Karapan Sapi, Karapan Gengsi  

Shohifur Ridho’i

 

I

Sekitar pukul 9 pagi kami tiba di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan. Kami turun dari mobil dan berjalan sepanjang kira-kira 100 meter ke lapangan. Dari arah lapangan terdengar sayup musik saronen.

Sebelum karapan dimulai, sapi diarak sepanjang lapangan seperti karnaval dengan dandanan penuh pernak-pernik seperti binatang tunggangan raja. Setiap pasangan sapi diringi seperangkat musik tradisional saronen. Sapi-sapi itu memeroleh kewibawaannya sebagai binatang terhormat ketika diarak, namun sehabis itu, mereka adalah gladiator yang harus mengalahkan lawan-lawannya. Begitu kami tiba di lapangan, karnaval sudah selesai, beberapa seniman saronen tampak berteduh di bawah tenda. Pagi itu sinar matahari mulai panas menyengat.

Saya tidak terlalu paham musik saronen tetapi ia berhasil membawa saya ke suatu masa yang jauh ketika saya menonton karapan sapi secara diam-diam sebab khawatir ketahuan guru ngaji. Terlintas di kepala saya betapa mengerikan gagang sapu dari bambu kuning mendarat di paha santri yang tak patuh pada perintahnya. Tak ada hal baik yang patut dipetik dari pergelaran Karapan Sapi, demikian guru ngaji saya meyakini. Di sana hanya ada judi, hewan yang disakiti, pertengkaran, ilmu hitam, uang dan kekuasaan. Agama melarang tindakan tersebut.

Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya menonton karapan sapi, tapi tak berhasil. Namun saya meyakini lebih 10 tahun kaki saya tidak menginjakkan kaki di lapangan karapan. Namun musik saronen, bau balsam, luka dan darah di pantat sapi, joki cilik yang pemberani, dan aroma kotoran sapi membuat siang yang terik itu membawa saya pada masa-masa yang telah berlalu.

Dan kali ini, pada almanak 19 Februari 2017, saya diberi kesempatan memasuki Madura, salah satunya, melalui pergelaran Karapan Sapi, dengan cara yang lain: menjadi peneliti. Beban menjadi peneliti di daerah kelahiran adalah tantangan tersendiri. Saya dituntut untuk berjarak, namun di samping itu, Madura dan hal-hal di sekitarnya selalu membuat saya tak kuasa menolak kenangan dan memaksa saya berada di dalamnya. Dalam tegangan semacam itu, saya menulis catatan ini.

 

II

Lelaki bertubuh gempal dan berkulit gelap serta kumis tebal melintang di atas bibirnya itu bernama Hannan, seorang patron di Kecamatan Galis. Berhasil atau tidaknya pergelaran kaparan sapi berada di tangannya. Ia dihormati sekaligus ditakuti, bahkan kepala desa di Kecamatan Galis patuh pada perintahnya. Informasi itu saya peroleh dari seorang polisi yang sedang bertugas di lapangan Banyubunih siang itu.

Bapak Hannan berada di atas panggung bersama para juragan sapi dan para tokoh desa duduk memerhatikan jalannya perlombaan. Saya cukup lama memerhatikan panggung itu dari jarak lima meter di depan mereka. Aneh rasanya melihat pemandangan itu, terutama salah seorang juragan dan istrinya yang saya tak tahu namanya. Di pergelangan tangan kanan kiri si isteri melingkar perhiasan emas besar-besar dan jumlahnya banyak sekali, nyaris menutupi lengannya. Kalung emas seperti rantai kecil-kecil lebih dari satu buah melingkar di lehernya. Meskipun si isteri memakai jilbab, kalung itu dibiarkan kelihatan. Sementara si suami, selain gelang emas besar dan jam tangan yang tampaknya mahal sekali, ia juga memakai kalung berkepala celurit emas kecil. Itu satu pemandangan yang membuat saya takjub. Ajaib benar orang ini. Mudah sekali rejekinya.

Pemandangan itu membuat saya melihat orang Madura yang lain: glamor. Ya, Karapan Sapi bukan sekadar pertunjukan adu lari sapi, melainkan juga pertunjukan kekayaan pemiliknya.

Juragan seperti orang-orang di atas panggung kehormatan itu biasanya dipanggil Abah, satu panggilang terhormat yang biasanya untuk panggilan seorang pemuka agama atau seseorang yang sudah naik haji. Tetapi saya yakin orang-orang di atas panggung itu sudah naik haji, maka panggilan Abah, dalam derajat tertentu, pantas belaka bagi mereka. Di Madura, terutama di komunitas pergelaran sapi dan di pemerintahan, naik haji bukan saja perkara menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan juga tentang eksistensi. Naik haji seperti prosedur yang harus dilakukan untuk memeroleh pengakuan dari masyarakat. Dan dengan modal itu, ia diakui sekaligus dihormati. Salah satu contohnya adalah ketika nama sapi dipanggil melalui corong speaker TOA, lalu panggilan itu digenapkan dengan nama sang pemilik lengkap dengan gelar hajinya.

Cukup lama saya berpikir dan mencari cara supaya bisa bicara dengan Pak Hannan. Kesempatan itu datang ketika beberapa wartawan mewawancarainya. Ketika mereka selesai berbincang saya masuk dan memperkenalkan diri sebagai peneliti dari Yogyakarta yang tertarik untuk mengetahui Karapan Sapi. Keputusan menjadi orang ‘Jawa’ dan memakai ‘Bahasa Indonesia’ saya lakukan secara tiba-tiba sebab, sesibuk apapun,  orang-orang macam Pak Hannan biasanya menyediakan waktu lebih untuk ‘tamu’ yang menampakkan antusiasnya pada Karapan Sapi. Dan itu benar belaka. Mengetahui bahwa saya dari Jawa yang berbekal buku catatan kecil dan bolpoin, ia memperbaiki duduknya dan langsung merespon dengan sejumlah kalimat tentang betapa Karapan Sapi adalah media untuk mempererat hubungan empat kabupaten di Madura dan juga daerah-daerah di Tapal Kuda. “Karapan Sapi juga bisa menarik banyak wisatawan,” ucapnya  pelan dengan Bahasa Indonesia yang terasa kaku dan tak akrab di lidahnya. Dan ia juga berkata bahwa saya sebagai peneliti dari Jawa perlu juga mengabarkan kebaikan-kebaikan dalam karapan sapi kepada banyak orang. Saya mengangguk dan tersenyum.

 

III

Tergoda oleh komentar Pak Ary, seorang anggota TNI dari Koramil Kecamatan Galis bahwa Karapan Sapi sarat dengan judi. “Judinya jelas ada. Biasanya di tempat start itu. Mereka yang di sana anak buah juragan. Tapi judinya masih kecil, masih ratusan ribu. Nah, kalau yang di atas itu (di panggung), itu para juragan. Itu judinya bisa puluhan sampe ratusan juta.”

Perkara judi bukan barang aneh dalam pergelaran Karapan Sapi. Itu sudah sering saya dengar, tetapi hari itu saya ingin melihat sendiri. Saya bergerak ke garis start dan di tempat itu, sekitar tiga puluh menit saya memerhatikan orang-orang di sekitar saya. Ucapan Pak Ary benar belaka. Di tangan mereka saya melihat uang dua puluhan sampai ratusan ribu. Di tempat itu, judi digelar secara terbuka, tidak diam-diam. Sejauh judi tidak mengganggu jalannya perlombaan, misalnya menciptakan keributan dan pertengkaran, aparat kepolisian tidak akan menyentuh mereka.

Sebelum sapi dilepas, orang-orang ini berkumpul dalam beberapa kelompok kecil dan membagikan uangnya pada si juru Bandar. Begitu sapi dilepas dan melesat ke garis finish, para pemenang judi ini segera menghampiri si Bandar untuk mengambil uangnya. Adegan semacam itu terus berlangsung sepanjang perlombaan.

Namun ada hal yang lebih menarik ketimbang judi, yaitu bahwa Karapan Sapi tidak sekadar tentang perlombaan adu cepat lari sapi, melainkan juga alat untuk merebut pengaruh di masyarakat. Melalui Pak Bungkan, salah seorang kru tim Karapan Sapi dari Pagantenan, Pamekasan, saya beroleh informasi bahwa pemilik sapi karapan kebanyakan kepala desa, selebihnya pengusaha. Itu masuk akal sebab biaya perawatan sapi tidak murah. “Yang punya sapi itu pak kalebun (Kepala Desa). Kalau saya petani, tidak bisa punya sapi karapan, tidak ada biayanya,” katanya. Dan saya semakin yakin kalau petani macam Pak Bungkan tak akan sanggup bahkan untuk kebutuhan sapi. “Jamunya telur sebanyak lima ratus butir dalam satu minggu. Itu mahal,” ucapnya.

Para Kepala Desa dan pengusaha itu menggunakan sapi karapan sebagai salah satu cara untuk merebut pengaruh dan eksistensi di masyarakat, terutama di kalangan kepala desa lainnya. Menurut Pak Ary, Karapan Sapi jadi alat supaya juragan itu dikenal dan disegani. “Kalau sapinya menang. Dia pasti terkenal. Kalau hadiahnya gak seberapa,” katanya. Ia melanjutkan, “ketika si juragan terkenal, dia bisa masuk ke lingkaran yang lebih luas lagi. Dia bisa mencalonkan diri jadi kepala daerah atau minimal kepala desa.” Ia juga menegaskan bahwa Karapan Sapi sebenarnya karapan gengsi antar Kepala Desa. Orang-orang itu mengeluarkan banyak biaya supaya bisa eksis.

Apa yang saya ceritakan di atas sesungguhnya lumrah belaka. Namun ada satu yang membuat saya terkejut, yaitu Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, sepasang suami istri ini adalah satu-satunya peserta dari Jawa tapi memiliki darah Madura. Mereka berasal dari daerah Tapal Kuda Probolinggo. Tetapi bukan itu yang membuat saya terkejut, tetapi kenyataan bahwa Bapak Khoirul ini adalah seorang Doktor dan ia pernah bekerja di beberapa negara di Amerika dan Eropa, sekarang bekerja di pengeboran minyak di Thailand. Bagi saya, seorang tamatan S3 turut menjadi juragan Karapan Sapi adalah kenyataan baru di Madura, sebab juragan lainnya, secara tingkat pendidikannya tidak perlu saya sebut di sini, paling bagus lulusan S1.

Soal tingkat pendidikan ini pula saya tergoda untuk bertanya tentang apa yang sesungguhnya membuat mereka turut berpartisipasi dalam Karapan Sapi. Jika peserta lain menganggap Karapan Sapi sekadar hobi atau sebagai cara merebut pengaruh atau paling tidak melestarikan tradisi, maka Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati menjawab bahwa bahwa itu murni bisnis. Ketika kami datang ke tenda sapinya, sepasang suami istri itu tidak berkumpul dengan juragan lainnya di panggung kehormatan. “Bapak tidak suka berkumpul di sana,” ucap Ibu Fatmawati. Dia melanjutkan, “Kalau saya sih gak seperti juragan yang lain. Mereka itu pengen cari nama. Kalau saya nggak. Ini bisnis. Bagus sebagai bisnis.” Saya bertanya apakah mereka pernah naik haji dan Ibu Fatmawati menjawab, “alhamdulillah, sudah. Tapi ketika mendaftar ke lomba, bapak tidak mau gelar hajinya disebutkan. Itu gak penting, gak ada hubungannya dengan sapi.”

Karapan Sapi sebagai bisnis menurut Ibu Fatmawati sangat menarik. Meskipun biaya perawatannya mahal, itu juga sebanding dengan hasil penjualan sapi ketika menjadi pemenang. Misalnya, tahun 2010 mereka membeli sepasang sapi dengan harga 26 juta. Setelah melalui perawatan yang baik dan akhirnya sapi itu menjadi jawara. “Sapi saya menang. Ditawar 300 juta. Saya lepas,”  ujar Ibu Fatmawati sambil tersenyum.

Lain Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, lain pula Bapak Rifa’ie. Laki-laki yang sejak tahun 1982 bekerja sebagai staf kecamatan di salah satu daerah di Pamekasan ini tidak memiliki motivasi lain pada Karapan Sapi selain untuk hobi. Dia juga bukan tokoh desa atau pengusaha. “Itu kesenangan, mas. Saya terlibat di karapan sapi sudah lama sekali. Sampai sekarang masih. Saya pernah membeli sapi seharga 300 juta milik pak Khoirul itu. Kalau bukan kesenangan, gak masuk akal harga itu,” kata Bapak Rifa’ie.

Selepas itu, kami tak bisa meneruskan percakapan. Matahari perlahan jatuh dan sore telah tiba. Lomba Karapan Sapi belum selesai, tetapi kami harus segera bergerak ke kota Bangkalan sebelum hari jadi gelap. Sebagai peneliti, saya bahagia sebab saya mengetahui beberapa hal yang dulunya cuma sekadar omongan yang saya dengar dari mulut ke mulut. Sebagai orang Madura yang turut merasa memiliki kekayaan tersebut, beberapa hal memang ada yang perlu ditimbang dan dikoreksi, beberapa hal lain bisa diteruskan.

 

 

Workshop Penciptaan Bersama “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Sampang, Madura.

Setelah di Flores – NTT, Teater Garasi lalu berkunjung ke Sampang, Madura. Selama seminggu kami bertemu dan bertukar pengetahuan bersama seniman-seniman muda dari beberapa kota di Madura, melalui workshop dari tanggal 13-17 Mei, 2017, di 3 lokasi (aula Dinas Sosial, Balai Latihan Kerja dan Gedung Kesenian Sampang, Madura). Yudi Ahmad Tajudin, Gunawan Maryanto, Erythrina Baskoro, MN Qomarudin dan Lusia Neti Cahyani (seniman dan manajer Teater Garasi) memfasilitasi workshop ini, dibantu oleh Shohifur Ridho (sutradara Roka Teater, alumnus Performer Studio Teater Garasi). Bersama seniman-seniman muda dari Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan juga Sampang, kami mengajak melakukan proses identifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di Madura, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini. Peserta dibagi menjadi 2 grup yang mengolah isu dan modal kultural mereka ke dalam pertunjukan kecil (sekitar 30 menit) yang lalu di presentasikan di akhir workshop, di hadapan beberapa teman seniman dari Madura yang kami undang.

Workshop ini dibantu oleh teman-teman dari Padepokan Biruh Ompos, Komunitas Stingghil, dan Uji Coba Teater Sampang.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Workshop Pendekatan Penciptaan “Bertolak dari yang Ada, Bicara pada Dunia” di Flores Timur, NTT

 

Selama 5 hari (8-12 Mei 2017), beberapa seniman Teater Garasi (Yudi Ahmad Tajudin, Rizky Sasono, Arsita Iswardhani dan MN Qomarudin, ditemani oleh Antonius Maria Indrianto —aktivis NGO dan ketua dewan pengawas Teater Garasi) berkunjung ke Flores Timur, tepatnya ke kota Larantuka. Bersama sembilan belas teman dari beberapa daerah di Flores Timur (Adonara, Solor, Larantuka) dan Maumere, kami mengidentifikasi modal kultural dan modal sosial yang dimiliki peserta, mendiskusikan isu-isu yang ada di daerah Flores, memetakan pertanyaan-pertanyaan terkait isu tersebut, lalu menggarapnya dalam penciptaan seni pertunjukan berdasarkan kerangka penciptaan bersama yang dikembangkan Teater Garasi selama ini.

Proses saling berbagi ini kami selenggarakan bersama teman-teman Teater Nara (Flores Timur) dan Komunitas Kahe (Maumere). Berikut ini foto-foto aktivitas workshop yang dilakukan di wisma Bina Saron, San Dominggo, Larantuka.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Catatan Perjalanan Pertama ke Flores NTT

Arsita Iswardhani

Perjalanan Flores ini merupakan perjalan pertama dari seluruh rangkaian perjalanan ke depan yang akan mungkin dilakukan lagi oleh kami, Teater Garasi.

Kami singgah di dua daerah, yaitu di Maumere (Sikka) dan Flores Timur.

Di Maumere, kami ditemani partner lokal, Komunitas KAHE, sejak mendarat di bandara Frans Seda Maumere. Hari pertama di Maumere kami menemui Romo Tule Philipus dan Frater Hendrik dari Seminari Ledalero. Dari beliau ini, kami mendapatkan informasi tentang situasi keberagaman sosial dan budaya di Flores. Romo Tule adalah pakar Islamologi, dan Frater Hendrik sendiri juga tokoh yang sangat aktif dalam usaha-usaha menjaga situasi damai dan kerja bersama lintas agama. Salah satu yang sedang dipersiapkan saat kami bertemu dengan beliau, dan kemudian kami juga mengikuti acaranya di hari terakhir kami di Maumere, yaitu Aksi Bela Bumi. Setelah dari Seminari Ledalero, kami bertemu dengan anggota kelompok KAHE; Eka Putranggalu, Elvan, Rico Wawo, Haris Meoligo, Kikan, Rizal, Dimas, dan Tika. Mereka kelompok anak muda yang sangat aktif menggerakkan kesenian di Maumere. Malamnya, kami diajak ke Seminari Ritapiret untuk bertemu dengan kelompok-kelompok teater dari Seminari: Teater Tanya dan Teater Aletheia. Sesi ini terasa cukup formal tapi tetap santai, karena mereka ternyata menyiapkan satu forum besar. Dari pertemuan ini, kami sedikit banyak tahu bagaimana situasi perkembangan teater di Maumere.

Salah satu daerah yang saya kunjungi di Maumere adalah Desa Wuring. Desa ini terletak di pinggir laut. Bahkan ada sebagian rumah dari penduduk desa ini adalah rumah apung, dengan struktur bambu dan kayu. Juga ada masjing apung di ujung desa. Desa ini adalah salah satu desa muslim di Maumere. Rata-rata penduduk kampung Wuring berasal dari Bajo atau Bugis, dengan mata pencaharian para lelakinya hampir semuanya adalah nelayan. Di desa ini, saya bertemu dengan salah satu warga “atas”, Bapak Thomas Tega, yang berjualan alpukat dan hasil bumi di pelabuhan Wuring, bahkan sejak pelabuhan tersebut belum ada. Selain itu, saya bertemu juga dengan Ibu Rina dan Imam Masjid Tengah, yaitu Alidin Baco/Tabo.

Di hari terakhir di Maumere, sebelum ke Larantuka, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya dan rombongan mampir untuk melihat Aksi Bela Bumi yang diiniasis oleh Prater Hendrik. Aksi ini adalah aksi menanam pohon di mata air Wairkajo, yang diikuti oleh berbagai komunitas lintas agama. Di sana, kami bertemu langsung dengan kelompok-kelompok perwakilan dari gereja, kesusteran, kelompok masjid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere, dan masyarakat desa sekitar. Saya sendiri sempat bercakap-cakap dengan salah dua peserta yang terlibat. Salah satu dari mereka bernenek moyang dari Bajo dan beragama Islam. Sejak lahir, ia tinggal berdampingan dekat dengan gereja. Dan merasa tidak pernah merasa ada gejolak konflik apapun. Mereka tinggal bersama dengan damai.

Bergerak ke Flores Timur, kami tiba di Larantuka, bertemu dengan partner lokal kami di sana, “Opu” Silvester. Opu ini juga yang sebenarnya menghubungkan kami dengan teman-teman komunitas Kahe di Maumere. Beliau ini adalah penghubung yang sangat apik.

Di Flores Timur ini, pertama-tama kami pergi ke Adonara Timur. Di sana kami bertemu seorang penulis muda dan juga seorang pengajar, anggota dari Agupena juga, Pion Ratulolly. Tulisan-tulisan Pion telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pion banyak bercerita tentang sejarah dan kebudayaan desa Lamahala, satu desa muslim di Adonara Timur. Dari Pion juga, kami mendengar banyak cerita konflik tanah dan perang adat yang terjadi. Setelah bersama Pion hingga sore, kami bergerak menuju Desa Bele, masih di Adonara Timur. Di sini kami bertemu dengan kelompok Teater Nara, di bawah asuhan Opu Silvester. Anggota Teater Nara ini sangat beragam, dari mulai guru, ibu rumah tangga, hingga perempuan muda yang baru saja lulus dari kuliah di ibukota. Teater Nara sedang proses latihan mempersiapkan pentas mereka di Festival Cirebon pada bulan April.

Sepulangnya dari Adonara Timur, saya, Mbak Lusi, Qomar dan Opu berkunjung ke desa Birawan kampung Lewotobi. Kepala Desa Birawan masih sangat muda, dan beliau berhasil membuat Desa Birawan menjadi Desa Terbaik pada tahun 2015. Bersama kepala desa, ada satu tim yang selalu bekerja bersamanya, yaitu Sekretaris Desa, Manajer BUMDes, dan Kepala Dusun. Mereka sedang bekerja bersama dengan satu LSM untuk mengusahakan konservasi terumbu karang.

Di hari kelima perjalanan, kami menuju Solor, tepatnya di desa WuluBlolong. Kami berencana untuk menghadiri upacara adat Kebare Reka Wuung. Yaitu upacara adat buka puasa bagi para gadis. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan hasil bumi yang ditanam di musim hujan. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana adat berusaha menjaga kesinambungan kehidupan di desa tersebut. Di sini kami bertemu dan dijamu oleh keluarga Bapak Yakob. Dari kunjungan ini, saya mendapatkan cerita mengenai satu konflik yang masih terus berlangsung hingga saat ini, yaitu konflik antara Desa Lohayon dan Desa WuluBlolong ini. Sebelum kembali ke Larantuka, kami sempat menemui kepala dusun 4, dusun di mana terjadinya pembakaran rumah saat terjadinya konflik Lohayon. Kami bertemu juga dengan Bapak Yakobus Ola, ipar dari kepal dusun, dan anak dari Kepala Dusun 4.

Hari terakhir di Larantuka, saya dan Mbak Lusi sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan Bapak Bernad Tukan, seorang guru yang juga aktif dalam menggerakkan dan mencatat mengenai kebudayaan di Flores Timur. Setelah itu kami bertemu dengan rombongan lainnya di SMA Darius, bertemu dengan siswa-siswa yang aktif di teater. Teater SMA Darius sangat dikenal di Larantuka, mereka sering menjuarai perlombaan teater yang diselenggarakan di sana setiap tahunnya.

Malam terakhir di Larantuka, kami habiskan di Taman Kota Larantuka, bersama para tokoh muda penggiat kesenian dan kebudayaan di Larantuka; Kanis Soge, Frano Tukan, Maxi dari Agupena, Iwan, Felix (Pos Kupang), dan Bento. Kami membicarakan bagaimana kesenian bergerak di Larantuka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka sendiri di sana.

Dari seluruh perjalanan ini, saya sendiri punya satu catatan refleksi yang cukup dalam. Pertama, semangat belajar dan mencari referensi dari teman-teman komunitas di sana, sebut saja Komunitas Kahe, misalnya. Yang kedua, saya sangat terinspirasi bagaimana aspirasi anak muda untuk membuat satu gerakan tentang kesenian di Flores.

Catatan Perjalanan Pertama ke Sumenep Madura

Gunawan Maryanto

19 Februari 2017 jam 6 pagi kami, Erythrina Baskoro, Febrinawan Prestianto, Shohifur Ridho dan saya sendiri tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Sejenak kami beristirahat sembari menunggu kedatangan Anwari, salah seorang rekan yang akan mendampingi kami ke Madura. Anwari adalah seorang seniman muda dari Sumenep Madura yang belakangan banyak menjadi perbincangan karena karya-karyanya. Saat ini ia tinggal di Malang bersama istrinya, Elyda K Rara, seorang guru dan pegiat teater dan sastra di Malang. Begitu Anwari tiba di stasiun segera kami sarapan pagi bersama sambil bercakap tentang rencana perjalanan kami.

Selanjutnya kami bergerak menuju Bangkalan, tepatnya ke stadion Karapan Sapi Banyumunih. Di sana kami menyaksikan perhelatan Karapan Sapi. Sebenarnya saya, Giant, nama panggilan Febrinawan Prestianto, dan Anwari berencana untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Sumenep. Sementara Ery dan Ridho akan tinggal di Bangkalan. Tapi pertandingan Karapan Sapi itu tak mudah dilewatkan begitu saja. Akhirnya kami turun semua untuk menyaksikan pertandingan.

Dan sebagaimana rencana saya, Giant dan Anwari kemudian melanjutkan perjalanan. Kami berkejaran dengan waktu untuk segera sampai di Sumenep. Di hari pertama itu kami berencana untuk turut hadir dalam forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran (MSP), sebuah forum pertemuan para pegiat seni di Sumenep. Pertemuan itu berlangsung setiap bulan sekali diikuti oleh pegiat-pegiat seni muda dari berbagai pondok pesantren dan komunitas. Pertemuan bulan Februari ini berlangsung di kampus STKIP PGRI Sumenep.

Beruntunglah kami sampai di Sumenep tepat waktu, acara yang direncanakan dimulai pukul 3 sore itu belum mulai. Sesampainya di STKIP PGRI Sumenep kami segera berkenalan dengan beberapa pegiat MSP, salah satunya adalah Mahendra Utama. Mahendra adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah di Jogja ia cukup aktif berteater di kampus UIN dan juga beberapa kelompok lain. Di tempat yang sama saya juga berjanji bertemu dengan Syah A Lathief, kawan lama yang dulu aktif di Teater Suto Jogja. Ia sudah pulang kampung dan menetap di Sumenep. Sebagaimana Mahendra, biasa dipanggil Eeng, Syah A Lathief juga cukup aktif sebagai penggerak seni, khususnya teater di Sumenep.

Forum MSP pun berlangsung. Mengalir lancar dengan spontanitas di sana-sini. Eeng dengan Language Theatre-nya juga tampil. Ia dan kawan-kawannya membawakan sebuah repertoar tubuh. Saya sendiri sempat didaulat untuk ngobrol di forum diskusi. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengantar maksud kedatangan tim Teater Garasi ke Madura.

Malamnya kami beristirahat di rumah Anwari yang terletak di daerah Dasuk. Di lingkungan rumahnya inilah Anwari kerap memberlangsungkan proses latihan teaternya dengan payung Padepokan Seni Madura. Di sana kami sebelum beristirahat kami sempat ngobrol-ngobrol dengan kerabat Anwari: Nenek Buyut, Nenek, ayah, ibu dan paman Anwari.

20 Februari pagi kami bergerak menuju rumah Syaf Anton, salah seorang buadayawan senior Sumenep. Ia mengelola situs www.lontarmadura.com. Syaf Anton sendiri juga dikenal sebagai pegiat seni sastra. Meski dalam keadaan yang kurang begitu sehat Syaf Anton dengan hangat menyambut dan meladeni banyak pertanyaan kami tentang keadaan seni dan budaya Madura, khususnya di Sumenep. Selepas dari Syaf Anton kami mengunjungi Museum Kraton Sumenep untuk melihat peninggalan-peninggalan kerajaan yang masih tersimpan di sana. Sebagai sebuah kerajaan yang telah berusia cukup panjang–pertama terdengar sejak jaman kerajaan Singasari di abad ke 13–kraton Sumenep memiliki koleksi yang cukup banyak dan unik.

Di kraton Sumenep kami bertemu kembali dengan Syah A Lathief yang berjanji untuk mengajak kami ke Pinggir Papas, sebuah kawasan yang terletak di pinggir pantai dan dipenuhi dengan ladang garam yang sebagian besar adalah milik PT Garam. Di sana kami bertemu dengan H. Machbub, salah seorang sesepuh Pinggir Papas yang sehari-hari mengelola madrasah yang didirikannya di Pinggir Papas. Beliau banyak bercerita tentang mitologi Angga Suta, seorang tokoh legenda yang dipercaya sebagai penemu garam pertama di pulau Madura. Maghrib memutus percakapan kami yang cukup panjang.

Selanjutnya masih bersama dengan Syah A Lathief kami mengunjungi Kyai Turmidzi Djaka di pondoknya yang terletak di daerah Prenduan. Beliau adalah seorang kyai yang aktif berkesenian. Hapir semua seniman yang kami temui sebelumnya menganjurkan kami untuk bertemu dengannya. Beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki jaringan yang cukup luas baik dengan sesama seniman maupun dengan aparat pemerintahan. Terakhir Turmidzi Djaka terpilih sebagai ketua Dewan Kesenian Sumenep sebelum pada akhirnya sekarang kosong. Percakapan dimulai dengan kegiatannya hari-hari ini yakni membatik. Di pondoknya tampak beberapa santri dan rekan seniman bekerja membatik. Mereka pun turut bergabung dengan percakapan hingga adzan subuh terdengar. Kyai Turmidzi juga dikenal sebagai seorang pemusik. Dengan kelompoknya Adz Dzikir ia sudah melanglang ke banyak kota di Madura dan Jawa. Sekarang ia tak lagi aktif dengan musiknya. Tapi dengan cara yang sama saat ia bermusik ia melibatkan banyak orang di sekitarnya untuk membatik.

Hari itu, 21 Februari, kami memutuskan untuk menginap di rumah Syah A Lathif di daerah Dungkek. Kami beristirahat hingga siang. Selanjutnya kami menuju ke pondok pesantren Annaquyah di mana Kyai M Faizi tinggal. Kami menuju ke daerah Guluk-guluk. Bagi para penyair nama Guluk-guluk dan  Faizi sudah tak asing lagi. Setiap kali ke Madura banyak penulis dan penyair menyempatkan diri berkunjung ke sana. M Faizi dikenal banyak memiliki jaringan dengan para penulis Indonesia. Beliau sendiri adalah juga seorang penulis dan penyair. Lewat percakapan yang hangat beliau menuturkan bagaimana sejarah dan perkembangan seni sastra dan teater yang banyak disukai oleh santri-santrinya. Kami sempat pula melihat latihan teater yang tengah berlangsung di aula pondok. Tampak Mahendra bertindak sebagai pelatih dan sutradara. Selanjutnya kami diminta untuk membuka diskusi bersama dengan para santri yang memiliki hobby sastra dan teater. Selain menggali banyak informasi dari Kyai Faizi kami juga mendapat banyak informasi tambahan dari Mahendra Utama yang banyak melatih kelompok-kelompok teater di banyak pesantren.

Tanggal 22 Februari, secara mengejutkan Syah A Lathief memberi kabar bahwa Bupati Sumenep, KH Busyro Karim bersedia menerima kedatangan kami. Kami pun bergegas menuju kantor dinas bupati. Di sana tanpa menunggu terlalu lama KH Busyro Karim menerima kami. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan Teater Garasike Sumenep, beliau ganti bercerita tentang beberapa program yang hendak berlangsung di Sumenep berkait dengan kebudayaan. Kebetulan tahun 2018 ditargetkan sebagai tahun kunjungan wisata Sumenep. Karena waktu bupati yang cukup terbatas kami pun segera berpamit dan melanjutkan rencana kami untuk bertemu dengan Mahendra di rumahnya.

Di rumah kami menunggu Mahendra yang masih bekerja di sawah. Setelah beristirahat sejenak kami pun makan siang sambil bercakap perihan perkembangan teater di Sumenep. Mahendra banyak bercerita tentang Language Theatre, kelompok yang dipimpin dan dikelolanya saat ini. Di kelompok inilah Mahendra mewujudkan keinginan dan kegelisahannya. Banyak pengalaman yang ditimbanya semasa kuliah di Jogja dia praktikkan bersama kelompoknya. Language Theatre cukup dikenal di Jawa Timur karena beberapa kali mengikuti festival teater di Surabaya.

Sepulang dari rumah Mahendra kami beristirahat sejenak di sebuah warung kopi. Saya berniat untuk melanjutkan beberapa pekerjaan Teater Garasi yang tertunda. Tapi tak berapa lama Anwari kedatangan sepasang suami istri yang merupakan bekas pelatih teater sewaktu SMA dulu. Mereka adalah Mas Imam dan Mbak Yanti. Keduanya juga pernah aktif berteater di STKIP PGRI Sumenep. Dari mereka kami banyak mendapat informasi tentang dinamika teater sekolah. Percakapan mesti berhenti karena malam telah larut.

Hari berikutnya, 23 Februari, berbekal beberapa informasi kami berniat menemui Adi Sutipno, seorang pimpinan kelompok topeng di daerah Salopeng. Setelah menunggu beberapa saat di rumahnya, Pak Sutip pun segera pulang dari tempatnya bekerja. Sehari-harinya beliau bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah. Dari Pak Sutip kami mendengarkan sejarah perkembangan seni tari topeng di daerah Salopeng. Kesenian topeng merupakan warisan turun temurun. Beliau merupakan generasi keempat dari pendiri kelompok seni topeng Rukun Perawas. Pak Sutip sendiri sekarang mengelola kelompok seni topeng Rukun Pewaras yang merupakan sempalan dari kelompok sebelumnya. Kedua kelompok topeng ini masih sama aktifnya hingga sekarang. Mereka masih terus berproses dan berpentas di banyak hajatan masyarakat. Di akhir percakapan Pak Sutip mengajak kami untuk mengunjungi iparnya yang merupakan seniman pembuat topeng. Saya membawa satu topeng Baladewa sebagai kenang-kenangan dari sana. Malamnya kembali kami menginap di rumah Syah A Lathief sekaligus menggali informasi darinya.

Tanggal 24 yang merupakan hari terakhir kunjungan kami ke Sumenep, kami menghabiskan banyak waktu untuk mencatat segala temuan selama kami berada di Sumenep. Pada waktunya kami mesti pergi Syah A Lathief mengantar kami ke terminal. Kami selanjutnya menuju ke Sampang untuk bertemu kembali dengan tim Teater Garasi yang lain.