Membincangkan Madura: Tentang Tanah yang Ia Pijak

Oleh Renee Sari Wulan

I

Udara terasa sejuk berangin ketika aku menapak keluar mobil di pelataran vihara sore itu. Bergegas aku mengedarkan pandangan mencari tempat diskusi karena waktu sudah menunjukkan pukul 16 lewat. Aku terlambat satu jam dari jadwal diskusi yang kulihat di poster acara. Mobil yang mengantarku berhenti di sisi pendopo yang menjadi tempat perhelatan wayang kulit. Di barat pendopo kulihat ada bangunan kecil bertuliskan “Kantin”. Suara hati mendorongku bergerak ke sana, apalagi kulihat mas Cindil (Gunawan Maryanto), seorang teman dari Teater Garasi, melambai padaku dari kejauhan. Aku bergegas menghampirinya, kami bersalaman, bertukar sapa sejenak, lalu kudengar seruan di sisi kananku menyapaku, dia adalah Sita, aktor Teater Garasi juga. Kami berpelukan. Ini adalah perjumpaanku selanjutnya dengan mereka berdua setelah kami bertemu awal September yang lalu di acara Asian Dramaturg Network, yang berlokasi di Yogyakarta. Mas Cindil dan Sita mengarahkanku memasuki kantin yang rupanya menjadi tempat diskusi. Segera aku masuk dan mencari kursi kosong. Aku mendapatkan kursi di deretan belakang dan mulai menyimak diskusi. Pemantik diskusi yang tengah berbicara saat itu adalah Kyai M. Faizi dari Sumenep. Reflek aku menengok ke sisi kananku, kujumpai sederetan buku dipajang untuk dijual. Sambil telingaku berusaha terus menangkap pembicaraan kiai Faizi, mataku jelalatan ke deretan buku-buku itu. Di deretan paling dekat denganku kujumpai 3 buku kiai Faizi, dua buku tentang catatan perjalanan buah pengalaman di bis dan terminal-terminal yang ia kunjungi, satu buku tentang tafsir puisi. Segera kubeli dua buku catatan perjalanan tersebut, ditambah sebuah buku catatan keseharian karya Novie Chamelia. Kembali kusimak diskusi.

II

Dari hal-hal yang beliau utarakan dalam diskusi maupun dari buku karangan beliau yang sempat sekilas kubaca, aku langsung gandrung dengan kiai Faizi. Kiai yang mengasuh pondok pesantren Annuqayah tersebut menjelaskan dengan lugas persoalan tanah di Madura berikut penyikapan orang Madura sendiri atas tanah sebagai budaya maupun  aset ekonomi-politik. Ia menyatakan bahwa berbicara tentang  tanah adalah berbicara tentang perspektif. Perspektif kosmologi akan melihat tanah sebagai lokus, pertemuan hidup dan mati. Tanah memiliki karakter ekologi, manusia memiliki kekuatan untuk menafsir sebagai subjek.

Bagi orang Madura narasi tanah dibicarakan dalam tiga hal besar: tanah waris (tana sangkol), tradisi/ritual turun tanah atau berpijak pada tanah bagi bayi memasuki usia tujuh bulan (toron tana), dan ruwatan tanah/bumi memohon keselamatan-kesejahteraan hidup  dan keberhasilan panen sekaligus rasa syukur atas keberkahan berupa tanah yang subur (rokat tana atau rokat bume).

Pada perjalanan selanjutnya, terutama diperkuat dengan hadirnya jembatan Suramadu, yang awalnya dimaksudkan untuk mengangkat perekonomian di Madura, alhasil yang banyak terjadi adalah justru semakin banyaknya kelas menengah di Madura yang membelanjakan hartanya di luar Madura, dan hadirnya korporasi dengan ketamakan yang semakin kencang lajunya, melahap bumi Madura dengan segala isinya. Dampak lain dari jembatan Suramadu adalah semakin membanjirnya pendatang, namun perputaran uang masih lebih banyak terjadi di luar Madura.

Sebelum  jembatan Suramadu, pada masa Orba muncul kasus waduk Nipah, di mana masyarakat Madura berhadapan dengan negara dan korporasi sekaligus. Pembicara kedua, kiai Dardiri Zubairi (Sumenep), menyatakan bahwa ke depan masyarakat akan lebih banyak berhadapan dengan korporasi. Apalagi jenis bebatuan di Madura serupa dengan Kendeng. Maka ancaman serius bagi Madura jika pembongkaran batu yang dilakukan secara besar-besaran dibiarkan bebas terjadi tanpa ada pengaturan resmi dari pemerintah daerah, tahun 2030 Madura akan kering kerontang kehabisan air dan tanah.

Karenanya mitos perlu dirawat untuk untuk menjadi filter yang berkaitan dengan isu ekologi. Dalam buku Teologi Tanah disebutkan bahwa agama bisa dijadikan basis perlawanan untuk mempertahankan ruang dan tanah. Kapitalisme membutuhkan ruang, yang menyebabkan tanah masyarakat semakin minim.

Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh kiai Faizi: “bukit kapur itu sepertimu, yang diamanahkan untuk dirawat.”

Keluar dari ruang diskusi, aku merasa mendapat kabar gembira bahwa Madura pun bergeliat, bukan ruang hampa yang tak bergeming dengan kompleksitas dan dinamika manusia hari ini. Madura memiliki “orang-orang asyik” yang siap memperjuangkan tanah-bumi pijakannya, dengan gelora yang tinggi.

Lalu bagaimanakah tafsir tanah dan kompleksitas itu di ruang seni pertunjukan?

III

Sambil menunggu waktu pertunjukan, aku menyempatkan berkeliling mengitari kompleks vihara. Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) Pamekasan dibangun sekitar awal abad 20, merupakan satu dari tiga kelenteng di Madura. Patung-patung di sana merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dengan patung Budha dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di dataran Cina. Kompleks vihara ini memiliki keunikan karena memberi ruang juga bagi tempat peribadatan umat lain, yaitu pura dan musholla. Waktu di sana aku hanya melihat musholla saja yang terletak di samping kanan vihara. Keterbukaan semacam ini sungguh menyejukkan, tak heran jika mereka pun terbuka dengan penyelenggaraan Remo Teater Madura di dalam areal kompleks vihara tersebut. Semangat ini bertaut dengan semangat seniman dan pelaku seni budaya Madura yang bergerak mengawal, membaca, dan mengkritisi berbagai perkembangan di ruang sosial Madura, dengan segala kompleksitas dan dinamikanya dari waktu ke waktu.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, panitia mengarahkan kami menuju tanah lapang di luar area kompleks vihara, untuk melihat pertunjukan pertama. Ini adalah pertunjukan teater karya Wail Irsyad bertajuk Tabak. Ia mengambil gagasan dari tanaman tembakau yang akrab dengannya waktu ia kecil. Wail telah lama meninggalkan Madura, ia hijrah ke Bandung. Karena itu ia dipilih panitia Remo Teater  Madura untuk mementaskan karya hasil pembacaannya atas Madura kini sebagai warga diaspora Madura.

Aku bergegas menuju tanah lapang di luar pintu gerbang vihara. Diiringi gelap, nyaris tak ada cahaya di jalan, hanya lampu yang disiapkan beberapa untuk kebutuhan pementasan. Kulihat orang telah berkerumun mengelilingi suatu tempat agak ke tengah lapangan. Tanah yang kuinjak adalah tanah-tanah berbongkah, bukan dataran yang rata, sehingga aku harus berhati-hati melangkah  sekaligus bergegas agar masih mendapatkan posisi menonton yang nyaman. Objek yang dilihat penonton adalah seorang laki-laki yang tengah berproses dengan tubuhnya. Ia bergerak, menggeliat, membungkuk, kadang berjalan lalu tersungkur. Ia berjalan menghampiri bilah semacam anyaman bambu dengan ukuran hampir sama dengan tubuhnya. Ia angkat lalu ia seret bilah itu. Bergerak menuju vihara. Di belakangnya empat laki-laki menyorotkan cahaya ke arahnya, dan turut bergerak mengikutinya. Mereka berjalan memasuki kompleks vihara, berhenti di halaman samping pendopo. Empat laki-laki bergerak menghampiri laki-laki yang membawa bilah anyaman bambu. Mereka menarik laki-laki itu, mengangkat, lalu menghempaskannya lagi di atas bilahan kayu. Saling tarik dalam ketegangan. Lalu mereka membiarkan laki-laki itu berjalan sendiri memasuki ruang pameran. Di dalam ruangan, laki-laki tadi menghampiri gundukan tanah dengan tanaman tembakau di atasnya. Ia duduk bersila seperti bersemedi, lalu bergerak diiringi vokal seorang laki-laki di sisi kanannya. Kadang ia letakkan tanah dan tanaman itu di atas kepalanya sambil terus bergerak. Empat pemuda yang mengikutinya berdiri berjajar diagonal di depannya, sambil mengeluarkan suara. Formasi berubah, dengan suara tetap berbunyi. Kemudian lampu padam. Penonton berpindah ke ruang pertunjukan di samping ruang pameran.

Pertunjukan kedua bertajuk Tera’Ta’Adhamar, produksi Kikana Arts Production Sampang. Didukung oleh empat penari laki-laki dan dua penari perempuan. Mereka berkostum putih dan sesekali ada ungkapan monolog. Karya ini ingin berbagi gagasan tentang ‘keinginan’.

Pertunjukan ketiga adalah pertunjukan penutup. Karya terbaru Hari Ghulur sekembali ia mengikuti program American Dance Festival (ADF). Didukung enam penari (empat perempuan, dua laki-laki) memakai kostum hitam dengan potongan model berbeda. Sesuai dengan judulnya; White Stone (Batu Putih), Hari ingin berungkap tentang watak manusia Madura yang seperti batu putih, keras namun mudah dibentuk. Batu putih atau atu kapur sendiri merupakan hasil sumber daya alam di Madura, biasa digunakan masyarakat untuk mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

IV

Pada karya Wail saya mendapat pesan bahwa tanah yang kita pijak tak selamanya stabil. Ketidakstabilan yang membuat kita berputar, bersiasat, menelusuri. Demikian pula manusianya. Tak ada jaminan bahwa keduanya akan stabil selamanya. Di situlah pertarungan terjadi, karena manusia lebih menginginkan kestabilan. Sayangnya, kembali pada konteks tanah dan korporasi, kestabilan itu (baca: harmoni, keseimbangan) sering didapat dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, misalnya dengan mengikuti keinginan pemodal yang merugikan masyarakat. Ketika Wail meletakkan tanah dan tembakau di kepalanya, saya menangkap pesan bahwa di sisi lain, manusia rela menggantikan tanah, agar tembakau tetap tumbuh.

Hal ini bersambung dengan karya kedua yang bicara tentang harapan/keinginan. Akhir dari karya ini adalah ketika seorang laki-laki berdiri membawa cahaya. Agak berbeda dengan apa yang ingin disampaikan kreator, bahwa yang menjadi cahaya manusia dalam meraih keinginannya adalah ketulusan hati, bagi saya cahaya itu secara kuat melambangkan keinginan. Keinginanlah yang membuat manusia bergerak (hidup). Hal ini dinyatakan dengan gamblang dalam ungkapan menjelang akhir pertunjukan: “keinginanmu laksana cahaya, yang berpendar seperti kunang-kunang”. Tanah pun memiliki keinginan.

Dalam forum kreator yang dilakukan seusai pertunjukan, Rahman sebagai kreator mengungkapkan bahwa ia telah lama meninggalkan panggung kontemporer, lebih banyak melakukan pentas-pentas tari tradisi berdasaran pesanan. Namun, melihat karyanya malam itu, bagi saya istimewa karena di sana saya menjumpai tubuh-tubuh yang bergerak natural dan kuat. Hal ini terjadi pada penari laki-laki. Saya tidak melihat kegamangan mereka dalam bergerak, pilihan kosa-geraknya pun bagus. Mereka menginterpretasikan itu dengan tubuhnya, dan berhasil untuk tidak berjarak (antara tubuh yang bergerak dengan kosa-gerak yang memotivasinya). Tubuh mereka hadir sebagai proses pencarian yang benar-benar mereka lakukan.  Jika dianalogikan dengan kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini: motivasi gerak adalah tongkat kayu; yang terjadi adalah bisa dua kemungkinan. Pertama tubuh yang bergerak agar bisa menjadi tongkat kayu (tubuh sedang menuju wujud tongkat kayu, namun belum sampai). Kedua, tubuh yang telah menjadi tongkat kayu dengan tafsir masing-masing (tubuh sudah sampai/menemukan wujud tongkat kayu itu sesuai penafsirannya). Kemungkinan pertama terjadi pada penari perempuan, kemungkinan kedua terjadi pada penari laki-laki.

Selain tubuh yang belum sampai, hal lain yang terjadi pada penari perempuan adalah masih terbebani karakter kosa-gerak tradisi.

Berikutnya adalah pertunjukan White Stone. Dalam catatan koreografinya, Hari Ghulur menyatakan bahwa karya ini hasil kerja studio yang ia jadikan laboratorium tari sekembali ia dari American Dance Festival dua bulan lalu. Kerja laboratorium ini mengujicobakan olah gerak dengan ‘emosi’ dan ‘impresi’. Selain itu ia menjadikan pencak silat Pamur, salah satu gaya pencak silat Madura dari Pamekasan, yang ia pelajari waktu SD, sebagai basis gerak dalam karya ini yang ia kombinasikan dengan teknik ‘Gaga’: sebuah teknik yang mendorong tubuh melakukan pencapaian maksimal atas gerak, dengan cara menghidupkan engine (energi, daya kekuatan/power, rasa/feel) tubuh. Menurut Hari, pencak silat merupakan basis pengendalian diri dan perlindungan bagi masyarakat Madura, karena pada umumnya mereka memiliki kultur merantau (ongga’). Spirit yang ia ambil di karya ini adalah menghindar, menyerang, dan bertahan.

White Stone atau batu putih dalam karya ini adalah tanda orang Madura dalam perspektif Hari, yang keras namun mudah dibentuk. Baginya, masyarakat Madura memiliki watak pekerja keras dan terbuka. Hal ini dipengaruhi oleh kultur kerja di persawahan yang gersang dan cara hidup kolektif.

Enam penari berkostum hitam dengan karakter masing-masing memperlihatkan ragam gerak silat yang berbaur dengan olah gerak lain, dihadirkan dengan intensitas yang kuat dan dipadu dengan tempo yang cepat. Gerakan ini mendominasi hampir seluruh koreografi. Dalam karya ini silat hadir dalam konteksnya sendiri sebagai bentuk ‘pertahanan dan serangan (perlindungan)’, maupun dalam konteks tari/gerak sebagai ekspresi di ruang koreografi kontemporer. Silat melebur dalam ekspresi tari dengan penggalan-penggalan atau potongan-potongan ragam geraknya yang menyatu dengan gerak lain yang mewujud sebagai ekspresi baru. Bentuk serangan dan kebertahanan diri hadir dalam ‘ruang yang lain’, mengarah pada ekspresi atau ungkapan tertentu yang berbeda dengan konteks silat di luar bingkai karya koreografi kontemporer. Di tangan Hari, kehadiran ragam gerak silat mulus berkelindan dengan elemen-elemen yang lain. Paduan itu tampil cantik. Hari berhasil melakukan transformasi tubuh pada penarinya.

Apabila Hari mengangkat batu putih sebagai bahan dasar koreografinya, saya melihat ini sebagai pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan ‘keras’ sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Madura. Terik matahari, batu putih, tanah merah, garam, kulit legam adalah lanskap hidup orang Madura. Sebagai bukan orang Madura, saya merasakan itu sebagai ketidaknyamanan, dan ketidaknyamanan itu saya rasakan pula di panggung Hari. Kini, ketika sebagian besar masyarakat/rakyat negeri ini harus berhadapan dengan kuasa modal dan keserakahan, bagaimana peninggalan leluhur seperti silat, mampu ‘berbicara’ atau berperan?

Dalam White Stone saya melihat silat terpenggal dalam ketakberdayaan. Silat sebagai bagian dari “tubuh Madura” turut terkoyak. Pertanyaannya, apakah perlu dilahirkan ‘silat’ baru?

V

Seluruh perhelatan ini merupakan bagian dari Remo Teater Madura, sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik yang tinggal di Madura maupun di luar Madura (diaspora). Festival ini adalah kerjasama antara sejumlah seniman Madura, Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dan Vihara Avalokitesvara, Pamekasa. Forum ini bertujuan membangun infrastruktur pengetahuan kesenian dengan menggali potensi lokal sebagai basis penciptaan seni, sekaligus membangun jaringan antar komunitas dan warga dalam rangka mewujudkan kerja-kerja kolektif dan organik.

Kami Takut Lapar (Remo Teater Madura)

Oleh Ambrosius Harto

 

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Di bawah temaram pendar lampu, sambil memegang gedek, dua pemuda yang cuma bercelana pendek itu menuding dan berteriak secara berbarengan. ”Yang kami takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang berambut ikal. ”Yang aku takutkan bukan mati, tapi lapar,” kata yang bercaping.

Berkali-kali kalimat itu dilantangkan seakan mantra yang hendak menusuk dan mencuci otak penonton pertunjukan SAPAmengkang oleh UjiCoba Teater Sampang, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Di awal, kedua pelakon itu bersimpuh saling berhadapan di atas gedek bergetas dan berdebu. Lempung dan bubuk tanah itu mereka balurkan pada tubuh. Setelah itu, keduanya berkidung meski nadanya terdengar lirih dan menyayat. Seusai tembang, mereka mengambil alu dan menumbuk gedek itu dengan aksen sehingga tercipta lagu.

Saat tubrukan masih berdendang, sutradara Syamsul Arifin datang ke panggung dan berbicara tentang narasi pementasan. Rakyat ”Pulau Garam”, julukan Madura, berkeyakinan teguh bahwa tanah harus dipertahankan. Salah satunya tana sangkol atau tanah warisan yang mempertautkan kehidupan generasi sekarang dengan leluhur dan penerus.

Seperti apa tanggung jawab masyarakat Madura atas lahan yang dipercayakan, diwariskan, diberikan, didapat dari leluhur? Apakah dijaga, dirawat, dikembangkan atau dibagi, diwakafkan, dijual, diobral, ditelantarkan? Apa negosiasi, strategi, dan tradisi yang akan ditempuh? Bagaimana masa depan Madura terutama manusianya?

Mungkin saat ini atau mendatang, Madura seperti kedua pelakon itu di panggung. Ada yang sendiri menampi beras sampai jatuh dan terkulai tak sadarkan diri. Bisa juga yang satu memegang bilik, sedangkan lainnya terus menggedor. Atau keduanya memegang alu sambil berusaha menaikkan caping di ujung lesung, tetapi kemudian berebut menjatuhkannya atau menegakkannya. Saat tudung itu jatuh dan hanya satu pemegang lesung, yang lain tertunduk. Kalah.

Barangkali juga tergambar dalam adegan saat mereka berebut menguasai gedek sampai salah satu tersungkur. Yang menang bolak-balik menarik bilik seolah menunjukkan keberhakan untuk membudidayakan tanah. Yang jatuh terbangun dan sadar telah kehilangan yang berharga dan mencoba merebut kembali, tetapi terus terjungkal dan tak berdaya di hadapan kuasa.

”Sangkal”

SAPAmengkang merupakan pementasan kedua pada hari pertama Remo Teater Madura di lingkungan wihara di Dusun Candi, Desa Pogalan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, itu. Remo ini bukan nama tari khas Jawa Timur, melainkan tradisi arisan dan atau pertemuan antarwarga antarseniman untuk interaksi sosial budaya. Rangkaian acara berlangsung sampai dengan Minggu (30/9) lewat tengah malam.

Drama berjudul Sangkal oleh Lorong Art Pamekasan menjadi pementasan pertama Remo Teater Madura yang merupakan festival seni pertunjukan dan forum pertemuan antarseniman Madura. Sangkal mungkin hendak menceritakan kutukan akibat pelanggaran tradisi sehingga seorang perempuan terutama selalu gagal mendapat lelaki untuk dinikahi.

Gadis itu berdiri dan berteriak di mimbar tinggi. Di bawahnya empat lelaki bertelanjang dada komat-kamit dan seolah berebut ingin menggapai sang perempuan. Kemudian, rombongan datang dan menaruh hantaran lamaran. Si dara turun dan digandeng oleh seorang lelaki mendekati hantaran. Ia mengamati, mengambil sebagian persembahan itu, tetapi kemudian membuang semuanya dari meja. ”Aku tidak sudi,” katanya berteriak lantang lalu kembali ke balkon.

Pentas drama Sangkal oleh Lorong Art (Pamekasan) di hari pertama Remo Teater Madura, Jumat (28/9/2018) malam, di aula Wihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sangkal merupakan mitos di Madura tentang kesialan atau kutukan dalam proses menjalin pertunangan.

Seusai pementasan, sutradara Eros Van Yasa menerangkan bahwa di Madura masih kuat adanya keyakinan terhadap pelanggaran tradisi. Sangkal akan membuat perempuan menjadi jomblo abadi alias sampai mati, misalnya, karena menolak lamaran pertama. Menampik permohonan, misalnya, beberapa saat kemudian membuatnya dilangkahi sang adik yang menikah terlebih dahulu.

 

Secara umum Remo Teater Madura hendak menarasikan tanah yang merupakan ikatan primordial rakyat dan sebagai sumber daya untuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Untuk itu, festival alternatif ini mengambil tema ”Berpijak pada Tanah”. Hajatan seni ini diwujudkan dalam lokakarya, pameran seni rupa, pertunjukan, dan forum kreator.

Pada hari Jumat ada lokakarya manajemen komunitas, klenengan Panti Budaya Komunitas Seni Wihara Avalokitesvara, pembukaan pameran seni rupa (foto, lukis, instalasi), pertunjukan teater, dan forum kreator. Pada Sabtu kembali diadakan lokakarya dan pementasan Wirasa oleh Sanggar Genta Pamekasan, Masdurius oleh Suvi Wahyudianto (Yogyakarta), dan Alake Lajaran oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.

Pada Minggu diadakan diskusi ”Berpihak pada Tanah” bersama Dardiri Zubairi dan M Faizi dari Sumenep, lalu kembali diadakan pementasan Tabak oleh M Wail Irsyad Bandung, Tera’ Ta’ Adhamar oleh Kikana Arts Production Sampang, dan White Stone oleh Sawung Dance Studio Surabaya, lalu ditutup dengan pergelaran wayang kulit Wahyu Katentreman oleh Ki Gilang Pandu Permana, dalang remaja asal Ngawi.

Tanah menjadi tema besar dan napas kegiatan festival. Manusia Madura menganggap penting tanah dalam kehidupan. Mereka punya narasi berbeda tentang tanah. Ada tana sangkol atau mekanisme warisan, toron tana (pijak tanah) untuk bayi tujuh bulan guna menandai secara simbolis dimulainya perjalanan hidup di dunia, juga rokat tana atau rokat bume (ruwat tanah atau ruwat bumi) di awal musim sebagai permohonan keselamatan dan keberkahan kepada bumi sehingga tanaman dan ternak tidak diserang hama, penyakit, dan hasil panen memuaskan.

Dalam konteks primordial itu, rakyat Madura diingatkan kembali tentang cara mereka memaknai tanah. Mereka diminta untuk menyeimbangkan jagad kene (jagat kecil) yang tampak dan jagad raja (jagat besar) yang astral demi keharmonisan kehidupan. Apa lagi yang dicari manusia selain hidup aman, damai, sejahtera, bahagia, tenteram jiwa raga?

Di sisi lain, tantangan baru dalam pertanahan muncul terutama setelah Madura dan Jawa disambung dengan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Struktur dengan bentang 5 kilometer di atas Selat Madura itu turut menghantar arus ekonomi, industri, akulturasi budaya, hingga paradigma baru penguasaan lahan, alih fungsi tanah, kapitalisasi, dan privatisasi. Tanah juga menjadi mandala perebutan atau konflik kepentingan dan kekuasaan.

 

Catatan

Sumber tulisan: KOMPAS, 30 September 2018

Foto oleh Joko Sucipto

Berpijak Pada Tanah, Berdiri Pada Gagasan

Oleh Shohifur Ridho’i

Selama tiga hari (28-30/09/2018) Madura “mengalami” peristiwa seni dan pengetahuan. Gelaran yang diberi nama Remo Teater Madura menghampar kemungkinan sejumlah ruang pengalaman: dua puluh karya seni rupa, dua puluh empat foto dan empat video dokumentasi pertunjukan dipamerkan. Sepuluh pertunjukan, tiga forum kreator, satu workshop, dan satu diskusi digelar di hadapan publik Madura.

Dengan menakik tema Berpijak Pada Tanah, Remo Teater Madura mencoba melihat ulang dan mendialogkan “tanah” baik sebagai ikatan primordial dan material kebudayaan maupun sebagai polemik teritori lahan dalam konteks sosial politik.

Gelaran ini merupakan simpul kontak kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute (Yogyakarta), Vihara Avalokitesvara (Pamekasan), dan sejumlah seniman Madura.

Tulisan singkat ini secara spesifik akan melihat kemungkinan tawaran tatapan atas tanah melalui beberapa karya pertunjukan dalam gelaran yang bertempat di kompleks Vihara.

Posisi, Relasi

Tanah sebagai kerangka kuratorial menjadi lebih terbuka dan menyediakan banyak kemungkinan kerja dramaturgi. Seniman tidak melulu secara spesifik membicarakan tanah, namun juga tanah dalam arti apa yang disebut ‘asal’, yang luhur, yang dekat. Oleh karena itu, tanah sebagai material kebudayaan muncul dalam pertunjukan Sangkal karya Lorong Art (Pamekasan). Karya ini menakik mitos tentang ke-sial-an atau kutukan dalam relasi pertunangan antara perempuan dan laki-laki. Sangkal memantik pertanyaan sebab memberi jalan untuk melihat ulang ketimpangan dalam relasi gender.

Relasi perempuan dan laki-laki juga muncul dalam Alakê Lajaran (Bersuami Pelayar) karya Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan). Karya yang dibuat berdasarkan kehidupan istri para pelayar di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, ini memperlihatkan ambiguitas posisi perempuan. Seorang perempuan yang merupakan istri pelayar (kapal pesiar) berada dalam situasi antara menolak (melawan) atau bertahan (dengan suami yang jarang berada di rumah).

Pada posisi di antara tersebut menunjukkan ketidakberkuasaan dirinya sebagai subjek. Namun kerangka kerja artistik yang dilakukan sutradara R. Nike Dianita dengan meminjam struktur pemanggungan kesenian Soto Madura membuat pertunjukan ini seolah memberi harapan pada posisi perempuan. Saling berbalas ejekan dan permainan kata dan logika sehingga menghasilkan komedi sarkas yang segera memperlihatkan kesetaraan posisi tersebut.

Adapun tanah sebagai teritori geografis, bermuaranya narasi kepentingan politik dalam pengusaan lahan dan masalah-masalah di sekitarnya dipresentasikan oleh Ujicoba Teater (Sampang) dengan judul Sapamêngkang. Tanah dalam karya ini adalah lokus bertemunya antara yang hidup dengan yang mati (leluhur). Narasi yang coba dilihat adalah bagaimana tanggungjawab orang Madura atas lahan (tana sangkol: tanah warisan) yang dipercayakan leluhur kepadanya untuk dijaga dan dirawat, suatu relasi kesinambungan non-material (leluhur, mitos) dengan material (tanah).

Sementara Tabak karya Moh. Wail Irsyad (Sumenep-Bandung) membincangkan tanah dalam kultur agraris, khusunya tentang tanaman tembakau. Ingatan masa kecil atas sawah dan petani yang berada di kasta terbawah dalam jaringan industri tambakau memunculkan ironi. Seniman yang kini tinggal di Bandung ini membawa etos kerja petani yang keras ke dalam pertunjukan. Citra yang dihadirkan adalah tubuh-tubuh bertelanjang dada dengan gulungan sarung yang tebal serta gestur tubuh yang kadang menunduk tak berdaya dan kadang juga mencoba tegak untuk melawan. Strategi site-spesific-performance di tengah persawahan tembakau diambil Wail untuk mengajak ke situs di mana soal tembakau itu berada.

Lain Tabak, lain pula White Stone. Hari Ghulur (Sampang-Surabaya) menatap ulang Pencak Silat Pamur Madura sebagai basis kerja koreografinya. Berangkat dari kultur migrasi orang Madura dan bertemunya dengan kultur baru di tanah rantauan, yang membuat seorang remaja dibelaki ilmu pencak silat untuk membela diri. Hari membangun gerakan-gerakannya dari elemen dasar kekuatan kuda-kuda. Kemudian gerakan progresif menyerang dan bertahan yang dibangun oleh ketajaman rasio/pikiran.

Silat Pamur Madura dalam White Stone menambah daftar kerja koreografi berdasarkan ilmu beladiri dalam meda tari Indonesia kontemporer, seperti Silat Jawa yang tenang hadir dalam tari Tra.jec.to.ry karya Eko Supriyanto. Tonggak Raso karya Ali Sukri  menyusur Silat Minang yang lentur. Ne.u.tral karya Eka Wahyuni berpijak pada disiplin ‘keseimbangan’ Silat Bangkui dari suku Dayak.

Apabila tanah dimaknai sebagai masa atau waktu di mana ingatan menandai satu peristiwa, maka menengok Masdurius karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan-Yogyakarta) adalah niscaya. Berlatar masa transisi Orde Baru-reformasi, Suvi membangkitkan masa kanaknya tentang peristiwa padamnya lampu di Madura selama tiga bulan pada tahun 1999. Soeharto memang sudah turun, namun tangan kekuasannya berhasil menciptakan ketakutan di Madura: santet dan ninja yang mengancam keselamatan warga dan para tokoh. Dengan strategi ceramah performatif, Suvi memainkan kelindan antara fakta dan fiksi, masalah personal dan ingatan komunal.

Sementara Wirasa karya Sanggar Genta (Pamekasan) dan Tera’ Ta’ Adhamar (Terang Tanpa Lentera) karya Kikana Arts (Sampang) secara posisi tidak menunjuk situasi dan atau soal tertentu di Madura. Wirasa membingkai percakapannya di wilayah ‘keragaman’ rasa antara satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan tak perlu diseragamkan. Sementara karya Kikana Arts hadir sebagai ‘keinginan’ yang terus menerus dijaga agar tumbuh dan berkembang menjadi ‘ketulusan’.

 Demikianlah seniman Madura dan seniman diaspora Madura datang dengan tafsir, isu, perspektif, dan disiplin praktik keseniannya masing-masing. Berjejalin, melengkapi, saling bertukar sudut pandang dan ide. Sebagai forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, Remo Teater Madura ingin terikat dengan lingkungannya dan bagaimana masalah sosial dilihat bersama-sama.

 

Nubun Tawa Festival Seni Dan Budaya Flores Timur 2018 “PAI TAAN TOU! “

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru, penyegaran dan pengembangan, dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Festival ini diberadakan untuk membaca dan memetakan potensi seni-budaya dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Di tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun, Pemerintah Daerah Flores Timur, dalam hal ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru Festival Seni dan Budaya Flores Timur. Festival yang semula adalah ajang lomba seni-budaya antarkecamatan didesain ulang menjadi sebuah festival yang memiliki dampak dan manfaat yang lebih luas lagi yakni menjadi wahana memperkenalkan potensi alam, budaya dan potensi lainnya yang dimiliki Flores Timur.

Perubahan format ini kembali menegaskan bahwa Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat.

Tahun ini Festival Seni-Budaya Flores Timur diadakan di Kecamatan Lewolema dengan nama Nubun Tawa. Nubun Tawa: Festival Seni-Budaya Flores Timur lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman yang ada di bumi Lamaholot Flores Timur. Lewolema dipilih sebagai lokus pertama festival karena merupakan salah satu pusat kebudayaan Lamaholot di masa lalu dan terutama karena represivitas, pelarangan dan pemberangusan kebudayaan di tahun 1970-an yang mengakibatkan masyarakat kehilangan kepercayaan dalam membangun dan merawat daya hidup serta identitas kolektif-kulturalnya.

Nubun Tawa yang bermakna: “lahir/tumbuhnya generasi muda” adalah spirit sekaligus dukungan terhadap generasi muda agar percaya diri serta memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan kebudayaan yang dibiarkan mati selama hampir setengah abad. Festival ini diharapkan menjadi gerakan bersama memajukan diri dan masyarakat. Membangun daya hidup, spirit bekerja dan berkarya. Meluaskan dan memperhebat pergaulan lintas-budaya dalam ketergantungan produktif untuk saling menjaga dan merawat kualitas hidup di tengah banalitas ekspresi, kekerasan dan konsumtivisme.

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” akan berlangsung pada tanggal 5 – 7 Oktober 2018 di Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Menampilkan beragam ekspresi seni-budaya masyarakat Flores Timur, kekayaan alam Lewolema, pertunjukan dari komunitas-komunitas seni di Flores Timur, juga pertunjukan tamu dari seniman-seniman dari luar NTT seperti: Iwan Dadijono, Darlene Litaay (seniman dan koreografer Papua), Ruth Marini (seniman teater nasional) dan Yasuhiro Morinaga (komposer Jepang). Tersedia juga beberapa paket wisata seni-budaya yang dirancang khusus untuk menikmati rangkaian acara festival. (Detil agenda acara dan paket wisata terlampir).

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Flores Timur

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut silakan berkunjung akun media sosial Nubun Tawa

Kontak: +62 856-3422-430 (Venti Wijayanti)

Berikut jadwal lengkap Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018

Remo Teater Madura: Forum Gagasan Antar Seniman Madura

Remo Teater Madura (RTM) adalah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) antar seniman Madura, baik seniman yang tinggal dan bekerja di Madura maupun seniman yang tinggal dan bekerja di luar Madura (diaspora) guna membangun infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.

Remo adalah tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi warga. Selain itu tradisi ini dapat membangun kepedulian sosial antar warga di satu kampung dengan cara memberi sumbangan kepada warga lain yang kurang mampu atau untuk merencanakan agenda kepentingan bersama seperti membangun infrastruktur desa seperti jalan, tempat ibadah, dan lain-lain.

“Berpijak Pada Tanah” adalah tema utama festival seni pertunjukan ini. Tema ini dipilih sebagai satu usaha para seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’ dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang ditampilkan dalam festival.

Pemilihan ‘Tanah’ sebagai pijakan festival adalah sebuah cara membicarakan Madura hari ini. Salah satu pokok penting apabila membicarakan Madura hari ini terutama yang berkaitan dengan Madura sebagai etnis dan Madura sebagai wilayah atau teritori geografis adalah ‘Tanah’. Melalui titik ini, RTM bisa membicarakan Tanah dalam dua bingkai percakapan sekaligus, yaitu tanah sebagai ikatan primordial masyarakat Madura—bagaimana orang Madura memaknai tanah, dan bagaimana makna tanah sesungguhnya merujuk pada jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak) dan jagad raja (jagat besar/yang tak tampak) yang dijaga supaya seimbang dan harmonis—dan tanah sebagai sumber daya dan lahan dalam konteks sosial-politik dan ekonomi: perebutan dan penguasaan tanah, alih fungsi lahan, kapitalisasi dan privatisasi, dan lain-lain.

Remo Teater Madura “Berpijak Pada Tanah” akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan pada tanggal 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop. Detil agenda terlampir.

Keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Madura.

Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut.

Informasi lebih lanjut, kontak: +62 818-0405-6913 (Arsita Iswardhani)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga Festival di Tiga Daerah: Merayakan Keberagaman

Sejak awal tahun lalu, 2017, Teater Garasi/Garasi Performnace Institute membangun kontak dan interaksi dengan beberapa seniman dan komunitas di beberapa kota di Madura dan Flores dalam kerangka program #AntarRagam. Kontak dan interaksi kami kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di Madura dan Flores.

Pada akhir tahun 2017 berlangsung sejumlah pertunjukan dan pameran dalam #seripentasantarragam di Bangkalan dan Pamekasan (Madura), desa Lamahala dan Waiburak (Adonara Timur, Flores Timur) serta di kota Maumere.

Tahun ini, inisiatif “baru” dibangun oleh para mitra kami:


1. REMO TEATER MADURA (RTM), sebuah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan gagasan antar seniman (di) Madura, yang akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara, Kab. Pamekasan pada tgl 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman dari tiap kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan juga mengundang seniman-seniman Madura yang sudah tidak lagi bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad, untuk pulang kembali ke ‘rumahnya’. Tak hanya teater, RTM juga akan menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop.

2. Di Flores Timur: festival NUBUN TAWA. Bekerja bersama pemerintah daerah, mitra kami di kota Larantuka merespon dan menyegarkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata Flotim selama ini. Festival Nubun Tawa yang akan diselenggarakan pada 1-5 Oktober 2018 di Kec. Lewolema, secara bersama-sama antara komunitas anak-anak muda, masyarakat desa, dan pemerintah daerah FloTim, sebagai upaya untuk menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Lamaholot. Keterlibatan komunitas/masyakarakat di 7 desa di Kec. Lewolema menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan Festival Seni dan Budaya Flores Timur menjadi festival berbasis masyarakat/komunitas.

3. MAUMERELOGIA III, oleh Komunitas Kahe, Maumere. Festival sastra dan seni pertunjukan ini digagas sebagai ruang uji coba ekspresi seni, medium produksi pengetahuan dan ekspresi politis atas isu-isu sosial di Maumere dan NTT dan dalam konteks yang lebih luas merefleksikan Indonesia saat ini. Maumerelogia III mengambil tema Tsunami! Tsunami! sebagai perluasan dan pendalaman atas karya pameran dan pertunjukan “M 7.8 SR: Pameran, Diskusi, dan Pertunjukan (Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman)” yang berlangsung akhir 2017 lalu. Dalam festival ini akan ditampilkan pertunjukan dari komunitas seni yang berasal dari Maumere, Hokeng (Flores Timur), Kupang, Ende dan Bajawa. Selain itu juga akan diselenggarakan pameran dan peluncuran buku antologi tulisan (esai, puisi, cerita pendek) “Tsunami! Tsunami!” yang penerbitannya didukung oleh TG/GPI. Seluruh rangkaian Maumerelogia III akan berlangsung pada tanggal 2-10 November 2018.

TG/GPI mendukung ketiga festival tersebut sebagai sebuah upaya menciptakan ruang pertemuan dan peristiwa sosial budaya, juga ekonomi politik, yang merayakan keragaman identitas dan ekspresi kultural.

 

Kerja Gali Sumber: Catatan Pendek Tentang Proses Riset (Menuju Penciptaan Karya)

 Oleh Hadiatul Hasana

Hal yang segera saya ingat ketika berbicara mengenai seni adalah saat saya menyimak penyair Dewi Nova bercerita melalui puisinya. Dia menyentuh pendengarnya untuk merasakan isi dan makna dari setiap bait puisinya. Salah satu kalimat puisi yang selalu saya ingat berbunyi “Aku kau matikan, tapi tidak nyaliku dan keteguhanku”. Puisi tersebut mengekspresikan situasi perempuan buruh dalam memperjuangkan keadilan yang tiada henti mereka suarakan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

***

Selama riset yang kami lakukan, banyak hal yang menjadi pelajaran dan pengalaman dalam menciptakan karya. Mulai dari awal pertemuan ketika kami mulai berkumpul untuk membicarakan ide-ide dari masing-masing kepala. Pada awal diskusi bersama kawan Reny dan mas Syam kami merasa kebingungan saat merencanakan proses penciptaan bersama mengenai isu sosial di Sumbawa. Membuat karya seni adalah hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kami membahas terkait dua isu di Sumbawa, yaitu isu lingkungan dan Perempuan Buruh Migran (PBM) di Sumbawa. Fokus yang dibahas adalah tentang kaitannya isu lingkungan dengan problem pangan khususnya pembukaan lahan baru untuk penanaman jagung dan pertambangan. Kami membahas bagaimana kondisi lingkungan saat ini, apa penyebabnya, apa dampaknya, mengapa itu terjadi, sejak kapan dan daerah mana saja yang menjadi sasaran proyek tersebut? Sementara pada isu buruh migran kami membahas terkait bagaimana kondisi mereka saat menjadi buruh migran, permasalahan apa yang dihadapi, apa penyebab dan dampaknya, siapa aktor yang terlibat, bagaimana proses advokasi bagi buruh migran yang sedang menghadapi kasus? Kami membahas dua isu tersebut serta bayangan selanjutnya untuk penciptaan bersama. Bagaimana menentukan pertanyaan dan melakukan proses gali sumber? Beberapa dari pertanyaan itu belum mendapatkan titik terang dan menggantung.

Dua isu tadi muncul ketika Workshop Penciptaan Bersama di Istana Dalam Loka yang diinisiasi oleh Teater Garasi dari Yogyakarta. Dua isu itu jadi pijakan pertama untuk berangkat ke proyek yang lebih panjang: membuat karya berdasarkan data terkait isu sosial di Sumbawa.

***

Ini adalah awal perjalanan yang cukup menarik dalam merumuskan pertanyaan yang kemudian menjadi pintu masuk dalam melihat dan mengkritisi setiap isu di Sumbawa. Kami menghabiskan waktu selama tiga hari pada tahap merumuskan pertanyaan, sebab setiap orang memiliki ketertarikan isu yang berbeda. Namun isu yang berbeda-beda tersebut  membuat kami merasa bahwa betapa di Sumbawa banyak sekali soal. Kaitannya dengan proses penciptaan, ada empat isu yang muncul, antara lain adalah (1) isu sosial di pulau Bungin terkait dengan pola pemukiman yang padat dan reklamasi yang terus berlangsung hingga sekarang, (2) isu generasi muda Sumbawa terkait kasus kriminalitas, (3) isu lingkungan terkait pembukaan lahan baru untuk proyek penaman jagung dan pertambangan, (4) isu buruh migran terkait kekerasan dan tiadanya perlindungan hukum dari negara.

Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan, baik pertimbangan ide maupun teknisnya, kami memilih isu generasi muda dan buruh migran di Sumbawa.  Pada isu buruh migran, hal pertama yang menjadi pertanyaan kunci adalah apa yang membuat keluarga buruh migran enggan bersolidaritas terhadap keluarga buruh migran yang bermasalah? Sementara pertanyaan kunci pada isu generasi muda Sumbawa adalah kenapa praktik kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? Pertanyaan tersebut membawa kami pada tahap memetakan kemungkinan narasumber untuk menggali informasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya, yaitu tahap riset.

Pada hari keempat dan kelima, kami mewawancarai narasumber dari instansi pemerintah. Kemudian kami bertemu dengan beberapa narasumber lain, yaitu Ibu Siti Hajar dan Bapak Kusmadi Gani (mantan buruh migran), Ibu Husnulyati dari Solidaritas Perempuan Sumbawa, Roni Septian, Piranha Sumbawa MotorClub, dan Slanker Sumbawa. Selama proses riset ini, kami melakukan pembagian kerja demi efektifitas dan efisiensi waktu.

Pada hari keenam kami masih melakukan riset. Setelah berbincang dengan Sendi, seorang mantan buruh migran (kami juga berbicara mengenai generasi muda Sumbawa), kami mengevaluasi kembali pertanyaan kunci untuk kedua isu tersebut, apakah pertanyaan itu masih relevan? Temuan baru apa yang berhasil digali? Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk mengubah pertanyaan untuk dua isu tersebut.

Pertanyaan kunci pada isu Buruh Migran Sumbawa (BMS) yaitu: bagaimana proses yang dijalani/dialami BMS dari awal hingga akhir proses? (Pengawasan ketat di berbagai habitat BMS (CCTV)? Sihir/ jimat (cara-cara alternative perdukunan) dalam dunia BMS?)

Pertanyaan kunci pada isu Generasi Muda Sumbawa (GMS) yaitu: 1. Kenapa pelaku dan korban tindak kejahatan di Sumbawa banyak melibatkan anak muda? 2. Apa yang sudah dilakukan banyak pihak untuk menangani hal itu?.

Pada hari ketujuh, kami mewancarai Bapak M. Dahlan, Suami dari Ibu Rubaiyah (mantan buruh migran) dan Bapak Hasbullah, salah satu sponsor yang memberangkatkan buruh migran ke luar negeri. Bapak M. Dahlan bercerita bahwa dulu istrinya pernah bekerja di Jeddah sejak tahun 2007 sampai 2017. Pada dua tahun pertama bekerja, keluarga bisa berkomunikasi dengan Ibu Rubaiyah dengan lancar, namun setelah itu, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Ibu Rubaiyah dan juga dengan majikannya. Berbagai upaya dilakukan M. Dahlan untuk bisa mengetahui kondisi istrinya. Akhirnya pihak keluarga mulai melaporkan kasusnya ke Depnaker, juga kepada LSM yang menangani kasus buruh migran, dan juga pergi ke dukun berkali-kali demi menolong istrinya. Setelah delapan tahun perjuangan dan usaha dilakukan M. Dahlan, akhirnya Ibu Rubaiyah bisa pulang namun dalam keadaan depresi dan stres, bahkan tidak lagi mengenali suaminya.

Pada hari kedelapan dan kesembilan kami masuk pada tahap improvisasi. Dari data riset yang telah diperoleh dan menurut kami menarik, kami ambil untuk dikembangkan dan diproyeksikan menjadi berbagai elemen: mulai dari tulisan, gerakan, dan suara. Pada tahap ini kami mencoba melakukan improvisasi dengan cara yang berbeda-beda: ada yang membuat sketsa kejadian/peristiwa, ada yang membuat tulisan/naskah, dan lain-lain. Sembari mengolah data ke tahapan bentuk, kami juga memikirkan potensi (inspirasi) data-data itu ke wujud karya.

Hari kesepuluh kami melakukan evaluasi bersama terkait tahapan-tahapan penciptaan bersama yang sudah kami lakukan. Mengingat keterbatasan waktu dan demi efektifitas kerja dan semacamnya, kami menyusun rencana kerja ke depan. Evaluasi di hari terakhir membawa kami untuk melakukan proses riset lagi, sekaligus menyusun pertanyaan-pertanyaan kunci kembali dalam rangka mendalami dan menajamkan isunya. Pada titik ini, kami belum bisa membayangkan inspirasi apa yang akan muncul dari data-data itu sampai ia mampu menggerakkan kami menciptakan karya.

 

 

Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

(Workshop Lanjutan Singkawang: Penajaman Pertanyaan dan Gali Sumber)

Oleh Gunawan Maryanto

Bersama dengan Akbar Yumni saya tiba di Singkawang pada tanggal 8 Juli untuk melanjutkan workshop penciptaan yang telah berlangsung sebelumnya (26-30 April 2018). Sebagai fasilitator yang tidak sempat terlibat dalam workshop tersebut tentu saja saya membawa sejumlah pertanyaan. Beberapa peserta pernah saya temui dalam kedatangan kami pada bulan Februari lalu saat perayaan Cap Go Meh. Selain peserta, saya juga penasaran dengan apa yang telah berlangsung paska workshop penciptaan yang diampu Ugoran Prasad dan beberapa kawan lain. Tentu saja saya telah mengoleksi sejumlah informasi bahwa tim peserta Singkawang berkehendak untuk melanjutkan workshop penciptaan tersebut lebih jauh lagi, yakni menyusun sebuah pertunjukan bersama. Kehendak ini kemudian dikuatkan dengan pembuatan kesepakatan bersama hingga penyusunan jadwal pertemuan rutin di antara mereka, pada kedatangan dan pertemuan bersama Arsita di akhir bulan Juni 2018.

Informasi lain yang saya dapatkan adalah sulitnya teman-teman peserta untuk berkoordinasi, bertemu dan memulai proses penciptaan bersama. Saya paham bahwa penciptaan bersama, apalagi kolaborasi berbagai seniman dari disiplin yang berbeda dan belum pernah berproses sebelumnya, tentu butuh syarat yang tak mudah. Dengan seluruh situasi yang ada, ketika kembali dipertanyakan komitmen masing-masing seniman dalam proses panjang ini, mereka tetap pada niatan awal: berkumpul dan membangun karya bersama.

Berkumpul adalah syarat pertama yang sayangnya tak bisa dipenuhi dengan mudah. Dalam pertemuan pertama, 9 Juli, di Singkawang Cultural Center, hanya hadir 4 peserta workshop terdahulu, setelah menunggu 4 jam dari kesepakatan. Trino, Mpok Yanti dan 2 aktor muda dari Tebs, binaan Mpok Yanti. Helen menyusul belakangan bersama Tia, kawan baru, seorang penyanyi. Workshop tetap berlangsung sembari terus saya bersama Akbar mencoba membaca situasi dan mencari jalan keluar. Target saya adalah mempertajam pertanyaan yang sudah muncul dalam workshop sebelumnya. Target tersebut tercapai, meski masih menyisakan soal, bagaimana dengan mereka yang tak hadir dan sebelumnya turut merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang akan menjadi pintu mereka memasuki proses penciptaan tersebut adalah: Adakah Toleransi di Pasar Hongkong?

Hari kedua jam workshop kami undurkan lebih larut agar tak terjadi lagi situasi saling tunggu. Dan ternyata peserta malah berkurang. Trino mendadak mesti ke Pontianak. Tinggal Mpok dan kedua muridnya yang terus intens melanjutkan workshop. Helen dan Tia kembali merapat sebelum workshop berakhir. Hari kedua saya dan Akbar membekali peserta dengan sejumlah alat untuk menggali sumber di lapangan. Esoknya mereka akan turun ke Pasar Hongkong sampai beberapa hari ke depan. Malam itu juga saya dan Akbar kembali ke Pontianak dan melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti program Cabaret Chairil yang berlangsung di Teater Garasi.

Tanggal 22 Juli saya kembali ke Singkawang untuk melanjutkan workshop. Sehabis mereka mendapatkan data dan informasi dari Pasar Hongkong, saatnyalah mengubah seluruh temuan itu menjadi inspirasi penciptaan. Target saya dalam pertemuan kali ini adalah menyusun kerangka dasar pertunjukan.

Hari pertama, setelah perjalanan panjang menuju Singkawang, saya segera menuju gedung pertemuan Mess Pemda yang disepakati. Saling tunggu hingga 4 jam terjadi lagi. Dan setelah menunggu sekian lama terkumpullah beberapa seniman muda Singkawang. Trino, Mpok Yanti dan anak-anak Tebs tetap menjadi peserta yang bisa diandalkan untuk menjaga keberlangsungan proses. Boncu dan seorang seniman muda dari Bengkayang menjadi pembeda dari peserta workshop sebelumnya. Workshop hari pertama saya gunakan untuk mengecek temuan-temuan mereka di lapangan. Masing-masing orang saya minta untuk bercerita, karena tak ada tulisan atau pun gambar yang mereka bawa selain beberapa rekaman video.

Hari kedua kami sepakati lagi jam workshop agar tak terjadi peristiwa saling tunggu yang cukup menghabiskan energi. Jam 19.30 ditetapkan. Dan tetap saya menjadi orang pertama yang hadir. Barulah jam 21.00 kami memulai workshop. Saya sudah meminta mereka membawa hasil riset yang lebih kongkrit yakni berupa tulisan dan gambar. Tapi hanya Mpok Yanti yang membawa selebar kertas berisi syair lagu ciptaannya tentang Pasar Hongkong. Saya beranjak dari situasi tersebut dengan memberikan beberapa latihan dasar sebagai persiapan mereka untuk menubuhkan seluruh hasil temuan mereka: tubuh menafsir imaji. Di hari kedua ini Arsita Iswardhani bergabung untuk mendampingi saya.

Hari ketiga, dengan jumlah peserta yang berubah lagi, selain Trino dan Mpok Yanti, kami mencoba menubuhkan hasil wawancara dan rekaman video. Hanya dua peserta yang secara aktif mengikuti workshop, yaitu Rizki dan Gustian, anak-anak dari Sanggar Tebs. Di akhir workshop mereka berdua menyajikan kodifikasi mereka. Saya menutupnya dengan mencoba menyusun kodifikasi-kodifikasi tersebut menjadi sebuah repertoar pendek.

Tanggal 25 Juli, hari terakhir kami berada di Singkawang, kami gunakan untuk me-review seluruh proses yang telah berlangsung. Forum ini juga kami gunakan untuk menimbang kesepakatan awal yang tak berjalan sebagaimana yang direncanakan, dan mengembalikan seluruh keputusan berlanjutnya proses kepada peserta. Sebuah tantangan: jika proses bersama belum bisa berlangsung—karena beberapa syarat yang belum terpenuhi, apakah proses bisa dilanjutkan secara individual. Mari kita tunggu.

 

 

 

Sumbawa Hari Ini: Workshop Penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia

Rabu, tanggal 11 April 2018, bertempat di Istana Dalam Loka, workshop penciptaan Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia dibuka oleh Bapak H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa.

Kegiatan workshop ini diinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumbawa dan didukung oleh sejumlah komunitas seni di kota tersebut. Selama lima hari, dari tanggal 11-15 April 2018 workshop berlangsung di dua tempat, yaitu Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih. Fasilitator workshop antara lain Dendy Madiya, MN. Qomaruddin, Shohifur Ridho’i, dan Venti Wijayanti dari Teater Garasi. Adapun peserta workshop datang dari beragam komunitas, organisasi dengan beragam usia dan profesi.  Peserta workshop yang terlibat antara lain dari Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain.

Dalam workshop ini peserta diperkenalkan dengan metodologi ‘Penciptaan Bersama’ Teater Garasi yang diformulasikan dalam enam tahap: (1) menentukan pertanyaan, (2) riset, (3) improvisasi, (4) kodifikasi, (5) komposisi, dan (6) presentasi.

Hari pertama dan kedua workshop, peserta menemukan dan menentukan dua isu yang nantinya akan diolah menjadi karya bersama, yaitu ‘lingkungan’ dan ‘buruh migran’. Dalam isu lingkungan peserta mengajukan pokok soal seperti industri pariwisata, kedaulatan pangan dan pertanian. Sementara isu buruh migran berkisar di antara pokok kasus human trafficking, kekerasan seksual dan perlindungan hukum bagi buruh migran. Dalam rangka menungi dua isu besar tersebut, peserta kemudian memberi tema proyeknya: Sumbawa Hari Ini.

Proses selanjutnya adalah membuat karya dari data dan diskusi yang telah diselesaikan pada dua tahap sebelumnya. Meskipun peserta berasal dari disiplin seni yang berbeda, namun mereka justru tertarik dan tertantang untuk menubuhkan diskusi awal ke pertunjukan teater. Pada hari Minggu, tanggal 15 April 2018, presentasi karya berhasil dilaksanakan. Bagi beberapa peserta, presentasi dalam wujud karya seni dan tampil sebagai performer merupakan pengalaman pertama mereka. Selanjutnya diskusi paska presentasi berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan bagaimana seni menjadi alat alternatif dalam menyampaikan isu sosial yang terjadi di Sumbawa.

Lingkungan dan Buruh Migran (Catatan Workshop Penciptaan Bersama: “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” di Sumbawa)

Oleh Venti Wijayanti

Pada tanggal 11 – 15 April 2018 Teater Garasi/Garasi Performance Institute menyelenggarakan workshop bersama dengan teman-teman komunitas di Sumbawa. Workshop bertempat di Istana Dalam Loka dan Hotel Cendrawasih.

Workshop hari pertama dibuka oleh H. Hasanuddin, S.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa sekaligus Kepala Pengurus Istana Dalam Loka. Istana Dalam Loka merupakan tempat yang difungsikan sebagai museum dan pusat kegiatan kesenian di Sumbawa. Peserta workshop yang hadir datang dari berbagai disiplin seni dan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, guru, seniman, dan aktivis buruh migran. Beberapa komunitas yang ambil bagian adalah Sumbawa Cinema Society (SCS), Sumbawa Visual Art (SVA), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Teater kampus Universitas Teknologi Sumbawa, Sanggar Tari Mutiara Bungin, Studio 00, dan lain-lain. Lintas disiplin yang berbeda dan jenjang umur yang beragam membuat workshop menjadi wadah untuk mempertemukan mereka dalam satu percakapan. Jarang terjadi kesempatan berupa kegiatan yang dapat mempertemukan para seniman Sumbawa dari beragam disiplin dan jenjang usia ke dalam satu forum. Workshop Penciptaan Bersama ini adalah salah satu kesempatan itu.

Peserta yang hadir sejumlah 15 orang, dan yang bertahan sampai hari terakhir workshop hanya berjumlah 6 orang. Peserta tersebut adalah Syamsuddin dari SBMI, Mulya Putri Amanatullah, Hadiatul Hasana dari SP, Kardiana dari SP, Dewi Astuti dari Sanggar Tari Mutiara Bungin, dan Reny Suci dari SCS. Praktik workshop penciptaan karya bersama berlangsung sebagai proses mengenali isu lingkungan, sosial, politik, dan perputaran ekonomi di Sumbawa. Proses pengenalan ini berlangsung dari identifikasi benda-benda yang disiapkan oleh peserta workshop, yang sebelumnya memang sudah ditugaskan untuk membawa benda atau tulisan artikel yang menarik tentang lingkungan tempat tinggalnya. Benda yang dibawa beragam dan cukup menarik, antara lain jagung, seragam bekas SMA, foto tari tradisi di Bungin, foto buruh migran, foto anak muda pelaku kriminal, lukisan ikan, boneka, artikel peristiwa kriminal. Narasi cerita yang terangkai dari benda yang dikumpulkan memberikan sedikit gambaran tentang Sumbawa dan karakteristik subjek yang membawa benda tersebut. Keberadaan subjek memberikan kerangka pada sebuah peristiwa memunculkan keluasan pandangan terhadap hal-hal yang terkait pada benda yang dipilihnya.

Isu yang dikemukakan pada sesi diskusi kelompok kecil yang dibagi menjadi dua adalah ‘lingkungan’ dan ‘perempuan buruh migran’ (PBM). Isu lingkungan terkait dengan beberapa kunci yang ditemukan dari proses penceritaan narasi dari artefak yang dibawah peserta workshop. Kata kunci lainnya adalah petani, kedaulatan pangan, pariwisata, tradisi, dan pelestarian. Pada isu lingkungan kaitannya dengan pariwisata dan penanaman bibit jagung hibrida yang mulai masuk pada tahun 2012. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya penanaman jagung pada pembukaan lahan baru di perbukitan yang tersebar di Sumbawa adalah banjir bandang yang diduga efek dari penggundulan hutan di perbukitan. Selain itu juga berdampak pada petani umbi-umbian yang mulai terancam dengan penanaman jagung yang juga menggunakan pupuk kimia untuk mengejar peningkatan hasil panen. Isu lingkungan pada pariwisata diungkapkan bahwa pada umumnya pemerintah membuat kebijakan yang hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi tanpa memikirkan efek dari pelonjakan wisatawan bagi lingkungan. Sumbawa sendiri yang sebenarnya belum mampu menerima wisatawan secara infrastuktur, tetapi pemerintah mulai mengejar peningkatan tersebut dengan cara melakukan praktik ‘disharmonis’ dengan alam.

Isu kedua adalah perempuan buruh migran (PBM). Kata kunci lainnya yang dikemukakan pada tahapan gerbongisasi kuil kata adalah human trafficking, kekerasan (seksual), perlindungan hukum bagi buruh migran. Isu ini menjadi menarik dibicarakan pada waktu sesi diskusi karena terdapat anggota SP dan SBMI yang secara langsung berkerja dengan isu tersebut. Sehingga isu PBM menjadi lebih detail dijabarkan dari alasan yang melatar belakangi banyaknya PBM di Sumbawa sampai beberapa kasus yang terjadi dan kesuksesan buruh migran di Negara-negara seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dll. Banyaknya buruh migran di Sumbawa berkaitan dengan adanya ekosistem yang terdapat di Sumbawa, seperti agen, calo, sponsor, buruh migran sukses. Isu PBM merupakan isu yang kompleks dan sangat dekat dengan masyarakat Sumbawa, karena biasanya PBM merupakan keluarga dekat, saudara kandung, tetangga, dan pelaku agen ilegal juga ada di sekitarnya, biasanya keluarganya sendiri, ataupun di struktur pemerintahan. Isu ini seperti benang kusut yang belum ditangani dengan baik dari segi pencegahan, padahal banyak kasus yang belum terselesaikan. Faktor yang melatarbelakangi untuk menjadi PBM adalah ekonomi atau dorongan keluarga dekat, seperti orang tua.

Proses tahapan workshop selanjutnya adalah gali sumber dengan mencoba praktik riset dan wawancara di pasar tradisional yang ada di pusat kota Sumbawa, yaitu Pasar Seketeng. Semua peserta diberi kesempatan berkeliling di pasar selama dua jam dan diberi tugas untuk mengambil foto, wawancara narasumber, membawa benda yang menarik dan mencatat hasil pengamatan. Pengamatan yang dilakukan di pasar oleh para peserta dilakukan dengan harapan bahwa data yang dicari bisa dijadikan sebagai inspirasi, dan hal yang paling menarik adalah bisa mengetahui bahwa proses ini penting dilakukan dalam metodologi penciptaan karya. Proses kerja gali sumber yang dilakukan bersamaan oleh masing-masing peserta di lokasi yang sama tetap akan mendapatkan informasi yang berbeda sehingga semakin beragam info yang dikumpulkan. Data dari informasi pengamatan saling mengecek satu sama lain sehingga membuka percakapan dan diskusi lebih lanjut.

Hari selanjutnya masuk pada proses improvisasi dari data-data yang didapatkan oleh masing-masing peserta. Pada umumya peserta workshop tetap memilih teater pada bentuk improvisasinya, maskipun latar belakang disiplin dan praktik mereka adalah film, tari, aktvis. Tahapan ini dilakukan peserta dengan mengolah potensi tubuhnya yang difasilitatori oleh Qomar dan Dendi. Pada tahapan ini para peserta mencoba membuka kemungkinan beberapa gerakan dari pengamatan lapangan maupun imajinasi mereka untuk membuat gerakan dengan adaptasi pengolahan tubuhnya. Selanjutnya gerakan dicoba untuk dipraktikkan berulan-ulang dan disusun menjadi komposisi pada masing-masing kelompok. Ada dua kelompok yang menyusunnya menjadi komposisi dari isu buruh migran sebagai narasinya. Komposisi yang muncul adalah gerakan tubuh teater dan tari, serta terdapat dialog yang dimunculkan  dan juga narasi bacaan dari potongan artikel yang ditemukan. Sebagai bentuk praktik penciptaan para peserta workshop di Sumbawa sudah memahami alur dan bentuk praktik sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya yang bisa disusun atau diulang lagi proses pengamatan dan gali sumbernya. Kemudian dipraktikkan, direkam/diingat dan dikaji ulang pada bentuk penciptaannya.  Kemudian pada hari terakhir adalah presentasi.

Proses tahapan workshop ini diharapkan dapat dipraktikan menjadi metodologi penciptaan karya bersama, dan jelas sangat terbuka untuk dimodifikasi sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial yang melatari isu dan penciptaannya maupun konteks produksinya. Workshop selama lima hari di dua tempat berbeda memberikan pengalaman penciptaan, kerjasama kelompok, dan khususnya pemahaman akan waktu yang terlihat pada dinamika kelompok selama workshop. Muncul potensi-potensi para peserta yang beragam dari latar yang juga beragam. Selain itu terdapat pertemuan antara seniman senior dan seniman muda yang dikesehariannya sering tidak bisa bertemu dan berdiskusi karena perbedaan pandangan. Dan juga pada awalnya, mitra penyelenggara workshop bersama Dewan Kesenian Sumbawa tetapi pada prosesnya terselenggaranya juga mendapat dukungan besar dari komunitas Sumbawa Cinema Society, terutama dukungan dari Bapak Hasanuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dan juga seorang maestro tari di Sumbawa, salah satunya memberikan rekomendasi dan surat ijin untuk Dewi Astuti, peserta workshop dari Pulau Bungin yang berprofesi sebagai penari dan guru untuk mengikuti workshop secara penuh.