianya?

Mungkin saat ini atau mendatang, Madura seperti kedua pelakon itu di panggung. Ada yang sendiri menampi beras sampai jatuh dan terkulai tak sadarkan diri. Bisa juga yang satu memegang bilik, sedangkan lainnya terus menggedor. Atau keduanya memegang alu sambil berusaha menaikkan caping di ujung lesung, tetapi kemudian berebut menjatuhkannya atau menegakkannya. Saat tudung itu jatuh dan hanya satu pemegang lesung, yang lain tertunduk. Kalah.

Barangkali juga tergambar dalam adegan saat mereka berebut menguasai gedek sampai salah satu tersungkur. Yang menang bolak-balik menarik bilik seolah menunjukkan keberhakan untuk membudidayakan tanah. Yang jatuh terbangun dan sadar telah kehilangan yang berharga dan mencoba merebut kembali, tetapi terus terjungkal dan tak berdaya di hadapan kuasa.

”Sangkal”

SAPAmengkang merupakan pementasan kedua pada hari pertama Remo Teater Madura di lingkungan wihara di Dusun Candi, Desa Pogalan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, itu. Remo ini bukan nama tari khas Jawa Timur, melainkan tradisi arisan dan atau pertemuan antarwarga antarseniman untuk interaksi sosial budaya. Rangkaian acara berlangsung sampai dengan Minggu (30/9) lewat tengah malam.

Drama berjudul Sangkal oleh Lorong Art Pamekasan menjadi pementasan pertama Remo Teater Madura yang merupakan festival seni pertunjukan dan forum pertemuan antarseniman Madura. Sangkal mungkin hendak menceritakan kutukan akibat pelanggaran tradisi sehingga seorang perempuan terutama selalu gagal mendapat lelaki untuk dinikahi.

Gadis itu berdiri dan berteriak di mimbar tinggi. Di bawahnya empat lelaki bertelanjang dada komat-kamit dan seolah berebut ingin menggapai sang perempuan. Kemudian, rombongan datang dan menaruh hantaran lamaran. Si dara turun dan digandeng oleh seorang lelaki mendekati hantaran. Ia mengamati, mengambil sebagian persembahan itu, tetapi kemudian membuang semuanya dari meja. ”Aku tidak sudi,” katanya berteriak lantang lalu kembali ke balkon.

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Seusai pementasan, sutradara Eros Van Yasa menerangkan bahwa di Madura masih kuat adanya keyakinan terhadap pelanggaran tradisi. Sangkal akan membuat perempuan menjadi jomblo abadi alias sampai mati, misalnya, karena menolak lamaran pertama. Menampik permohonan, misalnya, beberapa saat kemudian membuatnya dilangkahi sang adik yang menikah terlebih dahulu.

 

Secara umum Remo Teater Madura hendak menarasikan tanah yang merupakan ikatan primordial rakyat dan sebagai sumber daya untuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Untuk itu, festival alternatif ini mengambil tema ”Berpijak pada Tanah”. Hajatan seni ini diwujudkan dalam lokakarya, pameran seni rupa, pertunjukan, dan forum kreator.

Pada hari Jumat ada lokakarya manajemen komunitas, klenengan Panti Budaya Komunitas Seni Wihara Avalokitesvara, pembukaan pameran seni rupa (foto, lukis, instalasi), pertunjukan teater, dan forum kreator. Pada Sabtu kembali diadakan lokakarya dan pementasan Wirasa oleh Sanggar Genta Pamekasan, Masdurius oleh Suvi Wahyudianto (Yogyakarta), dan Alake Lajaran oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.

Pada Minggu diadakan diskusi ”Berpihak pada Tanah” bersama Dardiri Zubairi dan M Faizi dari Sumenep, lalu kembali diadakan pementasan Tabak oleh M Wail Irsyad Bandung, Tera’ Ta’ Adhamar oleh Kikana Arts Production Sampang, dan White Stone oleh Sawung Dance Studio Surabaya, lalu ditutup dengan pergelaran wayang kulit Wahyu Katentreman oleh Ki Gilang Pandu Permana, dalang remaja asal Ngawi.

Tanah menjadi tema besar dan napas kegiatan festival. Manusia Madura menganggap penting tanah dalam kehidupan. Mereka punya narasi berbeda tentang tanah. Ada tana sangkol atau mekanisme warisan, toron tana (pijak tanah) untuk bayi tujuh bulan guna menandai secara simbolis dimulainya perjalanan hidup di dunia, juga rokat tana atau rokat bume (ruwat tanah atau ruwat bumi) di awal musim sebagai permohonan keselamatan dan keberkahan kepada bumi sehingga tanaman dan ternak tidak diserang hama, penyakit, dan hasil panen memuaskan.

Dalam konteks primordial itu, rakyat Madura diingatkan kembali tentang cara mereka memaknai tanah. Mereka diminta untuk menyeimbangkan jagad kene (jagat kecil) yang tampak dan jagad raja (jagat besar) yang astral demi keharmonisan kehidupan. Apa lagi yang dicari manusia selain hidup aman, damai, sejahtera, bahagia, tenteram jiwa raga?

Di sisi lain, tantangan baru dalam pertanahan muncul terutama setelah Madura dan Jawa disambung dengan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Struktur dengan bentang 5 kilometer di atas Selat Madura itu turut menghantar arus ekonomi, industri, akulturasi budaya, hingga paradigma baru penguasaan lahan, alih fungsi tanah, kapitalisasi, dan privatisasi. Tanah juga menjadi mandala perebutan atau konflik kepentingan dan kekuasaan.

 

Catatan

Sumber tulisan: KOMPAS, 30 September 2018

Foto oleh Joko Sucipto

Berpijak Pada Tanah, Berdiri Pada Gagasan

Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Remo Teater Madura: Forum Gagasan Antar Seniman Madura

Remo Teater Madura (RTM) adalah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik seniman yang tinggal dan bekerja di Madura maupun seniman yang tinggal dan bekerja di luar Madura (diaspora) guna membangun infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.

Remo adalah tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi warga. Selain itu tradisi ini dapat membangun kepedulian sosial antar warga di satu kampung dengan cara memberi sumbangan kepada warga lain yang kurang mampu atau untuk merencanakan agenda kepentingan bersama seperti membangun infrastruktur desa seperti jalan, tempat ibadah, dan lain-lain.

“Berpijak Pada Tanah” adalah tema utama festival seni pertunjukan ini. Tema ini dipilih sebagai satu usaha para seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’ dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang ditampilkan dalam festival.

Pemilihan ‘Tanah’ sebagai pijakan festival adalah sebuah cara membicarakan Madura hari ini. Salah satu pokok penting apabila membicarakan Madura hari ini terutama yang berkaitan dengan Madura sebagai etnis dan Madura sebagai wilayah atau teritori geografis adalah ‘Tanah’. Melalui titik ini, RTM bisa membicarakan Tanah dalam dua bingkai percakapan sekaligus, yaitu tanah sebagai ikatan primordial masyarakat Madura—bagaimana orang Madura memaknai tanah, dan bagaimana makna tanah sesungguhnya merujuk pada jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak) dan jagad raja (jagat besar/yang tak tampak) yang dijaga supaya seimbang dan harmonis—dan tanah sebagai sumber daya dan lahan dalam konteks sosial-politik dan ekonomi: perebutan dan penguasaan tanah, alih fungsi lahan, kapitalisasi dan privatisasi, dan lain-lain.

Remo Teater Madura “Berpijak Pada Tanah” akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan pada tanggal 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop. Detil agenda terlampir.

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Madura.

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut, kontak: +62 818-0405-6913 (Arsita Iswardhani)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menangkap Pesan Pertunjukan Teater ”Perempuan dan Kapal yang Hilang”

Kisah tentang Istri yang Ditinggal Suami

Aktor saat melakoni pertunjukan teater ”Perempuan dan Kapal yang hilang” di Pendapa Pratanu, Bangkalan, Sabtu malam (25/11). (BADRI STIAWAN/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Sabtu malam (25/11) di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bangkalan, biasa terdengar kebisingan knalpot kendaraan bermotor. Juga ramai pemuda nongkrong di trotoar. Di balik itu, di Pendapa Pratanu terpancar lampu berbagai warna di antara kain hitam.

Ratusan pasang mata di tempat itu tertuju pada satu sudut: pertunjukan teater. Penonton duduk bersila, duduk di kursi, dan ada pula yang berdiri. Tak banyak yang memalingkan wajah, pertanda tak ingin melewatkan hiburan gratis di Sabtu malam itu. Penonton sesekali tertawa melihat kelakuan aktor laki-laki dan perempuan.

Pertunjukan teater tersebut bertajuk ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” yang disutradarai R. Nike Dianita Febriyanti. Proses panjang dilalui untuk mengemas pertunjukan kurang lebih satu jam setengah itu. Tidak mudah. Pertunjukan yang mengangkat kondisi sosial masyarakat tersebut menuntut sutradara melakukan observasi.

Bukan sekadar imajinasi. Pertunjukan itu berkisah tentang perempuan yang ditinggal berlayar. ”Saya menggagas pertunjukan ini setelah pulang dari Jogjakarta. Setelah pulang itu, saya berpikiran harus membuat karya,” ucap perempuan muda kelahiran Bangkalan, 2 Februari 1993 tersebut usai pertunjukan.

Tiga bulan lalu Nike mendapat kesempatan melakukan residensi di Jogjakarta. Dia menimba ilmu kesenian di Teater Garasi. Di situlah dia mendapat bimbingan khusus. Mulai cara mengonsep, membuat naskah, menonton pertunjukan, hingga diskusi dengan para pelaku seni. ”Untuk membuka wawasan lebih jauh,” tuturnya.

Landasan utama Nike menyajikan pertunjukan yaitu penelitian tugas akhir kuliahnya. Dia mengangkat pertunjukan rakyat Soto Madura. Tema itu tidak jauh dari perantauan. Maka, dia berinisiatif merepresentasikan pertunjukan Soto Madura ke dalam seni teater kontemporer.

”Ada yang melandasi pertunjukan ini, yaitu studi saya tentang Soto Madura. Dalam naskah paten Soto Madura, meski tidak tertulis, tema dasarnya merantau. Ini kontemporer. Ada ruang realitas dan imajinatif. Jadi, tidak sepenuhnya realis dan tidak sepenuhnya absurd,” ungkap Nike.

Kebiasaan merantau orang Madura menjadi inspirasi bagi naskah teater yang dia angkat. Jenis perantauan yang diangkat yakni di lingkungan masyarakat Bangkalan tentang pelayaran. Tidak asal membuat naskah, dia melakukan riset.

”Mulai riset sekitar dua setengah bulan yang lalu. Dua minggu setelah menemukan ide ini, saya pergi bersama aktor ke Arosbaya. Ini bukan murni karya saya. Tapi, kolektif dari semua aktor mencipta,” ucap perempuan 24 tahun ini.

Kebiasaan masyarakat Madura dalam merantau menjadi ciri khas dan menurut dia menarik diangkat di panggung teater. Tekad Nike semakin bulat membuat pertunjukan teater atas dasar kegelisahannya sebagai perempuan. Di Bangkalan banyak kejadian istri ditinggal suami berlayar. Suami lama mengarungi lautan, terpisah jauh dengan daratan dan istri.

Sembari membuat naskah dari hasil riset, Nike mengajak aktor mengetahui aktivitas keluarga pelayaran secara langsung. ”Ini prosesnya bukan naskah sudah ada. Orang Madura banyak yang merantau. Di Bangkalan merantaunya banyak pelayaran,” ucap perempuan yang usai studi S-1 Sendratasik, Prodi Drama, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Saat riset, tidak jarang informan perempuan yang ditinggal suaminya berlayar tidak menyambut dengan ramah. Ada sekitar tujuh sumber yang dia wawancarai untuk bahan materi pertunjukan. Ada informan yang senang diwawancarai, ada juga yang cuek.

”Saya yang lebih banyak tanya. Jawabannya cuma iya dan tidak. Akhirnya tidak banyak data secara teks. Tantangannya itu,” kenang Nike.

Proses pra-pertunjukan sangat menarik baginya. Mulai dari riset, penyusunan naskah, keaktoran, hingga persiapan panggung pertunjukan. Tantangan lain yang dihadapi yakni aktor tidak hanya berdomisili di Bangkalan. Separo aktor yang dia pilih tinggal di Surabaya karena masih kuliah. Tidak jarang aktor berlatih secara terpisah.

”Saya suka prosesnya. Saya tidak begitu melihat hasil. Separo aktor saya berdomisili di Surabaya. Jadi sulit. Tidak bisa setiap hari latihan. Kadang saya sendiri yang ke Surabaya. Latihan terpisah,” urai anggota aktif sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan itu.

Hasil tidak akan menghianati usaha. Itulah yang didapatkan Nike dari apresiasi penonton. Remaja hingga lanjut usia larut menyimak pertunjukan yang disajikannya. Bahkan dosen Nike waktu masih kuliah juga ikut menyaksikan.

Penonton yang hadir dari kalangan pegiat seni, akademisi, mahasiswa/pelajar, muda-mudi, dan perwakilan sanggar teater dari sejumlah daerah. Di antaranya, Bangkalan, Malang, Semarang, Trenggalek, Jogjakarta, dan Sumenep.

”Saya kaget dengan penonton yang apresiatif. Banyak apresiasi dari orang-orang yang kompeten. Ada dosen saya yang lihat pamflet kemudian ingin datang,” ujarnya semringah.

Pembina KML Bangkalan M. Helmy Prasetya menyampaikan kebanggaannya kepada Nike yang berani menunjukkan kreativitas pada pertunjukan teater. Menurut dia, tidak semua perempuan muda bisa menyajikan pertunjukan kesenian dengan apresiasi penonton.

Sesepuh KML ini menerangkan, sajian pertunjukan teater dengan judul ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” sengaja dibuat berbeda. Namun, tetap tidak meninggalkan nilai estetika pertunjukan.

Dia mengaku, KML tidak akan berhenti berkarya. ”Kita tidak ingin berhenti di sini. Setidaknya terus berkembang. Bisa melaui kerja sama dengan teater di luar Bangkalan. Misalnya, studi keaktoran sebagai bekal kami,” katanya.

Pertunjukan yang mengangkat tema perempuan ditinggal suami berlayar itu cukup sukses disajikan Nike. Tema yang diangkat memang terjadi di Bangkalan sehingga menarik masyarakat umum untuk menonton. Diperkirakan, penonton yang datang antara 450 hingga 500 orang.

”Sangat pas tema ini diangkat. Kami memang mencoba menyajikan pertunjukan dengan estetika kreatif. Seperti penggunaan artistik dan efek lighting,” tuturnya.

Perwakilan Teater Garasi/Garasi Performance Institute Yudi Ahmad Judin juga memberikan apresiasi pada pertunjukan yang bisa menonjolkan isu lokal sebagai tema dasar itu. Menurut dia, pertunjukan ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” layak dikembangkan.

”Poin pentingnya, jangan melupakan kekayaan yang ada di daerah kita. Untuk mengawali sebuah penciptaan, ide kita angkat dari persoalan masyarakat setempat. Ini yang menjadi menarik,” ucapnya saat memberikan apresiasi usai pertunjukan di gedung Pendapa Pratanu Bangkalan.

Pertunjukan teater ini juga mendapat apresiasi dan masukan dari para pegiat seni dan para pakar. Di antaranya dosen. Ada juga penyampaian kekaguman penonton.

(mr/bad/hud/han/bas/JPR)

Sumber: https://www.jawapos.com/radarmadura/read/2017/11/29/30286/menangkap-pesan-pertunjukan-teater-perempuan-dan-kapal-yang-hilang

 

Pocèt dan Perjalanannya (Menyelesaikan Apa yang Sudah Saya Mulai)

Catatan pendek dari seseorang yang terlanjur jadi sutradara

oleh Fikril Akbar

13 mei 2017, awal saya bertemu dengan Teater Garasi dalam workshop penciptaan ‘Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia’. Pada hari-hari sebelum pertemuan ini berlangsung saya dengan Tocil Tanah Garam a.k.a Dwi Fitriyanto selaku ketua Sanggar Seni Makan Ati  bercakap ringan kemungkinan pertunjukan macam apa yang bisa kita lahirkan dari pertemuan tersebut, yang sebelumnya pihak sanggar memberikan saya tanggung jawab untuk mengurus masalah teater di sanggar ke depan yang ini juga menjadi alasan mempercayakan saya untuk mengikuti kegiatan (workshop) semacam ini. Hampir tidak banyak–kalau saya tidak mau mangatakannya tidak ada– teater yang bergerak mandiri di luar kampus di Pamekasan. Saya yang pernah berkecimpung di teater kampus tentu tahu selama ini kegiatan teater hanya ada dan tumbuh di dalam kampus walaupun gerakan untuk membangun publik teater dalam masyarakat terus berada dalam agenda mereka.

Saat workshop berlangsung, Keinginan untuk berkarya tidak terbendung. Bagaimana tidak, metodologi yang bersifat terbuka untuk semua jenis karya (teater, seni rupa, musik dan sastra) yang coba ditawarkan Teater Garasi membuka mata kami bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa kita upayakan untuk melahirkan karya. Mempunyai pijakan yang kuat dalam setiap berkarya adalah beberapa hal menarik yang saya dapat dari perjumpaan ini, kreator tidak melulu berkarya dengan ide-ide abstrak. Metodologi ini memberikan kesempatan kepada saya–sebagai manusia biasa yang tidak jenius– untuk bisa terus berkarya. Bahkan salah satu teman peserta workshop tidak berlebihan kiranya ketika dia bilang bahwa metodologi ini membuat kita enggan berpaling dari berkesenian.

Berbeda dengan workshop yang pernah dikuti saya dan teman-teman sanggar, kontak yang terus terjalin antara kami Sanggar Seni Makan dan Teater Garasi terus bergulir di luar yang kami bayangkan sebelum pertemuan awal. Saya kira pertemuan akan selesai setealah workshop usai atau berakhir di layar gawai—layar pamer media sosial.

Keinginan untuk menggarap pertunjukan saya coba untuk wujudkan dengan mengumpulkan sebagian teman-teman yang masih aktif berkesenian di dalam dan luar kampus. Pada pertemuan ini saya mencoba membagikan hasil workshop sebanyak yang saya ingat, isu-isu mulai dibicarakan. Dari isu besar sampai isu kecil; dari isu global sampai masalah pribadi mencoba dibicarakan untuk ditawarkan di panggung pertunjukan. Berbagai tanggapan muncul tentang workshop yang saya ikuti.

Aku kok gak denger kabar ya?”, “oh, gitu ya, metode semacam itu saya juga pernah dapat”, “patut dicoba nih peluang untuk menteaterkan masyarakat dan memasyrakatkan teater yang terus aku pikirkan memang”, “kalo yang begini-begini nih, dan untuk yang pemula-pemula aja, gak cukup nih waktunya untuk pertunjukan yang kalo memang ingin di wujudkan dalam waktu tiga atau empat bulan, mana risetnya lagi. riset tuh gak sebentar, gak sesederhana itu.

 Negosiasi terus kami lakukan, mulai dari menyusun jadwal yang bisa kita capai di setiap pertemuan sampai kemungkinan apa yang bisa kita wujudkan di panggung pertunjukan. Dari  pertemuan ini yang menjadi kegundahan saya adalah obrolan di akhir-akhir percakapan, di mana kita sibuk mengidentifikasi bentuk teater kita di Pamekasan dan bagaimana kaitannya paling tidak di wilayah Jawa Timur. Pertemuan ini berakhir kira-kira dengan kalimat dari seorang teman “kita harus mencari atau menemukan identitas; style/gaya pertunjukan kita”.

Pertemuan berikutnya kami mulai mengumpulkan keresahan; masalah pribadi, isu sosial, ekonomi, budaya, agama, modernitas, politik dan isu kultural, kemudian diurut dari isu besar dari tertangkapnya bupati karena korupsi sampai isu tidak penting seperti pernikahan dini. Dari daftar isu yang kami kumpulkan mengajak kami pada perjumpaan kedua dengan Teater Garasi. Kami dan pihak Teater Garasi mulai mendiskusikan isu yang kami kumpulkan yang pada waktu itu kami keliru menyebutnya dengan rancangan tema. Yang saya dengar di hari-hari kemudian bahwa hal ini juga menjadi perbincangan serius di meja mereka.

Isu keresahan yang kami kumpulkan semua mengenai batas runtuh, dinding Madura yang melemah; semua mengenai identitas Madura, diserangnya gagasan atas kemaduraan oleh nilai lain di luarnya. Ugoran Prasad waktu itu melihat isu-isu yang terkumpul seperti kasus Amerika yang ditawarkan Donald Trump yaitu Amerika yang seolah tunggal dan selesai, lupa kalau Amerika itu hybrid: disusun oleh yang banyak, dan nilai-nilainya terus tumbuh. Jika kita meminjam slogan kampanyenya adalah “Make Madura Great Again”, yang sebenarnya ini hampir jadi tema atau judul dari pertunjukan kami namun urung karena dirasa obrolan di panggung akan berat kalau kita bicara spesifik dan mendalam di setiap isunya; kemudian bagaimana mencari titik hubungannya lalu dari titik mana kita membahas semuanya sekali pukul-dan tentu saja isunya akan banyak direduksi. Pilihan yang lain adalah melihat sudut pandang, gagasan kemaduraan yang akan menjadi pusat percakapan. Dan yang terakhir adalah mengambil isu yang paling tidak penting.

Isu pernikahan dini adalah isu minor dalam percakapan kita, kenapa isu berada di urutan terakhir juga karena pengaruh hirarki pengetahuan kami yang artinya isu ini tidak banyak kami tahu. Pilihan mengambil isu pernikahan dini adalah karena posisi kita sebagai seniman memilih untuk memposisikan teater sebagai alat belajar atas isu yang seolah dibiarkan terjadi. Untuk kemudian mengajak masyarakat mengobrolkan kembali dan bersama-sama mencari solusi–kalau tidak alternatif —masalah pernikahan dini.

Dalam prosesnya tahapan kerja gali sumber dan improvisasi terus kami lakukan, walaupun improvisasi di awal kami kerap melakukannya di level meja. Dalam data-data yang kami himpun kami sampai pada titik dimana kami tidak tahu harus mencari data macam apalagi. Kami nyaris kalah. Kami kebingungan tidak berdaya dihadapan data-data itu, mereka seakan-akan berebutan ingin mengambil tempat dalam pertunjukan. Mereka tidak berhenti mengganggu saya setiap malam. Pada saat yang sama kami mulai berguguran, banyak teman mulai mengundurkan diri dari proses ini, mereka menyatakan sedikit kemungkinan untuk terus terlibat sampai hari pertunjukan. Dan sisanya sibuk dengan agenda besar mereka.

Pada kondisi seperti ini saya harus mencari teman yang bersedia untuk diajak mengobrol sekedar menumpahkan apa yang ada dikepala saya atau mengolah data yang kami temukan, Untuk mencoba menawarkan dan mengharap umpan balik sebagai upaya—paling tidak–lahirnya bayangan pertunjukan. Dan beruntunglah teman-teman Sivitas Kothèka selalu bersedia saya sibukkan.

Dalam upaya yang kesekian, pada hari menjelang kira-kira satu bulan sebelum pertunjukan, kami mulai mencari nama-nama baru sebagai pemenuhan dalam bayangan pertunjukan yang mulai muncul. Kami menlemparkan kepada mereka temuan-temuan kami dan mencoba menggali dari mereka pribadi terkait kasus fenomena dalam tema yang kita angkat. Dari merekalah sudut pandang baru ditemukan. Saya mulai membuat potongan-potongan naskah sebagai bahan latihan dan dibongkar pasang yang kemudian kita menyebutnya struktur pertunjukan. latihan berjalan. namun saya semakin gelisah ketika kabar bahwa bapak sedang sakit dan mengharuskan saya untuk pergi ke ujung pulau seberang untuk merawatnya. Selama seminggu saya dan teman-teman aktor hanya terlibat dalam kontak virtual selama latihan.

Selama itu pula saya terus gelisah karena target dalam latihan belum tercapai. Dan kabar bahwa paman saya meninggal dunia saat merawat bapak membuat saya berpikir dan bertanya apakah ada kemungkinan untuk menunda peristiwa semacam itu, kenapa harus hari ini ketika saya tidak bisa berjumpa untuk yang terakhir. Saya kecewa dia pulang saat saya tidak ada di dekatnya. Dua hari setelah kabar itu, Saya behasil memenuhi harapan bapak untuk menemaninya pulang ke Madura, saya tidak tahu kalau yang bapak maksud pulang adalah pulang yang sebenar-benarnya. Bapak menyusul paman. Dan sekali lagi saya tidak berdaya menghadapi waktu. Pada saat seperti ini saya seperti dituntut untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya tidak menyangka pertunjukan ini akan lahir diantara dua kematian.

Pocèt adalah sebutan bahasa Madura untuk buah-buahan yang baru lahir (belum layak dikonsumsi). Dan itu merujuk pada hubungannya dengan fenomena pernikahan dini dan bagaimana proses pertunjukan ini terjadi. Judul ini muncul pada saat hari pertunjukan sudah menghitung jari ketika kami semua gelisah karena banyak ide-ide di awal pertemuan belum menemukan artikulasi yang tepat dalam panggung pertunjukan. Bongkar pasang struktur pertunjukan terus dilakukan. Mendatangkan teman-teman pelaku teater kampus dalam latihan pun kami lakukan sampai sebelum hari pertunjukan sebagai upaya untuk koreksi sehingga kami pun semakin yakin dengan apa yang coba diwujudkan.

Pertunjukan ini lahir dalam dua kali pertunjukan. Dalam susana pernikahan di kampung (Sanggar Seni Makan Ati), Pocèt untuk pertama kali bertemu dengan penontonnya, dengan lingkungan di mana dia dierami. Dan pada pertunjukan kedua dia lahir kembali sebagai Pocèt yang lain dalam suasana ludruk di aula pertunjukan Vihara Avalokitesvhara, bertemu dengan umat lain dari agama yang berbeda.

Saya merasa Pocèt–sebagai pertunjukan—masih harus diolah karena dia tidak akan berhenti tumbuh dalam ruang kreatif kami sebagai sebuah hasil kerja kolektif. Dia masih meminta pertanggungjawaban untuk terus kami asuh. Entah dia akan lahir dalam ruang karya yang seperti apa lagi, saya ragu menjawabnya. Yang jelas beberapa diantara kami berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi dalam workshop yang berbeda mulai berencana mewujudkannya dalam pertunjukan musik. Apakah itu Pocèt yang lain, saya belum tahu. Namun dari peristiwa ini sepertinya akan mulai lahir pertunjukan-pertunjukan lain—semoga saya tidak salah mengira-ngira. Yang apapun bentuknya nanti saya tidak sabar untuk mengunjunginya.

 

Fikril Akbar adalah anggota Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan dan sutradara pertunjukan Pocèt (#SeriPentasAntarRagam).

Pengalaman Pertemuan Masyarakat Lumpur dengan Teater Garasi

Oleh: R. Nike Dianita Febriyanti

Pada awal Februari 2017 Komunitas Masyarakat Lumpur kedatangan dua orang pegiat teater. Erythrina Baskoro dan Shohifur Ridho’i bertandang ke sanggar kami atas nama Teater Garasi. Jujur saja sebelumnya saya tidak tahu Teater Garasi, tapi setelah kehadiran keduanya saya jadi penasaran, secara tidak langsung jadi sering cari tahu kegiatan-kegiatan Teater Garasi. Pada awal pertemuan saya pribadi tidak berpikir apa-apa, saya hanya berfikir bahwa setiap kali berjumpa dengan orang baru maka bertambahlah relasi pertemanan saya, itu saja.

Perjumpaan kami dengan Teater Garasi di bulan Februari bukanlah sebuah perjumpaan yang sekadar kunjungan. Mengapa demikian? Karena di bulan April Teater Garasi yang kali ini diwakili Gunawan Maryanto kembali singgah di Sanggar kami membincangkan banyak hal, pengetahuan mengenai dunia kesenian, baik tentang teater maupun di luar teater.

Komunitas Masyarakat Lumpur benar-benar merasakan relasi yang cukup berpengaruh ketika Erythrina Baskoro datang menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2 yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur di Gedung Pratanu, Pendopo II Bangkalan.

Tidak berhenti di sini, di bulan berikutnya kami menerima undangan Workshop Penciptaan yang bertajuk Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia. Workshop ini berlangsung selama lima hari pada tanggal 13-17 Mei 2017, diselenggarakan oleh Teater Garasi bekerjasama dengan komunitas-komunitas teater dan sastra di Kabupaten Sampang, tempat diselenggarakannya workshop tersebut. Jumlah peserta kala itu kurang lebih 20 orang, perwakilan dari empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Workshop Penciptaan ini cukup memberi referensi yang berharga dan berpengaruh bagi keberlangsungan teater di Madura. Metode penciptaan yang ditawarkan oleh Teater Garasi membuka rongga pengetahuan dari perspektif lain bahwa sebuah karya sebaiknya diciptakan dengan tahapan dan target yang jelas.

Pasca Workshop Penciptaan di Sampang, saya berpikir bahwa waktu pertemuan dengan teman-teman dari Teater Garasi akan terbatas. Kala itu saya yang masih lugu tidak dapat membaca rencana apa yang sedang Teater Garasi ingin bangun di Madura, yang terbesit dalam pikir saya mengapa Garasi begitu baik membagi banyak pengetahuan dan perjalanan kelompoknya dalam bekesenian dengan begitu ramah dan terbuka. Di luar presepsi itu, saya ingat betul saat bulan Ramadhan tanggal 5 di bulan Juni 2017, saya mendapati handphone saya berbunyi tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Sebuah pesan dari Mbak Ery, begini kalimatnya “Selamat pagi Nike, apa kabar? Ini Ery-Teater Garasi, Gimana sudah ngobrol sama Mas Helmy?” Membaca pesan itu saya sedikit terkejut, bingung, dan bertanya-tanya. Tidak lama setelah itu Mbak Ery menelepon saya. Sebuah tawaran untuk saya mengikuti kegiatan residensi di Teater Garasi bersama satu teman dari Sampang dan dua orang dari Flores. Saya gemetar, bahagia, susah, bimbang menghantui kala itu. Ingin sekali rasanya langsung menerima kesempatan langka itu, akan tetapi tawaran durasi kegiatan yang selama enam minggulah yang menjadi pertimbangan saya. Sangat berat sekali sebab harus meninggalkan pekerjaan dan terutama izin kepada orang tua yang masih membuat diri saya sendiri merasa ragu.

Berjalannya waktu, semua yang terasa ragu akhirnya dapat terlewati. Izin orang tua sudah dikantongi, untuk urusan pekerjaan juga sudah mendapatkan izin. Sampailah pada tanggal 10 Juni 2017 saya berangkat dengan teman dari Sampang, Syamsul Arifin namanya.

Selama enam minggu di Jogja dalam rangka residensi, begitu banyak hal berharga yang  saya dapatkan. Mulai dari bertambahnya teman, mengenali banyak tempat di Jogja yang berkaitan dengan seni maupun tidak, menonton dan menghadiri acara-acara kesenian yang sedang berlangsung di Jogja. Sungguh, semuanya adalah hal yang sangat berharga bagi pengalaman hidup saya dan satu hal lagi yang membuat saya tak berhenti merasa beruntung berada di Jogja, tak hanya mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, saya juga belajar banyak hal mengenai Jogja dan Teater Garasi. Tentang seniman, manajemen, dan juga karya-karya Teater Garasi yang sangat menginspirasi dalam berkesenian di tempat saya tinggal, Bangkalan.

Setelah seluruh kegiatan Residensi selesai keesokan harinya saya diajak untuk membahas banyak hal. Dari beberapa hal yang paling ditekankan adalah tentang apa yang akan saya lakukan setelah kembali ke komunitas atau ke kampung halaman. Tentu saya akan membuat sebuah karya pertunjukan, karena memang itu yang terbersit di benak  kala itu. Saya juga diminta untuk menyampaikan beberapa ide awal yang sedang ingin saya rancang, atau apa yang mungkin saya gelisahkan saat ini. Saya menyampaikan dua poin yang mengganggu pikiran saya yaitu tentang perempuan (istri) pelayaran dan pertunjukan Soto Madura. Kedua kegelisahan ini yang saya sampaikan di hadapan rekan-rekan Teater Garasi, saya sedang gelisah dengan pertunjukan Soto Madura yang sebelumnya pernah saya teliti sebagai objek skripsi, menurut saya penelitian itu masih belum tuntas dan ingin rasanya saya juga mencoba untuk lebih mendalami lagi seperti apa pertunjukan Soto Madura itu, dengan terjun langsung ke dalam pertunjukannya.

Setibanya di Bangkalan, saya seperti baru pulang umroh. Teman-teman meminta saya menceritakan apa saja kisah-kisah dan pengalaman yang didapat selama di Jogja, bagaimana kehidupan di sana, betah atau tidak hidup di Jogja dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari setiap teman dan keluarga yang saya temui, situasi ini berlangsung selama satu minggu. Saya tidak pernah lelah bercerita pengalaman kepada teman-teman terutama kepada teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur. Bagaimana kesenian di Jogja begitu ramai dan hidup, sekecil apa pun sebuah karya di Jogja selalu dihargai. Diskusi-diskusi yang berlangsung di Jogja sungguh sangat ramah. Demikian saya bercerita dengan girang, sampai-sampai rasanya ingin kembali ke Jogja lagi.

Pada tanggal 4 September 2017 menjadi awal langkah saya memulai proses, saya mengajak beberapa calon aktor yang berdomisili Bangkalan untuk bertemu dan menawarkan konsep pertunjukan yang akan dilalui dalam proses secara bersama. Tanggal 6 September 2017 saya kembali menjumpai aktor yang kebetulan sedang tinggal di Surabaya. Tidak mudah mengambil keputusan ini, mengajak proses aktor-aktor yang memiliki jarak cukup jauh dengan tempat proses, akan tetapi segala risiko sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Berbekal dari pengalaman yang didapat selama workshop di Sampang dan Residensi di Jogja saya memakai pendekatan yang biasanya digunakan Teater Garasi dalam proses penciptaan karyanya dengan tahapan menemukan pertanyaan, riset/observasi, improvisasi, komposisi, kodifikasi, presentasi. Kami mulai mengaplikasikan tahapan yang digunakan oleh Teater Garasi dalam penciptaan karya kami di Bangkalan. Selama satu bulan kami melakukan tahapan latihan pra conditioning sambil lalu memasuki tahapan pertama yaitu membincangkan pertanyaan. Setelah satu bulan berlalu kami mulai melakukan riset (turun ke lapangan) bertemu dan berkomunikasi langsung dengan perempuan (istri) seorang pelayaran. Dari hasil riset, selanjutnya kami mendiskusikan bersama hasil temuan, mengembangkan pertanyaan dan membincangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dari hasil observasi yang pertama, kami mencoba melakukan improvisasi. Saat sampai pada tahapan ini, tim kekaryaan kami mendapat tawaran untuk pentas di Gresik Art Festival. Tawaran ini kami diskusikan dan hasilnya telah kami sepakati untuk mengambil kesempatan ini sebagai langkah work in progress. Oleh karena itu, kami mencoba mengolah data hasil observasi dan mempercepat tahapan latihan sebagai kebutuhan pertunjukan di Gresik Art Festival. Kami berhasil mengemas pertunjukan kecil yang diberi judul “Suara Perempuan” dalam durasi kurang lebih 25 menit.

Setelah pertunjukan “Suara Perempuan” dipentaskan, banyak evaluasi dan masukan yang membangun sebagai landasan untuk melanjutkan proses karya ini. Saya dengan tim kembali ke tahapan proses yang sudah tersusun sebelumnya. Kami melakukan tahap improvisasi dengan tambahan data. Selanjutnya kami melakukan kodifikasi sampai pada tahap komposisi. Menjalankan latihan sampai pada tahap ini benar-benar tidak mudah, mengingat domisili aktor yang tidak hanya berasal dari Bangkalan, melainkan juga di Surabaya. Terkadang, saya sebagai sutradara harus menjalankan latihan secara terpisah. Beberapa hari di Surabaya, beberapa hari lagi di Bangkalan. Proses ini melelahkan tapi juga menyenangkan. Saya pribadi menjadi lebih tertantang dengan adanya situasi ini, belajar manajemen waktu agar dapat efisien menjalankan target. Jatuh bangun sering terjadi, di tengah proses pernah rasanya ingin menyerah karena secara kerja kolektif kami sebagai komunitas saya merasa masih sangatlah kurang. Dari situ pula kemudian saya mempelajari bahwa kesenian merupakan kerja kolektif itu benar harus disadari dan penerapannya dalam bentuk kesadaran individu. Komunitas Masyarakat Lumpur harus lebih banyak belajar hal yang seharusnya mendasar ini.

Detik-detik menjelang pertunjukan, segala persiapan menjadi semakin gencar dilakukan. Persiapan panggung, properti, musik, kostum, publikasi, dan lain-lain. Tidak lupa kami mendiskusikan kembali terkait dengan judul pertunjukan yang akhirnya kami sepakati untuk merubah judul menjadi Perempuan dan Kapal yang Hilang. Seluruh tim bertanggungjawab pada tugasnya masing-masing sampai pada hari pertunjukan berlangsung. Proses panjang ini tentu saja tidak lepas dari bimbingan Teater Garasi, dengan ketersediaannya selalu memantau progres apa saja yang telah kami capai. Dengan setia mendampingi saya dan teman-teman untuk melalui kesulitan-kesulitan dalam langkah kami mewujudkan pertunjukan ini.

Dan tibalah hari pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, sepenuhnya saya percaya kepada seluruh tim bahwa mereka akan menjalankan tugasnya masing-masing. Meskipun masih terdapat kendala di sana sini terutama pada teknis saat pertunjukan berlangsung, semua itu terasa ringan dengan kehadiran penonton yang mencapai kurang lebih 500 orang. Sungguh, pertunjukan ini sepenuhnya telah kami persembahkan untuk seluruh penonton khususnya warga Bangkalan. Di antara sekian banyak penonton mereka hadir dengan tujuan masing-masing. Seluruh elemen berkumpul dan dengan seksama telah turut menjadi bagian dari pertunjukan Perempuan dan Kapal Yang Hilang ini. Sebagai sutradara saya tidak menyangka bahwa penonton akan memenuhi Pendopo Pratanu. Teater umum di Bangkalan memang sepi, Teater di Bangkalan tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah. Oleh karena itu beberapa penonton menyampaikan rasa haus dalam menonton pertunjukan teater semacam ini. Mereka berharap kepada Komunitas Masyarakat Lumpur untuk konsisten menggelar pertunjukan teater yang dapat di konsumsi oleh masyarakat umum.

Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya justru merasa takut kehilangan kesempatan untuk bisa melakukan proses besar seperti ini lagi. Proses kekaryaan ini sungguh sangat berharga, karena dengan proses ini saya pribadi banyak belajar tentang hal-hal yang baru. Misalnya, bagaimana mengatur waktu latihan dengan kepentingan masing-masing individu yang beragam. Bagaimana menggagas sebuah karya secara kolektif, Bagaimana karya ini dapat berkomunikasi dengan baik kepada penonton. Sungguh tidak mudah, tapi apa pun hasilnya yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kami telah berhasil melalui proses sampai pada tahap pertunjukan, bukan perkara sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan. Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya tetap berharap akan terus memiliki kesempatan berproses yang lebih baik lagi.

Pertemuan Komunitas Masyarakat Lumpur dan Teater Garasi juga memberi banyak pelajaran berharga kepada kami sebagai komunitas terutama dalam pengelolaan kelompok. Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang telah memberi motivasi kepada anggota komunitas lainnya, untuk kembali melanjutkan produksi teater di tahun 2018.

 

R. Nike Dianita Febriyanti adalah anggota Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan sutradara Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, satu karya yang menjadi bagian dari #SeriPentasAntarRagam (2017).

Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat [Bagian 2]

Spasialitas Pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Judul pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan, semacam metafora bagi posisi perempuan Madura yang ditinggal oleh sang suami yang pergi bekerja di kapal pesiar, namun akhirnya sang suami menikah dengan perempuan lain. Isu perempuan ini berdasarkan  spasialitas  lanskap sosial masyarakat Madura kekiniaan, dengan segala lanskap ekonomi kekiniaan dan juga gambaran akan peristiwa dari pengalaman personal. Judul pertunjukkan jelas menunjukan bahwa isu ‘kapal yang hilang’ menjadi semacam metafora bagi para perempuan yang kehilangan suaminya karena berlayar dan kemudian menikah dengan perempuan lain.

Teks pada pertunjukkan ini banyak dimuati monolog yang menjadi semacam refleksi dari sebuah gambaran personal dari kegelisahan kaum perempuan yang mengalami pengalaman negatif dalam menghadapi situasi para lelakinya yang pergi berlayar. Beberapa spasial dari pengalaman negatif juga diwujudkan dalam beberapa koreografi, seperti pada adegan dalam dua komposisi yang kontras di mana tiga perempuan masuk ke panggung dalam ekspresi wajah yang sedih, sementara di sudut panggung terdapat dua objek kerangkeng yang masing-masing berisikan seorang lelaki di dalam kerangkeng sedang berjoget dengan musik dangdut. Kontras ini untuk menunjukan dua sisi yang berbeda dari posisi laki-laki dan perempuan, di mana lanskap sosial dari gaya hidup para lelaki Madura yang suka berada di tempat hiburan dangdut dan lanskap posisi perempuan yang berada dalam ruang domestik yang tertindas. Permainan kontras atau dua peristiwa yang pararel di atas panggung dalam beberapa adegan yang lain dalam “Perempuan dan Kapal yang Hilang” ini memberikan kontruksi realisme tersendiri kepada para penonton, tentang sebuah kompleksitas dan banyaknya lapisan sebuah persoalan yang berlangsung dari sebuah peristiwa. Model-model kontras dan pararel ini, selain sebagai sebuah kebutuhan akan bentuk, juga memberikan banyak lapisan dalam memaknai realitas yang berlangsung.

Secara umum, koreografi didasarkan pada ruang spasial dari ‘situasi dalam’ kondisi personal kaum perempuan Madura yang terekspresikan secara simbolik maupun abstrak, selain ‘situasi dalam’ juga terwujud dalam bentuk monolog. Beberapa penggunaan topeng dalam pertunjukkan juga usaha menggunakan landskap artefak seni dalam kultur masyarakat Madura, sedemikian hingga pertunjukkan ini juga berusaha memberikan gambaran keragaman artefak tradisi—penggunaan topeng dan tari—dan  budaya subkultur kekiniaan seperti penggunaan kultur dangdut pada adegan awal. Penggunaan topeng adalah metafora dari ekspresi-ekspresi ‘situasi dalam’ dari pengalaman-pengalaman negatif yang tak terbahasakan. Selain penggunaan topeng juga menjadi permainan dan koreografi tersendiri untuk memperkaya pertunjukkan. Demikian pula dengan penggunaan layar bergerak yang mengikuti tokoh perempuan, menjadi semacam  metafora dunia yang melekat bagi sang tokoh, di mana secara strategis layar tersebut juga dimanfaatkan sebagai bloking untuk menghadirkan tokoh antagonis yang seketika bisa muncul di balik layar tersebut. Layar yang bergerak mengikuti tokoh wanita, menjadi semacam dua dunia yang melekat pada tokoh perempuan, atau semacam protagonis yang dibayang-bayangi tokoh antagonis yang muncul di balik layar tersebut.

Pertunjukkan ini juga diselingi oleh jeda berupa pertunjukkan ludruk ala Madura, “Soto Madura”. Pertunjukan Soto Madura ini lebih menghibur dan komunikatif karena sifatnya yang komedi khas Madura. Namun sayangnya, muatan dalam “Soto Madura” ini tidak memiliki korelasi dengan isu perempuan yang diangkat dalam pertunjukkan, atau seakan-akan sebuah jeda yang terpisah secara tematik dari pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”. Idealnya, meski “Soto Madura” terpisah sebagai sebuah sekuen peritiwa dalam “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, Ia justru memiliki kekuatan sebagai sebuah tema yang lebih reflektif, baik secara isu maupun secara pertunjukkan itu sendiri, sehingga sebagai ‘jeda’ pertunjukkan, “Soto Madura” masih memiliki korelasi yang organik sebagai sebuah keseluruhan dan kepadatan pada pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”.

Isu perempuan Madura yang diangkat dalam pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang”, memberikan sebuah etnografi kehadiran tentang masyarakat  Madura kekiniaan, berdasarkan isu perempuan yang mengalami kepergiaan sang suami pergi berlayar. Pengalaman performatif dari ‘situasi dalam’ melalui bentuk gestural dan juga teks pada monolog dari situasi kaum perempuan yang ditinggalkan oleh sang suami yang bekerja di kapal pesiar. Beberapa isu yang diangkat dalam pertunjukkan ini masih lemah, karena kurangnya data riset atau kompleksitas masalah. Keberadaann data masih dianggap sebagai sebuah bahan untuk membentuk naratif pada pertunjukkan, sementara data itu sendiri pada dasarnya adalah ‘musuh alamiah dari narasi’ (Lev Manovich). Dalam kerangka naratif selalu ada posisi antagonis dan protagonis, ada awal dan akhir, ada konflik dan lain sebagainya, sementara pada data itu sendiri pada dasarnya tidak mengenal kaidah protagonis dan antagonis, awal dan akhir, dan seterusnya. Pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” yang sebenarnya memuat banyak data, sebenarnya bisa jadi hanya menghadirkan data di atas pertunjukkan tanpa memiliki pretensi akan bentuk atau naratif, yang sebenarnya bisa memperkaya kompleksitas peristiwa di atas panggung, dan juga sembari memberikan sebuah persepsi baru tentang teater dan juga isu perempuan itu sendiri.

“Pocet”, Kemungkinan sebuah ‘Para Teater’ dari Sanggar Seni Makan Ati, Pamekasan

Istilah ‘para teater’ bisa dibayangkan sebagai sebuah usaha pertunjukkan yang mengambil sebuah anasir dari peristiwa yang berlangsung dalam kultur masyarakat, sehingga sebenarnya praktik dari model teater ini adalah memanfaatkan atau berorganik dengan sebuah momentum yang berlangsung dalam sebuah masyarakat tertentu. “Pocet” mengambil sebuah tradisi pernikahan yang biasa diadakan di dalam kultur masyarakat Madura dan Indonesia pada umumnya, sebagai sebuah setting peristiwa dan juga setting panggung pertunjukkannya. Kerangka ini cukup menarik jika dibaca dalam kerangka yang lebih luas di mana pertunjukkan semacam memanfaatkan peristiwa yang ada di masyarakat itu sendiri, sehingga membawa kemungkinan baru dalam pertunjukkan, atau semacam teater yang memanfaatkan seni pertunjukkan yang ada sebelumnya.  Para teater bisa dibayangkan juga sebagai sebuah praktik yang bukan lagi teater, namun masih dalam ranah pertunjukkan, ketika sebuah pertunjukkan tidak mengandaikan adanya sebuah penonton dan bukan penonton. Seperti pada pertunjukkan “Pocet” yang memanfaatkan tradisi pernikahan, bisa dikemas sebagai sebuah pertunjukkan yang benar-benar sebuah tradisi pernikahan, atau sebuah performatif pernikahan dimana penonton setting pertunjukkan juga bisa membawa penonton pada suasana dan tindakan acara pernikahan yang lebih ‘real’.

Tema “Pocet” sendiri adalah isu akan sebuah pernikahan dini yang dialami para perempuan di Madura. Isu perempuan ini adalah bagaimana pandangan atau kultur di Madura yang masih sangat domestik, sehingga sejak usia dini para perempuan sudah dinikahkan, selain juga pada narasi digambarkan bagaimana para anak-anak kecil di Madura yang harus kehilangan masa bermainnya karena harus bekerja. Siasat menggunakan acara pernikahan cukup menarik, dan juga lanskap pertunjukkan yang berada di halaman rumah warga, sehingga pertunjukkan ini pada setting awalnya juga memiliki kesan sebuah acara pernikahan yang ‘real’. Sebelum pertunjukkan para penonton juga coba didorong pada sebuah proses pernikahan, di mana para mempelai hadir di pelaminan pernikahan. Daya tarik pertunjukkan ini adalah siasat menggunakan kultur acara pernikahan yang banyak berlangsung di warga, serta landskap pertunjukkan yang berlangsung di rumah warga. Secara naratif “Pocet” menggambarkan masa kecil para anak-anak yang hilang, melalui sebuah adegan yang metaforis melalui beberapa objek boneka, dan permainan komedi.

Pertunjukkan “Pocet” adalah pertunjukkan yang cair dengan beberapa adegan yang komedis, selain situs pertunjukkan yang juga memanfaatkan rumah warga. Beberapa ‘situasi dalam’ dari pengalaman personal diwujudkan melalui monolog dan beberapa koreografi, khususnya terkait dengan pengalaman negatif tentang para anak di Madura. Kurangnya basis riset pada pertunjukkan ini menunjukkan masih dominannya tradisi naratif ketimbang kehadiran data atau persepsi baru terhadap isu yang diangkat. Satu hal penting dari pertunjukkan ini adalah, di mana paska pertunjukkan para penonton diajak untuk memperbincangkan isu yang diangkat dalam pertunjukkan, sehingga membawa refleksi baru bahwa seni bukan lagi perihal makna yang abstrak tapi membawa penonton kepada pengalaman tentang keseharian mereka sendiri.

Pertunjukkan “Pocet” yang kedua dimainkan di Vihara di Pamekasan. Peristiwa ini menjadi cukup menarik, karena usaha-usaha untuk membangun sebuah lintas identitas dalam kultur masyarakat Madura.

“Mimpi di Atas Pagi”, Uji Coba Teater, Sampang

Pertunjukkan “Mimpi di Atas Pagi” adalah pertunjukkan yang sederhana yang dimainkan oleh dua aktor. Ruang pertunjukkan juga ruang yang sederhana dan bisa dimainkan di mana saja. Tingkat spasialitas pada pertunjukkan ini sebenarnya lebih terletak pada keberadaan objek-objek yang hadir dan melingkupi pertunjukkan. Namun sayang, “Mimpi di Atas Pagi” masih menempatkan keberadaan objek-objek yang masih tergantikan seperti yang hadirkan dalam pertunjukkan tersebut seperti; keranjang ikan, sapu, piring seng, dan sendok sehingga mengandaikan sebuah objek yang metaforis dan simbolis. Sementara pada perminan telepon yang menggunakan kaleng dan benang adalah pertunjukkan yang menarik dalam mempraktikan miss komunikasi dalam medium manual di era digital. Pilihan-pilihan terhadap objek seperti keranjang ikan, sapu, piring seng, sendok dan lain sebagainya patut dipertanyakan rujukan spasialitasnya, atau objek tersebut sekadar sebuah permainan yang bisa dilepaskan dari spasialitas ruang atau teks yang melingkupinya.

Isu pertunjukkan “Mimpi di Atas Pagi” berangkat dari fenomena yang ada di media sosial, di mana teks yang dihasilkan berasal dari akun atau teks yang ada di media sosial tersebut. Namun teks yang berasal dari logika medium pada pertunjukkan ini justru tidak menghadirkan keberadaan objek dari medium tersebut.  Antara isu dan bentuk dalam pertunjukkan ini bagaikan teks yang melintas di antara beberapa koreografi. Teks seakan melintas begitu saja, di atas  gesture, sebagaimana ingin menguji sejauh mana otonomi teks dalam tubuh.

Permainan gesture tubuh cukup menarik dalam pertunjukkan ini, bagaikan sebuah permainan sederhana yang dimainkan oleh dua aktor dan objek-objek yang bisa diambil dalam keseharian. Namun justru persoalannya ada di penggunaan objek yang mudah didapatkan dari keseharian itulah yang kemudian pertanyaannya adalah bahwa objek-objek tersebut hanya digunakan sebagai permainan dan bukan berdasarkan sebuah spasialitas ruang atau keseharian dari isu yang diangkat.

Pertunjukkan “Kerangkeng”, Teater Karapan, Pamekasan

Yang bisa dibaca dalam pertunjukkan “Kerangkeng” oleh Teater Karapan, Pamekasan ini adalah situs pertunjukkan yang berada di pesantren, para aktor perempuan yang notabene adalah para santri di pesantren setempat. Secara tematik pertunjukkan ini terlalu metaforis dan tidak dekat dengan para aktornya, karena tingkat refleksi tema yang cukup abstrak dan tidak berangkat dari pengalaman keseharian para aktor. Orientasi terhadap bentuk pada pertunjukkan ini membawa dampak pada dominasi bentuk itu sendiri, ketimbang keberadaan isu dan kehadiran aktor itu sendiri. Terkesan, aktor berada di bawah dominasi narasi dan bentuk, dengan banyak memainkan hal-hal yang metaforis yang berjarak dengan tubuh para aktornya. Latar belakang aktor yang notabene adalah para santri perempuan, sebenarnya bisa menjadi visi pertunjukkan yang tidak lagi membentuk jarak dalam pembentukan gesture dan gerak para aktornya.

Keberadaan pertunjukkan “Kerangkeng” memberi sebuah aktivasi tersendiri, khususnya dalam kultur teater yang bisa membawa sebuah refleksi terhadap agama dan lingkungan sekitar, selain teater juga sebagai alat transformasi dan membawa lingkup keberadaan teater di pesantren yang menghadirkan publik yang berinteraksi dengan mereka, baik melalui isu, seni pertunjukkan, kolaboratif, dan lain sebagainya.

Orientasi terhadap Bentuk (Estetika)  dalam Isu Spasial

Dari segi bentuk, hampir semua pertunjukkan cendrung cukup terukur melalui komposisi dan koreografi yang disusun di atas panggung, khususnya pada pertunjukkan “Perempuan dan Kapal yang Hilang” dan “Kerangkeng” yang banyak didominasi oleh komposisi dan koreografi. Persoalan bentuk dan isi menjadi hal penting dalam memandang pertunjukkan, karena terkait juga mempertanyakan apakah ‘keseharian’ yang diangkat membentuk sebuah bentuk baru dari pertunjukkan, atau orientasi terhadap bentuk justru mengikis kemungkinan spasial keseharian yang diangkat menjadi tereliminir. Problem-problem bentuk dan isi juga menjadi bagian dari sebuah visi pertunjukkan itu sendiri, sembari mempertanyakan ulang tentang bagaimana sebuah kontemporeritas sebuah pertunjukkan dalam kekiniaannya. Beberapa pertunjukkan lain juga masih memperlihatkan orientasi terhadap bentuk, ketimbang menghadirkan data yang dimungkinkan dalam isu yang diangkat dalam pertunjukkan.

Dalam tradisi modern, narasi tentu menjadi begitu dominan di atas semua elemen yang lain dalam tradisi spektakel. Seakan semua elemen adalah menopang atau mengkultivikasi narasi itu sendiri.  Pada viewpoints-nya Mary Overlie, sebagaimana halnya tradisi postmodern, adalah usaha untuk membuat semua elemen setara, seperti ruang, bentuk, waktu, emosi, gerak dan narasi. Kesetaraan ini pada dasarnya adalah refleksi atas tradisi modern yang lebih mengedepankan atau dominasi narasi di atas elemen-elemen yang lain. Pengaruh postmodern Mary Overlie ini sebenarnya masih berkutat pada orientasi bentuk, meski ada perluasan bentuk dari orientasi sebelumnya.

Model platform empat pertunjukkan di Madura pada akhir November 2017 lalu adalah kerangka bagaimana teater bisa mengaktivasi sosial masyarakat di sekitarnya. Ukuran-ukuran pertunjukkan sebenarnya tidak lagi merujuk pada orientasi teks semata, namun juga merujuk pada isu dan data yang ada dalam keseharian masyarakat yang melingkupi pertunjukkan. Beberapa catatan yang bisa diambil adalah, bagaimana orientasi terhadap bentuk membawa dampak pada teater yang masih didominasi putusan-putusan sutradara ketimbang pada para periset atau dramaturg.

Namun yang menarik dalam tiga pertunjukkan di Madura ini adalah, adanya sebuah diskursus dan perbincangan tentang isu sosial yang terdapat pada pertunjukkan bagi para penonton yang dilakukan paska pertunjukkan. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa sebenarnya orientasi para penonton tidak lagi berkutat pada bentuk pertunjukkan itu sendiri, meski kemudian dalam perkembangan diskusi tidak terlalu banyak data yang bisa dibagi dalam forum diskusi, karena pertunjukkan itu sendiri yang tidak banyak berfokus pada data-data dari isu yang diangkat. Lemahnya data dari isu yang diangkat dalam pertunjukkan, mengandaikan kebutuhan sebuah kerja-kerja kolaboratif yang dimungkinkan bagi sebuah kebutuhan isu yang diangkat. Kebutuhan kerja kolaboratif ini misalnya adalah, adanya para periset yang berfokus pada pencarian data dari isu yang diangkat, selain posisi periset juga bisa dikolaborasikan sebagai seorang dramaturg.

Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat [Bagian 1]

(Catatan Menonton Empat Pertunjukan #SeriPentasAntarRagam di Madura)

oleh Akbar Yumni

Seni  dan Realitas

Perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, dan perkembangaun sosial media  yang semakin performatif dalam menggerakkan masyarakat, membuat status ‘seni’ (seni modern) semakin dipertanyakan sebagai sebuah otoritas yang sanggup memberikan pencerahan atau ilham dalam ontologinya sebagai sebuah refleksi atau melampaui ‘realitas’ yang melingkupinya. Kritik seni dalam kerangka ini sebenarnya sudah dimulai paska Perang Dunia ke-2. Theodor Adorno melihat status seni sebagai sesuatu yang mustahil ketika genosida di luar nalar manusia berlangsung. Artinya, realitas genosida paska PD 2, sebuah gambaran yang sama sekali jauh dari ‘realitas seni’ itu sendiri, seakan seni menjadi inferior terhadap realitas yang berlangsung—genosida pada PD 2. Dalam perkembangannya secara kekiniaan, seni menjadi tidak lagi bersaing atau berusaha melampaui realitas itu sendiri. Seni pada perkembangan kekiniaannya, mengambil bahan baku yang ada di sekitar keseharian masyarakatnya (everyday aesthetic).

Dalam ranah seni pertunjukkan, praktik artistik yang didasarkan pada keseharian masyarakat, juga didasarkan pada sebuah refleksi terhadap teks yang dianggap sebagai sebuah dunia tertutup yang tidak lagi memadai dalam merefleksikan realitas sosial yang melingkupinya, atau sebuah totalitas gambaran dunia yang jauh dari kesadaran dan keseharian masyarakat yang melingkupinya—dalam kasus pernyataan Adorno memiliki dampak bahwa seni menjadi jauh tidak performatif ketimbang keseharian di masyarakat. Dalam perkembangannya seni pertunjukkan tidak lagi berkutat pada sebuah teks yang ‘tertutup’ sebagai sebuah gambaran dunia secara tekstual yang tidak lagi menyentuh persoalan-persoalan dan kesadaran masyarakat yang melingkupinya. Avantgardisme seni dianggap tidak lagi memadai, karena kompleksitas persoaalan sosial di masyarakat yang semakin kompleks dan jauh lebih performatif ketimbang seni itu sendiri—game pokemon, merekam bunuh diri di Facebook, sosial media, dsb. Kompleksitas tersebut membuat seniman sebagai individu yang berada di atas masyarakat menjadi naif, sehingga praktik-praktik seni kekiniaan adalah praktik yang bersifat lintas disiplin jika dilihat dari kompleksitas sosial yang melingkupinya. Estetika keseharian sendiri sebenarnya muncul dari pengaruh John Dewey yang memaknai seni bukan sebagai objek artistik yang ada di galeri, museum, atau institusi seni lainnya, namun lebih pada pengalaman personal. Pendasaran atas pengalaman dalam melihat seni, menjadi seni bukan lagi pengalaman akan ‘keindahan’ atau estetis itu sendiri, namun kembali kepada pengalaman individu itu sendiri dalam melihat karya seni. Dalam perkembangannya pada periode 1990-an. Katya Mandoki mengembangkan matra sosial dari estetika keseharian ini melalui istilah ‘prosaics’ sebagai sebuah sub-disiplin yang merefleksikan estetika yang terlibat dalam aktivitas keseharian, di mana peranan estetika merujuk melalui interaksi simbolis, negosiasi identitas dan kinerja dramaturgis untuk menghasilkan efek sensitif dan dampak spesifik pada sensibilitas. Praktik estetika ini juga sebuah lintas disiplin yang juga sebagai  fenomena multi-sensorial. Pertunjukan bersifat spasial yang menekankan gaya dan bentuk ekspresi dalam interaksi dengan penonton yang memiliki temporalitas dan momentum yang khas.

Refleksi atas realitas keseharian sebagai bahan baku artistik pada seni pertunjukan, dalam perkembangannya, seni juga menjadi sebuah praktik yang juga melibatkan situs, artefak, orang-orang, dan entitas lainnya yang berasal dari keseharian itu pula. Usaha-usaha mengaktivasi sebuah entitas masyarakat—termasuk di dalamnya adalah mengaktivasi ruang, isu, identitas, dan lain sebagainya—telah menjadi platform teater kekiniaan. Dalam dramturgi baru (new dramturgy) model-model pertunjukan yang menggunakan bahan baku isu yang berangkat dari keseharian masyarakat  itu sendiri adalah  bagian dari usaha teater keluar dari beban historisnya terhadap pengaruh teater atau seni Aristotelian yang dianggap hanya sebagai atribut dari teks dramatik sedemikian hingga mempengaruhi totalitas putusan-putusan artistik dalam proses penciptaan dalam pertunjukan. Seni pertunjukkan dalam kerangka dramaturgi baru ini, menjadikan seni tidak sekadar mengekspansi dari perluasan isu yang digarap dalam kekiniaan masyarakatnya, namun praktik pertunjukkan itu sendiri juga memainkan peran transformatif berdasarkan praktik mengaktivasi dari penggunaan bentangan (lanskap) sosial sebagai pijakan artistiknya. “Dramaturgi kini dipertimbangkan menjadi aliran batin dari sebuah sistem yang dinamis. Dengan helain baru dari karya dramaturgis (devised theatre, dance, new-circus, performance art, dll) yang muncul, materi baru untuk berkarya (diperoleh dari improvisasi, hal-hal kebetulan, stimuli lintas disiplin dan media baru), dan perubahan hubungan baik ruang dan penonton—praktik bukan hanya perluasan namun dramaturgi juga menjadi bertransformasi (Katalin Trencsenyi and Bernadette Cochrane, dalam pendahuluan New Dramaturgy, New York: Bloomsbury Publishing, 2014, hlm. XI)

‘Etnografi Kehadiran (present) dan Performatif’ Madura melalui Seni Pertunjukkan

Satu di antara problem etnografi adalah perihal representasi, sampai kemudian dalam pandangan Clifford Geertz dalam  membuat posisi emik (melalui cara pandang orang dalam) sebagai usaha menjembatani kesenjangan posisi etik (cara pandang orang luar) juga mengalami pergulatan karena otoritas perihal representasi masih di tangan periset—pihak luar. Refleksi Geertz pada dasarnya adalah pergulatan sains sosial itu sendiri, khususnya dalam pergulatan antropologi dalam perihal subyektivitas dan objektivitas. Bagi Geertz, pandangan terhadap para native adalah bagaikan ‘boneka’ yang bisa diobjektivikasi sekehendak bagi para pengamat, atau kemudian pengamat berusaha mendengar ‘alunan lagu’ dari para native yang bisa jadi adalah ‘fantasi’ dari pengamat itu sendiri. Dalam kerangka etnografi Geertz ini, para pengamat menjadi semacam ‘saksi’  atau semacam posisi pengamat ‘yang berada di sana’ sebagai pihak yang memberikan gambaran tentang sebuah entitas masyarakat. Pergulatan objektivitas dan subyektifitas ini memang semacam otomatisme dalam pemikiran modern yang masih mengandaikan posisi biner dan problem representasi.

Dalam perkembangan seni kekiniaan, problem-problem representasi sangat dimungkinkan untuk diambil alih pada pola-pola partisipatif untuk membentuk ‘kehadiran’ (present) yang dimungkinkan karena logika medium yang melingkupi praktik seni itu sendiri. Seperti dalam etnografi di bidang filem, di mana kontruksi akan realitas pada sebuah gambaran ‘native’ yang bisa disusun bersama mereka (para native) untuk mendapatkan sebuah gambaran yang tidak berjarak tentang sebuah masyarakat. Bahkan logika medium dalam seni filem bisa membuat semacam ‘antropologi bersama’ (shared antrophology)—seperti  yang dilakukan oleh sutradara Jean Rouch di Afrika pada periode 1960-70-an—para native juga dimungkinkan untuk memegang alat reproduksi kamera itu sendiri untuk menggambarkan pengalaman mereka sendiri. ‘Antropologi bersama’ ini semacam praktik heremeneutika yang jauh lebih egaliter ketimbang dalam sains sosial dalam tradisi akademik di mana perihal representasi yang masih berkutat pada tradisi naratif (tulis) yang otoritas ‘representasi’nya berujung pada putusan pengamat. Dalam spasial seni pertunjukkan, perihal ‘antropologi bersama’ ini memiliki semangat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Jean Rouch dalam memperlakukan medium pertunjukkan yang bisa anasir-anasir yang berasal dari pengalaman para native, atau bahkan keterlibatan para native itu sendiri di atas panggung. Pengalaman 100% Yogyakarta oleh Rimini Protokol misalnya, adalah bagaimana dimungkinkannya‘ pelaku para keseharian’ itu sendirilah yang terlibat.

Model-model etnografi yang didasarkan pada praktik-praktik seni bisa dibaca sebagai sebuah ‘etnografi kehadiran’ sebagai sebuah kritik atas ‘etnografi representasi’ dalam tradisi akademik. Etnografi kehadiran adalah bagaimana perihal data justru hadir sebagai sebuah ‘kehadiran’, sehingga bisa mengikis jarak antara pembaca/penonton dengan ‘gambaran native’ itu sendiri seperti yang diperlihatkan dalam persoalan ‘representasional’ itu sendiri. Model-model etnografi kehadiran ini juga model etnografi performatif, karena data tidak lagi hadir sebagai bentuk yang representatif, namun sebagai sebuah kehadiran itu sendiri dan dalam bentuk yang performatif kepada para penontonnya. Bentuk performatif dari data yang dihadirkan dalam seni pertunjukkan, menjadikan pembacaan terhadap sebuah gambaran masyarakat yang dihadirkan dalam pertunjukkan tersebut selalu bersifat spasial dan bergerak sesuai dengan kebersituasian yang berlangsung dalam setiap pertunjukkan yang berlangsung. Segi performatif ini juga mengandaikan sebuah pertunjukkan yang selalu bergerak dalam momentumnya sendiri, berdasarkan spasial ruang dan penonton yang melingkupinya. (Bersambung)

Lanjutan artikel, silakan klik tautan berikut: Etnografi dan Aktivasi Pertunjukkan terhadap Keseharian Masyarakat (Catatan Menonton Empat Pertunjukan Seri Pentas AntarRagam di Madura) [Bagian 2]

Catatan Perjalanan ke Bangkalan dan Sampang

Shohifur Ridho’i

 

Pagi hari tanggal 19 Februari 2017 ketika kami tiba di Madura, kami menonton pergelaran Karapan Sapi di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan, sebelum akhirnya kami berpisah menuju daerah masing-masing yang akan kita kunjungi. Belum genap pukul 10 pagi, tim Sumenep yang terdiri dari Gunawan Maryanto, Giant, dan Anwari, sudah bergerak ke kabupaten ujung timur pulau Madura itu untuk menghadiri forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran yang bertempat di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Saya dan Erythrina Baskoro masih tinggal di lapangan Banyubunih karena kami bertugas di daerah bagian barat Madura: Bangkalan dan Sampang. Informasi pergelaran Karapan Sapi kami dengar beberapa hari sebelum kami bertolak ke Pulau Garam, dan pergelaran itu menjadi satu agenda tambahan daftar kunjungan selain agenda yang sudah disusun sebelumnya. Karapan Sapi mesti kita kunjungi karena ia adalah ‘tradisi’ sebagian masyarakat Madura yang cukup familiar di telinga orang luar Madura. Barangkali dari pergelaran itu kami dapat memeroleh pengetahuan dan informasi penting yang tak kita temukan saat berkunjung ke tempat lainnya di dalam daftar kunjungan kami.

Kira-kira pukul 15.00 kami bergerak ke kota kabupaten Bangkalan. Tujuan kami adalah bertemu dengan teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur (KML). Kami naik mobil L300—orang Madura menyebutnya ‘bus mini’—dari jalan raya kecamatan Galis. Sepanjang perjalanan kami berdesakan dengan penumpang lainnya. Magrib telah lewat ketika kami tiba di depan kampus STKIP PGRI Bangkalan. Di sana kami dijemput oleh Hayyul Mubarak dan Alan Kusuma, ketua KML periode 2017, menuju sanggar KML. Di sanggar mereka kami disambut oleh pendiri KML M Helmy Prasetya dan teman-teman anggota KML lainnya.

Malam itu kami ngobrol tanpa dibatasi tema-tema tertentu, tapi kedatangan kami membuat mereka bercerita banyak hal tentang Bangkalan, dari politik hingga kesenian. Dari obrolan itu kami memeroleh informasi dari Anwar Sadat, seorang guru dan mantan ketua KML, bahwa di daerah Bangkalan ada kesenian Sandur di mana pergelarannya hanya beroperasi di lingkaran para petinggi desa. Ia adalah jenis kesenian tradisi namun sangat eksklusif. “Masyarakat tidak mudah mengakses kesenian itu karena penjagaannya sangat ketat,” kata Anwar Sadat. Sandur adalah kesenian sejenis tandak di mana para kepala desa memberi saweran kepada penari. Sekali sawer, satu kepala desa bisa menghabiskan uang jutaan rupiah.

Sementara KML sendiri, menurut M Helmy Prasetya, lebih banyak bergerak di sekolah-sekolah. Belasan anggota KML adalah guru dan dosen, dan dengan posisi mereka sebagai pendidik, maka gerakan mereka adalah pembinaan seni kepada siswa-siswa. Tetapi bukan hanya karena alasan tersebut, Helmy menambahkan, kesenian di Bangkalan tidak tumbuh seperti di Sumenep, oleh karena itu mereka lebih tertarik untuk ‘membuat lingkungan kreatif’ di Bangkalan melalui pembinaan ke sekolah-sekolah dengan sastra, teater, dan musik.

Malam pertama di Madura kami habiskan di sanggar KML, besoknya, 20 Februari 2017, kami pergi ke Museum Cakraningrat Kab. Bangkalan. Mulanya kami ingin melihat-lihat koleksi museum, namun kedatangan kami ke sana membawa kami bertemu dengan Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Bangkalan, Hendra Gemma Dominant. Melalui Pak Hendra kami mendapat informasi tentang kesenian Bangkalan dari sudut pandang pemerintah. Bagi dia, kesenian yang tidak membawa semangat tradisi, sulit mengakses fasilitas dari pemerintah. Sementara anak-anak muda Bangkalan lebih banyak menyukai seni modern seperti teater. Jenis kesenian semacam itu, ketika dihadapkan pada proses birokrasi, pemerintah tidak bisa memfasilitasinya. “Karyanya tidak bisa dinikmati masyarakat secara umum,” ujarnya.

Selepas dari Museum Cakraningrat, kami bertolak ke situs yang paling masyhur di Madura, yaitu pasarean Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau adalah guru dari banyak ulama besar di Indonesia. Kami bertemu dengan seorang juru kunci yang masih muda usianya, namanya ustad Markum. Dia lahir di Pontianak, namun konflik Sambas pada tahun 1999 membuat Markum kecil dan anak-anak seusia lainnya dibawa ke Madura dan Jawa oleh Kiai Fuad Amin, cucu Syaikhona Kholil. Waktu itu dia baru lulus Sekolah Dasar, anak-anak kecil itu disebar di beberapa pondok pesantren untuk tinggal dan belajar di sana.

Setelah mendengar kisahnya tentang konflik itu, kami tergerak untuk bertanya tentang konflik Sunni-Syiah di Sampang, satu konflik yang pada tahun 2012 cukup menyita perhatian publik Indonesia bahkan dunia. Ustad Markum bertutur bahwa ia tidak tahu kronologi dan latar belakang bagaimana konflik itu terjadi. Oleh karena itu ia tidak bisa berkomentar.

Sebagaimana malam pertama, malam kedua kami habiskan di sanggar KML. Besoknya, sekitar pukul 10 pagi tanggal 21 Februari 2017, kami bertolak ke Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk bertemu beberapa kawan pegiat teater. Bulan Agustus 2017 mereka akan menjadi tuan rumah hajatan Temu Teater Mahasiwa Nusantara (Temu Teman). Jaelani, anggota Sanggar Nanggala UTM dan ketua panitia Temu Teman menuturkan bahwa kesenian di Bangkalan lebih hidup di lingkungan pelajar-pelajar SMA. Menurut Jaelani, teater-teater pelajar tidak hanya ada di kota kabupaten, bahkan SMA di pelosok desa pun memiliki kegiatan teater. “Mereka juga punya paguyuban guru seni. Jadi, komunikasi antar komunitas sangat erat,” ujar Jaelani.

Soal agenda Temu Teman, Jaelani akan mengangkat tema “Madura dan Laut Kenangan”. Tema itu berangkat dari pembacaan atas situasi sosial selepas jembatan Suramadu diresmikan pada tahun 2009 silam. Suramadu memang membuat akses transportasi lebih efisien, namun pada saat yang sama jembatan itu mematikan potensi jalur laut, yang dalam hal ini adalah moda transportasi kapal Fery dari pelabuhan Kamal Bangkalan ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Transportasi tersebut sudah mulai ditinggalkan sehingga tinggal tiga kapal saja yang masih beroperasi. Akibatnya, warga kamal yang sebagian besar adalah pedagang membuat penghasilannya semakin menyusut. Akibat lainnya, pelabuhan Kamal jadi laut mati, menurut Jaelani, wilayah itu sekarang menjadi tempat transaksi jual-beli narkoba. Akibatnya adalah semakin banyaknya aksi pembegalan. “Pembegal itu mengambil motor. Artinya ada kebutuhan (ekonomi) yang besar. Itu narkoba jenis sabu. Pelakunya pelajar,” tutur Jaelani. Selain pembacaan atas situasi sosial di Bangkalan, Temu Teman kali ini juga akan memanfaatkan potensi seni pertunjukan di Madura. Mereka akan mengadakan Petik Laut di Kamal dan workshop teater folklor.

Adzan Dzuhur telah lewat sekira satu jam yang lalu, kami bergerak kembali ke sanggar KML untuk berkemas dan bersiap menuju Sampang, satu daerah yang membuat kami cukup cemas. Kecemasan pertama bersumber dari pendapat umum bahwa Sampang adalah salah satu daerah tertinggal di Jawa Timur, baik secara pendidikan maupun pendapatan ekonomi masyarakatnya. Perkara itu yang semakin menguatkan alasan bahwa tingkat kriminalitas di Sampang cukup besar. Kecemasan kedua ialah kami tidak memiliki cukup kenalan untuk sekadar singgah dan tempat bertanya. Persis kami hanya mengantongi satu nama, yaitu Umar Fauzi Ballah dari Komunitas Stingghil Sampang. Kami berharap Fauzi menjadi pintu pertama yang nantinya dapat membawa kami memasuki banyak hal di Sampang.

Sore kami tiba di Sampang dan turun di depan Hotel Rahmat. Kami akan menginap di hotel tersebut dan Fauzi akan menemui kami di sana. Namun hingga malam dia tak kunjung datang. Sekitar puluk 9 malam sebuah pesan masuk, Fauzi berkabar bahwa ia tidak bisa datang karena masih bekerja, dan dia berjanji akan datang besok pagi. Saya mengiyakan.

Pagi tanggal 22 Februari 2017, sekitar jam 10 Fauzi datang dan mengajak kami jalan-jalan ke pelabuhan Tanglok Sampang. Apa yang kami harapkan dari Fauzi tergelar dengan purna, dan dari dia pula kami mulai bisa menyusun agenda perjumpaan dengan teman-teman di Sampang. Fauzi menghubungi teman-temannya dan memberi kabar bahwa ada tamu dari Jogja untuk berjumpa dengan kawan-kawan. Sesuai usulan Fauzi, siang itu kami bergerak ke Pondok Pesantren Al Mubarak, Lanbulan, Batorasang, Sampang. Di sana kami akan bertemu ustad Zamzamul Adhim yang juga pendiri Pustakan Madura, sebuah komunitas kepenulisan sekaligus lapak penjual buku online.

Gerakan ustadz Zamzam dengan teman-teman Pustaka Madura berkisar di lingkungan pesantren di Sampang. Menurut ustad Zamzam, pesantren di Sampang tidak seperti pesantren di Sumenep yang lebih terbuka terhadap kesenian. Mereka memulai gerakannya di pesantren tempat ustad Zamzam mengajar. Mulai dari membuat buletin kecil sampai membuat diskusi dengan mengundang penulis dan seniman dari luar. “Para pengurus di sini kurang apresiatif pada kegiatan sastra dan seni yang saya lakukan, tetapi tetap saya lakukan. Saya bahkan tidak izin bikin kegiatan,” tutur ustad Zamzam. Inisiatif ustad Zamzam bermula dari teman-teman santri yang suka menulis, tapi mereka tidak punya wadah mengembangkan minatnya. Malamnya, sehabis salat isya’, saya menemui kiai Ghazali, pengasuh Pesantren Lanbulan, namun kami hanya sebatas salaman karena kiai Ghazali harus segera pergi untuk menghadiri undangan pengajian.

Tanggal 23 Februari 2017 adalah hari yang mendebarkan. Kami akan mengunjungi daerah Omben, tempat konflik Sunni-Syiah terjadi. Kami ditemani Fauzi dan Hayat, anggota Ujicoba Theatre Sampang. Dua hari sebelumnya kami mencari cara untuk bisa ke sana, namun kami merasa kesulitan karena tidak punya kenalan yang dapat membawa kami menemui warga Karanggayam, tempat di mana konflik terjadi. Tetapi semuanya tersingkap pelan-pelan, di Omben kami bertemu dengan Tika, pendiri Teater Tombak. Kami berharap Tika dapat membawa kami ke desa Karanggayam. Namun Tika sendiri tidak berani, bagi dia, konflik itu sudah reda, dia tidak mau menghidupkan api kembali. “Itu masih sensitive,” kata Tika. “Di sana (Karanggayam) masih dijaga, ada pos-pos penjagaan sampai sekarang,” tutur Dika, adik kandung Tika. Menurut Dika, warga Karanggayam tidak mudah membuka buka informasi,” ujar Dika. Jarak dari rumah Tika ke desa Karanggayam sekitar 5 KM, dan mereka juga tidak punya kenalan untuk kami kunjungi.

Karena merasa buntu, kami memilih kembali ke kota Sampang, melakukan agenda selanjutnya. Sore sekitar pukul 16.00 kami berkunjung ke rumah Bapak Rahman, seorang penari dan pendiri Kikana Art Production. Pak Rahman bercerita banyak tentang proses berkeseniannya, mulai dari Jakarta dan masuk IKJ sampai pulang ke Madura dan mendirikan Kikana. “Kalau Kikana sanggar mandiri. Sampang kota kecil. Jadi tidak usah mengharap pemerintah memberi apresiasi terhadap seni. Kalau berkesenian di sini mesti pintar mencari jaringan,” tutur Pak Rahman. Namun kenyataan yang menarik adalah Sampang yang dianggap paling terbelakang dalam konteks kesenian justru satu-satunya daerah di Madura yang memiliki gedung kesenian.

Tanggal 24 Februari 2017 adalah hari terakhir kami di Sampang, namun masih ada satu komunitas yang akan kami kunjungi, yaitu Biruh Ompos. Itu komunitas di luar kota Sampang, tepatnya di desa Gunung Eleh, Kecamatan Kadungdung, Sampang. Komunitas ini diinisiasi oleh pemuda bernama Moh. Iqbal Fathoni atau biasa dipanggil Fafan. Gerakan Fafan tidak hanya memberdayakan anak-anak desa untuk mencintai seni, tapi juga mengajak para petani di desanya untuk belajar bersama cara menanam yang baik supaya ketika panen hasilnya memuaskan. Fafan juga bisa dikatakan seorang aktivis, dia terlibat di lembaga Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sampang. Sehari-harinya adalah pergi ke RSUD Sampang untuk membantu dan mendapingi para pasien yang tidak mampu.

Hari itu, di pendopo kepala desa Gunung Eleh, kami menonton pertunjukan teater karya siswa-siswi MTs Assahidin, tempat Fafan mengajar teater. Pertunjukan itu akan dibawa ke Kediri untuk mengikuti pergelaran festival seni pelajar se-Jawa Timur. MTs Assahidin memwakili Sampang tingkat SMP sederajat untuk kategori teater.

Malam ketika kami berkemas, Pak Untung datang menemui kami di Hotel Bahagia. Kami bicara banyak hal. Beliau adalah seniman senior di Sampang. Menurut Pak Untung, kesenian di Sampang terbatas pada event. Pentas atas insiatif sendiri itu jarang dilakukan, atau bahkan tidak ada. Tapi banyak anak muda di Sampang yang mulai giat berkesenian di luar sekolah. Bagi beliau, itu adalah tanda-tanda baik untuk Sampang.

Pagi-pagi sekali, 25 Februari 2017, kami bertolak ke stasiun Gubeng, Surabaya. Pukul tujuh kami berangkat dari Gubeng dan sore kami sudah tiba di Yogyakarta. Perjalanan yang menyenangkan!