Pocèt dan Perjalanannya (Menyelesaikan Apa yang Sudah Saya Mulai)

Catatan pendek dari seseorang yang terlanjur jadi sutradara

oleh Fikril Akbar

13 mei 2017, awal saya bertemu dengan Teater Garasi dalam workshop penciptaan ‘Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia’. Pada hari-hari sebelum pertemuan ini berlangsung saya dengan Tocil Tanah Garam a.k.a Dwi Fitriyanto selaku ketua Sanggar Seni Makan Ati  bercakap ringan kemungkinan pertunjukan macam apa yang bisa kita lahirkan dari pertemuan tersebut, yang sebelumnya pihak sanggar memberikan saya tanggung jawab untuk mengurus masalah teater di sanggar ke depan yang ini juga menjadi alasan mempercayakan saya untuk mengikuti kegiatan (workshop) semacam ini. Hampir tidak banyak–kalau saya tidak mau mangatakannya tidak ada– teater yang bergerak mandiri di luar kampus di Pamekasan. Saya yang pernah berkecimpung di teater kampus tentu tahu selama ini kegiatan teater hanya ada dan tumbuh di dalam kampus walaupun gerakan untuk membangun publik teater dalam masyarakat terus berada dalam agenda mereka.

Saat workshop berlangsung, Keinginan untuk berkarya tidak terbendung. Bagaimana tidak, metodologi yang bersifat terbuka untuk semua jenis karya (teater, seni rupa, musik dan sastra) yang coba ditawarkan Teater Garasi membuka mata kami bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa kita upayakan untuk melahirkan karya. Mempunyai pijakan yang kuat dalam setiap berkarya adalah beberapa hal menarik yang saya dapat dari perjumpaan ini, kreator tidak melulu berkarya dengan ide-ide abstrak. Metodologi ini memberikan kesempatan kepada saya–sebagai manusia biasa yang tidak jenius– untuk bisa terus berkarya. Bahkan salah satu teman peserta workshop tidak berlebihan kiranya ketika dia bilang bahwa metodologi ini membuat kita enggan berpaling dari berkesenian.

Berbeda dengan workshop yang pernah dikuti saya dan teman-teman sanggar, kontak yang terus terjalin antara kami Sanggar Seni Makan dan Teater Garasi terus bergulir di luar yang kami bayangkan sebelum pertemuan awal. Saya kira pertemuan akan selesai setealah workshop usai atau berakhir di layar gawai—layar pamer media sosial.

Keinginan untuk menggarap pertunjukan saya coba untuk wujudkan dengan mengumpulkan sebagian teman-teman yang masih aktif berkesenian di dalam dan luar kampus. Pada pertemuan ini saya mencoba membagikan hasil workshop sebanyak yang saya ingat, isu-isu mulai dibicarakan. Dari isu besar sampai isu kecil; dari isu global sampai masalah pribadi mencoba dibicarakan untuk ditawarkan di panggung pertunjukan. Berbagai tanggapan muncul tentang workshop yang saya ikuti.

Aku kok gak denger kabar ya?”, “oh, gitu ya, metode semacam itu saya juga pernah dapat”, “patut dicoba nih peluang untuk menteaterkan masyarakat dan memasyrakatkan teater yang terus aku pikirkan memang”, “kalo yang begini-begini nih, dan untuk yang pemula-pemula aja, gak cukup nih waktunya untuk pertunjukan yang kalo memang ingin di wujudkan dalam waktu tiga atau empat bulan, mana risetnya lagi. riset tuh gak sebentar, gak sesederhana itu.

 Negosiasi terus kami lakukan, mulai dari menyusun jadwal yang bisa kita capai di setiap pertemuan sampai kemungkinan apa yang bisa kita wujudkan di panggung pertunjukan. Dari  pertemuan ini yang menjadi kegundahan saya adalah obrolan di akhir-akhir percakapan, di mana kita sibuk mengidentifikasi bentuk teater kita di Pamekasan dan bagaimana kaitannya paling tidak di wilayah Jawa Timur. Pertemuan ini berakhir kira-kira dengan kalimat dari seorang teman “kita harus mencari atau menemukan identitas; style/gaya pertunjukan kita”.

Pertemuan berikutnya kami mulai mengumpulkan keresahan; masalah pribadi, isu sosial, ekonomi, budaya, agama, modernitas, politik dan isu kultural, kemudian diurut dari isu besar dari tertangkapnya bupati karena korupsi sampai isu tidak penting seperti pernikahan dini. Dari daftar isu yang kami kumpulkan mengajak kami pada perjumpaan kedua dengan Teater Garasi. Kami dan pihak Teater Garasi mulai mendiskusikan isu yang kami kumpulkan yang pada waktu itu kami keliru menyebutnya dengan rancangan tema. Yang saya dengar di hari-hari kemudian bahwa hal ini juga menjadi perbincangan serius di meja mereka.

Isu keresahan yang kami kumpulkan semua mengenai batas runtuh, dinding Madura yang melemah; semua mengenai identitas Madura, diserangnya gagasan atas kemaduraan oleh nilai lain di luarnya. Ugoran Prasad waktu itu melihat isu-isu yang terkumpul seperti kasus Amerika yang ditawarkan Donald Trump yaitu Amerika yang seolah tunggal dan selesai, lupa kalau Amerika itu hybrid: disusun oleh yang banyak, dan nilai-nilainya terus tumbuh. Jika kita meminjam slogan kampanyenya adalah “Make Madura Great Again”, yang sebenarnya ini hampir jadi tema atau judul dari pertunjukan kami namun urung karena dirasa obrolan di panggung akan berat kalau kita bicara spesifik dan mendalam di setiap isunya; kemudian bagaimana mencari titik hubungannya lalu dari titik mana kita membahas semuanya sekali pukul-dan tentu saja isunya akan banyak direduksi. Pilihan yang lain adalah melihat sudut pandang, gagasan kemaduraan yang akan menjadi pusat percakapan. Dan yang terakhir adalah mengambil isu yang paling tidak penting.

Isu pernikahan dini adalah isu minor dalam percakapan kita, kenapa isu berada di urutan terakhir juga karena pengaruh hirarki pengetahuan kami yang artinya isu ini tidak banyak kami tahu. Pilihan mengambil isu pernikahan dini adalah karena posisi kita sebagai seniman memilih untuk memposisikan teater sebagai alat belajar atas isu yang seolah dibiarkan terjadi. Untuk kemudian mengajak masyarakat mengobrolkan kembali dan bersama-sama mencari solusi–kalau tidak alternatif —masalah pernikahan dini.

Dalam prosesnya tahapan kerja gali sumber dan improvisasi terus kami lakukan, walaupun improvisasi di awal kami kerap melakukannya di level meja. Dalam data-data yang kami himpun kami sampai pada titik dimana kami tidak tahu harus mencari data macam apalagi. Kami nyaris kalah. Kami kebingungan tidak berdaya dihadapan data-data itu, mereka seakan-akan berebutan ingin mengambil tempat dalam pertunjukan. Mereka tidak berhenti mengganggu saya setiap malam. Pada saat yang sama kami mulai berguguran, banyak teman mulai mengundurkan diri dari proses ini, mereka menyatakan sedikit kemungkinan untuk terus terlibat sampai hari pertunjukan. Dan sisanya sibuk dengan agenda besar mereka.

Pada kondisi seperti ini saya harus mencari teman yang bersedia untuk diajak mengobrol sekedar menumpahkan apa yang ada dikepala saya atau mengolah data yang kami temukan, Untuk mencoba menawarkan dan mengharap umpan balik sebagai upaya—paling tidak–lahirnya bayangan pertunjukan. Dan beruntunglah teman-teman Sivitas Kothèka selalu bersedia saya sibukkan.

Dalam upaya yang kesekian, pada hari menjelang kira-kira satu bulan sebelum pertunjukan, kami mulai mencari nama-nama baru sebagai pemenuhan dalam bayangan pertunjukan yang mulai muncul. Kami menlemparkan kepada mereka temuan-temuan kami dan mencoba menggali dari mereka pribadi terkait kasus fenomena dalam tema yang kita angkat. Dari merekalah sudut pandang baru ditemukan. Saya mulai membuat potongan-potongan naskah sebagai bahan latihan dan dibongkar pasang yang kemudian kita menyebutnya struktur pertunjukan. latihan berjalan. namun saya semakin gelisah ketika kabar bahwa bapak sedang sakit dan mengharuskan saya untuk pergi ke ujung pulau seberang untuk merawatnya. Selama seminggu saya dan teman-teman aktor hanya terlibat dalam kontak virtual selama latihan.

Selama itu pula saya terus gelisah karena target dalam latihan belum tercapai. Dan kabar bahwa paman saya meninggal dunia saat merawat bapak membuat saya berpikir dan bertanya apakah ada kemungkinan untuk menunda peristiwa semacam itu, kenapa harus hari ini ketika saya tidak bisa berjumpa untuk yang terakhir. Saya kecewa dia pulang saat saya tidak ada di dekatnya. Dua hari setelah kabar itu, Saya behasil memenuhi harapan bapak untuk menemaninya pulang ke Madura, saya tidak tahu kalau yang bapak maksud pulang adalah pulang yang sebenar-benarnya. Bapak menyusul paman. Dan sekali lagi saya tidak berdaya menghadapi waktu. Pada saat seperti ini saya seperti dituntut untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya tidak menyangka pertunjukan ini akan lahir diantara dua kematian.

Pocèt adalah sebutan bahasa Madura untuk buah-buahan yang baru lahir (belum layak dikonsumsi). Dan itu merujuk pada hubungannya dengan fenomena pernikahan dini dan bagaimana proses pertunjukan ini terjadi. Judul ini muncul pada saat hari pertunjukan sudah menghitung jari ketika kami semua gelisah karena banyak ide-ide di awal pertemuan belum menemukan artikulasi yang tepat dalam panggung pertunjukan. Bongkar pasang struktur pertunjukan terus dilakukan. Mendatangkan teman-teman pelaku teater kampus dalam latihan pun kami lakukan sampai sebelum hari pertunjukan sebagai upaya untuk koreksi sehingga kami pun semakin yakin dengan apa yang coba diwujudkan.

Pertunjukan ini lahir dalam dua kali pertunjukan. Dalam susana pernikahan di kampung (Sanggar Seni Makan Ati), Pocèt untuk pertama kali bertemu dengan penontonnya, dengan lingkungan di mana dia dierami. Dan pada pertunjukan kedua dia lahir kembali sebagai Pocèt yang lain dalam suasana ludruk di aula pertunjukan Vihara Avalokitesvhara, bertemu dengan umat lain dari agama yang berbeda.

Saya merasa Pocèt–sebagai pertunjukan—masih harus diolah karena dia tidak akan berhenti tumbuh dalam ruang kreatif kami sebagai sebuah hasil kerja kolektif. Dia masih meminta pertanggungjawaban untuk terus kami asuh. Entah dia akan lahir dalam ruang karya yang seperti apa lagi, saya ragu menjawabnya. Yang jelas beberapa diantara kami berangkat dari pertemuan dengan Teater Garasi dalam workshop yang berbeda mulai berencana mewujudkannya dalam pertunjukan musik. Apakah itu Pocèt yang lain, saya belum tahu. Namun dari peristiwa ini sepertinya akan mulai lahir pertunjukan-pertunjukan lain—semoga saya tidak salah mengira-ngira. Yang apapun bentuknya nanti saya tidak sabar untuk mengunjunginya.

 

Fikril Akbar adalah anggota Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan dan sutradara pertunjukan Pocèt (#SeriPentasAntarRagam).

Pengalaman Pertemuan Masyarakat Lumpur dengan Teater Garasi

Oleh: R. Nike Dianita Febriyanti

Pada awal Februari 2017 Komunitas Masyarakat Lumpur kedatangan dua orang pegiat teater. Erythrina Baskoro dan Shohifur Ridho’i bertandang ke sanggar kami atas nama Teater Garasi. Jujur saja sebelumnya saya tidak tahu Teater Garasi, tapi setelah kehadiran keduanya saya jadi penasaran, secara tidak langsung jadi sering cari tahu kegiatan-kegiatan Teater Garasi. Pada awal pertemuan saya pribadi tidak berpikir apa-apa, saya hanya berfikir bahwa setiap kali berjumpa dengan orang baru maka bertambahlah relasi pertemanan saya, itu saja.

Perjumpaan kami dengan Teater Garasi di bulan Februari bukanlah sebuah perjumpaan yang sekadar kunjungan. Mengapa demikian? Karena di bulan April Teater Garasi yang kali ini diwakili Gunawan Maryanto kembali singgah di Sanggar kami membincangkan banyak hal, pengetahuan mengenai dunia kesenian, baik tentang teater maupun di luar teater.

Komunitas Masyarakat Lumpur benar-benar merasakan relasi yang cukup berpengaruh ketika Erythrina Baskoro datang menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2 yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur di Gedung Pratanu, Pendopo II Bangkalan.

Tidak berhenti di sini, di bulan berikutnya kami menerima undangan Workshop Penciptaan yang bertajuk Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia. Workshop ini berlangsung selama lima hari pada tanggal 13-17 Mei 2017, diselenggarakan oleh Teater Garasi bekerjasama dengan komunitas-komunitas teater dan sastra di Kabupaten Sampang, tempat diselenggarakannya workshop tersebut. Jumlah peserta kala itu kurang lebih 20 orang, perwakilan dari empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Workshop Penciptaan ini cukup memberi referensi yang berharga dan berpengaruh bagi keberlangsungan teater di Madura. Metode penciptaan yang ditawarkan oleh Teater Garasi membuka rongga pengetahuan dari perspektif lain bahwa sebuah karya sebaiknya diciptakan dengan tahapan dan target yang jelas.

Pasca Workshop Penciptaan di Sampang, saya berpikir bahwa waktu pertemuan dengan teman-teman dari Teater Garasi akan terbatas. Kala itu saya yang masih lugu tidak dapat membaca rencana apa yang sedang Teater Garasi ingin bangun di Madura, yang terbesit dalam pikir saya mengapa Garasi begitu baik membagi banyak pengetahuan dan perjalanan kelompoknya dalam bekesenian dengan begitu ramah dan terbuka. Di luar presepsi itu, saya ingat betul saat bulan Ramadhan tanggal 5 di bulan Juni 2017, saya mendapati handphone saya berbunyi tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Sebuah pesan dari Mbak Ery, begini kalimatnya “Selamat pagi Nike, apa kabar? Ini Ery-Teater Garasi, Gimana sudah ngobrol sama Mas Helmy?” Membaca pesan itu saya sedikit terkejut, bingung, dan bertanya-tanya. Tidak lama setelah itu Mbak Ery menelepon saya. Sebuah tawaran untuk saya mengikuti kegiatan residensi di Teater Garasi bersama satu teman dari Sampang dan dua orang dari Flores. Saya gemetar, bahagia, susah, bimbang menghantui kala itu. Ingin sekali rasanya langsung menerima kesempatan langka itu, akan tetapi tawaran durasi kegiatan yang selama enam minggulah yang menjadi pertimbangan saya. Sangat berat sekali sebab harus meninggalkan pekerjaan dan terutama izin kepada orang tua yang masih membuat diri saya sendiri merasa ragu.

Berjalannya waktu, semua yang terasa ragu akhirnya dapat terlewati. Izin orang tua sudah dikantongi, untuk urusan pekerjaan juga sudah mendapatkan izin. Sampailah pada tanggal 10 Juni 2017 saya berangkat dengan teman dari Sampang, Syamsul Arifin namanya.

Selama enam minggu di Jogja dalam rangka residensi, begitu banyak hal berharga yang  saya dapatkan. Mulai dari bertambahnya teman, mengenali banyak tempat di Jogja yang berkaitan dengan seni maupun tidak, menonton dan menghadiri acara-acara kesenian yang sedang berlangsung di Jogja. Sungguh, semuanya adalah hal yang sangat berharga bagi pengalaman hidup saya dan satu hal lagi yang membuat saya tak berhenti merasa beruntung berada di Jogja, tak hanya mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, saya juga belajar banyak hal mengenai Jogja dan Teater Garasi. Tentang seniman, manajemen, dan juga karya-karya Teater Garasi yang sangat menginspirasi dalam berkesenian di tempat saya tinggal, Bangkalan.

Setelah seluruh kegiatan Residensi selesai keesokan harinya saya diajak untuk membahas banyak hal. Dari beberapa hal yang paling ditekankan adalah tentang apa yang akan saya lakukan setelah kembali ke komunitas atau ke kampung halaman. Tentu saya akan membuat sebuah karya pertunjukan, karena memang itu yang terbersit di benak  kala itu. Saya juga diminta untuk menyampaikan beberapa ide awal yang sedang ingin saya rancang, atau apa yang mungkin saya gelisahkan saat ini. Saya menyampaikan dua poin yang mengganggu pikiran saya yaitu tentang perempuan (istri) pelayaran dan pertunjukan Soto Madura. Kedua kegelisahan ini yang saya sampaikan di hadapan rekan-rekan Teater Garasi, saya sedang gelisah dengan pertunjukan Soto Madura yang sebelumnya pernah saya teliti sebagai objek skripsi, menurut saya penelitian itu masih belum tuntas dan ingin rasanya saya juga mencoba untuk lebih mendalami lagi seperti apa pertunjukan Soto Madura itu, dengan terjun langsung ke dalam pertunjukannya.

Setibanya di Bangkalan, saya seperti baru pulang umroh. Teman-teman meminta saya menceritakan apa saja kisah-kisah dan pengalaman yang didapat selama di Jogja, bagaimana kehidupan di sana, betah atau tidak hidup di Jogja dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari setiap teman dan keluarga yang saya temui, situasi ini berlangsung selama satu minggu. Saya tidak pernah lelah bercerita pengalaman kepada teman-teman terutama kepada teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur. Bagaimana kesenian di Jogja begitu ramai dan hidup, sekecil apa pun sebuah karya di Jogja selalu dihargai. Diskusi-diskusi yang berlangsung di Jogja sungguh sangat ramah. Demikian saya bercerita dengan girang, sampai-sampai rasanya ingin kembali ke Jogja lagi.

Pada tanggal 4 September 2017 menjadi awal langkah saya memulai proses, saya mengajak beberapa calon aktor yang berdomisili Bangkalan untuk bertemu dan menawarkan konsep pertunjukan yang akan dilalui dalam proses secara bersama. Tanggal 6 September 2017 saya kembali menjumpai aktor yang kebetulan sedang tinggal di Surabaya. Tidak mudah mengambil keputusan ini, mengajak proses aktor-aktor yang memiliki jarak cukup jauh dengan tempat proses, akan tetapi segala risiko sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Berbekal dari pengalaman yang didapat selama workshop di Sampang dan Residensi di Jogja saya memakai pendekatan yang biasanya digunakan Teater Garasi dalam proses penciptaan karyanya dengan tahapan menemukan pertanyaan, riset/observasi, improvisasi, komposisi, kodifikasi, presentasi. Kami mulai mengaplikasikan tahapan yang digunakan oleh Teater Garasi dalam penciptaan karya kami di Bangkalan. Selama satu bulan kami melakukan tahapan latihan pra conditioning sambil lalu memasuki tahapan pertama yaitu membincangkan pertanyaan. Setelah satu bulan berlalu kami mulai melakukan riset (turun ke lapangan) bertemu dan berkomunikasi langsung dengan perempuan (istri) seorang pelayaran. Dari hasil riset, selanjutnya kami mendiskusikan bersama hasil temuan, mengembangkan pertanyaan dan membincangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dari hasil observasi yang pertama, kami mencoba melakukan improvisasi. Saat sampai pada tahapan ini, tim kekaryaan kami mendapat tawaran untuk pentas di Gresik Art Festival. Tawaran ini kami diskusikan dan hasilnya telah kami sepakati untuk mengambil kesempatan ini sebagai langkah work in progress. Oleh karena itu, kami mencoba mengolah data hasil observasi dan mempercepat tahapan latihan sebagai kebutuhan pertunjukan di Gresik Art Festival. Kami berhasil mengemas pertunjukan kecil yang diberi judul “Suara Perempuan” dalam durasi kurang lebih 25 menit.

Setelah pertunjukan “Suara Perempuan” dipentaskan, banyak evaluasi dan masukan yang membangun sebagai landasan untuk melanjutkan proses karya ini. Saya dengan tim kembali ke tahapan proses yang sudah tersusun sebelumnya. Kami melakukan tahap improvisasi dengan tambahan data. Selanjutnya kami melakukan kodifikasi sampai pada tahap komposisi. Menjalankan latihan sampai pada tahap ini benar-benar tidak mudah, mengingat domisili aktor yang tidak hanya berasal dari Bangkalan, melainkan juga di Surabaya. Terkadang, saya sebagai sutradara harus menjalankan latihan secara terpisah. Beberapa hari di Surabaya, beberapa hari lagi di Bangkalan. Proses ini melelahkan tapi juga menyenangkan. Saya pribadi menjadi lebih tertantang dengan adanya situasi ini, belajar manajemen waktu agar dapat efisien menjalankan target. Jatuh bangun sering terjadi, di tengah proses pernah rasanya ingin menyerah karena secara kerja kolektif kami sebagai komunitas saya merasa masih sangatlah kurang. Dari situ pula kemudian saya mempelajari bahwa kesenian merupakan kerja kolektif itu benar harus disadari dan penerapannya dalam bentuk kesadaran individu. Komunitas Masyarakat Lumpur harus lebih banyak belajar hal yang seharusnya mendasar ini.

Detik-detik menjelang pertunjukan, segala persiapan menjadi semakin gencar dilakukan. Persiapan panggung, properti, musik, kostum, publikasi, dan lain-lain. Tidak lupa kami mendiskusikan kembali terkait dengan judul pertunjukan yang akhirnya kami sepakati untuk merubah judul menjadi Perempuan dan Kapal yang Hilang. Seluruh tim bertanggungjawab pada tugasnya masing-masing sampai pada hari pertunjukan berlangsung. Proses panjang ini tentu saja tidak lepas dari bimbingan Teater Garasi, dengan ketersediaannya selalu memantau progres apa saja yang telah kami capai. Dengan setia mendampingi saya dan teman-teman untuk melalui kesulitan-kesulitan dalam langkah kami mewujudkan pertunjukan ini.

Dan tibalah hari pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, sepenuhnya saya percaya kepada seluruh tim bahwa mereka akan menjalankan tugasnya masing-masing. Meskipun masih terdapat kendala di sana sini terutama pada teknis saat pertunjukan berlangsung, semua itu terasa ringan dengan kehadiran penonton yang mencapai kurang lebih 500 orang. Sungguh, pertunjukan ini sepenuhnya telah kami persembahkan untuk seluruh penonton khususnya warga Bangkalan. Di antara sekian banyak penonton mereka hadir dengan tujuan masing-masing. Seluruh elemen berkumpul dan dengan seksama telah turut menjadi bagian dari pertunjukan Perempuan dan Kapal Yang Hilang ini. Sebagai sutradara saya tidak menyangka bahwa penonton akan memenuhi Pendopo Pratanu. Teater umum di Bangkalan memang sepi, Teater di Bangkalan tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah. Oleh karena itu beberapa penonton menyampaikan rasa haus dalam menonton pertunjukan teater semacam ini. Mereka berharap kepada Komunitas Masyarakat Lumpur untuk konsisten menggelar pertunjukan teater yang dapat di konsumsi oleh masyarakat umum.

Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya justru merasa takut kehilangan kesempatan untuk bisa melakukan proses besar seperti ini lagi. Proses kekaryaan ini sungguh sangat berharga, karena dengan proses ini saya pribadi banyak belajar tentang hal-hal yang baru. Misalnya, bagaimana mengatur waktu latihan dengan kepentingan masing-masing individu yang beragam. Bagaimana menggagas sebuah karya secara kolektif, Bagaimana karya ini dapat berkomunikasi dengan baik kepada penonton. Sungguh tidak mudah, tapi apa pun hasilnya yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kami telah berhasil melalui proses sampai pada tahap pertunjukan, bukan perkara sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan. Setelah pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang saya tetap berharap akan terus memiliki kesempatan berproses yang lebih baik lagi.

Pertemuan Komunitas Masyarakat Lumpur dan Teater Garasi juga memberi banyak pelajaran berharga kepada kami sebagai komunitas terutama dalam pengelolaan kelompok. Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang telah memberi motivasi kepada anggota komunitas lainnya, untuk kembali melanjutkan produksi teater di tahun 2018.

 

R. Nike Dianita Febriyanti adalah anggota Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan sutradara Pertunjukan Perempuan dan Kapal yang Hilang, satu karya yang menjadi bagian dari #SeriPentasAntarRagam (2017).

Catatan Peserta Madura

Fayat Muhammad

Language Theatre Indonesia, Sumenep

Peserta yang terdari dari empat daerah di Madura, berikut dengan kultur berbeda yang melatarinya, membuat saya banyak belajar tidak hanya dari Teater garasi, tapi juga dari teman-teman peserta. Di situ kami saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang situasi masing-masing. Workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” ini dilakukan secara sistematis, terperinci dan jelas. Mulai dari membawa isu yang ada pada benda, teks, dan image, sampai pada penubuhan dan prsentasi. Melalui pendekatan ini, saya mendapati kemungkinan-kemungkinan yang lebih kaya karena masing-masing peserta saling merespon dan melengkapi.

Rosi Praditya

Komunitas Stingghil Sampang

Workshop ini membangkitkan naluri dan sensitivitas saya terhadap lingkungan di sekitar melalui jalan seni. Semoga teater mempertemukan kita lagi di tempat-tempat lain. Salam sejuk buat Teater Garasi.

R. Dian Kunfillah

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

 Awalnya saya tidak mengerti mengapa kami diminta membawa benda, foto dan tulisan mengenai isu yang berada di tempat saya tinggal. Namun setelah melewati hari demi hari workshop, mulai terang jalurnya ketika kami bercerita tentang benda yang kami bawa. Pada akhirnya isu tersebut dimatangkan dan diwujudkan menjadi pertunjukan dan karya tersebut diciptakan dan disepakati bersama.

Semoga workshop ini terus berlanjut ke kegiatan-kegiatan yang lain.

R. Nike Dianita Febriyanti

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Mulanya saya sangat senang saat diberi kabar tentang workshop penciptaan dari Teater Garasi. Sungguh teramat senang. Akan tetapi saat mengetahui tanggal pelaksanaannya, saya merasa kecewa karena jadwalnya tidak cocok dengan agenda saya. Saya tahu yang tidak akan pernah kembali adalah waktu dan waktu memberi saya pilihan. Dan saya hatus memilih. Karena soal jadwal itulah saya hanya bisa ikut sampai tiga hari saja. Nah, di dalam tiga hari itu saya begitu sangat menikmati jalannya workshop. Memang sejak berangkat saya bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Materi workshop yang diberikan pada dasarnya sudah pernah saya peroleh sebelumnya saat studi di Sendratasik Unesa, misalnya saat masuk ke ‘praktik’. Tapi metode mencipta yang ‘sabar’ ini menarik bagi saya. Sabar? Iya. Bagi saya, workshop ini adalah proses penciptaan yang cukup sabar dan detail sekali. Tentu juga tidak menutup diri bahwa banyak hal baru juga yang saya peroleh dan tidak pernah saya dapatkan saat berproses selama ini. Misalnya proses penciptaan ide yang diawali dengan membawa benda, image, dan teks yang berangkat dari isu yang ada. Sampai akhirnya membuat peta konsep untuk mempermudah melakukan eksplorasi.

Tapi saya masih penasaran apakah dua hari yang tersisa itu adalah peristiwa-peristiwa yang menakjubkan, saya yakin iya. Maka saya iri dengan teman-teman yang dapat menuntaskan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” sampai selesai. Namun, meskipun hanya tiga hari materi yang saya ikuti, saya tetap bersyukur dan akan coba terapkan hasil workshop ini terhadap teman-teman dan murid-murid saya. Pasti berguna. Terimakasih Teater Garasi.

Suryadi Arfa

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Setelah mengikuti workshop dari tanggal 13-17 Mei 2017, saya mencatat beberapa hal penting dalam sebuah proses penciptaan, yaitu (1) betapa pentingnya mengangkat isu yang ada di sekitar kita, (2) penerapan metodologi yang sudah diformulasi oleh Teater Garasi sangat mempermudah dalam membuat karya, (3) bagaimana bentuk, waktu (tempo, durasi), garis, ruang yang dikelola dengan parameter yang ada akhirnya memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru dan tidak terduga, (4) pentingnya menghindari hal-hal yang abstrak dan memperjelas bentuk dan detail agar isu tersampaikan dengan baik.

Saya berharap Teater Garasi bersedia memantau perkembangan teman-teman peserta workshop sehingga dapat diketahui sejauh apa perkembangannya. Semoga workshop ini tidak selesai sampai di sini saja, besar harapan saya adanya kelanjutan proses untuk memperdalam ilmu yang telah diberikan.

Hoiri

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Pelajaran utama yang saya peroleh adalah pentingnya menciptakan karya yang berasal dari apa yang kita punya. Dan bagaimana modal tersebut dikelola melalui metodologi yang Teater Garasi tawarkan. Semoga setelah workshop ini Teater Garasi masih terus mengalirkan pengetahuannya, misalnya lewat pertunjukan sebagai pembelajaran dan referensi.

Hafiki

Sanggar Karapan Pamekasan

Banyak hal yang saya peroleh selama mengikuti workshop penciptaan ini. Metodologi penciptaan yang disampaikan Teater Garasi sangat rinci dan mudah dicerna. Bagi saya ini workshop yang berbeda dari workshop-workshop teater yang pernah saya ikuti sebelumnya.

Mudah-mudahan ini dapat berguna bagi perjalanan berkesenian saya selanjutnya. Selain itu, workshop ini membuat pegiat seni di Madura bisa bersatu, dan kini Sampang bukan lagi tempat ‘persimpangan’ orang-orang Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan, melainkan ‘bagian’ penting dari Madura.

Syamsul Arifin

Ujicoba Theatre Sampang

Di sini saya datang dan turut berpartisipasi dalam workshop penciptaan “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”.

Saya berteater untuk proses perbaikan diri. Saya menganggap bahwa teater sebagai jembatan pulang menuju diri sebab ia lahir dari kegelisahan saya tentang diri. Namun workshop ini mengantar saya pada situasi, problem dan isu di sekitar saya yang sebelumnya lepas dari perhatian saya.

Dari workshop ini semoga ke depannya, khususnya kehidupan teater di Madura, akan semakin berkembang dan baik. Semoga berkah. Terimakasih.

Lusi

Biruh Ompos Sampang

Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Itu yang menjadi pegangan hidup untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Begitu juga dengan proses yang telah saya ikuti selama lima hari ini sangat luar biasa untuk dijadikan modal dalam berkarya. Dan karena itulah yang membuat saya semakin tergoda untuk berkarya. Biarkan kami terus memikirkan dan menikmati apa yang telah diberikan Teater Garasi

Agus Alan Kusuma

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman Teater Garasi yang telah memberikan sesuatu yang segar dan baru pada ‘pengalaman’ berksenian saya. Workshop selama lima hari ini bagi saya merupakan lompatan kreativitas di mana seni dapat menjadi sesuatu yang berharga.

Selain pengalaman tersebut, metodologi yang ditawarkan dapat menjadi landasan penciptaan pada proses saya di kemudian hari. Semoga hasil workshop ini berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi lingkungan seni di Madura, minimal kelompok-kelompok yang turut berpartisipasi membuat pertunjukan berdasakan konsep penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi.

Pengetahuan yang berharga ini adalah bekal bagi pegiat seni generasi muda di Madura. Sekian dan terimakasih.

Syifa’uddin Addhohiri

Sanggar Padi Sumenep

Saya ucapkan terimakasih kepada Teater Garasi dengan segala hal yang diberikan kepada saya. Ucapan maaf tak terhingga kepada segenap teman-teman Garasi apabila selama workshop saya mempunyai salah yang tak disengaja maupun disengaja, saya mohon maaf.

Mengenai workshop yang sudah kita jalani bersama selama lima hari, saya kira sangat membantu teman-teman di Madura untuk proses penciptaan, karena dengan metodologi yang dibawa oleh Garasi ini akan mempermudah teman-teman menemukan sesuatu yang baru dan menyampaikan isu ‘yang ada’ di sekitar kita.

Setelah ini, saya akan mengajak teman-teman di komunitas saya untuk mencoba memakai metodologi yang ditawarkan oleh Teater Garasi.

Faizin Syafi’ie

Pamekasan

Berproses di worskhop Teater Garasi merupakan kesempatan yang sulit dan jarang didapatkan. Ini adalah kesempatan menarik bagi saya untuk ‘mengolah’ sesuatu yang saya miliki dengan bantuan rancangan konsep dari Teater Garasi.Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi adalah pengetahuan segar untuk pengembangan teater/kesenian di mana saya berada.

Harapan saya, Teater Garasi memberi bimbingan lanjutan kepada kami, karena bagaimanapun juga kami sangat ingin sekali mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang yang tinggal di kota, tempat di mana jaringan pengetahuan begitu mudah diperoleh.

Hayatik Handayani

Teater Tombak Sampang

Saya sangat mengapresiasi sekali kegiatan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” yang dibuat oleh Teater Garasi Yogyakarta. Banyak pengetahuan yang bisa saya ambil. Di workshop ini saya belajar hal baru yang tidak saya peroleh di workshop yang pernah saya ikuti sebelumnya. Pada kesempatan kali ini saya belajar menerjemahkan benda yang kemudian benda tersebut ditelusuri menjadi isu, lalu dikembangkan menjadi rupa, bentuk, gerak, cerita yang kemudian bisa diwujudkan menjadi pertunjukan teater.

Saya berharap Teater Garasi kembali ke Madura dan membuat kegiatan lagi di sini, menjadi promotor bagi pegiat seni di Madura, khususnya Sampang. Saya mengucapkan terimakasih atas ilmu yang diberikan kepada kami.

Matorsakalangkong taretan Jogja, sala lopot ta’ langkong saporaagi.

Didi Kurniawan

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi dan diterapkan dengan apik dalam workshop ini menambah keyakinan saya tentang fungsi teater dan cara mengolah bahan. Metodologi penciptaan ini juga dapat secara bijak kita terapkan pada proses kreatif bidang seni yang lain.

Workshop ini menawarkan proses kerja kolektif yang ‘berangkat dari yang ada’ dan menjawab pertanyaan atas situasi di sekitar kita. Keinginan setelah pulang dari workshop ini adalah menerapkan metodologi ini ke dalam proses teater kami. Semoga bekal yang kami dapat bisa dikembangkan.

Yuni Kartika Sari

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Tanggal 13-17 Mei 2017 adalah momentum penting yang terjadi di Sampang. Sebagaimana semesta mengatur segala dengan begitu arifnya hingga membawa saya pada pelatihan penciptaan yang diadakan oleh Teater Garasi. Banyak hal yang saya dapat dan nantinya bisa dibagi kepada orang lain.

Saya mengalami proses ketubuhan dan mengasah fungsi panca indera supaya bekerja lebih mendalam lagi. Merasakan garis-garis, bentuk, dan lain-lain. Tubuh keseharian seringkali membuat tubuh ‘mati’, namun dengan pelatihan ini, hal-hal yang sebelumnya tidak dilatih coba dihadirkan dan dialami kembali. Berteater adalah jawaban agar setiap diri menjadi peka. Harapannya, saya Bersama teman-teman Bawah Arus Bangkalan akan mengujicobakan konsep dan metodologi dari Teater Garasi. Terimakasih atas seluruhnya.

Lubet Arga Tengah

Rokateater Sumenep

Pengetahuan, pengalaman, dan kenangan. Ketiganya lahir dari sebuah peristiwa “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”. Kabar Teater Garasi hadir ke Madura merupakan catatan manis dalam harianku sebagai ‘seorang’ yang terlibat menciptakan momentum atau potongan mainan untuk menghibur dan memecahkan kebekuan yang sempat mengeram lama dalam kepala.

Dalam workshop penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi adalah jurus-jurus penjinak kemalasan. Jadi sebagai pencipta tidak hanya duduk manis dan tiba-tiba muncul karya dengan cara tidak ‘ruwet’, misalnya membuat karya cukup bermodal, naskah, aktor, dan kru, tapi tidak dengan metodologi sebagaimana yang ditawarkan Garasi. Model penciptaan begini benar-benar ‘brengsek’ karena telah berhasil membuat aku enggan berpaling dari kesenian, semakin menggoda untuk terus dicari dan dialami. Workshop ini membuat aku terus ingin berlanjut dan selalu belajar dan memperbarui pengalaman.

Selanjutnya, aku ingin mencoba menerapkan metodologi ini sebagai (1) karya dan (2) pelatihan-pelatihan kepada kelompok lain agar aku terus belajar dan merawat pengetahuan tentang workshop ini.

Fikril Akbar

Sanggar Makan Ati Pamekasan

Merasa sangat beruntung sekali saya bisa mengikuti workshop penciptaan ini. Teater Garasi mengajari cara berterimakasih kepada Madura den kepada alam yang bersedia menampung saya.

Tawaran metodologi workshop penciptaan “Berangkat Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” mulai memberi gambaran-gambaran bagaimana sebuah karya diciptakan dari modal yang ada. Menariknya, metodologi ini juga sangat terbuka dan bisa diterapkan di semua disiplin seni.

Harapan ke depannya semoga Teater Garasi lebih sering lagi mengadakan acara-acara semacam ini di Madura, dan tentu saja tulisan pendek ini tidak bisa menggambarkan perasaan betapa bangganya berproses Bersama Teater Garasi.

Matorsakalangkong Mas Yudi, Mas Gun, Mbak Ery, Mbak Lusi dan Bang Qomar. Kami tunggu di Pamekasan.