Entitas Pulau Bungin Sebagai Wilayah Pesisir

Venti Wijayanti

Setelah beberapa hari sampai di Sumbawa, kami sudah melalui pertemuan dengan  beberapa komunitas seni yang tumbuh di sana. Komunitas seni anak muda pada  umumnya menarik, seperti Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art, dan  di bidang musik ada Ferdi dan Akbar yang tergabung dalam Indimusic Movement.

Berkesenian menurut mereka tidak sama dengan orang-orang berkesenian di Sumbawa pada umumnya, kesenian merupakan bentuk dari usaha kreatif mencipta untuk bersuara. Sehingga kegiatan berkesenian bagi komunitas anak-anak muda ini selalu dihidupi dengan usaha mewujudkan ide mereka atas respon kesenian yang berbentuk festival dan proyek.

Pertemuan dengan komunitas seni anak-anak muda di Sumbawa Besar membawa penasaran kami dengan bentuk seni dan budaya yang ada di daerah-daerah lainnya di Sumbawa. Saya, Lusi, Dendi dan Ridho merencanakan perjalanan ke Pulau Bungin pada Senin, 5 Maret. Perjalanan dilakukan dari pagi melewati daerah bernama Rhee, yang sepajang jalan wilayah tersebut menjual jagung dengan biji berwarna putih atau jagung ketan. Sesampainya di Pulau Bungin dengan melalui jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Sumbawa Besar. Lanskap wilayah pesisir ini memiliki keunikan tersendiri yang membawa penasaran saya untuk mencari tahu banyak tentang Pulau Bungin. Ingatan visual saya terpikat dengan adanya pemandangan laut pinggir pantai, batu-batu karang sebagai pondasi rumah, sampah berserakan, pola susunan rumah panggung, anak-anak kecil bermain air di Dermaga, kambing, dan tanaman berjaring.

Bungin terletak di kecamatan Alas, yang posisinya di bagian Utara Sumbawa Besar. Bungin memiliki 15 RT yang dibagi menjadi 3 Dusun, yaitu Dusun Tanjung (RT 1 – 5), Dusun Sakatek (RT 6 – 10), Dusun Bungin Tenggiri (RT 11 – 15). Banyak media meliput dan memberitakan bahwa Pulau ini sebagai daerah terpadat di Dunia. Pada saat Teater Garasi berkesempatan mengunjungi dan mengenal kesenian dan budaya di Pulau Bungin, saya menemukan keterangan bahwa Pulau ini sebagai Pemukiman Terduga Kumuh oleh lembaga pemerintah Pekerjaan Umum program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) pada tahun 2016. Hal ini memberikan asumsi bahwa Pulau Bungin masih gamang ditetapkan sebagai Pemukiman Terduga Kumuh. Penetapan ini bisa jadi terlalu gegabah, dan secara psikologis memungkinkan adanya dampak pernyataan tersebut terhadap penduduk Pulau Bungin. Asumsi ini jika dikaitkan dengan keunikan Bungin sebagai pulau dan kota pemukiman satelit dengan kehidupan sederhana sudah bisa dikatakan seperti itu. Potensi Bungin yang warganya merupakan suku Bajo dan Bugis , yang memiliki nenek moyang dari Selayar sudah telihat kekhasannya sebagai kota pesisir. Ketika penilaian program Kotaku tahun 2016 menunjukan bahwa Pulau ini menarik perhatian.

Perluasan atau reklamasi pulau Bungin semakin tahun semakin menjadi, pada awalnya tradisi untuk merperluas wilayah dikarenakan adanya pernikahan. Pernikahan mengharuskan pria yang berasal dari lain daerah yang akan meminang gadis Bungin, mengumpulkan sebanyak-banyaknya batu karang dari pinggir pantai untuk membangun fondasi rumah. Rumah yang ada di Bungin berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu. Kepadatan penduduk Pulau Bungin berawal dari adanya pernikahan dan beranak pinak, sehingga perluasan wilayah pesisir ini semakin tidak  terbendung. Bungin mengalami reklamasi pertama besar-besaran adalah tahun 2012 dan saat ini terjadi semakin luas. Mata pencaharian dari penduduk Pulau Bungin adalah pelaut atau nelayan ikan, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki yang melaut sampai Kupang, bahkan Timor Leste, wilayah yang masih memiliki hasil laut yang beragam. Biasanya mencari biota laut, seperti ikan hias atau terumbu karang untuk dijual.

Vegetasi tanaman yang tumbuh di Bungin sangatlah jarang dan terhambat pertumbuhannya karena wilayah pesisir yang gersang dan belum terolah sistem pertanamannya. Terbatasnya vegetasi tidak semata-mata karena wilayahnya yang sulit untuk dibudidayakan tanaman, tetapi ada penyebab lain yaitu karena habitat kambing. Tanaman di Bungin harus ekstra perlindungan jika ingin pertumbuhannya berlangsung lama dan tetap indah dipandang dengan cara memberikan pagar dari bambu atau jaring-jaring. Perlindungan ini merupakan usaha penduduk untuk memiliki vegetasi tanaman dan melindunginya dari serangan hama kambing.

Keberadaan kambing yang terlalu banyak populasinya di Bungin adalah petakan bagi pertumbuhan tanaman. Masyarakat Pulau Bungin memelihara kambing sebagai hewan ternak dan investasi jangka panjang, tetapi juga menjadi hama bagi warganya. Hal ini dikarenakan sulitnya pertumbuhan lahan hijau, sehingga kambing harus hidup dengan makan sampah rumah tangga bahkan kertas. Kambing dibiarkan hidup bebas dan berkeliaran mencari makan. Pada suatu saat ada musibah yang dialami oleh kantor Desa Bungin, pada saat staff tidak ada dan keadaan kantor terbuka, kambing menyerang masuk ke kantor dan memakan banyak arsip dokumen Desa. Alhasil Kepala Desa berserta staffnya kelabakan dengan adanya penyerangan hama kambing. Cara survive kambing investasi tersebut memang jelas akan menguntungkan empunya karena tidak perlu memberinya makan tetapi hal ini mengakibatkan kambing terserang penyakit scabies, sejenis penyakit kulit pada hewan yang kurang nutrisi.

Penduduk Bungin juga banyak dihuni dengan anak-anak kecil dan orang dewasa usia produktif. Di Bungin terdapat sekolah atau institusi pendidikan untuk anak-anak dari PAUD, TK, SD, sampai SMP. Para orang tua bisa menyekolahkan anaknya di Bungin sampai SMP, dan akan mengirimkan anaknya sekolah di daerah terdekat untuk tingkat SMA dan untuk tingkat Universitas biasanya memilih di Mataram atau Bali. Pilihan menyekolahkan ke Universitas, jika keluarganya mampu untuk menyekolahkan anaknya pada tahap pendidikan tersebut. Pendidikan masyarakat Bungin masih rendah, banyak yang hanya lulus SMA, dan tidak sampai menempuh pendidikan SMA. Biasanya generasi muda Bungin banyak yang lulus SMA memilih untuk berkerja sebagai pegawai waralaba di Bali atau Mataram, kota maju yang letaknya dekat dengan Bungin. Banyak juga yang lulus sekolah Pariwisata dan berkerja sebagai pegawai Hotel di Bali dan Lombok. Pekerjaan di Hotel menjadi tawaran yang menarik pada generasi muda karena akan mendapatkan gaji yang banyak, dan hanya bermodal bisa bahasa Inggris.

Alat transportasi utama di bungin adalah Jhonson yaitu perahu motor kecil, untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lainnya. Biasanya digunakan untuk bekerja, berpergian, atau berangkat ke sekolah. Jhonson sangatlah popular sebagai alat transportasi di wilayah pesisir, tetapi karena Pulau Bungin sendiri sekarang sudah ada jembatan jalan darat yang menghubungkan langsung dengan kota jadi kebutuhan akan Jhonson sudah tidak seistimewa dulu lagi. Karena penduduk sudah dimudahkan dengan alat transportasi sepeda motor. Jhonson tetap dipakai untuk mengirim barang-barang dagangan dan perlengkapan upacara adat Tibaraki yaitu bambu dan pohon pisang.

Upacara adat Tibaraki adalah sejenis upacara larung yang biasanya diselenggarakan jika ada penduduk Bungin yang mengalami sakit. Upacara ini dilakukan dengan melarung kepala kerbau dan menggunakan Sandro (dukun) untuk menjalankan upacara. Tibaraki merupakan upacara yang berkaitan dengan tradisi larung yang berdasarkan dengan adat nenek moyang dan kehidupan masyarakat dari laut.

Upacara ini memiliki bentuk khas perempuan dan terdapat tarian yang harus ditarikan oleh perempuan, selain itu disiapkan perlengkapan rias dan memasak. Biasanya Tibaraki berlangsung lama dan tidak dapat dijadwalkan akan selesai kapan, karena Sandro menunggu penari atau orang yang ikut upacara adat ini trans, dan Sandro bertugas untuk membahasakan maksud dari orang trans tersebut. Kaitannya dengan perlengkapan upacara dan durasi upacara yang panjang, Tibarakimembutuhkan anggaran yang banyak.

Kesenian di Bungin terdapat tari dan musik, yang semua kaitanya dengan upacara adat dan festival atau lomba. Dewi Astuti merupakan penari yang memiliki Sanggar Mutiara yang dia kelola sejak tahun 2012, sepeninggal ibunya yang merupakan pendiri sanggar tersebut bersama dengan Ibu Nilam. Dewi bergerak di tari kreasi baru, sedangkan Ibu Nilam menekuni tari tradisi yang sesuai pakem. Tari di Bungin terkendala oleh regenerasi pemusik yang bertugas mengiringi penari pada saat pentas. Pemusik kebanyakan yang ada sudah berumur tua dan mereka memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Pemerintahan (PNS) sehingga pada saat ada pementasan harus dijadwalkan lama sebelumnya. Pemusik di tari biasanya sebagai pemain Tipiu, sejenis alat musik seruling. Jika tidak ada pemusik, maka penari tidak bisa pentas. Hal ini menjadi problem penting di kesenian tradisi di Bungin. Dewi biasanya melatih tari di sanggar pada hari Minggu sore atau terkadang juga pada hari libur aka nada jadwal menari. Peserta tari di Sanggar Mutiara pada umumnya anak-anak SD.

Mereka berlatih rutin untuk mengisi kegiatan atau jika ada undangan dari Desa untuk mengirimkan perwakilan lomba di Kecamatan. Pulau Bungin sering kedatangan tourist yang melakukan perjalanan dari Lombok yang akan ke Labuan Bajo, biasanya kapal akan berlabuh di Dermaga Pulau Bungin. Para agen travel biasanya menghubungi Dewi untuk menyambut tamu dengan tarian selamat datang di Dermaga. Secara pribadi Dewi menjelaskan bahwa dengan adanya tourist berarti bisa menambah penghasilan pada Dewi yang bekerja sebagai Guru Honorer SD di Bungin.