Fleksibilitas Pendekatan Penciptaan Bersama

Oleh: Haries Pribady

Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop penciptaan dengan melibatkan pelaku seni di Kota Singkawang. Dengan mengusung tema Bertolak Dari yang Ada, Bicara pada Dunia, workshop  dilaksanakan di Singkawang Cultural Center selama lima hari dari tanggal 26 April hingga 30 April 2018.

Workshop dipandu oleh empat orang instruktur, yakni Ugoran Prasad, Akbar Yumni, Arum Tresnaningtyas, dan Arsita Iswardhani. Penulis pada mulanya berpikir bahwa ini merupakan workshop teater. Hal ini mengingat instruktur workshop berasal dari Teater Garasi. Sebuah kelompok teater di Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, workshop penciptaan kali ini berbasis pada konsep bahwa sebuah karya bisa diciptakan dan dihubungkan dari ide banyak orang. Hal ini merupakan pengalaman baru penulis. Karena pada umumnya sebuah penciptaan karya baik itu sastra dan kriya, misalnya, mengandalkan intuisi dan imajinasi penciptanya sendiri. Penciptaan bersama menawarkan sebuah hal yang baru. Memang terlihat tidak biasa, tapi ini dilakukan atas upaya untuk mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiran-pikiran para pencipta. Workshop “penciptaan bersama” adalah upaya untuk mencari persinggungan antara tiap ide, sehingga pada akhirnya tercipta sesuatu yang mewakili setiap penciptanya.

Workshop penciptaan bersama dilakukan dengan santai. Dimulai dari pukul tiga sore hingga sepuluh malam, workshop dilalui oleh peserta dengan sangat nyaman. Tidak kaku dan jauh dari kesan formal, dalam workshop ini peserta diajak berdiskusi. Bahkan diskusi kelompok dilakukan selama dua hari berturut-turut hanya untuk menemukan ide awal.

Sebagian besar workshop dilakukan di dalam gedung teater. Namun beberapa kali instruktur mengajak peserta keluar ruangan untuk melakukan olah tubuh sambil mengenalkan materi viewpoints. Diskusi di awal-awal workshop pun dilaksanakan di luar ruangan sambil berselonjor di teras teater.

Secara umum, workshop yang dilalui oleh 30 peserta terbagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama, peserta diajak untuk merumuskan pertanyaan-pertanyan yang sifatnya kontekstual dengan realitas. Setelah itu, pertanyaan tersebut dielaborasi sehingga peserta menemukan persinggungan pertanyaan antarpeserta.

Setelah itu, persinggungan tersebut diubah ke dalam sebuah bentuk dasar. Di dalam workshop, bentuk dasar yang dipilih adalah berupa pose. Dengan level, tempo, dan jarak tertentu.  Dengan tetap berpegang pada persinggungan pertanyaan, pose yang dibentuk oleh setiap peserta dikolaborasikan dalam suatu panggung pertunjukan.

Ketika sampai di hari terakhir, penulis baru menyadari bahwa workshop kerangka penciptaan seni ini adalah kegiatan untuk menghasilkan sebuah pertunjukan tanpa berpegang pada naskah. Tentu ini merupakan sebuah hal yang menarik dan unik. Di dalam kajian dramatologi yang penulis ikuti beberapa tahun lalu, pendekatan penciptaan ini belum begitu populer, bahkan sama sekali tidak diajarkan.

Workshop kerangka penciptaan seni adalah sebuah pendekatan baru. Setelah ditelaah lebih lanjut, pendekatan ini tidak secara spesifik dikhususkan untuk penciptaan seni teater. Langkah-langkah yang ada di dalam pendekatan bisa diimplementasikan ke dalam penciptaan karya yang lain. Karya sastra dan karya seni rupa misalnya.

Dengan fleksibilitas yang dimilikinya, pendekatan ini memungkinkan sebuah karya diciptakan secara bersama. Bukan dengan mengenyampingkan ide-ide pencipta dan pelaku seni, justru pendekatan ini mampu membawa pencipta untuk bertemu dengan titik singgungan ide-ide pencipta. Hal ini  sangat bagus, mengingat bahwa salah satu kriteria karya seni yang baik bukan hanya berpatokan pada estetika, melainkan juga pada kemampuannya merepresentasikan realitas lewat sebuah ciptaan.  Satu hal yang paling penting, pendekatan ini menjadikan sebuah teater tidak hanya sebatas media pertunjukan, melainkan membentuk teater sebagai perepresentasi dan pembentuk realitas. Dua hal yang bisa dilaksanakan oleh sebuah karya secara bersamaan.

Singkawang, 30 Mei 2018

Foto oleh Juan Arminandi