Catatan Peserta Madura

Fayat Muhammad

Language Theatre Indonesia, Sumenep

Peserta yang terdari dari empat daerah di Madura, berikut dengan kultur berbeda yang melatarinya, membuat saya banyak belajar tidak hanya dari Teater garasi, tapi juga dari teman-teman peserta. Di situ kami saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang situasi masing-masing. Workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” ini dilakukan secara sistematis, terperinci dan jelas. Mulai dari membawa isu yang ada pada benda, teks, dan image, sampai pada penubuhan dan prsentasi. Melalui pendekatan ini, saya mendapati kemungkinan-kemungkinan yang lebih kaya karena masing-masing peserta saling merespon dan melengkapi.

Rosi Praditya

Komunitas Stingghil Sampang

Workshop ini membangkitkan naluri dan sensitivitas saya terhadap lingkungan di sekitar melalui jalan seni. Semoga teater mempertemukan kita lagi di tempat-tempat lain. Salam sejuk buat Teater Garasi.

R. Dian Kunfillah

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

 Awalnya saya tidak mengerti mengapa kami diminta membawa benda, foto dan tulisan mengenai isu yang berada di tempat saya tinggal. Namun setelah melewati hari demi hari workshop, mulai terang jalurnya ketika kami bercerita tentang benda yang kami bawa. Pada akhirnya isu tersebut dimatangkan dan diwujudkan menjadi pertunjukan dan karya tersebut diciptakan dan disepakati bersama.

Semoga workshop ini terus berlanjut ke kegiatan-kegiatan yang lain.

R. Nike Dianita Febriyanti

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Mulanya saya sangat senang saat diberi kabar tentang workshop penciptaan dari Teater Garasi. Sungguh teramat senang. Akan tetapi saat mengetahui tanggal pelaksanaannya, saya merasa kecewa karena jadwalnya tidak cocok dengan agenda saya. Saya tahu yang tidak akan pernah kembali adalah waktu dan waktu memberi saya pilihan. Dan saya hatus memilih. Karena soal jadwal itulah saya hanya bisa ikut sampai tiga hari saja. Nah, di dalam tiga hari itu saya begitu sangat menikmati jalannya workshop. Memang sejak berangkat saya bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Materi workshop yang diberikan pada dasarnya sudah pernah saya peroleh sebelumnya saat studi di Sendratasik Unesa, misalnya saat masuk ke ‘praktik’. Tapi metode mencipta yang ‘sabar’ ini menarik bagi saya. Sabar? Iya. Bagi saya, workshop ini adalah proses penciptaan yang cukup sabar dan detail sekali. Tentu juga tidak menutup diri bahwa banyak hal baru juga yang saya peroleh dan tidak pernah saya dapatkan saat berproses selama ini. Misalnya proses penciptaan ide yang diawali dengan membawa benda, image, dan teks yang berangkat dari isu yang ada. Sampai akhirnya membuat peta konsep untuk mempermudah melakukan eksplorasi.

Tapi saya masih penasaran apakah dua hari yang tersisa itu adalah peristiwa-peristiwa yang menakjubkan, saya yakin iya. Maka saya iri dengan teman-teman yang dapat menuntaskan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” sampai selesai. Namun, meskipun hanya tiga hari materi yang saya ikuti, saya tetap bersyukur dan akan coba terapkan hasil workshop ini terhadap teman-teman dan murid-murid saya. Pasti berguna. Terimakasih Teater Garasi.

Suryadi Arfa

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Setelah mengikuti workshop dari tanggal 13-17 Mei 2017, saya mencatat beberapa hal penting dalam sebuah proses penciptaan, yaitu (1) betapa pentingnya mengangkat isu yang ada di sekitar kita, (2) penerapan metodologi yang sudah diformulasi oleh Teater Garasi sangat mempermudah dalam membuat karya, (3) bagaimana bentuk, waktu (tempo, durasi), garis, ruang yang dikelola dengan parameter yang ada akhirnya memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru dan tidak terduga, (4) pentingnya menghindari hal-hal yang abstrak dan memperjelas bentuk dan detail agar isu tersampaikan dengan baik.

Saya berharap Teater Garasi bersedia memantau perkembangan teman-teman peserta workshop sehingga dapat diketahui sejauh apa perkembangannya. Semoga workshop ini tidak selesai sampai di sini saja, besar harapan saya adanya kelanjutan proses untuk memperdalam ilmu yang telah diberikan.

Hoiri

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Pelajaran utama yang saya peroleh adalah pentingnya menciptakan karya yang berasal dari apa yang kita punya. Dan bagaimana modal tersebut dikelola melalui metodologi yang Teater Garasi tawarkan. Semoga setelah workshop ini Teater Garasi masih terus mengalirkan pengetahuannya, misalnya lewat pertunjukan sebagai pembelajaran dan referensi.

Hafiki

Sanggar Karapan Pamekasan

Banyak hal yang saya peroleh selama mengikuti workshop penciptaan ini. Metodologi penciptaan yang disampaikan Teater Garasi sangat rinci dan mudah dicerna. Bagi saya ini workshop yang berbeda dari workshop-workshop teater yang pernah saya ikuti sebelumnya.

Mudah-mudahan ini dapat berguna bagi perjalanan berkesenian saya selanjutnya. Selain itu, workshop ini membuat pegiat seni di Madura bisa bersatu, dan kini Sampang bukan lagi tempat ‘persimpangan’ orang-orang Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan, melainkan ‘bagian’ penting dari Madura.

Syamsul Arifin

Ujicoba Theatre Sampang

Di sini saya datang dan turut berpartisipasi dalam workshop penciptaan “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”.

Saya berteater untuk proses perbaikan diri. Saya menganggap bahwa teater sebagai jembatan pulang menuju diri sebab ia lahir dari kegelisahan saya tentang diri. Namun workshop ini mengantar saya pada situasi, problem dan isu di sekitar saya yang sebelumnya lepas dari perhatian saya.

Dari workshop ini semoga ke depannya, khususnya kehidupan teater di Madura, akan semakin berkembang dan baik. Semoga berkah. Terimakasih.

Lusi

Biruh Ompos Sampang

Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Itu yang menjadi pegangan hidup untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Begitu juga dengan proses yang telah saya ikuti selama lima hari ini sangat luar biasa untuk dijadikan modal dalam berkarya. Dan karena itulah yang membuat saya semakin tergoda untuk berkarya. Biarkan kami terus memikirkan dan menikmati apa yang telah diberikan Teater Garasi

Agus Alan Kusuma

Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman Teater Garasi yang telah memberikan sesuatu yang segar dan baru pada ‘pengalaman’ berksenian saya. Workshop selama lima hari ini bagi saya merupakan lompatan kreativitas di mana seni dapat menjadi sesuatu yang berharga.

Selain pengalaman tersebut, metodologi yang ditawarkan dapat menjadi landasan penciptaan pada proses saya di kemudian hari. Semoga hasil workshop ini berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi lingkungan seni di Madura, minimal kelompok-kelompok yang turut berpartisipasi membuat pertunjukan berdasakan konsep penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi.

Pengetahuan yang berharga ini adalah bekal bagi pegiat seni generasi muda di Madura. Sekian dan terimakasih.

Syifa’uddin Addhohiri

Sanggar Padi Sumenep

Saya ucapkan terimakasih kepada Teater Garasi dengan segala hal yang diberikan kepada saya. Ucapan maaf tak terhingga kepada segenap teman-teman Garasi apabila selama workshop saya mempunyai salah yang tak disengaja maupun disengaja, saya mohon maaf.

Mengenai workshop yang sudah kita jalani bersama selama lima hari, saya kira sangat membantu teman-teman di Madura untuk proses penciptaan, karena dengan metodologi yang dibawa oleh Garasi ini akan mempermudah teman-teman menemukan sesuatu yang baru dan menyampaikan isu ‘yang ada’ di sekitar kita.

Setelah ini, saya akan mengajak teman-teman di komunitas saya untuk mencoba memakai metodologi yang ditawarkan oleh Teater Garasi.

Faizin Syafi’ie

Pamekasan

Berproses di worskhop Teater Garasi merupakan kesempatan yang sulit dan jarang didapatkan. Ini adalah kesempatan menarik bagi saya untuk ‘mengolah’ sesuatu yang saya miliki dengan bantuan rancangan konsep dari Teater Garasi.Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi adalah pengetahuan segar untuk pengembangan teater/kesenian di mana saya berada.

Harapan saya, Teater Garasi memberi bimbingan lanjutan kepada kami, karena bagaimanapun juga kami sangat ingin sekali mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang yang tinggal di kota, tempat di mana jaringan pengetahuan begitu mudah diperoleh.

Hayatik Handayani

Teater Tombak Sampang

Saya sangat mengapresiasi sekali kegiatan workshop “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” yang dibuat oleh Teater Garasi Yogyakarta. Banyak pengetahuan yang bisa saya ambil. Di workshop ini saya belajar hal baru yang tidak saya peroleh di workshop yang pernah saya ikuti sebelumnya. Pada kesempatan kali ini saya belajar menerjemahkan benda yang kemudian benda tersebut ditelusuri menjadi isu, lalu dikembangkan menjadi rupa, bentuk, gerak, cerita yang kemudian bisa diwujudkan menjadi pertunjukan teater.

Saya berharap Teater Garasi kembali ke Madura dan membuat kegiatan lagi di sini, menjadi promotor bagi pegiat seni di Madura, khususnya Sampang. Saya mengucapkan terimakasih atas ilmu yang diberikan kepada kami.

Matorsakalangkong taretan Jogja, sala lopot ta’ langkong saporaagi.

Didi Kurniawan

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Metodologi yang ditawarkan Teater Garasi dan diterapkan dengan apik dalam workshop ini menambah keyakinan saya tentang fungsi teater dan cara mengolah bahan. Metodologi penciptaan ini juga dapat secara bijak kita terapkan pada proses kreatif bidang seni yang lain.

Workshop ini menawarkan proses kerja kolektif yang ‘berangkat dari yang ada’ dan menjawab pertanyaan atas situasi di sekitar kita. Keinginan setelah pulang dari workshop ini adalah menerapkan metodologi ini ke dalam proses teater kami. Semoga bekal yang kami dapat bisa dikembangkan.

Yuni Kartika Sari

Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan

Tanggal 13-17 Mei 2017 adalah momentum penting yang terjadi di Sampang. Sebagaimana semesta mengatur segala dengan begitu arifnya hingga membawa saya pada pelatihan penciptaan yang diadakan oleh Teater Garasi. Banyak hal yang saya dapat dan nantinya bisa dibagi kepada orang lain.

Saya mengalami proses ketubuhan dan mengasah fungsi panca indera supaya bekerja lebih mendalam lagi. Merasakan garis-garis, bentuk, dan lain-lain. Tubuh keseharian seringkali membuat tubuh ‘mati’, namun dengan pelatihan ini, hal-hal yang sebelumnya tidak dilatih coba dihadirkan dan dialami kembali. Berteater adalah jawaban agar setiap diri menjadi peka. Harapannya, saya Bersama teman-teman Bawah Arus Bangkalan akan mengujicobakan konsep dan metodologi dari Teater Garasi. Terimakasih atas seluruhnya.

Lubet Arga Tengah

Rokateater Sumenep

Pengetahuan, pengalaman, dan kenangan. Ketiganya lahir dari sebuah peristiwa “Bertolak Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia”. Kabar Teater Garasi hadir ke Madura merupakan catatan manis dalam harianku sebagai ‘seorang’ yang terlibat menciptakan momentum atau potongan mainan untuk menghibur dan memecahkan kebekuan yang sempat mengeram lama dalam kepala.

Dalam workshop penciptaan yang ditawarkan Teater Garasi adalah jurus-jurus penjinak kemalasan. Jadi sebagai pencipta tidak hanya duduk manis dan tiba-tiba muncul karya dengan cara tidak ‘ruwet’, misalnya membuat karya cukup bermodal, naskah, aktor, dan kru, tapi tidak dengan metodologi sebagaimana yang ditawarkan Garasi. Model penciptaan begini benar-benar ‘brengsek’ karena telah berhasil membuat aku enggan berpaling dari kesenian, semakin menggoda untuk terus dicari dan dialami. Workshop ini membuat aku terus ingin berlanjut dan selalu belajar dan memperbarui pengalaman.

Selanjutnya, aku ingin mencoba menerapkan metodologi ini sebagai (1) karya dan (2) pelatihan-pelatihan kepada kelompok lain agar aku terus belajar dan merawat pengetahuan tentang workshop ini.

Fikril Akbar

Sanggar Makan Ati Pamekasan

Merasa sangat beruntung sekali saya bisa mengikuti workshop penciptaan ini. Teater Garasi mengajari cara berterimakasih kepada Madura den kepada alam yang bersedia menampung saya.

Tawaran metodologi workshop penciptaan “Berangkat Dari yang Ada, Bicara Pada Dunia” mulai memberi gambaran-gambaran bagaimana sebuah karya diciptakan dari modal yang ada. Menariknya, metodologi ini juga sangat terbuka dan bisa diterapkan di semua disiplin seni.

Harapan ke depannya semoga Teater Garasi lebih sering lagi mengadakan acara-acara semacam ini di Madura, dan tentu saja tulisan pendek ini tidak bisa menggambarkan perasaan betapa bangganya berproses Bersama Teater Garasi.

Matorsakalangkong Mas Yudi, Mas Gun, Mbak Ery, Mbak Lusi dan Bang Qomar. Kami tunggu di Pamekasan.

Catatan Perjalanan ke Bangkalan dan Sampang

Shohifur Ridho’i

 

Pagi hari tanggal 19 Februari 2017 ketika kami tiba di Madura, kami menonton pergelaran Karapan Sapi di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan, sebelum akhirnya kami berpisah menuju daerah masing-masing yang akan kita kunjungi. Belum genap pukul 10 pagi, tim Sumenep yang terdiri dari Gunawan Maryanto, Giant, dan Anwari, sudah bergerak ke kabupaten ujung timur pulau Madura itu untuk menghadiri forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran yang bertempat di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Saya dan Erythrina Baskoro masih tinggal di lapangan Banyubunih karena kami bertugas di daerah bagian barat Madura: Bangkalan dan Sampang. Informasi pergelaran Karapan Sapi kami dengar beberapa hari sebelum kami bertolak ke Pulau Garam, dan pergelaran itu menjadi satu agenda tambahan daftar kunjungan selain agenda yang sudah disusun sebelumnya. Karapan Sapi mesti kita kunjungi karena ia adalah ‘tradisi’ sebagian masyarakat Madura yang cukup familiar di telinga orang luar Madura. Barangkali dari pergelaran itu kami dapat memeroleh pengetahuan dan informasi penting yang tak kita temukan saat berkunjung ke tempat lainnya di dalam daftar kunjungan kami.

Kira-kira pukul 15.00 kami bergerak ke kota kabupaten Bangkalan. Tujuan kami adalah bertemu dengan teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur (KML). Kami naik mobil L300—orang Madura menyebutnya ‘bus mini’—dari jalan raya kecamatan Galis. Sepanjang perjalanan kami berdesakan dengan penumpang lainnya. Magrib telah lewat ketika kami tiba di depan kampus STKIP PGRI Bangkalan. Di sana kami dijemput oleh Hayyul Mubarak dan Alan Kusuma, ketua KML periode 2017, menuju sanggar KML. Di sanggar mereka kami disambut oleh pendiri KML M Helmy Prasetya dan teman-teman anggota KML lainnya.

Malam itu kami ngobrol tanpa dibatasi tema-tema tertentu, tapi kedatangan kami membuat mereka bercerita banyak hal tentang Bangkalan, dari politik hingga kesenian. Dari obrolan itu kami memeroleh informasi dari Anwar Sadat, seorang guru dan mantan ketua KML, bahwa di daerah Bangkalan ada kesenian Sandur di mana pergelarannya hanya beroperasi di lingkaran para petinggi desa. Ia adalah jenis kesenian tradisi namun sangat eksklusif. “Masyarakat tidak mudah mengakses kesenian itu karena penjagaannya sangat ketat,” kata Anwar Sadat. Sandur adalah kesenian sejenis tandak di mana para kepala desa memberi saweran kepada penari. Sekali sawer, satu kepala desa bisa menghabiskan uang jutaan rupiah.

Sementara KML sendiri, menurut M Helmy Prasetya, lebih banyak bergerak di sekolah-sekolah. Belasan anggota KML adalah guru dan dosen, dan dengan posisi mereka sebagai pendidik, maka gerakan mereka adalah pembinaan seni kepada siswa-siswa. Tetapi bukan hanya karena alasan tersebut, Helmy menambahkan, kesenian di Bangkalan tidak tumbuh seperti di Sumenep, oleh karena itu mereka lebih tertarik untuk ‘membuat lingkungan kreatif’ di Bangkalan melalui pembinaan ke sekolah-sekolah dengan sastra, teater, dan musik.

Malam pertama di Madura kami habiskan di sanggar KML, besoknya, 20 Februari 2017, kami pergi ke Museum Cakraningrat Kab. Bangkalan. Mulanya kami ingin melihat-lihat koleksi museum, namun kedatangan kami ke sana membawa kami bertemu dengan Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Bangkalan, Hendra Gemma Dominant. Melalui Pak Hendra kami mendapat informasi tentang kesenian Bangkalan dari sudut pandang pemerintah. Bagi dia, kesenian yang tidak membawa semangat tradisi, sulit mengakses fasilitas dari pemerintah. Sementara anak-anak muda Bangkalan lebih banyak menyukai seni modern seperti teater. Jenis kesenian semacam itu, ketika dihadapkan pada proses birokrasi, pemerintah tidak bisa memfasilitasinya. “Karyanya tidak bisa dinikmati masyarakat secara umum,” ujarnya.

Selepas dari Museum Cakraningrat, kami bertolak ke situs yang paling masyhur di Madura, yaitu pasarean Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau adalah guru dari banyak ulama besar di Indonesia. Kami bertemu dengan seorang juru kunci yang masih muda usianya, namanya ustad Markum. Dia lahir di Pontianak, namun konflik Sambas pada tahun 1999 membuat Markum kecil dan anak-anak seusia lainnya dibawa ke Madura dan Jawa oleh Kiai Fuad Amin, cucu Syaikhona Kholil. Waktu itu dia baru lulus Sekolah Dasar, anak-anak kecil itu disebar di beberapa pondok pesantren untuk tinggal dan belajar di sana.

Setelah mendengar kisahnya tentang konflik itu, kami tergerak untuk bertanya tentang konflik Sunni-Syiah di Sampang, satu konflik yang pada tahun 2012 cukup menyita perhatian publik Indonesia bahkan dunia. Ustad Markum bertutur bahwa ia tidak tahu kronologi dan latar belakang bagaimana konflik itu terjadi. Oleh karena itu ia tidak bisa berkomentar.

Sebagaimana malam pertama, malam kedua kami habiskan di sanggar KML. Besoknya, sekitar pukul 10 pagi tanggal 21 Februari 2017, kami bertolak ke Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk bertemu beberapa kawan pegiat teater. Bulan Agustus 2017 mereka akan menjadi tuan rumah hajatan Temu Teater Mahasiwa Nusantara (Temu Teman). Jaelani, anggota Sanggar Nanggala UTM dan ketua panitia Temu Teman menuturkan bahwa kesenian di Bangkalan lebih hidup di lingkungan pelajar-pelajar SMA. Menurut Jaelani, teater-teater pelajar tidak hanya ada di kota kabupaten, bahkan SMA di pelosok desa pun memiliki kegiatan teater. “Mereka juga punya paguyuban guru seni. Jadi, komunikasi antar komunitas sangat erat,” ujar Jaelani.

Soal agenda Temu Teman, Jaelani akan mengangkat tema “Madura dan Laut Kenangan”. Tema itu berangkat dari pembacaan atas situasi sosial selepas jembatan Suramadu diresmikan pada tahun 2009 silam. Suramadu memang membuat akses transportasi lebih efisien, namun pada saat yang sama jembatan itu mematikan potensi jalur laut, yang dalam hal ini adalah moda transportasi kapal Fery dari pelabuhan Kamal Bangkalan ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Transportasi tersebut sudah mulai ditinggalkan sehingga tinggal tiga kapal saja yang masih beroperasi. Akibatnya, warga kamal yang sebagian besar adalah pedagang membuat penghasilannya semakin menyusut. Akibat lainnya, pelabuhan Kamal jadi laut mati, menurut Jaelani, wilayah itu sekarang menjadi tempat transaksi jual-beli narkoba. Akibatnya adalah semakin banyaknya aksi pembegalan. “Pembegal itu mengambil motor. Artinya ada kebutuhan (ekonomi) yang besar. Itu narkoba jenis sabu. Pelakunya pelajar,” tutur Jaelani. Selain pembacaan atas situasi sosial di Bangkalan, Temu Teman kali ini juga akan memanfaatkan potensi seni pertunjukan di Madura. Mereka akan mengadakan Petik Laut di Kamal dan workshop teater folklor.

Adzan Dzuhur telah lewat sekira satu jam yang lalu, kami bergerak kembali ke sanggar KML untuk berkemas dan bersiap menuju Sampang, satu daerah yang membuat kami cukup cemas. Kecemasan pertama bersumber dari pendapat umum bahwa Sampang adalah salah satu daerah tertinggal di Jawa Timur, baik secara pendidikan maupun pendapatan ekonomi masyarakatnya. Perkara itu yang semakin menguatkan alasan bahwa tingkat kriminalitas di Sampang cukup besar. Kecemasan kedua ialah kami tidak memiliki cukup kenalan untuk sekadar singgah dan tempat bertanya. Persis kami hanya mengantongi satu nama, yaitu Umar Fauzi Ballah dari Komunitas Stingghil Sampang. Kami berharap Fauzi menjadi pintu pertama yang nantinya dapat membawa kami memasuki banyak hal di Sampang.

Sore kami tiba di Sampang dan turun di depan Hotel Rahmat. Kami akan menginap di hotel tersebut dan Fauzi akan menemui kami di sana. Namun hingga malam dia tak kunjung datang. Sekitar puluk 9 malam sebuah pesan masuk, Fauzi berkabar bahwa ia tidak bisa datang karena masih bekerja, dan dia berjanji akan datang besok pagi. Saya mengiyakan.

Pagi tanggal 22 Februari 2017, sekitar jam 10 Fauzi datang dan mengajak kami jalan-jalan ke pelabuhan Tanglok Sampang. Apa yang kami harapkan dari Fauzi tergelar dengan purna, dan dari dia pula kami mulai bisa menyusun agenda perjumpaan dengan teman-teman di Sampang. Fauzi menghubungi teman-temannya dan memberi kabar bahwa ada tamu dari Jogja untuk berjumpa dengan kawan-kawan. Sesuai usulan Fauzi, siang itu kami bergerak ke Pondok Pesantren Al Mubarak, Lanbulan, Batorasang, Sampang. Di sana kami akan bertemu ustad Zamzamul Adhim yang juga pendiri Pustakan Madura, sebuah komunitas kepenulisan sekaligus lapak penjual buku online.

Gerakan ustadz Zamzam dengan teman-teman Pustaka Madura berkisar di lingkungan pesantren di Sampang. Menurut ustad Zamzam, pesantren di Sampang tidak seperti pesantren di Sumenep yang lebih terbuka terhadap kesenian. Mereka memulai gerakannya di pesantren tempat ustad Zamzam mengajar. Mulai dari membuat buletin kecil sampai membuat diskusi dengan mengundang penulis dan seniman dari luar. “Para pengurus di sini kurang apresiatif pada kegiatan sastra dan seni yang saya lakukan, tetapi tetap saya lakukan. Saya bahkan tidak izin bikin kegiatan,” tutur ustad Zamzam. Inisiatif ustad Zamzam bermula dari teman-teman santri yang suka menulis, tapi mereka tidak punya wadah mengembangkan minatnya. Malamnya, sehabis salat isya’, saya menemui kiai Ghazali, pengasuh Pesantren Lanbulan, namun kami hanya sebatas salaman karena kiai Ghazali harus segera pergi untuk menghadiri undangan pengajian.

Tanggal 23 Februari 2017 adalah hari yang mendebarkan. Kami akan mengunjungi daerah Omben, tempat konflik Sunni-Syiah terjadi. Kami ditemani Fauzi dan Hayat, anggota Ujicoba Theatre Sampang. Dua hari sebelumnya kami mencari cara untuk bisa ke sana, namun kami merasa kesulitan karena tidak punya kenalan yang dapat membawa kami menemui warga Karanggayam, tempat di mana konflik terjadi. Tetapi semuanya tersingkap pelan-pelan, di Omben kami bertemu dengan Tika, pendiri Teater Tombak. Kami berharap Tika dapat membawa kami ke desa Karanggayam. Namun Tika sendiri tidak berani, bagi dia, konflik itu sudah reda, dia tidak mau menghidupkan api kembali. “Itu masih sensitive,” kata Tika. “Di sana (Karanggayam) masih dijaga, ada pos-pos penjagaan sampai sekarang,” tutur Dika, adik kandung Tika. Menurut Dika, warga Karanggayam tidak mudah membuka buka informasi,” ujar Dika. Jarak dari rumah Tika ke desa Karanggayam sekitar 5 KM, dan mereka juga tidak punya kenalan untuk kami kunjungi.

Karena merasa buntu, kami memilih kembali ke kota Sampang, melakukan agenda selanjutnya. Sore sekitar pukul 16.00 kami berkunjung ke rumah Bapak Rahman, seorang penari dan pendiri Kikana Art Production. Pak Rahman bercerita banyak tentang proses berkeseniannya, mulai dari Jakarta dan masuk IKJ sampai pulang ke Madura dan mendirikan Kikana. “Kalau Kikana sanggar mandiri. Sampang kota kecil. Jadi tidak usah mengharap pemerintah memberi apresiasi terhadap seni. Kalau berkesenian di sini mesti pintar mencari jaringan,” tutur Pak Rahman. Namun kenyataan yang menarik adalah Sampang yang dianggap paling terbelakang dalam konteks kesenian justru satu-satunya daerah di Madura yang memiliki gedung kesenian.

Tanggal 24 Februari 2017 adalah hari terakhir kami di Sampang, namun masih ada satu komunitas yang akan kami kunjungi, yaitu Biruh Ompos. Itu komunitas di luar kota Sampang, tepatnya di desa Gunung Eleh, Kecamatan Kadungdung, Sampang. Komunitas ini diinisiasi oleh pemuda bernama Moh. Iqbal Fathoni atau biasa dipanggil Fafan. Gerakan Fafan tidak hanya memberdayakan anak-anak desa untuk mencintai seni, tapi juga mengajak para petani di desanya untuk belajar bersama cara menanam yang baik supaya ketika panen hasilnya memuaskan. Fafan juga bisa dikatakan seorang aktivis, dia terlibat di lembaga Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sampang. Sehari-harinya adalah pergi ke RSUD Sampang untuk membantu dan mendapingi para pasien yang tidak mampu.

Hari itu, di pendopo kepala desa Gunung Eleh, kami menonton pertunjukan teater karya siswa-siswi MTs Assahidin, tempat Fafan mengajar teater. Pertunjukan itu akan dibawa ke Kediri untuk mengikuti pergelaran festival seni pelajar se-Jawa Timur. MTs Assahidin memwakili Sampang tingkat SMP sederajat untuk kategori teater.

Malam ketika kami berkemas, Pak Untung datang menemui kami di Hotel Bahagia. Kami bicara banyak hal. Beliau adalah seniman senior di Sampang. Menurut Pak Untung, kesenian di Sampang terbatas pada event. Pentas atas insiatif sendiri itu jarang dilakukan, atau bahkan tidak ada. Tapi banyak anak muda di Sampang yang mulai giat berkesenian di luar sekolah. Bagi beliau, itu adalah tanda-tanda baik untuk Sampang.

Pagi-pagi sekali, 25 Februari 2017, kami bertolak ke stasiun Gubeng, Surabaya. Pukul tujuh kami berangkat dari Gubeng dan sore kami sudah tiba di Yogyakarta. Perjalanan yang menyenangkan!

 

 

 

 

 

Antara Workshop, Moke dan Perjumpaan Kita

Kristina Beatrix Nong Goa “Qikan”

Sejak pertama kali Teater Garasi menginfokan akan membuat workshop di Flores tepatnya di kota Larantuka, saya sadar ini akan menjadi sebuah pengalaman belajar yang berharga secara pribadi maupun secara komunitas; untuk itu tak boleh disia-siakan. Beberapa teman juga mengakui hal yang sama, meskipun banyak juga yang lantas menyatakan kekecewaan mereka karena tak bisa mengikuti kegiatan ini karena kesibukan pekerjaan, selain karena memang peserta dibatasi. Dan ternyata benar, saya dan teman-teman Kahe yang mengikuti kegiatan ini merasa sangat beruntung. Banyak hal baru yang kami pelajari terutama soal metode-metode penciptaan, bagaimana menggagas tema, bagaimana menerjemahkan ide ke dalam gerak, theater of image (yang secara pribadi cukup berkesan untuk saya), parameter-parameter gerak dan banyak hal lain lagi yang berkaitan dengan proses penciptaan. Sehabis mengikuti workshop bertemakan ‘Bertolak Dari Yang Ada, Bicara Kepada Dunia’ ini kami—sebagai yang mewakili komunias Kahe—sudah membuat komitmen bersama untuk membuat sebuah karya bersama dan sejumlah project kecil-kecilan bertolak dari hal-hal yang sudah dipelajari dari workshop kali ini.

Akan tetapi, dalam tulisan singkat nan ringan ini saya tidak hendak membahas hal-hal teknis berkaitan dengan workshop atau juga mengenai detail karya dan project yang akan kami buat. Toh, di hari terakhr workshop, Mas Yudi dan kawan-kawan Garasi sendiri sudah mendengar secara langsung ungkapan hati, kesan dan rasa terima kasih berlimpah dari para peserta karena telah mengikuti workshop yang diselenggarakan. Saya hanya ingin membahas sedikit mengenai dampak langsung yang kami rasakan setelah workshop ini dibuat. Teman-teman Kahe yang lain mungkin punya kesan dan pengalaman yang berbeda yang tidak bisa saya tulis. Beberapa hal bisa saya ungkapkan di sini.

Pertama, sejujurnya, Teater Garasi/ Garasi Performance Institute yang diwakili oleh Mas Yudi, Mas Rizky, Mas Qomar, Mbak Sita, Mbak Lusi (meski tidak sempat hadir saat workshop) dan Siom (saya lupa nama aslinya, maaf) telah menyuntikkan energi baru bagi kami untuk terus berkarya. Di tengah segala keterbatasan akses informasi, pengetahuan, dan apresiasi, kadangkala ada rasa jenuh dan ‘tak berdaya’ yang secara pribadi dan secara komunitas kami rasakan. Garasi telah ‘membangunkan’ kami dari tidur dan serentak menyadarkan kami kalau kami sebenarnya punya potensi yang luar biasa. Kekayaan alam, budaya dan tradisi yang kami miliki justru menjadi alat kejut yang ampuh untuk sejenak membuka mata kami. Atau mungkinkah kami telah terlalu lama hidup dalam comfort zone? Entahlah, saya sendiri tidak yakin untuk itu. Tetapi, energi itu telah kami tularkan juga kepada teman-teman sekomunitas yang tidak mengikuti kegiatan ini. Seperti yang sudah saya singgung di atas, mereka merasa kecewa tidak bisa mengikuti workshop ini. Namun, saya yakin ada semacam semangat baru juga yang mereka rasakan seperti apa yang kami rasakan juga sebab semua kegiatan workshop selalu kami laporkan di group WA komunitas. Bahkan dengan mendengar cerita-cerita kami, mereka sangat terpesona dan tertarik (kalau tidak mau dibilang iri hati). Barangkali, bagi teman-teman Garasi sendiri ini merupakan hal yang biasa atau terlampau hiperbolis, tetapi memang begitulah kenyataannya. Sesuatu yang biasa dan sederhana bisa jadi merupakan hal besar dan luar biasa bagi orang lain. Dan itu sedang kami rasakan. Saya ingat bagaimana Mas Yudi memberikan materi dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Suasana workshop yang diciptakan; yang santai dan fleksibel, membuat kami berani mengungkapkan ide dan hal apa saja yang ingin kami tanyakan. Di dalam praktek pun kami tidak pernah dinilai dari aspek benar dan salah; Mas Yudi dan teman-teman Garasi tidak pernah men-judge bahwa gerakan yang ini salah dan yang benar harus seperti ini atau ide yang ini tidak benar, misalnya. Apa yang ada pada kami itulah yang diberdayakan. Saya mengerti bahwa inilah yang disebut; bertolak dari yang ada bicara kepada dunia.

Kedua, yang berkesan dari sebuah perjalanan adalah pengalaman perjumpaan; perjumpaan wajah, perjumpaan tubuh. Ini tentu merupakan pengalaman kedua kalinya teman-teman Garasi datang ke Flores (kecuali Siom yang katanya sudah beberapa kali ke NTT) setelah pada bulan Maret (kalau tidak salah) datang untuk kali pertama. Sebelumnya kami hanya mengetahui Teater Garasi dari youtube, Kompas, Tempo dan media-media nasional lainnya. Sebagaimana yang seringkali diucapkan Ka Sil Hurit, Teater Garasi adalah sebuah kelompok Teater terdepan di negeri ini. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, tetapi dari pengalaman perjumpaan, kami telah menganggap teman-teman Garasi (meskipun berbeda generasi) menjadi bagian dari kami; sahabat, keluarga, teman diskusi, dan ‘teman minum’ yang baik. Kami sangat menghormati dan menghargai Garasi, bahkan untuk semua yang telah mereka buat dan untuk dua puluhan tahun berkarya, hormat dan apresiasi setinggi-tingginya patut siapa saja berikan. Namun, ada hal yang lebih dari itu; yakni bagaimana Garasi juga turut meleburkan diri ke dalam hidup kami, pola pikir kami, tradisi dan budaya kami sambil banyak kali menyumbangkan sudut pandang lain yang sangat berguna bagi kami.
Yang menarik juga adalah ketika malam menjelang dan kita duduk melantai bersama dan ada beberapa botol yang berdiri. Sebotol moke tetaplah berisi moke bagi orang yang hanya ingin mabuk-mabukan, tetapi kemudian moke kelihatan lebih bermartabat ketika spontanitas diri setiap orang berujung pada sebuah persahabatan lintas generasi, lintas pulau, lintas agama, lintas suku. Ada produksi pengetahuan di sana, ada suara yang didengarkan, ada nada-nada yang dihayati dan ada saling menghormati. Sehingga ketika itu, Mas Yudi mulai jadi pendiam, Mas Qomar mulai membuat dahi kami berkerut dengan obrolan filsafat dan teologinya, mas Rizky menunjukkan musikalitasnya, Siom dengan moment of the truth-nya, dan Mbak Sita yang cepat ngantuk. Di situasi-situasi seperti inilah, Garasi menjadi sungguh-sungguh orang Flores. Kami pun menjadi tak canggung, meski kami sadar kami sedang berhadapan dengan sekelompok orang hebat. Bayangkan, saking hebatnya ketika mengetahui Mas Yudi dan Mas Qomar sampai hari ini belum kelar-kelar menuntaskan skripsi, Epang juga mau ikut-ikutan tidak mau menyelesaikan skripsinya dengan alasan kuat; yang penting berkarya dan berkesenian; teladannya ya sudah pasti Mas berdua itu. Saya yakin Mas Yudi tidak mau bertanggungjawab untuk kasus ini. Apalagi Mas Qomar.

Terima kasih banyak teman-teman Garasi. Kalian telah berhasil menjadi bagian dari kami dan membagi banyak hal kepada kami. Ada banyak kekurangan dan keburukan yang ada pada kami. Untuk semua itu, kami haturkan beribu maaf. Semoga alam, budaya dan senyum orang-orang Flores bisa menjadi inspirasi dalam berkarya.
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Epan gawan. Amapu Benjer!!!

Salam dan doa,

Qikan dan teman-teman Kahe Maumere of Flores

 

Karapan Sapi, Karapan Gengsi  

Shohifur Ridho’i

 

I

Sekitar pukul 9 pagi kami tiba di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan. Kami turun dari mobil dan berjalan sepanjang kira-kira 100 meter ke lapangan. Dari arah lapangan terdengar sayup musik saronen.

Sebelum karapan dimulai, sapi diarak sepanjang lapangan seperti karnaval dengan dandanan penuh pernak-pernik seperti binatang tunggangan raja. Setiap pasangan sapi diringi seperangkat musik tradisional saronen. Sapi-sapi itu memeroleh kewibawaannya sebagai binatang terhormat ketika diarak, namun sehabis itu, mereka adalah gladiator yang harus mengalahkan lawan-lawannya. Begitu kami tiba di lapangan, karnaval sudah selesai, beberapa seniman saronen tampak berteduh di bawah tenda. Pagi itu sinar matahari mulai panas menyengat.

Saya tidak terlalu paham musik saronen tetapi ia berhasil membawa saya ke suatu masa yang jauh ketika saya menonton karapan sapi secara diam-diam sebab khawatir ketahuan guru ngaji. Terlintas di kepala saya betapa mengerikan gagang sapu dari bambu kuning mendarat di paha santri yang tak patuh pada perintahnya. Tak ada hal baik yang patut dipetik dari pergelaran Karapan Sapi, demikian guru ngaji saya meyakini. Di sana hanya ada judi, hewan yang disakiti, pertengkaran, ilmu hitam, uang dan kekuasaan. Agama melarang tindakan tersebut.

Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya menonton karapan sapi, tapi tak berhasil. Namun saya meyakini lebih 10 tahun kaki saya tidak menginjakkan kaki di lapangan karapan. Namun musik saronen, bau balsam, luka dan darah di pantat sapi, joki cilik yang pemberani, dan aroma kotoran sapi membuat siang yang terik itu membawa saya pada masa-masa yang telah berlalu.

Dan kali ini, pada almanak 19 Februari 2017, saya diberi kesempatan memasuki Madura, salah satunya, melalui pergelaran Karapan Sapi, dengan cara yang lain: menjadi peneliti. Beban menjadi peneliti di daerah kelahiran adalah tantangan tersendiri. Saya dituntut untuk berjarak, namun di samping itu, Madura dan hal-hal di sekitarnya selalu membuat saya tak kuasa menolak kenangan dan memaksa saya berada di dalamnya. Dalam tegangan semacam itu, saya menulis catatan ini.

 

II

Lelaki bertubuh gempal dan berkulit gelap serta kumis tebal melintang di atas bibirnya itu bernama Hannan, seorang patron di Kecamatan Galis. Berhasil atau tidaknya pergelaran kaparan sapi berada di tangannya. Ia dihormati sekaligus ditakuti, bahkan kepala desa di Kecamatan Galis patuh pada perintahnya. Informasi itu saya peroleh dari seorang polisi yang sedang bertugas di lapangan Banyubunih siang itu.

Bapak Hannan berada di atas panggung bersama para juragan sapi dan para tokoh desa duduk memerhatikan jalannya perlombaan. Saya cukup lama memerhatikan panggung itu dari jarak lima meter di depan mereka. Aneh rasanya melihat pemandangan itu, terutama salah seorang juragan dan istrinya yang saya tak tahu namanya. Di pergelangan tangan kanan kiri si isteri melingkar perhiasan emas besar-besar dan jumlahnya banyak sekali, nyaris menutupi lengannya. Kalung emas seperti rantai kecil-kecil lebih dari satu buah melingkar di lehernya. Meskipun si isteri memakai jilbab, kalung itu dibiarkan kelihatan. Sementara si suami, selain gelang emas besar dan jam tangan yang tampaknya mahal sekali, ia juga memakai kalung berkepala celurit emas kecil. Itu satu pemandangan yang membuat saya takjub. Ajaib benar orang ini. Mudah sekali rejekinya.

Pemandangan itu membuat saya melihat orang Madura yang lain: glamor. Ya, Karapan Sapi bukan sekadar pertunjukan adu lari sapi, melainkan juga pertunjukan kekayaan pemiliknya.

Juragan seperti orang-orang di atas panggung kehormatan itu biasanya dipanggil Abah, satu panggilang terhormat yang biasanya untuk panggilan seorang pemuka agama atau seseorang yang sudah naik haji. Tetapi saya yakin orang-orang di atas panggung itu sudah naik haji, maka panggilan Abah, dalam derajat tertentu, pantas belaka bagi mereka. Di Madura, terutama di komunitas pergelaran sapi dan di pemerintahan, naik haji bukan saja perkara menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan juga tentang eksistensi. Naik haji seperti prosedur yang harus dilakukan untuk memeroleh pengakuan dari masyarakat. Dan dengan modal itu, ia diakui sekaligus dihormati. Salah satu contohnya adalah ketika nama sapi dipanggil melalui corong speaker TOA, lalu panggilan itu digenapkan dengan nama sang pemilik lengkap dengan gelar hajinya.

Cukup lama saya berpikir dan mencari cara supaya bisa bicara dengan Pak Hannan. Kesempatan itu datang ketika beberapa wartawan mewawancarainya. Ketika mereka selesai berbincang saya masuk dan memperkenalkan diri sebagai peneliti dari Yogyakarta yang tertarik untuk mengetahui Karapan Sapi. Keputusan menjadi orang ‘Jawa’ dan memakai ‘Bahasa Indonesia’ saya lakukan secara tiba-tiba sebab, sesibuk apapun,  orang-orang macam Pak Hannan biasanya menyediakan waktu lebih untuk ‘tamu’ yang menampakkan antusiasnya pada Karapan Sapi. Dan itu benar belaka. Mengetahui bahwa saya dari Jawa yang berbekal buku catatan kecil dan bolpoin, ia memperbaiki duduknya dan langsung merespon dengan sejumlah kalimat tentang betapa Karapan Sapi adalah media untuk mempererat hubungan empat kabupaten di Madura dan juga daerah-daerah di Tapal Kuda. “Karapan Sapi juga bisa menarik banyak wisatawan,” ucapnya  pelan dengan Bahasa Indonesia yang terasa kaku dan tak akrab di lidahnya. Dan ia juga berkata bahwa saya sebagai peneliti dari Jawa perlu juga mengabarkan kebaikan-kebaikan dalam karapan sapi kepada banyak orang. Saya mengangguk dan tersenyum.

 

III

Tergoda oleh komentar Pak Ary, seorang anggota TNI dari Koramil Kecamatan Galis bahwa Karapan Sapi sarat dengan judi. “Judinya jelas ada. Biasanya di tempat start itu. Mereka yang di sana anak buah juragan. Tapi judinya masih kecil, masih ratusan ribu. Nah, kalau yang di atas itu (di panggung), itu para juragan. Itu judinya bisa puluhan sampe ratusan juta.”

Perkara judi bukan barang aneh dalam pergelaran Karapan Sapi. Itu sudah sering saya dengar, tetapi hari itu saya ingin melihat sendiri. Saya bergerak ke garis start dan di tempat itu, sekitar tiga puluh menit saya memerhatikan orang-orang di sekitar saya. Ucapan Pak Ary benar belaka. Di tangan mereka saya melihat uang dua puluhan sampai ratusan ribu. Di tempat itu, judi digelar secara terbuka, tidak diam-diam. Sejauh judi tidak mengganggu jalannya perlombaan, misalnya menciptakan keributan dan pertengkaran, aparat kepolisian tidak akan menyentuh mereka.

Sebelum sapi dilepas, orang-orang ini berkumpul dalam beberapa kelompok kecil dan membagikan uangnya pada si juru Bandar. Begitu sapi dilepas dan melesat ke garis finish, para pemenang judi ini segera menghampiri si Bandar untuk mengambil uangnya. Adegan semacam itu terus berlangsung sepanjang perlombaan.

Namun ada hal yang lebih menarik ketimbang judi, yaitu bahwa Karapan Sapi tidak sekadar tentang perlombaan adu cepat lari sapi, melainkan juga alat untuk merebut pengaruh di masyarakat. Melalui Pak Bungkan, salah seorang kru tim Karapan Sapi dari Pagantenan, Pamekasan, saya beroleh informasi bahwa pemilik sapi karapan kebanyakan kepala desa, selebihnya pengusaha. Itu masuk akal sebab biaya perawatan sapi tidak murah. “Yang punya sapi itu pak kalebun (Kepala Desa). Kalau saya petani, tidak bisa punya sapi karapan, tidak ada biayanya,” katanya. Dan saya semakin yakin kalau petani macam Pak Bungkan tak akan sanggup bahkan untuk kebutuhan sapi. “Jamunya telur sebanyak lima ratus butir dalam satu minggu. Itu mahal,” ucapnya.

Para Kepala Desa dan pengusaha itu menggunakan sapi karapan sebagai salah satu cara untuk merebut pengaruh dan eksistensi di masyarakat, terutama di kalangan kepala desa lainnya. Menurut Pak Ary, Karapan Sapi jadi alat supaya juragan itu dikenal dan disegani. “Kalau sapinya menang. Dia pasti terkenal. Kalau hadiahnya gak seberapa,” katanya. Ia melanjutkan, “ketika si juragan terkenal, dia bisa masuk ke lingkaran yang lebih luas lagi. Dia bisa mencalonkan diri jadi kepala daerah atau minimal kepala desa.” Ia juga menegaskan bahwa Karapan Sapi sebenarnya karapan gengsi antar Kepala Desa. Orang-orang itu mengeluarkan banyak biaya supaya bisa eksis.

Apa yang saya ceritakan di atas sesungguhnya lumrah belaka. Namun ada satu yang membuat saya terkejut, yaitu Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, sepasang suami istri ini adalah satu-satunya peserta dari Jawa tapi memiliki darah Madura. Mereka berasal dari daerah Tapal Kuda Probolinggo. Tetapi bukan itu yang membuat saya terkejut, tetapi kenyataan bahwa Bapak Khoirul ini adalah seorang Doktor dan ia pernah bekerja di beberapa negara di Amerika dan Eropa, sekarang bekerja di pengeboran minyak di Thailand. Bagi saya, seorang tamatan S3 turut menjadi juragan Karapan Sapi adalah kenyataan baru di Madura, sebab juragan lainnya, secara tingkat pendidikannya tidak perlu saya sebut di sini, paling bagus lulusan S1.

Soal tingkat pendidikan ini pula saya tergoda untuk bertanya tentang apa yang sesungguhnya membuat mereka turut berpartisipasi dalam Karapan Sapi. Jika peserta lain menganggap Karapan Sapi sekadar hobi atau sebagai cara merebut pengaruh atau paling tidak melestarikan tradisi, maka Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati menjawab bahwa bahwa itu murni bisnis. Ketika kami datang ke tenda sapinya, sepasang suami istri itu tidak berkumpul dengan juragan lainnya di panggung kehormatan. “Bapak tidak suka berkumpul di sana,” ucap Ibu Fatmawati. Dia melanjutkan, “Kalau saya sih gak seperti juragan yang lain. Mereka itu pengen cari nama. Kalau saya nggak. Ini bisnis. Bagus sebagai bisnis.” Saya bertanya apakah mereka pernah naik haji dan Ibu Fatmawati menjawab, “alhamdulillah, sudah. Tapi ketika mendaftar ke lomba, bapak tidak mau gelar hajinya disebutkan. Itu gak penting, gak ada hubungannya dengan sapi.”

Karapan Sapi sebagai bisnis menurut Ibu Fatmawati sangat menarik. Meskipun biaya perawatannya mahal, itu juga sebanding dengan hasil penjualan sapi ketika menjadi pemenang. Misalnya, tahun 2010 mereka membeli sepasang sapi dengan harga 26 juta. Setelah melalui perawatan yang baik dan akhirnya sapi itu menjadi jawara. “Sapi saya menang. Ditawar 300 juta. Saya lepas,”  ujar Ibu Fatmawati sambil tersenyum.

Lain Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, lain pula Bapak Rifa’ie. Laki-laki yang sejak tahun 1982 bekerja sebagai staf kecamatan di salah satu daerah di Pamekasan ini tidak memiliki motivasi lain pada Karapan Sapi selain untuk hobi. Dia juga bukan tokoh desa atau pengusaha. “Itu kesenangan, mas. Saya terlibat di karapan sapi sudah lama sekali. Sampai sekarang masih. Saya pernah membeli sapi seharga 300 juta milik pak Khoirul itu. Kalau bukan kesenangan, gak masuk akal harga itu,” kata Bapak Rifa’ie.

Selepas itu, kami tak bisa meneruskan percakapan. Matahari perlahan jatuh dan sore telah tiba. Lomba Karapan Sapi belum selesai, tetapi kami harus segera bergerak ke kota Bangkalan sebelum hari jadi gelap. Sebagai peneliti, saya bahagia sebab saya mengetahui beberapa hal yang dulunya cuma sekadar omongan yang saya dengar dari mulut ke mulut. Sebagai orang Madura yang turut merasa memiliki kekayaan tersebut, beberapa hal memang ada yang perlu ditimbang dan dikoreksi, beberapa hal lain bisa diteruskan.

 

 

Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Sampang, Madura.

Setelah di Flores – NTT, Teater Garasi lalu berkunjung ke Sampang, Madura. Selama seminggu kami bertemu dan bertukar pengetahuan bersama seniman-seniman muda dari beberapa kota di Madura, melalui workshop dari tanggal 13-17 Mei, 2017, di 3 lokasi (aula Dinas Sosial, Balai Latihan Kerja dan Gedung Kesenian Sampang, Madura). Yudi Ahmad Tajudin, Gunawan Maryanto, Erythrina Baskoro, MN Qomarudin dan Lusia Neti Cahyani (seniman dan manajer Teater Garasi) memfasilitasi workshop ini, dibantu oleh Shohifur Ridho (sutradara Roka Teater, alumnus Performer Studio Teater Garasi). Bersama seniman-seniman muda dari Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan juga Sampang, kami mengajak melakukan proses identifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di Madura, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini. Peserta dibagi menjadi 2 grup yang mengolah isu dan modal kultural mereka ke dalam pertunjukan kecil (sekitar 30 menit) yang lalu di presentasikan di akhir workshop, di hadapan beberapa teman seniman dari Madura yang kami undang.

Workshop ini dibantu oleh teman-teman dari Padepokan Biruh Ompos, Komunitas Stingghil, dan Uji Coba Teater Sampang.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Workshop Pendekatan Penciptaan “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Flores Timur, NTT

 

Selama 5 hari (8-12 Mei 2017), beberapa seniman Teater Garasi (Yudi Ahmad Tajudin, Rizky Sasono, Arsita Iswardhani dan MN Qomarudin, ditemani oleh Antonius Maria Indrianto —aktivis NGO dan ketua dewan pengawas Teater Garasi) berkunjung ke Flores Timur, tepatnya ke kota Larantuka. Bersama sembilan belas teman dari beberapa daerah di Flores Timur (Adonara, Solor, Larantuka) dan Maumere, kami mengidentifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di daerah Flores, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam penciptaan seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini.

Proses saling berbagi ini kami selenggarakan bersama teman-teman Teater Nara (Flores Timur) dan Komunitas Kahe (Maumere). Berikut ini foto-foto aktivitas workshop yang dilakukan di wisma Bina Saron, San Dominggo, Larantuka.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Catatan Perjalanan Pertama ke Flores NTT

Arsita Iswardhani

Perjalanan Flores ini merupakan perjalan pertama dari seluruh rangkaian perjalanan ke depan yang akan mungkin dilakukan lagi oleh kami, Teater Garasi.

Kami singgah di dua daerah, yaitu di Maumere (Sikka) dan Flores Timur.

Di Maumere, kami ditemani partner lokal, Komunitas KAHE, sejak mendarat di bandara Frans Seda Maumere. Hari pertama di Maumere kami menemui Romo Tule Philipus dan Frater Hendrik dari Seminari Ledalero. Dari beliau ini, kami mendapatkan informasi tentang situasi keberagaman sosial dan budaya di Flores. Romo Tule adalah pakar Islamologi, dan Frater Hendrik sendiri juga tokoh yang sangat aktif dalam usaha-usaha menjaga situasi damai dan kerja bersama lintas agama. Salah satu yang sedang dipersiapkan saat kami bertemu dengan beliau, dan kemudian kami juga mengikuti acaranya di hari terakhir kami di Maumere, yaitu Aksi Bela Bumi. Setelah dari Seminari Ledalero, kami bertemu dengan anggota kelompok KAHE; Eka Putranggalu, Elvan, Rico Wawo, Haris Meoligo, Kikan, Rizal, Dimas, dan Tika. Mereka kelompok anak muda yang sangat aktif menggerakkan kesenian di Maumere. Malamnya, kami diajak ke Seminari Ritapiret untuk bertemu dengan kelompok-kelompok teater dari Seminari: Teater Tanya dan Teater Aletheia. Sesi ini terasa cukup formal tapi tetap santai, karena mereka ternyata menyiapkan satu forum besar. Dari pertemuan ini, kami sedikit banyak tahu bagaimana situasi perkembangan teater di Maumere.

Salah satu daerah yang saya kunjungi di Maumere adalah Desa Wuring. Desa ini terletak di pinggir laut. Bahkan ada sebagian rumah dari penduduk desa ini adalah rumah apung, dengan struktur bambu dan kayu. Juga ada masjing apung di ujung desa. Desa ini adalah salah satu desa muslim di Maumere. Rata-rata penduduk kampung Wuring berasal dari Bajo atau Bugis, dengan mata pencaharian para lelakinya hampir semuanya adalah nelayan. Di desa ini, saya bertemu dengan salah satu warga “atas”, Bapak Thomas Tega, yang berjualan alpukat dan hasil bumi di pelabuhan Wuring, bahkan sejak pelabuhan tersebut belum ada. Selain itu, saya bertemu juga dengan Ibu Rina dan Imam Masjid Tengah, yaitu Alidin Baco/Tabo.

Di hari terakhir di Maumere, sebelum ke Larantuka, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya dan rombongan mampir untuk melihat Aksi Bela Bumi yang diiniasis oleh Prater Hendrik. Aksi ini adalah aksi menanam pohon di mata air Wairkajo, yang diikuti oleh berbagai komunitas lintas agama. Di sana, kami bertemu langsung dengan kelompok-kelompok perwakilan dari gereja, kesusteran, kelompok masjid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere, dan masyarakat desa sekitar. Saya sendiri sempat bercakap-cakap dengan salah dua peserta yang terlibat. Salah satu dari mereka bernenek moyang dari Bajo dan beragama Islam. Sejak lahir, ia tinggal berdampingan dekat dengan gereja. Dan merasa tidak pernah merasa ada gejolak konflik apapun. Mereka tinggal bersama dengan damai.

Bergerak ke Flores Timur, kami tiba di Larantuka, bertemu dengan partner lokal kami di sana, “Opu” Silvester. Opu ini juga yang sebenarnya menghubungkan kami dengan teman-teman komunitas Kahe di Maumere. Beliau ini adalah penghubung yang sangat apik.

Di Flores Timur ini, pertama-tama kami pergi ke Adonara Timur. Di sana kami bertemu seorang penulis muda dan juga seorang pengajar, anggota dari Agupena juga, Pion Ratulolly. Tulisan-tulisan Pion telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pion banyak bercerita tentang sejarah dan kebudayaan desa Lamahala, satu desa muslim di Adonara Timur. Dari Pion juga, kami mendengar banyak cerita konflik tanah dan perang adat yang terjadi. Setelah bersama Pion hingga sore, kami bergerak menuju Desa Bele, masih di Adonara Timur. Di sini kami bertemu dengan kelompok Teater Nara, di bawah asuhan Opu Silvester. Anggota Teater Nara ini sangat beragam, dari mulai guru, ibu rumah tangga, hingga perempuan muda yang baru saja lulus dari kuliah di ibukota. Teater Nara sedang proses latihan mempersiapkan pentas mereka di Festival Cirebon pada bulan April.

Sepulangnya dari Adonara Timur, saya, Mbak Lusi, Qomar dan Opu berkunjung ke desa Birawan kampung Lewotobi. Kepala Desa Birawan masih sangat muda, dan beliau berhasil membuat Desa Birawan menjadi Desa Terbaik pada tahun 2015. Bersama kepala desa, ada satu tim yang selalu bekerja bersamanya, yaitu Sekretaris Desa, Manajer BUMDes, dan Kepala Dusun. Mereka sedang bekerja bersama dengan satu LSM untuk mengusahakan konservasi terumbu karang.

Di hari kelima perjalanan, kami menuju Solor, tepatnya di desa WuluBlolong. Kami berencana untuk menghadiri upacara adat Kebare Reka Wuung. Yaitu upacara adat buka puasa bagi para gadis. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan hasil bumi yang ditanam di musim hujan. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana adat berusaha menjaga kesinambungan kehidupan di desa tersebut. Di sini kami bertemu dan dijamu oleh keluarga Bapak Yakob. Dari kunjungan ini, saya mendapatkan cerita mengenai satu konflik yang masih terus berlangsung hingga saat ini, yaitu konflik antara Desa Lohayon dan Desa WuluBlolong ini. Sebelum kembali ke Larantuka, kami sempat menemui kepala dusun 4, dusun di mana terjadinya pembakaran rumah saat terjadinya konflik Lohayon. Kami bertemu juga dengan Bapak Yakobus Ola, ipar dari kepal dusun, dan anak dari Kepala Dusun 4.

Hari terakhir di Larantuka, saya dan Mbak Lusi sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan Bapak Bernad Tukan, seorang guru yang juga aktif dalam menggerakkan dan mencatat mengenai kebudayaan di Flores Timur. Setelah itu kami bertemu dengan rombongan lainnya di SMA Darius, bertemu dengan siswa-siswa yang aktif di teater. Teater SMA Darius sangat dikenal di Larantuka, mereka sering menjuarai perlombaan teater yang diselenggarakan di sana setiap tahunnya.

Malam terakhir di Larantuka, kami habiskan di Taman Kota Larantuka, bersama para tokoh muda penggiat kesenian dan kebudayaan di Larantuka; Kanis Soge, Frano Tukan, Maxi dari Agupena, Iwan, Felix (Pos Kupang), dan Bento. Kami membicarakan bagaimana kesenian bergerak di Larantuka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka sendiri di sana.

Dari seluruh perjalanan ini, saya sendiri punya satu catatan refleksi yang cukup dalam. Pertama, semangat belajar dan mencari referensi dari teman-teman komunitas di sana, sebut saja Komunitas Kahe, misalnya. Yang kedua, saya sangat terinspirasi bagaimana aspirasi anak muda untuk membuat satu gerakan tentang kesenian di Flores.

Catatan Perjalanan Pertama ke Sumenep Madura

Gunawan Maryanto

19 Februari 2017 jam 6 pagi kami, Erythrina Baskoro, Febrinawan Prestianto, Shohifur Ridho dan saya sendiri tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Sejenak kami beristirahat sembari menunggu kedatangan Anwari, salah seorang rekan yang akan mendampingi kami ke Madura. Anwari adalah seorang seniman muda dari Sumenep Madura yang belakangan banyak menjadi perbincangan karena karya-karyanya. Saat ini ia tinggal di Malang bersama istrinya, Elyda K Rara, seorang guru dan pegiat teater dan sastra di Malang. Begitu Anwari tiba di stasiun segera kami sarapan pagi bersama sambil bercakap tentang rencana perjalanan kami.

Selanjutnya kami bergerak menuju Bangkalan, tepatnya ke stadion Karapan Sapi Banyumunih. Di sana kami menyaksikan perhelatan Karapan Sapi. Sebenarnya saya, Giant, nama panggilan Febrinawan Prestianto, dan Anwari berencana untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Sumenep. Sementara Ery dan Ridho akan tinggal di Bangkalan. Tapi pertandingan Karapan Sapi itu tak mudah dilewatkan begitu saja. Akhirnya kami turun semua untuk menyaksikan pertandingan.

Dan sebagaimana rencana saya, Giant dan Anwari kemudian melanjutkan perjalanan. Kami berkejaran dengan waktu untuk segera sampai di Sumenep. Di hari pertama itu kami berencana untuk turut hadir dalam forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran (MSP), sebuah forum pertemuan para pegiat seni di Sumenep. Pertemuan itu berlangsung setiap bulan sekali diikuti oleh pegiat-pegiat seni muda dari berbagai pondok pesantren dan komunitas. Pertemuan bulan Februari ini berlangsung di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Beruntunglah kami sampai di Sumenep tepat waktu, acara yang direncanakan dimulai pukul 3 sore itu belum mulai. Sesampainya di STKIP PGRI Sumenep kami segera berkenalan dengan beberapa pegiat MSP, salah satunya adalah Mahendra Utama. Mahendra adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah di Jogja ia cukup aktif berteater di kampus UIN dan juga beberapa kelompok lain. Di tempat yang sama saya juga berjanji bertemu dengan Syah A Lathief, kawan lama yang dulu aktif di Teater Suto Jogja. Ia sudah pulang kampung dan menetap di Sumenep. Sebagaimana Mahendra, biasa dipanggil Eeng, Syah A Lathief juga cukup aktif sebagai penggerak seni, khususnya teater di Sumenep.

Forum MSP pun berlangsung. Mengalir lancar dengan spontanitas di sana-sini. Eeng dengan Language Theatre-nya juga tampil. Ia dan kawan-kawannya membawakan sebuah repertoar tubuh. Saya sendiri sempat didaulat untuk ngobrol di forum diskusi. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengantar maksud kedatangan tim Teater Garasi ke Madura.

Malamnya kami beristirahat di rumah Anwari yang terletak di daerah Dasuk. Di lingkungan rumahnya inilah Anwari kerap memberlangsungkan proses latihan teaternya dengan payung Padepokan Seni Madura. Di sana kami sebelum beristirahat kami sempat ngobrol-ngobrol dengan kerabat Anwari: Nenek Buyut, Nenek, ayah, ibu dan paman Anwari.

20 Februari pagi kami bergerak menuju rumah Syaf Anton, salah seorang buadayawan senior Sumenep. Ia mengelola situs www.lontarmadura.com. Syaf Anton sendiri juga dikenal sebagai pegiat seni sastra. Meski dalam keadaan yang kurang begitu sehat Syaf Anton dengan hangat menyambut dan meladeni banyak pertanyaan kami tentang keadaan seni dan budaya Madura, khususnya di Sumenep. Selepas dari Syaf Anton kami mengunjungi Museum Kraton Sumenep untuk melihat peninggalan-peninggalan kerajaan yang masih tersimpan di sana. Sebagai sebuah kerajaan yang telah berusia cukup panjang–pertama terdengar sejak jaman kerajaan Singasari di abad ke 13–kraton Sumenep memiliki koleksi yang cukup banyak dan unik.

Di kraton Sumenep kami bertemu kembali dengan Syah A Lathief yang berjanji untuk mengajak kami ke Pinggir Papas, sebuah kawasan yang terletak di pinggir pantai dan dipenuhi dengan ladang garam yang sebagian besar adalah milik PT Garam. Di sana kami bertemu dengan H. Machbub, salah seorang sesepuh Pinggir Papas yang sehari-hari mengelola madrasah yang didirikannya di Pinggir Papas. Beliau banyak bercerita tentang mitologi Angga Suta, seorang tokoh legenda yang dipercaya sebagai penemu garam pertama di pulau Madura. Maghrib memutus percakapan kami yang cukup panjang.

Selanjutnya masih bersama dengan Syah A Lathief kami mengunjungi Kyai Turmidzi Djaka di pondoknya yang terletak di daerah Prenduan. Beliau adalah seorang kyai yang aktif berkesenian. Hapir semua seniman yang kami temui sebelumnya menganjurkan kami untuk bertemu dengannya. Beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki jaringan yang cukup luas baik dengan sesama seniman maupun dengan aparat pemerintahan. Terakhir Turmidzi Djaka terpilih sebagai ketua Dewan Kesenian Sumenep sebelum pada akhirnya sekarang kosong. Percakapan dimulai dengan kegiatannya hari-hari ini yakni membatik. Di pondoknya tampak beberapa santri dan rekan seniman bekerja membatik. Mereka pun turut bergabung dengan percakapan hingga adzan subuh terdengar. Kyai Turmidzi juga dikenal sebagai seorang pemusik. Dengan kelompoknya Adz Dzikir ia sudah melanglang ke banyak kota di Madura dan Jawa. Sekarang ia tak lagi aktif dengan musiknya. Tapi dengan cara yang sama saat ia bermusik ia melibatkan banyak orang di sekitarnya untuk membatik.

Hari itu, 21 Februari, kami memutuskan untuk menginap di rumah Syah A Lathif di daerah Dungkek. Kami beristirahat hingga siang. Selanjutnya kami menuju ke pondok pesantren Annaquyah di mana Kyai M Faizi tinggal. Kami menuju ke daerah Guluk-guluk. Bagi para penyair nama Guluk-guluk dan  Faizi sudah tak asing lagi. Setiap kali ke Madura banyak penulis dan penyair menyempatkan diri berkunjung ke sana. M Faizi dikenal banyak memiliki jaringan dengan para penulis Indonesia. Beliau sendiri adalah juga seorang penulis dan penyair. Lewat percakapan yang hangat beliau menuturkan bagaimana sejarah dan perkembangan seni sastra dan teater yang banyak disukai oleh santri-santrinya. Kami sempat pula melihat latihan teater yang tengah berlangsung di aula pondok. Tampak Mahendra bertindak sebagai pelatih dan sutradara. Selanjutnya kami diminta untuk membuka diskusi bersama dengan para santri yang memiliki hobby sastra dan teater. Selain menggali banyak informasi dari Kyai Faizi kami juga mendapat banyak informasi tambahan dari Mahendra Utama yang banyak melatih kelompok-kelompok teater di banyak pesantren.

Tanggal 22 Februari, secara mengejutkan Syah A Lathief memberi kabar bahwa Bupati Sumenep, KH Busyro Karim bersedia menerima kedatangan kami. Kami pun bergegas menuju kantor dinas bupati. Di sana tanpa menunggu terlalu lama KH Busyro Karim menerima kami. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan Teater Garasike Sumenep, beliau ganti bercerita tentang beberapa program yang hendak berlangsung di Sumenep berkait dengan kebudayaan. Kebetulan tahun 2018 ditargetkan sebagai tahun kunjungan wisata Sumenep. Karena waktu bupati yang cukup terbatas kami pun segera berpamit dan melanjutkan rencana kami untuk bertemu dengan Mahendra di rumahnya.

Di rumah kami menunggu Mahendra yang masih bekerja di sawah. Setelah beristirahat sejenak kami pun makan siang sambil bercakap perihan perkembangan teater di Sumenep. Mahendra banyak bercerita tentang Language Theatre, kelompok yang dipimpin dan dikelolanya saat ini. Di kelompok inilah Mahendra mewujudkan keinginan dan kegelisahannya. Banyak pengalaman yang ditimbanya semasa kuliah di Jogja dia praktikkan bersama kelompoknya. Language Theatre cukup dikenal di Jawa Timur karena beberapa kali mengikuti festival teater di Surabaya.

Sepulang dari rumah Mahendra kami beristirahat sejenak di sebuah warung kopi. Saya berniat untuk melanjutkan beberapa pekerjaan Teater Garasi yang tertunda. Tapi tak berapa lama Anwari kedatangan sepasang suami istri yang merupakan bekas pelatih teater sewaktu SMA dulu. Mereka adalah Mas Imam dan Mbak Yanti. Keduanya juga pernah aktif berteater di STKIP PGRI Sumenep. Dari mereka kami banyak mendapat informasi tentang dinamika teater sekolah. Percakapan mesti berhenti karena malam telah larut.

Hari berikutnya, 23 Februari, berbekal beberapa informasi kami berniat menemui Adi Sutipno, seorang pimpinan kelompok topeng di daerah Salopeng. Setelah menunggu beberapa saat di rumahnya, Pak Sutip pun segera pulang dari tempatnya bekerja. Sehari-harinya beliau bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah. Dari Pak Sutip kami mendengarkan sejarah perkembangan seni tari topeng di daerah Salopeng. Kesenian topeng merupakan warisan turun temurun. Beliau merupakan generasi keempat dari pendiri kelompok seni topeng Rukun Perawas. Pak Sutip sendiri sekarang mengelola kelompok seni topeng Rukun Pewaras yang merupakan sempalan dari kelompok sebelumnya. Kedua kelompok topeng ini masih sama aktifnya hingga sekarang. Mereka masih terus berproses dan berpentas di banyak hajatan masyarakat. Di akhir percakapan Pak Sutip mengajak kami untuk mengunjungi iparnya yang merupakan seniman pembuat topeng. Saya membawa satu topeng Baladewa sebagai kenang-kenangan dari sana. Malamnya kembali kami menginap di rumah Syah A Lathief sekaligus menggali informasi darinya.

Tanggal 24 yang merupakan hari terakhir kunjungan kami ke Sumenep, kami menghabiskan banyak waktu untuk mencatat segala temuan selama kami berada di Sumenep. Pada waktunya kami mesti pergi Syah A Lathief mengantar kami ke terminal. Kami selanjutnya menuju ke Sampang untuk bertemu kembali dengan tim Teater Garasi yang lain.