Saya, KAHE, dan Pertemuan dengan Garasi

oleh Eka Putra Nggalu

Pertemuan dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute bagi saya adalah sebuah kebetulan yang bukan kebetulan. Saya dan teman-teman KAHE membajak perjalanan mereka di bandar udara Waioti, menemani mereka jalan-jalan ke beberapa tempat yang ingin mereka kunjungi selama di Maumere, makan malam bersama, minum moke, dan bercerita. Dari cerita-cerita serta sharing yang kami lakukan, saya merasakan adanya keterbukaan dan komunikasi yang baik, terlepas dari adanya perbedaan kebudayaan, profesi, usia, dan mungkin pengetahuan. Sebagai sebuah komunitas yang baru tumbuh, kesempatan bertemu dengan komunitas dan institusi teater yang sudah sangat lama berkarya dan bisa mengelola dirinya sendiri seperti menjawab kebutuhan kami. Pertemuan kami dengan Teater Garasi seperti sebuah jawaban akan lelah kami. Awalnya, kami selalu merasa asing di tengah masyarakat yang tidak terlalu peduli dengan kerja kesenian yang serius, dengan sastra, dengan teater, dengan dikusi-diskusi kesenian, filsafat, dan kebudayaan yang kami buat. Setelah kami mulai mendapat apresiasi, kami lalu merasa tidak dilihat atau diperhatikan oleh para pemangku kebijakan di sekitar kami. Kerja kesenian kami hampir tidak pernah didukung secara finansial oleh Pemerintah Daerah, kendati kami memiliki hubungan yang cukup baik dengan beberapa pejabat yang bersedia menyumbang secara personal. Meski demikian, dalam segala keterbatasan, kami percaya, karya-karya kami yang kami publikasikan, yang kami pentaskan, dan disaksikan banyak orang akan berbicara dengan sendirinya. Meskipun pertemuan kami tidak diawali dengan karya tetapi sebuah pembajakan, saya merasa pertemuan dengan Teater Garasi, dengan sejarah mereka, dengan pengalaman jatuh bangun mereka sebelum menjadi sebuah institusi mandiri adalah sebuah awal yang baik, sebuah momen yang akan mengubah banyak hal. Saya belum sepenuhnya bisa mendefinisikan itu, tetapi saya percaya, perubahan akan terjadi.

Pertemuan kami dengan Teater Garasi berlanjut melalui komunikasi di sosial media dan kemudian workshop penciptaan bersama. Pada Juli-Agustus 2017, saya diundang mengalami residensi di Yogyakarta selama dua bulan. Waktu dua bulan ini memberi ilham dan inspirasi yang sangat bernilai bagi saya seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, ‘Jalan-Jalan ke Jogja’. Selain residensi itu, komunikasi dan pendampingan selama produksi event M 7.8 SR adalah sebuah pengalaman baru bagi saya dan KAHE, bekerja dengan sebuah institusi professional. Dari pengalaman itu ada beberapa hal bernilai yang saya temukan. Saya memperoleh pengetahuan dan perspektif baru mengenai kerja-kerja kesenian dan kebudayaan, baik itu secara praktis-metodologis, prinsip, maupun cara mengelola organisasi, infrastruktur serta modal-modal yang ada.

Dalam berbagai workshop saya memperoleh pengetahuan baru tentang penciptaan kesenian. Metode penciptaan kesenian Teater Garasi yang dikenal sebagai metode penciptaan bersama memberikan banyak sekali perspektif baru. Saya belajar mendekati masyarakat sebagai subjek, titik tolak, sekaligus arah dari proses berkesenian. Saya belajar untuk berani mengambil posisi, berani menyampaikan pernyataan terkait dengan isu-isu dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat yang saya dekati melalui media kesenian. Saya belajar menciptakan sebuah karya berdasarkan riset, data-data yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan dalam statement yang ingin disampaikan. Yang terakhir, yang paling penting adalah saya belajar bekerja dalam tim, sebagai sebuah komunitas.

Dalam kaitannya dengan M 7.8 SR saya mendapati banyak sekali hal dan perubahan yang kami alami dalam berkarya. Misalnya, dalam evaluasi internal, kami semua sepakat bahwa galeri M 7.8 SR yang kami ciptakan sebenarnya adalah sesuatu yang sangat bernilai edukatif. Kami tidak hanya memajang lukisan atau foto-foto yang indah-indah saja tetapi di dalamnya hadir pengetahuan, sejarah, peristiwa, dan filosofi Maumere, kota Maumere, masyarakat Maumere. Arsip-arsip berita, foto-foto reproduksi adalah hal-hal yang sangat sulit dicari dan dikumpulkan, tetapi semuanya tersedia dalam galeri KAHE. Kami juga mendasari proses penciptaan kami dengan riset. Kami pun akhirnya menemukan bahwa riset yang tidak kuat akan menghasilkan sebuah karya yang tidak kuat juga. Beberapa karya kesenian yang tidak selesai pada tenggat waktu yang ditentukan sebenarnya juga dipengaruhi oleh riset yang tidak serius dan memadai. Beberapa catatan bisa kami berikan berkaiatan dengan metode penciptaan ini. Secara umum kami menikmati dan merasa sangat membantu dalam cara kami mendekati sebuah isu sebagai materi berkesenian. Karya kami pun menjadi sangat bernilai dan kuat sebagai sebuah statement. Di lain sisi, kami merasa bahwa metode ini mensyaratkan sebuah komunikasi yang baik, komitmen yang baik antara semua yang terlibat, dan standar pengetahuan tertentu atau kesamaan persepsi dalam memandang sebuah masalah yang sedang dikritisi.

Selain pengetahuan tentang pendekatan penciptaan kesenian, saya dan teman-teman juga mendapat banyak pelajaran berharga berkaitan dengan manajemen event dan tentu manajemen komunitas. Kami belajar bagaimana membuat rancangan dan timeline kerja. Kami belajar membuat distribusi kerja. Dalam evaluasi internal, kami mendapati bahwa poin ini yang menjadi perhatian serius bagi kami dalam event M 7.8 SR. Harus diakui secara jujur bahwa ritme kerja kami dalam event M 7.8 SR sangat lambat dan tidak sesuai dengan tenggat waktu yang ada. Banyak hal teknis yang tidak sesuai konsep dan selesai dikerjakan sesuai dengan jadwal yang seharusnya. Dalam evaluasi kami, lebih dari sebuah pola kerja, hal ini juga dipengaruhi oleh konsistensi dan tanggungjawab masing-masing anggota dalam menyelesaikan tugasnya. Saya secara pribadi sebagai ketua, merasa dan juga akhirnya dikritik, bahwa sepulang dari residensi di Jogja, saya semacam memberi tuntutan yang tinggi pada teman-teman dalam hal membuat sebuah kegiatan atau karya atas nama komunitas. Tuntutan itu berhubungan dengan desain dan konsep kegiatan atau karya yang harus selalu dicek bersama-sama baik secara ide maupun bentuk, limitasi waktu, dan logistik yang mendukungnya. Sementara ada tuntutan seperti ini di satu sisi, di sisi lain, kenyataan yang ada tidak langsung menunjang pelaksanaanya. Tidak semua yang terlibat dalam produksi M 7.8 SR memiliki waktu luang dan kesempatan untuk memberikan konsentrasi penuh dalam penyelenggaraan event ini. Di satu sisi ada kebutuhan yang besar di komunitas, di sisi lain banyak teman yang tidak dapat meninggalkan tugas dan mata pencahariannya yang pokok. Dengan kata lain kerja komunitas akhirnya bukan menjadi sebuah prioritas, sebab ada kebutuhan yang lebih penting yang harus dipenuhi. Tegangan ini kemudian juga disadari berhubungan dan saling kait-mengait antara komitmen personal tiap anggota, bagaimana para anggota mendisposisikan diri dalam komunitas, visi, dan dengan kebutuhan-kebutuhan akan institusionalisasi, penguatan kapasitas para anggota KAHE, dan juga profesionalitas dalam bekerja. Keadaan ini di satu sisi membuat instabilitas dalam tubuh komunitas, khusus dalam penyelenggaran M 7.8 SR. Di lain sisi, ini menjadi sebuah momen refleksi masing-masing anggota dalam kaitan dengan kesadarannya mendisposisikan diri dalam komunitas. Ini juga tidak lantas merusak hubungan personal dalam relasi di komunitas, tetapi yang lebih penting, ini adalah sebuah kebutuhan yang harus dicari solusinya secara bersama-sama. Dalam kaitan dengan ini, muncul isu dan kebutuhan sustainable dalam tubuh komunitas, dan kebutuhan akan cara komunitas dapat mengelola dirinya sendiri, termasuk memberi sedikit reward bagi anggota-anggotanya yang terlibat dalam kerja komunitas.

Saya secara pribadi melihat situasi ini sebagai sebuah dialektika yang harus dilewati KAHE dalam usianya yang sudah menginjak tahun kedua. Saya melihat semua ini sebagai problem sekaligus progress. Sebagai problem, ini membuat ketidakstabilan dalam komunitas. Ego-ego personal, tentang siapa yang tidak bekerja dan siapa yang bekerja misalnya, akhirnya muncul ke permukaan. Problem ini tentu membuat ketidaknyamanan dan harus diselesaikan. Sebagai progress, komunitas akhirnya mendapat tantangan untuk terus-menerus mendefinisikan dirinya. Saya masih melihat kerja-kerja KAHE sampai pada tahun keduanya ini perlu diarahkan pada penguatan komunitas. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam manajemen event ini memberikan perspektif dan kesadaran baru tentang perubahan dan kebutuhan-kebutuhan baru dalam komunitas. Dalam diskusi internal di komunitas, masalah-masalah seperti komitmen kerja, disiplin, tanggungjawab itu tidak hanya kami proyeksikan pada ‘event berikut’ tetapi lebih jauh pada ‘siapa saya, untuk apa saya, mengapa saya, dan bagaimana seharusnya saya ada di KAHE?’ Lebih sederhana dari pertanyaan filosifis di atas, saya mendapati adanya kebutuhan akan penguatan infrastruktur komunitas (dalam hal ini orang-orang), dalam keterampilan teknis (lampu, artistik) manajemen event, dan tentu saja usaha-usaha mandiri untuk menghidupi komunitas, yang sebenarnya sudah kami jalankan lewat jurnal, pendampingan ekstrakurikuler dan hal-hal lain yang regular tetapi belum ditata secara baik.

Hal lain yang bernilai yang saya temukan dalam perjumpaan dengan Teater Garasi adalah cara mereka mengenali lingkungannya, menempatkan diri, dan membangun relasi dengan orang lain. Saya melihat bahwa berkomunikasi dan belajar bersama dengan Teater Garasi bukanlah sesuatu yang sulit seperti saya bayangkan sebelumnya. Harus saya akui, saya menahan nafas beberapa saat, ketika pertama kali berjumpa dengan Mas Yudi Ahmad Tajudin di bandara, seseorang yang saya kenal sebelumnya hanya lewat literatur. Lebih penting dari keadaan ‘baper’ di atas, saya belajar bagaimana membangun komunikasi yang terbuka, yang saling menguntungkan, dan tidak terjebak ada hubungan yang melulu formal tetapi juga membangun hubungan persaudaraan. Berkaiatan dengan ini, kredibilitas dan rasa saling percaya menurut saya adalah hal yang paling penting. Saya dan komunitas belajar banyak soal ketepatan waktu, soal kejujuran, soal tanggungjawab. Melalui Teater Garasi, saya dan kami terutama belajar menjalin sebuah relasi profesional, dengan cara yang tak terduga. Kami yang selama ini hidup dalam zona nyaman kami, dalam keadaan, ritme, yang boleh dibilang seenaknya dan semaunya dalam menyelesaikan hal-hal, belajar untuk konsisten, belajar untuk disiplin dan tepat waktu, belajar untuk bertanggungjawab melalui cara yang tidak terduga. Saya membayangkan Mbak Lusia Neti Cahyani ketika menulis ini, sambil mengingat pesan Pater Leo ketika menyampaikan apresiasi dan masukannya untuk Komunitas KAHE, ‘kerja kebudayaan itu tidak main-main, harus mulai serius.’ Saya harus meminta maaf untuk segala ketidakdisiplinan yang terjadi.

Tentang perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan masyarakat yang lebih luas, saya sendiri tidak menyangka bahwa pengunjung yang hadir pada penyelenggaraan M 7.8 SR mencapai 410 orang dan paling banyak berasal dari institusi pendidikan. Meski agak tidak puas karena event ini sama sekali tidak diminati oleh para pejabat pemerintahan dan tidak mampu menjangkau khalayak yang lebih ramai, dalam arti dengan lebih banyak ragam latar belakang profesi dan pekerjaan, saya merasa event ini memberi dampak dan referensi berharga bagi mahasiswa, pelajar, dan guru-guru serta dosen. Pada dua tahun awal karya KAHE, kami merasa sangat sulit masuk dan menembus tembok-tembok kampus di sekitar Maumere, kecuali Ledalero, yang adalah sekolah filsafat dan mayoritas calon imam (harus dicatat bahwa penggerak KAHE awalnya adalah calon imam yang gagal). Event M 7.8 SR, sebenarnya menjadi sebuah momen ketika kami bisa berjumpa dengan teman-teman mahasiswa dari IKIP Muhammadiyah, yang kemudian menjadi pengunjung terbanyak dan konstan setiap harinya. Perjumpaan KAHE dengan IKIP Muhammadiyah tentu berlanjut dalam komunikasi-komunikasi tentang kerjasama selanjutnya. Kami merasa berhasil ketika teman-teman IKIP Muhammadiyah, dengan jumlah yang bervariasi setiap harinya selalu datang mengunjungi pameran dan mengikuti berbagai kegiatan dan mengaku terinspirasi dangan aktivitas KAHE. Kami juga melihat antusiasme dari sekolah-sekolah menengah atas, misalnya SMAS John Paul II, yang terlibat dalam pembacaan cerpen. Harus diakui, dalam sejarah kota Maumere, ini adalah event pembacaan cerpen pertama. Dari semuanya ini, dampak langsung event M 7.8 SR adalah mampu menjadi referensi yang baik, secara bentuk, tema, mapun proses garapan bagi para pengunjung yang umumnya adalah pelajar dan mahasiswa.

Mengenai dampak atau resepsi tentang isu dan tema yang kami angkat, tidak relevan jika saya jelaskan tanpa studi resepsi yang memadai. Namun dari beberapa wawancara misalnya dengan Ibu Marlin Lering, dia melihat bahwa tema ini sangat menarik dan merangsang generasi sekarang untuk mencari tahu secara lebih baik tentang tsunami dan gempa yang terjadi dua puluh lima tahun silam. Atau seperti yang dikisahkan Babe Lucky (pimpinan radio Sonia FM), galeri M 7.8 SR sebenarnya penuh dengan muatan edukasi. Kami juga senang bisa menyediakan media bagi Bapak Rony Mbulo untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Wuring, meskipun pihak-pihak yang seharusnya mendengar tidak hadir memenuhi undangan kami, tetapi setidaknya sharing beliau bisa didengar oleh masyarakat Maumere melalui radio Sonia FM. Kami juga merasa bahwa diskusi coral yang dihadiri beberapa pegiat pariwisata memenuhi ekspetasi kami.

Meski tidak secara langsung dapat diamati atau dibuktikan, menurut saya kehadiran para pelajar dan mahasiswa dalam event ini setidaknya akan menjadi medium resonansi yang membawa gema tentang tema dan isu yang ingin kami soroti. Seperti pada awalnya kami membutuhkan dan menempatkan para pengunjung sebagai partner sharing dan diskusi, pemberi usul dan saran untuk kemajuan karya kesenian kami, dan lebih dari pada semuanya itu, agar pesan-pesan yang kami sampaikan dalam karya-karya kesenian ini dapat menjumpai banyak orang dan diteruskan ke semakin banyak orang pula. Setidaknya apa yang mereka baca, lihat, sampaikan, dan dengar dalam item-item acara yang mereka hadiri dan jumpai sedikitnya membekas dalam benak mereka. Kita berharap itu semua menjadi informasi yang dapat mereka kembangkan untuk kebutuhan mereka sendiri. Lebih dari pada itu, kiranya peristiwa bencana tsunami terus tinggal dalam memori kolektif orang Maumere.

Pertemuan dengan Teater Garasi untuk saya tidak memberikan solusi untuk kebutuhan-kebutuhan saya, secara pribadi dan komunitas. Pertemuan dengan Teater Garasi, dalam bahasa Injil, mendatangkan api dan pedang. Pertemuan dengan mereka justru memberikan provokasi lebih, memicu kegelisahan lebih, bagi saya dalam memandang hal-hal di kehidupan saya sehari-hari. Saya sebagai seniman, ketua komintas KAHE, merasa butuh berjuang lebih giat dalam mewujudkan hal-hal. Kami dari hari ke hari berefleksi dan menemukan berbagai modal sekaligus kelemahan-kelemahan kami secara personal, maupun secara komunitas. Untuk saya, hal yang akan selalu digulirkan dan menjadi kebutuhan terus menerus secara pribadi adalah pertama-tama soal kebutuhan akan penguatan kapasitas dan profesionalitas. Secara pribadi saya terprovokasi untuk menata prasyarat-prasyarat dalam kerja kesenian, seperti disiplin, manajemen waktu yang baik, dan kesungguhan dalam berkarya. Ini tentu juga dibutuhkan dalam komunitas secara lebih luas. Berkaitan dengan persoalan metode, saya kira metode penciptaan Teater Garasi menjadi pedoman yang bisa dipakai sebagai sebuah perspektif untuk mendekati realitas dan membahasakannya melalu kesenian. Target jangka panjang kami masih sama, yaitu mencari cara untuk menjawab isu sustainable dalam komunitas.

Yang lebih praktis dan mendesak bagi saya dan KAHE adalah kebutuhan untuk menyelesaikan karya-karya yang masih dalam status ‘work-in-progress’. Antologi buku dan pertunjukan musik, yang belum selesai adalah ‘pe-er’ yang harus segera diselesaikan. Maumerelogia III sebagai event yang akan mengakomodasi perwujudan karya-karya ‘work-in-progress’ menjadi target jangka pendek kami. Kami ingin mewujudkan penciptaan karya-karya yang tertunda dan belum selesai dengan lebih baik, dengan desain yang lebih tertata, dan menjangkau lebih banyak orang. Kami tentu berharap, Teater Garasi masih memiliki daya dan berkenan untuk mendampingi kami dalam proyek kesenian selanjutnya. Isu yang kami angkat masih sama. Tentang Tsunami. Tentang gelombang dan getaran M 7.8 SR yang belum selesai.

 

Eka Putra Nggalu

Komunitas KAHE Maumere

 

Catatan:

M 7.8 SR adalah presentasi kasenian Komunitas KAHE yang mencoba merefleksikan peristiwa tsunami di Flores tahun 1992, yang pada tahun ini (2017) berusia 25 tahun.

Catatan Peserta Flores

Elvan De Porres

Baru sadar tentang makna sebenarnya dari “hasil adalah ujung dari proses”. Bahwa dalam pertunjukan tidak ada yang benar dan salah, justru yang benar dan salah itu ada dalam proses menuju pertunjukan. Semua pertunjukan akan jadi kesenian setelah melewati proses yang “berdarah-darah.”

Tiga hal penting yang diingat dalam workshop adalah : Metode proses  penciptaan dalam seni pertunjukan harus selalu bertolak pada sesuatu yang empiris atau berdasar pada isu realitas yang ada. Hal inilah yang paling saya ingat dalam proses pertunjukan. Itu artinya juga dalam sebuah seni pertunjukan penting sekali untuk didiskusikan bersama.

Apresiasi terhadap seni dari Garasi sungguh luar biasa. Saya kagum karena selama proses workshop, pemateri tidak pernah menilik benar/salah dari apa yang kami tampilkan. Ini sebuah kultur yang baik yang harus kami teladani. Salah satu hal yang membuat seni itu tidak berkembang di sini adalah apresiasi. Di sini saya belajar dari Garasi tentang apresiasi seni.

Garasi secara personal sangat dekat dengan kami, hampir tidak ada jarak. Itulah yang membuat kami sangat pede dan ingin selalu belajar.

Frano Padji Tukan

Workshop ini berkah bagi saya . Teater itu tentang jaringan/network. Memulai dari yang ada dan kami akan berbicara pada dunia

Fransiskus Rasa Ama Kolin

Selama workshop yang diadakan tetaer Garasi, saya pribadi merasa ada banyak pelajaran yang saya dapat, yang tidak pernah saya dapat dari pengalaman lain. Hal yang paling menarik adalah menghasilkan karya seni tetaer tanpa teks, pada awalnya, namun berangkat dari penggalian isu/problem yang ada dan kerangka yang dibuat. Kedua adalah Improvisasi dan ketiga adalah Kodifikasi

Maksimus Masan Kian

Kak Yudi dan tim mampu mendampingi kami dari nol  dengan metode yang sederhana tapi mampu membentuk kami untuk bisa melakukan sesuatu seperti yang diarahkan. Kami bahkan tidak sadar bahwa kami bisa,itu karena lewat pendampingan yang tulus

Kita pasti kembali berjumpa di tanah Flores

Pion Ratulolly

Yang menarik dari workshop ini adalah Metodologi  pembelajaran yang  sistematis, metode transfer ilmunya fun dan menarik, media pembelajarannya variatif dan kedisiplinan dan kesolidan timnya oke

“Berbagilah terus binar prisma Garasi”

Thomas Are

Kegiatan ini sangat inspiratif dan berdaya guna dalam membangun komitmen pribadi saya dalam mencintai dunia tetaer, kerena berbagai metode yang disajikan sangat kontekstual. Kegiatan ini juga sebuah persaudaraaan yang terjalin kuat antara berbagai elemen kelompok teater di Flores.

Veronika Ratumakin

Metode penyajiannya sangat ringan dan sederhana, membuat materinya sangat mudah dicerna. Pelajaran olah tubuh sangat bagus dan sangat inspiratif. Shallom.

Dimas Radjalewa

Hal yang paling saya ingat sela 4 hari workshop ini:

Metodologi penciptaan bersama yang coba diaplikasikan selama workshop ini benar-benar sangat membantu saya selama proses penciptaan. Setiap proses yang dilewati sangat membantu saya menciptakan komposisi dan diakhiri presentasi.  

Saya sangat terbantu dalam kerja gali sumber, improvisasi, dan kodifikasi. Saya baru di tahap ini tapi saya kira ini bagus untuk penciptaan yang tidak hanya seni pertunjukan, tapi juga dalam penulisan cerpen, puisi, artikel, esai, dan lain-lain.

Metode yang dibawakan memang tidak sederhana, tetapi cara membawakan sangat sederhana sehingga kami cepat menyerapnya dan melakukan eksplorasi yang benar-benar di luar dugaan kami sendiri.

Catatan untuk teman-teman Garasi: Kalau bisa kegiatan macam ini tidak berhenti di sini. Jika diselenggarakan lagi semoga durasi prosesnya lebih panjang lagi.

Darno Desno

Hal yang paling diingat adalah membuat/menggarap karya dengan mengumpulkan masalah yang kemudian melahirkan satu tema besar. Tubuh sebagai materi dasar yang kemudian diolah dengan berbagai Parameter. Tidak ada unsur pendukung. Semua usur dalam tetaer adalah Inti. Sederhana itu kaya.

Asyari Hidayah Hanafi

Tiga hal penting dalam workshop ini adalah sistematika penyajian materi teratur, cara membangkitkan peserta dalam proses penciptaan fleksibel dan terbuka.

Pesan saya adalah pertahankan kesederhanaan dalam pembelajaran yang bersahaja.

Inosensius Soni Koten

Pencarian dan penemuan ide justru ditemukan dalam ruang diskusi pada titik ini. Teater Garasi menerjemahkan dengan piawai dan mengajarkan bahwa ide dapat ditemukan dengan sederhana.

Semoga kita bias bertemu lagi. Salam!