Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Sampang, Madura.

Setelah di Flores – NTT, Teater Garasi lalu berkunjung ke Sampang, Madura. Selama seminggu kami bertemu dan bertukar pengetahuan bersama seniman-seniman muda dari beberapa kota di Madura, melalui workshop dari tanggal 13-17 Mei, 2017, di 3 lokasi (aula Dinas Sosial, Balai Latihan Kerja dan Gedung Kesenian Sampang, Madura). Yudi Ahmad Tajudin, Gunawan Maryanto, Erythrina Baskoro, MN Qomarudin dan Lusia Neti Cahyani (seniman dan manajer Teater Garasi) memfasilitasi workshop ini, dibantu oleh Shohifur Ridho (sutradara Roka Teater, alumnus Performer Studio Teater Garasi). Bersama seniman-seniman muda dari Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan juga Sampang, kami mengajak melakukan proses identifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di Madura, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini. Peserta dibagi menjadi 2 grup yang mengolah isu dan modal kultural mereka ke dalam pertunjukan kecil (sekitar 30 menit) yang lalu di presentasikan di akhir workshop, di hadapan beberapa teman seniman dari Madura yang kami undang.

Workshop ini dibantu oleh teman-teman dari Padepokan Biruh Ompos, Komunitas Stingghil, dan Uji Coba Teater Sampang.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Workshop Pendekatan Penciptaan “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Flores Timur, NTT

 

Selama 5 hari (8-12 Mei 2017), beberapa seniman Teater Garasi (Yudi Ahmad Tajudin, Rizky Sasono, Arsita Iswardhani dan MN Qomarudin, ditemani oleh Antonius Maria Indrianto —aktivis NGO dan ketua dewan pengawas Teater Garasi) berkunjung ke Flores Timur, tepatnya ke kota Larantuka. Bersama sembilan belas teman dari beberapa daerah di Flores Timur (Adonara, Solor, Larantuka) dan Maumere, kami mengidentifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di daerah Flores, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam penciptaan seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini.

Proses saling berbagi ini kami selenggarakan bersama teman-teman Teater Nara (Flores Timur) dan Komunitas Kahe (Maumere). Berikut ini foto-foto aktivitas workshop yang dilakukan di wisma Bina Saron, San Dominggo, Larantuka.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Catatan Perjalanan Pertama ke Flores NTT

Arsita Iswardhani

Perjalanan Flores ini merupakan perjalan pertama dari seluruh rangkaian perjalanan ke depan yang akan mungkin dilakukan lagi oleh kami, Teater Garasi.

Kami singgah di dua daerah, yaitu di Maumere (Sikka) dan Flores Timur.

Di Maumere, kami ditemani partner lokal, Komunitas KAHE, sejak mendarat di bandara Frans Seda Maumere. Hari pertama di Maumere kami menemui Romo Tule Philipus dan Frater Hendrik dari Seminari Ledalero. Dari beliau ini, kami mendapatkan informasi tentang situasi keberagaman sosial dan budaya di Flores. Romo Tule adalah pakar Islamologi, dan Frater Hendrik sendiri juga tokoh yang sangat aktif dalam usaha-usaha menjaga situasi damai dan kerja bersama lintas agama. Salah satu yang sedang dipersiapkan saat kami bertemu dengan beliau, dan kemudian kami juga mengikuti acaranya di hari terakhir kami di Maumere, yaitu Aksi Bela Bumi. Setelah dari Seminari Ledalero, kami bertemu dengan anggota kelompok KAHE; Eka Putranggalu, Elvan, Rico Wawo, Haris Meoligo, Kikan, Rizal, Dimas, dan Tika. Mereka kelompok anak muda yang sangat aktif menggerakkan kesenian di Maumere. Malamnya, kami diajak ke Seminari Ritapiret untuk bertemu dengan kelompok-kelompok teater dari Seminari: Teater Tanya dan Teater Aletheia. Sesi ini terasa cukup formal tapi tetap santai, karena mereka ternyata menyiapkan satu forum besar. Dari pertemuan ini, kami sedikit banyak tahu bagaimana situasi perkembangan teater di Maumere.

Salah satu daerah yang saya kunjungi di Maumere adalah Desa Wuring. Desa ini terletak di pinggir laut. Bahkan ada sebagian rumah dari penduduk desa ini adalah rumah apung, dengan struktur bambu dan kayu. Juga ada masjing apung di ujung desa. Desa ini adalah salah satu desa muslim di Maumere. Rata-rata penduduk kampung Wuring berasal dari Bajo atau Bugis, dengan mata pencaharian para lelakinya hampir semuanya adalah nelayan. Di desa ini, saya bertemu dengan salah satu warga “atas”, Bapak Thomas Tega, yang berjualan alpukat dan hasil bumi di pelabuhan Wuring, bahkan sejak pelabuhan tersebut belum ada. Selain itu, saya bertemu juga dengan Ibu Rina dan Imam Masjid Tengah, yaitu Alidin Baco/Tabo.

Di hari terakhir di Maumere, sebelum ke Larantuka, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya dan rombongan mampir untuk melihat Aksi Bela Bumi yang diiniasis oleh Prater Hendrik. Aksi ini adalah aksi menanam pohon di mata air Wairkajo, yang diikuti oleh berbagai komunitas lintas agama. Di sana, kami bertemu langsung dengan kelompok-kelompok perwakilan dari gereja, kesusteran, kelompok masjid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere, dan masyarakat desa sekitar. Saya sendiri sempat bercakap-cakap dengan salah dua peserta yang terlibat. Salah satu dari mereka bernenek moyang dari Bajo dan beragama Islam. Sejak lahir, ia tinggal berdampingan dekat dengan gereja. Dan merasa tidak pernah merasa ada gejolak konflik apapun. Mereka tinggal bersama dengan damai.

Bergerak ke Flores Timur, kami tiba di Larantuka, bertemu dengan partner lokal kami di sana, “Opu” Silvester. Opu ini juga yang sebenarnya menghubungkan kami dengan teman-teman komunitas Kahe di Maumere. Beliau ini adalah penghubung yang sangat apik.

Di Flores Timur ini, pertama-tama kami pergi ke Adonara Timur. Di sana kami bertemu seorang penulis muda dan juga seorang pengajar, anggota dari Agupena juga, Pion Ratulolly. Tulisan-tulisan Pion telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pion banyak bercerita tentang sejarah dan kebudayaan desa Lamahala, satu desa muslim di Adonara Timur. Dari Pion juga, kami mendengar banyak cerita konflik tanah dan perang adat yang terjadi. Setelah bersama Pion hingga sore, kami bergerak menuju Desa Bele, masih di Adonara Timur. Di sini kami bertemu dengan kelompok Teater Nara, di bawah asuhan Opu Silvester. Anggota Teater Nara ini sangat beragam, dari mulai guru, ibu rumah tangga, hingga perempuan muda yang baru saja lulus dari kuliah di ibukota. Teater Nara sedang proses latihan mempersiapkan pentas mereka di Festival Cirebon pada bulan April.

Sepulangnya dari Adonara Timur, saya, Mbak Lusi, Qomar dan Opu berkunjung ke desa Birawan kampung Lewotobi. Kepala Desa Birawan masih sangat muda, dan beliau berhasil membuat Desa Birawan menjadi Desa Terbaik pada tahun 2015. Bersama kepala desa, ada satu tim yang selalu bekerja bersamanya, yaitu Sekretaris Desa, Manajer BUMDes, dan Kepala Dusun. Mereka sedang bekerja bersama dengan satu LSM untuk mengusahakan konservasi terumbu karang.

Di hari kelima perjalanan, kami menuju Solor, tepatnya di desa WuluBlolong. Kami berencana untuk menghadiri upacara adat Kebare Reka Wuung. Yaitu upacara adat buka puasa bagi para gadis. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan hasil bumi yang ditanam di musim hujan. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana adat berusaha menjaga kesinambungan kehidupan di desa tersebut. Di sini kami bertemu dan dijamu oleh keluarga Bapak Yakob. Dari kunjungan ini, saya mendapatkan cerita mengenai satu konflik yang masih terus berlangsung hingga saat ini, yaitu konflik antara Desa Lohayon dan Desa WuluBlolong ini. Sebelum kembali ke Larantuka, kami sempat menemui kepala dusun 4, dusun di mana terjadinya pembakaran rumah saat terjadinya konflik Lohayon. Kami bertemu juga dengan Bapak Yakobus Ola, ipar dari kepal dusun, dan anak dari Kepala Dusun 4.

Hari terakhir di Larantuka, saya dan Mbak Lusi sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan Bapak Bernad Tukan, seorang guru yang juga aktif dalam menggerakkan dan mencatat mengenai kebudayaan di Flores Timur. Setelah itu kami bertemu dengan rombongan lainnya di SMA Darius, bertemu dengan siswa-siswa yang aktif di teater. Teater SMA Darius sangat dikenal di Larantuka, mereka sering menjuarai perlombaan teater yang diselenggarakan di sana setiap tahunnya.

Malam terakhir di Larantuka, kami habiskan di Taman Kota Larantuka, bersama para tokoh muda penggiat kesenian dan kebudayaan di Larantuka; Kanis Soge, Frano Tukan, Maxi dari Agupena, Iwan, Felix (Pos Kupang), dan Bento. Kami membicarakan bagaimana kesenian bergerak di Larantuka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka sendiri di sana.

Dari seluruh perjalanan ini, saya sendiri punya satu catatan refleksi yang cukup dalam. Pertama, semangat belajar dan mencari referensi dari teman-teman komunitas di sana, sebut saja Komunitas Kahe, misalnya. Yang kedua, saya sangat terinspirasi bagaimana aspirasi anak muda untuk membuat satu gerakan tentang kesenian di Flores.

Catatan Perjalanan Pertama ke Sumenep Madura

Gunawan Maryanto

19 Februari 2017 jam 6 pagi kami, Erythrina Baskoro, Febrinawan Prestianto, Shohifur Ridho dan saya sendiri tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Sejenak kami beristirahat sembari menunggu kedatangan Anwari, salah seorang rekan yang akan mendampingi kami ke Madura. Anwari adalah seorang seniman muda dari Sumenep Madura yang belakangan banyak menjadi perbincangan karena karya-karyanya. Saat ini ia tinggal di Malang bersama istrinya, Elyda K Rara, seorang guru dan pegiat teater dan sastra di Malang. Begitu Anwari tiba di stasiun segera kami sarapan pagi bersama sambil bercakap tentang rencana perjalanan kami.

Selanjutnya kami bergerak menuju Bangkalan, tepatnya ke stadion Karapan Sapi Banyumunih. Di sana kami menyaksikan perhelatan Karapan Sapi. Sebenarnya saya, Giant, nama panggilan Febrinawan Prestianto, dan Anwari berencana untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Sumenep. Sementara Ery dan Ridho akan tinggal di Bangkalan. Tapi pertandingan Karapan Sapi itu tak mudah dilewatkan begitu saja. Akhirnya kami turun semua untuk menyaksikan pertandingan.

Dan sebagaimana rencana saya, Giant dan Anwari kemudian melanjutkan perjalanan. Kami berkejaran dengan waktu untuk segera sampai di Sumenep. Di hari pertama itu kami berencana untuk turut hadir dalam forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran (MSP), sebuah forum pertemuan para pegiat seni di Sumenep. Pertemuan itu berlangsung setiap bulan sekali diikuti oleh pegiat-pegiat seni muda dari berbagai pondok pesantren dan komunitas. Pertemuan bulan Februari ini berlangsung di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Beruntunglah kami sampai di Sumenep tepat waktu, acara yang direncanakan dimulai pukul 3 sore itu belum mulai. Sesampainya di STKIP PGRI Sumenep kami segera berkenalan dengan beberapa pegiat MSP, salah satunya adalah Mahendra Utama. Mahendra adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah di Jogja ia cukup aktif berteater di kampus UIN dan juga beberapa kelompok lain. Di tempat yang sama saya juga berjanji bertemu dengan Syah A Lathief, kawan lama yang dulu aktif di Teater Suto Jogja. Ia sudah pulang kampung dan menetap di Sumenep. Sebagaimana Mahendra, biasa dipanggil Eeng, Syah A Lathief juga cukup aktif sebagai penggerak seni, khususnya teater di Sumenep.

Forum MSP pun berlangsung. Mengalir lancar dengan spontanitas di sana-sini. Eeng dengan Language Theatre-nya juga tampil. Ia dan kawan-kawannya membawakan sebuah repertoar tubuh. Saya sendiri sempat didaulat untuk ngobrol di forum diskusi. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengantar maksud kedatangan tim Teater Garasi ke Madura.

Malamnya kami beristirahat di rumah Anwari yang terletak di daerah Dasuk. Di lingkungan rumahnya inilah Anwari kerap memberlangsungkan proses latihan teaternya dengan payung Padepokan Seni Madura. Di sana kami sebelum beristirahat kami sempat ngobrol-ngobrol dengan kerabat Anwari: Nenek Buyut, Nenek, ayah, ibu dan paman Anwari.

20 Februari pagi kami bergerak menuju rumah Syaf Anton, salah seorang buadayawan senior Sumenep. Ia mengelola situs www.lontarmadura.com. Syaf Anton sendiri juga dikenal sebagai pegiat seni sastra. Meski dalam keadaan yang kurang begitu sehat Syaf Anton dengan hangat menyambut dan meladeni banyak pertanyaan kami tentang keadaan seni dan budaya Madura, khususnya di Sumenep. Selepas dari Syaf Anton kami mengunjungi Museum Kraton Sumenep untuk melihat peninggalan-peninggalan kerajaan yang masih tersimpan di sana. Sebagai sebuah kerajaan yang telah berusia cukup panjang–pertama terdengar sejak jaman kerajaan Singasari di abad ke 13–kraton Sumenep memiliki koleksi yang cukup banyak dan unik.

Di kraton Sumenep kami bertemu kembali dengan Syah A Lathief yang berjanji untuk mengajak kami ke Pinggir Papas, sebuah kawasan yang terletak di pinggir pantai dan dipenuhi dengan ladang garam yang sebagian besar adalah milik PT Garam. Di sana kami bertemu dengan H. Machbub, salah seorang sesepuh Pinggir Papas yang sehari-hari mengelola madrasah yang didirikannya di Pinggir Papas. Beliau banyak bercerita tentang mitologi Angga Suta, seorang tokoh legenda yang dipercaya sebagai penemu garam pertama di pulau Madura. Maghrib memutus percakapan kami yang cukup panjang.

Selanjutnya masih bersama dengan Syah A Lathief kami mengunjungi Kyai Turmidzi Djaka di pondoknya yang terletak di daerah Prenduan. Beliau adalah seorang kyai yang aktif berkesenian. Hapir semua seniman yang kami temui sebelumnya menganjurkan kami untuk bertemu dengannya. Beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki jaringan yang cukup luas baik dengan sesama seniman maupun dengan aparat pemerintahan. Terakhir Turmidzi Djaka terpilih sebagai ketua Dewan Kesenian Sumenep sebelum pada akhirnya sekarang kosong. Percakapan dimulai dengan kegiatannya hari-hari ini yakni membatik. Di pondoknya tampak beberapa santri dan rekan seniman bekerja membatik. Mereka pun turut bergabung dengan percakapan hingga adzan subuh terdengar. Kyai Turmidzi juga dikenal sebagai seorang pemusik. Dengan kelompoknya Adz Dzikir ia sudah melanglang ke banyak kota di Madura dan Jawa. Sekarang ia tak lagi aktif dengan musiknya. Tapi dengan cara yang sama saat ia bermusik ia melibatkan banyak orang di sekitarnya untuk membatik.

Hari itu, 21 Februari, kami memutuskan untuk menginap di rumah Syah A Lathif di daerah Dungkek. Kami beristirahat hingga siang. Selanjutnya kami menuju ke pondok pesantren Annaquyah di mana Kyai M Faizi tinggal. Kami menuju ke daerah Guluk-guluk. Bagi para penyair nama Guluk-guluk dan  Faizi sudah tak asing lagi. Setiap kali ke Madura banyak penulis dan penyair menyempatkan diri berkunjung ke sana. M Faizi dikenal banyak memiliki jaringan dengan para penulis Indonesia. Beliau sendiri adalah juga seorang penulis dan penyair. Lewat percakapan yang hangat beliau menuturkan bagaimana sejarah dan perkembangan seni sastra dan teater yang banyak disukai oleh santri-santrinya. Kami sempat pula melihat latihan teater yang tengah berlangsung di aula pondok. Tampak Mahendra bertindak sebagai pelatih dan sutradara. Selanjutnya kami diminta untuk membuka diskusi bersama dengan para santri yang memiliki hobby sastra dan teater. Selain menggali banyak informasi dari Kyai Faizi kami juga mendapat banyak informasi tambahan dari Mahendra Utama yang banyak melatih kelompok-kelompok teater di banyak pesantren.

Tanggal 22 Februari, secara mengejutkan Syah A Lathief memberi kabar bahwa Bupati Sumenep, KH Busyro Karim bersedia menerima kedatangan kami. Kami pun bergegas menuju kantor dinas bupati. Di sana tanpa menunggu terlalu lama KH Busyro Karim menerima kami. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan Teater Garasike Sumenep, beliau ganti bercerita tentang beberapa program yang hendak berlangsung di Sumenep berkait dengan kebudayaan. Kebetulan tahun 2018 ditargetkan sebagai tahun kunjungan wisata Sumenep. Karena waktu bupati yang cukup terbatas kami pun segera berpamit dan melanjutkan rencana kami untuk bertemu dengan Mahendra di rumahnya.

Di rumah kami menunggu Mahendra yang masih bekerja di sawah. Setelah beristirahat sejenak kami pun makan siang sambil bercakap perihan perkembangan teater di Sumenep. Mahendra banyak bercerita tentang Language Theatre, kelompok yang dipimpin dan dikelolanya saat ini. Di kelompok inilah Mahendra mewujudkan keinginan dan kegelisahannya. Banyak pengalaman yang ditimbanya semasa kuliah di Jogja dia praktikkan bersama kelompoknya. Language Theatre cukup dikenal di Jawa Timur karena beberapa kali mengikuti festival teater di Surabaya.

Sepulang dari rumah Mahendra kami beristirahat sejenak di sebuah warung kopi. Saya berniat untuk melanjutkan beberapa pekerjaan Teater Garasi yang tertunda. Tapi tak berapa lama Anwari kedatangan sepasang suami istri yang merupakan bekas pelatih teater sewaktu SMA dulu. Mereka adalah Mas Imam dan Mbak Yanti. Keduanya juga pernah aktif berteater di STKIP PGRI Sumenep. Dari mereka kami banyak mendapat informasi tentang dinamika teater sekolah. Percakapan mesti berhenti karena malam telah larut.

Hari berikutnya, 23 Februari, berbekal beberapa informasi kami berniat menemui Adi Sutipno, seorang pimpinan kelompok topeng di daerah Salopeng. Setelah menunggu beberapa saat di rumahnya, Pak Sutip pun segera pulang dari tempatnya bekerja. Sehari-harinya beliau bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah. Dari Pak Sutip kami mendengarkan sejarah perkembangan seni tari topeng di daerah Salopeng. Kesenian topeng merupakan warisan turun temurun. Beliau merupakan generasi keempat dari pendiri kelompok seni topeng Rukun Perawas. Pak Sutip sendiri sekarang mengelola kelompok seni topeng Rukun Pewaras yang merupakan sempalan dari kelompok sebelumnya. Kedua kelompok topeng ini masih sama aktifnya hingga sekarang. Mereka masih terus berproses dan berpentas di banyak hajatan masyarakat. Di akhir percakapan Pak Sutip mengajak kami untuk mengunjungi iparnya yang merupakan seniman pembuat topeng. Saya membawa satu topeng Baladewa sebagai kenang-kenangan dari sana. Malamnya kembali kami menginap di rumah Syah A Lathief sekaligus menggali informasi darinya.

Tanggal 24 yang merupakan hari terakhir kunjungan kami ke Sumenep, kami menghabiskan banyak waktu untuk mencatat segala temuan selama kami berada di Sumenep. Pada waktunya kami mesti pergi Syah A Lathief mengantar kami ke terminal. Kami selanjutnya menuju ke Sampang untuk bertemu kembali dengan tim Teater Garasi yang lain.